pertanian cerdas Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/pertanian-cerdas/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 16 Aug 2024 03:22:05 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Fakultas Pertanian UGM Terima Penghargaan sebagai Mitra Strategis dari Kabupaten Sleman https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-ugm-terima-penghargaan-sebagai-mitra-strategis-dari-kabupaten-sleman/ https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-ugm-terima-penghargaan-sebagai-mitra-strategis-dari-kabupaten-sleman/#respond Fri, 16 Aug 2024 03:22:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69467 Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada memperoleh penghargaan sebagai Mitra Strategis Pengembangan Sumber Daya Manusia Petani Milenial dari Kabupaten Sleman. Penghargaan diberikan langsung oleh Bupati Sleman, Dra. Kustini Sri Purnomo kepada Dody Kastono, S.P., M.P., selaku ketua Tim Pemberdayaan Fakultas Pertanian UGM, di Gedung Serbaguna Sleman belum lama ini dalam acara Akselerasi 1000 Petani Milenial […]

Artikel Fakultas Pertanian UGM Terima Penghargaan sebagai Mitra Strategis dari Kabupaten Sleman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada memperoleh penghargaan sebagai Mitra Strategis Pengembangan Sumber Daya Manusia Petani Milenial dari Kabupaten Sleman. Penghargaan diberikan langsung oleh Bupati Sleman, Dra. Kustini Sri Purnomo kepada Dody Kastono, S.P., M.P., selaku ketua Tim Pemberdayaan Fakultas Pertanian UGM, di Gedung Serbaguna Sleman belum lama ini dalam acara Akselerasi 1000 Petani Milenial Sleman Menuju Hilirisasi Produk Pertanian.

Dengan penghargaan ini, Bupati Sleman berharap agar kelompok petani milenial Kabupaten Sleman dapat berperan besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Ketua Petani Milenial Komda Sleman, Taufiq Mawadani, berharap agar produk petani milenial menjadi produk utama yang dicari di DIY maupun Indonesia, sehingga hilirisasi produk menjadi fokus utama.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian UGM, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P menyatakan petani milenial perlu memahami dan memiliki kemampuan yang cukup dalam pencatatan keuangan usaha pertanian. Hal tersebut tentunya akan dapat dicapai melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services Scaling-Up Intervention (YESS-SI) yang akan dilakukan di Kabupaten Sleman mulai tahun 2025.

“Petani milenial perlu menyadari dan memahami betapa pentingnya pengaturan keuangan usaha pertanian dalam rangka mengatur pencicilan kredit usaha rakyat (KUR). Nantinya, petani milenial yang tergabung dalam program YESS-SI akan mendapatkan fasilitas pelatihan,” ujarnya di Faperta UGM, jumat (15/8).

Menurutnya keterlibatan Fakultas Pertanian UGM dalam pemberdayaan ekonomi petani milenial di Kabupaten Sleman menjadi wujud tingginya komitmen untuk mencapai kehidupan berkelanjutan tanpa Kemiskinan dan menuju pada kehidupan yang sehat dan sejahtera.

Reportase : Hanita Athasari Zain

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Fakultas Pertanian UGM Terima Penghargaan sebagai Mitra Strategis dari Kabupaten Sleman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-ugm-terima-penghargaan-sebagai-mitra-strategis-dari-kabupaten-sleman/feed/ 0
Fakultas Pertanian Kembangkan Rooftop Urban Agriculture Untuk Pangan dan Kota Sehat https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-kembangkan-rooftop-urban-agriculture-untuk-pangan-dan-kota-sehat/ https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-kembangkan-rooftop-urban-agriculture-untuk-pangan-dan-kota-sehat/#respond Thu, 16 May 2024 03:21:57 +0000 https://ugm.ac.id/fakultas-pertanian-kembangkan-rooftop-urban-agriculture-untuk-pangan-dan-kota-sehat/ Inovasi strategis terus diusahakan Fakultas Pertanian UGM. Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, salah satu terobosan yang kemudian dilakukan adalah penerapan rooftop urban agriculture dengan pemanfaatan atap gedung untuk budidaya tanaman buah. Inovasi terbaru ini dilakukan di atap Gedung Rachmiwati Fakultas Pertanian UGM. Penerapan urban agriculture ini dilakukan dengan membuat green house dengan komoditas buah melon. Rektor UGM, Wakil Rektor […]

Artikel Fakultas Pertanian Kembangkan Rooftop Urban Agriculture Untuk Pangan dan Kota Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Inovasi strategis terus diusahakan Fakultas Pertanian UGM. Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, salah satu terobosan yang kemudian dilakukan adalah penerapan rooftop urban agriculture dengan pemanfaatan atap gedung untuk budidaya tanaman buah.

Inovasi terbaru ini dilakukan di atap Gedung Rachmiwati Fakultas Pertanian UGM. Penerapan urban agriculture ini dilakukan dengan membuat green house dengan komoditas buah melon.

Rektor UGM, Wakil Rektor Bidang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dekan Fakultas Kehutanan, Dekan Fakultas Filsafat, Dekan Fakultas Fisipol, dan Dekan Fakultas Geografi didampingi Dekan Fakultas Pertanian berkesempatan mengunjungi sekaligus melakukan panen buah Melon pada hari Rabu (15/5).

Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D selaku Dekan Fakultas Pertanian mengatakan penanaman buah di atap gedung fakultas sebagai wujud pengembangan urban agriculture yang sehat dan menguntungkan.

“Dengan memanfaatkan atap gedung ini diharapkan dapat menjadi bagian dari regenerasi petani dan ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Dia menyampaikan hasil panen buah melon yang ditanam di green house atap dapat mencapai 3-4 kg per buah dengan umur 65 hari semenjak tanam. Hasil ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan ruang yang ada untuk budidaya tanaman dengan perawatan yang tepat tetap bisa menghasilkan tanaman yang subur dan sehat.

Apresiasi disampaikan Rektor, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D. Dia menyampaikan kesannya adanya green house yang dimanfaatkan untuk menanam melon jenis Sweet Hami.

