stunting Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/stunting/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 15 Feb 2024 09:45:54 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Prof Mei Neni Sitaresmi : Kesehatan dan Perkembangan Anak Pada Awal Kehidupan Fondasi Yang Sangat Menentukan https://ugm.ac.id/id/berita/prof-mei-neni-sitaresmi-kesehatan-dan-perkembangan-anak-pada-awal-kehidupan-fondasi-yang-sangat-menentukan/ https://ugm.ac.id/id/berita/prof-mei-neni-sitaresmi-kesehatan-dan-perkembangan-anak-pada-awal-kehidupan-fondasi-yang-sangat-menentukan/#respond Thu, 15 Feb 2024 09:45:54 +0000 https://ugm.ac.id/prof-mei-neni-sitaresmi-kesehatan-dan-perkembangan-anak-pada-awal-kehidupan-fondasi-yang-sangat-menentukan/ Masalah perkembangan anak merupakan masalah global. Diperkirakan sekitar 250 juta atau 43 persen anak balita dengan usia <5 tahun di negara-negara sedang berkembang tidak dapat mencapai potensi perkembangannya karena dihadapkan masalah malnutrisi, kesehatan, tidak mendapatkan stimulasi dan pengasuhan yang adekuat, maupun faktor risiko lain terkait dengan kemiskinan. Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp. A(K)., Ph.D, […]

Artikel Prof Mei Neni Sitaresmi : Kesehatan dan Perkembangan Anak Pada Awal Kehidupan Fondasi Yang Sangat Menentukan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Masalah perkembangan anak merupakan masalah global. Diperkirakan sekitar 250 juta atau 43 persen anak balita dengan usia <5 tahun di negara-negara sedang berkembang tidak dapat mencapai potensi perkembangannya karena dihadapkan masalah malnutrisi, kesehatan, tidak mendapatkan stimulasi dan pengasuhan yang adekuat, maupun faktor risiko lain terkait dengan kemiskinan.

Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp. A(K)., Ph.D, staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, menyebut stunting, anak pendek yang diakibatkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang masih menjadi masalah global termasuk di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan saat ini menyatakan prevalensi stunting di Indonesia masih 21,6 persen, dan pemerintah mentargetkan penurunan angka Stunting ini menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Dia mengungkapkan perkembangan yang tidak optimal pada awal kehidupan akan memberikan konsekuensi jangka panjang seperti meningkatnya risiko penyakit kronis dan kesehatan mental, berkurangnya produktivitas, serta berkurangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan. Kondisi ini bisa menurun kepada generasi berikutnya.

“Masalah ini tentunya akan menjadi beban ekonomi suatu negara. Sebaliknya, menurut data World Health Organization tahun 2018, setiap investasi 1 dollar AS untuk program atau intervensi perkembangan anak usia dini akan menghemat dan menghasilkan keuntungan 13 dollar AS,” ucapnya di Balai Senat UGM, Kamis (15/2).

Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp. A(K)., Ph.D mengatakan hal itu saat dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pidato berjudul Pendekatan Nurturing Care Pada Anak Usia Dini untuk Hidup, Tumbuh dan Berkembang Menuju Manusia Sehat dan Produktif.

“Saya mengambil topik ini karena kesehatan dan perkembangan anak pada awal kehidupan merupakan fondasi yang menentukan kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas pada saat dewasa,” ujarnya.

Sebagai dokter anak, Mei Neni Sitaresmi mengungkapkan saat ini banyak orang tua yang membawa anaknya dengan keluhan masalah perkembangan dan perilaku seperti belum bisa berjalan, keterlambatan bicara, tidak bisa berkomunikasi dua arah, tidak bisa diam, sulit berkonsentrasi, mudah marah, maupun karena masalah pertumbuhan, seperti berat badan sulit naik, anak pendek, atau sulit makan. Karenanya perkembangan anak usia dini termasuk dalam target 4.2 Sustainable Development Goals 2030, dimana setiap anak laki-laki dan perempuan mempunyai hak mendapat pengasuhan, perkembangan, dan pembelajaran dini yang berkualitas supaya mereka siap untuk ikut dalam pendidikan dasar.

