Pentas Ketoprak Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/pentas-ketoprak/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 03 Dec 2024 09:18:25 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Mengenang Perjalanan UGM lewat Lagu  https://ugm.ac.id/id/berita/mengenang-perjalanan-ugm-lewat-lagu/ https://ugm.ac.id/id/berita/mengenang-perjalanan-ugm-lewat-lagu/#respond Tue, 03 Dec 2024 09:15:53 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73476 Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan antusiasme penonton untuk memadati joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Minggu (1/12) malam. Pasalnya, Joglo GIK menjadi tempat penyelenggaraan Konser Melodi Bulaksumur dan Pagelaran Ketoprak “Suminten Nagih Janji”. Di konser bertajuk Melodi Bulaksumur ini mengisahkan seorang kakek yang lama mengabdi di UGM membagikan kisahnya kepada sang cucu. Kisah-kisah […]

Artikel Mengenang Perjalanan UGM lewat Lagu  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hujan yang mengguyur tidak menyurutkan antusiasme penonton untuk memadati joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Minggu (1/12) malam. Pasalnya, Joglo GIK menjadi tempat penyelenggaraan Konser Melodi Bulaksumur dan Pagelaran Ketoprak “Suminten Nagih Janji”.

Di konser bertajuk Melodi Bulaksumur ini mengisahkan seorang kakek yang lama mengabdi di UGM membagikan kisahnya kepada sang cucu. Kisah-kisah ini disampaikan melalui lagu populer pada eranya oleh sederet penyanyi yang terdiri dari pimpinan UGM dan vokal grup dosen dan mahasiswa. Tidak lupa, iringan musik oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM, Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), dan juga Gama Band turut meramaikan konser tersebut.

Sajian kedua pada malam tersebut sedikit berbeda. Apabila sebelumnya penonton diajak nostalgia, selanjutnya ketoprak “Suminten Nagih Janji” menampilkan lakon yang terinspirasi dari cerita lisan yang sering dipentaskan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Suminten Edan. Penampilan yang juga merupakan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ini tidak hanya menampilkan kisah cinta dan pengkhianatan Raden Mas Subrata pada Suminten, tetapi juga menampilkan sejumlah kritik pada penindasan yang dilakukan pemimpin. Selain itu, pentas ini juga menampilkan keberanian perempuan.

Pentas hiburan musik bukan menjadi satu-satunya aspek menarik pada kegiatan pagelaran seni kali ini. Melalui kerja sama dengan komunitas LOKALOGI, penonton harus menukarkan sejumlah sampah bekas kemasan untuk memperoleh tiket masuk. Penonton yang mendaftar tidak hanya diajak untuk peduli dan cinta pada kebudayaan saja, tetapi juga dapat menjadi peduli dan mendukung program lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., dalam pidato sambutannya  menyampaikan bahwa pagelaran musik dan ketoprak dalam rangka memeriahkan Lustrum Raya 2024 dan Dies Natalis UGM Ke-75 ini dapat menjadi momentum dari upaya UGM untuk melestarikan dan mencintai budaya dan sejarah UGM dan Indonesia. “Universitas Gadjah Mada turut berperan melestarikan seni dan budaya Indonesia serta mencetak insan berbudi luhur yang berwawasan nasional,” jelasnya.

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Mengenang Perjalanan UGM lewat Lagu  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mengenang-perjalanan-ugm-lewat-lagu/feed/ 0
FKH UGM Gelar Pentas Ketoprak Humor “Babad Alas Mertani” https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-pentas-ketoprak-humor-babad-alas-mertani/ https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-pentas-ketoprak-humor-babad-alas-mertani/#respond Tue, 24 Sep 2024 07:29:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70827 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM baru saja menggelar pementasan ketoprak dengan lakon humor berjudul Vetoprak yang mengangkat cerita Babad Alas Mertani sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-78 pada Sabtu malam (21/9). Acara yang digelar di Gedung Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM (GIK UGM) ini berhasil meraih perhatian banyak penonton dari berbagai kalangan, termasuk alumni, mahasiswa, […]

