penghargaan internasional Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/penghargaan-internasional/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 05 Feb 2025 03:25:28 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Teliti Manfaat Mikroprotein pada Jamur Tempe, Rachma Wikandari Raih Penghargaan Hitachi Award https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-manfaat-mikroprotein-pada-jamur-tempe-rachma-wikandari-raih-penghargaan-hitachi-award/ https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-manfaat-mikroprotein-pada-jamur-tempe-rachma-wikandari-raih-penghargaan-hitachi-award/#respond Tue, 04 Feb 2025 08:45:27 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75446 Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada, Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D., berhasil mendapatkan penghargaan The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi risetnya mengenai mikroprotein yang dikembangkan dari air rebusan kedelai. Penelitian mengenai mikroprotein telah dilakukan Rachma kurang lebih selama 4 tahun ini. Menurutnya, mikroprotein merupakan protein alternatif yang […]

Artikel Teliti Manfaat Mikroprotein pada Jamur Tempe, Rachma Wikandari Raih Penghargaan Hitachi Award pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada, Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D., berhasil mendapatkan penghargaan The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi risetnya mengenai mikroprotein yang dikembangkan dari air rebusan kedelai.

Penelitian mengenai mikroprotein telah dilakukan Rachma kurang lebih selama 4 tahun ini. Menurutnya, mikroprotein merupakan protein alternatif yang memiliki kandungan nutrisi protein yang berada di antara daging dan kedelai. Kandungan asam amino yang dimiliki juga lebih lengkap dibanding kedelai. Mikroprotein sendiri terbuat dari Miselium jamur tempe yang ditumbuhkan pada media cair. Tekstur hasil panen seperti adonan kue (dough) sehingga mudah untuk dibentuk seperti bakso atau sosis. “Hanya saja masih perlu adanya pengembangan untuk tekstur hasil panen supaya mirip seperti daging ayam,” kata Rachma, Selasa (4/2) .

Terkait kepakarannya dalam pengolahan pangan, Rachma menyebutkan keunggulan dari mikroprotein ini tidak hanya dari segi nutrisinya saja. Namun, proses pembuatan Mikroprotein ini sendiri cukup singkat yaitu 2 hari dengan hasil panen mencapai satu kilogram. Bahkan ukuran reaktor yang dibutuhkan hanya 1×1 meter sehingga tidak memakan tempat. “Enzim yang terkandung di dalamnya bisa tumbuh dalam berbagai macam substrat contohnya seperti air rebusan kedelai,” jelasnya.

Tidak hanya pada kandungan nutrisi, imbuhnya, produksi mikroprotein bisa menanggulangi permasalahan limbah yang dihasilkan industri tempe serta menambah pendapatan bagi pedagang tempe. Untuk saat ini, Rachma tengah membuat model sterilisasi media dan saat ini pun sedang dikaji lebih mendalam untuk reaktor agar dapat lebih sederhana sehingga bisa untuk dikomersilkan.

Riset yang dilakukan Rachma ini tidak hanya membawanya memenangkan penghargaan Hitachi Awards, sebelumnya Ia juga sudah beberapa kali memenangkan penghargaan salah satunya L’Oreal – Unesco for Women in Science National Fellowship 2024 Award Academy.

Penghargaan yang didapatkan ini, Rachma Wikandari juga menyampaikan bahwa dirinya jadi semakin termotivasi untuk terus memberikan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Apalagi selama pengembangan riset ini, katanya,  ia tantangan tersendiri dalam upaya pengenalan ke masyarakat. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian ini menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung tidak mudah menerima olahan pangan baru yang dianggap asing atau biasa disebut food neophobia. Padahal jamur yang ada dalam produk mikroprotein ini sebenarnya sama dengan jamur yang ada pada tempe sehingga masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengkonsumsi olahan mikroprotein.

Pada bulan Desember 2024 lalu, kata Rachma, mikroprotein telah diperkenalkan kepada masyarakat dengan bekerja sama dengan seorang chef untuk mengolah produk tersebut menjadi spaghetti. Tanggapan dari masyarakat pun positif dan banyak yang menyukai olahan mikroprotein. Mereka berpendapat bahwa olahan mikroprotein memiliki tekstur yang mirip dengan sosis.

Rachma berharap, riset potensi pangan alternatif yang ia kembangkan ini bisa berkontribusi menyelesaikan masalah di masyarakat dengan mencari dan memanfaatkan potensi pangan lokal.

