Wisuda UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/wisuda-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 10 Sep 2024 06:26:05 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/#respond Tue, 10 Sep 2024 03:12:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70395 Mia Yunita, mahasiswa prodi Kedokteran Hewan,  Fakultas Kedokteran Hewan, merupakan salah satu 3.627 yang diwisuda pada 28-29 Agustus lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mia dinobatkan sebagai wisudawan termuda yang berhasil menyabet gelar sarjana di usia 20 tahun 1 bulan 9 hari. Padahal Usia rata-rata lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari. […]

Artikel Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mia Yunita, mahasiswa prodi Kedokteran Hewan,  Fakultas Kedokteran Hewan, merupakan salah satu 3.627 yang diwisuda pada 28-29 Agustus lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mia dinobatkan sebagai wisudawan termuda yang berhasil menyabet gelar sarjana di usia 20 tahun 1 bulan 9 hari. Padahal Usia rata-rata lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Mia mengaku bangga dapat menyelesaikan studinya tepat waktu, yaitu dalam jangka waktu 4 tahun. Ia pun tidak menyangka mendapat predikat sebagai lulusan termuda pada periode wisuda kali ini. Mia bercerita bahwa ia bisa lulus sarjana di usia 20 tahun dikarenakan saat masuk kuliah di usia 16 tahun.

Namun begitu, masuk kuliah di usia 16 tahun bukanlah hal yang mudah untuknya. Di awal perkuliahan, Mia sempat merasa minder karena merasa belum seharusnya berada di tahap kuliah. “Aku sempat inferior, apalagi setelah mengetahui diterima di FKH UGM, banyak orang yang berekspektasi tinggi. Banyak yang menganggap aku sepintar itu,” ujar Mia ketika dihubungi Selasa (10/9).

Meski memulai studinya di UGM di usia relatif muda dibanding rekan mahasiswa lainnya di FKH, Mia dapat mengimbangi tempo belajar dan aktivitas teman-teman yang lain. Bahkan sejak ia duduk di bangku SMP, Mia sudah terbiasa mengerjakan tugas, ujian, dan pekerjaan rumah yang padat. Ditambah lagi, ia harus bisa mengejar materi dalam waktu 2 tahun ketika mengikuti program akselerasi di SMA. Hal itu membuatnya terbiasa dan tidak kaget dengan tugas-tugas kuliah di UGM.

Menurutnya, menikmati proses belajar adalah hal yang paling penting ketika menuntut ilmu, baik di jenjang SMP, SMA, maupun kuliah. Mia mengenang saat ia memutuskan untuk mengikuti program akselerasi karena ia menyukai dan tertarik dengan hal-hal yang dianggap unik. “Saya tidak keberatan ketika harus menghabiskan banyak waktu untuk menyusun laporan praktikum sambil mencari materi lain yang belum diajarkan. Sehingga saya bisa belajar lebih dalam tentang bidang yang saya tekuni,” katanya.

Untuk bisa lulus tepat waktu, Mia memiliki teknik belajarnya tersendiri agar bisa fokus dengan hal-hal yang ia sedang kerjakan. Ia menggunakan teknik pomodoro, yaitu belajar atau mengerjakan sesuatu selama 25 menit, lalu istirahat selama 5 menit. Teknik ini ia lakukan secara berulang sampai 3 jam. Selain itu, lingkungan dan suasana yang nyaman sangat penting untuk meningkatkan fokus belajar. “Sebelum belajar, saya merapikan meja belajar, mengatur suhu ruangan, menyiapkan cemilan, dan menjauhkan ponsel dari meja agar tidak mudah terdistraksi,” katanya.

Selain unggul di bidang akademik, Mia tidak lupa untuk memperkuat relasi antar mahasiswa lewat organisasi dan kepanitiaan. Ia sempat menjadi mentor mahasiswa baru di Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Vetebrae UGM 2021. Mia juga tergabung sebagai Liaison Officer di acara Musyawarah Kerja Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) di UGM.

Mia memberikan tips tentang cara belajar yang efektif dengan metode menghafal. Sejak kuliah, ia mulai menghafal dengan cara meninjau ulang catatan senior atau materi yang diberikan oleh dosen. Setelah itu, barulah ia menggarisbawahi unsur-unsur terpenting dari materi tersebut untuk kemudian dihafalkan. “Keingintahuan adalah hal penting untuk mempertahankan semangat berkuliah. Dengan itu, mahasiswa dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya,” pungkasnya.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/feed/ 0
Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/#respond Thu, 08 Aug 2024 22:31:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69158 Kebahagiaan dan rasa haru melingkupi Ravidho Ramadhan dan keluarganya pada saat wisuda pascasarjana yang berlangsung pada Rabu, 24 Juli lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mahasiswa doktor program studi fisika ini berhasil meraih gelar doktor termuda dan tercepat pada usia 26 tahun. Laki-laki kelahiran Teluk Balengkong, Indragiri Hilir, Riau tahun 1998 ini akhirnya mampu menuntaskan […]

Artikel Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebahagiaan dan rasa haru melingkupi Ravidho Ramadhan dan keluarganya pada saat wisuda pascasarjana yang berlangsung pada Rabu, 24 Juli lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mahasiswa doktor program studi fisika ini berhasil meraih gelar doktor termuda dan tercepat pada usia 26 tahun. Laki-laki kelahiran Teluk Balengkong, Indragiri Hilir, Riau tahun 1998 ini akhirnya mampu menuntaskan studinya dengan penelitian berjudul Validasi dan Pemanfaatan Data Satelit Global Precipitation Measurement untuk Analisis Curah Hujan dan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia yang dibimbing oleh Dr. rer. nat. Wiwit Suryanto (Promotor), Prof. Sholihun (Co-Promotor), dan Prof. Marzuki (Co-Promotor).Tidak hanya doktor termuda di FMIPA UGM namun juga berhasil meraih IPK 4.00.

Ravidho memulai perjalanan pendidikannya di Desa Tunggal Rahayu Jaya, Riau, sebuah desa transmigrasi dengan keterbatasan akses listrik. Pada usia 5 tahun, ia memulai pendidikan di SD, mengikuti jejak teman-teman sebayanya. Pendidikan SMP dilanjutkan di kampung halaman dan SMA di kota kabupaten. “Saya menyelesaikan Pendidikan S1 dan S2 pada Jurusan Fisika Universitas Andalas melalui program Fast Track sehingga dapat menyelesaikan studi S1 dan S2 selama 5 tahun,” sebutnya.

