SDG 14: Ekosistem Lautan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sdg-14-ekosistem-lautan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 06 Feb 2025 07:30:11 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Peneliti UGM Berhasil Kembangkan Imunostimulan Ikan dan Udang dari Rumput Laut Cokelat https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-berhasil-kembangkan-imunostimulan-ikan-dan-udang-dari-rumput-laut-cokelat/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-berhasil-kembangkan-imunostimulan-ikan-dan-udang-dari-rumput-laut-cokelat/#respond Thu, 06 Feb 2025 07:25:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75609 Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., berhasil memperoleh penghargaan dari The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award 2025. Penghargaan ini diberikan kepada 14 peneliti dari 26 perguruan tinggi di Asia Tenggara. Alim menerima penghargaan ini bersama dua dosen UGM lain, yaitu Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D. dari Fakultas […]

Artikel Peneliti UGM Berhasil Kembangkan Imunostimulan Ikan dan Udang dari Rumput Laut Cokelat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., berhasil memperoleh penghargaan dari The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award 2025. Penghargaan ini diberikan kepada 14 peneliti dari 26 perguruan tinggi di Asia Tenggara. Alim menerima penghargaan ini bersama dua dosen UGM lain, yaitu Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Pertanian dan Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Gigi.

Alim meraih penghargaan kategori Best Innovation Award dengan inovasinya mengenai proses nir limbah dalam pemanfaatan rumput laut cokelat untuk penanggulangan penyakit ikan atau udang dan produksi pupuk hayati. “Inovasi ini terinspirasi dari kekayaan laut Indonesia yang masih belum banyak digarap oleh peneliti maupun industri,” kata Alim kepada wartawan, Kamis (6/2).

Menurut Alim, rumput laut cokelat atau Phaeophyceae, memiliki kandungan alginat yang tinggi. Selain itu, rumput laut cokelat juga mengandung fucoidan. “Alginat dapat diterapkan di bidang medis, industri, pangan, pakan dan perikanan,” ujarnya.

Penelitiannya, kata Alim, berkutat pada pemanfaatan kandungan senyawa alginat dan fucoidan yang terdapat pada rumput laut cokelat untuk bidang akuakultur. Sebagai dosen Departemen Perikanan Fakultas Pertanian, Alim menggunakan senyawa alginat untuk meningkatkan kekebalan ikan dan udang. Sementara senyawa fucoidan digunakan untuk meningkatkan efektivitas vaksin ikan. “Penelitian ini menghasilkan beberapa formulasi imunostimulan yang berbasis pada alginat dan fucoidan,” paparnya.

Alim berharap hasil penelitian ini dapat diaplikasikan di masyarakat, baik oleh industri maupun pembudidaya ikan. Pasalnya, industri farmasi veteriner dapat memproduksi vaksin ikan dengan tambahan adjuvant yaitu fucoidan dan immunostimulan. “Vaksin ini telah didistribusikan ke petani ikan laut untuk meningkatkan sistem kekebalan ikan.  Kita juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan untuk mengkomersialisasikan produk-produk tersebut,” terangnya.

Ke depannya, Alim berharap penelitian ini dapat dilanjutkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan sempurna. Salah satu upayanya adalah dengan meng-upgrade teknologi yang digunakan untuk membuat vaksin dan immunostimulan. Alim mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mulai membuat nanopartikel berupa nanoalginat dan nanofucoidan. Dengan membuat partikel-partikel nano, efektivitas produk hasil formulasi diharapkan akan meningkat. “Kita ingin meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi perikanan sebagai sumber protein untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat,” tutur Alim.

Penelitian yang memanfaatkan rumput laut cokelat ini, diakui Alim, berbasis pada konsep zero waste process. Alim mengaku bersyukur mendapatkan penghargaan terkait risetnya dalam pemanfaatan rumput laut cokelat.  Selain mendapat penghargaan dari Hitachi Award, sebelumnya Alim juga mendapatkan penghargaan sebagai Academic Leader Bidang Kemaritiman dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 2023. “Saya bangga sebagai insan UGM, karena penghargaan ini juga menunjukkan reputasi UGM yang diakui secara nasional dan internasional” ujarnya.

Penulis  : Tiefany

Editor    :   Gusti Grehenson

Foto      : Firsto & Antara

Artikel Peneliti UGM Berhasil Kembangkan Imunostimulan Ikan dan Udang dari Rumput Laut Cokelat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-berhasil-kembangkan-imunostimulan-ikan-dan-udang-dari-rumput-laut-cokelat/feed/ 0
UGM Siap Dorong Partisipasi Indonesia Pada Traktat Antartika https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siap-dorong-partisipasi-indonesia-pada-traktat-antartika/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siap-dorong-partisipasi-indonesia-pada-traktat-antartika/#respond Tue, 04 Feb 2025 08:05:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75418 Universitas Gadjah Mada terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong partisipasi aktif Indonesia di kancah global melalui pencapaian dua alumninya, Gerry Utama dan Nugroho Imam Setiawan, yang berhasil menjelajah Antartika untuk melakukan misi penelitian internasional. Ditemui usai melakukan audiensi dengan kedua peneliti, Senin (3/2), Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D mengapresiasi capaian prestasi keduanya. […]

Artikel UGM Siap Dorong Partisipasi Indonesia Pada Traktat Antartika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong partisipasi aktif Indonesia di kancah global melalui pencapaian dua alumninya, Gerry Utama dan Nugroho Imam Setiawan, yang berhasil menjelajah Antartika untuk melakukan misi penelitian internasional. Ditemui usai melakukan audiensi dengan kedua peneliti, Senin (3/2), Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D mengapresiasi capaian prestasi keduanya. Ia meyakini sepak terjang Nugroho dan Gerry akan menjadi motivasi bagi ilmuwan lain di Indonesia. Ova mengungkapkan keberhasilan kedua peneliti tersebut membuktikan bahwa Indonesia, khususnya UGM, memiliki kapasitas sumber daya manusia yang sama dengan negara-negara maju lainnya. Ova berjanji akan mendorong keterlibatan UGM dalam penelitian lanjutan maupun kebijakan-kebijakan terkait Antartika. “Penelitian kan, selalu bersifat dinamis ya. Saya kira akan ada kebutuhan, mungkin laboratorium atau Pusat Studi terkait Antartika yang bisa kita kembangkan karena ada potensi besar di bidang itu. Kalau bisa memberikan kontribusi yang berdampak positif untuk bangsa dan dunia, UGM akan dukung,” ujar Ova.

