PSE UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/pse-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 19 Aug 2024 08:51:20 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 UGM dan University Groningen Kaji Potensi Hidrogen dalam Transisi Energi di Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-groningen-kaji-potensi-hidrogen-dalam-transisi-energi-di-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-groningen-kaji-potensi-hidrogen-dalam-transisi-energi-di-indonesia/#respond Mon, 19 Aug 2024 08:51:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69591 Hidrogen merupakan unsur yang paling banyak di bumi. Ketersediaan hidrogen yang melimpah ini ternyata menyimpan potensi energi sebagai sumber tenaga. Beberapa negara maju sudah mulai melakukan riset dan mengadaptasi penggunaan hidrogen sebagai sumber daya energi terbarukan. Indonesia juga sudah mulai melakukan persiapan untuk transisi menuju energi terbarukan. Soal potensi hidrogen di tanah air ini tengah […]

Artikel UGM dan University Groningen Kaji Potensi Hidrogen dalam Transisi Energi di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hidrogen merupakan unsur yang paling banyak di bumi. Ketersediaan hidrogen yang melimpah ini ternyata menyimpan potensi energi sebagai sumber tenaga. Beberapa negara maju sudah mulai melakukan riset dan mengadaptasi penggunaan hidrogen sebagai sumber daya energi terbarukan. Indonesia juga sudah mulai melakukan persiapan untuk transisi menuju energi terbarukan. Soal potensi hidrogen di tanah air ini tengah menjadi bahan riset dan kajian dari Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University Groningen.

Rektor Universitas GM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan energi hidrogen adalah energi yang potensial sebagai energi dengan kepadatan tinggi, tetapi menghasilkan karbon yang rendah. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa implementasi hidrogen, utamanya di Indonesia masih memiliki sejumlah kendala, misalnya biaya hidrogen yang masih mahal dan permasalahan logistik. Sehingga diperlukan banyak kolaborasi riset terkait pengembangan bidang teknologi ini. “Kami di UGM berkomitmen untuk secara aktif melakukan riset teknologi hidrogen,” kata Rektor saat membuka kegiatan kursus musim panas ini mengusung tema “Hydrogen’s Role in Energy Transition: Perspective and Challenges”. Kali ini, PSE UGM bersinergi dengan University of Groningen untuk mengadakan kursus yang dirancang untuk memberikan wawasan mendalam dan inovatif tentang energi hidrogen.

Tim Ahli PSE UGM Prof. Dr. Eng. Deendarlianto, S.T., M.Eng., menuturkan bahwa PSE UGM tengh mengembangakan hydrogen valley atau ekosistem yang bermanfaat dengan energi hidrogen di sekitar kampus UGM. Penerapan ekosistem merupakan sebuah kolaborasi jangka panjang yang meliputi meliputi pengembangan, produksi, dan penyimpanan energi hidrogen. “Pengembangan teknologi ini juga harus diikuti dengan pendekatan multidisiplin sehingga dapat membantu pemerintah dalam pengimplementasian hidrogen di Indonesia,” ujarnya.

Perwakilan University of Groningen, Prof. Bayu Jayawardhana menerangkan penggunaan teknologi hidrogen dalam satu dekade akhir ini yang mulai marak diterapkan di beberapa negara, salah satunya Belanda. Melalui kerja sama antara UGM dan University of Groningen akan sangat membantu penerapan energi hidrogen. “Pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki di Groningen dapat membantu penerapan dengan kasus yang unik di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Atase Pendidikan Belanda di Kedutaan Belanda di Jakarta, Yvonne Klerks, M.Sc. juga turut menyebut pentingya penggunaan tenaga hidrogen di Belanda. Ia menyebut Belanda sebagai pengguna terbesar hidrogen setelah Jerman. Dedikasi Belanda ini juga turut ditandai dengan persetujuan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda pada G20 2020 lalu untuk memerangi krisis iklim.

Dalam kesempatan itu, Yvonne sebagai perwakilan Pemerintah Belanda dalam kegiatan ini mengapresiasi kerja sama pendidikan antara perguruan tinggi di Indonesia dan Belanda dalam bidang riset ini. “Semoga kegiatan ini dapat mendukung kolaborasi riset dan pendidikan antara Belanda dan Indonesia,” ucapnya.

