sampah Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/sampah/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 15 Aug 2024 06:03:03 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Pakar UGM Tekankan Perlunya Mengubah Mindset Pengelolaan Sampah ke Ekonomi Sirkular https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-tekankan-perlunya-mengubah-mindset-pengelolaan-sampah-ke-ekonomi-sirkular/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-tekankan-perlunya-mengubah-mindset-pengelolaan-sampah-ke-ekonomi-sirkular/#respond Fri, 22 Mar 2024 06:28:01 +0000 https://ugm.ac.id/pakar-ugm-tekankan-perlunya-mengubah-mindset-pengelolaan-sampah-ke-ekonomi-sirkular/ Sampah hingga saat ini masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Gagasan tentang ekonomi sirkular pun digaungkan oleh pemerintah sebagai salah satu solusi untuk mengurai permasalahan sampah ini. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM sekaligus pakar ekonomi sirkular, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya mengubah cara pandang atau mindset semua pihak […]

Artikel Pakar UGM Tekankan Perlunya Mengubah Mindset Pengelolaan Sampah ke Ekonomi Sirkular pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sampah hingga saat ini masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Gagasan tentang ekonomi sirkular pun digaungkan oleh pemerintah sebagai salah satu solusi untuk mengurai permasalahan sampah ini. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM sekaligus pakar ekonomi sirkular, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., menekankan pentingnya mengubah cara pandang atau mindset semua pihak dalam mengelola sampah baik oleh masyarakat sebagai konsumen maupun pelaku bisnis atau perusahaan sebagai produsen. Menurutnya, dalam memahami persoalan sampah ini tidak hanya sekedar tentang pengelolaan sampah saja namun sistem secara keseluruhan.

“Jadi ketika berbicara soal sampah ini perlu dilihat dari perspektif sistem. Tidak hanya tentang sampah di jalanan maupun TPA, tetapi bagaimana pengelolaan dan output-nya jika sudah dikelola tidak menyisakan sampah lagi,” jelasnya, Kamis (21/3) di Kampus FEB UGM.

Luluk mengatakan bahwa ekonomi sirkular mengandung arti sampah yang dihasilkan dari konsumsi kembali lagi ke produksi sehingga tidak ada sampah yang dihasilkan. Ekonomi sirkular bisa dimulai melalui cara sederhana seperti memilah sampah  3R (reduce, reuse, recyle) dari sumbernya baik sampah yang dihasilkan dalam level rumah tangga, maupun fasilitas publik sebagai konsumen hingga perusahaan selaku produsen.

“Kalau mau dikelola dengan baik, harus memilah sampah dari sumbernya, itu basic-nya,”tuturnya. Hanya saja, perilaku untuk melakukan pemilahan sampah ini masih menjadi persoalan. Ia mencontohkan, tidak sedikit rumah tangga yang belum sadar melakukan pemilahan sampah. Kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya sistem insentif bagi pelaku yang berhasil memilah sampah. Demikian halnya dengan perusahaan atau industri maupun berbagai tempat fasilitas publik masih banyak yang belum melakukan pemilahan sampah dan hanya menyerahkan pada rekanan untuk pengolahan sampah.

Oleh sebab itu Luluk memandang selain menggalakkan edukasi soal pemilahan sampah, perlu adanya pemberian insentif untuk mendorong perubahan perilaku memilah sampah baik pada tataran rumah tangga maupun industri. Ke depan diharapkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukan lagi menjadi pilihan bagi masyarakat. Salah satu praktik baik pemberian insentif bagi individu atau rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah sudah dilakukan di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY.

“Rumah tangga yang memilah sampah akan diberikan insentif oleh pengelola sampah. Sampah yang memiliki nilai jual akan dihitung dan nanti diberikan insentif. Hasilnya bisa untuk memotong pembayaran iuran sampah, sedangkan yang tidak mau memilah sampah dalam kondisi maka pembayaran iuran sampahnya otomatis akan lebih mahal,” paparnya. Luluk menyebutkan edukasi pada petugas pengumpul sampah juga perlu dilakukan. Sebab, hingga saat ini masih banyak yang menerapkan praktik mencampur kembali sampah yang telah dipilah dari sumber saat berada dalam mobil pengangkut sampah. Hal ini menjadikan timbulnya proses pemilahan kembali di TPS 3R.

“Alurnya jika dari perspektif ekonomi sirkular atau rantai pasokan, dari segi sistim tidak hanya pengelolaan sampah. Namun bagaimana sampah produk sebuah bisnis maka produk yang dihasilkan menjadi tanggung jawab bukan hanya konsumen saja, tetapi juga perusahaan yang memproduksi. Produsen bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan bahkan setelah dikonsumsi oleh konsumen kembali lagi ke sistem produksi,” urai dosen Departemen Manajemen FEB UGM ini.

Luluk memaparkan langkah-langkah tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah. Dalam pandangannya perlu dikembangkan infrastruktur yang baik untuk menangani produk sampah agar dapat berjalan secara efisien. Ia mencontohkan ekonomi sirkular bisa dilakukan dengan menciptakan produk dari sampah untuk selanjutnya digunakan kembali. Contoh lain dengan mempraktikkan konsep mindful consumption yakni berpikir secara sadar atas konsekuensi konsumsi yang dilakukan. Mempraktekkan konsep ini dengan melihat urgensi sebuah produk, apakah merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan. Meskipun menjadi hal yang tidak mudah, masyarakat seyogyanya dapat menerapkan konsep mindful consumption. Pasalnya, saat konsumsi berlebihan akan menghabiskan sumber daya yang berimbas pada semakin menipisnya ketersediaan sumber daya alam yang ada.

“Harus ada kesadaran dari konsumen sehingga konsumsinya dapat dibatasi yang dibutuhkan saja,” imbuh  pria yang menginisiasi platform pendidikan ekonomi sirkular ekonomisirkular.id ini. Hanya saja ketika konsumen sudah mengimplementasikan mindful consumption akan berdampak pada perekonomian yang lebih luas. Oleh sebab itu, model bisnis yang dijalankan oleh perusahaan juga bisa menyesuaikan. Dari segi bisnis, pelaku usaha atau produsen diharapkan dapat mengubah model bisnis yang dilakukan. Misalnya, model bisnis yang dijalankan dengan prinsip kepemilikan diubah menjadi persewaan. Sebagai contoh alat-alat pertukangan dalam rumah tangga yang hanya digunakan sesekali dan lebih banyak disimpan, ujungnya hanya akan menghasilkan sampah. Sementara dengan model bisnis persewaan maka kepemilikan produk akan melekat di perusahaan sehingga saat masa sewa habis akan kembali ke perusahaan untuk bisa disewakan atau bahkan di daur ulang. Perusahaan diharapkan bisa mengambil peluang dari paradigma ekonomi sirkular ini.