Penulis : Jelita Agustine

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto dan Shutterstock

Artikel Teliti Manfaat Mikroprotein pada Jamur Tempe, Rachma Wikandari Raih Penghargaan Hitachi Award pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-manfaat-mikroprotein-pada-jamur-tempe-rachma-wikandari-raih-penghargaan-hitachi-award/feed/ 0
Bikin Inovasi Boba Bean, Tim Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional di Malaysia https://ugm.ac.id/id/berita/bikin-inovasi-boba-bean-tim-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional-di-malaysia/ https://ugm.ac.id/id/berita/bikin-inovasi-boba-bean-tim-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional-di-malaysia/#respond Mon, 23 Dec 2024 03:33:16 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74153 Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali mencetak prestasi gemilang. Kali ini, tim mahasiswa UGM yang terdiri dari Muhammad Faris Khiar Calosa, Ridho Nur Alam, Irvan Khotibul Umam, Muhammad Syukur Shidiq, dan Agus Syahputra. Mahasiswa yang berasal dari berbagai Fakultas, yakni Fakultas Biologi, Antropologi FIB, Teknik, dan Farmasi meraih penghargaan dalam International Youth Summit (IYS) 2024. Seperti diketahui, IYS 2024 […]

Artikel Bikin Inovasi Boba Bean, Tim Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional di Malaysia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali mencetak prestasi gemilang. Kali ini, tim mahasiswa UGM yang terdiri dari Muhammad Faris Khiar Calosa, Ridho Nur Alam, Irvan Khotibul Umam, Muhammad Syukur Shidiq, dan Agus Syahputra. Mahasiswa yang berasal dari berbagai Fakultas, yakni Fakultas Biologi, Antropologi FIB, Teknik, dan Farmasi meraih penghargaan dalam International Youth Summit (IYS) 2024. Seperti diketahui, IYS 2024 merupakan kompetisi esai dan presentasi ilmiah berskala internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Putera Malaysia pada 9—10 November 2024 lalu.

Pada ajang bergengsi ini, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil meraih medali perak melalui karya inovatif bertajuk “Boba Bean: An Innovative Instant Red Bean Beverage for Anemia Prevention Among Adolescents.” Boba Bean disebut dapat menjadi solusi nutrisi berbasis kacang merah yang dirancang khusus untuk mencegah anemia di kalangan remaja. Karya ini memadukan bahan-bahan alami seperti kacang merah yang dikenal kaya akan sumber zat besi yang bermanfaat untuk meningkatkan asupan zat besi harian.

Awalnya, ide karya inovasi ini berangkat dari tingginya penderita anemia di Indonesia, terutama pada kalangan remaja putri. Sering kali, pil atau suplemen penambah darah dinilai kurang efektif untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Hal ini dikarenakan beberapa orang kesulitan mengkonsumsi obat dalam bentuk kapsul tersebut. “Kami ingin menciptakan solusi alternatif yang lebih menarik dan sesuai dengan selera generasi muda,” ujar Agus Syahputra, Senin (23/12).

Selama kompetisi berlangsung, banyak pengalaman baru yang dijalani oleh tim, salah satunya mempresentasikan karya di hadapan juri dan pengunjung internasional. Dalam acara tersebut, tim juga mendemonstrasikan produk secara langsung dalam bentuk hidangan Boba Bean. Mereka menjelaskan inovasi yang mereka usung dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Inggris. “Tentu, ini adalah pengalaman yang sangat berharga,” ungkap Agus.

Karya ilmiah ini mendapat apresiasi dari para juri internasional berkat pendekatan yang kreatif dan berbasis riset ilmiah. Inovasi Boba Bean ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3 yaitu Kesehatan dan Kesejahteraan. “Melalui solusi pangan bergizi dan praktis ini, Boba Bean diharapkan dapat menjadi alternatif efektif dalam upaya pencegahan anemia yang masih menjadi permasalahan kesehatan global,” katanya.

Agus berharap bahwa Boba Bean dapat dikembangkan lebih lanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan meraih medali perak dalam International Youth Summit 2024, tim UGM tidak hanya mengharumkan nama universitas, tetapi juga menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan berinovasi di kancah internasional. “Keberhasilan ini membuka peluang bagi kami untuk berkolaborasi lebih lanjut dalam mendukung gerakan kesehatan global,” pungkas Agus.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Bikin Inovasi Boba Bean, Tim Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional di Malaysia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bikin-inovasi-boba-bean-tim-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional-di-malaysia/feed/ 0
Wening Udasmoro Terima Penghargaan Akademik Tertinggi dari Pemerintah Prancis https://ugm.ac.id/id/berita/wening-udasmoro-terima-penghargaan-akademik-tertinggi-dari-pemerintah-prancis/ https://ugm.ac.id/id/berita/wening-udasmoro-terima-penghargaan-akademik-tertinggi-dari-pemerintah-prancis/#respond Thu, 05 Dec 2024 04:34:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73545 Guru Besar Bidang Ilmu Sastra dan Gender Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., meraih penghargaan Remise Des Palmes Académiques dari Pemerintah Prancis, Rabu (4/12), di Gedung Pusat UGM. Penyerahan gelar kehormatan tersebut dihadiri oleh kedutaan Prancis, Pimpinan Universitas, dan sivitas akademika di lingkungan UGM. Remise Des Palmes Académiques merupakan penghargaan […]