Kepala PSE UGM Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU., mengatakan hidrogen sebagai sumber energi yang potensial. melalui kerja sama dengan Universitas Groningen bisa memberikan kesempatan adanya transfer pengetahuan antara UGM dan Groningen soal pemanfaatan energi hidrogen. “Melalui kursus ini akan dibagi menjadi dua sorotan, yaitu mengkaji hidrogen dari aspek kebijakan dan aspek teknologi,” ujarnya.

Kegiatan summer course akan dilaksanakan pada 19—23 Agustus 2024 ini dirancang untuk memberikan wawasan mendalam dan inovatif tentang energi hidrogen. Pada hari pertama dan kedua, peserta akan diajak untuk mendalami potensi hidrogen sebagai energi bersih dan strategi kebijakan untuk ekosistem hidrogen yang berkelanjutan. Hari ketiga sampai hari terakhir, nantinya peserta akan berfokus pada inovasi penelitian dan teknologi terbaru dalam produksi dan aplikasi hidrogen, serta membahas tantangan dan solusi yang dihadapi. “Selama lima hari ini, peserta akan mendapatkan kesempatan untuk belajar dari para ahli internasional dan nasional, serta membangun jaringan dengan akademisi dan praktisi di bidang energi hidrogen,” kata Prof. Sarjiyo.

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Artikel UGM dan University Groningen Kaji Potensi Hidrogen dalam Transisi Energi di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-university-groningen-kaji-potensi-hidrogen-dalam-transisi-energi-di-indonesia/feed/ 0
UGM Kenalkan Teknologi Desalinasi Tenaga Surya Atasi Kelangkaan Air Bersih di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kenalkan-teknologi-desalinasi-tenaga-surya-atasi-kelangkaan-air-bersih-di-wilayah-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kenalkan-teknologi-desalinasi-tenaga-surya-atasi-kelangkaan-air-bersih-di-wilayah-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil/#respond Sat, 25 May 2024 05:23:01 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-kenalkan-teknologi-desalinasi-tenaga-surya-atasi-kelangkaan-air-bersih-di-wilayah-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil/ Universitas Gadjah Mada (UGM), diwakili oleh peneliti Pusat Studi Energi, Pusat Studi Lingkungan Hidup, Fakultas Teknik dan Fakultas Geografi bekerja sama dengan Artha Graha Peduli (AGP) dan Forum Peduli Mangrove Bali (FPM-B) menggelar workshop Side Event World Water Forum (WWF) ke-10 yang bertajuk “Water-Energy Nexus, Achieving SDGs” di Telaga Waja, di Tanjung Benoa Mangrove Rehabilitation […]

Artikel UGM Kenalkan Teknologi Desalinasi Tenaga Surya Atasi Kelangkaan Air Bersih di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada (UGM), diwakili oleh peneliti Pusat Studi Energi, Pusat Studi Lingkungan Hidup, Fakultas Teknik dan Fakultas Geografi bekerja sama dengan Artha Graha Peduli (AGP) dan Forum Peduli Mangrove Bali (FPM-B) menggelar workshop Side Event World Water Forum (WWF) ke-10 yang bertajuk “Water-Energy Nexus, Achieving SDGs” di Telaga Waja, di Tanjung Benoa Mangrove Rehabilitation Area, Bali, Kamis (23/5).

Kegiatan ini diikuti oleh peserta 6 negara diantaranya dari Pakistan, Nigeria, Malaysia, Filipina, Slovakia, Indonesia. Dalam workshop tersebut menghadirkan tiga orang pembicara yakni peneliti Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Dr. Rachmawan Budiarto, Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) dan Fakultas Geografi UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, M.Sc., Ir. Novias Nurendra selaku Senior Advisor PT Hutama Karya dan Ir. Nyoman Sweet Juniartini dari Forum Peduli Mangrove-Bali yang dipandu oleh Dr. Intan Supraba dosen Fakultas Teknik UGM.

Lintang mengatakan cakupan layanan air minum di Indonesia sekarang ini telah mencapai 91,05% dan akses terhadap sanitasi telah meningkat sebesar 80,92%, namun masih banyak daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah pesisir masih memiliki keterbatasan akses terhadap air bersih dan air minum.

“Pulau-pulau kecil seringkali menghadapi tantangan penyediaan air bersih dan air minum,” ungkap peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada, Dr. Lintang Nur Fadlillah.