Artikel FKH UGM Gelar Pentas Ketoprak Humor “Babad Alas Mertani” pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM baru saja menggelar pementasan ketoprak dengan lakon humor berjudul Vetoprak yang mengangkat cerita Babad Alas Mertani sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-78 pada Sabtu malam (21/9). Acara yang digelar di Gedung Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM (GIK UGM) ini berhasil meraih perhatian banyak penonton dari berbagai kalangan, termasuk alumni, mahasiswa, dan dosen.

Lakon “Babad Alas Mertani” merupakan cerita wayang yang sangat terkenal di daerah Jawa. Lakon ini bercerita tentang pandawa lima dan perebutan kekuasaan di negeri Amarta yang dikuasai oleh jin-jin jahat. Pementasan ketoprak kali ini dipenuhi dengan sentuhan humor yang segar dan relevan, serta disesuaikan dengan tema UGM dan berbagai nuansa Fakultas kedokteran hewan. Sekjen Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) sekaligus Sekjen GAMAVET, drh. Andi Wijanarko, menjadi Ketua Panitia serta turut memainkan peran penting dalam lakon humor ini.

Sutradara pementasan, Mas Jandun, bersama dengan sang penulis naskah, Agus Marsudi, berhasil menghidupkan lakon dengan memasukkan elemen budaya, pendidikan, dan humor. Tema yang diangkat juga sangat sesuai dengan fakultas, karena mengusung kisah yang juga melibatkan hewan, selaras dengan keilmuan kedokteran hewan. Pada pementasan ini, banyak alumni yang terlibat, di antaranya adalah beberapa profesor dan pejabat penting yang ikut meramaikan pertunjukan. “Nah di situ kita merasakan kebersamaan alumni dari FKH UGM cukup kuat. Jadi tidak memandang strata dan pendudukan. Kita semua sama, sama-sama alumni dari UGM,” ucap Andi.

Lakon humor Babad Alas Mertani diisi dengan beberapa babak mulai dari opening hingga ending cerita. Diawali dengan pertemuan kerajaan mengenai Hutan Mertani dan rumor mengenai kematian pandawa lima. Perjuangan kemudian dimulai dengan para pandawa yang berusaha untuk merebut Hutan Mertani, dimana mereka juga harus menghadapi para jin yang berada disana. Negara Siluman Mertani pun sejak saat itu terkalahkan dan berubah menjadi negara yang dapat terlihat oleh pandangan mata biasa. Hutan Mertani kemudian dijadikan sebagai negara besar dan megah dan digantin namanya menjadi Negara Amarta.

Andi, ketika diwawancarai, menjelaskan bahwa ada beberapa adaptasi dalam cerita asli Babad Alas Mertani untuk disesuaikan dengan tema perayaan dies natalis FKH UGM. Misalnya, negara Amarta diibaratkan sebagai UGM, dan beberapa tokoh dalam cerita diperankan oleh dekan-dekan dan alumni dari berbagai fakultas. Ini dilakukan untuk merayakan semangat kebersamaan keluarga besar UGM. Beberapa tokoh akademis dari fakultas lain turut berpartisipasi, membuat pementasan ini semakin meriah dan menyatukan berbagai kalangan dalam satu panggung budaya. “Jadi tidak pakem pada cerita aslinya. Ini kita ganti juga bukan Ketoprak. Namanya Vetoprak, karena vet adalah dokter hewan,” ujarnya pada Senin (23/9).

Pementasan ketoprak ini juga bukan kali pertama diadakan. Tahun sebelumnya, FKH juga mementaskan ketoprak dengan tema “Lutung Kasarung”. Meski begitu, Andi mengatakan bahwa pada pementasan kali ini terdapat jumlah pemain lebih banyak, dan pementasannya berlangsung di GIK yang tentu lebih luas dan megah dibandingkan tahun lalu yang masih digelar di fakultas. Hal ini disambut antusias oleh para penonton, dengan banyak yang menginginkan agar pementasan ketoprak seperti ini menjadi tradisi tahunan di FKH.

