pariwisata Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/pariwisata/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 30 Aug 2024 05:07:03 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 60 Anak Muda Mengikuti Lokakarya Sustainable and Inclusive Cultural Tourism di Yogyakarta https://ugm.ac.id/id/berita/60-anak-muda-mengikuti-lokakarya-sustainable-and-inclusive-cultural-tourism-di-yogyakarta/ https://ugm.ac.id/id/berita/60-anak-muda-mengikuti-lokakarya-sustainable-and-inclusive-cultural-tourism-di-yogyakarta/#respond Fri, 30 Aug 2024 05:07:03 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70106 Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan lokakarya Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Regional Workshop Sustainable and Inclusive Cultural Tourism, 19-22 Agustus lalu di Kampus UGM. Kegiatan yang diikuti 60 peserta dari negara-negara anggota ASEAN dan Timor Leste ini merupakan hasil kerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, dan mendapat dukungan The Asia […]

Artikel 60 Anak Muda Mengikuti Lokakarya Sustainable and Inclusive Cultural Tourism di Yogyakarta pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan lokakarya Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Regional Workshop Sustainable and Inclusive Cultural Tourism, 19-22 Agustus lalu di Kampus UGM. Kegiatan yang diikuti 60 peserta dari negara-negara anggota ASEAN dan Timor Leste ini merupakan hasil kerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, dan mendapat dukungan The Asia Foundation Indonesia.

Para peserta berasal dari berbagai latar belakang komunitas dan budaya dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Laos, Singapore, dan Thailand, berkumpul untuk mendiskusikan topik keberlanjutan dan inklusivitas dalam budaya pariwisata.

Jason P. Rebholz, Konselor Diplomasi Publik, Misi Amerika untuk Indonesia, mengatakan Asia Tenggara memiliki potensi dlam pengembagan pariwisata budaya  sehingga pariwisata budaya g kini menjadi isu penting di kawasan ini. Oleh karena itu, ia merasa sangat senang peserta dari berbagai komunitas ini membahas pariwisata budaya yang berkelanjutan dan inklusif. “Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan budaya, tradisi, dan variasi kuliner yang dapat menjadi peluang kerja sama dengan Amerika Serikat dan komunitas global. Kegiatan ini memungkinkan peserta untuk saling belajar, berbagi keahlian, dan memberdayakan satu sama lain untuk masa depan pariwisata budaya,” ujar Jason P. Rebholz.

Lokakarya diadakan sebagai wadah bagi para pemuda dengan potensi kepemimpinan dari negara-negara Asia Tenggara dan Timor Leste, untuk membangun jaringan, bertukar ide dan wawasan, serta bersama-sama memikirkan jalan keluar dari beragam tantangan terkait cagar budaya, usaha pariwisata, serta ragam aspek inklusivitas dan berkelanjutan di Asia Tenggara dan Timor Leste. Selama lokakarya, para peserta berkesempatan untuk memperluas jaringan melalui interaksi dengan sesama peserta, dan memperoleh perspektif akan hubungan baik Amerika Serikat dengan negara-negara ASEAN, termasuk Timor Leste.

Para peserta lokakarya berkesempatan mengunjungi destinasi pariwisata terutama Borobudur, Kota Gede, dan Museum Sonobudoyo untuk belajar mengenai pengelolaan tempat wisata yang berkelanjutan dan inklusif. Mereka pun dipertemukan dengan para pengusaha, organisasi non-profit, pengelola desa pariwisata, dan pimpinan daerah agar dapat memahami bagaimana mempraktikkan apa yang telah dipelajari.

Di penghujung acara tidak sedikit dari peserta yang mengaku telah mendapatkan pengetahuan mendalam terkait cagar budaya dan wisata, revitalisasi ekonomi kemasyarakatan serta Asia Tenggara secara umum. Sederet keterampilan yang mereka dapatkan diharapkan mampu memperluas jaringan dan mendorong karir para peserta dalam menjawab berbagai tantangan globalisasi.

