perubahan iklim Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/perubahan-iklim/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 24 Jan 2025 08:45:22 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kebakaran Hutan di California Meluas, Pakar UGM Sebut Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim https://ugm.ac.id/id/berita/kebakaran-hutan-di-california-meluas-pakar-ugm-sebut-akibat-deforestasi-dan-perubahan-iklim/ https://ugm.ac.id/id/berita/kebakaran-hutan-di-california-meluas-pakar-ugm-sebut-akibat-deforestasi-dan-perubahan-iklim/#respond Fri, 24 Jan 2025 08:42:32 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75146 Kebakaran lahan di Los Angeles, California Selatan, Amerika Serikat (AS) yang melanda sejak 7 Januari lalu masih belum juga selesai dipadam bahkan cenderung meluas akibat angin kencang. Pemerintah setempat telah melakukan evakuasi lebih dari 180 ribu orang dan menelan korban setidaknya 28 orang yang meninggal, ribuan rumah puluhan ribu hektar lahan hangus terbakar. Bahkan baru-baru […]

Artikel Kebakaran Hutan di California Meluas, Pakar UGM Sebut Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebakaran lahan di Los Angeles, California Selatan, Amerika Serikat (AS) yang melanda sejak 7 Januari lalu masih belum juga selesai dipadam bahkan cenderung meluas akibat angin kencang. Pemerintah setempat telah melakukan evakuasi lebih dari 180 ribu orang dan menelan korban setidaknya 28 orang yang meninggal, ribuan rumah puluhan ribu hektar lahan hangus terbakar. Bahkan baru-baru ini, kebakaran hutan juga terjadi di utara Los Angeles seluas 8000 hektar lahan sehingga dilakukan evakuasi lebih dari 19 ribu orang.

Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Prof. Priyono Suryanto, S.Hut., M.P., Ph.D., menuturkan bencana kebakaran hutan di Los Angeles ini menjadi peringatan bagi masyarakat dunia bahwa dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global akibat deforestasi sangat nyata. “Kebakaran hutan di California, tidak bisa dibaca dengan menggunakan satu sudut pandang sehingga faktornya tidak tunggal, namun sudah akumulasi komplek kehidupan super modern,” kata Priyono, Jumat (24/1).

Di kehidupan modern, kata Priyono,  infrastruktur alam seperti keberadaan sungai, anak sungai, performa bukit, ruang khusus habitat, ruang tumbuh selalu diabaikan. Sebaliknya justru dibangun adalah infrastruktur modern dengan menegasikan infrastruktur alam. Padahal, tata kelola hutan dan kehutanan yang mengembalikan poros kehidupan. “Selagi laju deforestasi tidak bisa dikendalikan dan juga dikejar dengan aksi-aksi rehabilitasi maka sebenarnya dengan kesadaran penuh kita sedang menunggu ‘sabda-sabda alam’ dengan adanya bencana semacam ini,”katanya.

Adanya kebakaran hutan dan bencana lainnya seperti banjir, longsor menurutnya Priyono menjadi petunjuk bahwa kehidupan harmoni antara manusia dengan alam seimbang. “Banyaknya ragam bencana alam sudah cukup menjadi alarm bagi tata kehidupan untuk kita kembali harmoni dengan kesemestaan secara utuh,” tegasnya.

Dosen Fakultas Kehutanan ini mengharapkan agar masyarakat, pemerintah, swasta untuk mendukung aksi-aksi mitigasi perubahan iklim untuk menjaga keseimbangan kehidupan manusia dengan hutan.  “Perlu adanya kesadaran global baru yang mendorong aksi kemanusian global yaitu Sedekah Ekologi. Sedekah ekologi selama ini dipinggirkan ekstrimnya selalu diabaikan, seandainya ada itu hanya sebagian kecil saja,” katanya Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI).

Sedekah Ekologi yang dimaksud oleh Priyono tidak sebatas program rehabilitasi lahan atau aksi reboisasi namun diperluas dimana desain arsitektur pembangunan yang dihasilkan memberikan jaminan tumbuh dan berkembangnya instrumen-instrumen alam seperti hutan, sungai dan ruang habitat alam lainnya.