Artikel Wening Udasmoro Terima Penghargaan Akademik Tertinggi dari Pemerintah Prancis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Guru Besar Bidang Ilmu Sastra dan Gender Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., meraih penghargaan Remise Des Palmes Académiques dari Pemerintah Prancis, Rabu (4/12), di Gedung Pusat UGM. Penyerahan gelar kehormatan tersebut dihadiri oleh kedutaan Prancis, Pimpinan Universitas, dan sivitas akademika di lingkungan UGM.

Remise Des Palmes Académiques merupakan penghargaan akademik tertinggi dan tertua dari pemerintah prancis. Dalam sejarahnya, penghargaan ini pertama kali diinisiasi pada tahun 1808 oleh Napoleon I. Seiring berjalannya waktu, pemerintah prancis memberikan penghargaan Remise Des Palmes Académiques kepada akademisi di seluruh dunia yang telah mendedikasikan diri untuk mendalami warisan budaya prancis.

Disampaikan oleh Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, karya-karya Prof. Wening dinilai layak untuk mendapatkan penghargaan tertinggi akademik prancis. “Selama tiga puluh tahun Prof. Wening berkarir dan mempromosikan frankofoni di Indonesia, menjadi jembatan antara hubungan Indonesia-Prancis. Anda sangat layak mendapatkan penghargaan Palmes Académiques ini,” tutur Fabien.

Fabien juga memberikan apresiasi terhadap dunia akademik di Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan prioritas bagi Prancis. Ia ingin agar hubungan bilateral baik di sektor akademik, budaya, ekonomi, hingga politik dapat terus terjalin. Salah satu upayanya adalah dengan meningkatkan kolaborasi global akademik untuk saling bertukar budaya dan mengapresiasi penelitian serta riset akademik.

“Prof. Wening, menurut saya, hal ini hampir terlihat dengan jelas karena dia telah terlibat dalam kegiatan ilmiah dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Prancis. Jadi, ia sepenuhnya layak untuk mendapatkan penghargaan ini,” ujar Fabien. Ia berharap agar para akademisi di Indonesia memahami bahwa Indonesia menjadi negara besar yang banyak dipertimbangkan di kancah internasional. Kesempatan global untuk mengembangkan penelitian dan kualitas diri sangat terbuka lebar.

Prof. Wening turut mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas apresiasi yang diterimanya. “Sebuah kehormatan, saya merasa sangat haru dan tidak pernah saya bayangkan, Saya dedikasikan untuk UGM, teman-teman dosen, dan kolega yang mendukung saya selama ini,” ucapnya. Selama tiga puluh tahun pengabdiannya sebagai akademisi di bidang sastra prancis, Prof. Wening banyak menelurkan kajian-kajian lintas sektor dan disiplin dalam lingkup sosial humaniora.

Bagi Prof. Wening, mempelajari budaya dan sastra prancis sudah menjadi bagian dari sisi kehidupannya. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh keluarga yang kental dengan budaya dan seni. Kemudian dari sanalah ia mengenal lagu-lagu dan film Prancis, seperti film Alain Delon, serta musik karya Christophe dan Serge Gainsbourg. Kecintaannya akan sastra dan budaya prancis juga ia tuangkan dalam karya tesisnya yang membahas tentang interpretasi mitos Jawa Rara Jonggrang dan Rara Mendut dengan teori strukturalisme Claude Levi-Strauss.

Kontribusi Prof. Wening dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan budaya Prancis terus berlanjut. Ia menjadi salah satu pionir penguji Diplôme d’Etude en Langue Française (DELF) ketika pertama kali diselenggarakan. Hasil risetnya bertema sastra, gender, sexualitas, konflik, media, identitas, hingga analisis konflik wacana banyak mengutip teori tokoh besar Prancis. “Saya termasuk orang yang beruntung. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi saya. Harapannya saya bisa berkontribusi lebih baik dengan kajian prancis yang selama ini menjangkar kuat membentuk peradaban dunia,” ungkap Prof. Wening.