Terkait penandatanganan Sistem Traktat Antartika (Antarctic Treaty System) yang sudah dilakukan oleh 58 negara, Ova mengakui masih banyak perihal yang harus dikoordinasikan dengan pejabat pemerintahan Indonesia. Perjanjian Antartika menjadi salah satu instrumen penting bagi suatu negara untuk terlibat secara aktif dan berpartisipasi dalam eksplorasi Antartika secara masif. Meskipun Indonesia belum sama sekali menyatakan kesiapan untuk turut menadatangani Traktat Antartika, Ova menyatakan UGM selalu siap untuk mengawal proses tersebut. “Kami harus berbicara secara langsung dengan pemerintah, akan kami sampaikan good point-nya, lalu apa yang sudah UGM lakukan, selanjutnya apa yang perlu dipersiapkan,” jelas Rektor.

Ova menjelaskan komitmen UGM terhadap Traktat Antartika merupakan bagian dari upaya universitas untuk terus berkontribusi dalam penelitian global yang berdampak langsung pada keberlanjutan lingkungan dan perubahan iklim. Dengan memberikan dukungan pada partisipasi mahasiswa dan peneliti Indonesia dalam ekspedisi ilmiah internasional, UGM berperan penting dalam memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan wilayah Antartika. “Kami ingin mengenalkan pentingnya Antartika sebagai kawasan yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh komunitas internasional,” tutupnya.

Gerry Utama, alumnus Fakultas Geografi UGM, menjadi orang Indonesia dan ASEAN pertama yang berpartisipasi dalam Russian Antarctica Expedition (RAE) pada Februari hingga Juli 2024 silam saat dirinya menempuh program Magister Paleogeografi di Saint Petersburg State University, Rusia. Selama ekspedisi tersebut, Gerry melakukan penelitian geomorfologi dan paleogeografi untuk merekonstruksi atlas baru wilayah Pulau King George, Rusia. Penelitian Gerry menjadi sangat penting dalam konteks perubahan iklim global yang tengah menjadi perhatian dunia saat ini. “Selain fosil kayu, saya juga memetakan keberadaan lumut dengan variasi warna. Ini menjadi indikator penting dalam memahami dinamika iklim global di Antartika dan juga dunia,” tegasnya.

Gerry (31) yang menjadi peneliti termuda di sepanjang sejarah misi Indonesia ke Antartika, menceritakan tiga hari setelah kapal landas, ia dan timnya menemukan iceberg dengan ukuran yang sangat besar. Jika direkonstruksi ulang, pelepasan iceberg yang lebih besar dari lapisan es juga mengindikasikan terjadinya pencairan es yang lebih cepat, yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan meningkatkan ancaman terhadap habitat pesisir manusia. “Indonesia seharusnya lebih aware dengan fenomena ini karena posisi kita sebagian besar lautan. Jadi agar bisa terlibat secara aktif dalam eksplorasi Antartika, penandatanganan Traktat Antartika harus segera diupayakan,” imbuhnya.

Dr. Nugroho Imam Setiawan (43), dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik, yang juga turut berpartisipasi dalam Japan Antarctic Research Expedition (JARE) pada 2016–2017 lalu ini, mengungkapkan selama ekspedisi tersebut, ia melakukan penelitian tentang evolusi benua Antartika dari studi petrologi batuan methanol berumur 2,5 miliar – 500 juta tahun. Dari misi Antartika, Nugroho berhasil merilis tujuh jurnal internasional yang tentunya bermanfaat bagi pengembangan studi geologi secara global. Tidak lupa, Nugroho juga membawa pulang sampel batuan dengan struktur sarang lebah atau honeycomb structure yang banyak ia temukan di Antartika yang sudah ia hibahkan ke Museum Biologi UGM dan Museum Geologi Bandung.

Geolog Indonesia pertama yang melakukan penelitian di Benua Antartika ini menjelaskan Antartika merupakan terra incognita atau daratan yang minim diketahui oleh manusia sehingga penelitian-penelitian yang dilakukan pasti akan memberikan informasi yang cukup penting terutama pada studi kebumian. Sejalan dengan Gerry, Nugroho berharap agar pemerintah Indonesia data lebih peduli dengan fenomena alam yang terjadi di Antartika. “Kita harus ingat bahwa Indonesia dan Antartika itu sebenarnya tidak terpisah, kita share satu summit ground yang sama. Jadi saya pikir cukup penting bagi Indonesia untuk segera terlibat dalam isu strategis seperti geopolitik dan perubahan iklim untuk menyiapkan kemungkinan yang terjadi di masa depan,” tegasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM Siap Dorong Partisipasi Indonesia Pada Traktat Antartika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-siap-dorong-partisipasi-indonesia-pada-traktat-antartika/feed/ 0
Soal Polemik Pagar Laut, Pakar UGM Sebut Perairan Kepulauan Tidak Boleh Dimiliki Individu atau Perusahaan https://ugm.ac.id/id/berita/soal-polemik-pagar-laut-pakar-ugm-sebut-perairan-kepulauan-tidak-boleh-dimiliki-individu-atau-perusahaan/ https://ugm.ac.id/id/berita/soal-polemik-pagar-laut-pakar-ugm-sebut-perairan-kepulauan-tidak-boleh-dimiliki-individu-atau-perusahaan/#respond Fri, 31 Jan 2025 08:53:38 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75273 Pakar Geospasial Departemen Geodesi Fakultas Teknik UGM, Dr. I Made Andi Arsana menanggapi polemik Pagar Laut di pantai utara Tangerang. Andi menyampaikan berdasarkan aturan internasional atau UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) pantai di utara Tangerang merupakan perairan kepulauan sehingga kedaulatannya tidak bisa dimiliki oleh individu atau perusahaan. Memang pernah ada […]

Artikel Soal Polemik Pagar Laut, Pakar UGM Sebut Perairan Kepulauan Tidak Boleh Dimiliki Individu atau Perusahaan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pakar Geospasial Departemen Geodesi Fakultas Teknik UGM, Dr. I Made Andi Arsana menanggapi polemik Pagar Laut di pantai utara Tangerang. Andi menyampaikan berdasarkan aturan internasional atau UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) pantai di utara Tangerang merupakan perairan kepulauan sehingga kedaulatannya tidak bisa dimiliki oleh individu atau perusahaan. Memang pernah ada Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) yang mengatur penguasaan ruang laut berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, namun HP3 tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena tidak memenuhi aturan keadilan.