Luluk menambahkan pemerintah maupun LSM juga memiliki peran krusial untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular di tanah air. Menurutnya, saat ini perlu ada desain kebijakan atau regulasi untuk mendorong praktik ini dilakukan di masyarakat. Sebab, saat ini di Indonesia belum ada kebijakan yang mengikat, baru sebatas himbauan terkait penerapan ekonomi sirkular sebagai upaya mengatasi persoalan sampah. “Desain untuk ini harus ada. Misal pemerintah mewajibkan dalam menjalankan bisnis perlu ada standar pengelolaan sampah yang baik disertai dengan pelaporan yang berkelanjutan. Penerapan ekonomi sirkular ini bisa dimulai dari perusahaan berskala besar,” ujarnya.

Lebih lanjut Luluk mengatakan bahwa desain yang dikembangkan harus masif. Pemerintah perlu melakukan edukasi terkait ekonomi sirkular di masyarakat. Hal tersebut  bisa dilakukan sejak dini mulai level pendidikan SD, misalnya dengan mengembangkan satu pelajaran khusus tentang ekonomi sirkular untuk memengaruhi cara berpikir masyarakat secara luas. “Harus mulai berubah perilaku konsumsinya sehingga akan lebih cepat mengubah sistem ekonomi yang lebih sirkular,” pungkasnya.

Penulis: Humas FEB; Editor: Ika

Foto: Freepik.com

Artikel Pakar UGM Tekankan Perlunya Mengubah Mindset Pengelolaan Sampah ke Ekonomi Sirkular pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-tekankan-perlunya-mengubah-mindset-pengelolaan-sampah-ke-ekonomi-sirkular/feed/ 0
UGM Edukasi Pengelolaan Sampah Lewat Pengarustamaan Sekolah Ekonomi Sirkular https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-edukasi-pengelolaan-sampah-lewat-pengarustamaan-sekolah-ekonomi-sirkular/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-edukasi-pengelolaan-sampah-lewat-pengarustamaan-sekolah-ekonomi-sirkular/#respond Thu, 07 Mar 2024 06:29:23 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-edukasi-pengelolaan-sampah-lewat-pengarustamaan-sekolah-ekonomi-sirkular/ Sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tantangan pengelolaan sampah di tanah air menjadi kian berat dengan semakin penuhnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa daerah. Salah satunya yang terjadi di TPA Regional Piyungan, Bantul yang kondisinya sudah melebihi kapasitas daya tampungnya. Pemerintah Provinsi DIY pun mengeluarkan kebijakan penutupan TPA Piyungan pada 5 Maret […]

Artikel UGM Edukasi Pengelolaan Sampah Lewat Pengarustamaan Sekolah Ekonomi Sirkular pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tantangan pengelolaan sampah di tanah air menjadi kian berat dengan semakin penuhnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di beberapa daerah.

Salah satunya yang terjadi di TPA Regional Piyungan, Bantul yang kondisinya sudah melebihi kapasitas daya tampungnya. Pemerintah Provinsi DIY pun mengeluarkan kebijakan penutupan TPA Piyungan pada 5 Maret 2024. Ke depan, setiap kabupaten/kota diminta untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

Peneliti Ekonomi Sirkular UGM, Suci Lestari Yuana, S.IP., MIA., memandang perlunya solusi terpadu dengan melibatkan berbagi pihak untuk mengurai persoalan sampah di tanah air, termasuk Yogyakarta. Masyarakat dalam hal ini memiliki peran penting dalam proses pengelolaan sampah. Karenanya ia dan tim di FISIPOL UGM berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui sektor pendidikan dengan memberikan edukasi dan literasi terkait pengelolaan sampah yakni dengan menginisiasi sekolah ekonomi sirkular.

“Implementasi ekonomi sirkular penting dilakukan di level praktik sehari-hari dalam merespons tantangan ini, di mana limbah dianggap sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali dan bisa menjadi sumber penghasilan,” tutur Dosen HI FISIPOL sekaligus peneliti di Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM ini, Kamis (7/3).

Ia menjelaskan dalam riset ini yang dilakukan bersama tim, mereka mengamati bagaimana 68 sekolah di Indonesia yang tergabung dalam sekolah ekonomi sirkular dalam menerapkan prinsip 5R (Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Recycle) di lingkungan sekolah. Sekolah ekonomi Sirkular diinisiasi sejak tahun 2021 silam dengan melibatkan sebanyak 68 sekolah yang tersebar di Sumatera Utara, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Utara.

Dalam konteks praktik-praktik 5R, lanjutnya, peran sekolah dan institusi pendidikan menjadi kunci sebagai agen perubahan. Sebab, implementasi praktik-praktik 5R di lingkungan pendidikan tidak hanya memengaruhi pola pikir siswa, tetapi juga membentuk generasi yang tanggap terhadap tanggung jawab lingkungan.

Menurutnya, sekolah memiliki potensi besar untuk membentuk perilaku berkelanjutan dengan mengintegrasikan konsep 5R dalam kurikulum dan kegiatan sekolah sehari-hari. Selain itu, sekolah dapat menjadi pusat penyuluhan bagi siswa dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah.

Lebih lanjut Suci menyampaikan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam upaya mendukung implementasi praktik-praktik 5R di sekolah dan institusi pendidikan. Pemerintah dalam hal ini berperan untuk memotivasi dan mendorong transformasi sirkular.

Saat ini, lanjutnya, inisiatif seperti Indonesia Green Principal Awards (IGPA) telah memainkan peran penting dalam mendorong sekolah untuk mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan. Namun, terdapat tantangan dengan sedikitnya partisipasi sekolah di Yogyakarta. Karenanya kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan dengan merancang kebijakan yang memberikan insentif kepada sekolah yang aktif dalam melakukan transformasi sirkular. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melibatkan alokasi dana khusus, penghargaan, atau dukungan teknis bagi sekolah yang berhasil mengimplementasikan praktik-praktik 5R secara efektif.