“Ini adalah suatu inisiasi yang bagus sekali untuk memanfaatkan ruang yang dapat digunakan untuk urban farming,” ucapnya.

Rektor berharap inovasi Fakultas Pertanian UGM dapat ditularkan di fakultas-fakultas atau unit-unit di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Dengan model semacam ini diharapkan pemanfaatan ruang di fakultas atau unit-unit lebih maksimal dan menjadi lingkungan yang hijau.

Penulis: Talita Salma

Editor: Desi Utami

Dokumentasi: Media Faperta

 

 

Artikel Fakultas Pertanian Kembangkan Rooftop Urban Agriculture Untuk Pangan dan Kota Sehat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-pertanian-kembangkan-rooftop-urban-agriculture-untuk-pangan-dan-kota-sehat/feed/ 0
Pakar UGM Berpendapat Soal Keinginan Pemerintah Indonesia dan Cina Tanam Padi di Kalimantan https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-berpendapat-soal-keinginan-pemerintah-indonesia-dan-china-tanam-padi-di-kalimantan/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-berpendapat-soal-keinginan-pemerintah-indonesia-dan-china-tanam-padi-di-kalimantan/#respond Mon, 06 May 2024 09:07:34 +0000 https://ugm.ac.id/pakar-ugm-berpendapat-soal-keinginan-pemerintah-indonesia-dan-china-tanam-padi-di-kalimantan/ Pemerintah belum lama berniat akan berkolaborasi dengan Cina dalam pengembangan lahan pertanian di Kalimantan Tengah. Kesepakatan tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dan merupakan hasil pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, dalam forum High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, […]

Artikel Pakar UGM Berpendapat Soal Keinginan Pemerintah Indonesia dan Cina Tanam Padi di Kalimantan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah belum lama berniat akan berkolaborasi dengan Cina dalam pengembangan lahan pertanian di Kalimantan Tengah. Kesepakatan tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dan merupakan hasil pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, dalam forum High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jum’at (19/4).

Bahkan sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, sudah direncanakan untuk pelaksanaan kerja sama bidang pertanian dilakukan di Kabupaten Pulang Pisau. Di Kabupaten Pulang Pisau telah dipersiapkan satu juta hektar lahan sebagai lokasi yang bisa digunakan untuk proyek tersebut.

Terkait program ini, pemerintah berjanji akan ada pelibatan mitra lokal. Dalam hal ini adalah Bulog yang berfungsi sebagai offtaker  dan bertugas menyerap hasil panen dari proyek penanaman padi tersebut.

Bagi Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D., secara teori hal ini tentu akan menjadi sesuatu yang menggembirakan karena teknologi pertanian dari Cina sudah terbukti menghasilkan produktivitas yang tinggi.  Apabila terlaksana tentunya swasembada beras bukan lagi isapan jempol semata.

Meski begitu, menurutnya terdapat kompleksitas sangat besar membahas pertanian di Indonesia. Menurutnya tidak ada pihak yang bisa menggeneralisasi atau menggaransi keberhasilan penanaman padi di Cina juga akan mencapai keberhasilan yang sama di Indonesia.

“Sukses disana belum tentu akan mendapatkan hasil yang sama di Indonesia, dalam hal ini di Kalimantan Tengah. Ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan komoditas pertanian, termasuk kondisi lingkungan seperti iklim, tanah, hama, penyakit, dan aspek sosial masyarakat,” ungkapnya di Kampus UGM, Senin (6/5).

Sebagai ahli sekaligus pengamat di bidang pertanian, agrometeorologi, ilmu lingkungan dan perubahan iklim, ia menyampaikan ada kearifan lokal dalam sektor pertanian yang harus mendapat perhatian. Kearifan lokal ini sangat kental, dan sebagai contoh di sekitar Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal adanya istilah pranata mangsa atau penanggalan Jawa sebagai panduan bagi petani dalam menjalankan aktivitas bercocok tanam.

Kalender Pranata Mangsa disusun berdasarkan pada peredaran Matahari dan diwariskan secara lisan serta bersifat lokal dan temporal sehingga suatu perincian yang dibuat untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat atau lokasi lain. Biasanya pranata mangsa ini digunakan petani sebagai pedoman untuk menentukan awal masa tanam.

“Dari sisi cara budi daya juga berbeda, hal ini juga tidak terlepas dari kondisi lingkungan setempat. Sebagai contoh, untuk daerah dengan kondisi tanah yang memiliki pH tinggi atau basa, sehingga untuk menjadikan lahan tersebut bisa ditanami dengan kondisi ideal, harus dilakukan treatment untuk menurunkan pH tersebut menjadi lahan ideal atau standar,” katanya.

Belum lagi menyangkut dengan skala yang lebih sempit dalam satu hamparan, antara petak satu dengan petak lain terkadang berbeda. Ada petak sawah yang lebih subur, dan ada petak sawah lainnya yang kurang subur.

Hal ini semacam ini, menurutnya juga dipengaruhi cara budi daya petani di masing-masing petak tersebut. Pertanyaannya, lantas bagaimana kita menyikapinya mengenai rencana proyek tersebut?

Bayu menuturkan dalam situasi global saat ini menolak atau membatasi kerja sama dengan negara sangat tidak mungkin dilakukan. Meskipun menerapkan pertanian secara langsung di lahan yang luas tanpa uji coba pada skala demplot dinilai juga sebagai langkah tidak tepat.

Menurutnya yang sangat ditakutkan adalah kegagalan karena bibit tidak bisa tumbuh dengan baik atau tidak menghasilkan produktivitas seperti yang diharapkan. “Bagaimanapun kondisi lingkungan Cina dan Indonesia dalam hal ini Kalimantan Tengah memang berbeda,” ucapnya.

Karena itu, pendapatnya sebaiknya proyek penanaman tersebut tidak langsung dilakukan di area yang luas, dan bisa dilakukan semacam piloting dengan demplot untuk pengujian terlebih dahulu. Apakah bibit yang berasal dari Cina tersebut cocok dengan kondisi lingkungan dan bisa diterapkan di Kalimantan Tengah.