Menurut Mei Neni perkembangan anak usia dini yang tidak optimal dapat dicegah atau dioptimalkan dengan menciptakan lingkungan yang stabil dan sensitif terhadap pemenuhan kebutuhan kesehatan dan nutrisi, aman dari bahaya dan rasa tidak aman, memberi kesempatan anak untuk belajar sejak dini, dan didukung oleh pengasuh yang responsif. WHO pada tahun 2018, UNICEF, dan World Bank telah memperkenalkan konsep nurturing care perkembangan anak usia dini yaitu suatu kerangka konsep untuk membantu anak hidup dan berkembang serta bertransformasi menjadi manusia yang sehat dan produktif.

The Care for Child Development (CCD) merupakan paket program yang dikeluarkan WHO dan UNICEF untuk mendukung implementasi nurturing care pada anak usia 0-5 tahun. Program inipun diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan yang sudah berjalan di pelayanan kesehatan dasar.

“CCD ditujukan untuk meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam mendukung orang tua asuh dalam memberikan pengasuhan yang responsive dan aktifitas yang mendukung anak bermain dan bereksplorasi serta meningkatkan komunikasi dan interaksi antara anak dan orang tua atau pengasuh,” imbuhnya.

Program CCD ini telah diimplementasikan di 54 negara sedang berkembang termasuk di Indonesia. Secara umum disimpulkan bahwa CCD telah membantu meningkatkan kesadaran pelaksanaan program khususnya di sektor kesehatan dan gizi di negara berkembang mengenai strategi untuk mempromosikan program anak usia dini.

Pada bagian akhir dari pidatonya, ia kembali menandaskan bila periode sejak kehamilan sampai 3 tahun pertama kehidupan menjadi periode sensitif bagi perkembangan seorang anak. Pada periode tersebut, pengaruh lingkungan dan pengalaman baik yang negatif maupun positif sangat menentukan kualitas kesehatan dan produktifitas seseorang.

Anak membutuhkan lingkungan yang aman, stabil dan suportif yang menjamin pemenuhan kesehatan dan gizi, memberikan perlindungan dari ancaman, bahaya dan rasa tidak aman. Selain itu memberi kesempatan anak untuk belajar sejak dini, serta didukung oleh pengasuh yang responsif yang mendukung secara emosional dan menstimulasi perkembangan.

“Intervensi terintegrasi anak usia dini merupakan intervensi yang murah dan hemat (costeffective) oleh karena itu harus dilakukan oleh keluarga dengan dukungan dari masyarakat termasuk masyarakat profesi dan pemerintah,” tandasnya.

Penulis : Agung Nugroho

Fotografer : Firsto

Artikel Prof Mei Neni Sitaresmi : Kesehatan dan Perkembangan Anak Pada Awal Kehidupan Fondasi Yang Sangat Menentukan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/prof-mei-neni-sitaresmi-kesehatan-dan-perkembangan-anak-pada-awal-kehidupan-fondasi-yang-sangat-menentukan/feed/ 0
Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Deteksi Dini Stunting Berbasis AI https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-stunting-berbasis-ai/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-stunting-berbasis-ai/#respond Mon, 20 Nov 2023 08:17:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=61968 Mahasiswa UGM mengembangkan alat deteksi dini stunting berbasis kecerdasan buatan (AI). Alat deteksi stunting yang diberi nama Electronic Stunting Detection System (ESDS) ini dirancang terintegrasi dengan sistem informasi dan aplikasi smartphone. Ketua tim pengembang ESDS, A.A. Gde Yogi Pramana, menjelaskan alat ini dapat melakukan pengukuran massa dan panjang tubuh pada bayi secara cepat. Tak hanya […]

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Deteksi Dini Stunting Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa UGM mengembangkan alat deteksi dini stunting berbasis kecerdasan buatan (AI). Alat deteksi stunting yang diberi nama Electronic Stunting Detection System (ESDS) ini dirancang terintegrasi dengan sistem informasi dan aplikasi smartphone.