Ia memilih fokus pada analisis variabilitas struktur vertikal curah hujan di Sumatera menggunakan data pengamatan permukaan dan satelit ketika S2.

Ketertarikan Ravidho pada program S3 Fisika di UGM didorong oleh penawaran program By Research yang fleksibel, memungkinkan ia tetap bekerja sebagai asisten riset di Universitas Andalas. Ia menemukan promotor yang mendukung penelitian di bidang fisika atmosfer. Ia berpendapat bahwa minat terhadap bidang fisika di Indonesia menurun akibat rendahnya daya serap dunia kerja. “Tantangan ini memicu para penggiat fisika untuk lebih kreatif dalam mengaplikasikan ilmu fisika agar bermanfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Salah satu tantangan terbesar selama studi adalah mengelola waktu antara studi doktoral dan pekerjaan sebagai asisten riset. Oleh karena itu, Ravidho menekankan pentingnya komunikasi dengan promotor dan pembagian skala prioritas untuk menyelesaikan tugas-tugas secara efektif.

Untuk menjaga motivasi, Ia gemar membaca buku self-improvement dan berdiskusi untuk bertukar ide. Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah artikel pertamanya yang berhasil diterbitkan di jurnal terindeks Q1 Scopus. “Penelitian tugas akhir saya mengambil topik validasi dan pemanfaatan data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) untuk analisis curah hujan dan bencana hidrometeorologi di Indonesia,” sebutnya.

Motivasi terbesar Dr. Ravidho datang dari keluarga, terutama ibu yang selalu menekankan pentingnya pendidikan. Secara akademis, dosen pembimbingnya Prof. Marzuki memberikan dampak besar dalam perkembangan akademisnya. Sebagai anak pertama dan suami, ia bertekad menjadi panutan bagi orang-orang tercintanya.

Setelah menyelesaikan studi S3, Ia akan menjalani program post-doctoral di Kyoto University melalui program Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) dengan Prof. Hiroyuki Hashiguchi sebagai host researcher.

Ravidho meyakini bahwa apa yang ia capai dapat dicapai oleh siapapun dengan kemauan yang kuat. “Satu hal yang saya Yakini, Pendidikan adalah salah satu jalan paling masuk akal untuk meningkatkan taraf hidup kita dan keluarga di masa depan,” tutupnya.

Penulis : Dita

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/feed/ 0
Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/#respond Thu, 08 Aug 2024 22:12:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69151 Di usianya yang menginjak 36 tahun 7 bulan 12 hari, Agnes Puspita Sari akhirnya dapat mewujudkan impiannya yang sempat tertunda untuk melanjutkan kuliah. Bagi sebagian anak muda saat ini, melanjutkan studi S2 merupakan hal yang sudah cukup umum. Namun, bagi Agnes bisa berkuliah di program magister merupakan sebuah pembuktian dan komitmen pada dirinya sendiri. Ia […]

Artikel Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di usianya yang menginjak 36 tahun 7 bulan 12 hari, Agnes Puspita Sari akhirnya dapat mewujudkan impiannya yang sempat tertunda untuk melanjutkan kuliah. Bagi sebagian anak muda saat ini, melanjutkan studi S2 merupakan hal yang sudah cukup umum. Namun, bagi Agnes bisa berkuliah di program magister merupakan sebuah pembuktian dan komitmen pada dirinya sendiri. Ia harus menunggu lebih dari 10 tahun untuk bisa kuliah ke jenjang selanjutnya.

Beruntung, Agnes berhasil  menjadi wisudawan terbaik Program Magister Manajemen Kampus Yogyakarta pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada wisuda pascasarjana, Rabu (24/7) lalu. Ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 yang diraih selama studi 1 tahun 7 bulan 3 hari.

Lantas motif apa yang sebenarnya mendorong Agnes untuk melanjutkan studi? Menurutnya, jawabannya cukup sederhana. “Bisa belajar sebanyak-banyaknya adalah tentang meningkatkan peluang. Apapun itu saya yakin sebuah perubahan ke arah positif akan terjadi,” ucapnya, Jumat (8/8) di kampus UGM.

Agnes bercerita di tahun 2022, Agnes membuat sebuah keputusan besar yang merubah jalan hidupnya. Di masa pandemi Covid-19, ia mendapatkan banyak hikmah kala itu. Mimpi-mimpi yang dulunya sempat meredup, kala itu kembali berkobar terlebih dengan adanya dukungan dari sang suami untuk mewujudkan salah satu mimpinya untuk melanjutkan kuliah. Tak tanggung-tanggung, di waktu yang bersamaan Agnes membuat sebuah momen perubahan karir yang signifikan dalam hidupnya yakni resign dari pekerjaanya yang terbilang cukup mapan dan menjadi impian banyak orang. Ia sudah bekerja di Group Danone Specialized Nutrition, tepatnya di PT. Sarihusada Generasi Mahardika sebagai Production Supervisor. “Resign dari pekerjaan rutin, belajar berbisnis, dan kuliah lagi di jurusan bisnis untuk mendukung kebutuhan utama saat itu yaitu membangun bisnis sendiri,” ujarnya.

Di tahun 2022 akhirnya Agnes melanjutkan studi di Prodi Master of Business Administration (MBA) di Kampus Yogyakarta dengan mengambil Program Senior Executive MBA (SEMBA). “Ternyata mimpi 10 tahun lalu tidak berubah. Apa yang diimpikan dahulu terhambat karena keterbatasan, kini bisa dilakukan. Mimpi tidak berubah, hanya jalan untuk merealisasikan saja yang berbeda,” urainya.

