penyandang disabilitas Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/penyandang-disabilitas/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 14 Jan 2025 01:25:37 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Cerita “Mpok Atun” dan Wuri Handayani, Memperjuangkan Hak Penyandang Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-mpok-atun-dan-wuri-handayani-memperjuangkan-hak-penyandang-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-mpok-atun-dan-wuri-handayani-memperjuangkan-hak-penyandang-disabilitas/#respond Tue, 14 Jan 2025 01:21:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74643 Aktris kawakan, Suti Karno (58), mengunjungi Unit Layanan Disabilitas, Universitas Gadjah Mada pada Jumat (10/1). Pemeran Atun di sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang tayang di era 90an itu berbagi kisah tentang perjuangannya selama menjadi disabilitas. Kisah itu pun memberikan inspirasi bagi seluruh penyandang disabilitas agar tetap mengejar cita-cita dan terus berkarya. Setelah didiagnosis menderita […]

Artikel Cerita “Mpok Atun” dan Wuri Handayani, Memperjuangkan Hak Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Aktris kawakan, Suti Karno (58), mengunjungi Unit Layanan Disabilitas, Universitas Gadjah Mada pada Jumat (10/1). Pemeran Atun di sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang tayang di era 90an itu berbagi kisah tentang perjuangannya selama menjadi disabilitas. Kisah itu pun memberikan inspirasi bagi seluruh penyandang disabilitas agar tetap mengejar cita-cita dan terus berkarya.

Setelah didiagnosis menderita diabetes selama 18 tahun, Suti menjalani perawatan intensif dengan beberapa operasi. Proses pengobatan tersebut menyebabkan banyak jaringan kulit kakinya mati, dan dikhawatirkan akan berdampak pada bagian tubuh yang lain. Akhirnya, kaki kanan Suti diamputasi setelah melalui berbagai pertimbangan.Keputusan tersebut membuat Suti sempat terguncang, namun berkat dukungan orang terdekat, Suti mulai membiasakan diri dengan kondisi barunya tersebut.“Saya kan, baru menjadi disabilitas kurang lebih dua tahun. Saya mengakui ada proses untuk menerima itu semua,” ungkap Suti.

Kini, ia tidak hanya memupuk semangat hidup tinggi dalam dirinya, tapi juga menyebarkan kesadaran mengenai inklusivitas bagi penyandang disabilitas. Setelah sempat vakum, ia kembali membuat konten di channel YouTube-nya untuk menyebarkan kisah inspiratif dan memberi dukungan untuk para difabel.

Dalam diskusi ini, Wuri Handayani, Dosen FEB UGM sekaligus salah satu pegiat inklusivitas di lingkungan kampus turut membagikan kisahnya. Ia mengaku sejak pertama kali menjadi disabilitas, banyak kesulitan yang ia alami. Wuri yang saat itu merupakan mahasiswi Farmasi, Universitas Airlangga memiliki hobi mendaki gunung. Nahasnya, ia mengalami kecelakaan jatuh dari ketinggian hingga menyebabkan kelumpuhan. “Awalnya dokter tidak memberitahu kalau saya lumpuh permanen, karena untuk memberi saya waktu untuk menerima. Jadi saya kira cuma temporal,” terang Wuri.

Setelah kejadian tersebut, anehnya pihak fakultas memberikan kebijakan pada Wuri untuk pindah ke fakultas lain. Wuri pun sempat kebingungan karena tidak ada masalah dengan kondisi intelektual dan akademiknya pasca kecelakaan. Namun pihak fakultas tidak memberi keterangan, alasannya hanya karena farmasi akan sulit ditempuh dengan kondisi Wuri.

Lambat laun, penolakan pihak fakultas tersebut semakin banyak datang dari lingkungan belajarnya. “Dulu saya kan setiap kelas perlu dibopong karena tidak ada jalur lift atau kursi roda untuk ke lantai 1 dan 2. Tapi di kelas juga saya merasakan penolakan, bahkan dari dosen,” tambah Wuri.

Akhirnya setelah 4 semester ditempuh, ia mengulang pembelajaran kembali di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi. Pilihannya pada akuntansi sebenarnya didasarkan karena proses pembelajaran yang minim kegiatan fisik dan bisa dilakukan secara mobile.