Ketua tim pengembang ESDS, A.A. Gde Yogi Pramana, menjelaskan alat ini dapat melakukan pengukuran massa dan panjang tubuh pada bayi secara cepat. Tak hanya itu, alat dapat menyimpan hasil pengukuran secara otomatis sebagai data di aplikasi yang telah terintegrasi. Dengan begitu, pertumbuhan dan perkembangannya dapat dipantau secara berkala untuk mendeteksi secara dini gejala stunting pada anak di bawah umur dua tahun dengan bantuan machine learning.

Alat ESDS berbasis artificial intelligence ini dirancang agar dapat menghemat waktu serta meminimalkan kesalahan pengukuran karena faktor kesalahan manusia yang masih menggunakan alat ukur secara konvensional,” terangnya, Senin (20/11) saat bincang-bincang dengan wartawan di ruang Fortakgama UGM.

Mahasiswa program IUP Elektronika dan Instrumentasi ini mengembangkan ESDS bersama dengan keempat rekannya yaitu Haidar Muhammad Zidan (IUP Elektronika dan Instrumentasi), Faiz Ihza Permana (Teknik Biomedis), Ichsan Dwinanda Handika (Teknik Biomedis), serta Salsa Novalimah (Gizi Kesehatan). Alat ini dikembangkan melalui dana hibah dari Dikti dan berhasil lolos melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2023.

Ia mengungkapkan pengembangan ESDS ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap tingginya kasus stunting di tanah air. Deteksi dini stunting pada anak di bawah usia dua tahun telah banyak dilakukan kader kesehatan di masyarakat melalui posyandu. Hanya saja masih sering terjadi kesalahan terhadap keakuratan dalam mengukur dan mengevaluasi pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kurangnya keterampilan kader dan tidak sesuainya alat pengukur dengan standar antropometri. Pengukuran anak di bawah dua tahun biasanya diukur menggunakan infantometer board dan timbangan. Sementara bagi posyandu yang tidak memiliki biasanya panjang badan diukur menggunakan alat seadanya. Hal tersebut membuat hasil pengukuran menjadi tidak akurat karena alat yang digunakan tidak sesuai dengan standar persyaratan antropometri anak di bawah usia dua tahun “Saat memakai timbangan dacin yang berbasis manual dengan model ayunan seringkali dalam proses penimbangan pengukuran tidak akurat karena bayi merasa tidak nyaman dan banyak bergerak. Selain itu, proses kalibrasi timbangan tak jarang dilakukan dengan cara menambahkan kerikil yang dimasukkan ke dalam plastik kemudian diikat di ujung timbangan dacin agar timbangan tersebut tepat berada di titik nol sehingga rentan bagi alat tersebut untuk melakukan kesalahan pengukuran,”paparnya.

Yogi menuturkan ESDS merupakan hasil pengembangan dari produk yang telah ada sebelumnya dengan modifikasi pada framework sistem informasi yang digunakan yaitu codeigniter. Produk ini terintegrasi dengan sistem informasi yang tersedia dalam bentuk website application dan mobile application yang menampilkan informasi tumbuh kembang anak,  status gizi pada bayi dua tahun, indikasi stunting atau tidak pada anak, edukasi sederhana terkait gizi anak, serta menampilkan riwayat tumbuh kembang anak. Metode pencatatan secara digital dapat mempercepat proses pemutakhiran data dengan basis data pusat secara realtime.

“Alat ini terintegrasi dengan web-application untuk mengendalikan alat ukur bagi kader yang melakukan antropometri dan menampilkan laman untuk registrasi bayi,”jelasnya.

Faiz menambahkan dalam pengambilan keputusan apakah anak terindikasi stunting atau tidak, digunakan algoritma SMOTE-ENN yang diintegrasikan dengen Ensemble Leraning. Algoritma tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan algoritma lainnya, yaitu pelatihan pada data terjadi hanya saat ingin melakukan prediksi sampel sehingga algoritma dapat berjalan lebih cepat. Dengan begitu Ensemble Learning dapat mengklasifikasikan uji sampel berdasarkan data yang dinamis seperti pada data pengukuran stunting yang terus bertambah setiap kali melakukan pengukuran.