Wakil Rektor UGM ini juga berpesan pada para akademisi agar terus berkarya dan mengabdikan diri untuk pendidikan dan masyarakat. Jangan lelah untuk membentuk diri melalui karya dan riset, karena apresiasi akan datang dari mana saja.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Wening Udasmoro Terima Penghargaan Akademik Tertinggi dari Pemerintah Prancis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/wening-udasmoro-terima-penghargaan-akademik-tertinggi-dari-pemerintah-prancis/feed/ 0
Teliti Populasi Burung Paruh Bengkok di TN Manusela, Dua Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional  https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-populasi-burung-paruh-bengkok-di-tn-manusela-dua-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-populasi-burung-paruh-bengkok-di-tn-manusela-dua-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional/#respond Mon, 25 Nov 2024 08:09:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73203 Dua orang mahasiswa program Pascasarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Dudi Nandika dan Dwi Agustina mengikuti Ornithological Conference pada 14 -17 November lalu di Beijing, China. Keduanya mendapat penghargaan di konferensi yang dihadiri 528 delegasi dari 39 negara terdiri dari 76 Universitas, 37 Lembaga Penelitian. Konferensi ini merupakan ajang peningkatan pertukaran akademik antar negara dikawasan Asia, […]

Artikel Teliti Populasi Burung Paruh Bengkok di TN Manusela, Dua Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Dua orang mahasiswa program Pascasarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Dudi Nandika dan Dwi Agustina mengikuti Ornithological Conference pada 14 -17 November lalu di Beijing, China. Keduanya mendapat penghargaan di konferensi yang dihadiri 528 delegasi dari 39 negara terdiri dari 76 Universitas, 37 Lembaga Penelitian. Konferensi ini merupakan ajang peningkatan pertukaran akademik antar negara dikawasan Asia, mempromosikan penelitian dan konservasi di bidang ornithology. Seperti diketahui, ornitologi adalah studi tentang Fisiologi, Evolusi dan perilaku Burung.

Dalam konferensi yang diprakarsai oleh International Ornithology Union (IOU) dan Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences serta bekerja sama dengan International Zoological Society, China Ornithological Society dan jurnal Avian Research, penghargaan yang diterima oleh kedua mahasiswa ini, berupa penghargaan “First Prize Poster Award” untuk Dudi Nandika dan “First Prize Presentation Awards” untuk Dwi Agustina. Selain itu, keduanya mendapatkan Travel Award dari AOC Committee.

Dudi merupakan seorang mahasiswa doktoral dari Fakultas Biologi UGM, berhasil mempresentasikan risetnya yang berjudul “Recent Data Analysis Feeding Guilds Bird Community as a Bioindicator for Manusela National Park Management, in Maluku”. Riset yang dilakukan oleh Dudi merupakan sebuah riset yang dilaksanakan untuk mencari tahu data populasi dan komposisi jenis burung di Taman  Nasional (TN) Manusela, Maluku yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk dalam pengelolaan kawasan dan update data dalam penentuan kebijakan penentuan status suatu jenis burung.

Dudi menjelaskan bahwa riset ini dilatar belakangi oleh adanya ancaman perburuan liar yang terjadi di wilayah Maluku, dimana 86% satwa yang diburu merupakan satwa dari keluarga aves sehingga dibutuhkan adanya atensi khusus terhadap perlindungan satwa aves, karena peran ekologi mereka yang dinilai sangat penting untuk ekosistem.“Perburuan liar merupakan ancaman terbesar yang dihadapi oleh burung liar di wilayah Maluku 86% jenis yang satwaliar yang berhasil disita oleh BKSDA adalah dari keluarga Aves,” kata Dudi dalam keterangan yang dikirim kepada wartawan, Senin (25/11).

Burung yang ada di Taman Nasional ini umumnya merupakan jenis yang dapat mewakili kondisi tipe habitat dan ketinggian yang berada dalam Kawasan TN Manusela. Menurutnya, peran ekologi burung dalam ekosistem menjadikan keberadaan burung memiliki peranan yang sangat penting, dan dapat dijadikan indikator kesehatan lingkungan dan perubahan ekologi atau habitat. “Sangat diperlukan kebijakan yang dapat melindungi satwa jenis aves yang berada di Taman Nasional Manusela,” ujarnya.