Sembari merajut mimpi untuk mendapatkan gelar MBA, ia merintis bisnis di bidang Food and Beverage (FnB). Agnes menjalankan perusahaan rintisan bernama Kitchensync melalui kolaborasi dengan tiga rekannya. Kitchensync didirikan untuk menyediakan solusi bagi para pelaku bisnis FnB, terutama restoran kecil hingga menengah (UMKM), yang membutuhkan layanan dukungan operasional. Kitchensync memiliki bisnis inti yaitu menyediakan bahan baku dan produk setengah jadi, serta layanan riset dan pengembangan produk. Perusahaan ini berafiliasi dengan beberapa merek restoran seperti Nolda Pocha (restoran bertema makanan jalanan Korea), Nasi Iskandar (restoran bertema Melayu/Nasi Kandar), dan Oetak-oetak (Pempek dari Palembang), yang total cabangnya kini berjumlah lebih dari 15 cabang, tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatra. “Selain itu kita juga memiliki merek restoran sendiri bernama Udon Mura yaitu restoran bertema Jepang yang berlokasi di Tangerang Selatan,” ucap Agnes yang menjadi Co-Founder dan COO Kitchensync.

Menjalankan bisnis bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi dirinya yang tergolong pemain baru. Bisnis yang masih seumur jagung ini sempat mengalami kondisi maju dan mundur. Sebut saja saat awal memulai bisnis, salah satu founder tiba-tiba mundur begitu saja. Selain itu turn over karyawan cukup tinggi. “Namun, show must go on dengan berbekal visi dan misi dan jelas kami terus melanjutkan apa yang sudah dirancang dan syukurlah pada akhirnya bisa terus berlanjut hingga sekarang,” jelasnya sembari menambahkan saat ini mereka sedang mengembangkan bisnis berkelanjutan dengan merancang bisnis berbasis Cloud Kitchen.

Agnes mengaku tidak memiliki pengalaman apapun saat memulai bisnis. Namun, ia memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk berbisnis. Karenanya ia mendorong siapa pun yang ingin berbisnis untuk tidak takut bermimpi besar. “Mulai saja, sebesar apapun bisnis selalu dimulai dari hal kecil. Asalkan memiliki mimpi yang besar dan bentuk lingkaran pertemanan yang mendukung. Sebab, orang-orang terdekatmu adalah cerminan dirimu di masa kini dan mendatang,” tuturnya.

Menjalani kuliah sekaligus berbisnis tentu tidaklah mudah untuk dijalani. Namun Agnes mengakui dengan manajemen waktu yang baik, keduanya bisa berjalan beriringan. Untuk membantu proses pembelajaran di sela-sela merajut mimpi untuk menjadi pebisnis, ia menerapkan beberapa trik. Salah satunya dengan membuat rangkuman dari berbagai buku literatur dan slide dari dosen per chapter dengan tulisan tangan.

Upaya lain yang Agnes lakukan adalah rutin mengakses informasi melalui berbagai media pembelajaran terkait bisnis. Biasanya rutinitas itu ia lakukan 30 menit hingga 1 jam menjelang tidur. Lalu, disela-sela perjalanan dari Jakarta, kota tempat bermukim Agnes saat ini, ke Yogyakarta untuk berkuliah, ia sempatkan membaca materi yang akan dibahas saat perkuliahan. “Saya memanfaatkan waktu perjalanan kereta Jakarta-Jogja setiap minggu untuk membaca materi yang akan dibahas di perkuliahan esok harinya di kelas weekend atau fullday di hari Sabtu. Selain itu juga melakukan diskusi dengan teman-teman kuliah untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda dari berbagai profesi dan industri,” paparnya.

Agnes menyampaikan menjadi bagian dari keluarga besar MM UGM Yogyakarta adalah sebuah kebanggaan dan kesempatan emas yang tidak semua orang bisa rasakan. Di sini, dia tidak hanya belajar tentang teori dan konsep-konsep manajemen, tetapi juga menyerap berbagai nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter dan kesiapan kita dalam menghadapi dunia profesional. “Beberapa nilai berharga yang saya ambil selama menjalani kuliah adalah soal integritas dan etika, kemandirian dan inovasi untuk menjadi pemimpin yang visioner, serta kolaborasi dan kerja sama. Nilai-nilai itu sangat membantu saya, terlebih dalam mengembangkan bisnis,” pungkasnya.

Reportage: Kurnia Ekaptiningrum

Editor : Gusti Grehensob 

Artikel Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/#respond Thu, 25 Jul 2024 04:43:32 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67712 Likha Sari Anggreni (38) dari prodi doktor Ilmu Komunikasi Fisipol merupakan salah satu dari 991 lulusan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang diwisuda, di Graha Sabha Pramana, Rabu (24/7). Likha demikian ia akrab disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan pertama untuk jenjang doktor. Selain itu, Likha juga […]

Artikel Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Likha Sari Anggreni (38) dari prodi doktor Ilmu Komunikasi Fisipol merupakan salah satu dari 991 lulusan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang diwisuda, di Graha Sabha Pramana, Rabu (24/7). Likha demikian ia akrab disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan pertama untuk jenjang doktor. Selain itu, Likha juga merupakan salah satu dari 27 wisudawan dari program doktor yang lulus dengan predikat cumlaude.

Saat dihubungi oleh wartawan, Likha mengaku bersyukur menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM. “Saya bersyukur, saya menjadi angkatan pertama awardee dari prodi S3 Ilmu Komunikasi yang diwisuda,” katanya.

Pendidikan doktor yang ditempuh oleh Likha menurutnya sebagai salah satu tuntutan dari pekerjaannya sebagai pengajar di dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Ia berharap ilmu yang ia dapat bisa mendukung pendidikan dan pengajaran di kampusnya kelak. “Studi S3 ini saya tempuh karena tuntutan sebagai dosen yang ke depan akan diwajibkan seluruh dosen minimal strata pendidikan doktor,” jelasnya.

Likha berhasil meraih cumlaude dengan IPK 3,8, dan menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 4 bulan dengan topik disertasi yang dipilihnya, yaitu Communication Identity of Womenpreneur.

Untuk menyelesaikan pendidikan doktor, menurut Likha, tidaklah mudah sebab saat awal pertama kali masuk kuliah di saat masa pandemi melanda sehingga pembelajaran selama satu tahun pertama dilaksanakan secara daring. “Baru bisa ketemu dengan teman-teman dan dosen secara offline di tahun kedua,” katanya.

Selama menjalani masa perkuliahan, Likha mengaku dosen-dosen dan juga para staff administrasi di program studi Ilmu Komunikasi sangatlah membantu dan mendukung proses perkuliahannya dari awal hingga saat ini.