Di sinilah peran akademisi atau lembaga riset dituntut untuk bisa memikirkan dan solusi. Banyak pihak diharapkan turut mengamati sekaligus menguji apakah bibit dari Cina tersebut bisa ditanam di Indonesia secara langsung atau justru diperlukan suatu modifikasi supaya bisa ditanam dengan kondisi riil di lahan.

“Jika bibit dari Cina telah diuji dan terbukti dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, serta menghasilkan produktivitas tinggi seperti di Cina, maka tentunya diperlukan peningkatan skala,” tandasnya.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: freepik.com

Artikel Pakar UGM Berpendapat Soal Keinginan Pemerintah Indonesia dan Cina Tanam Padi di Kalimantan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-berpendapat-soal-keinginan-pemerintah-indonesia-dan-china-tanam-padi-di-kalimantan/feed/ 0
Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Implementasi Agronomi Cerdas Berbasis Kearifan Lokal Berkelas Global https://ugm.ac.id/id/berita/mewujudkan-ketahanan-pangan-melalui-implementasi-agronomi-cerdas-berbasis-kearifan-lokal-berkelas-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/mewujudkan-ketahanan-pangan-melalui-implementasi-agronomi-cerdas-berbasis-kearifan-lokal-berkelas-global/#respond Fri, 26 Apr 2024 09:30:48 +0000 https://ugm.ac.id/mewujudkan-ketahanan-pangan-melalui-implementasi-agronomi-cerdas-berbasis-kearifan-lokal-berkelas-global/ Ketahanan pangan nasional merupakan isu seksi dalam beberapa tahun terakhir. Data tahun 2022 memberi pesan situasi ketahanan pangan nasional sedang tidak baik-baik saja. Tercatat, Indonesia berada di urutan ke 69 dari 113 negara dan di bawah rata-rata global sebesar 62,2. Rata-rata ketahanan pangan negara-negara Asia Pasifik-pun lebih tinggi dari rerata global yaitu 63,4, namun justru […]

Artikel Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Implementasi Agronomi Cerdas Berbasis Kearifan Lokal Berkelas Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ketahanan pangan nasional merupakan isu seksi dalam beberapa tahun terakhir. Data tahun 2022 memberi pesan situasi ketahanan pangan nasional sedang tidak baik-baik saja. Tercatat, Indonesia berada di urutan ke 69 dari 113 negara dan di bawah rata-rata global sebesar 62,2.

Rata-rata ketahanan pangan negara-negara Asia Pasifik-pun lebih tinggi dari rerata global yaitu 63,4, namun justru Indonesia berada di bawah rerata global. Karenanya, diperlukan langkah agronomi yang strategis untuk memperbaiki situasi ini demi mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Webinar Nasional & Silaturahmi Agronomi yang dikemas dalam BUPER TALK #10 Spesial bertema Menuju Agronomi Cerdas Berbasis Kearifan Lokal Berkualitas Global menjadi arena tepat untuk memikirkan permasalahan tersebut. Para Agronom Indonesia, termasuk di dalamnya para Agronom Universitas Gadjah Mada memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki situasi di atas.

Prof. Didik Indradewa, Dip.Agr.St, Guru Besar Purnakarya Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM menjadi salah satu pembicara yang memberikan sumbang saran. Ia menyampaikan bahwa ketahanan pangan nasional dapat diwujudkan melalui operasionalisasi Agronomi Cerdas.

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menurutnya telah melahirkan banyak teknologi Agronomi Cerdas, khususnya yang berbasis kearifan lokal, dan dapat dioperasionalkan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui implementasinya secara disiplin.

“Beberapa diantaranya seperti Surjan, Ubikayu Mukibat, Subak, Pemupukan Cerdas Sistem Padi Apung dan Wanatani,” ujarnya di Auditorium Hardjono Danusastro, Faperta UGM, Jum’at (26/4).

Didik Indradewa menyebut kearifan lokal tersebut berpotensi bisa ditingkatkan kembali produktivitasnya melalui kombinasinya dengan Artificial Intelligent (AI) berbasis Internet of Think (IoT). Kearifan lokal di atas merupakan perwujudan dari Agronomi Cerdas yang lahir melalui proses panjang dengan mempertimbangkan karakteristik agroklimat setempat sehingga berpotensi lebih presisi untuk menjamin terwujudnya ketahanan pangan nasional.

“Beberapa kearifan lokal dari Agronomi Cerdas Indonesia bahkan sudah mendapatkan pengakuan global, diantaranya yaitu Surjan, Subak, dan Ubikayu Mukibat,” papar Agronom UGM ini.

Pendapat senada disampaikan oleh Dr. Ir. Syamsudin, M.Sc., Kepala Balai Besar Penerapan Standar Instrument Pertanian, Kementerian Pertanian. Ia menyampaikan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional dapat dilakukan melalui operasionalisasi Teknologi Agronomi Cerdas Indonesia yang berbasis kearifan lokal dikombinasikan dengan pemanfaatan AI dan IoT. Sebagai contoh dalam rangka meningkatkan produksi beras di Kalimantan Barat pada saat ini bahwa dalam operasionalisasinya menggunakan teknologi berbasis kearifal lokal Kalimantan Barat dalam berbudi daya padi.

“Untuk lebih menjamin perbaikan produktivitas, teknologi kearifan lokal tersebut dikombinasikan dengan implementasi teknologi Drone untuk keperluan mapping kesehatan tanaman, aplikasi pupuk, dan pestisida,” paparnya.

Mahmudi, S.P., M.Si, selaku Direktur Produksi dan Pengambangan PTPN Holding dalam kesempatan ini menyoroti permasalahan dari sisi komoditas perkebunan. Dirinya berpendapat ketahanan produksi tanaman perkebunan sangat ditentukan oleh kemampuan pemangku kepentingan pertanian dan perkebunan dalam mengoperasionalkan pendekatan Agronomi Cerdas.

Misalnya untuk menjamin tingginya produktivitas kelapa sawit, tebu, karet, teh, kopi, dan kakao. Pada proses produksi tanaman perkebunan tentu saja selalu menjumpai turbulensi terutama dari beberapa anasir cuaca dan gangguan hama-penyakit.