Tak ketinggalan para peserta juga mengunjungi cagar pariwisata di Yogyakarta untuk beroleh pengetahuan mengenai topik-topik seperti konservasi, ekonomi pembangunan dan keberlanjutan, di samping mempelajari beragam studi kasus yang dibahas oleh pakar budaya dan usaha yang berkelanjutan. Lokakarya regional Asia Tenggara ini memang menekankan aspek pembelajaran, perpindahan keterampilan, dan perluasan jaringan di sektor pariwisata berkelanjutan dan inklusivitas dari berbagai inisiatif dan usaha yang berasal dari penjuru ASEAN dan Amerika.

Ngoc Thien Nguyen, salah satu peserta dari Vietnam mengaku Program YSEALI memberdayakan dan mengasah kemampuan para individu berbakat dengan perangkat yang dibutuhkan agar dapat berkontribusi positif pada komunitas masing-masing. Peserta pun dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman dari para pakar maupun sesama peserta, serta berkesempatan mengaplikasikan ide dan apa yang telah dipelajari di negara masing-masing. “Saya hanya punya kesan-kesan positif tentang acara ini. Menarik, dan tak terlupakan, ini menjadi salah satu momen terbaik hidup saya,” ungkap Ngoc Thien Nguyen.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel 60 Anak Muda Mengikuti Lokakarya Sustainable and Inclusive Cultural Tourism di Yogyakarta pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/60-anak-muda-mengikuti-lokakarya-sustainable-and-inclusive-cultural-tourism-di-yogyakarta/feed/ 0
Puspar UGM Temukan 126 Objek Wisata di Kabupaten Sikka Potensial Dikembangkan https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-temukan-126-objek-wisata-di-kabupaten-sikka-potensial-dikembangkan/ https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-temukan-126-objek-wisata-di-kabupaten-sikka-potensial-dikembangkan/#respond Thu, 08 Aug 2024 10:32:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69114 Pariwisata menjadi salah satu sektor potensial untuk menambah pendapatan masyarakat serta meningkatkan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Agar maju dan setara dengan kabupaten lainnya maka salah satu strategi yang harus ditempuh Kabupaten Sikka adalah membangun sektor pariwisata. Hal itu mengemuka dalam Ekspos Akhir Penyusunan Dokumen Reviu Rencana Induk Pembangunan […]

Artikel Puspar UGM Temukan 126 Objek Wisata di Kabupaten Sikka Potensial Dikembangkan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pariwisata menjadi salah satu sektor potensial untuk menambah pendapatan masyarakat serta meningkatkan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Agar maju dan setara dengan kabupaten lainnya maka salah satu strategi yang harus ditempuh Kabupaten Sikka adalah membangun sektor pariwisata. Hal itu mengemuka dalam Ekspos Akhir Penyusunan Dokumen Reviu Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Sikka yang merupakan hasil kerja sama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sikka dengan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Selasa (6/8) di Aula Bapperida Pemkab Sikka.

Hadir dalam ekspos penyusunan dokumen rencana induk pembangunan pariwisata tersebut diantaranya Pj. Sekda Kabupaten Sikka Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, S.T., M.Eng, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, UPTD-KPH Wilayah Kabupaten Sikka, Akademisi dari beberapa perguruan tinggi di Kota Maumere, Asosiasi Pariwisata Sikka PHRI, ASITA, HPI, AKUSIKA, Perwakilan dari Sanggar Budaya Lepo Lorun, Bliran Sina, dan Doka Tawa Tana, serta perwakilan Kepala Desa. Sementara perwakilan tim Ahli Puspar UGM yakni Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos, M.Si., Wijaya, S. Hut., M.Sc., dan Ika Racmadhani Kurniawan, A.Md.

Pj. Sekda Kabupaten Sikka Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, S.T., M.Eng mengatakan Kabupaten Sikka memiliki destinasi wisata sangat beragam sehingga apabila dikelola dan dibangun dengan baik diharapkan akan merangsang pertumbuhan sektor terkait lainnya, seperti infrastruktur, pertanian dan pangan, ekraf, transportasi, dan jasa lainnya.“Dengan berbagai aktivitas pariwisata tentunya akan banyak menciptakan peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat lokal”, ujarnya mewakili Pj Bupati Sikka.