Selanjutnya perwakilan UGM yang kedua, Dwi Agustina yang merupakan seorang mahasiswa magister dari fakultas Biologi UGM turut mempresentasikan risetnya yang berjudul “Aligning Cockatoo Conservation Efforts with Local Huaulu Customary Wisdom on Seram Island, Maluku, Indonesia”. Riset yang dilaksanakan oleh Dwi Agustina ini membahas terkait adanya konflik kepentingan di antara masyarakat adat Huaulu di Maluku dengan Pemerintah, dimana masyarakat adat Huaulu ingin memburu burung Kakatua guna mendapatkan bulu jambulnya untuk kepentingan adat, yang dimana hal ini bertentangan dengan kepentingan konservasi pemerintah. “Riset ini dilaksanakan untuk mendapatkan solusi guna menyelesaikan konflik ini secara damai,” ujarnya.

Menurut Dwi, riset ini berhasil menemukan jalan tengah guna dapat menyelesaikan konflik antara pemerintah dengan masyarakat adat dengan ditemukannya sebuah solusi yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Solusi yang ditawarkan adalah penggunaan bulu burung kakatua yang sudah rontok dalam pelaksanaan upacara adat, sehingga masyarakat adat tetap dapat melaksanakan upacara adat mereka tanpa memburu burung kakatua sehingga kepentingan konservasi pemerintah bisa tetap berjalan. “Kesepakatan ini juga menjadi jalan tengah untuk menyelaraskan upaya konservasi burung khususnya kakatua maluku dengan kearifan lokal Negeri adat Huaulu” Jelas Dwi.

Dwi berharap proses konservasi yang dilaksanakan di Maluku dapat berjalan lancar dan hewan-hewan yang terancam punah dapat dipulihkan populasinya. “Dapat mengaktifkan kembali “seli kaitahu” untuk memulihkan populasi hewan buruan dan mengatur pemanfaatan hutan di dalam Negeri Adat, sehingga populasi hewan buruan yang berkurang dapat pulih kembali” Ucap Dwi.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, mengatakan penghargaan dan hasil riset yang telah dihasilkan oleh kedua mahasiswa ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada masyarakat Indonesia dan menjadi sebuah motivasi untuk upaya penelitian dan konservasi burung di Indonesia. Menurut Budi, kedua mahasiswa ini telah lama menjadi praktisi dalam dunia konservasi burung khususnya burung paruh bengkok, namun konferensi ini tentu merupakan ajang mempromosikan diri dan meningkatkan jaringan di dunia yang lebih luas, serta menambah wawasan.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Teliti Populasi Burung Paruh Bengkok di TN Manusela, Dua Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/teliti-populasi-burung-paruh-bengkok-di-tn-manusela-dua-mahasiswa-ugm-raih-penghargaan-internasional/feed/ 0
Dosen UGM Rachma Wikandari Raih Penghargaan L’Oreal – UNESCO For Women in Science https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-rachma-wikandari-raih-penghargaan-loreal-unesco-for-women-in-science/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-rachma-wikandari-raih-penghargaan-loreal-unesco-for-women-in-science/#respond Fri, 22 Nov 2024 05:34:41 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73154 Dosen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D., berhasil memperoleh penghargaan serta hibah dana penelitian senilai 100 juta dari L’Oreal – UNESCO For Women in Science 2024. Penghargaan ini diberikan bersama empat peneliti perempuan dari berbagai institusi pada 11 November lalu di Jakarta. Wikandari meraih penghargaan untuk kategori life-science dengan […]

Artikel Dosen UGM Rachma Wikandari Raih Penghargaan L’Oreal – UNESCO For Women in Science pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D., berhasil memperoleh penghargaan serta hibah dana penelitian senilai 100 juta dari L’Oreal – UNESCO For Women in Science 2024. Penghargaan ini diberikan bersama empat peneliti perempuan dari berbagai institusi pada 11 November lalu di Jakarta.

Wikandari meraih penghargaan untuk kategori life-science dengan penelitiannya mengenai meat analogue dari jamur tempe. Untuk mengikuti tahapan seleksi L’Oreal – UNESCO For Women in Science, Wikandari mengirimkan proposal hasil riset dan karya yang telah dikumpulkan. Menurutnya, terdapat sejumlah 100 proposal yang masuk, tetapi hanya sejumlah 10 proposal yang lolos seleksi. “Dari 10 proposal itu, kami diminta melakukan presentasi di depan dewan juri untuk memilih 4 kandidat terbaik,” ujar Wikandari, Jumat (22/110 di kampus UGM.