Wuri berhasil lulus dengan predikat cumlaude dan meniti karir. Berlatar belakang keluarga yang berprofesi sebagai guru, sejak kecil Wuri bercita-cita menjadi pengajar. Sayangnya, jalan yang dilalui begitu terjal dan sulit. Beberapa kali ia mendaftar, penolakan terus ia dapatkan bahkan dengan sejumlah prestasi akademik yang mumpuni. “Sebelumnya penolakan itu tidak pernah diberi keterangan. Tapi pada satu waktu, ada surat keterangan yang menyatakan bahwa saya ditolak karena saya memakai kursi roda,” kata Wuri.

Surat keterangan itu yang menjadi modal pertamanya untuk memperjuangkan hak-hak disabilitas pada pemerintah. Wuri mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya terhadap anggapan bahwa disabilitas tidak sehat jasmani dan rohani. Ia terus memperjuangkan tuntutan tersebut hingga pada tahun 2009 Wuri berhasil memenangkan gugatan. “Banyak yang mengira saya cuma memperjuangkan diri sendiri. Padahal saat itu saya ingin agar disabilitas diberikan ruang untuk dapat pekerjaan,” ujar Wuri.

Diskusi Suti Karno dengan Wuri diakhiri dengan sejumlah upayanya untuk mempublikasi awareness mengenai disabilitas. Perjuangannya saat ini ia lanjutkan dengan mewujudkan inklusivitas di lingkungan kampus UGM. Termasuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang ia rintis agar sivitas difabel UGM mendapat tempat untuk bernaung dan mengasah kemampuannya.

Meskipun baru diresmikan akhir 2024 lalu, ULD telah diinisasi sejak lama berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016. Baik difabel dari kalangan mahasiswa, tenaga kependidikan, maupun dosen, dapat mengakses pelayanan di ULD ini. Selain itu, ULD akan menjadi pusat penelitian untuk memperjuangkan hak-hak disabilitas di ranah yang lebih luas. “Harapannya ini bisa menjadi sarana untuk menyuarakan, dan mewujudkan kampus inklusif,” tambah Wuri.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Cerita “Mpok Atun” dan Wuri Handayani, Memperjuangkan Hak Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-mpok-atun-dan-wuri-handayani-memperjuangkan-hak-penyandang-disabilitas/feed/ 0
UGM Terima Penghargaan Terbaik 1 dalam Pembentukan Unit Layanan Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terima-penghargaan-terbaik-1-dalam-pembentukan-unit-layanan-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terima-penghargaan-terbaik-1-dalam-pembentukan-unit-layanan-disabilitas/#respond Wed, 18 Dec 2024 08:11:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74017 Universitas Gadjah Mada menerima penghargaan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi sebagai Perguruan Tinggi Terbaik dalam Pembentukan Unit Layanan Disabilitas. Menyusul penghargaan terbaik II diberikan kepada Universitas Victory Sorong dan penghargaan terbaik III kepada Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Dr. Wuri Handayani selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas UGM merasa bangga […]

Artikel UGM Terima Penghargaan Terbaik 1 dalam Pembentukan Unit Layanan Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menerima penghargaan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi sebagai Perguruan Tinggi Terbaik dalam Pembentukan Unit Layanan Disabilitas. Menyusul penghargaan terbaik II diberikan kepada Universitas Victory Sorong dan penghargaan terbaik III kepada Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Dr. Wuri Handayani selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas UGM merasa bangga dan bersyukur atas apresiasi dari Belmawa Ristek Dikti yang telah memberikan penilaian terbaik atas kegiatan yang ULD UGM lakukan. Dia menyampaikan dalam pengajuan hibah pembentukan Unit Layanan Disabilitas di Perguruan Tinggi tahun 2024, ULD UGM telah berhasil menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya melakukan studi banding ke Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya.“Kegiatan studi banding ini untuk mengeksplorasi bagaimana mereka memberikan fasilitasi akomodasi yang layak bagi mahasiswa disabilitas”, katanya di Kampus UGM, Rabu (18/12).