Dalam kesempatan ini, Sekda sangat berharap dukungan dari UGM agar bisa mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan pengabdian Kuliah Kerja Nyata di Kabupaten Sikka. Dengan kegiatan KKN UGM, kata dia,  dapat mempercepat pembangunan di Kabupaten Sikka. “Kami berharap melalui kegiatan kerja sama ini akan terjadi transfer ilmu dari UGM kepada universitas lokal yang ada di Kabupaten Sikka. Perlu didorong adanya kerja sama antar perguruan tinggi, yaitu UGM dengan kampus-kampus yang ada di Sikka, dan dengan kolaborasi ini tentunya akan ada riset-riset yang bisa dilakukan bersama”, ungkapnya.

Anggota tim ahli Puspar UGM, Destha Titi Raharjana, mengatakan Kabupaten Sikka mempunyai kekuatan untuk menahan lama tinggal wisatawan karena memiliki pesona budaya dan alam yang beragam dan masih natural. “Sayangnya masih menghadapi sejumlah kendala dalam pemasarannya,” ujarnya.

Berbagai permasalahan yang dihadapi antara lain, pertama ketersediaan moda transportasi udara masih terbatas. Jadwal penerbagangan menuju dan dari Sikka belum mendapat kepastian di setiap harinya. “Sampai saat ini penerbangan masih tergantung dari Labuan Bajo-Manggarai Barat”, terangnya.

Permasalahan Kedua yang dihadapi adalah jarak tempuh perjalanan menuju ke Sikka memerlukan waktu tempuh lebih lama. Ketiga, dari sisi promosi, khususnya lewat pendekatan POSE (Paid Media, Own Media, Social Media, dan Endorse) masih belum serius dan mendapat dukungan fasilitas yang memadai. Belum lagi SDM yang inovatif, dan terbatasnya anggaran untuk ini. “Keempat, pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran meski sudah dijalankan namun demikian up-dating dan pengemasan promosi lainnya belum banyak dilakukan”, imbuh Desta.

Peneliti lain, Wijaya menyampaikan hasil analisis yang dilakukan Puspar UGM terkait daya tarik wisata mencatat sebanyak 126 objek tersebar di 21 kecamatan. Kecamatan Waigete memiliki jumlah objek daya tarik wisata terbanyak, yaitu 12 objek, diikuti Kecamatan Palue, Alok Timur, dan Kecamatan Magepanda masing-masing 10 objek. Kecamatan dengan jumlah DTW paling sedikit, yaitu Kecamatan Mapitara dan Kecamatan Koting sebanyak 1 objek. Daya tarik wisata alam menempati urutan terbanyak, yaitu 73 objek, disusul wisata budaya 47 objek, dan saya tarik wisata buatan sebanyak 6 objek. “Dari 126 daya tarik wisata terdapat 10 daya tarik wisata unggulan berdasarkan Kriteria Penilaian daya tarik wisata,” katanya.

Wijaya menyebutkan beberapa lokasi objek daya tarik wisata yang potensial dikembnagkan diantranya Pulau Koja Doi, Pantai Mini, Bukit Purba, dan Jembatan Batu, Pulau Pangabatang, Pantai Koka, Sanggar Budaya Bliran Sina, Sanggar Budaya Lepo Lorun, Tanjung Kajuwulu, Wisata Alam Egon, Pulau Babi,  Sanggar Budaya Doka Tana Tawa, dan Pantai Paga.

Sementara Ika Racmadhani Kurniawan, asisten peneliti Puspar UGM menambahkan dari analisis kewilayahan pariwisata yang dilakukan Pusat Studi Pariwisata UGM mengusulkan empat Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK), tiga Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK), dan tujuh Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten (KSPK). Adapun tujuh KSPK Sikka, yaitu KSPK 1 Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Maumere dan sekitarnya, KSPK 2 Kajuwulu-Magepanda dan sekitarnya, KSPK 3 Kota Maumere dan sekitarnya, KSPK 4 Egon-Blidit dan sekitarnya, KSPK 5 Nita-Nelle dan sekitarnya, KSPK 6 Kojowair-Umauta dan sekitarnya, dan KSPK 7 Koka-Paga dan sekitarnya.