Hanya dengan persiapan kurang lebih satu bulan, Andi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pementasan ini adalah penggunaan bahasa Jawa bagi para pemain yang sebagian besar bukan penutur asli bahasa tersebut. Meskipun demikian, para aktor berhasil menampilkan pertunjukan dengan lancar dan penuh semangat, termasuk menyisipkan unsur humor yang membuat penonton terhibur. “Jadi kita naskah itu jadi di bulan September, kemudian kita semuanya kita latihan pakai Zoom. Jadi setiap hari kita bagi babak per babak. Nanti kita hafalkan intonasi dan gaya pada saat kita ketemu,” ungkapnya.

Melihat kesuksesan pementasan ini, Andi mengatakan bahwa banyak pihak berharap acara seperti ini bisa terus dilanjutkan di masa mendatang. Bahkan, beberapa alumni dari fakultas lain, ujarnya, terinspirasi untuk membuat pementasan serupa di kampus mereka. Harapannya, melalui pementasan ini, budaya ketoprak dapat terus dilestarikan, sekaligus menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan antar alumni, dosen, dan mahasiswa FKH UGM.

Andi menyampaikan bahwa pemilihan ketoprak sebagai salah satu media penampilan dalam rangka dies natalis FKH UGM ini lantaran mereka merasa ketoprak mulai dilupakan oleh generasi muda. Maka dari itu, penting bagi generasi muda untuk dapat melestarikan budaya nusantara. “Dengan adanya Ketoprak yang dikemas dengan lucu dan humor, itu insya Allah ke depan teman-teman generasi muda bisa ikut melestarikan dan ikut berperan serta dalam hal menjaga budaya kita,” pungkasnya.

Penulis : Lintang

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Tom Blero/Kagama.id

Artikel FKH UGM Gelar Pentas Ketoprak Humor “Babad Alas Mertani” pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gelar-pentas-ketoprak-humor-babad-alas-mertani/feed/ 0
Pentas Ketoprak “Labuhan Katresnan” Meriahkan Dies Natalis ke-69 FEB UGM https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-labuhan-katresnan-meriahkan-dies-natalis-ke-69-feb-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-labuhan-katresnan-meriahkan-dies-natalis-ke-69-feb-ugm/#respond Tue, 24 Sep 2024 05:51:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70820 Memeriahkan peringatan Dies Natalis ke-69, Fakultas Ekonomika dan Bisnis menggelar pertunjukan seni ketoprak dengan judul Labuhan Katresnan, Sabtu (14/9) di FEB UGM. Pementasan ketoprak ini terasa sangat berbeda dari pertunjukkan ketoprak pada umumnya. Beberapa pemain yang terlibat dalam pentas itu bukanlah seniman ketoprak profesional. Mereka adalah dekan beserta jajaran wakil dekan, dosen, dan karyawan yang […]

Artikel Pentas Ketoprak “Labuhan Katresnan” Meriahkan Dies Natalis ke-69 FEB UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Memeriahkan peringatan Dies Natalis ke-69, Fakultas Ekonomika dan Bisnis menggelar pertunjukan seni ketoprak dengan judul Labuhan Katresnan, Sabtu (14/9) di FEB UGM. Pementasan ketoprak ini terasa sangat berbeda dari pertunjukkan ketoprak pada umumnya. Beberapa pemain yang terlibat dalam pentas itu bukanlah seniman ketoprak profesional. Mereka adalah dekan beserta jajaran wakil dekan, dosen, dan karyawan yang tergabung dalam grup ketoprak Dokar FEB UGM.