“Kebijakan ini dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sekolah di Yogyakarta untuk terlibat lebih aktif dalam perubahan menuju praktik berkelanjutan,”pungkasnya.

Penulis: Ika

 

Artikel UGM Edukasi Pengelolaan Sampah Lewat Pengarustamaan Sekolah Ekonomi Sirkular pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-edukasi-pengelolaan-sampah-lewat-pengarustamaan-sekolah-ekonomi-sirkular/feed/ 0
Mahasiswa SV UGM Kembangkan Komposter Pupuk Cair Otomatis Dengan Sumber Energi Matahari https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-sv-ugm-kembangkan-komposter-pupuk-cair-otomatis-dengan-sumber-energi-matahari/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-sv-ugm-kembangkan-komposter-pupuk-cair-otomatis-dengan-sumber-energi-matahari/#respond Fri, 20 Oct 2023 06:01:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60719 Tim Program Kreativitas Mahasiswa UGM berhasil mengembangkan alat pembuatan pupuk cair berupa komposter otomatis yang terintegrasi dengan sistem kontrol. Uniknya, alat ini menggunakan sinar matahari sebagai sumber listrik sehingga dapat mengurangi biaya pembuatan pupuk cair. “Alat ini kami buat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar kampus, terlebih kota Yogyakarta, karena akhir-akhir ini sampah menumpuk di […]

Artikel Mahasiswa SV UGM Kembangkan Komposter Pupuk Cair Otomatis Dengan Sumber Energi Matahari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim Program Kreativitas Mahasiswa UGM berhasil mengembangkan alat pembuatan pupuk cair berupa komposter otomatis yang terintegrasi dengan sistem kontrol. Uniknya, alat ini menggunakan sinar matahari sebagai sumber listrik sehingga dapat mengurangi biaya pembuatan pupuk cair.

“Alat ini kami buat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar kampus, terlebih kota Yogyakarta, karena akhir-akhir ini sampah menumpuk di pinggiran jalan dan tempat wisata. Hal ini terjadi pasca penutupan TPA Piyungan,” terang Ketua Tim, Rizki Andriansyah Jumat (201/10) di UGM.

Mahasiswa Sekolah Vokasi UGM ini menjelaskan pengembangan alat ini berawal dari keprihatinan jumlah sampah di Yogyakarta yang semakin meningkat seiring dengan padatnya penduduk di Yogyakarta. Ditambah, penutupan TPA Piyungan menyebabkan keresahan masyarakat untuk pembuangan sampah.

“Melihat kondisi itu kami ingin memberikan solusi kepada masyarakat berupa produk pupuk cair dari bahan organik yang tentunya lebih baik penggunaannya dibandingkan pupuk yang berbahan kimia,” tambahnya.

Rizki bersama dengan keempat rekannya yaitu Albarra Ammara Hadi (Teknik Pengelolaan dam Perawatan Alat Berat), Fabio Khrisna Mukti (Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat), Farras M. Yusa (Ilmu Tanah) dan Yunus Alif Nur Rahman (Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol) berusaha mencari solusi dengan membuat alat komposter pupuk cair. Alat tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Ir. Felixtianus Eko Wismo Winarto, M.Sc., Ph.D. melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif Kemendikbudristek tahun 2023.

Inovasi ini memiliki karakteristik dan struktur yang berbeda dibandingkan dengan komposter pada umumnya. Sebab, alat ini dilengkapi dengan komponen pendukung untuk membantu proses pengomposan.

“Komposter ini dilengkapi dengan pengaduk yang tersambung dengan motor secara langsung untuk membantu proses pengomposan,” jelas, Ketua Tim.

Rizki mengungkapkan alat dibuat dengan menggunakan alat yang mudah didapat. Beberapa diantaranya besi, triplek yang dilapisi vinyl, dan alat elektronis lainnya.

Sementara Yunus menambahkan bahwa prinsip kerja komposter ini sama seperti komposter pada umumnya. Hanya saja, ada perbedaan pada proses pengomposannya yang dibantu oleh blade pengaduk dan water bubble.

“Cara kerjanya mirip dengan komposter lainnya, tetapi di sini kita memakai blade pengaduk dari besi untuk membantu menggemburkan bahan-bahan organik di dalam drum sehingga cepat gembur,” jelasnya.

Selain itu, alat dilengkapi dengan pompa udara untuk mensuplai oksigen ke dalam drum. Hal itu dilakukan untuk tumbuh kembangnya mikroorganisme yang digunakan untuk proses pengomposan.

Tak hanya itu, Yusa turut menambahkan keunggulan alat komposter ini dapat menghasilkan cairan pupuk sejumlah 1 liter dalam waktu kurang 2 hari.

“Dengan memanfaatkan blade pengaduk tadi, bahan organik akan cepat gembur dan berair, sehingga volume pupuk yang dihasilkan dalam besaran tertentu lebih cepat dibandingkan komposter pada umumnya,” terang Yusa.

Penulis: Tim PKM; Editor: Ika

Artikel Mahasiswa SV UGM Kembangkan Komposter Pupuk Cair Otomatis Dengan Sumber Energi Matahari pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-sv-ugm-kembangkan-komposter-pupuk-cair-otomatis-dengan-sumber-energi-matahari/feed/ 0
Mahasiswa UGM Sulap Limbah Korek Api Gas dan Botol Jadi Action Figure https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-sulap-limbah-korek-api-gas-dan-botol-jadi-action-figure/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-sulap-limbah-korek-api-gas-dan-botol-jadi-action-figure/#respond Wed, 11 Oct 2023 07:01:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60278 Siapa yang hobi mengoleksi mainan action figure? Tak ada salahnya bagi Anda pecinta action figure untuk menambah koleksi action figure buatan mahasiswa UGM ini. Sebab, action figure yang dibuat memanfaatkan limbah korek api gas dan botol plastik bekas. Unik kan? Action figure yang dibuat oleh lima mahasiswa Teknik Fisika UGM ini juga memiliki keunikan karena […]

Artikel Mahasiswa UGM Sulap Limbah Korek Api Gas dan Botol Jadi Action Figure pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Siapa yang hobi mengoleksi mainan action figure? Tak ada salahnya bagi Anda pecinta action figure untuk menambah koleksi action figure buatan mahasiswa UGM ini. Sebab, action figure yang dibuat memanfaatkan limbah korek api gas dan botol plastik bekas. Unik kan?