Dominggus sebagai pelaku wisata lokal mengakui beragam potensi yang dimiliki Kabupaten Sikka tampaknya belum mampu bersaing dengan destinasi lainnya. Menurutnya sulit bagi Sikka untuk bersaing dengan Labuan Bajo karena statusnya sebagai destinasi super premium yang mendapat sokongan anggaran besar dari pemerintah.“Pembangunan pariwisata Labuan Bajo berskala besar berbasis infrastruktur telah meminggirkan budaya lokal disana. Karenanya kita berusaha agar Sikka harus menjadi antitesis dari Labuan Bajo dan menempatkan budaya sebagai kekuatan yang tidak dimiliki kabupaten sekitarnya”, harapnya.

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Sikka Fransiskus Suryanto Nara Bata, ST., M.Sc menyampaikan bahwa pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Sikka menjadi prioritas dalam dua tahun terakhir. Hal ini tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Dukungan pemkab di sektor pariwisata mulai terlihat, seperti kegiatan event pariwisata dan budaya berskala besar mulai diperbanyak, diantaranya Festival Jelajah Maumere yang direncanakan pada 12-14 September mendatang. “Salah satu kegiatan yang sangat menarik di festival tersebut adalah Sikka Fashion Karnaval (SFK) dengan menonjolkan tenun ikat sebagai satu kekuatan Sikka dari aspek budaya”, papar Fransiskus Suryanto.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Superlive.id

Artikel Puspar UGM Temukan 126 Objek Wisata di Kabupaten Sikka Potensial Dikembangkan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-temukan-126-objek-wisata-di-kabupaten-sikka-potensial-dikembangkan/feed/ 0
Kontribusi Puspar UGM Menata Ulang Kepariwisataan Magetan https://ugm.ac.id/id/berita/kontribusi-puspar-ugm-menata-ulang-kepariwisataan-magetan/ https://ugm.ac.id/id/berita/kontribusi-puspar-ugm-menata-ulang-kepariwisataan-magetan/#respond Fri, 19 Jul 2024 16:19:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67292 Pemerintah Kabupaten Magetan serius untuk mendorong dan menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan. Keseriusan tersebut sudah barang tentu perlu sinergitas dalam penguatan empat pilar pembangunan kepariwisataan yaitu pilar pembangunan destinasi, industri wisata, kelembagaan dan pemasaran pariwisata.  Diakui atau tidak kontribusi PAD dari sektor pariwisata di Kabupaten Magetan salah satunya bersumber dari adanya Telaga Sarangan. […]

Artikel Kontribusi Puspar UGM Menata Ulang Kepariwisataan Magetan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah Kabupaten Magetan serius untuk mendorong dan menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan. Keseriusan tersebut sudah barang tentu perlu sinergitas dalam penguatan empat pilar pembangunan kepariwisataan yaitu pilar pembangunan destinasi, industri wisata, kelembagaan dan pemasaran pariwisata. 

Diakui atau tidak kontribusi PAD dari sektor pariwisata di Kabupaten Magetan salah satunya bersumber dari adanya Telaga Sarangan. Sayangnya, pendirian berbagai sarana amenitas baik berupa akomodasi maupun restoran/rumah makan di wilayah Sarangan sekitar lereng pegunungan Lawu belum tertata dengan baik. Keberadaan mereka memerlukan pengendalian agar lingkungan hijau tidak berganti dengan bangunan beton sebagai akibat desakan pengembangan pariwisata.

Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos.M.Si., selaku ketua tim kajian Ripparda Kabupaten Magetan 2025—2034 menegaskan hal itu terkait keinginan Pemerintah Kabupaten Magetan menata ulang Kepariwisataan Magetan lewat Rencana Induk Pariwisata. Menurutnya dalam upaya membangun sektor pariwisata di Kabupaten Magetan diperlukan pengkajian secara komprehensif yang disesuaikan dengan perkembangan wilayah, serta situasi faktul kekinian pariwisata di Kabupaten Magetan terutama di seputar Telaga Sarangan. 