Wikandari mengaku bersyukur mendapat penghargaan serta dana hibah penelitian terkait risetnya dalam pengembangan Protein Alternatif Daging Tiruan dari Jamur Tempe. Ia menuturkan bahwa bermacam-macam daging tiruan dapat dibuat menggunakan jamur tempe tersebut. “Riset saya tentang jamur tempenya saja, tanpa kedelai, bisa jadi sumber protein yang sangat baik,” ujarnya.

Penelitiannya berkutat pada peningkatan kandungan mineral dari mikroprotein yang terdapat pada jamur tempe. Selain menjadi alternatif protein, jamur tempe sendiri memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan nutrisi pada daging. Jamur tempe memiliki kandungan protein sebesar 19 persen, selisih 2 persen dari kandungan protein pada daging. Selain itu, jamur tempe juga memiliki asam amino esensial yang lebih lengkap daripada sumber protein nabati lain. Kandungan serat pada jamur tempe juga dinilai lebih tinggi daripada daging sehingga olahan ini baik untuk kesehatan saluran pencernaan.

Proses pembuatan jamur tempe pun dianggap lebih ramah lingkungan dan efisien daripada sumber protein lain, baik hewani maupun nabati. Jamur tempe dapat dipanen dalam waktu dua hari di dalam reaktor atau reaktor. Bahkan, Wikandari memanfaatkan air sisa rebusan kedelai untuk menumbuhkan jamur tersebut. Dengan langkah ini, ia sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan oleh limbah industri makanan. “Kalau bisa, kita menghasilkan protein yang menggunakan sumber daya alam paling minimal; menggunakan sedikit air, sedikit lahan, dan bisa tumbuh dengan cepat,” ujar Wikandari.

Wikandari tidak sendirian dalam upayanya mengembangkan jamur tempe. Ia bekerja sama dengan universitas dan institusi lokal dan luar negeri untuk dapat memberikan hasil terbaik. Di antaranya adalah Universitas Lampung; Universitas Boras, Swedia; dan Universitas de Minho, Portugal. Wikandari juga menggandeng usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produksi tempe untuk melakukan riset menggunakan limbah rebusan kedelai.

Ide jamur tempe ini tentu tidak muncul dalam waktu semalam. Wikandari mengaku bahwa penelitian ini sudah memakan waktu yang cukup lama, yaitu 4 tahun. Bahkan, ia telah merumuskan ide ini sejak tahun 2011. “Saya mengutak-atik jamur tempe sudah 13 tahun, tapi kalau jamur tempe yang dijadikan daging tiruan, baru sejak tahun 2020,” tutur Wikandari.

Berkat penghargaan ini, Wikandari berharap mikroprotein dari jamur tempe bisa lebih dikenal oleh masyarakat, baik produsen maupun konsumen. Ketika masyarakat sudah mulai mengenal jamur tempe, diharapkan produsen bisa mendukung komersialisasi produk mikroproteinnya. “Harapannya, jamur tempe ini bisa hadir di masyarakat sebagai alternatif protein yang bergizi, murah, dan berkelanjutan,” tukas Wikandari.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Dosen UGM Rachma Wikandari Raih Penghargaan L’Oreal – UNESCO For Women in Science pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-rachma-wikandari-raih-penghargaan-loreal-unesco-for-women-in-science/feed/ 0
Tim Bimasakti UGM Raih 7 Penghargaan Internasional di Formula Student Spain 2024 https://ugm.ac.id/id/berita/tim-bimasakti-ugm-raih-7-penghargaan-internasional-di-formula-student-spain-2024/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-bimasakti-ugm-raih-7-penghargaan-internasional-di-formula-student-spain-2024/#respond Mon, 12 Aug 2024 07:45:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69279 Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada telah sukses mengukir prestasi di ajang kompetisi Formula Student Spain 2024. Berkompetisi di Circuit de Barcelona-Catalunya, Spanyol, pada 1-7 Agustus 2024 lalu, tim Bimasakti berhasil meraih 7 penghargaan diantara 110 tim dari 26 negara. Pada kompetisi tersebut, Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team berhasil memperoleh sejumlah prestasi antara […]

Artikel Tim Bimasakti UGM Raih 7 Penghargaan Internasional di Formula Student Spain 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada telah sukses mengukir prestasi di ajang kompetisi Formula Student Spain 2024. Berkompetisi di Circuit de Barcelona-Catalunya, Spanyol, pada 1-7 Agustus 2024 lalu, tim Bimasakti berhasil meraih 7 penghargaan diantara 110 tim dari 26 negara.