Selain itu telah berhasil pula membuat video jejak inklusif di UGM yang sudah diinisiasi sejak tahun 2006. Pembuatan video ini untuk mendorong UGM menjadi kampus inklusif, dan dilanjutkan dengan pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa Disabilitas tahun 2012 hingga pembentukan ULD tahun 2024. Disebutnya UGM juga telah melakukan asesmen kebutuhan mahasiswa disabilitas guna mengidentifikasi ragam disabilitas mahasiswa. Berbagai kesulitan yang dihadapi dan akomodasi layak yang diperlukan untuk memperlancar proses belajarnya. “Hasil asesmen ini kami kirimkan dan didiskusikan kepada wakil dekan bidang akademik di masing-masing fakultas dan sekolah untuk ditindaklanjuti agar bisa menyediakan akomodasi yang layak. Berikut kami juga melakukan pula menyusun program kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang bagi ULD”, ungkapnya.

Bagi Wuri perhargaan ini menjadi refleksi bagi ULD UGM untuk mendorong inklusivitas di perguruan tinggi. Harapan lainnya dapat menjadi lesson learn bagi kampus lain yang belum memiliki ULD di perguruan tinggi masing-masing. “Kami berharap dapat mengemban amanah pembentukan ULD di UGM sebagaimana tertuang dalam Peraturan Rektor No. 19/2024 tentang ULD, untuk melakukan advokasi, fasilitasi dan asesmen mahasiswa disabilitas di UGM agar mereka dapat mencapai potensi terbaiknya”, terangnya.

Wuri bercita-cita menjadikan ULD UGM sebagai center of excellence mengenai isu disabilitas di Indonesia. Meski begitu, ULD UGM juga menyadari tidak akan mungkin mewujudkan tujuan tersebut sendirian. “Karenanya kami senantiasa berharap dukungan dan masukan dari semua pihak”, ucapnya.

Dia menambahkan ULD memiliki tagline Aspiration, Connection, Innovation dan Inclusion. Aspiration, ULD UGM selalu ingin mendengarkan masukan dari berbagai pihak, dan Connection, ULD sangat memerlukan kerjasama dan koneksi seluas mungkin. “Innovation, kami ingin mengembangkan berbagai inovasi untuk mendukung inklusivitas, dan inclusion, ULD UGM ingin memastikan bahwa semua orang, termasuk penyandang disabilitas terlibat sehingga tidak ada satupun yang tertinggal atau “No one left behind”, imbuhnya.

Meski menerima penghargaan, Wuri mengakui, ULD UGM masih menghadapi sejumlah kendala. Kendala yang masih sering dirasakan adalah masih belum meratanya kesadaran dan pemahaman yang memadai dari dosen, tenaga pendidikan dan mahasiswa non disabiitas mengenai pendidikan inklusif. Pemahaman akan kebutuhan penyandang disabilitas dan akomodasi layak yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.

Juga soal infrastuktur di lingkungan UGM yang belum sepenuhnya dapat diakses oleh penyandang disabilitas menjadi kendala dan penghambat kemandirian mahasiswa disabilitas. “Kita perlu sumber daya manusia, dan kenyataan SDM  yang terlibat dalam mengelola ULD masih terbatas sehingga belum dapat melakukan layanan secara optimal”, paparnya.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Firsto

Artikel UGM Terima Penghargaan Terbaik 1 dalam Pembentukan Unit Layanan Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terima-penghargaan-terbaik-1-dalam-pembentukan-unit-layanan-disabilitas/feed/ 0
Rektor UGM Resmikan Unit Layanan Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-resmikan-unit-layanan-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-resmikan-unit-layanan-disabilitas/#respond Wed, 11 Dec 2024 05:10:51 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73695 Universitas Gadjah Mada meresmikan berdirinya  Kantor Unit Layanan Disabilitas UGM. Kantor yang berada  Kompleks Bulaksumur, Jl. Mahoni No.C-18, Sagan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta diresmikan Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.OG(K) Selasa (10/12). Dengan peresmian Kantor Unit Layanan Disabilitas memperlihatkan UGM terus berkomitmen menjadi kampus yang inklusif. Sebagai kampus yang […]

Artikel Rektor UGM Resmikan Unit Layanan Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada meresmikan berdirinya  Kantor Unit Layanan Disabilitas UGM. Kantor yang berada  Kompleks Bulaksumur, Jl. Mahoni No.C-18, Sagan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta diresmikan Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.OG(K) Selasa (10/12). Dengan peresmian Kantor Unit Layanan Disabilitas memperlihatkan UGM terus berkomitmen menjadi kampus yang inklusif. Sebagai kampus yang ramah bagi penyandang disabilitas, UGM memberikan kemudahan akses pendidikan dan layanan inklusif bagi sivitas akademika.