“Diperlukan keseriusan dalam upaya membangun sektor pariwisata di Kabupaten Magetan, dan dibutuhkan pengkajian secara menyeluruh,” ujar Destha saat berlangsung Forum Grup Discussion (FGD) Pembangunan Kepariwisataan Daerah Kabupaten Magetan 2024 Sebagai Pedoman bagi Pembangunan Kepariwisataan Daerah, Kamis (18/7).

Destha Titi Raharjana menjelaskan Kabupaten Magetan memiliki keragaman ekosistem. Hasil kajian sementara Puspar UGM menunjukkan bahwa karakter wisata yang ditemukan di Magetan lebih menonjolkan pada tema wisata alam dengan didukung berbagai kegiatan wisata budaya dan ekonomi kreatif.  Ketiganya, menurutnya, menjadi penguat ikon pariwisata Magetan. 

Eka Radityo selaku Kepala Bidang Pengelolaan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten MagetanEka menyatakan pendapatan asli daerah Kab. Magetan dari sektor pariwisata tahun 2023 tembus di angka 20,3 miliar rupiah. Pendapatan tersebut telah melebihi target sebelumnya yaitu 19,2 miliar rupiah.

Disebutnya tingkat kunjungan wisatawan di Magetan khususnya diseputar Telaga Sarangan setiap musim liburan terlihat tinggi. Tingkat kunjungan yang tinggi ini ditandai dengan seringnya terjadinya kemacetan di lokasi wisata Telaga Sarangan.

“Ini memperlihatkan Telaga Sarangan lebih unggul dibandingkan daya tarik wisata lainnya. Sayangnya length of stay (LoS) dan belanja wisatawan di Magetan masih terbilang rendah. Karenanya kami terus berupaya mendorong alternatif daya tarik wisata lainnya agar mampu tumbuh dan menarik wisatawan,” terangnya.

Oleh karena itu, ia berharap Sport tourism menjadi salah satu peluang yang potensial untuk bisa dikembangkan di Kabupaten Magetan. Upaya ini dapat dijalankan lewat pengembangan Selendang Lawu yang berupaya untuk membuka dan mendorong peluang peningkatan potensi yang ada di kecamatan dan desa sekitar wilayah lereng Gunung Lawu. 

“Upaya mengembangkan desa-desa wisata sampai saat ini sebagai salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan harapan mampu menangkap dan menahan wisatawan, agar wisatawan yang ke Magetan tidak hanya tiga atau kurang dari 6 jam tinggal di Magetan,” terang Eka Radityo. 

Dalam diskusi ini hadir pula peneliti Puspar UGM lainnya yaitu Khusnul Bayu Aji S.Par., M.Arch., dan Nissa Larasati S.Ars., M.Sc. Acara inipun dihadiri sekitar 40 orang pemangku kepentingan pariwisata diantaranya para pimpinan OPD, para Camat, Pokdarwis, pelaku seni dan ekraf, pengelola desa wisata serta perwakilan PHRI, dan Pokdarwis.

Khusnul Bayu Aji mendapati  temuan data sementara, Kabupaten Magetan. Kabupaten Magetan, disebutnya memiliki 58 daya tarik wisata (DTW) yang tersebar di beberapa kecamatan. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan proses identifikasi DTW yang dilakukan. 

Kecamatan Plaosan menjadi kecamatan yang memilik DTW paling banyak di Kabupaten Magetan, yaitu sekitar 18 DTW (29,31 persen). Sementara dari 58 daya tarik wisata yang dimiliki, sebanyak 51,85 persen berupa jenis wisata alam, 33,34 persen jenis wisata budaya, dan 14,81 persen jenis wisata buatan. 

Berdasarkan tingkat kunjungan wisatawan, dari keseluruhan 58 daya tarik wisata terdapat beberapa daya tarik wisata unggulan seperti Telaga Sarangan, Mojosemi Forest Park, Taman Genilangit, dan Kebun Bunga Refugia. sedangkan dari sisi fasilitas kepariwisataan yang ada, Magetan memiliki 149 unit hotel dengan jumlah kamar sebanyak 1.932 unit kamar. 