Pementasan ketoprak Labuhan Katresnan ini menceritakan tentang kisah asmara Galuh Candra Kirana dari kerajaan Kediri dan Panji Asmoro Bangun dari kerajaan Jenggala. Ketoprak ini melibatkan 24 pemain pendukung yang disutradarai oleh Martono dan Dandun H.W dengan iringan musik ketoprak oleh pengrawit dari kelompok Sekar Laras FEB UGM.

Dalam pementasan ini, kisah Galuh Candra Kirana yang diusir dari Kediri dan harus menjalani perjalanan agar bisa bertemu dengan Panji Asmara Bangun dikemas dalam dialog yang ringan. Meski pesan yang disampaikan sangat serius, namun pementasan ketoprak ini disajikan dalam suasana santai dan diselingi humor yang menghibur penonton.

Prof. Dr. Basu Swastha Dharmmesta, M.B.A., dosen purna tugas yang turut terlibat dalam pementasan ketoprak ini menyampaikan isi cerita ketoprak ini tentang cinta sejati yang tak terpisahkan meskipun menghadapi berbagai tantangan. “Melalui pertunjukkan ketoprak ini ada pesan yang ingin kami sampaikan pada penonton tentang loyalitas atau kesetiaan,” tuturnya.

Pesan yang terselip dalam ketoprak, lanjut Basu, ditujukan bagi seluruh civitas akademika dan staf profesional FEB UGM. Basu menjelaskan loyalitas dibangun melalui pengalaman, kepercayaan, dan persepsi positif. Harapannya melalui pertunjukkan tersebut seluruh warga FEB UGM dapat loyal dalam mendukung pengembangan fakultas.

Basu menyampaikan pementasan ketoprak menjadi salah upaya FEB UGM dalam melestarikan seni dan budaya tradisional. Pertunjukkan ketoprak ini juga menjadi langkah untuk membangkitkan ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional.

Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Pentas Ketoprak “Labuhan Katresnan” Meriahkan Dies Natalis ke-69 FEB UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-labuhan-katresnan-meriahkan-dies-natalis-ke-69-feb-ugm/feed/ 0
Pentas Ketoprak ‘Suminten Bukan Siti Nurbaya’ Semarakkan Temu Alumni FMIPA UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-suminten-bukan-siti-nurbaya-semarakkan-temu-alumni-fmipa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-suminten-bukan-siti-nurbaya-semarakkan-temu-alumni-fmipa-ugm/#respond Wed, 18 Sep 2024 00:55:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70659 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Malem Kangen FMIPA UGM 2024 sekaligus Temu Alumni yang merupakan salah satu rangkaian acara dari dies natalis ke-69, Sabtu (14/9) di Ruang Auditorium FMIPA UGM. Kegiatan ini bertujuan dalam mempertemukan alumni FMIPA UGM serta mempererat silaturahmi antar alumni dalam balutan acara yang membawa kenangan […]

Artikel Pentas Ketoprak ‘Suminten Bukan Siti Nurbaya’ Semarakkan Temu Alumni FMIPA UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Malem Kangen FMIPA UGM 2024 sekaligus Temu Alumni yang merupakan salah satu rangkaian acara dari dies natalis ke-69, Sabtu (14/9) di Ruang Auditorium FMIPA UGM. Kegiatan ini bertujuan dalam mempertemukan alumni FMIPA UGM serta mempererat silaturahmi antar alumni dalam balutan acara yang membawa kenangan mereka kembali saat menempuh studi di FMIPA UGM.

Beragam suguhan acara dan hiburan disajikan mulai pukul 6 petang hingga menjelang tengah malam dengan beragam kuliner jadul seperti bakmi jawa, gulali, dan harum manis. Berbagai alumni lintas angkatan menghadiri acara malam temu alumni kali ini. “Jauh-jauh dari seluruh Indonesia, ada yang dari Jakarta dan Nusa Tenggara. Kita bangga atas kehadiran Bapak dan Ibu senior yang telah hadir malam ini,” kata Kuwat dalam sambutannya.