Hal tersebut disampaikan Andi di kegiatan Sekolah Wartawan, Kamis (30/1), bertema ‘Memetakan Sengkarut Pagar Laut’ yang digelar oleh Forum Wartawan Kampus Universitas Gadjah Mada (Fortakgama) di kampus UGM. “Pemahaman terhadap kebijakan pengelolaan ruang sangat jelas tidak tampak karena pemagaran tidak sesuai dengan tata ruang dan zonasi pesisir dan laut Provinsi Banten,” tutur Andi.

Andi pun turut menyanggah klaim sejumlah pihak yang menyebut jika pagar laut di Tangerang merupakan tanah tenggelam sebelumnya. Paham soal kehadiran pagar laut untuk pengendali abrasi juga dirasa kurang tepat karena Andi beserta timnya telah melakukan kajian dengan menggunakan data berupa arsip citra satelit yang menunjukkan area tersebut sejak dulu memang bagian dari perairan. Data citra menunjukkan, sejak tahun 1976 garis pantai masih berjarak ratusan meter dari lokasi pagar laut yang sekarang. Hal serupa juga masih terlihat hingga tahun 1982, meskipun terdapat sejumlah klaim sertifikat tanah tetapi citra satelit menunjukkan area tersebut tidak pernah menjadi daratan. “Jadi sebetulnya pada kasus ini ada indikasi usaha konversi laut menjadi daratan dengan berbagai cara,” ungkap Andi.

Andi beserta tim selanjutnya menelusuri kepastian kapan munculnya pagar laut untuk pertama kalinya dari citra satelit. Berdasarkan data Sentinel 2, pembangunan diperkirakan terjadi sejak Mei 2024 karena di bulan Juni telah terbangun pagar laut sepanjang 6 kilometer, yang terus bertambah hingga 6-7 kilometer di bulan Juli 2024. Hal ini terus berlanjut hingga November dengan penambahan panjang pagar laut secara bertahap. “Berdasarkan hukum internasional, seharusnya di perairan itu tidak boleh ada hak milik (SHM) ataupun hak guna bangunan (HGB) karena privatisasi laut akan berdampak bagi masyarakat nelayan yang memanfaatkan laut sebagai ruang hidupnya,” ujarnya.

Pemberian hak atas tanah pesisir di Tangerang menjadi persoalan akibat kesalahan yang terjadi sejak awal pengajuan sertifikat. Andi juga menjelaskan pihak-pihak yang mungkin terlibat dalam polemik ini, mulai dari individu dan badan hukum sebagai pemohon, Dinas Tata Ruang atau Pemerintah Daerah, petugas ukur Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan surveyor swasta, serta Kementerian atau lembaga terkait. “Yang perlu diingat adalah individu atau badan hukum seharusnya tidak boleh mengubah zona laut menjadi area reklamasi tanpa izin,” pungkasnya.

Penulis : Triya Andriyani

Foto     : Firsto

Artikel Soal Polemik Pagar Laut, Pakar UGM Sebut Perairan Kepulauan Tidak Boleh Dimiliki Individu atau Perusahaan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/soal-polemik-pagar-laut-pakar-ugm-sebut-perairan-kepulauan-tidak-boleh-dimiliki-individu-atau-perusahaan/feed/ 0
Aksi Nyata Atasi Perubahan Iklim, Mahasiswa KKN UGM Tanam Mangrove di Buton Tengah https://ugm.ac.id/id/berita/aksi-nyata-atasi-perubahan-iklim-mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah/ https://ugm.ac.id/id/berita/aksi-nyata-atasi-perubahan-iklim-mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah/#respond Thu, 30 Jan 2025 07:52:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75215 Bekerjasama dengan tim KKN Universitas Muhammadiyah Buton (UMB), Sulawesi Tenggara, Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan program kerja membangun ketahanan lingkungan di wilayah pesisir di Desa Terapung, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, dengan menanam mangrove dengan melibatkan masyarakat setempat, Minggu (26/1). Penanaman mangrove dalam rangka ikut berpartisipasi dalam mengatasi dampak perubahan iklim ini, dihadiri Arman selaku […]

Artikel Aksi Nyata Atasi Perubahan Iklim, Mahasiswa KKN UGM Tanam Mangrove di Buton Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Bekerjasama dengan tim KKN Universitas Muhammadiyah Buton (UMB), Sulawesi Tenggara, Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan program kerja membangun ketahanan lingkungan di wilayah pesisir di Desa Terapung, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, dengan menanam mangrove dengan melibatkan masyarakat setempat, Minggu (26/1). Penanaman mangrove dalam rangka ikut berpartisipasi dalam mengatasi dampak perubahan iklim ini, dihadiri Arman selaku tokoh lokal Desa Terapung yang dikenal sebagai peneliti dan ahli botani. Kehadirannya sungguh diharapkan mahasiswa dan masyarakat karena akan memberikan dukungan secara langsung, sekaligus memberikan arahan teknis. “Tentu saja kehadiran beliau untuk memberikan panduan bagi kami dalam proses penanaman mangrove agar lebih efektif dan berkelanjutan”, ujar Fauzan Aldi, salah satu anggota tim KKN-PPM UGM dari klaster Agrokompleks.

Fauzan Aldi menjelaskan hasil observasi tim Agrokompleks KKN-PPM UGM menunjukkan kondisi mangrove di pesisir Desa Terapung menghadapi tantangan serius dan berpotensi mengalami degradasi lingkungan. Meski, sebelumnya telah dilakukan penanaman mangrove oleh berbagai pihak tetapi tidak bertahan hidup. “Banyak tanaman tidak bertahan karena metode yang kurang tepat, seperti polybag yang tertinggal di dalam tanaman. Hal ini tentu mengakibatkan banyak tanaman mangrove gagal tumbuh dan mengalami kerusakan”, terangnya.

Untuk kegiatan kali ini, tim mahasiswa KKN-PPM UGM melakukan penggantian tanaman mangrove yang rusak dan penambahan bibit baru dengan pendekatan yang lebih terencana. Tidak hanya untuk memulihkan ekosistem pesisir, penanaman mangrove diharapkan dapat juga melindungi dari ancaman abrasi.

Kegiatan inipun diharapkan meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan warga, khususnya generasi muda. Anak-anak Desa Terapung yang turut terlibat kegiatan penanaman mangrove  mendapatkan edukasi langsung mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir untuk masa depan.”Kami memastikan semua bibit ditanam tanpa polybag, dan area tanam disesuaikan dengan karakteristik lingkungan pesisir setempat,” ucap Fauzan Aldi.

Arman mengapresiasi langkah mahasiswa KKN-PPM UGM. Ia sekaligus berterima kasih kepada tim KKN Universitas Muhammadiyah Buton yang turut bersama dalam kegiatan ini. “Kegiatan ini akan menjadi prasasti. Lima hingga sepuluh tahun ke depan, mangrove yang ditanam hari ini akan menjadi rumah bagi berbagai biota laut di Desa Terapung,” ujar Arman.