“Karenanya supaya produktivitas terjaga pada level tinggi diperlukan pendekatan Agronomi Cerdas untuk menghadapi turbulensi anasir cuaca maupun tekanan hama-penyakit,” terangnya.

Adhitya Herwin D, S.P., M.I.Kom., Manager Pemasaran PT. Pupuk Indonesia Holding mengungkapkan untuk menjamin produktivitas tinggi dari setiap komoditas tanaman banyak faktor yang menentukan, salah satunya yang utama soal ketercukupan unsur hara esensial. Kebutuhan hara esensial tanaman dapat tercukupi oleh pemupukan, dan karena itu teknologi pupuk juga merupakan bagian penting dalam konsep Agronomi Cerdas.

“PT. Pupuk Indonesia Holding hingga saat ini berkomitmen untuk mewujudkan teknologi pupuk cerdas untuk mendukung operasionalisasi Agronomi Cerdas. Beberapa diantaranya yaitu control release fertilizer (CRF) dan teknologi pupuk nano (nano fertilizer technology). Kedua tipe pupuk modern ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari pupuk konvensional untuk lebih menjamin efektivitas dan efisiensi pemupukan,” ungkapnya.

Sedangkan Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P., Ph.D., peneliti Fakultas Pertanian UGM menyatakan Agronomi Cerdas per definisi merupakan sebuah pendekatan terintegrasi dalam mengelola lansekap, baik komponen tanaman dan komponen lainnya, yang ditujukan untuk mengatasi tantangan yang saling terkait antara ketahanan produksi tanaman dan perubahan daya dukung lahan. Oleh karena itu, implementasi Agronomi Cerdas merupakan upaya untuk mewujudkan triple win dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, yaitu peningkatan produktivitas, peningkatan resiliensi, dan pengurangan emisi.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Mewujudkan Ketahanan Pangan Melalui Implementasi Agronomi Cerdas Berbasis Kearifan Lokal Berkelas Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mewujudkan-ketahanan-pangan-melalui-implementasi-agronomi-cerdas-berbasis-kearifan-lokal-berkelas-global/feed/ 0
Panen Perdana Varietas Padi Gamagora di Sentolo https://ugm.ac.id/id/berita/panen-perdana-varietas-padi-gamagora-di-sentolo/ https://ugm.ac.id/id/berita/panen-perdana-varietas-padi-gamagora-di-sentolo/#respond Thu, 25 Apr 2024 04:24:13 +0000 https://ugm.ac.id/panen-perdana-varietas-padi-gamagora-di-sentolo/ Varietas padi Gamagora hasil riset Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM berhasil dipanen petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera, Sentolo, Kulon Progo. Panen padi Gamagora yang perdana ini dilakukan dalam demplot seluas 1 ha dan terbagi tiga titik. Panen varietas padi Gamagora pada Selasa (23/4) memperlihatkan hasil rata-rata 7,52 ton/ha untuk wilayah […]

Artikel Panen Perdana Varietas Padi Gamagora di Sentolo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Varietas padi Gamagora hasil riset Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM berhasil dipanen petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera, Sentolo, Kulon Progo. Panen padi Gamagora yang perdana ini dilakukan dalam demplot seluas 1 ha dan terbagi tiga titik.

Panen varietas padi Gamagora pada Selasa (23/4) memperlihatkan hasil rata-rata 7,52 ton/ha untuk wilayah tengah dan timur, serta 7,8 ton/ha untuk wilayah barat dengan usia panen 75 hari setelah tanam. Bandi, salah satu petani yang turut memanen varietas padi Gamagora mengatakan hasil panen termasuk sangat baik mengingat usia panennya yang jauh lebih pendek dibandingkan usia panen padi varietas lainnya.

“Padi Gamagora yang hari ini kita panen hanya berusia 75 hari setelah tanam dan bisa sampai rata-rata 7 ton lebih per hektarenya. Saya rasa ini sangat menguntungkan, terutama nantinya di musim tanam kedua yang masa basahnya lebih pendek,” ujarnya.

Sebagai rangkaian kegiatan panen perdana juga dilakukan diskusi antar pemangku kepentingan. Diantaranya tim peneliti Fakultas Pertanian UGM, perwakilan Bank Indonesia DIY, perangkat pemerintahan setempat, petugas penyuluh lapangan (PPL), petugas pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT), dan para petani.

Dalam diskusi tersebut, PPL Kalurahan Tuksono, Anis Prasetyo, menyampaikan apresiasinya terhadap varietas padi Gamagora produk UGM. Ia menyampaikan penanaman padi Gamagora perdana kali ini menggunakan pupuk organik cair yang merupakan bantuan dari Bank Indonesia. Panenan padi Gamagora, dinilainya cukup baik dan memiliki potensi optimal untuk terus dikembangkan dibandingkan dengan hasil panen padi varietas lainnya.

“Selain panen padi Gamagora, kita juga melakukan pemananen padi varietas Ciherang dan didapatkan hasil 7,01 ton/ha. Saya rasa, perbedaan cukup signifikan hasil panen Ciherang dan Gamagora. Dari panenan memperlihatkan potensi Gamagora dinilai optimal,” jelas Anis.

Dari segi ketahanan terhadap hama, POPT Kapanewon Sentolo, Farliana Wardani menilai dari segi ketahanan terhadap hama, varietas padi Gamagora tahan terhadap hama. Dari hasil pengamatannya memperlihatkan tidak terlalu banyak hama yang menyerang varietas padi Gamagora.

“Walaupun terdapat hama wereng, tetapi belum dilakukan pengendalian yang berarti karena populasi dan intensitas serangannya masih termasuk sangat sedikit,” terangnya.

Maya selaku Perwakilan Bank Indonesia DIY menyatakan rasa syukurnya atas keberhasilan panen padi Gamagora di Sentolo. Ia menyatakan rasa terima kasihnya kepada para petani atas semangatnya dalam kerja sama di demplot padi Gamagora.