“Sayangnya, dari sekian ratus unit hotel tersebut belum ada satupun hotel berbintang yang memenuhi kualifikasi untuk dijadikan venue event berskala besar. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Magetan mengingat wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) sesungguhnya sebagai yang sangat potensial untuk dikembangkan,” papar Khusnul Bayu Adji.  

Nissa Larasati, salah satu anggota tim kajian menyoroti pemanfaatan media internet sebagai salah satu fasilitas pendukung pemasaran pariwisata. Meski sangat dibutuhkan, fakta di lapangan masih banyak daya tarik wisata termasuk desa wisata di Magetan belum maksimal dalam memanfaatkan media sosial sebagai wadah memasarkan pariwisata. 

“Kemauan masyarakat masih rendah dalam berkontribusi mengembangkan wisata, ini tentunya menjadi tantangan. Karenanya sangat diperlukan sinergitas antara masyarakat, pemerintah, dan OPD terkait dalam memasarkan serta mengembangkan daya tarik wisata selain Telaga Sarangan, agar kunjungan wisatawan ke Magetan merata, dan dapat dikemas dalam berbagai bentuk paket wisata,” papar Nissa.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Kontribusi Puspar UGM Menata Ulang Kepariwisataan Magetan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kontribusi-puspar-ugm-menata-ulang-kepariwisataan-magetan/feed/ 0
Tim KKN-PPM Sorai Waisai Optimalisasi Potensi Pariwisata Burung Eksotis Dunia https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-sorai-waisai-optimalisasi-potensi-pariwisata-burung-eksotis-dunia/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-sorai-waisai-optimalisasi-potensi-pariwisata-burung-eksotis-dunia/#respond Fri, 12 Jul 2024 07:41:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66822 Pantai Raja Ampat dengan pasir putihnya dengan kicauan aneka burung sungguh suatu keindahan luar biasa. Keelokan alam yang dimiliki Raja Ampat sungguh memikat. Bagi banyak jiwa, hamparan alam Raja Ampat menentramkan jiwa, utamanya mereka yang lagi gelisah. Meski tersembunyi antara gugusan pulau-pulau dan karang yang menakjubkan mata, Raja Ampat adalah surga dunia di ujung timur […]

Artikel Tim KKN-PPM Sorai Waisai Optimalisasi Potensi Pariwisata Burung Eksotis Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pantai Raja Ampat dengan pasir putihnya dengan kicauan aneka burung sungguh suatu keindahan luar biasa. Keelokan alam yang dimiliki Raja Ampat sungguh memikat.

Bagi banyak jiwa, hamparan alam Raja Ampat menentramkan jiwa, utamanya mereka yang lagi gelisah. Meski tersembunyi antara gugusan pulau-pulau dan karang yang menakjubkan mata, Raja Ampat adalah surga dunia di ujung timur Indonesia.

Potensi keindahan alam yang dimiliki Raja Ampat itupun telah menginspirasi Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada yang melakukan pengabdian di Distrik Kota Waisai.  Sebanyak 29 mahasiswa UGM dari 13 fakultas dengan dosen pendamping lapangan (DPL) Dr. Djaka Marwasta, M.Si. dari Fakultas Geografi akan melakukan pengabdian selama 50 hari, 1 Juli-19 Agustus 2024 dengan fokus utama program kerja mengembangkan sumber daya alam Raja Ampat sebagai aset bangsa untuk kesejahteraan warga lokal dan meningkatkan pariwisata Indonesia di mata dunia.

“Distrik Kota Waisai meliputi empat kelurahan Sapordanco, Waisai, Warmansen, dan Bonkawir dengan fokus utama program ini adalah mengembangkan sumber daya alam Raja Ampat. Berbagai flora dan fauna khas Raja Ampat memiliki keunikan dan keindahan yang luar biasa, yang mampu mengejawantahkan Indonesia is Wonderland,” ujar Dhea Cornelia mahasiswa Sekolah Vokasi 2021, Ketua Tim KKN-PPM Sorai Waisai,  Jum’at (12/7).

