Pendidikan Vokasi Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/pendidikan-vokasi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 05 Feb 2025 08:33:25 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Wamen Stella Ingin Hilangkan Stigma “Kelas Dua” Pendidikan Vokasi  https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ingin-hilangkan-stigma-kelas-dua-pendidikan-vokasi/ https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ingin-hilangkan-stigma-kelas-dua-pendidikan-vokasi/#respond Wed, 05 Feb 2025 07:38:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75529 Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, A.B., mengatakan pemerintah akan mendorong pengembangan pendidikan ilmu terapan melalui pendidikan tinggi sekolah vokasi. Menurut Stella hampir seluruh negara yang bangkit dari pendapatan menengah ke negara berpendapatan tinggi memulai langkahnya dari pengembangan ilmu terapan. Pengembangan pendidikan vokasi diakui Stella selaras dengan empat arahan Presiden Prabowo […]

Artikel Wamen Stella Ingin Hilangkan Stigma “Kelas Dua” Pendidikan Vokasi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, A.B., mengatakan pemerintah akan mendorong pengembangan pendidikan ilmu terapan melalui pendidikan tinggi sekolah vokasi. Menurut Stella hampir seluruh negara yang bangkit dari pendapatan menengah ke negara berpendapatan tinggi memulai langkahnya dari pengembangan ilmu terapan.

Pengembangan pendidikan vokasi diakui Stella selaras dengan empat arahan Presiden Prabowo Subianto yang dicanangkan untuk Kabinet Merah Putih. “Ada arahan ketersediaan lapangan kerja; produktivitas terukur; ketahanan pangan, energi, dan air; dan teknologi sebagai investasi pendidikan manusia. Saya kira yang keempat ini cocok dengan vokasi,” terangnya, usai melakukan kunjungan dan mengisi talkshow di Sekolah Vokasi UGM, Selasa (4/2).

Stella sempat menjelaskan langkah-langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas vokasi sekaligus menghubungkan akademik dengan industri dan pemerintah. Merujuk pada keinginan Presiden Prabowo untuk mendorong hubungan yang kuat antara akademik, pemerintah, dan industri. Bahkan di setiap Kementerian dan Lembaga berencana menjembatani kolaborasi tersebut agar ketiga sektor saling bahu membahu menyelesaikan persoalan.

Meski demikian, Wamen Stella memahami adanya stigma di masyarakat yang menganggap ilmu terapan merupakan pendidikan kelas dua. Apalagi saat ini di Kementerian Dikti Saintek, sudah dihapus Dirjen Pendidikan Vokasi namun pemerintah tetap berkomitmen meningkatkan kualitas vokasi agar dianggap setara dengan pendidikan sarjana.

Soal penghapusan direktorat jenderal pendidikan vokasi ini didasarkan pada prinsip general relativity dibanding special relativity. “Harapannya tidak lagi pendidikan vokasi dan akademik itu dikotak-kotakkan, jadi semuanya sama. Ini yang ingin kami dorong untuk menciptakan ekosistem sains dan teknologi,” paparnya.

Bagi Stella, ketiadaan Dirjen Vokasi bukan berarti pendidikan vokasi dan politeknik tidak mendapat naungan dari pemerintah, justru sebaliknya mampu mengubah persepsi publik bahwa vokasi setara dengan pendidikan akademis umum. “Pemerintah ingin mendorong agar pengembangan ilmu terapan bisa menyelesaikan persoalan dan isu-isu nasional,” terangnya.

Ditanya soal perkembangan riset di pendidikan tinggi vokasi, Wamen Stella ingin agar riset terapan dan fundamental bisa berjalan beriringan. Keduanya memegang peran penting untuk menyelesaikan masalah yang ada sekarang, sekaligus mengantisipasi masalah di kemudian hari. Menurutnya, peneliti tidak harus berangkat dari apakah riset tersebut terapan atau fundamental, melainkan masalah seperti apa yang ingin dipecahkan. Hal nantinya akan menentukan kuat tidaknya hilirisasi riset dari sektor akademik.“Riset terapan itu seperti low hanging fruit, mudah dipetik dan sangat diminati oleh industri dan masyarakat sebenarnya. Tapi kondisi sekarang baik industri, pemerintah, maupun akademik tidak saling mengenal,” ucap Stella.

Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr. -Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng mengakui bahwa pendidikan tinggi vokasi di Indonesia masih sangat tertinggal dengan pendidikan sarjana. “Tentunya kami mengharapkan adanya inisiasi dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas vokasi,” tutur Agus.