Dengan penuh optimisme, Arman berharap kegiatan penanaman mangrove menjadi langkah awal dalam membangun sistem ketahanan lingkungan berbasis komunitas di Desa Terapung. Diharapkan pula cara ini menjadi model untuk diterapkan di wilayah pesisir lainnya.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Tim KKN-PPM UGM Buton

Artikel Aksi Nyata Atasi Perubahan Iklim, Mahasiswa KKN UGM Tanam Mangrove di Buton Tengah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/aksi-nyata-atasi-perubahan-iklim-mahasiswa-kkn-ugm-tanam-mangrove-di-buton-tengah/feed/ 0
UGM dan WSU Gelar International Summer Course Soal Biodiversitas di Gunungkidul dan Tarakan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-wsu-gelar-international-summer-course-soal-biodiversitas-di-gunungkidul-dan-tarakan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-wsu-gelar-international-summer-course-soal-biodiversitas-di-gunungkidul-dan-tarakan/#respond Thu, 30 Jan 2025 02:21:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75207 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Western Sydney University (WSU) resmi membuka International Summer Course (ISC) bertempat di Auditorium Biologi Tropika, Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi, yaitu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada 21-23 Januari 2025 dan dilanjutkan di Tarakan, Kalimantan Utara pada 24 Januari – 8 Februari 2025. Acara […]

Artikel UGM dan WSU Gelar International Summer Course Soal Biodiversitas di Gunungkidul dan Tarakan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Western Sydney University (WSU) resmi membuka International Summer Course (ISC) bertempat di Auditorium Biologi Tropika, Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini berlangsung di dua lokasi, yaitu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada 21-23 Januari 2025 dan dilanjutkan di Tarakan, Kalimantan Utara pada 24 Januari – 8 Februari 2025.

Acara pembukaan ISC ini dihadiri oleh 16 mahasiswa WSU, 6 mahasiswa UGM, 3 dosen WSU, dan beberapa dosen Biologi UGM. Pembukaan diawali dengan laporan dari Dr. Eko Agus Suyono, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Biologi UGM, yang juga bertindak sebagai Ketua Penyelenggara International Summer Course. “Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara UGM dan WSU yang telah terjalin selama beberapa tahun terakhir,” kata Eko, Kamis (30/1).

Prof. John Charles Hunt, selaku perwakilan dari WSU, berharap agar kegiatan ini dapat berlanjut dan memperluas kolaborasi dalam bidang riset dan akademik di masa depan. Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. Dr. Puji Astuti, selaku Direktur Kemitraan dan Relasi Global UGM, menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama ini, dan menyebutkan bahwa ISC ini adalah yang kedua di bulan Januari 2025 setelah kolaborasi dengan Monash University dengan Sekolah Vokasi UGM. “saya kira fokus dari summer course yang mengangkat isu biodiversitas dan keberlanjutan lingkungan serta peran UGM dalam mendukung konservasi di Kalimantan dan Papua,” katanya.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, menuturkan Yogyakarta merupakan tempat yang istimewa dengan kekayaan budaya dan alamnya, dan berharap para peserta ISC dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai aspek selama kegiatan di Yogyakarta.

Para peserta kursus musim panas ini melakukan kunjungan ke Museum Biologi UGM, yang dipandu oleh Donan Satria, M.Sc., Dosen Sistematika Hewan Fakultas Biologi. Para peserta sangat antusias menyimak penjelasan mengenai sejarah, peran, dan berbagai koleksi yang ada di museum ini.

Selanjutnya, para peserta melakukan aktivitas lapangan di Marine Riset Station Fakultas Biologi di Pantai Porok, Gunung Kidul. Kegiatan ini meliputi sampling intertidal dan pengamatan keanekaragaman hayati di pantai tersebut. Eksplorasi tersebut dipandu oleh Dr. Rury Eprilurahman yang berfokus pada hewan dan Dr.Eng. Thoriq Teja Samudra terkait Makroalga. Martin Holland, Koordinator International Summer Course dari WSU, menyampaikan bahwa field trip ini menjadi pemanasan sebelum agenda utama summer course di Tarakan, Kalimantan.

Melalui ISC ini, kata Budi daryono, kolaborasi antara WSU dan Fakultas Biologi UGM dapat semakin erat, membuka peluang untuk kerjasama lebih lanjut dalam bidang akademik dan riset, serta berkontribusi dalam pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan. “Melalui semangat kolaborasi ini, diharapkan kegiatan-kegiatan serupa dapat berlanjut dan mempererat hubungan antara UGM dan WSU, serta mendukung upaya konservasi dan pelestarian alam di Indonesia dan global,” pungkasnya.

Reportase :  Ichsan Risalba/Fak.Biologi

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Artikel UGM dan WSU Gelar International Summer Course Soal Biodiversitas di Gunungkidul dan Tarakan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-wsu-gelar-international-summer-course-soal-biodiversitas-di-gunungkidul-dan-tarakan/feed/ 0
Kasus Pagar Laut Bersertifikat HGB, Pakar Agraria UGM Nilai Ada Ketidaksinkronan Regulasi dan Kepatuhan Hukum https://ugm.ac.id/id/berita/kasus-pagar-laut-bersertifikat-hgb-pakar-agraria-ugm-nilai-ada-ketidaksinkronan-regulasi-dan-kepatuhan-hukum/ https://ugm.ac.id/id/berita/kasus-pagar-laut-bersertifikat-hgb-pakar-agraria-ugm-nilai-ada-ketidaksinkronan-regulasi-dan-kepatuhan-hukum/#respond Fri, 24 Jan 2025 09:20:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75162 Kasus pemasangan pagar laut yang disertai penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) di perairan Kabupaten Tangerang memicu perhatian publik. Pakar hukum agraria Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rikardo Simarmata menilai kasus ini sebagai cerminan ketidaksinkronan regulasi antara hukum pertanahan dan perairan. Menurutnya, anggapan bahwa pemberian hak atas tanah di perairan tidak diperbolehkan adalah keliru. Regulasi […]

Artikel Kasus Pagar Laut Bersertifikat HGB, Pakar Agraria UGM Nilai Ada Ketidaksinkronan Regulasi dan Kepatuhan Hukum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kasus pemasangan pagar laut yang disertai penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) di perairan Kabupaten Tangerang memicu perhatian publik. Pakar hukum agraria Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rikardo Simarmata menilai kasus ini sebagai cerminan ketidaksinkronan regulasi antara hukum pertanahan dan perairan.