Mengirimkan mahasiswa melakukan pengabdian melalui KKN-PPM di Raja Ampat bukan kali pertama oleh UGM. Di tahun 2024 kali ini merupakan periode kedua dengan membawa tema baru yang sangat potensial dalam sektor pemanfaatan pariwisata lokal.

“Jika sebelumnya, KKN UGM di Raja Ampat berfokus pada peningkatan sumber daya manusia maka tahun ini berfokus dengan melengkapi dan optimalisasi serta strategi promosi endemik lokal Pulau Waigeo di Kota Waisai, terutama burung cendrawasih sebagai burung eksotis dunia,” ucap Dhea.

Dhea menjelaskan jika sebelumnya, KKN UGM di Raja Ampat berfokus pada peningkatan sumber daya manusia maka di tahun ini fokus tersebut dilengkapi dengan optimalisasi dan strategi promosi endemik lokal Pulau Waigeo di Kota Waisai dengan mengeksplore burung cendrawasih sebagai burung eksotis dunia. Tema besar tim KKN UGM kali inipun memiliki program kerja yang bertujuan untuk menambah daya saing sektor pariwisata burung eksotis.

Menurut Dhea Cornelia program kerja Tim KKN-PPM UGM akan fokus pada revitalisasi objek pariwisata, penyusunan materi informasi tentang jenis burung eksotis. Selain itu meningkatkan kualitas pengetahuan sumber daya manusia terkait burung eksotis, serta konservasi dan digitalisasi sistem informasi dan jenama pariwisata burung eksotis di Warkesi, Kota Waisai.

Program ini tentunya memberikan lanskap baru pada jenis pariwisata di Raja Ampat yang sebelumnya terkenal dengan pariwisata bawah lautnya, dan kini muncul opsi baru terkait pemanfaatan sumber daya alam Raja Ampat. Optimalisasi potensi pariwisata endemik ini tentu harus melibatkan semua unsur, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan lembaga terkait sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

“Mahasiswa akan berkoordinasi dengan berbagai OPD terkait untuk menyelaraskan program kerja guna bersinergi dalam optimalisasi eco-eduwisata endemik lokal sebagai burung eksotis dunia,” papar Dhea.

Salah satu anggota tim KKN-PPM UGM Sorai Waisai, Yuda Pramudia mahasiswa Filsafat 2021memaparkan bila lokasi KKN PPM UGM Sorai Waisai saat ini belum memiliki spot wisata permanen yang mendatangkan turis secara massal. Spot pariwisata masih berpusat pada wisata bahari seperti Piaynemo, Kalibiru, Wayag, dan Misool.

Daratan Kota Waisai, kata dia, hanya menjadi pusat transit ke spot pariwisata yang sudah disebutkan tadi. Padahal, potensi pariwisata khususnya di konservasi burung endemik sangat memiliki nilai jual yang mahal dan dapat menambah nilai perekonomian, terutama bagi penduduk lokal di Waisai Kota.

“Meskipun fokus utama KKN-PPM Sorai Waisai adalah optimalisasi pariwisata burung endemik lokal Pulau Waigeo, tim KKN-PPM UGM juga akan mengidentifikasi permasalahan sosial dan kultural di masyarakat, terutama terkait kesenjangan sosial, penataan kota, serta menyusun strategi pembangunan desa dan kota berbasis pariwisata berkelanjutan,” terangnya.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Tim KKN-PPM Sorai Waisai Optimalisasi Potensi Pariwisata Burung Eksotis Dunia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-kkn-ppm-sorai-waisai-optimalisasi-potensi-pariwisata-burung-eksotis-dunia/feed/ 0
Program SEAN Mahasiswa UGM Bangun Desa Wisata Sembrani Watusigar Gunungkidul https://ugm.ac.id/id/berita/program-sean-mahasiswa-ugm-bangun-desa-wisata-sembrani-watusigar-gunungkidul/ https://ugm.ac.id/id/berita/program-sean-mahasiswa-ugm-bangun-desa-wisata-sembrani-watusigar-gunungkidul/#respond Wed, 03 Jul 2024 02:06:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65687 Kelurahan Watusigar merupakan salah satu kelurahan di Gunungkidul yang menyimpan beragam potensi wisata. Salah satu potensi unggulan yang dimiliki adalah di bidang agro. Potensi keunggulan ini meliputi panorama perkebunan tembakau, pertanian dan kampung hortikultura, situs sawah batu, Sungai Oya, Segara Anakan, Pasar Ndeso, Taman Soka, dan Watu Lumbung. Masing-masing potensi tersebut memiliki narasi yang saling […]