Usai menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM, Likha mengatakan dirinya akan aktif kembali mengajar di kampus UNS. Saat ini, tidak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaannya selain mengucap rasa syukur atas kelulusannya. “Selesai sudah hutangku kepada bangsa, mama, papa, dan suami. Selesai sudah pendidikan formal jenjang tertinggi,” ucapnya.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/feed/ 0
Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/#respond Mon, 03 Jun 2024 02:44:45 +0000 https://ugm.ac.id/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/ Memiliki pasangan saudara kembar yang memiliki minat dan hobi yang sama mungkin menjadi hal yang biasa. Namun memilih kuliah di program studi yang sama bahkan lulus pun dalam waktu bersamaan tentu sangat jarang ditemui. Namun itu lah yang terjadi pada wisuda UGM pada 22 Mei lalu, dua orang saudara kembar yakni Sherlina Oktavian Putri dan […]

Artikel Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Memiliki pasangan saudara kembar yang memiliki minat dan hobi yang sama mungkin menjadi hal yang biasa. Namun memilih kuliah di program studi yang sama bahkan lulus pun dalam waktu bersamaan tentu sangat jarang ditemui. Namun itu lah yang terjadi pada wisuda UGM pada 22 Mei lalu, dua orang saudara kembar yakni Sherlina Oktavian Putri dan Sherlita Oktavian Putri, diwisuda bersama sebagai sarjana Biologi yang lulus dengan predikat cumlaude atau pujian. Sherlina lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.79 dan Sherlita lulus dengan IPK 3.80.

Sherlina (21), mengaku ia bersama dengan saudara kembarnya sebenarnya tidak pernah merencanakan akan wisuda secara bersamaan. Ia mengaku beruntung karena mereka berdua memiliki para dosen pembimbing skripsi yang memungkinkan mereka bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. “Kami tidak merencanakan untuk lulus bersamaan, hal tersebut kami dapatkan karena Dosen Pembimbing Skripsi kami yang sangat membantu dan membimbing dalam penulisan naskah skripsi,” kata Sherlina, Senin (3/6).

Pada wisuda kali ini, keduanya menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 7 bulan 9 hari, lulus dengan predikat pujian. Keduanya sama-sama masuk sebagai mahasiswa Program Studi Biologi tahun 2020 lalu. Saat ditanya, alasan keduanya memilih prodi yang sama saat kuliah di UGM, Sherlina mengaku ia dan Sherlita kebetulan memiliki minat yang sama di pelajaran Biologi sejak di bangku SMA di kota Magetan,  Jawa Timur. “Kebetulan kami dulu SMA masuk pada jurusan IPA dan cukup menyukai pelajaran Biologi. Kami ingin masuk Biologi UGM karena merupakan salah satu Prodi terbaik di Indonesia, dan dukungan orangtua kami mendorong kami untuk memilih prodi tersebut,” tuturnya.

Dikarenakan lahir kembar, kata Sherlina, sejak di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, mereka berdua selalu berada di sekolah yang sama hanya saja ditempatkan di kelas yang berbeda. “Kami selalu satu sekolah namun beda kelas,” kenangnya.

Memiliki paras yang hampir mirip,  Sherlina mengaku ia dan saudara kembarnya Sherlita, sering salah disapa baik oleh guru dan teman sekelasnya. Begitu pun saat di bangku kuliah, beberapa kali dosen  keliru memanggil atau menyapa salah satu dari mereka. “Sering kali dosen maupun teman kesulitan membedakan kami ketika kami datang bersama. Sebenarnya kami kembar biasa, tidak begitu identik, masih mudah untuk membedakan kami,” terang gadis asal Magetan ini.

Selama kuliah di Fakultas Biologi UGM,  keduanya memilih indekos di tempat yang sama. Selain bisa saling menjaga dan saling memotivasi satu sama lain dalam menuntut ilmu. Bahkan keduanya saling berbagi informasi  soal materi mata kuliah. “Kami tinggal 1 kos. Kami biasanya saling berbagi informasi terkait mata kuliah dikarenakan ada beberapa mata kuliah yang kami beda kelas,” katanya.

Meski selama kuliah tidak banyak mengalami kendala, hanya saja saat ujian skripsi, ia dan Sherlita hampir tidak berbarengan karena salah satu di antara mereka harus menunggu hasil penelitian laboratorium yang belum keluar datanya. “Hanya menunggu hasil lab yang cukup lama yaitu 40 hari baru keluar hasilnya. Untuk ujian skripsi kami hanya beda 1 bulan,” terangnya.

Sherlina dan Sherlita juga menunjukkan minat yang sama dalam bidang keilmuan. Sherlina mengangkat topik penelitian “Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Agen Fitoremediasi Logam Berat Kromium (Cr) pada Air Limbah IPAL Sewon, Bantul” di bawah bimbingan Prof. Dr. Suwarno Hadisusanto, S.U. Sedangkan Sherlita mengambil judul “Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) Sebagai Agen Fitoremediasi Timbal (Pb) pada Air Limbah IPAL Sewon, Bantul, Yogyakarta” di bawah bimbingan Dr.rer.nat. Andhika Puspito Nugroho, M.Si.

Soal pengalaman selama menempuh kuliah, Sherlita menuturkan bahwa para dosen di Fakultas Biolog sangat membantu dan mendukung mereka dalam menempuh Pendidikan. Para mahasiswa diajak untuk dapat berfikir kritis, mengembangkan pengetahuan, serta mempraktikan ilmu yang didapat secara langsung kepada masyarakat. “Kita diajak mengikuti program MBKM membangun desa dan adanya Kerja Praktek yang wajib mahasiswa Fakultas Biologi tempuh sebelum melaksanakan Seminar Proposal,” papar Sherlita.

Selain itu, dukungan fasilitas yang ada di Fakultas Biologi sangat mendukung aktivitas kuliah dan praktikum bagi mahasiswa. Bahkan para staf akademik serta laboran sangat  sangat cekatan membantu mahasiswa yang kebingungan terkait berkas maupun ketika bekerja di laboratorium. “Kami sangat merasa senang bisa menamatkan pendidikan S1 di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Pendidikan S1 Biologi menjadikan kami memiliki beberapa peluang besar bagi karier kami kedepannya,” katanya.

Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., menyampaikan ucapan selamat kepada Sherlina dan Sherlita atas kelulusannya. Ia berharap bisa meniti karir profesional sebab prospek kerja lulusan Biologi sangat terbuka lebar. “Pencapaian mereka tidak hanya membanggakan keluarga dan teman-teman, tetapi juga memberikan kontribusi pada Pendidikan Berkualitas dan Kesetaraan Gender di Indonesia,” ujarnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/#respond Mon, 27 May 2024 09:38:28 +0000 https://ugm.ac.id/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/ Areta Adzroo Imtitaznabilla, mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK) sukses menjadi lulusan termuda dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu (22/5). Ia berhasil lulus di usia 20 tahun 1 bulan dan 13 hari, sedangkan rata-rata usia lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 […]

Artikel Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Areta Adzroo Imtitaznabilla, mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK) sukses menjadi lulusan termuda dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu (22/5). Ia berhasil lulus di usia 20 tahun 1 bulan dan 13 hari, sedangkan rata-rata usia lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Bisa menyandang gelar sarjana di usia 20 tahun, tentu tidak semua orang bisa melakukannya. Areta, demikian ia akrab disapa, menuturkan bahwa sejak di bangku SMP dan SMA dirinya mengikuti kelas akselerasi sehingga membuatnya lulus lebih cepat dibanding teman-teman sekelasnya. “Saya ikut kelas akselerasi,” kata Areta kepada wartawan, Senin (27/5).

Tidak hanya lulus lebih awal dengan usia yang lebih muda, Areta juga termasuk berprestasi di bidang akademik sehingga ia bisa kuliah di prodi Kedokteran. Ketertarikannya pada dunia kedokteran terinspirasi dari ibunda tercinta yang bekerja sebagai tenaga kesehatan perawat di RSUD Sidoarjo. Role model dari sang ibunda membuatnya bercita-cita menjadi dokter sejak kecil, dan memutuskan untuk memilih FK-KMK UGM.

Di awal kuliah, Areta mengaku harus beradaptasi karena merasakan kompetisi dengan teman seangkatannya. Selain selalu rajin kuliah, namun ia tetap menyisihkan waktu untuk aktif di kegiatan organisasi dan kepanitiaan di kampus. “Pada tahun pertama kuliah, saya mengikuti organisasi CIMSA (Center for Indonesian Medical Students Activities). Berlanjut di tahun kedua ia banyak bergabung di TBMM (Tim Bantuan Medis Mahasiswa), serta organisasi mahasiswa tingkat fakultas,” katanya.

Meski sibuk berorganisasi, Areta mengaku hal itu tidak mengganggu kuliahnya yang disibukkan dengan kegiatan kuliah, ujian dan praktikum. “Kuncinya konsisten dan harus tanggung jawab sama apa yang sudah dipilih. Saya dulu awal memasuki kedokteran juga sempat merasa stres karena materi, ujian, dan praktikum yang banyak. Namun, capek bukan berarti kita harus menyerah kan,” imbuhnya.

Soal tugas akhir yang disusunnya, Areta menyusun skripsinya berjudul “Pengaruh Vitamin D Terhadap Ekspresi mRNA p16 dan SOD-1 Pada Hippocampus Tikus Model Diabetes Mellitus” di bawah beberapa dosen pembimbing dan penguji, antara lain Prof. Dr. dr. Dwi Cahyani Ratna Sari, dr. Ratih Yuniartha, Ph.D, dan dr. Nur Arfian, Ph.D.

Pengalaman menyusun tugas akhir skripsi diakuinya cukup menantang. Ia sengaja memilih topik eksperimental yang sekaligus merupakan payung penelitian di Departemen Anatomi FK-KMK UGM. Motivasi diri sendiri dan istirahat cukup bisa menjadi pendukung utama dalam menyelesaikan skripsi, namun dukungan kerabat dan lingkungan sekitar juga menjadi poin penentu. “Saya merasa sangat terbantu dengan berbagai fasilitas dan support pembelajaran yang diberikan FK-KMK UGM,” katanya.

Setelah selesai ujian skripsi, menjelang semester terakhir masa kuliahnya, Areta bisa mendaftar yudisium gelombang pertama pada  31 Januari 2024. Areta mengaku tidak mudah untuk mengejar kelulusan di prodi yang dipilihnya, mengingat banyaknya materi dan praktikum yang harus dipelajari untuk bisa menjadi lulusan dokter. Tapi berkat usaha dan ketekunannya, ia bangga bisa menjadi lulusan termuda periode ini. “Saya senang bisa mendapat predikat sebagai lulusan termuda,” ungkapnya.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/feed/ 0
Menikmati Proses Perkuliahan, Edo Lulus Sarjana Tercepat di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/menikmati-proses-perkuliahan-edo-lulus-sarjana-tercepat-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/menikmati-proses-perkuliahan-edo-lulus-sarjana-tercepat-di-ugm/#respond Sat, 25 May 2024 05:27:44 +0000 https://ugm.ac.id/menikmati-proses-perkuliahan-edo-lulus-sarjana-tercepat-di-ugm/ Mendapatkan gelar sarjana merupakan sebuah pencapaian yang hampir diimpikan oleh semua orang. Termasuk bagi Alfredo Dwiputra Ardiansyah yang baru saja lulus sarjana prodi Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM, Rabu (22/5) lalu. Pada wisuda 1.422 lulusan Sarjana dan Diploma yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, ia dinobatkan menjadi wisudawan dengan masa studi tercepat yaitu lulus sarjana dalam […]

Artikel Menikmati Proses Perkuliahan, Edo Lulus Sarjana Tercepat di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mendapatkan gelar sarjana merupakan sebuah pencapaian yang hampir diimpikan oleh semua orang. Termasuk bagi Alfredo Dwiputra Ardiansyah yang baru saja lulus sarjana prodi Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM, Rabu (22/5) lalu. Pada wisuda 1.422 lulusan Sarjana dan Diploma yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, ia dinobatkan menjadi wisudawan dengan masa studi tercepat yaitu lulus sarjana dalam waktu 3 tahun 2 bulan 16 hari. Padahal rerata masa studi lulusan Program Sarjana adalah 4 tahun 1 bulan.