Menurutnya, anggapan bahwa pemberian hak atas tanah di perairan tidak diperbolehkan adalah keliru. Regulasi pertanahan mengizinkan pemberian hak atas tanah di perairan sepanjang ada penggunaan tanah di bawah air untuk aktivitas seperti pembangunan pelabuhan, hotel, atau fasilitas lainnya. “Namun, regulasi di sektor kelautan belum secara jelas melarang atau mengizinkannya dan kemunculan pagar laut ini masih misterius untuk apa,” ungkap Rikardo, Jumat (24/1).

Ia menambahkan, kasus pagar laut ini perlu ditelaah lebih jauh dari sisi legalitas, terutama terkait izin Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL). Jika pagar tersebut dipasang tanpa KKPRL, maka tindakan tersebut ilegal. Sebaliknya, apabila ada KKPRL, maka hal itu sah secara hukum. “Yang menjadi perhatian adalah bagaimana izin tersebut diperoleh, apakah melalui prosedur yang benar dan apakah dampaknya terhadap akses nelayan telah diperhitungkan,” jelasnya.

Selain legalitas, luas area pagar yang mencapai 30,6 kilometer juga menjadi sorotan. Pemancangan batas di laut sebenarnya bukan hal baru seperti pada budidaya rumput laut atau alat tangkap nelayan. Polemik ini menjadi semakin kompleks setelah adanya laporan dari nelayan mengenai berkurangnya hasil tangkapan dan kerusakan alat tangkap akibat serpihan bambu dari pagar tersebut. Langkah pencabutan pagar pun telah dilakukan oleh pihak berwenang.

Rikardo mengingatkan pentingnya menyimpan sebagian pagar sebagai barang bukti untuk proses hukum selanjutnya apabila kasus ini dibawa ke ranah pidana. Rikardo bahkan menekankan penyelesaian kasus ini harus berfokus pada aspek hukum. “Pemahaman yang benar mengenai aturan sangat penting. Jangan sampai kasus ini justru ditarik ke ranah politik. Mari kita sikapi dengan mematuhi regulasi yang ada, baik dari segi pertanahan, tata ruang, maupun perlindungan nelayan,” tuturnya.

Penulis : Bolivia

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Antara

Artikel Kasus Pagar Laut Bersertifikat HGB, Pakar Agraria UGM Nilai Ada Ketidaksinkronan Regulasi dan Kepatuhan Hukum pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kasus-pagar-laut-bersertifikat-hgb-pakar-agraria-ugm-nilai-ada-ketidaksinkronan-regulasi-dan-kepatuhan-hukum/feed/ 0
Konsisten Riset Planet Berkelanjutan, Fakultas Geografi UGM Raih Peringkat 1 di Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/konsisten-riset-planet-berkelanjutan-fakultas-geografi-raih-peringkat-1-di-indonesia-versi-edurank/ https://ugm.ac.id/id/berita/konsisten-riset-planet-berkelanjutan-fakultas-geografi-raih-peringkat-1-di-indonesia-versi-edurank/#respond Thu, 23 Jan 2025 03:11:03 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75064 Dedikasi Fakultas Geografi UGM dalam melaksanakan riset yang yang berkaitan dengan isu-isu terkini soal planet berkelanjutan dan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk masyarakat global ternyata berhasil mengantarkan Fakultas ini meraih peringkat 1 di Indonesia versi EduRank tahun 2024. Dari hasil pemeringkatan tersebut, untuk bidang geografi dan Kartografi, Fakultas Geografi UGM berada di peringkat 1, disusul IPB […]

Artikel Konsisten Riset Planet Berkelanjutan, Fakultas Geografi UGM Raih Peringkat 1 di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dedikasi Fakultas Geografi UGM dalam melaksanakan riset yang yang berkaitan dengan isu-isu terkini soal planet berkelanjutan dan tujuan pembangunan berkelanjutan untuk masyarakat global ternyata berhasil mengantarkan Fakultas ini meraih peringkat 1 di Indonesia versi EduRank tahun 2024.

Dari hasil pemeringkatan tersebut, untuk bidang geografi dan Kartografi, Fakultas Geografi UGM berada di peringkat 1, disusul IPB dan UI di peringkat 2 dan 3. Selanjutnya untuk peringkat 4 hingga 10, yakni ITB, Undip, Universitas Brawijaya, ITS, Universitas Syiah Kuala, Universitas Padjajaran dan Universitas Sebelas Maret.

Menanggapi hasil capaian tersebut, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc selaku Dekan  Fakultas Geografi UGM mengungkapkan rasa syukur, senang dan bangganya. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa Fakultas Geografi telah melakukan perbaikan secara berkelanjutan  di banyak aspek. Namun pencapaian tersebut merupakan usaha kolektif dari seluruh kolega dari dosen, tendik, mahasiswa, alumni, dan juga mitra. “Kami sangat bersyukur menjadi institusi yang sudah menjadi referensi di tingkat nasional,” ujarnya, Kamis (23/1).

Selain itu, kata Danang, Fakultas Geografi pun terus mendorong para dosennya untuk melakukan research collaboration untuk meningkatkan produktivitas dan juga kualitas research. Danang menekankan bahwa penting untuk membangun research environment yang baik untuk mencapai hal tersebut.

Ia pun menambahkan bawa capaian ini, tak dianggapnya sebagai tujuan hasil akhir, melainkan bonus buah hasil dari proses panjang tridarma yang sudah dilakukan oleh Fakultas Geografi kepada masyarakat dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik pemerintah pusat, daerah, industri, maupun mitra-mitra internasional.

Ada pun fokus penelitian yang Fakultas Geografi yang telah dilakukan saat ini berfokus pada isu-isu global yang berdampak besar bagi banyak orang, dan berfokus pada sustainable planet, dengan isu-isu seperti iklim, kebencanaan, degradasi lahan, migrasi, bonus demografi, aging population, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, smart and sustainable city, village and regional, regional development, dan yang tengah marak saat ini adalah tentang artificial intelligence (AI). Danang menjelaskan, bahwa AI digunakan untuk penggunaan membantu penelitian Fakultas Geografi dengan teknologi remote sensing advance GIS (Geographic Information Systems).

Riset-riset kemudian dibagi beberapa kelompok penelitian yang disesuaikan dengan interest para dosen, serta Fakultas Geografi gunakan juga digunakan untuk memperkaya bahan ajar yang ada di perkuliahan dengan memasukkan banyak use case terkait isu-isu terakhir tersebut. Danang menjelaskan bahwa hal ini dilakukan untuk peningkatan keterkaitan bahan ajar dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, kurikulum itu harus dinamis dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini.