Menurutnya, petani dapat merasakan secara langsung keunggulan salah satu inovasi Fakultas Pertanian UGM. Bank Indonesia pun akan terus mendorong terhadap rencana selanjutnya menyangkut pembangunan rumah pupuk bagi para petani di Sentolo.

“Ini upaya kita bersama dalam rangka kemandirian memenuhi kebutuhan pupuk. Bersama Fakultas Pertanian UGM semuanya dalam proses membuat perencanaan pembangunan rumah pupuk untuk Sentolo yang akan dieksekusi pada tahun ini, dan semoga membawa manfaat yang lebih untuk para petani Sentolo,” ungkap Maya.

Kerja sama dalam pembuatan demplot padi Gamagora ini menunjukkan komitmen Fakultas Pertanian UGM untuk mencapai tujuan SDGs, antara lain poin 1 Tanpa Kemiskinan, poin 2 Tanpa Kelaparan, poin 15 Ekosistem Daratan, dan poin 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Hanita Athasari Zain

Edit: Agung Nugroho

Foto: Media Faperta UGM

Artikel Panen Perdana Varietas Padi Gamagora di Sentolo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/panen-perdana-varietas-padi-gamagora-di-sentolo/feed/ 0
Pengamat UGM: Konflik Iran dan Israel, saatnya Fokus Swasembada Pangan https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-konflik-iran-dan-israel-saatnya-fokus-swasembada-pangan/ https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-konflik-iran-dan-israel-saatnya-fokus-swasembada-pangan/#respond Mon, 22 Apr 2024 09:17:25 +0000 https://ugm.ac.id/pengamat-ugm-konflik-iran-dan-israel-saatnya-fokus-swasembada-pangan/ Belum usai perang Rusia dan Ukraina, dunia dikejutkan dengan pecah perang antara Iran dan Israel. Berapa pengamat memperkirakan konflik baru Iran dan Israel memungkinkan akan memicu terjadinya Perang Dunia ke-3. Meskipun konflik tidak berdampak secara langsung terhadap Indonesia, tetapi sejumlah pengamat menilai konflik ini akan mengganggu jalur-jalur distribusi perdangangan yang selama ini memasok berbagai kebutuhan […]

Artikel Pengamat UGM: Konflik Iran dan Israel, saatnya Fokus Swasembada Pangan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Belum usai perang Rusia dan Ukraina, dunia dikejutkan dengan pecah perang antara Iran dan Israel. Berapa pengamat memperkirakan konflik baru Iran dan Israel memungkinkan akan memicu terjadinya Perang Dunia ke-3.

Meskipun konflik tidak berdampak secara langsung terhadap Indonesia, tetapi sejumlah pengamat menilai konflik ini akan mengganggu jalur-jalur distribusi perdangangan yang selama ini memasok berbagai kebutuhan maupun perekonomian berbagai negara. Iran sendiri selama ini dikenal sebagai negara penghasil migas yang tentunya akan berpengaruh terhadap harga minyak di seluruh dunia.

“Kenaikan harga migas, tentunya akan menyebabkan dampak karambol pada sektor-sektor perekonomian. Sebelum itu, kita ingat konflik Rusia dan Ukraina telah menyebabkan terganggunya pasokan pupuk yang menyebabkan langkanya pupuk di berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujar  Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D. pengamat pertanian, agrometeorologi, ilmu lingkungan, dan perubahan iklim, di Kampus UGM, Senin (22/4).

Ia memprediksi perang terbaru antara Iran dan Israel akan menimbulkan gejolak atau konflik baru dunia, yang tentunya akan berpengaruh terhadap perekonomian dunia, termasuk kemungkinan pengaruhnya untuk Indonesia.

Ia juga sepakat dengan pengamat lainnya jika perang tersebut tidak akan berpengaruh secara langsung untuk Indonesia. Meski begitu ada dampak tidak langsung yang akan berpengaruh kepada Indonesia.

“Apabila ada kenaikan harga minyak, tentunya ini akan berpengaruh terhadap supply logistik, yang akan berpengaruh ke harga-harga komoditas di Indonesia, tak terkecuali sektor pangan dan pertanian,” ucapnya.

Meski begitu, ia mengajak melihat konflik dunia ini dengan menyikapi secara positif. Artinya situasi ini menjadi momentum untuk berdikari, tidak tergantung negara lain. Sangat diharapkan ketersediaan pangan dalam negeri harus terpenuhi, karena bisa dipastikan ketersediaan pangan menjadi harga mati suatu bangsa.

Masyarakat secara keseluruhan mestinya mampu melihat dalam hal pemenuhan pangan tidak harus menggantungkan kepada petani saja tetapi bisa menjadi tanggungjawab tiap-tiap rumah tangga/orang. Karenanya tiap-tiap rumah tangga/orang bisa memanfaatkan lahan-lahan sempit dan kosong untuk ditanami tanaman maupun komoditas agro lainnya seperti ternak maupun ikan (urban farming).

“Selain urban farming, kita pun juga berharap pada pemerintah melalui program-programnya dalam upaya meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Situasi global saat ini, katanya mau tidak mau membuat bangsa Indonesia harus bisa mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Pemerintah dan masyarakat harus menyiapkan swasembada pangan yang berkelanjutan, dan salah satu solusinya dengan menyiapkan ekosistem-ekosistem pertanian berbasis inovasi teknologi.

Ekosistem pertanian yang dimaksud adalah sistem pertanian terpadu, dimana dalam satu lokasi atau desa sudah terjamin atau tersedia. Pertama, penyedia saprotan/saprodi sebagai penyedia input dengan produk- produk yang disepakati ekosistem. Kedua, perbankan dan asuransi pertanian yang bisa menyediakan platform pinjaman atau kredit bagi petani, dan ketiga teknologi, yaitu dengan menyediakan teknologi yang bisa dimanfaatkan petani, baik di lahan maupun teknologi digital untuk penjualan produk hasil petani.

Selain itu, keempat harus mampu menjamin keberlangsungan ekosistem. Kelima adanya fasilitator, dalam hal ini adalah dinas pertanian setempat, dan keenam offtaker sebagai penjamin bahwa hasil panen petani mampu terserap secara keseluruhan dengan harga yang pantas, serta ketujuh peran petani atau kelompok tani sebagai pelaksana dalam ekosistem.