Edo, demikian ia akrab dipanggil, mendapat predikat sebagai lulusan tercepat di luar dugaannya. Selama kuliah ia hanya fokus menargetkan untuk bisa lulus sesegera mungkin agar bisa mandiri secara keuangan dan tidak membebani orang tua. “Waktu itu goal saya yaitu bagaimana agar tidak membayar UKT di semester depan, tentu dengan lulus sebelum memasuki semester berikutnya,” ujarnya.

Keinginan untuk bisa menyelesaikan kuliah mendorongnya untuk mengerjakan tugas akhir sesegera mungkin. Mengangkat topik skripsi berdasarkan studi kasus dari bisnis yang tengah ia rintis. Judul skripsi yang ia pilih yakni Strategi Pembuatan Rebranding Campaign pada Startup CarbonEthics. Edo mengaku beruntung dibimbing oleh Masageng Widagdha Prasarana sebagai dosen pembimbing karena merasa terbantu dan dibimbing selama pengerjaan tugas akhir.

Selain terbantu dalam pengerjaan tugas akhir, suasana pertemanan dengan sesama mahasiswa diakui Edo menjadi salah satu faktor terpenting di masa perkuliahan. Hubungan yang terjalin selama masa kuliah tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga membentuk jaringan sosial yang berharga untuk masa depan. “Saya merasa banyak kenangan bersama teman-teman dan saya selalu berprinsip jangan terjebak dalam drama yang tidak berarti,” kenangnya.

Soal tips untuk lulus sarjana lebih cepat, Edo memberi pesan untuk jangan pernah memaksa diri sendiri agar bisa lulus dengan cepat, melainkan menikmati setiap proses yang ada. “Enjoy every process and live in the moment, meskipun kamu sedang mengerjakan skripsi. Itulah mengapa topik skripsi harus sesuai dengan minat sehingga kamu bisa enjoy mengerjakannya karena untuk apa kamu lulus cepat tetapi tidak tertarik dengan tugasnya,” ujarnya.

Pasca menyandang gelar sarjana, pria asal Jakarta ini mengaku akan menggeluti keinginannya untuk bekerja di bidang bisnis dan marketing. Padahal motivasinya selama kuliah awalnya ingin menjadi jurnalis. “Tapi ternyata setelah belajar lebih jauh di Ilmu Komunikasi UGM, saya menemukan minat saya di bidang marketing dan bisnis,” katanya.

Penulis: Dita
Editor: Gusti Grehenson

Artikel Menikmati Proses Perkuliahan, Edo Lulus Sarjana Tercepat di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menikmati-proses-perkuliahan-edo-lulus-sarjana-tercepat-di-ugm/feed/ 0
UGM Mewisuda 1.423 Lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-mewisuda-1-423-lulusan-program-sarjana-dan-sarjana-terapan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-mewisuda-1-423-lulusan-program-sarjana-dan-sarjana-terapan/#respond Wed, 22 May 2024 07:56:42 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-mewisuda-1-423-lulusan-program-sarjana-dan-sarjana-terapan/ Universitas Gadjah Mada mewisuda 1.423 lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024. Sebanyak 1.423 lulusan terdiri 1.345 orang lulusan Program Sarjana, termasuk 1 orang wisudawan berasal dari Warga Negara Asing, 78 lulusan Program Sarjana Terapan, termasuk 19 orang wisudawan dari Program Alih Jenjang Diploma Tiga ke Sarjana Terapan, dan 7 lulusan […]

Artikel UGM Mewisuda 1.423 Lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada mewisuda 1.423 lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024. Sebanyak 1.423 lulusan terdiri 1.345 orang lulusan Program Sarjana, termasuk 1 orang wisudawan berasal dari Warga Negara Asing, 78 lulusan Program Sarjana Terapan, termasuk 19 orang wisudawan dari Program Alih Jenjang Diploma Tiga ke Sarjana Terapan, dan 7 lulusan dari periode sebelumnya yang mengikuti prosesi wisuda periode ini.

Dalam upacara yang dipimpin Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med. Ed., Sp.OG (K), Ph.D disampaikan Wisudawan Program Sarjana dari penerima beasiswa Bidik Misi/Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) sebanyak 86 lulusan, dan 40 lulusan Program Sarjana berasal dari Kabupaten di Daerah 3T. Pada periode ini jumlah wisudawan perempuan kembali mendominasi yaitu 917 orang atau 64,44 persen, sedangkan wisudawan pria berjumlah 506 orang atau 35,56 persen.

Saya ucapan selamat kepada wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil meraih gelar akademis jenjang Sarjana dan Sarjana Terapan di Universitas Gadjah Mada. Gelar yang diterima hari ini bisa menjadi langkah awal bagi wisudawan dan wisudawati untuk turut berkontribusi memajukan pembangunan bangsa,” ujar Rektor di Grha Sabha Pramana, Rabu (22/5).

Dalam sambutannya ia menyampaikan Indonesia saat ini tengah menjadi tuan rumah KTT World Water Forum yang digelar di Bali pada 18-24 Mei 2024. Melalui pertemuan yang dihadiri beberapa kepala negara, ratusan Menteri dan perwakilan delegasi ini, bisa menjadi salah satu upaya dunia untuk merevitalisasi aksi nyata dan menggalang komitmen bersama dalam mewujudkan sumber daya air terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan. Karena dampak krisis air akan memperlambat pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen sampai dengan tahun 2050.

Di sisi lain, dunia tengah menghadapi euforia kehadiran modernisasi teknologi, salah satunya adalah adalah pengembangan artificial Intelligence, dimana hal tersebut membuka peluang kerja baru sekaligus membawa risiko terjadinya pemangkasan tenaga kerja manusia di beberapa industri modern. Padahal negara Indonesia saat ini tengah menghadapi puncak bonus demografi yang akan berlangsung dalam waktu satu atau dua dekade ke depan.

“Situasi tersebut setidaknya menjadi gambaran tantangan masa depan para wisudawan-wisudawati. Sejauh mana Saudara sekalian akan turut berkontribusi menjadi subjek pembangunan ke depan, yang lincah, kreatif, inovatif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan perkembangan situasi global,” katanya.

