Artikel Tim Gamaforce UGM Siap Berlaga di Technofest Turki dan KRTI 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Untuk berlaga di dua kompetisi ini, Tim Gamaforce UGM telah mempersiapkan diri sejak Januari 2024 berupa riset, pengembangan, dan pendanaan. Bahkan tim Gamaforce juga meluncurkan enam wahana baru, salah satunya pesawat tanpa awak berjenis Fixed Wing dengan nama Ashwincarra disiapkan untuk ajang kompetisi Technofest Turki.
“Harapan dan target kami, bisa mempertahankan juara umum Kontes Robot Terbang Indonesia dan menjuarai Fighter UAV Competition di Technofest Turki, maka dari itu kami mohon dukungan, motivasi, dan doa restu untuk melaksanakannya dengan baik,” ujar Ketua umum Gamaforce, Dimas Gilar Pratama Putra dalam sambutannya di Balairung, Kamis (5/9) lalu.
Sejak didirikan pada tahun 2015, Gamaforce UGM telah berhasil menyabet gelar juara umum sebanyak tujuh kali pada KRTI dan meraih juara ketiga pada kontes Technofest Turki di tahun sebelumnya. Tim Gamaforce kembali menargetkan untuk mempertahankan juara umum untuk kedelapan kalinya di KRTI dan meraih juara satu pada Technofest Turki. “Mudah-mudahan Gamaforce bisa menjadi inspirasi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan di Indonesia sekarang,” ujar Prof. Dr. Ir. Sugeng Sapto Surjono, S.T., M.T., selaku Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM.
Dalam kesempatan itu, Gamaforce UGM melakukan doa bersama dan pemotongan pita sebagai bentuk simbolis peresmian tim yang akan berlaga di kompetisi nasional dan internasional. Selain pihak universitas, Gamaforce juga didukung oleh pihak-pihak eksternal sebagai mitra seperti Kagama, BTN, BNI, BRI, Access by KAI, Frogs Indonesia, Plaza Ambarukmo, PT Angkasa Pura II, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, dan masih banyak lagi.
Pada pelepasan tim Gamaforce yang akan bertanding di ajang nasional dan internasional Sekretaris Direktur Kemahasiswaan UGM Dr. Hempri Suyatna, Sekjen PP KAGAMA Dr. Ari Dwipayana, dan sejumlah perwakilan dari mitra.
Penulis : Rahma Khoirunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Artikel Tim Gamaforce UGM Siap Berlaga di Technofest Turki dan KRTI 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Prof. Gesang Nugroho Raih Guru Besar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Kedua pesawat ini merupakan hasil karya inovasi Dosen Fakultas Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Gesang Nugroho, S.T., M.T., IPM., yang kebetulan tengah dikukuhkan sebagai Guru Besar. Setelah 12 tahun mengembangkan pesawat tanpa awak, selain berhasil meraih Guru Besar, Gesang juga telah berhasil meraih dua paten terkait pencetakan komposit dengan batuan tekanan balon yang diberi nama Bladder Compression Moulding (BCM).
Kepada wartawan, Gesang menyampaikan dua pesawat yang memiliki Panjang 2 meter dan 3,3 meter ini sudah dilengkapi sistem autopilot dan kemampuan jelajah terbang sesuai dengan titik koordinat yng dipasangkan. “Selama terbang akan mampu mengambil foto dan video yang akan dikirim pada ground control station. Bedanya Palapa S-1 mampu terbang 6 jam nonstop, palapa S-2 bisa terbang 10 jam nonstop,“ katanya.
Untuk UAV S-1, kata Gesang sudah menggunakan telemetri wifi internet dengan jarak tempuh hingga 50 kilometer. Menurutnya, Palapa S-1 sebenarnya memiliki kemampuan daya terbang hingga 300 km namun komunikasi foto dan video terputus untuk jarak sejauh itu. Sedangkan pada Palapa S-2 menggunakan telemetri satelit sehingga memiliki kemampuan daya jangkauan tak terbatas. Namun pesawat yang kedua ini, belum selesai dikembangkan. “Belum selesai, nantinya akan dilengkapi sistem autopilot dan sistem komunikasinya menggunakan telemetri satelit sehingga tak terbatas jangkauannya. Saat ini baru tahap fase membuat bodinya,” jelasnya.
Meski masih menggunakan tingkat komponen dalam negeri besar 25-30 persen namun Gesang optimis pengembangan pesawat tanpa awak di tanah air nantiya akan terus berkembang karena sangat diperlukan, selain untuk kepentingan militer namun juga bisa digunakan untuk kepentingan pemetaan, surveilans, dan pemantauan bencana bahkan untuk kepentingan pemeliharaan tanaman pertanian dan perkebunan. “Kita mendorong perkembangan industri komponen pesawat dan industri pembuatan bodi pesawat dari komposit,” tegasnya.
Soal harga? Gesang menuturkan bahwa pesawat tanpa awak yang dikembangkannya harganya jauh lebih murah dibanding dengan pesawat UAV dari lua. Tidak hanya lebih murah, bahkan untuk pemeliharaan dan perawatan pesawat pun bisa dilakukan di dalam negeri. “Harganya jauh lebih ekonomis, pesawat sekelas ini dijual di Indonesia bisa sampai Rp 3 miliar. Untuk pesawat kita harganya bisa di bawah Rp 1 miliar,” ungkapnya
Pada pidato pengukuhan yang berjudul Membangun Industri Pesawat Tanpa Awak Indonesia, Prof. Gesang menyampaikan bahwa teknologi Pesawat Tanpa Awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) saat ini semakin maju dan berkembang. Saat ini, UAV tidak hanya merupakan perangkat teknologi canggih semata, tetapi juga merupakan sebuah gebrakan revolusioner yang mengubah perspektif kita terhadap dunia. Mulai dari kegunaan di sektor militer hingga penerapannya dalam berbagai bidang sipil, UAV telah melangkah masuk ke setiap aspek kehidupan masyarakat dengan kecepatan yang menakjubkan.
Ia menghimbau agar masyarakat dan pemerintah mau menggunakan produk produk hasil riset bangsa sendiri. Apabila kerja sama saling mendukung sudah berjalan dengan baik, maka konsep Invention, Application and Utilization (IAU) akan berjalan berkesinambungan sehingga industri manufaktur akan tumbuh dan berkembang di tanah air.
Penulis: Gusti Grehenson
Artikel Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Prof. Gesang Nugroho Raih Guru Besar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>