sanitasi Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sanitasi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 22 Mar 2024 06:16:59 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/ https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/#respond Fri, 22 Mar 2024 06:16:59 +0000 https://ugm.ac.id/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/ Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada atau UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, bersama dengan peneliti Finlandia, meneliti potensi antibiotik Kali Code Yogyakarta dengan mengumpulkan 24 sampel air dan sedimen permukaan di sepanjang Kali tersebut. Puluhan sampel yang diambil ini termasuk sepanjang aliran sungai Merapi hingga muara pantai. Hasilnya, Kali Code memiliki potensi resistensi antibiotik di […]

Artikel Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada atau UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, bersama dengan peneliti Finlandia, meneliti potensi antibiotik Kali Code Yogyakarta dengan mengumpulkan 24 sampel air dan sedimen permukaan di sepanjang Kali tersebut.

Puluhan sampel yang diambil ini termasuk sepanjang aliran sungai Merapi hingga muara pantai. Hasilnya, Kali Code memiliki potensi resistensi antibiotik di beberapa lokasi. Kandungan antibiotik di lingkungan Kali Code, sebutnya, terakumulasi dari banyak sumber, mulai dari limbah rumah sakit, limbah kimia, maupun dari limbah peternakan.

Selain itu, penelitian juga dilakukan di Sungai Winongo terkait dengan indeks risiko ekologis logam berat, dengan mengambil 16 sampel sedimen dan air.

“Kalau kita lihat sedimen di Sungai Winongo ini memang kandungan logamnya lebih tinggi di sekitar Kota Yogya. Kita mengambil sampel di sedimen air sungai yang dekat dengan buangan bengkel,” kata Lintang, Jumat (22/2024) dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2024.

Menurut Lintang, sungai dan danau memiliki sistem filtrasi alamiahnya sendiri. Pada kondisi normal, aliran akan memulihkan kualitas secara alami karena morfometri sungai, tetapi akumulasi logam pada sedimen, menyebabkan senyawa logam dan nutrien terikat pada sedimen, sehingga tidak dapat pulih secara alamiah.

Menurut Lintang, adanya kandungan logam dan antibiotik di Kali Code dan Kali Winongo ini ditengarai akibat sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang masih lemah.

Nah, mayoritas limbah pada sungai di Yogyakarta tidak berasal dari pabrik atau industri besar, melainkan dari rumah tangga dan usaha domestik mikro dan menengah.

Lintang merekomendasikan agar pemerintah daerah turut memberikan perhatian serius pada pengelolaan IPAL di Kota Yogyakarta karena berperan penting dalam mengatasi masalah pencemaran air sungai.

Dia menambahkan pengawasan IPAL untuk industri makro, seperti pabrik dan perhotelan sudah memiliki ketentuan ketat, namun untuk skala mikro seperti limbah rumah tangga belum dilakukan secara maksimal.

“Tidak banyak desa atau kelurahan di Yogyakarta yang memiliki sistem IPAL, karena keterbatasan sumber daya dan perhatian masyarakat akan lingkungan yang masih minim,” ujarnya

Lanjutnya, apabila sungai terus tercemar oleh logam berat dan residu antibiotik, dikhawatirkan bisa memunculkan risiko apabila dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam beberapa kasus, air tercemar juga menjadi penyebab munculnya kasus stunting pada anak-anak. Padahal Pemerintah berkomitmen untuk mencapai target poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-6, yakni akses air bersih dan sanitasi.