“Bahan ajar akan selalu valid, selalu up to date yang relevan ketika kita banyak memasukkan banyak use case dengan isu-isu terkini. Jadi konsep yang dikembangkan kelas divalidasi dengan data research yang dilakukan oleh dosen,” jelasnya

Adanya capian ini, Danang terus berupaya agar Fakultas Geografi dapat terus meningkatkan kualitasnya dari apa yang sudah tercapai saat ini dengan melaksanakan international research network (IRN) untuk memperdalam relasi dengan mitra-mitra terkait baik secara nasional maupun internasional. Selain itu, ia pun menekankan pentingnya memperbaiki riset yang sudah dilakukan serta publikasi-publikasi yang sudah ada. Menurutnya, reputasi sebuah lembaga tinggi ditentukan oleh bagaimana besar dampak dari penelitian yang dilakukan. “Kami terus memperbaiki kualitas riset, sehingga impact-nya besar ke masyarakat dan industri,” ucapnya.

Tak hanya itu, ia pun menyinggung bahwa capaian ini juga merupakan hasil dari peran para alumni yang terus terikat dengan Fakultas Geografi, bahkan menurutnya hal ini merupakan kekuatan besar yang mereka miliki. Melalui alumni, Fakultas Geografi bekerja sama dengan tempat mereka bernaung, serta hal ini pun membuka kesempatan lebar untuk mendukung para mahasiswa yang ingin melaksanakan magang di sana.

Fakultas Geografi pun terus mendukung dan mendorong para alumni mereka untuk melanjutkan studi baik di dalam negeri maupun luar negeri, melalui pemberian rekomendasi untuk pengajuan beasiswa-beasiswa dari berbagai pihak.

Selanjutnya, ia pun berharap bahwa publik dapat memberikan masukkan kepada Fakultas Geografi agar dapat terus berkembang jadi lebih baik dari sebelumnya. Serta Fakultas Geografi dapat lebih berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat sesuai dengan kompetensi fakultas. “Kami ingin membangun kerja sama seluas-luasnya dengan mitra-mitra kita yang berada di luar institusi,” ujarnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Konsisten Riset Planet Berkelanjutan, Fakultas Geografi UGM Raih Peringkat 1 di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/konsisten-riset-planet-berkelanjutan-fakultas-geografi-raih-peringkat-1-di-indonesia-versi-edurank/feed/ 0
Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/ https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/#respond Fri, 03 Jan 2025 09:43:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74345 Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar dengan luas perairan sebesar 6,4 juta km2, garis pantai sepanjang 108.000 km, dan memiliki 17.504 pulau. Sektor perikanan telah menyumbang sebanyak 27 miliar USD terhadap GDP pada tahun 2019, menciptakan 7 juta lapangan pekerjaan, dan memberikan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani. Menurut Dekan […]

Artikel Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar dengan luas perairan sebesar 6,4 juta km2, garis pantai sepanjang 108.000 km, dan memiliki 17.504 pulau. Sektor perikanan telah menyumbang sebanyak 27 miliar USD terhadap GDP pada tahun 2019, menciptakan 7 juta lapangan pekerjaan, dan memberikan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani.

Menurut Dekan Fakultas Perikanan UGM, Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D dengan potensi yang sangat besar tersebut, Indonesia tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang andal untuk mengelola sektor perikanan agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. “Diperlukan lulusan-lulusan perikanan yang siap memajukan sektor perikanan Indonesia,” kata Jaka Widada dalam konferensi daerah sekaligus pengukuhan pengurus ISPIKANI DPD Yogyakartad di Auditorium Harjono Danoesastro Fakultas Pertanian UGM, Minggu (22/12).

Menurut Jaka, Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) merupakan organisasi profesi di bidang perikanan yang didirikan pada tanggal 12 Mei 1984. Sebagai forum silaturahmi antar sarjana perikanan sehingga mampu memberikan kontribusi pemikiran terhadap kemajuan pembangunan perikanan di Indonesia dan mampu menggalang potensi segenap sarjana perikanan guna menjadi penggerak pengembangan perikanan. Ia pun berharap ISPIKANI hadir sebagai solusi serta mengedepankan profesionalitas bersama pemerintah dan stakeholder perikanan lainnya untuk memajukan sektor perikanan. “Karenanya yang penting adalah sinergi. Sinergi adalah satu kebutuhan utama, karena tidak bisa lagi melakukan sesuatu bersifat reductionis, sinergi berbagai profesi perikanan sangat diperlukan”, ungkapnya.

Dalam konferensi daerah dan pengukuhan pengurus ISPIKANI DPD Yogyakarta ini dihadiri 100 sarjana perikanan yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta yang hadir berasal dari berbagai macam profesi seperti pendidik, peneliti, birokrasi, pengusaha, maupun pemerhati perikanan. Sulhan Anwar, S.Pi., MM selaku inisiator pembentukan ISPIKANI DPD Yogyakarta menyampaikan konferensi menjadi sarana untuk memperkuat visi misi para sarjana perikanan. ISPIKANI diharapkan menjadi rumah bagi sarjana perikanan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. “Saya sangat berharap seluruh anggota untuk terus bersinergi dan mendukung program kerja ISPIKANI”, terangnya.

Sementara itu, Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., selaku Ketua Umum DPP ISPIKANI menyambut baik penyelenggaraan konferensi daerah dan pengukuhan DPD ISPIKANI DIY. Ia menekankan terkait tantangan yang dihadapan pemerintahan saat ini bukanlah perang senjata namun perang dalam ketahanan pangan. Kepada seluruh pengurus dan anggota DPD ISPIKANI DIY, Agus mengharapkan ISPIKANI mampu melakukan berbagai terobosan dan membuat program-program yang dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait menjadi satu kesatuan, yang kemudian memicu penguasaan pangan di Indonesia. “Di tahun 2025, kita merencanakan akan mengadakan RAKORNAS dengan agenda menyusun strategi yang lebih cepat dan tepat untuk mengatasi permasalahan sektor perikanan”, kayanya.

Dia menambahkan dengan pembentukan ISPIKANI DPD Daerah Istimewa Yogyakarta maka telah melengkapi semua DPD ISPIKANI yang ada di Pulau Jawa. Dengan terbentuknya ISPIKANI DPD DIY maka telah berdiri 31 DPD ISPIKANI secara nasional, dan hasil musyawarah pembentukan ISPIKANI DPD DIY telah menunjuk Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Ketua Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM terpilih sebagai Ketua DPD ISPIKANI DIY periode 2024-2028.