Agus menyebutkan, masih ada anggapan bahwa vokasi berada di bawah pendidikan fundamental. Hal ini menyebabkan tidak banyak industri maupun masyarakat yang tertarik dengan pendidikan vokasi. Padahal pengembangan ilmu terapan sangat diperlukan. “Dalam meningkatkan kualitas, kami tentu membutuhkan resources yang memadai. Karenanya kami di vokasi UGM telah berupaya untuk membangun jembatan dengan industri,” ungkap Agus.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Wamen Stella Ingin Hilangkan Stigma “Kelas Dua” Pendidikan Vokasi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/wamen-stella-ingin-hilangkan-stigma-kelas-dua-pendidikan-vokasi/feed/ 0
Sekolah Vokasi Diminta Kembangkan Pembelajaran Berbasis Industri https://ugm.ac.id/id/berita/sekolah-vokasi-diminta-kembangkan-pembelajaran-berbasis-industri/ https://ugm.ac.id/id/berita/sekolah-vokasi-diminta-kembangkan-pembelajaran-berbasis-industri/#respond Mon, 21 Oct 2024 01:12:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71845 Pendidikan vokasi saat ini menjadi pilar utama dalam upaya penguatan kualitas sumber daya manusia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Penguatan pendidikan vokasi dimulai dari jenjang sekolah menengah kejuruan hingga sampai ke tingkat sarjana terapan. Pasalnya, lulusan pendidikan vokasi telah mendukung kebutuhan tenaga kerja industri di tanah air. Meski begitu, masih banyak perusahaan yang menganggap lulusan […]

Artikel Sekolah Vokasi Diminta Kembangkan Pembelajaran Berbasis Industri pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pendidikan vokasi saat ini menjadi pilar utama dalam upaya penguatan kualitas sumber daya manusia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Penguatan pendidikan vokasi dimulai dari jenjang sekolah menengah kejuruan hingga sampai ke tingkat sarjana terapan. Pasalnya, lulusan pendidikan vokasi telah mendukung kebutuhan tenaga kerja industri di tanah air. Meski begitu, masih banyak perusahaan yang menganggap lulusan vokasi belum cukup layak untuk terjun ke ranah industri. Sehingga perlu adanya perbaikan pembelajaran berbasis industri, agar pendidikan vokasi memiliki relevansi yang kuat terhadap kebutuhan industri, usaha, dan kerja.

Hal itu mengemuka Seminar Nasional yang bertajuk “Penguatan Pendidikan Vokasi yang Paripurna Sebagai Pilar Visi Indonesia Emas 2045”, Sabtu (19/10), di Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) Sekolah Vokasi UGM. Seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Vokasi UGM ini menghadirkan tiga pembicara yaitu,  Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek RI, Saryadi, S.T., M.B.A; Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Dr. Muhammad Aditya Warman, S.Psi., M.B.A.; dan Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Aliridho Barakbah, S.Kom., Ph.D.

Dekan Fakultas Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., mengatakan pendidikan vokasi sudah seharusnya berlandaskan ilmu terapan. Agus mengungkapkan alasan riset di Indonesia belum semaju di negara lain, yaitu salah satunya ketidakseimbangan antara riset keilmuan murni dan terapan.

Agus juga menyinggung perihal kapabilitas mahasiswa vokasi di mata perusahaan. Oleh karena itu, pendidikan vokasi seharusnya bisa meyakinkan perusahaan bahwa mahasiswa mereka sudah cukup layak untuk terjun ke ranah industri.

Dalam kesempatan itu, Agus Maryono melaporkan bahwa SV UGM merupakan fakultas penyumbang mahasiswa lolos Indonesia International Student Mobility Award (IISMA) dan Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) terbanyak di UGM. Belum lagi, ratusan mahasiswa lain yang mengikuti program magang independen melalui program studi masing-masing. “Saya kira ini menunjukkan capaian dan relevansi pendidikan vokasi di masa depan,” katanya.

Sementara Saryadi mengungkapkan signifikansi pendidikan vokasi dalam peta jalan pendidikan Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 59 Tahun 2024 tentang RPJPN, pendidikan vokasi menjadi pilar utama sumber daya manusia dan produktivitas Indonesia di masa depan. Dengan mewujudkan pembelajaran berbasis industri, pendidikan vokasi memiliki relevansi yang kuat terhadap kebutuhan industri, usaha, dan kerja.

Selain itu, Saryadi juga membahas tentang tantangan yang dihadapi oleh pendidikan vokasi Indonesia ke depannya. Di antara tantangan tersebut adalah belum optimalnya peran perguruan tinggi sebagai pengembang ilmiah dan pemroduksi ilmu pengetahuan. Ia mengajak para akademisi untuk melanjutkan riset yang telah dikembangkan dan tidak berhenti di publikasi saja. “Hasil riset itu dapat bermanfaat dan membawa dampak dan bisa menjadi solusi di masyarakat,” ujar Saryadi.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Sekolah Vokasi Diminta Kembangkan Pembelajaran Berbasis Industri pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sekolah-vokasi-diminta-kembangkan-pembelajaran-berbasis-industri/feed/ 0
Dekan Sekolah Vokasi UGM Buka Rangkaian Dies Natalis ke-15 https://ugm.ac.id/id/berita/dekan-sekolah-vokasi-ugm-buka-rangkaian-dies-natalis-ke-15/ https://ugm.ac.id/id/berita/dekan-sekolah-vokasi-ugm-buka-rangkaian-dies-natalis-ke-15/#respond Mon, 26 Aug 2024 07:35:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69859 Sekolah Vokasi UGM menggelar kegiatan Family Day dalam rangka Pembukaan Lustrum ke-III dan Dies Natalis ke-15 pada Sabtu pagi (24/8). Acara tersebut mengundang seluruh tenaga kependidikan, dosen, dan segenap jajaran dekanat serta keluarga untuk mengikuti berbagai kegiatan menarik. Nuansa santai dan menyenangkan sengaja dihadirkan guna mempererat solidaritas dan tali silaturahmi antar civitas akademika Sekolah Vokasi […]