Tampak hadir dalam peresmian ini Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi, Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, Country Director of British Council, Me. Summer Xia dan Dr. Wuri Handayani selaku Ketua Unit Layanan Disabilitas.

Ova Emilia mengatakan dengan peresmian Kantor ULD, UGM ingin menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Berdirinya ULD UGM merupakan bentuk tanggung jawab dari Universitas Gajah Mada untuk memberikan layanan pembelajaran yang kondusif untuk semuanya. “Apa yang sudah diupayakan hingga hari ini, merupakan bentuk tanggung jawab UGM, dan soal inklusiveness ini banyak sekali salah satunya adalah yang terkait dengan layanan penyandang disabilitas”, katanya.

Ada tiga hal prinsip kenapa UGM berkomitmen dan peduli pada lingkungan yang inklusif dengan berbagai kebijakan. Pertama, pendidikan merupakan hak setiap warga negara tanpa melihat apapun. Masing-masing peserta didik memiliki peluang dan kesempatan yang sama dalam berpengetahuan. Kedua, UGM memberikan penghargaan terhadap keberagaman. Masing-masing adalah unik, dan masing-masing tidak bisa disamakan antara satu dan yang lainnya. “Sehingga apa yang dikatakan kelemahan sesungguhnya bukan sebuah kelemahan dalam arti sebenarnya. Tapi itu merupakan bentuk keunikan yang mungkin memberikan keunggulan dari sisi yang lain. Karenanya keberagaman itu adalah satu kekuatan”, ucap Rektor.

Prinsip ketiga adalah keadilan. Dengan adanya keadilan dalam pendidikan membuat kelompok apapun tidak terpinggirkan ataupun tertinggal dalam pendidikan. “Saya kira nanti layanan ULD ini akan menjadi salah satu bentuk implementasi dari pendidikan inklusif di UGM dengan berbagai macam kegiatannya,” terang Ova Emilia.

Sri Suning Kusumawardani berharap hadirnya ULD sebagai wujud nyata komitmen Universitas Gadjah Mada dalam memberikan layanan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh sivitas akademika, khususnya teman-teman penyandang disabilitas. Semua pihak menyadari bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap insan, tanpa memandang perbedaan kemampuan fisik, mental, atau sensorik.

Sebagai salah satu perguruan tinggi tertua dan termuka di Indonesia, ujar Suning, keberadaan ULD di UGM ini diharapkan mampu menjadi percontohan bagi perguruan tinggi lainnya di Tanah Air. “Keberadaan ULD bukan hanya simbol dari inklusivitas, tetapi juga menjadi motor penggerak untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki akses yang setara dalam belajar, berkreasi, dan berkontribusi di lingkungan kampus”, katanya.

Summer Xia merasa senang bisa menghadiri peresmian Unit Layanan Disabilitas di Kampus UGM. Berdirnya ULD UGM, dinilainya sebagai tonggak sejarah bagi UGM yang terus berkomitmen membuat lingkungan yang lebih inklusif dan aksesibel bagi penyandang disabilitas. “Saya merasa bangga untuk kerjasama ini. Dukungan British Council melalui Grant Sosial Akses UK Alumni membuat inisiatif ini menjadi kenyataan. Dengan dedikasi ibu Wuri memastikan terwujudnya lingkungan inklusif, dan akses layanan untuk mahasiswa disabilitas bisa terwujud dan menjadi harapan,” katanya.

Dengan peresmian Kantor ULD, katanya, membuka peluang keberhasilan yang sama untuk semua mahasiswa di UGM. Dengan unit layanan ini mampu menghilangkan hambatan dan mampu memberdayakan mahasiswa difabel di dalam kampus UGM.