Pada kompetisi tersebut, Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team berhasil memperoleh sejumlah prestasi antara lain penghargaan Best Formula Student Spain Spirit, dengan perolehan 10th place Autocross, 6th place Business Plan Presentation, 7th place Cost and Manufacturing Event, 9th place Design Event, 12th place Acceleration, 9th place Skidpad, dan 9th place Overall. Beberapa posisi yang dicapai oleh Bimasakti UGM ini bahkan berada di atas universitas besar dan terbaik di dunia.

Leander Axellino, selaku kapten Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tim ini. Menurutnya, penghargaan internasional ini merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi seluruh anggota tim selama berbulan-bulan sehingga bisa bersaing dengan tim-tim terbaik dari seluruh dunia dan membawa pulang berbagai penghargaan. “Sebagai satu-satunya tim dari Asia, penghargaan ini tentu menjadi momen yang sangat membanggakan bagi kami dan tentunya bagi Indonesia,” ujar Leander dalam keterangan kepada wartawan, senin (12/8).

Perjalanan panjang Tim Bimasakti UGM kali ini bukan hanya tentang meraih prestasi dalam ajang Formula Student Spain 2024, tetapi juga tentang mengharumkan nama bangsa Indonesia di mata dunia. “Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, dan melestarikan warisan budaya yang tak ternilai harganya bagi generasi mendatang,” imbuhnya.

Leander bercerita, sebelum berlaga dalam kedua cabang Formula Student Spain yaitu Dynamic Events dan Static Events, Bimasakti UGM telah lebih dulu melakukan pengecekan ketat terhadap mobilnya. “Kami menyelesaikan tahapan pertama yaitu technical inspection, dilanjut dengan tilt test, brake test, dan noise test, semua dilakukan dalam kurang dari tiga hari,” ujarnya.

Setelah melewati pengecekan yang menyeluruh terhadap mobil yang akan mengikuti pertandingan, Tim Bimasakti akhirnya dapat berkompetisi lewat cabang lomba Dynamic Events yaitu Autocross, Skidpad, Endurance & Acceleration, serta cabang lomba Static Events, yaitu Business Plan Presentation, Cost and Manufacturing Presentation, dan juga Engineering Design Presentation.

Selain itu, Tim Bimasakti menampilkan motif khas Sasambo pada livery mobil dan seragam, yang mencerminkan keindahan warisan budaya Nusantara. Selain itu, mereka juga mempromosikan pariwisata dan budaya Indonesia melalui souvenir yang disediakan, serta berbagi makanan dan produk asli Indonesia di area sosial acara. “Semua ini dilakukan sebagai upaya tim Bimasakti UGM dalam menonjolkan identitas budaya Indonesia di kancah internasional,” paparnya.

Seperti diketahui, Formula Student Spain merupakan kompetisi yang diikuti oleh berbagai negara yang berasal dari berbagai penjuru dunia seperti Jerman, Italia, Perancis, Portugal, dan masih banyak lagi. Sebagai satu-satunya tim yang mewakili Asia, Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team UGM memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para peserta dan juri melalui berbagai inisiatif.

Di ajang Formula Student Spain 2024, Tim Bimasakti UGM telah membuktikan bagaimana kolaborasi semangat dan mimpi generasi muda dalam meraih prestasi sekaligus menjadi duta budaya Indonesia di panggung dunia. “Dengan membawa bekal nilai-nilai dan kekayaan budaya Indonesia yang dipaparkan kepada peserta dari berbagai negara, Tim Bimasakti berhasil membangun jembatan persahabatan antarbangsa dan memperkenalkan keindahan Indonesia,” tandasnya.

Untuk bisa berlaga dalam kompetisi ini, Tim Wonderful Indonesia Bimasakti Racing Team mendapatkan dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, serta banyak institusi lainnya. Tim Bimasakti berkomitmen untuk terus memperdalam riset, inovasi, dan mengukir prestasi untuk mengharumkan nama Indonesia di kompetisi mendatang.

Penulis : Lintang

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Tim Bimasakti UGM Raih 7 Penghargaan Internasional di Formula Student Spain 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-bimasakti-ugm-raih-7-penghargaan-internasional-di-formula-student-spain-2024/feed/ 0
Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Young Water Sustainability Leaders  https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-raih-penghargaan-internasional-young-water-sustainability-leaders/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-raih-penghargaan-internasional-young-water-sustainability-leaders/#respond Tue, 28 May 2024 02:46:50 +0000 https://ugm.ac.id/dosen-ugm-raih-penghargaan-internasional-young-water-sustainability-leaders/ Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Diah Fitria Widhiningsih, S.P., M.Sc., berhasil meraih penghargaan 1st Place of Young Water Sustainability Leaders 2024 dalam Kompetisi yang diadakan di sela kegiatan World Water Forum di Bali, 24 Mei lalu yang bertajuk “Conserving Water Conserving Our Future”. Penghargaan yang diikuti 1.000 peserta dari berbagai negara […]