Penulis    : Tiefany

Editor      : Gusti Grehenson

Foto        : Bloomberg dan Times of India

Artikel Kebakaran Hutan di California Meluas, Pakar UGM Sebut Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kebakaran-hutan-di-california-meluas-pakar-ugm-sebut-akibat-deforestasi-dan-perubahan-iklim/feed/ 0
Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Mikroalga untuk Atasi Perubahan Iklim https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-teknologi-mikroalga-untuk-atasi-perubahan-iklim/ https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-teknologi-mikroalga-untuk-atasi-perubahan-iklim/#respond Thu, 27 Jun 2024 06:45:09 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65493 Mikroalga baru-baru ini dikenal dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida. CO2 akan diserap dan diproses melalui metabolisme yang melibatkan protein, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah besar. Selain itu, mikroalga mudah bertahan hidup di daerah berpolusi, suhu ekstrem, bahkan udara beracun. Potensi ini tentunya menarik untuk diteliti lebih lanjut agar bisa mengatasi masalah perubahan iklim di dunia. […]

Artikel Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Mikroalga untuk Atasi Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mikroalga baru-baru ini dikenal dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida. CO2 akan diserap dan diproses melalui metabolisme yang melibatkan protein, lemak, dan karbohidrat dalam jumlah besar. Selain itu, mikroalga mudah bertahan hidup di daerah berpolusi, suhu ekstrem, bahkan udara beracun. Potensi ini tentunya menarik untuk diteliti lebih lanjut agar bisa mengatasi masalah perubahan iklim di dunia. Melihat peluang tersebut, PSE UGM pun berhasil mengembangkan teknologi Microforest 100 berbasis mikroalga ini sebagai bentuk kontribusi terhadap komitmen Net Zero Carbon.

Teknologi ini diinisiasi oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik, Prof. Ir. Arief Budiman, D.Eng. dan Dosen Fakultas Biologi Dr. Eko Agus Suyono. Keduanya merupakan Peneliti Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUIPT) Microalgae Biorefinery UGM melalui program dana pendamping dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui platform Kedaireka tahun anggaran 2022 lalu.

Kedua peneliti ini telah merancang prototipe Algaetree, yakni teknologi dekarbonisasi untuk mengatasi produksi karbon atau CO2 di udara terbuka. Berkat hasil kerja sama dengan startup PT Algatech Nusantara, prototipe tersebut berhasil dikembangkan menjadi produk bernama Microforest 100. Peluncuran instalasi Microforest 100 ini pun diselenggarakan Senin (17/6) di Masjid Raya Syeikh Zayed Solo. Dalam sesi peluncuran tersebut, Rangga Wishesa, CEO Algatech Nusantara menjelaskan cara kerja Microforest 100. “Instalasi setinggi dua meter tersebut berfungsi untuk menyerap karbon di udara dengan teknologi fotobioreaktor,” kata Rangga dalam rilis yang dikirim, Kamis (26/6).

Rangga juga menyebutkan, PT Algatech Nusantara menyambut baik bisa bekerja sama mengembangkan prototipe peneliti UGM. Startup tersebut membantu menambahkan beberapa fitur pelengkap seperti pengembangan desain, fabrikasi dan penambahan alat-alat sensor kondisi kultivasi agar Microforest mampu bekerja secara maksimal.

Menurutnya, sistem di dalam Microforest 100 akan menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, bahkan setara dengan lima pohon dewasa berumur sekitar 15 tahun. Hal ini didasarkan pada kemampuan mikroalga sendiri yang dapat menyerap karbon dioksida 30-50 kali lipat lebih banyak dibanding tanaman terestrial saat ini.

Penempatan pertama Microforest 100 di Masjid Raya Syeikh Zayed dirasa cocok karena tingginya tingkat pengunjung masjid tersebut. Alat ini diletakkan di ruangan terbuka supaya dapat menyerap CO2 yang dihasilkan pengunjung. Direktur Masjid Raya Syeikh Zayed, Munajat, Ph.D., mengatakan masjid bisa saja menjadi salah satu fasilitas publik yang ramai dikunjungi dan menghasilkan banyak emisi karbon. Apalagi, Masjid Raya Syeikh sendiri bisa menerima puluhan ribu pengunjung setiap harinya. “Peluncuran Microforest 100 ini sekaligus memantau sejauh mana mesin bisa bertahan menyerap karbon untuk nantinya menjadi bahan pengembangan lebih lanjut,” katanya.

Sesi peluncuran Microforest 100 dihadiri oleh segenap inovator dari peneliti UGM, Direktur Masjid Raya Syeikh Zayed, perwakilan direksi PT Algatech, serta Wakil Wali Kota Surakarta, Teguh Prakosa. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk melihat teknologi Microforest 100 ini diterapkan pertama kali di masjid Indonesia. Rencananya, jika terbukti efektif menyerap karbon dalam jumlah besar, Microforest 100 akan dikembangkan lebih lanjut untuk diletakkan di tempat-tempat ibadah seperti Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawi.

Menurut Eko Agus Suyono, mikroalga masih memiliki potensi agar dikembangkan menjadi produk olahan lain, seperti bahan bakar bioenergi. Harapannya, potensi tersebut dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas. “Dengan begitu, pengurangan emisi karbon dapat berlangsung secara masif dalam mengatasi perubahan iklim,” tutupnya.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Mikroalga untuk Atasi Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peneliti-ugm-kembangkan-teknologi-mikroalga-untuk-atasi-perubahan-iklim/feed/ 0