Action figure yang dibuat oleh lima mahasiswa Teknik Fisika UGM ini juga memiliki keunikan karena menggabungkan unsur digital berupa teknologi Augmented Reality. Hal ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri dari produk yang dinamai Ferrumium ini.

Ferrumium dirancang oleh Yohanes Mario Putra Bagus (Teknik Fisika 2022), Bintang Putra Megantara (Teknik Fisika 2022), Muhammad Fachrurrozy (Teknik Fisika 2022), Muhammad Iqbal Fajri (Teknik Fisika 2022), serta Stephanie Chika Devanesa Daniarto (Teknik Fisika 2022) di bawah bimbingan Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP. Mereka mengembangkan produk tersebut melalui dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan Kemenristekdikti 2023.

Ketua pengembang Ferrumium, Mario, mengatakan pembuatan Ferrumium berangkat dari kecintaannya terhadap series mecha, seperti Gundam dan Transformer. Sementara di sisi lain ia juga prihatin terhadap pengelolaan sampah yang belum dilakukan secara maksimal di tanah air. Oleh sebab itu, ia bersama timnya berinovasi menyulap limbah berupa korek api gas, botol plastik, dan kayu menjadi action figure estetik dan bernilai ekonomi.

“Tak seperti miniatur robot yang ada di pasaran pada umumnya menggunakan bahan baku plastik, Ferrumium berasal dari mendaur ulang sampah bekas korek api gas, botol, dan kayu yang didapatkan dari pengepul rosok  maupun bank sampah,” terangnya, Rabu (11/10).

Mario menjelaskan visualisasi metal yang tergambarkan melalui dominasi korek api gas membuat Ferrumium seolah-olah terbuat dari metal layaknya robot pada umumnya. Pemanfaatan teknologi AR juga menjadi ciri khas Ferrumium daripada miniatur robot lainnya. Ferrumium mengadopsi berbagai karakter pewayangan sebagai karakter seperti Puntadewa-23, Janaka-04, Werkudara-02, dan masih banyak lagi.

Penggunaan karakter pewayangan ditujukkan untuk mempromosikan kearifan lokal berupa cerita pewayangan yang saat ini kurang digemari oleh masyarakat. Setiap karakter memiliki keunikan masing-masing berdasarkan cerita dalam pewayangan.

“Dengan fitur Augmented Reality membuat pembeli dapat menikmati 3D modeling melalui aplikasi Ferrumium,” imbuh Bintang.

Bintang mengatakan meski berbahan dasar barang bekas, Ferrumium tidak memiliki tampilan yang lusuh atau terkesan seadanya. Ferrumium dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan detail dan estetika action figure sehingga termanifestasi sebagai karya seni dengan tampilan visual yang sangat menarik.

“Action figure kami desain dengan tinggi 30 cm dan lebar 10-15 cm ini memiliki struktur yang kokoh sehingga dapat dimainkan selayaknya Action Figure,”ucapnya.

Ditambahkan Stephanie, Ferrumium juga hadir sebagai sarana edukasi, pasalnya penamaan karakter yang ada didasarkan pada kisah tokoh pewayangan. Dengan begitu, Ferrumium menjadi media pengenalan dan pelestarian budaya bangsa agar tidak terkikis dengan laju perkembangan zaman.

“Ferrumium kami pasarkan 1 set berisi 1 Ferrumim, 1 penyangga, 3 stiker, serta 1 akun aplikasi. Untuk satu paketnya kami jual seharga Rp300.000,”ucapnya.

Produk ini dipasarkan melalui media social IG: @pkmugm_ferrumium dan FB: pkmugm_ferrumium market place. Selain ini produk juga tersedia di market place Amazon dan Shopee.

Kehadiran Ferrumium tidak hanya memberikan nuansa baru bagi pengkoleksi action figure. Namun, produk ini juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan nyaman melalui pemanfaatan limbah sampah dan bentuk kewirausahaan dalam sektor industri kreatif.

 

Penulis: Ika

Foto: Donnie

 

 

Artikel Mahasiswa UGM Sulap Limbah Korek Api Gas dan Botol Jadi Action Figure pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-sulap-limbah-korek-api-gas-dan-botol-jadi-action-figure/feed/ 0
Fakultas Biologi UGM dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIY Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-biologi-ugm-dan-dinas-perdagangan-dan-perindustrian-diy-jajaki-kerja-sama-pengelolaan-sampah/ https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-biologi-ugm-dan-dinas-perdagangan-dan-perindustrian-diy-jajaki-kerja-sama-pengelolaan-sampah/#respond Mon, 28 Aug 2023 02:23:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58869 Fakultas Biologi UGM kembali menggelar pelatihan pengolahan sampah organik. Dalam kegiatan yang diadakan Jumat (25/8) tersebut diikuti 50 peserta dari Bidang Pasar Rakyat, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Fakultas Farmasi dan Rumah Sakit Akademik UGM. Pelatihan dipandu Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si., M.Kes. dan Suharjita. Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi […]

Artikel Fakultas Biologi UGM dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIY Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Biologi UGM kembali menggelar pelatihan pengolahan sampah organik. Dalam kegiatan yang diadakan Jumat (25/8) tersebut diikuti 50 peserta dari Bidang Pasar Rakyat, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Fakultas Farmasi dan Rumah Sakit Akademik UGM. Pelatihan dipandu Soenarwan Hery Poerwanto, S.Si., M.Kes. dan Suharjita.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, menyampaikan partisipasi dari Disperindag DIY dalam pelatihan ini berkaitan dengan pengelolaan sampah di 29 pasar di DIY selepas penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan beberapa saat yang lalu. Setidaknya setiap hari dihasilkan 9 ton sampah dari keseluruhan pasar yang belum dikelola dengan baik.

“Perlu adanya keselarasan upaya di hulu dan di hilir. Di hulu penting untuk terus edukasi dan praktik memilih dan memilah sampah oleh masyarakat sehingga menjadi budaya, sedangkan di hilir, fakultas dan perguruan tinggi harus terus mengembangkan teknologi tepat guna khususnya untuk pengolahan sampah organik dan residu,”urainya.

Budi menambahkan persoalan sampah dapat terkurangi jika  masyarakat di tingkat rumah tangga sudah disiplin memilah sampah. Pemilihan sampah dilakukan berdasar jenisnya seperti organik dan anorganik.