Di hadapan wisudawan dan wisudawati, Rektor meyakinkan bahwa dengan pengetahuan, keterampilan, serta karakter kepribadian yang dimiliki saat ini mampu menjadi bekal untuk menghadapi kompleksitas permasalahan sosial masyarakat di masa depan. Menurutnya, sudah saatnya para lulusan berkontribusi untuk pembangunan bangsa dengan berbekal kompetensi dan pengetahuan yang dimiliki.

”Pesan saya pergunakanlah ilmu pengetahuan yang saudara sekalian miliki untuk terjun ke masyarakat melalui kerja profesional, menghasilkan karya dan inovasi nyata, demi mewujudkan pembangunan bangsa secara berkelanjutan,” terangnya.

Diharapkan para lulusan untuk terus menjadi sosok pembelajar sepanjang hayat. Berupaya meningkatkan kemampuan dan kapasitas diri di manapun berada, serta menjaga nama baik serta rasa cinta terhadap almamater karena di sanalah keluarga besar Universitas Gadjah Mada berada.

“Di era disruptif ini, peluang harus kita ciptakan. Kita juga tidak harus menunggu setiap kesempatan datang. Jadikan pengetahuan yang saudara sekalian miliki sebagai landasan kebijaksanaan untuk bertindak dan berpikir, serta menyejahterakan manusia juga keberlangsungan kehidupan,” tuturnya.

Pada wisuda kali ini untuk Lulusan Program Sarjana tercatat rerata masa studi lulusan 4 tahun 1 bulan, dan waktu tercepat diraih Alfredo Dwiputra Ardiansyah, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, yang mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 2 bulan 16 hari. Sedangkan usia rata-rata lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Lulusan termuda program Sarjana Areta Adzroo Imtiyaznabilla dari Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, dalam usia 20 tahun 1 bulan 13 hari. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Periode III ini adalah 3,61.

Sementara lulusan dengan predikat Pujian sebanyak 927 lulusan (68,92%), yang berpredikat Sangat Memuaskan 393 lulusan (29,22%) dan yang berpredikat Memuaskan 14 lulusan (1,04%), serta yang lulus tanpa predikat 11 lulusan (0,82%). Pada periode ini terdapat 8 lulusan dengan IPK tertinggi 4,00 sekaligus berpredikat Pujian. Sebanyak 7 lulusan dari FK-KMK yaitu Khrisna Dava Putra Sayhari, Trevanna Sherilla Putri Adisti, Kamila Fadya Amelia, Muhammad Malana Zakki, Yovita Diandra Wijaya, Naila Vinidya Putri, Tiffani, dan Joselind Sienydea Salim dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Sedangkan untuk lulusan Program Sarjana Terapan rerata masa studi lulusan 4 tahun 3 bulan, dan waktu studi tercepat diraih oleh Saudara Raden Mas Teja Nursasongka dari Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi, yang menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 17 hari. Untuk usia rata-rata lulusan Program Sarjana Terapan adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Lulusan termuda program Sarjana Terapan periode ini adalah Saudari Gabriella Alvera Chaterine dari Program Studi Teknologi Rekayasa Internet, Sekolah Vokasi dengan usia 21 tahun 3 bulan 6 hari. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Terapan periode ini adalah 3,69. Lulusan berpredikat dengan Pujian 27 orang (34,62%), dan 51 orang (65,38%) berpredikat Sangat Memuaskan. IPK tertinggi diraih oleh oleh Saudara Fahmi Nur Rosyid, dari dari Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Sekolah Vokasi dengan IPK 3,97.

Penulis: Agung Nugroho

Fotografer: Firsto

 

Artikel UGM Mewisuda 1.423 Lulusan Program Sarjana dan Sarjana Terapan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-mewisuda-1-423-lulusan-program-sarjana-dan-sarjana-terapan/feed/ 0
Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/#respond Fri, 03 May 2024 15:07:18 +0000 https://ugm.ac.id/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/ Heni Ardianto (25), merupakan salah satu wisudawan yang berhasil lulus dari Prodi Magister Sains Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, pada Rabu (24/4) lalu di Kampus UGM. Ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dengan IPK 3,72 dan menyandang predikat cumlaude. Tak kalah membanggakan, Ardi selama menjalani perkuliahan tanpa dipungut biaya pendidikan dengan memanfaatkan beasiswa LPDP RI. […]

Artikel Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Heni Ardianto (25), merupakan salah satu wisudawan yang berhasil lulus dari Prodi Magister Sains Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, pada Rabu (24/4) lalu di Kampus UGM. Ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dengan IPK 3,72 dan menyandang predikat cumlaude. Tak kalah membanggakan, Ardi selama menjalani perkuliahan tanpa dipungut biaya pendidikan dengan memanfaatkan beasiswa LPDP RI.

Bukan perkara keberhasilannya menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude atau kuliah gratis dibiayai oleh beasiswa LPDP, namun yang menarik adalah kisah Ardi dalam usahanya menempuh pendidikan dari jenjang bangku sekolah dasar, menengah hingga ke perguruan tinggi. Bahkan Ardi juga berasal dari keluarga korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu pada tahun 2018 silam.

Ardi bercerita ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Didik Iswanto (49) dan Tiyarmi (45). Kedua orang tuanya berasal dari Prambanan, Jawa Tengah yang mengadu nasib ke Morowali, Sulawesi Tengah sejak tahun 1983 silam. Keduanya sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Meski lahir dari keluarga sederhana, tak mematahkan semangat Ardi untuk mengejar asa meraih pendidikan setinggi-tingginya. Dengan ketekunan, kerja keras, serta doa orang tua ia berhasil mematahkan stigma jika anak kampung dari daerah pelosok di luar Pulau Jawa dengan kondisi perekonomian pas-pasan bisa kuliah bahkan sampai jenjang S2. “Sejak kecil pengin banget kuliah. Kalau melihat kondisi perekonomian orang tua yang pas-pasan sepertinya sulit, tetapi saya modal nekat dan tekad kuat gimana caranya bisa kuliah,” jelasnya.

Ia mafhum dengan keadaan orang tuanya. Namun pria kelahiran Limbo Makmur, 2 Agustus 1998 ini memiliki semangat kuat untuk bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi jauh melampaui kedua orang tuanya yang lulusan Sekolah Dasar. Melalui pendidikan ia yakin bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik.