“Semoga dengan adanya kolaborasi program antara petani, swasta, akademis dan pemerintah, dapat menghasilkan swasembada pangan dan kita tidak tergantung lagi pada kondisi sedang konflik atau tidak ada konflik di dunia,” terangnya.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: Prokaltim

Artikel Pengamat UGM: Konflik Iran dan Israel, saatnya Fokus Swasembada Pangan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-konflik-iran-dan-israel-saatnya-fokus-swasembada-pangan/feed/ 0
Pengamat UGM: Pentingnya Memanfaatkan Data Pertanian https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-pentingnya-memanfaatkan-data-pertanian/ https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-pentingnya-memanfaatkan-data-pertanian/#respond Wed, 20 Mar 2024 08:31:20 +0000 https://ugm.ac.id/pengamat-ugm-pentingnya-memanfaatkan-data-pertanian/ Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat dihadapkan pada beras yang langka dan mahal di pasaran. Banyak pihak menyatakan bahwa kenaikan harga ini salah satunya disebabkan adanya dampak perubahan iklim yang menjadikan jadwal tanam di tahun lalu (2023) mundur. Mundurnya jadwal panen inipun disebut menjadikan pasokan beras menjadi berkurang, dan berdampak pada tingginya harga beras di pasaran. […]

Artikel Pengamat UGM: Pentingnya Memanfaatkan Data Pertanian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat dihadapkan pada beras yang langka dan mahal di pasaran. Banyak pihak menyatakan bahwa kenaikan harga ini salah satunya disebabkan adanya dampak perubahan iklim yang menjadikan jadwal tanam di tahun lalu (2023) mundur. Mundurnya jadwal panen inipun disebut menjadikan pasokan beras menjadi berkurang, dan berdampak pada tingginya harga beras di pasaran.

Menurut Pengamat Bidang Agrometeorologi, Ilmu Lingkungan, dan Perubahan Iklim UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D. masyarakat diharapkan tidak boleh hanya menyalahkan persoalan mundurnya jadwal tanam sebagai akibat perubahan iklim sebagai faktor penyebab saja, tetapi sudah seharusnya banyak pihak bisa membuat suatu perencanaan agar kejadian naiknya harga beras yang tidak terkendali bisa diantisipasi jauh-jauh hari.

“Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat data pertanian. Pemanfaatan informasi dalam sistem produksi pertanian harus dilakukan dengan pendekatan penelitian berbasis penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, information and communication technology,” terangnya di Kampus UGM, Rabu (20/3).

Penggunaan teknologi ini, menurutnya memungkinkan perekaman lebih detail terkait proses-proses yang terlibat mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari lingkungan (environment) hingga pada tanaman (crop).

Data yang tersimpan dalam basis data (database) tentunya semakin lama semakin besar, seiring dengan berjalannya waktu pengamatan dalam proses produksi. Analisis data yang tersimpan dalam jumlah besar atau Big Data Analysis tentunya diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada petani dari hasil ekstraksi nilai informasi yang mungkin dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan produktivitas.

“Sejauh ini, metode analisis big data sesungguhnya sudah banyak dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas industri, namun untuk bidang pertanian masih perlu untuk dieksplor lebih lanjut,” katanya.

Bagi Bayu Dwi Apri Nugroho model pengembangan data pertanian tingkat desa sangat penting karena berkaitan dengan peningkatan produktivitas, penentuan komoditas yang akan ditanam, kualitas tanah, penanganan hama dan penyakit dan masih banyak lagi. Data pertanian ini dapat ditangkap atau dibarui secara realtime dalam framework data tunggal sehingga dapat diolah dan dianalisa menjadi sebuah keputusan yang tepat secara bisnis.

Sayangnya persoalan Institusional, SDM dan Teknologi dan Informasi sejauh ini masih menjadi permasalahan utama dalam pengembangan data pertanian. Padahal posisi Kementrian Pertanian dalam model pengembangan data pertanian tingkat desa ini adalah sebagai Lead untuk kemudian diserahkan di tingkat daerah yaitu kepada Dinas Pertanian masing-masing, dan kemudian dibreakdown lagi ke wilayah yang lebih kecil yaitu kecamatan dan desa.

Data tentu saja berkaitan dengan informasi yang berhubungan dengan Teknologi Informasi dan Komuniasi (TIK) perlu adanya kerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi di level yang sama. Kominfo pun mempunyai peran penting dalam pengembangan data pertanian dengan memposisikan perannya di bawah koordinasi Kementan, yaitu dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian, Dinas Informasi dan Komunikasi dan pemerintah daerah terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi untuk pertanian.

“Pengumpulan data ini melibatkan tenaga lapangan yang dikoordinasi oleh Dinas Pertanian melalui penyuluh-penyuluh lapangan. Tenaga lapangan dapat ditambah dengan merekrut sistem lapangan, hal ini tergantung APBD dari masing-masing daerah,” terangnya.

Lebih lanjut, Bayu menyatakan pengembangan data pertanian di tingkat desa ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk jangka panjang sehingga perlu persiapan dan koordinasi antara lembaga dan pemerintah daerah agar program ini dapat berjalan dengan lancar. Adanya data pertanian di tingkat desa ini tentunya akan memudahkan pemerintah untuk membuat suatu kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.

Pemetaan teknologi, disebutnya dapat dilakukan dengan melihat data tunggal ini. Kementerian Komunikasi dan Informasi dapat berperan banyak terkait hal ini agar tidak terjadi overlapping dengan kementerian atau lembaga lain, seperti Badan Pusat Statistik, Kementerian Pertanian, dan lain-lain.