Rachmawan Budiarto mengenalkan teknologi desalinasi air dengan tenaga solar panel atau dikenal dengan nama Photovoltaics Sea Water Reverse Osmosis (PV-SWRO). Menurutnya, konsep desalinasi merupakan pilihan yang makin perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan air minum karena fitur teknologinya. “Kombinasi teknologi SWRO dan produksi energi menggunakan teknologi bertenaga surya saat ini telah tersedia di pasar untuk diterapkan di wilayah pesisir,“ terangnya.

Penggunaan teknologi PV-SWRO ini akan diterapkan di pulau-pulau melalui SALT Project dengan gagasan penyelarasan Water-Energy Nexus. Menurut Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM ide dari proyek ini adalah memasok air minum dengan jumlah yang cukup dan kualitas air baik, dengan didukung oleh energi terbarukan dan dengan harga terjangkau. “Proyek ini juga menekankan pendekatan transdisiplin dalam menawarkan solusi,” katanya.

Dikatakan Rachmawan, pelaksanaan proyek ini bertujuan untuk menerapkan teknologi PV-SWRO ke pulau-pulau terpencil terpilih di Indonesia, memastikan keberlanjutan operasional dan finansial proyek, serta akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Workshop yang dihadiri puluhan peserta dari enam negara ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan baru dari para pegiat muda Indonesia dan luar negeri dalam penyelesaian permasalahan air terutama di pulau kecil dan wilayah kering lainnya. Workshop ini juga berupaya untuk memperkuat dan meluaskan kolaborasi internasional.

Workshop ini dihadiri oleh Bapak I Ketut Subandi selaku Kepala UPTD Tahura Bali dan ditinjau oleh Duta Besar Indonesia untuk UNESCO. Pemilihan lokasi workshop di area mangrove untuk memberikan pesan kepada peserta tentang pentingnya mangrove sebagai coastal protection, mengurangi seawater intrusion, meningkatkan kualitas air yang mana mangrove mampu menyerap nutrisi seperti nitrogen dan phospat penyebab algae bloom termasuk sedimen, dan juga mitigasi perubahan iklim.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel UGM Kenalkan Teknologi Desalinasi Tenaga Surya Atasi Kelangkaan Air Bersih di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kenalkan-teknologi-desalinasi-tenaga-surya-atasi-kelangkaan-air-bersih-di-wilayah-pesisir-dan-pulau-pulau-kecil/feed/ 0
UGM dan Pemkot Makassar Kerja Sama Menekan Emisi Karbon https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkot-makassar-kerja-sama-menekan-emisi-karbon/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkot-makassar-kerja-sama-menekan-emisi-karbon/#respond Wed, 15 May 2024 04:33:19 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-dan-pemkot-makassar-kerja-sama-menekan-emisi-karbon/ Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kota Makassar sepakat menjalin kerja sama terkait pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kerja sama yang secara spesifik terkait Pengembangan Kota Rendah Emisi Karbon ditandatangani oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D dan Wali Kota Makassar, Ir. Moh. Ramadhan Pomanto, di UC UGM, Selasa (15/5). Kerja sama ini dilatarbelakangi kenyataan […]

Artikel UGM dan Pemkot Makassar Kerja Sama Menekan Emisi Karbon pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kota Makassar sepakat menjalin kerja sama terkait pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kerja sama yang secara spesifik terkait Pengembangan Kota Rendah Emisi Karbon ditandatangani oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D dan Wali Kota Makassar, Ir. Moh. Ramadhan Pomanto, di UC UGM, Selasa (15/5).

Kerja sama ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa pada bulan Mei 2024 sejumlah negara ASEAN mengalami gelombang panas. Hal ini tentunya berdampak pada penurunan produktivitas masyarakat, mulai dari ditutupnya sekolah, dibatasinya aktivitas warga, hingga yang terburuk adalah mengakibatkan kematian.

Kenaikan suhu lingkungan ini tidak dapat dihindari sebagai salah satu akibat dari perubahan iklim yang disebabkan oleh semakin tingginya emisi karbon di bumi. Dampak perubahan iklim di perkotaan maupun pedesaan inipun terus dianalisis oleh peneliti Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan institusi lainnya. Hal ini juga menjadi bagian tujuan besar, yaitu membangun solusi komprehensif terhadap berbagai tantangan dalam pembangunan berkelanjutan daerah tropis.