Alim Isnansetyo menegaskan pihaknya akan menjalankan program-program dalam pengembangan kelembagaan  dan memperkenalkan ISPIKANI kepada lulusan sarjana perikanan. “Kita perlu melakukan peningkatan kontribusi industri perikanan agar animo mahasiswa baru juga meningkat. Apalagi isu terkait sektor perikanan di DIY menjadikan among tani dagang layar dimana Pemerintah DIY memiliki visi untuk menjadikan laut sebagai halaman muka,” ungkapnya.

Menurutnya, ISPIKANI dapat berkolaborasi untuk membantu Pemerintah meningkatkan potensi kemaritiman untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Apabila dapat dilakukan pemberdayaan dengan menggali potensi tersebut maka bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/feed/ 0
Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Tata Kelola Sampah yang Berkelanjutan di DIY https://ugm.ac.id/id/berita/mewujdukan-pendidikan-inklusif-dan-tata-kelola-sampah-yang-berkelanjutan-di-diy/ https://ugm.ac.id/id/berita/mewujdukan-pendidikan-inklusif-dan-tata-kelola-sampah-yang-berkelanjutan-di-diy/#respond Tue, 24 Dec 2024 01:29:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74180 Kontribusi nyata Universitas Gadjah Mada untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) semakin gencar dilakukan. Belum lama ini, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM selaku koordinator Regional Center of Expertise (RCE) Yogyakarta kembali menggelar Workshop dan Expo mengangkat dua isu penting berupa pendidikan inklusif yang berkualitas dan solusi permasalahan tata kelola sampah. Rangkaian kegiatan ini meliputi […]

Artikel Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Tata Kelola Sampah yang Berkelanjutan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kontribusi nyata Universitas Gadjah Mada untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) semakin gencar dilakukan. Belum lama ini, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM selaku koordinator Regional Center of Expertise (RCE) Yogyakarta kembali menggelar Workshop dan Expo mengangkat dua isu penting berupa pendidikan inklusif yang berkualitas dan solusi permasalahan tata kelola sampah. Rangkaian kegiatan ini meliputi diskusi panel, presentasi program kerja RCE Yogyakarta 2024, Focus Group Discussion (FGD) dan juga expo komunitas.di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK).

Direktur DPkM UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes, mengajak pegiat pendidikan untuk berpartisipasi aktif dalam memperjuangkan pendidikan inklusif, khususnya pegiat pendidikan yang berasal dari komunitas. Selain itu, Rustamaji juga menyinggung terkait isu soal kedaruratan sampah yang masih menjadi permasalahan di Kota Yogyakarta. “Kita masih memiliki masalah dalam pemilahan, daur ulang dan sebagainya. Masalah ini harus kita akui dan kita wajib carikan solusi penyelesaiannya,” tuturnya.

Totok Pratopo, Ketua Pemerti Kali Code sekaligus anggota senior RCE Yogyakarta mengungkapkan bahwa sejak pandemi, hampir nihil bantuan dari pemerintah dalam pengelolaan sampah di kota Yogyakarta. Menurutnya, dahulu, pemerintah selalu mendukung dengan membayar masyarakat untuk membersihkan sungai. Namun saat ini, semuanya diperbantukan di depo-depo sampah. Ia juga mengungkapkan ketika adanya desentralisasi pengelolaan sampah, sungai menjadi kotor dan tercemar karena banyak yang membuang sampah ke sungai. “Ketika ada sampah-sampah di pinggir jalan, banyak masyarakat yang melapor dan bisa segera ditindaklanjuti, tapi kalau dibuangnya di sungai gimana? Kami belum punya CCTV, yang dari pemerintah cuma ada empat, tentu kami sangat kewalahan,” ucapnya.

Ia menegaskan saat ini Pemerti Kali Code tengah berupaya menggerakkan masyarakat untuk mencintai lingkungan, mencintai sungai. Membuat sungai menjadi cantik, membuka mata air, membudidayakan bunga dan lebah, membuat kampung menjadi ramah anak, hingga membuka sekolah sungai pemerti Kali Code. Baginya, dukungan pemerintah dan inisiatif kontribusi dari masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyelesaikan kedaruratan sampah di Yogyakarta.

Berbeda dengan pengelolaan sampah di Banyumas, Jawa Tengah. Sidik Firmansyah, selaku Ketua TPST Mekarsari, Banyumas, mengungkapkan bagaimana permasalahan sampah di Banyumas dalam mengatasi permasalahan sampah sejak tahun 2019 silam. Firmansyah mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah dan inisiatif kontribusi dari masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah ini. “Sistem yang kami gunakan untuk pengumpulan sampah ada dua, melalui pengepul dan door to door. Kami di Banyumas juga ada bank sampah, ada masyarakat yang bekerja di bank sampah dan ada juga JekNyong (Ojek’e Inyong) yang mengambil sampah-sampah yang masih memiliki nilai ekonomis. Untuk sampah-sampah yang tidak ada nilai ekonomis, dikelola oleh TPST,” tuturnya.

Pendidikan Inklusif

Yogyakarta memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan keberlanjutan menjadi poin penting selain mempertahankan kualitas, sehingga diperlukan kolaborasi untuk menghadapi tantangan pendidikan yang ada saat ini. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Drs. Suhirman, M.Pd., menyoroti program makan siang bersama yang diinisiasi oleh pemerintah. Menurutnya, jika program ini ingin berlanjut, tentunya bukan hanya makanan dan kandungan gizinya saja yang dipikirkan, namun juga tantangan tentang tata kelola sampah yang akan dihadapi setiap hari. “Tantangan kita di dunia pendidikan itu sangat kompleks sekali,” katanya.

Dr. Gunawan Zakki selaku perwakilan UNESCO Jakarta menyadari bahwa pendidikan untuk semua (inklusif) adalah salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Siapapun dengan latar belakang, agama, kemampuan, dan segala perbedaan harus mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Namun, ketersediaan data difabel yang terverifikasi menjadi kesulitan UNESCO dalam mendukung proses pembuatan kebijakan. “Data ini kami ambil dari riset, studi, dan asesmen, sayangnya tidak terverifikasi sampai 100% padahal data-data ini yang kami gunakan untuk mendukung kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Koordinator Difapedia, Muhammad Karim Amrulloh, S.H., M.H.,menuturkan sebenarnya banyak sekali implementasi untuk mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas untuk semua. Misalnya, UGM dan UNY dengan unit layanan disabilitas. Kampus-kampus juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada Dosen. Terdapat juga Organisasi non-profit yang bergerak untuk mendukung misi ini, misalnya Difapedia, Desamind, dan sebagainya yang secara rutin membuat program pelatihan-pelatihan untuk teman-teman difabel agar mereka bisa berdaya. 