Artikel Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Young Water Sustainability Leaders  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada,  Diah Fitria Widhiningsih, S.P., M.Sc., berhasil meraih penghargaan 1st Place of Young Water Sustainability Leaders 2024 dalam Kompetisi yang diadakan di sela kegiatan World Water Forum di Bali, 24 Mei lalu yang bertajuk “Conserving Water Conserving Our Future”. Penghargaan yang diikuti 1.000 peserta dari berbagai negara ini,  Diah Fitri dinilai mampu memukau dewan juri salah satunya dari dari UNDP atas hasil riset dan karyanya yang mampu menginspirasi, dan berkomitmen dalam menciptakan kesadaran masyarakat global tentang keberlanjutan sumber daya air.

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Basuki Hadimuljono, di sela kegiatan WWF. Selain Diah,   penghargaan untuk juara kedua diraih peserta dari Amerika Serikat. Sedangkan juara ketiga diraih peserta dari Ghana.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (28/5), Diah mengaku senang dan bangga bisa meraih penghargaan dari kompetisi bertaraf internasional tersebut. Ia bahkan tak menyangka bisa meraih juara pertama karena diikuti lebih dari 1.000 pemuda . “Perasaan saya tentu saja senang dan semakin termotivasi untuk meningkatkan kepedulian diri-sendiri dan masyarakat sekitar terhadap konservasi air,” katanya.

Diah menceritakan untuk mengikuti tahapan seleksi Young Water Sustainability Leaders ini, seluruh peserta mengirim proposal hasil riset, ide, dan karya masing-masing. Selanjutnya dari proposal yang masuk diseleksi sehingga terpilih 300 peserta. “Kemudian, kami mengikuti bootcamp selama hampir seminggu. Seluruh peserta mengumpulkan abstrak dan dipilih 50 besar,” ujarnya. Selanjutnya, peserta yang masuk 50 besar ini diminta untuk menyusun makalah untuk untuk dipilih 10 besar terbaik untuk lolos ke babak final. “Peserta yang masuk 10 besar diundang dan dibiayai untuk hadir dalam World Water Forum di Bali. Kami melakukan presentasi dan showcase secara terbuka dan dapat disaksikan oleh publik,” katanya.

Pada lomba ini, seluruh peserta umumnya menyampaikan hasil riset, ide atau karya yang sudah dilakukan di lapangan. Namun Diah sendiri mengaku ia menyampaikan inovasi hasil riset dan karya yang sudah dilakukan di lapangan.“Dalam lomba ini, saya melakukan semuanya sekaligus,” paparnya.

Soal karya yang ia tawarkan, Diah menuturkan bahwa dirinya menekankan pada aspek sosial dalam kegiatan konservasi air di kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk karya inovasi yang sudah ia lakukan adalah terkait inovasi Mini T-ReKs  atau Mini Tentative Research for Kids. Ia menjelaskan bahwa karya yang ia tawarkan berupa kegiatan konservasi air terintegrasi bidang seni, pertanian, dan edukasi yang ia namakan PEMDA yang merupakan singkatan dari Painting, English, Music, Dance, and Agriculture. “Saya pertama kali memperkenalkan konsep ini pada tahun 2019. Saat itu hanya fokus pada anak siswa SD dan SMP. Namun sekarang, kegiatan tersebut berkembang dengan melibatkan Gen Z,” paparnya.

Meski sudah berhasil memenangkan kompetisi bertaraf internasional tidak membuat Diah berpuas diri, sebaliknya memotivasi dirinya untuk terus melakukan kampanye dan edukasi terkait konservasi air. “Saya harap kita semua dapat berkontribusi dalam konservasi air, sekalipun dengan langkah yang sangat sederhana. Semoga Mini T-ReKs ini dapat bermanfaat dan teman-teman bebas untuk menerapkan atau memodifikasi kegiatan ini sehingga menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Di pekan terakhir bulan Mei ini, Diah berencana akan mengunjungi TBM Rumah Ilmu Bercak Pustaka dan melakukan diskusi bersama pemuda yang berasal dari Yogyakarta dan Lombok. “Kami membahas tentang keberlanjutan kegiatan konservasi air untuk kedepannya,” pungkasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Young Water Sustainability Leaders  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-raih-penghargaan-internasional-young-water-sustainability-leaders/feed/ 0