Ova Emilia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Makassar atas kepercayaan dan kesempatan untuk bersama membangun kemitraan sehingga keduanya bisa saling belajar. Melihat keberhasilan Pemerintah Kota Makassar dalam menjalan program menekan emisi karbon mengundang minat UGM untuk mengunjungi Kota Makassar.

“Mendengar penjelasan dari Pak Walikota luar biasa. Dalam hati ingin mengunjungi Makassar. Karena apa yang dipraktikan adalah riil, dan saya tahu kota Makassar bukan kota yang mudah diatur,” tuturnya.

Menurut Rektor, konsep yang berhasil di kota Makassar tentunya bisa dipelajari dan direplikasi di tempat lain. Keberhasilan mengembangkan sebagai kota rendah emisi karbon, menurutnya bukan hanya model atau skemanya tetapi bagaimana hal tersebut menjadi sebuah gerakan luar biasa yang berasal dan bersumber dari masyarakat.

“Hal itulah yang sangat diapresiasi membuat gerakan di kota Makassar terus berlanjut, dan bertahan lebih dari 8 tahun. Bagi PSE UGM saya kira ini suatu pekerjaan rumah, bukan hanya menshare bukti-bukti knowledge tetapi juga perlu dicontoh bagaimana menurunkan karbon dengan berbagai cara,” katanya.

Dari kerja sama ini diharapkan keduanya secara bersama bisa mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing. Keduanya bisa saling menyinergikan agar bisa saling mengisi memberi kemanfaatan bagi banyak pihak dalam lingkup tridarma perguruan tinggi.

“Bagaimanapun dampak perubahan iklim menjadi perhatian global dan terus menjadi kajian dari pada peneliti, termasuk peneliti di UGM, ITB yang tentunya kerja sama dengan banyak institusi diperlukan untuk membangun solusi kompehensif,” imbuhnya.

Moh. Ramadhan Pomanto menambahkan menurunkan emisi karbon adalah sebuah program yang harus dilakukan. Hal ini bukan tentang Makassar bukan tentang Jogja bukan tentang Indonesia tetapi tentang dunia yang menghadapi persoalan kenaikan suhu yang sudah mencapai 1,4 sekian derajat.

“Hari ini dunia memiliki komitmen jangan lewat 1,5 derajat. Nah ini sebuah komitmen yang bukan hanya lokalis bukan hanya nasionalis tapi globalisasi seluruh dunia sehingga kerja sama ini menjadi gerakan yang sangat menarik,” ungkapnya.

Menurutnya mewujudkan kota rendah karbon bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga tentang perubahan perilaku masyarakat. Ia mencontohkan bahwa di Makassar, perubahan perilaku dimulai dari lorong-lorong kota yang menjadi ruang kecil dari sel kota.

“Persoalan emisi karbon ini intinya adalah perilaku manusia. Semua ini terjadi karena perilaku manusia,” tegas Danny panggilan akrab Walikota.

Di Makassar, lorong-lorong diubah menjadi lorong wisata dengan adanya Public Engagement dan Protokol Sentuh Hati. Pemerintah mengintervensi dengan menyediakan bibit sayur atau perikanan, yang kemudian berkembang menjadi sirkulasi ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan menjadikan lingkungan hijau.

Danny juga menjelaskan tentang restrukturisasi sosial di Makassar yang melibatkan institusi baru untuk mengengage masyarakat, yaitu Bassi Barania, yang terdiri dari local influencer dan Dewan Lorong dengan tiga komponen: Karismatik Leader, Woman Leader, dan Millennial Leader.

Menurut Danny upaya merendahkan emisi karbon diperlukan perencanaan matang, kepemimpinan yang kuat, keterlibatan publik, dan evaluasi yang berkelanjutan. Ia juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kolaborasi dan menyempurnakan upaya Makassar serta kota lainnya menuju kota rendah karbon.

Penulis: Agung Nugroho

Fotografer: Donnie

 

Artikel UGM dan Pemkot Makassar Kerja Sama Menekan Emisi Karbon pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemkot-makassar-kerja-sama-menekan-emisi-karbon/feed/ 0