Sementara S.R. Widyastuti, S.Psi., selaku pendiri Sekolah Tumbuh menjelaskan, terkait intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di Sekolah Tumbuh sebenarnya sama seperti sekolah lainnya. Namun demikian, ada perbedaan pengintegrasian supaya semua anak yang beragam kebutuhannya dapat menerima dengan baik materi yang diajarkan. Ada adaptasi penting perlu dilaksanakan, yaitu adaptasi kurikulum dan adaptasi lingkungan belajar. Adaptasi kurikulum mencakup dua hal, yaitu substitusi di mana Sekolah Tumbuh berusaha mengganti materi yang tidak relevan dengan materi yang lebih sesuai dengan kemampuan siswa. Ada pula modifikasi di mana Sekolah Tumbuh menyederhanakan kompetensi atau tujuan pembelajaran sesuai dengan hasil asesmen. “Untuk adaptasi lingkungan, Sekolah Tumbuh sangat memperhatikan sekali terkait manajemen kelas inklusif, penggunaan bahasa yang sesuai, hingga sarana dan prasarana juga turut diperhatikan,” pungkasnya.

Penulis : Triya Andriyani

Foto      : Dokumentasi DPKM

Artikel Mewujudkan Pendidikan Inklusif dan Tata Kelola Sampah yang Berkelanjutan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mewujdukan-pendidikan-inklusif-dan-tata-kelola-sampah-yang-berkelanjutan-di-diy/feed/ 0
Mahasiswa Unit Fotografi UGM Gelar Aksi Bersih Pantai Parangkusumo https://ugm.ac.id/id/berita/unit-fotografi-ugm-sukses-selenggarakan-u-folunteer/ https://ugm.ac.id/id/berita/unit-fotografi-ugm-sukses-selenggarakan-u-folunteer/#respond Mon, 23 Dec 2024 08:14:32 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74165 Unit Fotografi (UFO) Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di sekitar Pantai Parangkusumo yang dikemas dalam kegiatan yang bertajuk U-FOLUNTEER, Senin (16/12) silam. Kegiatan bersih-bersih pantai ditujukan untuk meningkatkan kesadaran anggota UFO UGM terhadap isu lingkungan yang ada di masyarakat sekitar pesisir pantai. Bekerja sama dengan […]

Artikel Mahasiswa Unit Fotografi UGM Gelar Aksi Bersih Pantai Parangkusumo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Unit Fotografi (UFO) Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di sekitar Pantai Parangkusumo yang dikemas dalam kegiatan yang bertajuk U-FOLUNTEER, Senin (16/12) silam. Kegiatan bersih-bersih pantai ditujukan untuk meningkatkan kesadaran anggota UFO UGM terhadap isu lingkungan yang ada di masyarakat sekitar pesisir pantai. Bekerja sama dengan Gardu Action yang juga memiliki kekhawatiran yang sama pada permasalahan sampah, selain melakukan giat bersih pantai, donasi buku untuk mendukung pendidikan anak-anak di daerah pesisir pantai juga menjadi rangkaian kegiatan U-FOLUNTEER.

Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) UFO, Maura, mengungkapkan bahwa kegiatan U-FOLUNTEER ini diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam mengurangi ketimpangan kehidupan pesisir dan menjaga ekosistem laut. Hal tersebut mereka implementasikan melalui kegiatan bersih pantai, pembuatan paving block dari limbah plastik, dan donasi buku anak-anak untuk perpustakaan Gardu Action. “Sedangkan secara internal, kami ingin kegiatan ini dapat menjadi media bagi para anggota UFO UGM untuk memperkuat hubungan sosial dan mempererat rasa saling memiliki antar anggota melalui beragam rangkaian permainan,” ungkapnya, Senin (23/12).

Maura menjelaskan, U-FOLUNTEER diawali dengan kegiatan bersih pantai pada pagi hari yang kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan edukasi seputar permasalahan sampah di Pantai Parangkusumo, sudut paling selatan Yogyakarta. Masyarakat juga diajarkan cara mengolah sampah plastik menjadi paving block yang sebelumnya telah terpilah menjadi tiga jenis, yaitu plastik polos, plastik motif, dan plastik dengan alumunium foil. “Melalui kegiatan U-FOLUNTEER, UFO UGM berharap dapat menjadi penyebar informasi bagi komunitas kecil seperti Gardu Action agar semakin dikenal oleh masyarakat luas ke depannya.,” jelas Maura.

Gardu Action merupakan akronim dari Garbage Care and Education yang berdiri atas inisiatif para pemuda tepian Pantai Parangkusumo dan Parangtritis yang merasa miris dengan jumlah sampah pariwisata yang semakin menumpuk. Di akhir tahun 2015, Gardu Action didirikan sebagai Bank Sampah yang mengelola berbagai macam sampah pariwisata, sekaligus menjadi sarana edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat umum. Ardha Kesuma, selaku founder, mengungkapkan bahwa para pendatang yang tinggal di perkampungan padat penduduk Kali Mati, melakukan berbagai hal untuk bertahan hidup, mulai dari menjadi pedagang asongan, pemulung, pengamen, tukang parkir, hingga membuka usaha karaoke. Lingkungan yang beragam itulah, tidak jarang menyebabkan terjadinya berbagai konflik antara warga lokal dan pendatang.

Terlepas dari sisi lain tersebut, anak-anak di Parangkusumo tetaplah anak-anak yang membutuhkan tempat yang aman dan nyaman untuk berkembang, belajar, serta bermain. Oleh karena itu, dua tahun berselang dari pendirian Gardu Action, Ardha mendirikan sebuah komunitas Bernama BukuBerbagi yang awalnya untuk memfasilitasi rekan-rekan yang kesulitan menyalurkan buku-buku bekas. Komunitas Gardu Action dan BukuBerbagi hadir menjadi tempat dan teman belajar bagi anak-anak tersebut. “Sebagai komunitas akar rumput, harapan kami tidak muluk-muluk. Kami senang ketika melihat anak-anak bisa belajar sambil bermain. Mereka juga senang bertemu dengan kakak-kakak dari berbagai daerah.“ tutup Ardha.

Penulis : Triya Andriyani

Foto     : Dokumentasi UFO

Artikel Mahasiswa Unit Fotografi UGM Gelar Aksi Bersih Pantai Parangkusumo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/unit-fotografi-ugm-sukses-selenggarakan-u-folunteer/feed/ 0