Sejalan dengan tema Dies Natalis yang bertajuk “Inovasi untuk Hilirisasi: Mewujudkan Kemandirian Bangsa melalui Sains dan Teknologi”, Prof Kuwat turut menuturkan bahwa FMIPA saat ini telah membangun speed up company sebagai inkubator dan akselerator yang harapannya akan melahirkan berbagai start up ke depannya.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan beragam pertunjukkan seperti tarian kreasi dan band oleh mahasiswa dan alumni, pembagian doorprize, kuis, paduan suara, penghargaan mahasiswa berprestasi, inspirational talk alumni, dan ketoprak.

Salah satu acara yang cukup memantik kemeriahan acara adalah kethoprak atau drama dengan bahasa Jawa dengan judul Suminten Bukan Siti Nurbaya. Cerita drama tersebut menceritakan tentang Suminten (Bella, mahasiswa Matematika FMIPA) yang akan dijodohkan dengan sosok lelaki tua beristri 4 Den Mono (Prof. Harno Dwi Pranowo). Namun, Suminten telah memiliki seorang kekasih dan ingin melanjutkan studi S2 di FMIPA terlebih dahulu. Hal ini, sempat ditentang oleh sang Ayah (Prof. Kuwat) yang akhirnya luluh setelah mengetahui maksud dari anak gadisnya tersebut yang memiliki pujaan hati yang tengah menempuh pendidikan ilmu sains.

Selain suguhan ketoprak, ada yang unik di akhir pementasan. Seluruh penonton dan pemain beramai-ramai menyalakan flashlight ponsel sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Prof. Kuwat yang kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Penulis : Febriska/Humas FMIPA

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Pentas Ketoprak ‘Suminten Bukan Siti Nurbaya’ Semarakkan Temu Alumni FMIPA UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-suminten-bukan-siti-nurbaya-semarakkan-temu-alumni-fmipa-ugm/feed/ 0
Pentas Ketoprak “Mendung ing Karangwuni”, Angkat Isu Sosial di Sekitar Kampus  https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-mendung-ing-karangwuni-angkat-isu-sosial-di-sekitar-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-mendung-ing-karangwuni-angkat-isu-sosial-di-sekitar-kampus/#respond Wed, 21 Aug 2024 07:48:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69678 Dibuka dengan nyanyian tembang Jawa yang syahdu dan menciptakan suasana yang kental dengan nuansa tradisional, Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) melangsungkan acara kolaborasi unik yang berbentuk pentas ketoprak yang mengambil judul “Mendhung ing Karangwuni”, Selasa (20/8) malam, di Joglo GIK Universitas Gadjah Mada. Selain mengangkat isu-isu sosial, pentas ketoprak kali ini […]

Artikel Pentas Ketoprak “Mendung ing Karangwuni”, Angkat Isu Sosial di Sekitar Kampus  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dibuka dengan nyanyian tembang Jawa yang syahdu dan menciptakan suasana yang kental dengan nuansa tradisional, Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) melangsungkan acara kolaborasi unik yang berbentuk pentas ketoprak yang mengambil judul “Mendhung ing Karangwuni”, Selasa (20/8) malam, di Joglo GIK Universitas Gadjah Mada.

Selain mengangkat isu-isu sosial, pentas ketoprak kali ini menyisipkan elemen genre romantis, dimana tokoh anak perempuan di desa tersebut terpaksa dijodohkan oleh Bapaknya dengan tokoh anak dari investor demi perbaikan di desanya.  Kehadiran unsur romantis ini berhasil menjaga alur cerita agar tidak monoton, dan penonton pun tetap terhibur meski lakon ini membahas isu-isu berat. Konflik-konflik yang dihadirkan, disertai dengan proses resolusi yang logis, membuat lakon ini menjadi sebuah pertunjukan ketoprak yang utuh dan sempurna.