Lebih lanjut Faiz memaparkan cara kerja ESDS. Saat balita ditimbang pada permukaan alat atau area yang telah disediakan maka sensor high precision load cell akan membaca besaran yang diukur atau ditimbang. Selanjutnya, hasil pembacaan tersebut akan dikalibrasi dengan metode regresi linear untuk mendapatkan calibration factor. Lalu, LCD akan menampilkan hasil pengukuran berupa data kuantitatif yang merupakan interpretasi dari massa dan panjang tubuh bayi yang diukur.

Sementara Salsa mengatakan dengan hadirnya ESDS ke depan akan memudahkan pengguna dalam melakukan deteksi dini stunting dan pemantauan mandiri bagi orang tua yang memiliki bayi dua tahun. Deteksi dini stunting dan pemantauan mandiri ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mempercepat penurunan angka prevalensi stunting di Indonesia menjadi 14%.

“Dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2022, prevalensi stunting pada anak di bawah 5 tahun masih tinggi yakni sebesar 21,6%. Harapannya kehadiran alat ini bisa membantu deteksi dini stunting sehingga mendorong percepatan penurunan stunting di tanah air,”harapnya.

Penulis: Ika

Foto: Firsto

Artikel Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Deteksi Dini Stunting Berbasis AI pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-kembangkan-alat-deteksi-dini-stunting-berbasis-ai/feed/ 0
UGM Kirim Mahasiswa KKN Bantu Entaskan Kemiskinan di DIY https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kirim-mahasiswa-kkn-bantu-entaskan-kemiskinan-di-diy/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kirim-mahasiswa-kkn-bantu-entaskan-kemiskinan-di-diy/#respond Mon, 16 Oct 2023 04:47:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60468 UGM menerjunkan sebanyak 143 mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) periode 3 tahun 2023 untuk membantu pemerintah DIY dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan stunting. Penerjunan KKN berlangsung Senin (16/10) di Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM. Mahasiswa KKN UGM ini dilepas secara langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni […]

Artikel UGM Kirim Mahasiswa KKN Bantu Entaskan Kemiskinan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
UGM menerjunkan sebanyak 143 mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) periode 3 tahun 2023 untuk membantu pemerintah DIY dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan stunting.

Penerjunan KKN berlangsung Senin (16/10) di Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM. Mahasiswa KKN UGM ini dilepas secara langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito.

Para mahasiswa akan mengikuti KKN PPM selama 50 hari, dari 16 Oktober hingga 4 Desember 2023. Mereka disebar ke dalam enam unit KKN di lima kecamatan di DIY yakni Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman, Kecamatan Pengasih dan Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo, Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta, serta Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan harapan para mahasiswa KKN nantinya dapat menjalankan KKN dengan penuh semangat. Melalui kegiatan KKN diharapkan mahasiswa bisa belajar untuk beradaptasi, bekerja sama dengan teman dan memahami kehidupan di masyarakat.

“KKN ini sebagai arena bagi kalian untuk belajar bersama sehingga wajib untuk menjaga soliditas dan saling memahami antar teman. Harus tangguh,” tuturnya.

Dalam kegiatan KKN kali ini, diikuti 143 mahasiswa yang berasal dari 12 Fakultas dan 1 Sekolah Vokasi. Karenanya para mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan yang berbeda-beda ini diharapkan Arie bisa saling belajar dan menghargai.

“Kalian berasal dari latar belakang keilmuan yang beragam nantinya bisa saling belajar dan menghormati serta menonjolkan sikap dan perilaku positif,”ucapnya.

Direktur Pengabdian Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., menambahkah selama di lokasi KKN mahasiswa diminta untuk dapat menjaga dan menjunjung alamamter UGM. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan dedikasi dan prestasi kerja yang tinggi.

“Keberhasilan KKN-PPM UGM merupakan salah satu kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar UGM,” ucapnya.

 

Penulis: Ika

Foto: Firsto

Artikel UGM Kirim Mahasiswa KKN Bantu Entaskan Kemiskinan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kirim-mahasiswa-kkn-bantu-entaskan-kemiskinan-di-diy/feed/ 0