Penata Layanan Operasional Bidang Pasar Rakyat Disperindag DIY, Susilo, menyebutkan setidaknya terdapat 29 pasar yang terlibat dan berencana bekerja sama dengan Fakultas Biologi dalam pengelolaan sampah. Sampah yang terkumpul di tiap pasar biasanya bukan hanya berasal dari pedagang melainkan juga dari masyarakat sekitar dengan jumlah sampah terbesar terdapat di Pasar Giwangan dan Pasar Beringharjo.

“Upaya yang dapat dilakukan pengelola semenjak penutupan TPA berupa pembatasan jumlah sampah yang masyarakat buang di pasar,”jelasnya.

Fakultas Biologi berkomitmen untuk mengatasi permasalahan sampah organik di DIY. Dalam pengelolaan sampah dari pasar DIY, Fakultas Biologi setidaknya dapat menampung 3 ton sampah setiap hari dari pasar-pasar tersebut dan mengolahnya. Dengan teknologi pengelolaan sampah yang diterapkan di Fakultas Biologi diantaranya vermicomposting dan Black Soldier FlyEco Enzim, Bioferlilizer, Eco Lindi dan lainnya, proses degradai sampah dapat berlangsung setidaknya satu minggu saja. Komitmen Fakultas Biologi dalam pengelolaan sampah yang menyasar pada masyarakat dan komunitas di DIY ini menegaskan komitmen sebagai kampus ramah lingkungan dan mendukung sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs).

 

Penulis: Humas Biologi UGM;

editor: Ika

 

 

Artikel Fakultas Biologi UGM dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIY Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-biologi-ugm-dan-dinas-perdagangan-dan-perindustrian-diy-jajaki-kerja-sama-pengelolaan-sampah/feed/ 0
UGM Berbagi Pengalaman Kelola Sampah Organik ke Masyarakat  https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berbagi-pengalaman-kelola-sampah-organik-ke-masyarakat/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berbagi-pengalaman-kelola-sampah-organik-ke-masyarakat/#respond Fri, 18 Aug 2023 12:16:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58564 Fakultas Biologi UGM membagikan pengalamannya dalam melakukan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik di hadapan puluhan masyarakat di wilayah DIY dan Jawa Tengah melalui kegiatan Tour Pengelolaan Sampah Organik yang berlangsung pada Jumat (18/8) di kampus setempat. Kegiatan Tour Pengelolaan Sampah Organik diikuti tidak kurang dari 30 orang yang berasal dari berbagai wilayah di DIY dan […]

Artikel UGM Berbagi Pengalaman Kelola Sampah Organik ke Masyarakat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Biologi UGM membagikan pengalamannya dalam melakukan pengelolaan sampah, khususnya sampah organik di hadapan puluhan masyarakat di wilayah DIY dan Jawa Tengah melalui kegiatan Tour Pengelolaan Sampah Organik yang berlangsung pada Jumat (18/8) di kampus setempat.

Kegiatan Tour Pengelolaan Sampah Organik diikuti tidak kurang dari 30 orang yang berasal dari berbagai wilayah di DIY dan Jawa Tengah yang tergabung dalam grup Sambatan Jogja (SONJO). Selain diikuti oleh warga masyarakat di sekitar kampus, kegiatan ini juga diikuti perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sanggar Pawuhan, Komunitas Momong Bumi, PPM Aswaja Nusantara, FBS Yogya, Grup Pengelola Sampah Margodadi Dilangharjo, Dinas Pasar Kota Yogyakarta, TKI DIY, Ponpes Barokah Kalimasada Sardonoharjo, Pusat Pastoral Mahasiswa DIY, RS Sardjito, Paguyuban Bank Sampah DIY, RS Beteshda, BSMM Pogung Kidul, dan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut peserta Tour Pengelolaan Sampah Organik diajak berkeliling kampus Biologi UGM untuk melihat berbagai proses pengelolaan sampah yang telah dilakukan sejak tahun 2017 silam. Fakultas Biologi telah menerapkan teknologi sederhana dalam mengelola sampah organik seperti vermicomposting menggunakan cacing dan BSF, pupuk cair organik (poc), eco enzim, pengomposan, serta pemakaian biofertilizer dari urine ternak.

 

Dekan Fakultas biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, mengatakan Fakultas Biologi ditugaskan Rektor UGM untuk mengelola sampah organik di lingkungan UGM serta membantu menyelesaikan masalah sampah di DIY. Hingga saat ini pihaknya telah melaksanakan pelatihan pengolahan sampah organik yang diikuti  lebih dari 25 Rumah Sakit, 17 Pondok Pesantren dan 30 Komunitas Pengelola sampah di DIY.

“Melalui pelatihan tersebut diharapkan permasalahan sampah khususnya sampah organik dapat diselesaikan bersama dengan memanfaatkan beberapa metode dan teknologi pengolahan sampah organik yang ditemukan oleh Fakultas Biologi UGM,” tuturnya saat ditemui usai membuka kegiatan, Jumat (18/8).

Budi mengungkapkan Fakultas Biologi UGM berhasil menemukan Probiotik BIO-2023 untuk mempercepat proses fermentasi dan pengolahan sampah organik menjadi media tanam, kompos, dan pupuk organik cair. Salah satu mahasiswa S1 Program IUP  Fakultas Biologi UGM yaitu Rania Naura juga telah menemukan formulasi pembuatan Eco Lindi yang telah dimanfaatkan untuk menghilangkan bau pada sampah oleh Pemkab Sidoarjo sejak tahun 2021 sampai sekarang. Saat ini Eco Lindi juga telah dimanfaatkan oleh Pemkab Sleman.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Soenarwan Heri Poerwanto, S.Si., M.Kes., memapakan salah satu cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk dengan penambahan biofertilizer. Dengan penambahan biofertilizer ini mampu mempercepat proses degradasi sampah berjalan lebih singkat dibanding dengan cara konvensional. Apabila dengan cara biasa degradasi memakan waktu sekitar dua minggu atau lebih, tetapi dengan metode penambahan biofertilizer proses degradasi sampah dapat berlangsung dalam waktu satu minggu saja.

Salah satu peserta tour, Lia (46) asal Magelang, mengatakan sejak tiga tahun terakhir ia mulai melakukan pengelolaan sampah secara mandiri di rumah dengan melakukan pemilahan sampah anorganik dan organik. Dalam mengolah sampah organik, ia menggunakan metode ember tumpuk dengan penambahan eco enzim. Dengan keikutsertaannya pada kegiatan ini ia berharap bisa mendapat tambahan wawasan terkait upaya pengolahan sampah yang nantinya bisa diterapkan di rumah dan masyarakat sekitar.