Dilengkapi dengan properti, lighting, dan alunan musik gamelan yang tepat, suasana lakon ini tentu membawa penonton seperti berada pada situasi yang sebenarnya. Tak sedikit penonton yang ikut menimpali dialog-dialog dalam lakon cerita dan dibalas oleh pemain sehingga kembali mengundang tawa. Para penonton turut mengapresiasi seluruh pemain yang telah bekerja keras dengan memberikan tepuk tangan yang meriah pada akhir dari lakon ini.

Selama pertunjukan, penonton disuguhi dengan dialog-dialog yang spontan dan penuh humor sehingga mengundang gelak tawa. Cerita dimulai dengan obrolan sekumpulan bapak-bapak yang mendiskusikan perbaikan desanya, dari obrolan tersebut berkembang menjadi berbagai konflik yang akhirnya diselesaikan melalui resolusi yang tepat. Dengan berbekal sebuah treatment (tanpa naskah jadi), ketoprak yang diinisiasi ini menjadi sangat amat fleksibel. Improvisasi para pemain menjadikan cerita ini dinamis dan tak terduga, membuat setiap adegan terasa segar dan relevan dengan kondisi saat ini.

Dengan hanya melakukan latihan sebanyak lima kali, Bambang Paningrom, salah satu sutradara dan inisiator kethoprak ini berhasil menggiring kawan-kawan pemain lakon ini untuk membawakan cerita yang menarik. Judul yang dipakai dalam lakon ini terinspirasi dari salah satu wilayah di utara UGM, yaitu Karangwuni. Meski demikian, latar cerita ini sebenarnya tidak berfokus pada lokasi tersebut, melainkan lebih kepada nilai-nilai dan isu-isu aktual yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Bambang menjelaskan bahwa cerita ini mewakili situasi tertentu dan dibuat dengan sangat bebas, aktual dan berisi kritik serta simbol-simbol tertentu di dalamnya. Ia juga menyampaikan mengenai Karangwuni yang menjadi sebuah simbol dalam lakon ketoprak ini. “Peristiwa yang dibayangkan adalah peristiwa yang aktual di masa sekarang, dimana orang mengambil keputusan itu tanpa mendengarkan suara lingkungan terdekatnya. Banyak yang melanggar norma, etika, dan semua ini akan tercermin dalam lakon,” jelasnya.

Ketoprak Kolaborasi ini merupakan sebuah uji coba agar Universitas Gadjah Mada menjadi lebih inklusif dan terbuka. Ia juga menyampaikan agar UGM tidak hanya dipandang sebagai “menara gading”, karena UGM masih menyapa warga-warga di sekitar dan komunitas di luar UGM. “Apa gunanya sebuah universitas yang terpandang dan punya banyak hal, banyak kelebihan, tapi malah meninggalkan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya saat ditanya oleh awak media.

Ia berharap dalam kelancaran acara pentas ketoprak ini bukan hanya untuk menawarkan sebuah hiburan. Sebaliknya agar terdapat nilai-nilai yang patut ditiru oleh para penonton, gagasan yang kritis, keterbukaan, integritas, dan penghormatan pada ide-ide serta menghargai orang lain. “Jadi ketoprak itu bukan cuma pertunjukan tapi benar-benar sebuah media menyampaikan gagasan, sharing dan penghargaan pada tradisi khususnya Jawa,” harapnya.

Seperti diketahui, pertunjukan Ketoprak kolaborasi ini merupakan program yang dilaksanakan oleh divisi Community Outreach GIK UGM dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari warga sekitar UGM, para alumni, hingga tenaga kependidikan Universitas Gadjah Mada, serta komunitas-komunitas lainnya.

Penulis : Lintang

Editor : Gusti Grehenson

Foto. : Tom Blero/Kagama.id

Artikel Pentas Ketoprak “Mendung ing Karangwuni”, Angkat Isu Sosial di Sekitar Kampus  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pentas-ketoprak-mendung-ing-karangwuni-angkat-isu-sosial-di-sekitar-kampus/feed/ 0