Artikel Dekan Sekolah Vokasi UGM Buka Rangkaian Dies Natalis ke-15 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Sekolah Vokasi UGM menggelar kegiatan Family Day dalam rangka Pembukaan Lustrum ke-III dan Dies Natalis ke-15 pada Sabtu pagi (24/8). Acara tersebut mengundang seluruh tenaga kependidikan, dosen, dan segenap jajaran dekanat serta keluarga untuk mengikuti berbagai kegiatan menarik. Nuansa santai dan menyenangkan sengaja dihadirkan guna mempererat solidaritas dan tali silaturahmi antar civitas akademika Sekolah Vokasi UGM.

Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM., ASEAN Eng., dalam pidato sambutannya mengajak sivitas akademika mendukung keberlanjutan pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Menurutnya, saat ini vokasi sangat berperan dalam menghubungkan dunia akademik dengan dunia kerja melalui kolaborasi antar sektor pemerintah, mahasiswa, swasta, dan masyarakat. “Kita ingin menjadikan SV UGM sebagai tempat akademik yang aman, nyaman, dan progresif bagi seluruh civitas akademika,” kata Agus.

Dikatakan Agus, menyongsong Indonesia Emas 2045, Sekolah Vokasi diharapkan menjadi “kuda troya” untuk meraih target tersebut. “Kita tidak mungkin mempunyai negara Indonesia Emas dengan jumlah mahasiswa sekolah vokasi 8%. Oleh karena itu yang 8% ini kita tingkatkan kualitasnya,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Agus Maryono juga menegaskan target SV UGM untuk menjadi fakultas anti kasus kekerasan dan pelecehan. Komitmen ini diharapkan mampu dibina oleh seluruh pihak agar dapat menciptakan lingkungan akademik yang kondusif. ”Jadi tidak ada kekerasan di kampus, kemudian tidak boleh ada kekerasan seksual. Kemudian juga zero suicide, kita saling menjaga satu dengan yang lain,” tambahnya.

Muhammad Sulaiman, S.T., M.T., D.Eng., selaku Ketua Panitia Dies mengatakan Dies kali ini mengusung tema “Inovasi Vokasi Menuju Indonesia Emas” dengan memperkuat peran vokasi dalam industri dan pemberdayaan masyarakat. “Dies kali ini kita mensinergikan dan mengelaborasikan kegiatan juga dari departemen maupun kegiatan mahasiswa,” tutur  Seluruh rangkaian acara akan saling berkesinambungan mulai bulan Agustus sampai Oktober mendatang.

Sulaiman menambahkan, rangkaian Dies Natalis juga diusung dengan menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Selama 15 tahun SV UGM berdiri telah menjalin mitra dengan banyak sektor baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Secara khusus, SV UGM juga menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat di lingkungan kampus, kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Program tersebut dijalankan sebagai bentuk kontribusi sekolah vokasi bagi masyarakat. “Ada kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari civitas akademika UGM, baik yang ada di sekitar kampus, maupun di tempat lain. Ini sebagai bentuk kontribusi sekolah vokasi, baik di sekitar kampus, di luar kampus, Yogyakarta, dan di luar Yogyakarta,” tambah Sulaiman.

Dalam pembukaan rangkaian Dies kali ini, diawali dengan senam bersama,seluruh peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan-kegiatan unik yang dirancang untuk melatih kerja sama antar unit kerja SV UGM. Terdapat lomba menghias tumpeng buah, donor darah, fashion show anak, fun games, dan doorprize. Dimeriahkan pula dengan penampilan musik akustik Forum Musik Vokasi, pertunjukkan tari, serta penampilan-penampilan dari unit kerja departemen. Gelaran Family Day Sekolah Vokasi UGM ini didukung beberapa mitra, yakni PT Riau Andalan Pulp & Paper, PT Samator, BCA, Mandiri, BNI, dan Bank UGM.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Dekan Sekolah Vokasi UGM Buka Rangkaian Dies Natalis ke-15 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dekan-sekolah-vokasi-ugm-buka-rangkaian-dies-natalis-ke-15/feed/ 0