Hal senada turut disampaikan Berna (53) warga Rt 12 Pogung Baru, Sleman. Ia mengaku tertarik untuk mengimplementasikan pengolahan sampah dengan penambahan biofertilizer.

“Saya takjub mendengar penjelasan tentang metode pengolahan sampah menggunakan penambahan biofetilizer yang bisa hanya 1 minggu mendegradasi sampah. Ke depan sangat tertarik memakai metode ini,”ucapnya.

Upaya pengelolaan sampah secara berkelanjutan yang dilakukan ini menegaskan komitmen UGM sebagai kampus yang peduli dan ramah terhadap lingkungan dalam upaya mendukung pembangunan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs) dimana pengelolaan sampah berkelanjutan dapat meningkatkan kehidupan yang lebih sehat (SDGs 3), mengurangi pencemaran limbah sampah yang berdampak pada ketersediaan air bersih di lingkungan (SDGs 6), serta penanganan perubahan iklim akibat dampak emisi gas rumah kaca dari timbunan sampah organik (SDGs 13).

 

Penulis&Foto: Ika

Artikel UGM Berbagi Pengalaman Kelola Sampah Organik ke Masyarakat  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-berbagi-pengalaman-kelola-sampah-organik-ke-masyarakat/feed/ 0
UGM dan Pemkab Sleman Kembangkan TPS Pengelolaan Sampah dengan Teknologi Penghilang Bau https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkab-sleman-kembangkan-tps-pengelolaan-sampah-dengan-teknologi-penghilang-bau/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkab-sleman-kembangkan-tps-pengelolaan-sampah-dengan-teknologi-penghilang-bau/#respond Mon, 14 Aug 2023 10:58:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58405 Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Sinduadi meresmikan  TPS Terintegrasi Sinduadi Gumregah Gayeng Regeng di Kelurahan  Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/8). Pembukaan TPS Terintegrasi mandiri ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, yang disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM, Dr. […]

Artikel UGM dan Pemkab Sleman Kembangkan TPS Pengelolaan Sampah dengan Teknologi Penghilang Bau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Sinduadi meresmikan  TPS Terintegrasi Sinduadi Gumregah Gayeng Regeng di Kelurahan  Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/8). Pembukaan TPS Terintegrasi mandiri ini ditandai pembukaan selubung papan nama oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, yang disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, dan Kepala Dinas Lingkungan HiduP Pemda DI, Kuncoro Cahyo Adi.

Kepada wartawan, Bupati Sleman mengatakan TPS Terintegrasi Mandiri ini merupakan hasil kerja sama dengan kampus UGM sebagai percontohan dalam pengelolaan sampah mandiri di kelurahan Sleman. “Kita  ingin sampah bisa dikelola dan diselesaikan di tingkat kelurahan. TPS ini menjadi pilot project di kelurahan Sleman,” ungkapnya.

Bupati sangat mengapresiasi ide dan hasil inovasi dari kerja sama antara pemerintah desa dengan berkolaborasi dengan UGM sehingga menghasilkan teknologi dalam pengelolaan sampah secara mandiri. “Kita harus berani melakukan inovasi dan mendekatkan hal ini dengan adanya dampak peningkatan perekonomian dari badan usaha kelurahan masing-masing,” katanya.

Sementara Ari Sujito menuturkan UGM memberikan perhatian khusus pada persoalan sampah yang menjadi isu yang hanya dalam beberapa minggu terakhir karena sempat ditutupnya TPA Piyungan.

“Sampah menjadi perhatian kita untuk bersama-sama memecahkan masalah itu bahkan bisa memunculkan inovasi yang tumbuh antara kampus dan komunitas,” ujarnya.

Ditutupnya TPA Piyungan menurutnya bisa menjadi momentum bagi pemda dan pemerintah kelurahan untuk bergerak bersama-sama dengan akademisi untuk menyelesaikan masalah pengelolaan sampah agar bisa diselesaikan di tingkat desa secara mandiri.

Lurah Sinduadi, Senen, bercerita dibangunnya TPS terintegrasi mandiri di Kelurahan Sinduadi sudah muncul sejak 2019, namun adanya kendala dari sisi pendanaan sehingga akhirnya bisa dibangun pada tahun 2023 dengan bekerja sama dengan akademisi UGM. Meski kapasitas pengelolaan sampah ini hanya seperempat dari target 18 ton sampah yang bisa dikelola setiap hari, namun ia bersyukur TPST ini mulai bisa beroperasi. “Kami merencanakan 18 ton per hari akan bisa tercapai 2-4 bulan mendatang dan kita harapkan Sinduadi bisa zero sampah,” ujarnya.

Dosen Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, Ir. Wiratni, M.T., Ph.D., mengatakan salah satu teknologi yang dikembangkan dalam pengelolaan sampah mandiri di Sinduadi ini adanya aplikasi teknologi penghilang bau. Menurut Wiratmi munculnya bau menyengat dari sampah disebabkan banyaknya kandungan air dalam sampah yang sudah terkontaminasi bakteri. “Kita buat teknologi untuk memeras cairan dalam sampah yang biasa kandungan airnya bisa mencapai 70 persen,” jelasnya.

Teknologi lain yang dikembangkan dalam adalah cairan sampah yang masuk ke mesin bioreaktor untuk diubah menjadi pupuk cair diolah dengan kondisi tertutup sehingga mampu mengurangi bau. “Keuntungan lainnya volume padat bisa lebih kecil sehingga kita tidak perlu ruangan lebih besar untuk kelola sampah jadi kompos atau maggot. Kita juga memasukkan teknologi aerasi dengan memasukkan oksigen sehingga bisa menghasilkan pupuk cair secara cepat dan baik  dan tidak meninggalkan bau,” pungkasnya.