“Sinkronisasi data untuk melakukan analisis dan prediksi merupakan salah satu hal penting yang harus dipenuhi oleh bidang pertanian. Dalam hal ini upaya penggunaan data tunggal yang terintegrasi antar badan terkait adalah solusi yang tepat sehingga dengan ketepatan data dapat digunakan sebagai dasar keputusan dan kebijakan dalam bidang pertanian contohnya keputusan impor beras, termasuk sebagai langkah antisipasi adanya dampak perubahan iklim seperti fenomena El Nino dan La Nina,” ungkapnya.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: Freepik.com

Artikel Pengamat UGM: Pentingnya Memanfaatkan Data Pertanian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-pentingnya-memanfaatkan-data-pertanian/feed/ 0
Alumni Faperta UGM Paparkan Tantangan Seorang Pemimpin di Era VUCA https://ugm.ac.id/id/berita/alumni-faperta-ugm-paparkan-tantangan-seorang-pemimpin-di-era-vuca/ https://ugm.ac.id/id/berita/alumni-faperta-ugm-paparkan-tantangan-seorang-pemimpin-di-era-vuca/#respond Mon, 18 Mar 2024 08:45:40 +0000 https://ugm.ac.id/alumni-faperta-ugm-paparkan-tantangan-seorang-pemimpin-di-era-vuca/ Seorang pemimpin di era saat ini memiliki tantangan yang lebih berat dibanding sebelumnya. Pemimpin saat ini dihadapkan pada banyak dilema dan ketidakpastian dalam mengambil keputusan. Masyarakat saat inipun menghadapi suatu era yang disebut era VUCA, yaitu volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Sebuah era yang memperlihatkan adanya perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga, salah satunya […]

Artikel Alumni Faperta UGM Paparkan Tantangan Seorang Pemimpin di Era VUCA pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Seorang pemimpin di era saat ini memiliki tantangan yang lebih berat dibanding sebelumnya. Pemimpin saat ini dihadapkan pada banyak dilema dan ketidakpastian dalam mengambil keputusan. Masyarakat saat inipun menghadapi suatu era yang disebut era VUCA, yaitu volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Sebuah era yang memperlihatkan adanya perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga, salah satunya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan informasi.

Demikian pernyataan Yauri Gautama Putra Tetanel, S.Pi., alumni Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, dalam Kuliah Umum Kepemimpinan yang dilaksanakan di Gedung AGLC hari Sabtu (16/3). Kuliah umum ini diikuti mahasiswa program sarjana angkatan 2021.

Sebagai konsultan Komite Kemitraan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan, Yauri Gautama menyampaikan kepada para mahasiswa bahwa dalam dunia pertanian di era VUCA memperlihatkan fenomena pertanian tradisional yang terdisrupsi oleh pertanian modern. Yaitu dengan kemunculan dan penggunaan internet of things (IoT).

“Era VUCA yang saat ini sedang kita hadapi bersama menimbulkan tantangan berat bagi pemimpin. Contohnya, pertanian modern yang semakin marak menggunakan Internet of Things (IoT) mendesak para pemimpin untuk dapat mempelajari teknologi baru secara cepat, yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan dalam visinya sebagai seorang pemimpin,” terang Yauri.

Menurutnya seorang pemimpin dalam kondisi apapun harus dapat melaksanakan fungsi-fungsinya untuk kesejahteraan anggotanya meskipun diterpa berbagai tantangan. Fungsi-fungsi seorang pemimpin, antara lain menjadi orang yang bisa mengkomunikasikan sebuah visi, mengambil keputusan, mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, mengukur kinerja, dan mengelola konflik.

Sebagai sosok yang berkecimpung di pemberdayaan masyarakat, Yauri menegaskan seorang pemimpin tidak hanya memerlukan kemampuan teknis, tetapi juga kepekaan terhadap lingkungan sosial. “Saya melihat seorang pemimpin di masa depan membutuhkan tingkat kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sosial, terutama bagi teman-teman mahasiswa Fakultas Pertanian yang nantinya menjadi calon pemimpin di masyarakat agraris,” ucapnya.

Penulis: Hanita Athasari Zain

Edit: Agung Nugroho

Foto: Media Faperta UGM

Artikel Alumni Faperta UGM Paparkan Tantangan Seorang Pemimpin di Era VUCA pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/alumni-faperta-ugm-paparkan-tantangan-seorang-pemimpin-di-era-vuca/feed/ 0
Tim KKN-PPM UGM Gerakan Penanaman Koro Pedang di Konawe Selatan https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-ugm-gerakan-penanaman-koro-pedang-di-konawe-selatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-ugm-gerakan-penanaman-koro-pedang-di-konawe-selatan/#respond Mon, 04 Mar 2024 06:12:24 +0000 https://ugm.ac.id/tim-kkn-ppm-ugm-gerakan-penanaman-koro-pedang-di-konawe-selatan/ Tim mahasiswa KKN-PPM UGM melakukan penanaman Koro Pedang di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Penanaman Koro Pedang oleh Tim KKN-PPM UGM Unit SG-008 di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan dimaksudkan sebagai upaya alternatif substitusi kedelai dalam pembuatan tempe. “Program kerja saya bersama teman-teman dengan menanam Koro Pedang ini sebagai upaya mencari alternatif pengganti […]

Artikel Tim KKN-PPM UGM Gerakan Penanaman Koro Pedang di Konawe Selatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim mahasiswa KKN-PPM UGM melakukan penanaman Koro Pedang di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Penanaman Koro Pedang oleh Tim KKN-PPM UGM Unit SG-008 di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan dimaksudkan sebagai upaya alternatif substitusi kedelai dalam pembuatan tempe.

“Program kerja saya bersama teman-teman dengan menanam Koro Pedang ini sebagai upaya mencari alternatif pengganti kedelai dalam pembuatan tempe”, ujar Sherly Rayhan Sinta Putri dari Prodi Ilmu dan Industri Peternakan 2020 mewakili Tim KKN, Senin (4/3).

Penanaman Koro Pedang diharapkan menginspirasi masyarakat di Desa Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan. Menginspirasi masyarakat secara umum agar dapat melakukan budidaya Koro Pedang.

“Koro Pedang ini merupakan tanaman perdu yang merambat dan termasuk tanaman jenis kacang-kacangan”, terang Sherly.

Dia menjelaskan Koro Pedang berpotensi tinggi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk olahan pangan. Koro Pedang memiliki kandungan protein sebesar 27,4 persen, karbohidrat 66,1 persen, dan lemak 2,9 persen.