Wuri Handayani selaku Ketua ULD melaporkan UGM saat ini memiliki 48 mahasiswa penyandang disabilitas. Sebanyak 48 mahasiswa terdiri 21 perempuan dan 17 laki-laki dengan berbagai ragam disabilitas. “Ada fisik, kemudian ada tuli, ada netra, dan ada mental. Mereka juga berasal dari berbagai fakultas dan berbagai jenjang pendidikan mulai dari vokasi, sarjana, magister, dan juga program doktor”, ungkapnya.

Ia berharap ULD UGM bisa menjadi center of excellence dalam isu-isu disabilitas baik nasional maupun internasional. Ada empat prinsip yang menjadi tagline ULD UGM. Pertama, adalah aspiration, dan ULD UGM ingin menggali aspirasi dari semua pihak agar ULD bisa maju. Kedua, ULD UGM ingin mendorong connection. ULD bagaimanapun memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak. Ketiga, ULD UGM ingin mengembangkan innovation dalam melayani. Keempat merespon hal-hal yang sifatnya terkait isu-isu disabilitas dengan kebijakan. “Kita ingin menjadi terdepan sehingga pada akhirnya kita akan menuju ke inclusion. Dimana semua pihak tidak akan tertinggal”, paparnya.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Firsto

Artikel Rektor UGM Resmikan Unit Layanan Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-resmikan-unit-layanan-disabilitas/feed/ 0
UKM Peduli Difabel UGM Gelar Pertemuan dengan Mahasiswa Baru Penyandang Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/ukm-peduli-difabel-ugm-gelar-pertemuan-dengan-mahasiswa-baru-penyandang-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ukm-peduli-difabel-ugm-gelar-pertemuan-dengan-mahasiswa-baru-penyandang-disabilitas/#respond Sun, 11 Aug 2024 07:44:28 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69222 Sebanyak 30 mahasiswa UGM penyandang disabilitas mendapatkan pembekalan sebelum memasuki masa perkuliahan biasa. Para mahasiswa baru dan mahasiswa lama dalam kegiatan ini diharapkan saling mengenal satu dengan yang lain, dan mereka bisa mendapatkan berbagai informasi terkait pendampingan dan fasilitas pendukung untuk kelancaran studi mereka di kampus UGM. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. […]

Artikel UKM Peduli Difabel UGM Gelar Pertemuan dengan Mahasiswa Baru Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 30 mahasiswa UGM penyandang disabilitas mendapatkan pembekalan sebelum memasuki masa perkuliahan biasa. Para mahasiswa baru dan mahasiswa lama dalam kegiatan ini diharapkan saling mengenal satu dengan yang lain, dan mereka bisa mendapatkan berbagai informasi terkait pendampingan dan fasilitas pendukung untuk kelancaran studi mereka di kampus UGM.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA menyatakan Universitas Gadjah Mada menyambut dengan terbuka para mahasiswa baru UGM penyandang disabilitas. Disebutnya, UGM terus mengalami peningkatan dalam perimaan mahasiswa baru penyandang disabilitas dari tahun ke tahun. Disampaikan Wening, tahun ajaran baru angkatan 2024, Universitas Gadjah Mada menerima 21 mahasiswa baru penyandang disabilitas. Jumlah ini meningkat dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. “UGM memang terus meningkat  dalam menerima mahasiswa baru penyandang disabilitas. Jumlah ini belum termasuk mereka yang hidden tidak melapor dengan bermacam pertimbangan dan alasan”,  ujarnya di Wellbeing Center UGM Jalan Mahoni Blok C-18 Bulaksumur Yogyakarta, Jum’at (9/8).

Wening menyatakan dengan menerima para mahasiswa baru penyandang disabilitas yang terus meningkat memperlihatkan kampus UGM terbuka untuk siapa saja. Universitas Gadjah Mada memberi kesempatan yang sama karena mereka memiliki hak yang sama untuk bisa kuliah.

Menurutnya orang yang berkuliah di UGM yang terpenting harus bahagia. Kegiatan meet and great untuk mahasiswa baru UGM penyandang disabilitas menjadi acara yang sangat penting karena bisa saling mengenal dan mendekatkan para mahasiswa satu dengan yang lain. “Kita patut bersyukur Unit Layanan Disabilitas di tahun ini mendapat persetujuan dari Senat Akademik dan MWA sebagai unit pelayanan bagi civitas akademika UGM. Semoga dengan ini menjamin warga UGM mendapatkan layanan yang terbaik agar proses belajar mengajar, penelitian dan proses administrasi dapat berjalan dengan baik”, katanya.

Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D, dosen Departemen Akuntansi UGM selaku Pembina Unit Layanan Disabilitas UGM menyatakan hal yang sama. Ia merasa bersyukur dengan pembentukan Unit Layanan Disabilitas UGM yang mendapat pengesahan berdasarkan berdasarkan Peraturan Rektor No. 19 tahun 2024 tentang Unit Layanan Disabilitas. “ULD ini adalah bagian dari UGM yang menyelenggarakan fungsi penyediaan layanan, pendampingan, dan fasilitas untuk penyandang disabilitas”, terangnya.

Wuri menjelaskan bentuk layanan ULD UGM diantaranya berupa asesmen yaitu melakukan analisis kebutuhan akomodasi layak. Akomodasi layak ini meliputi modifikasi dan penyesuaian yang tepat, dan yang diperlukan untuk menjamin penikmatan dan pelaksanaan semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental bagi penyandang disabilitas berdasarkan kesetaraan. “Yang biasa kita lakukan adalah pendampingan, biasanya saat-saat pendaftaran, seleksi, perkuliahan/praktikum, KKN, tugas akhir dan lain-lain. Penelitian dalam isu terkait disabilitas”, paparnya.

Wuri juga merasa bersyukur karena di UGM ada UKM Peduli Disabilitas yang menjadi salah satu pilar dalam layanan ULD. Prinsip dalam memberikan layanan dan interaksi kepada para penyandang disabilitas diantaranya menempatkan mereka dalam kesetaraan (equity), menghargai (mutual respect), pengungkapan (disclosure), kerahasiaan (confidentiality), dan praktik baik (good practice).“Karenanya kita sangat berharap teman-teman Gamada disabilitas memiliki karakter yang kuat. Percaya diri (confidence), mandiri (independent), mengomunikasikan kebutuhan (self-advocacy), kreatif dan kritis (creative and critical thinking) serta inklusif (inclusive)”, imbuhnya.

Agnia Dwi Permana selaku ketua UKM Peduli Difabel menambahkan acara meet and great untuk mahasiswa baru difabel UGM sebagai salah satu Upaya untuk mensosialisasikan berbagai layanan untuk mereka, baik layanan akademis maupun layanan non-akademis.

Agnia menjelaskan keberadaan UKM Peduli Difabel sudah berusia 11 tahun, dan selama itu UKM terus berusaha membantu dan menjaminan teman-teman difabel mendapatkan hak-haknya. UKM memiliki 7 departemen yang dalam perannya aktif berkolaborasi guna meningkatkan awardness bagi pemenuhan hak-hak disabilitas. “Saat ini selain menjalankan advokasi, kami menjalankan dua program yang terus berjalan yaitu Program Bahasa Isyarat dan Program Kastrat on the street”, ucapnya.

Untuk program kastrat on the street, kata Agnia, sebagai program baru UKM Peduli Difabel UGM tahun 2023. Melalui program tersebut, UKM Difabel UGM berupaya untuk mengevaluasi berbagai fasilitas yang ada di fakultas-fakultas di lingkungan kampus UGM. “Kita mengevaluasi apakah fasilitas-fasilitas sudah aksesibel dan inklusif, khususnya yang terkait video yaitu pengambilan take video sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman difabel”, paparnya.

Dalam kegiatan meet and great juga dilakukan sambung rasa antara mahasiswa dan pimpinan UGM. Tidak sedikit dari mahasiswa difabel menyampaikan berbagai permasalahan dan masukan untuk bisa ditindaklanjuti pihak universitas.

Penulis : Agung Nugroho

 

Artikel UKM Peduli Difabel UGM Gelar Pertemuan dengan Mahasiswa Baru Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ukm-peduli-difabel-ugm-gelar-pertemuan-dengan-mahasiswa-baru-penyandang-disabilitas/feed/ 0
Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/#respond Mon, 29 Jul 2024 08:20:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68029 Ariani Nisma Putri (18) atau akrab disapa Putri Ariani, merupakan salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima lolos masuk Kampus Universitas Gadjah Mada tahun ini. Penyanyi yang menjadi pernah meraih juara empat di ajang America’s Got Talent (AGT) ini diterima kuliah di Fakultas Hukum melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. […]

Artikel Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ariani Nisma Putri (18) atau akrab disapa Putri Ariani, merupakan salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima lolos masuk Kampus Universitas Gadjah Mada tahun ini. Penyanyi yang menjadi pernah meraih juara empat di ajang America’s Got Talent (AGT) ini diterima kuliah di Fakultas Hukum melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni.