“Bapak dan Ibu baru bisa mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar saja. Saya pengin bisa sekolah tinggi supaya bisa mengubah kondisi keluarga ke arah yang lebih baik,” ucapnya.

Sadar dengan kondisi keluarga yang terbatas, Ardi saat menjalani kuliah juga aktif melakukan kerja paruh waktu. Mulai dengan menjadi asisten dosen baik saat S1 maupun S2, tim penyusun kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di sejumlah kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah hingga tim penyusun dokumen analisis kelayakan bisnis di beberapa perusahaan. “Selain untuk menambah ilmu dan pengalaman tentunya juga untuk menambah uang saku kuliah,” ungkapnya.

Kondisi keluarga dengan keterbatasan perekonomian tidak pernah membuatnya menjadi berkecil hati. Keadaan tersebut justru menjadi pelecut baginya untuk semangat dalam menggapai pendidikan. Ia berhasil masuk dalam jajaran siswa berprestasi di sekolah dan mengantarkannya meraih beasiswa pendidikan sejak bangku SMK hingga S2.

Ketika kuliah S2 Ardi juga aktif mengikuti sejumlah konferensi internasional. Beberapa diantaranya adalah 15th Global Conference on Business and Social Sciences 2023 di Thailand, International Conference on Business and Finance 2023 di Internasional UEH University, Vietnam, serta 42nd EBES Conference 2023 di Lisbon yang digelar secara daring.

Meski terlahir dari keluarga dengan perekonomian terbatas, Ardi membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen kuat mewujudkan pendidikan tinggi berkualitas, berkeadilan, dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk bagi keluarga kurang mampu, penyandang disabilitas, serta daerah 3T.

Penulis: Humas FEB UGM/Kurnia Ekaptiningrum

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/feed/ 0
Aulia Ayub, Lulusan Termuda dan Tercepat Program Spesialis UGM dengan IPK 4.00 https://ugm.ac.id/id/berita/aulia-ayub-lulusan-termuda-dan-tercepat-program-spesialis-ugm-dengan-ipk-4-00/ https://ugm.ac.id/id/berita/aulia-ayub-lulusan-termuda-dan-tercepat-program-spesialis-ugm-dengan-ipk-4-00/#respond Tue, 30 Apr 2024 11:05:11 +0000 https://ugm.ac.id/aulia-ayub-lulusan-termuda-dan-tercepat-program-spesialis-ugm-dengan-ipk-4-00/ Ada yang menarik dalam wisuda program pascasarjana UGM para Rabu (24/4) di Grha Sabha Pramana. Salah satu wisudawan dari program spesialis, drg. Aulia Ayub, Sp.Ort (27 tahun) berhasil meraih predikat lulusan termuda untuk lulusan spesialis sekaligus berhasil meraih gelar dokter spesialis Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, karena lulus pada usia 27 tahun 6 […]

Artikel Aulia Ayub, Lulusan Termuda dan Tercepat Program Spesialis UGM dengan IPK 4.00 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ada yang menarik dalam wisuda program pascasarjana UGM para Rabu (24/4) di Grha Sabha Pramana. Salah satu wisudawan dari program spesialis, drg. Aulia Ayub, Sp.Ort (27 tahun) berhasil meraih predikat lulusan termuda untuk lulusan spesialis sekaligus berhasil meraih gelar dokter spesialis Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, karena lulus pada usia 27 tahun 6 bulan 9 hari. Padahal rata rata usia lulusan program spesialis periode ini adalah 34 tahun 6 bulan 16 hari.

Selain termuda, Aulia juga dinobatkan sebagai lulusan tercepat untuk program yang sama karena mampu menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 2 tahun 6 bulan dengan mendapatkan IPK 4.00. Padahal masa studi rata-rata program spesialis periode ini adalah 4 tahun 2 bulan.

Mendapat predikat lulusan termuda dan berhasil meraih cumlaude tidak disangka oleh Aulia apalagi ia tidak pernah menargetkan untuk lulus lebih cepat, melainkan lulus tepat waktu dalam 3 tahun. “Betul-betul tidak disangka, bagi saya yang penting lulus tepat waktu,” kata Aulia dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (30/4).

Berbicara terkait keberhasilannya mendapatkan IPK 4.00, Aulia hanya selalu konsisten dan berusaha untuk melakukan segala sesuatu secara maksimal selama masa kuliah.

Ia mengaku bersyukur memiliki dosen pembimbing dan selaku mentor yang selalu mengarahkannya untuk tetap konsisten dan selalu melakukan yang terbaik dalam hal apapun. Bagi Aulia, sikap konsisten, bekerja sama dengan siapapun, dan berperilaku baik akan mendatangkan kebaikan kembali kepada diri sendiri. “Setiap permasalahan yang datang akan mudah diselesaikan dengan bersama,” katanya.

Namun yang tidak kalah penting menurut Aulia adalah dukungan dosen pada mahasiswa dan selalu melakukan evaluasi setiap pekerjaan dan tugas yang diberikan. “Seluruh dosen begitu perhatian kepada kami melalui evaluasi kesulitan yang kami hadapi secara berkala dan sangat berdedikasi secara maksimal,” katanya.

Selain itu, Aulia mengaku beruntung mendapatkan pasien yang kooperatif juga menjadi salah satu alasan dirinya dapat menyelesaikan studinya. “Kerja sama yang baik dari seluruh pasien yang begitu kooperatif mendukung kelancaran dan keberhasilan proses perawatan,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan wartawan terkait alasannya memilih Prodi Spesialis Ortodonsia FKG UGM, pria sulung dari tiga bersaudara tersebut mengatakan ia ingin menekuni Dokter Gigi Spesialis ortodonsia berkualitas sesuai standar yang ditetapkan oleh World Federation Orthodontic (WFO) dan Kolegium Ortodonti Indonesia.

Penulis: Dita
Editor: Gusti Grehenson

Artikel Aulia Ayub, Lulusan Termuda dan Tercepat Program Spesialis UGM dengan IPK 4.00 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/aulia-ayub-lulusan-termuda-dan-tercepat-program-spesialis-ugm-dengan-ipk-4-00/feed/ 0