“Untuk itu, UGM turut berupaya dalam mendukung implementasi riset untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya dengan memperhatikan kualitas air yang dikonsumsi,” papar Lintang.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/feed/ 0
Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/ https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/#respond Tue, 27 Feb 2024 11:21:03 +0000 https://ugm.ac.id/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/ Mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas air bersih. Salah satunya dengan melakukan pemetaan lokasi sumur dan pengecekan fasilitas air di wilayah Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengakses air bersih dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim […]

Artikel Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas air bersih. Salah satunya dengan melakukan pemetaan lokasi sumur dan pengecekan fasilitas air di wilayah Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengakses air bersih dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim KKN Sub Unit C yang terdiri dari Novira Riski Herdian (Fisika),   Najma Ayu (Geografi), Tiara Indah Pratiwi (Fisipol), Dimitrio Diaz (Teknik Pertanian), Putu Kuncoro Jati (Matematika), dan Hafidh Nurdiansyah (SV). Mereka melakukan pemetaan lokasi sumur dengan mendatangi dan mendata keberadaan sumur di setiap dusun di Desa Majasem.  Informasi terkait sumur diperoleh dari data sekunder berupa arsip data yang disediakan oleh kantor Desa Majasem. Arsip data tersebut mencakup lokasi relatif dari setiap sumur yang tersedia. Berdasarkan informasi tersebut, survei lapangan dilakukan pada akhir Januari 2024 untuk mengumpulkan data koordinat dengan mendatangi lokasi-lokasi di mana sumur tersebut berada.

Novira mengungkapkan hasil survei menunjukkan terdapat 22 sumur dengan kedalaman rata-rata 120 meter yang tersedia di Desa Majasem, baik itu untuk pertanian maupun air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Titik-titik koordinat yang telah diperoleh diinput ke dalam peta yang memuat batas administratif Desa Majasem menggunakan bantuan aplikasi ArcGIS 10.8. Selanjutnya, setelah dilakukan penginputan titik koordinat, dilakukan simbolisasi dan layouting sebagai tahap akhir dalam proses pemetaan.

“Upaya tersebut ditujukan untuk menghasilkan peta yang menampilkan Distribusi Sumur Air Bawah Tanah di Desa Majasem,”tuturnya.

Selain pemetaan, mahasiswa KKN-PPM UGM Kelana Kendal juga melakukan pengecekan fasilitas air meliputi kondisi sumur, kualitas air, dan survei pengguna sumur. Analisis data pengecekan kualitas air dilakukan dengan pengambilan sampel yang diminta dari rumah ke rumah. Terdapat lima sampel sumur bor minum yang diambil sampelnya sebanyak 3 kali. Sampel air tersebut dianalisis menggunakan water meter dengan parameter suhu ambien, tingkat kekeruhan (TDS), tingkat keasaman (pH), dan kadar konduktivitas (EC). Hasil pengecekan kemudian direkomendasikan kepada pemerintah desa untuk ditindaklanjuti.

Kegiatan ini mendapatkan respons positif baik dari masyarakat maupun internal tim KKN PPM UGM Kelana Kendal. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Faiza Ulinnuha, selaku Koordinator Kormater Saintek. Menurutnya, pemetaan lokasi sumur dan pemeriksaan fasilitas air adalah langkah penting dalam memastikan akses yang layak dan aman terhadap air bersih bagi masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan kepekaan dan komitmen dari mahasiswa KKN-PPM UGM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjaga kesehatan publik,” ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU., mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh mahasiswa untuk memitigasi hal-hal yang diperlukan selanjutnya. Sebab, sumur di Desa Majasem sangat sedikit dan sangat dalam yang menandakan daerah desa rawan akan kekeringan.

Berdasar data  hasil survei mahaisswa KKN UGM, Atus menyebutkan bahwa Desa Majasem memiliki kerawanan terhadap kekeringan. Hal tersebut dibuktikan pengeboran sumur perlu hingga kedalaman ratusan meter dan tidak semua titik rumah memiliki sumur sendiri.

Atus berharap melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan memberikan informasi mengenai kondisi, lokasi, dan distribusi sumber air di sekitar mereka. Hal ini akan mempermudah masyarakat dalam mengakses sumber air bersih yang tersedia. Dengan begitu, masyarakat dapat mengelola dan memanfaatkannya secara lebih efektif untuk kebutuhan sehari-hari.

Penulis: Tim KKN Majasem : Editor: Ika

Artikel Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/feed/ 0