Mengenakan kemeja putih dengan rok hitam, Putri Ariani merupakan salah satu dari enam perwakilan mahasiswa baru yang berkesempatan disematkan jas almamater oleh Rektor UGM sebagai tanda diterima menjadi mahasiswa baru UGM pada pembukaan PIONIR Gadjah Mada, Senin (29/7), di lapangan Pancasila. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an.

Ditemui oleh awak media, Putri Ariani mengaku senang dan bangga menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Menurutnya butuh waktu sekitar satu tahun baginya untuk memilih pendidikan terbaik bagi masa depannya. “Banyak pertimbangan. Setahun ini banyak berpikir untuk kelanjutan pendidikan putri, akhirnya memilih di UGM. Putri pikir, UGM menjadi the right choice for me,” katanya.

Soal pilihannya untuk memilih kuliah di prodi ilmu hukum, Fakultas Hukum, Putri menegaskan dirinya ingin belajar sesuatu hal yang baru tidak hanya di bidang bernyanyi dan musik. “Putri ingin belajar yang baru saja.  Semoga bisa mengadvokasi teman putri yang difabel dan non difabel untuk meraih mimpi mereka,” katanya.

Meski ia merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Musik Indonesia atau SMKN 2 Bantul, namun menurut Putri dengan memilih kuliah di Fakultas Hukum, ia berkeinginan untuk mencoba dan menambah wawasan yang baru. “Selama ini ambil musik di SMK, tapi putri suka sesuatu yang baru. Ingin belajar hukum bisa buat nambah wawasan yang lebih luas dan open minded,” katanya.

Namun begitu, Putri mengungkapkan kariernya di bidang menyanyi tidak akan ia tinggalkan begitu saja. Ia ingin pendidikan dan kariernya bisa berjalan secara beriringan. “Kalo putri ingin pendidikan dan karier berjalan beriringan dan kuliah akan lanjut. Tahun ini akan keluarkan album,” paparnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., mengatakan Putri Ariani merupakan salah satu dari 10 ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada yang berasal dari berbagai daerah, berbagai latar belakang sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk keberhasilan satu sama lain.

Ia berharap Putri bisa menjalankan kuliahnya dengan baik di kampus UGM. “Semoga lancar nanti kuliahnya dan fokus. Kami berusaha agar UGM menjadi tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk semua,” katanya.

Seperti diketahui, Putri Ariani, adalah seorang penyanyi-penulis lagu pop solo penyandang tunanetra. Namanya mulai dikenal semenjak mengikuti kompetisi Indonesia’s Got Talent 2014 dan berhasil keluar jadi pemenang. Saat beranjak remaja, ia mulai menarik perhatian publik internasional saat dia mendapatkan golden buzzer dari Simon Cowell di ajang America’s Got Talent (AGT) 2023 yang berhasil menempati posisi ke-4 dalam kompetisi tersebut.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/feed/ 0
Mahasiswa UGM Berdayakan Komunitas Difabel Lewat Budidaya Lebah Madu   https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-berdayakan-komunitas-difabel-lewat-budidaya-lebah-madu/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-berdayakan-komunitas-difabel-lewat-budidaya-lebah-madu/#respond Wed, 17 Jul 2024 09:04:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67022 Untuk membantu mengatasi permasalahan pengangguran terkait minimnya akses pekerjaan bagi kelompok disabilitas, sekelompok mahasiswa UGM melakukan pendampingan budidaya lebah madu tanpa sengat pada Kelompok Pemberdayaan Disabilitas (KPD) Mitra Karya Sejahtera Kabupaten Gunungkidul. Para mahasiswa ini mengenalkan budidaya lebah klanceng (Trigona sp.).karena program ini dapat dijalankan dengan modal terjangkau, tidak memerlukan kegiatan fisik yang berat, dan […]