Dengan kandungan proteinnya yang tinggi, maka Koro Pedang dapat dimanfaatkan sebagai substitusi bahan baku kedelai dalam pembuatan tempe”, jelasnya.

Tim KKN-PPM UGM Unit SG-008, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan mendapat bimbingan dari Dosen Pendamping Lapangan, Dra. Eko Tri Sulistyani, M.Sc. Tim KKN-PPM UGM melakukan penanaman tanaman Koro Pedang di lahan salah satu warga yang berlokasi di Dusun 3 Polepoleloa, Desa Namu, Kecamatan Laonti, Konawe Selatan.

Sherly menambahkan Koro Pedang merupakan tanaman yang mudah tumbuh di daerah marjinal, seperti lahan dengan suhu dan kelembaban yang tinggi. Iklim tropis disebutnya menjadi habitat yang coock bagi pertumbuhan Koro Pedang.

“Kita semua berharap penanaman Koro Pedang dapat terus berkelanjutan. Terus berproduksi dan mampu menjadikan Desa Namu menjadi desa yang mandiri dalam hal pemenuhan pangan”, imbuhnya.

Penulis : Agung Nugroho

 

Artikel Tim KKN-PPM UGM Gerakan Penanaman Koro Pedang di Konawe Selatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-ugm-gerakan-penanaman-koro-pedang-di-konawe-selatan/feed/ 0
Nematoda Berperan Penting Dalam Ekosistem Tanah Pertanian https://ugm.ac.id/id/berita/nematoda-berperan-penting-dalam-ekosistem-tanah-pertanian/ https://ugm.ac.id/id/berita/nematoda-berperan-penting-dalam-ekosistem-tanah-pertanian/#respond Thu, 29 Feb 2024 08:23:00 +0000 https://ugm.ac.id/nematoda-berperan-penting-dalam-ekosistem-tanah-pertanian/ Seiring dengan permasalahan di bidang pertanian yang terus meningkat tentunya memerlukan kolaborasi berbagai bidang, termasuk nematologi. Kajian-kajian ilmiah tentang nematoda yang terus berkembang dan dihasilkan dinilai dapat berkontribusi dalam memecahkan beberapa masalah ketahanan pangan. Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Siwi Indarti, MP., berpandangan adanya akses bebas terhadap pengembangan ilmu […]

Artikel Nematoda Berperan Penting Dalam Ekosistem Tanah Pertanian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Seiring dengan permasalahan di bidang pertanian yang terus meningkat tentunya memerlukan kolaborasi berbagai bidang, termasuk nematologi. Kajian-kajian ilmiah tentang nematoda yang terus berkembang dan dihasilkan dinilai dapat berkontribusi dalam memecahkan beberapa masalah ketahanan pangan.

Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Dr. Siwi Indarti, MP., berpandangan adanya akses bebas terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi dalam teknologi, serta peningkatan kerja sama (networking) penelitian regional dan internasional menjadikan nematologi memiliki kontribusi lebih besar dan memiliki banyak manfaat dalam proses produksi pertanian.

“Istilahnya nematology for better agriculture. Hal itulah yang mendasari perlunya saya menyampaikan topik tentang peran fungsional nematoda dalam keberlanjutan ekosistem pertanian sehat dalam rangka mendukung ketahanan pangan,” ujarnya di Balai Senat UGM, Kamis (29/2) saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Nematologi Pertanian pada Fakultas Pertanian UGM.

Siwi Indarti menyampaikan ekosistem pertanian yang sehat akan menjamin produktivitas pertanian secara optimal. Keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam pada ekosistem pertanian dapat menjamin tercapainya ketahanan pangan suatu negara, terutama negara-negara berkembang.

Ketahanan pangan ini, menurutnya mencakup tiga dimensi yaitu ketersediaan, akses dan pemanfaatan  pangan, dan ekosistem pertanian dapat mendukung ketiga dimensi tersebut secara langsung maupun tidak langsung melalui penyediaan jasa layanan ekosistem yang memfasilitasi proses produksi pertanian. Pengolahan lahan, cara bercocok tanam, penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi seringkali justru mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ekosistem pertanian serta menurunkan produksi pertanian.

“Peran berbagai bidang ilmu, termasuk bidang  nematologi, diperlukan untuk mewujudkan ekosistem pertanian sehat dalam rangka mendukung pencapaian ketahanan pangan,”terangnya.

Menyampaikan pidato Peran Fungsional Nematoda Dalam Keberlanjutan Ekosistem Pertanian Sehat Untuk Mendukung Ketahanan Pangan, Siwi Indarti menjelaskan nematologi atau disiplin ilmu yang mempelajari tentang nematoda pada awalnya fokus pada kelompok nematoda yang menjadi faktor kendala dalam produksi tanaman. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kajian ruang lingkup bidang nematologi pun mengalami perkembangan cukup signifikan, termasuk kajian-kajian ilmiah yang dihasilkan dapat berkontribusi dalam memecahkan beberapa masalah ketahanan pangan, perubahan iklim (climate change) dan krisis keanekaragaman hayati.

Keberadaan nematoda ini mempresentasikan keanekaragaman hayati di muka bumi, terutama di bagian daratan. Melalui aktivitasnya nematoda memengaruhi proses penting dalam ekosistem pertanian seperti degradasi bahan organik dan siklus karbon, namun sekelompok kecil spesies parasit tumbuhan mengakibatkan kerusakan tanaman pada sebagian besar siklus hidupnya.

“Oleh karena itu, nematoda seringkali dikaitkan dengan dampak kerugian yang ditimbulkan pada tanaman walaupun sebenarnya banyak kelompok nematoda lainnya yang mempunyai peran penting dalam ekosistem tanah pertanian,” terangnya.

Penulis : Agung Nugroho

Fotografer : Donnie

Artikel Nematoda Berperan Penting Dalam Ekosistem Tanah Pertanian pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/nematoda-berperan-penting-dalam-ekosistem-tanah-pertanian/feed/ 0