 

Penulis : Gusti Grehenson

Foto.     : Firsto

 

Artikel UGM dan Pemkab Sleman Kembangkan TPS Pengelolaan Sampah dengan Teknologi Penghilang Bau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkab-sleman-kembangkan-tps-pengelolaan-sampah-dengan-teknologi-penghilang-bau/feed/ 0
Atasi Sampah, UGM Kenalkan Teknologi Pengolahan Sampah Organik Pada Masyarakat https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-sampah-ugm-kenalkan-teknologi-pengolahan-sampah-organik-pada-masyarakat/ https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-sampah-ugm-kenalkan-teknologi-pengolahan-sampah-organik-pada-masyarakat/#respond Mon, 07 Aug 2023 06:57:29 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58149 Sampah masih menjadi persoalan besar bagi masyarakat. Pengelolaan sampah pun menjadi sangat penting untuk mengurai persoalan tersebut. Fakultas Biologi UGM berupaya mengenalkan sejumlah teknologi sederhana untuk mengolah limbah rumah tangga, khususnya organik. Teknologi ini harapannya nanti dapat dipraktikan oleh masyarakat. Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, menyebutkan sejak tahun 2017 silam Fakultas Biologi […]

Artikel Atasi Sampah, UGM Kenalkan Teknologi Pengolahan Sampah Organik Pada Masyarakat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sampah masih menjadi persoalan besar bagi masyarakat. Pengelolaan sampah pun menjadi sangat penting untuk mengurai persoalan tersebut.

Fakultas Biologi UGM berupaya mengenalkan sejumlah teknologi sederhana untuk mengolah limbah rumah tangga, khususnya organik. Teknologi ini harapannya nanti dapat dipraktikan oleh masyarakat.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi S. Daryono, menyebutkan sejak tahun 2017 silam Fakultas Biologi UGM telah menangani persoalan sampah organik dengan beragam pendekatan. Pendekatan yang digunakan adalah pengolahan sampah melalui vermicomposting, pupuk cair organik (poc), eco enzim, pengomposan, serta pemakaian biofertilizer dari urine ternak.

“Persoalan sampah ini kan berasal dari diri kita sendiri sehingga harus diselesaikan sendiri. Kami di Biologi UGM setiap hari mengolah minimal 25 kilogram sampah organik. Dari pegalaman pengelolaan sampah, metode yang dipakai kita bagikan dengan harapan bisa membantu dalam menjaga kebersihan dan keberlangsungan lingkungan,” paparnya, Senin (7/8) saat membuka pelatihan Pengolahan Sampah di Fakultas Biologi UGM.

Upaya pengelolaan sampah dengan perpektif ramah lingkungan dan berkelanjutan yang digencarkan UGM ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Dengan pengelolaan sampah berkelanjutan dapat meningkatkan kehidupan yang lebih sehat (SDGs 3), mengurangi pencemaran limbah sampah yang berdampak pada ketersediaan air bersih dilingkungan (SDGs 6), bentuk tanggung jawab atas konsmusi dan produksi yang dilakukan (SDGs 12), serta penanganan perubahan iklim akibat dampak emisi gas rumah kaca dari timbunan asampah organik (SDGs 13). Tak hanya itu,  pengelolaan sampah berkelanjutan juga berkontribusi dalam mewujdukan kota berkelanjutan (SDGs 11), melestarikan ekosistem lautan (SDGs 14) dan eksostem daratan (SDGS 15).

Pelatihan pengolahan sampah diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari rumah sakit dan pesantren. Mereka tergabung dalam gerakan Sambatan Jogja (SONJO). Selama tiga hari 7-9 Agustus 2023 para peserta mengikuti pelatihan pengelolaan sampah organik di Fakultas Biologi UGM dan pengelolaan sampah anorganik di Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

Dalam pelatihan pengelolaan sampah organik di Fakultas Biologi UGM, peserta mendapatkan pemaparan tentang cara pengolahan sampah menjadi pupuk dengan memanfaatkan biofertilizer. Pemaparan dilakukan oleh Dosen Fakultas Biologi UGM, Dwi Umi Siswanti, S.Si., M.Si. Ia menjelaskan dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos memanfaatkan sembilan spesies mikrobia. Penambahan biofertilizer menjadikan proses degradasi berlangsung lebih cepat dibanding cara konvensional.

“Prosesnya tidak terlalu lama, yang biasanya butuh waktu 2 minggu bahkan lebih. Namun, dengan penambahan biofertilizer proses komposting bisa lebih cepat,” jelasnya.

Cara aplikasi biofertilizer pun tergolong sederhana. Cukup dengan mengencerkan  biofertilizer dengan rasio biofertilizer dan air 1:11. Selanjutnya cairan dimasukan ke dalam sprayer lalu disemprotkan ke sampah yang sudah dicacah kemudian ditutup terpal. Setiap dua hari sekali terpal dibuka dan sampah cacah dibalik kemudian ditutup kembali. Hal tersebut terus diulang sampai 2 minggu dan setelah itu pupuk kompos siap untuk dikeringkan atau diangin-anginkan kemudian diayak untuk siap dikemas.

“Proses komposting ini efisien dan ramah lingkungan. Sampah bisa diubah jadi kompos maupun pupuk cair yang kaya nutrisi,”terangnya.

Sementara Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., memaparkan tentang pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik cair dengan metode vermicomposting dengan maggot yang berasal dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF). Untuk memproduksi pupuk organik cair, sisa makanan yang dihasilkan rumah tangga dimasukan dalam digester dalam bentuk ember tumpuk. Selanjutnya limbah organik rumah tangga tersebut difermentasi menggunakan maggot BSF.

“BSF ini bisa mempercepat degradasi sampah sehingga fermentasi lebih cepat dan efektif,”urainya.

Soenarwan Heri Poerwanto, S.Si., M.Kes., dalam kesmepatan itu menyampaikan tentang metode vermicomposting dengan menggunakan cacing tanah. Sampah organik dari limbah pertanian, perkebunan, maupun peternakan bisa diolah menjadi pupuk organik dengan menambahkan cacing tanah sebagai agen untuk mendegradasi sampah yang ada.

Pembuatan pupuk tergolong mudah. Pertama, limbah organik dihancurkan menjadi partikel kecil terlebih dahulu. Lalu, disebar di tempat rata dengan ketinggian antara 20-30 cm untuk ditaburkan cacing tanah. Upayakan kondisinya media dalam keadaan lembab saat dimasukkan cacing tanah.

“Cacing tanah ini memiliki kemampuan degradasi sampah organik dalam 24 jam seberat berat tubuh. Hasilnya adalah granul dari cacing tanah yang bisa dipakai menjadi pupuk,” ungkapnya.

Kelebihan dari metode ini, dikatakan Heri, pupuknya dapat digunakan di bidang pertanian. Sementara biomassa cacing tanah bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein di bidang perikanan dan peternakan sebagai campuran pakan ikan maupun ternak.