Artikel Mahasiswa UGM Berdayakan Komunitas Difabel Lewat Budidaya Lebah Madu   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Untuk membantu mengatasi permasalahan pengangguran terkait minimnya akses pekerjaan bagi kelompok disabilitas, sekelompok mahasiswa UGM melakukan pendampingan budidaya lebah madu tanpa sengat pada Kelompok Pemberdayaan Disabilitas (KPD) Mitra Karya Sejahtera Kabupaten Gunungkidul. Para mahasiswa ini mengenalkan budidaya lebah klanceng (Trigona sp.).karena program ini dapat dijalankan dengan modal terjangkau, tidak memerlukan kegiatan fisik yang berat, dan aman bagi penyandang disabilitas.

Kelima mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa ini terdiri atas tiga orang mahasiswa Fakultas Peternakan, yaitu Aliya Rahmawati Nurkhasanah, Desta Lovefiyana Nurpita, dan Satriya Putra Pratama, serta dua mahasiswa lainnya yakni Muhammad Fahmi Rafsanjani dari Fakultas Ilmu budaya dan Paras Ardina Aya Shopya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tim tersebut dibimbing oleh Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc. sebagai dosen pendamping.

Aliya Rahmawati mengatakan alasan tim mahasiswa memilih kelompok disabilitas karena menyadari pentingnya pemberdayaan bagi mereka dalam rangka meningkatkan keterampilan dan menambah sumber penghasilan. “Tim mahasiswa tidak hanya melakukan pendampingan, namun juga memberikan pelatihan budidaya lebah madu tanpa sengat,” kata Aliya dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (17/7).

 Aliya menyebutkan KPD Mitra Sejahtera memiliki lahan seluas 250 m² yang belum dimanfaatkan. Di tangan mahasiswa, lahan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif sebagai lokasi  budidaya klanceng. “Kita harapkan lebah akan mencari pakan sendiri melalui tanaman yang ada di sekitar tempat budidaya,” kata Aliya selaku ketua tim.

Desta Lovefiyana Nurpita, anggota tim lainnya menerangkan bahwa program pendampingan dan pelatihan ini berlangsung selama empat bulan, yaitu sejak bulan Mei hingga Agustus 2024. Program dimulai dengan penanaman tanaman pakan lebah, pelatihan budidaya lebah, pemilihan dan pemindahan koloni, pemeliharaan lebah klanceng, hingga pemanenan madu.  Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah ketua KPD Mitra Sejahtera. “Ada sebanyak 24 anggota difabel yang mengikuti program ini di antaranya penyandang tuna daksa, tuna rungu, tuna wicara, tuna netra, autism mental retardasi, dan lain-lain,” terangnya.

Sebelumnya, beberapa program pelatihan telah diberikan, seperti beternak ayam, kambing, dan budidaya lele, namun mengalami kegagalan karena membutuhkan modal yang besar dan kondisi fisik yang kuat. Namun demikian, setelah pelatihan budidaya lebah klanceng, menurut Desta, kelompok difabel sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan baru mengenai budidaya lebah klanceng tanpa sengat dengan manajemen yang baik. “Kita juga memberikan materi tentang tata cara pemasaran yang baik hingga pengembangan produk turunan madu seperti bee pollen, propolis, dan royal jelly,” paparnya.

Selain pemberdayaan terhadap anggota difabel, kata Desta, tim mahasiswa juga memberikan training of trainer kepada pengurus KPD Mitra Sejahtera yang telah mengikuti program pelatihan agar dapat menjadi fasilitator bagi kelompok pemberdayaan difabel lainnya.

Ketua Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera Gunungkidul, Hardiyo, mengatakan pendampingan yang diberikan oleh tim mahasiswa UGM diharapkan mampu memberikan keterampilan baru bagi anggota Kelompok Mitra Karya Sejahtera. “Kita berharap pelatihan dapat diterapkan secara berkelanjutan pada kelompok pemberdayaan disabilitas lainnya,” ujarnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Mahasiswa UGM Berdayakan Komunitas Difabel Lewat Budidaya Lebah Madu   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-berdayakan-komunitas-difabel-lewat-budidaya-lebah-madu/feed/ 0