Sementara Founder Sonjo yang juga Dosen FEB UGM, Rimawan Pradiptyo, menjelaskan pelatihan pengelolaan sampah  bagi relawan SONJO ini sebagai bentuk peran aktif UGM dalam menangani persoalan kedaruratan sampah. Warga DIY khususnya Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta mengalami darurat sampah akibat penutupan TPA Regional Piyungan pada 23 Juli 2023 lalu. Melihat hal tersebut SONJO pun bergerak dan hadir untuk berkontribusi bagi  warga dengan mendorong pemilihan dan pemilahan sampah yang dapat dilakukan di level rumah tangga dan dasawisma. Salah satunya dengan memberikan perlatihan pengelolaan sampah.

 

Penulis/Foto: Ika

Artikel Atasi Sampah, UGM Kenalkan Teknologi Pengolahan Sampah Organik Pada Masyarakat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/atasi-sampah-ugm-kenalkan-teknologi-pengolahan-sampah-organik-pada-masyarakat/feed/ 0
Cara UGM Mengatasi Persoalan Sampah https://ugm.ac.id/id/berita/cara-ugm-mengatasi-persoalan-sampah/ https://ugm.ac.id/id/berita/cara-ugm-mengatasi-persoalan-sampah/#respond Tue, 25 Jul 2023 14:57:00 +0000 https://ugm.ac.id/?p=57768 Imbas penutupan Tempat pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan di Kabupaten Bantul, DIY mulai dirasakan oleh warga Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Tumpukan sampah terlihat menggunung di beberapa sudut jalan sejak ditutupnya TPA Regional Piyungan sejak 23 Juli 2023 lalu. Upaya mengolah dan mengelola sampah dengan segera perlu dilakukan guna mengurangi penumpukan sampah. Universitas […]

Artikel Cara UGM Mengatasi Persoalan Sampah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Imbas penutupan Tempat pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan di Kabupaten Bantul, DIY mulai dirasakan oleh warga Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Tumpukan sampah terlihat menggunung di beberapa sudut jalan sejak ditutupnya TPA Regional Piyungan sejak 23 Juli 2023 lalu.

Upaya mengolah dan mengelola sampah dengan segera perlu dilakukan guna mengurangi penumpukan sampah. Universitas Gadjah Mada pun mengembangkan strategi pengolahan sampah secara mandiri dan berwawasan lingkungan. Hal menjadi komitmen UGM dalam menyukseskan program pemerintah dalam mewujdukan terbentuknya kota berkelanjutan seperti dalam rencana aksi SDGs poin ke-11 dengan salah satu indikator kota berkelanjutan adalah pengelolaan sampah solid yang baik.

Salah satu langkah yang dilakukan UGM dalam pengelolaan sampah secara mandiri adalah pengembangan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi kompos sejak 2011 silam di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM, di Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Lalu, pada tahun 2016 mendirikan Rumah Inovasi Daur Ulang (RinDU) yang menjadi laboratorium daur ulang sampah dan limbah dengan konsep pengolahan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Adapun pengeloaaan sampah dilakukan dengan beberapa metode yakni metode komposting untuk pengolahan sampah organik menjadi pupuk, metode pirolisis untuk pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar dan mengguankan incinerator untuk pengolahan sampah yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Mengurai persoalan limbah masker dan sarung tangan plastik selama pandemi Covid-19, PIAT UGM berkolaborasi dengan sejumlah mitra juga membuat sistem pengelolaan limbah untuk meminimalkan dampak limbah ke lingkungan. Sistem tersebut adalah Dropbox-Used Mask (Dumask) bertujuan menyediakan jalur pembuangan masker dan sarung tangan bekas dari masyarakat umum yang aman dan ramah lingkungan. Dropbox diletakkan di sejumlah lokasi lalu petugas akan mengambil sampah medis untuk dihancurkan dengan pemanasan bersuhu tinggi (pirolisis).

Beragam terobosan dan inovasi mengedepankan teknologi untuk mengurai persoalan sampah dan limbah juga dikembangkan oleh sivitas UGM. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Teknik UGM mengembangkan mesin pencacah plastik yang bisa dipakai sebagai bahan campuran aspal. Inovasi tersebut lahir dari tangan Muslim Mahardika yang melibatan peneliti lainnya di Fakultas Teknik, yakni Prof. Nizam, Rachmat Sriwijaya, Sigiet Haryo Pranoto, dan Fajar Yulianto Prabowo. Mesin pencacah plastik kresek ini dibuat pada awal 2018 silam untuk mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai tambah, termasuk mengurangi sampah plastik yang ada di masyarakat. Hasil cacahan plastik tersebut sebagai bahan daur ulang plastik yang digunakan oleh pabrik daur ulang plastik  dan juga sebagai bahan campuran aspal.

Inovasi lain yang dikembangkan peneliti UGM adalah Biogas Power Plant Gamping yang ada di Pasar Buah Gemah Ripah, Gamping, Yogyakarta. Instalasi ini dibangun pada 2011 lalu Waste Refinery Center UGM bersama dengan Koperasi Gemah Ripah Gamping, Pemda Sleman, serta Pemerintah Swedia untuk mengolah sampah buah di pasar tersebut menjadi biogas sekaligus mengurangi pembuangan sampah yang akan dibawa ke TPA Piyungan. Lewat pengolahan sampah buah menjadi biogas mampu membangkitkan listrik yang dimanfaatkan oleh pedagang pasar di kawasan tersebut.

Berikutnya, inovasi untuk mengatasi soal sampah dikembangkan oleh mahasiswa Fakultas Biologi UGM Rania Naura Anindhita. Ia membuat sebuah formula untuk menetralkan bau sampah dengan memanfaatkan air lindi atau cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan di tumpukan sampah bernama Eco Lindi. Inovasi yang dikembangkan Rania turut memberikan alternatif solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), UGM membantu masyarakat untuk mengelola sampah rumah tangga. Dalam tahap awal program ini dilakukan di sekitar kampus UGM dan natinya akan digerakkan secara lebih luas di berbagai daerah di tanah air. Dalam program ini mahasiswa membantu warga dalam mengelola sampah yang baik di tingkat desa sebelum dibuang ke TPA. Pengelolaan sampah dilakukan dengan  memperhatikan karakteristik dan keunikan masyarakat di wilayah masing-masing.

Penulis: Ika

Foto: detik.com

Artikel Cara UGM Mengatasi Persoalan Sampah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cara-ugm-mengatasi-persoalan-sampah/feed/ 0