Artikel Program SEAN Mahasiswa UGM Bangun Desa Wisata Sembrani Watusigar Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kelurahan Watusigar merupakan salah satu kelurahan di Gunungkidul yang menyimpan beragam potensi wisata. Salah satu potensi unggulan yang dimiliki adalah di bidang agro.

Potensi keunggulan ini meliputi panorama perkebunan tembakau, pertanian dan kampung hortikultura, situs sawah batu, Sungai Oya, Segara Anakan, Pasar Ndeso, Taman Soka, dan Watu Lumbung. Masing-masing potensi tersebut memiliki narasi yang saling berkaitan sehingga menjadikannya sebagai peluang dalam daya tarik di bidang agrowisata.

Sayang kurangnya kapasitas SDM di bidang ini menjadikan pengelolaan belum maksimal. Karena itu, Tim mahasiswa UGM yang tergabung dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Pariwisata (Himapa) UGM hadir di kelurahan ini untuk memperkenalkan beberapa program sebagai proses akselerasi perintisan desa wisata.

Tim PPK Ormawa Himapa UGM mengemas program tersebut dengan tajuk SEAN (Sembrani-Agrotourism and Education). Sebuah Pengembangan Rintisan Desa Wisata Sembrani Watusigar berbasis Community Based Tourism.

Program ini mendapat dukungan dan pendanaan dari Kemendikbudristek Republik Indonesia.  Dengan mendapat pendampingan dari Mohamad Rachmadian Narotama, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku dosen pembimbing, Tim PPK Ormawa Himapa UGM telah melakukan sosialisasi Program SEAN di Kelurahan Watusigar pada hari Sabtu (8/6). Acara sosialisasi SEAN dihadiri Giman selaku Lurah Watusigar, para penggiat desa wisata, dan masyarakat Desa Wisata Watusigar.

Ferdian Dwi Saputra, selaku Ketua pelaksana Tim PPK Ormawa Himapa UGM mengatakan program SEAN berfokus pada kelompok Pokdarwis, Karang Taruna, kelompok tani hortikultura dan tembakau, kelompok kebudayaan Watusigar, dan kelompok UMKM. Implementasi program SEAN dirancang  berlangsung bulan Juni-Oktober 2024 dengan berfokus melakukan berbagai pelatihan, seperti pelatihan CBT, pelatihan agrowisata, kepemanduan, pembuatan paket wisata, dan workshop digital marketing.

“Tim HIMAPA juga akan membantu pemenuhan amenitas wisata dalam rangka persiapan launching Desa Wisata Sembrani Watusigar. Dengan kedatangan kita serta dukungan dari berbagai pihak, Perguruan Tinggi, para mitra, pemerintah desa dan masyarakat Watusigar diharapkan kita semua bisa saling bersinergi mengembangkan potensi wisata di Kelurahan Watusigar ini,” ucap Ferdian Dwi Saputra, di Kampus UGM Rabu (3/7).

Ferdian pun menaruh harap kontribusi Tim PPK Ormawa HImapa UGM mampu meningkatkan kunjungan di Desa Wisata Sembrani Watusigar. Melalui implementasi berbagai program mampu mewujudkan kesiapan kelembagaan dan terwujud identitas Desa Wisata Sembrani Watusigar.

Penulis: Zanuba Elza Noorafifah

Editor: Agung Nugroho

Artikel Program SEAN Mahasiswa UGM Bangun Desa Wisata Sembrani Watusigar Gunungkidul pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/program-sean-mahasiswa-ugm-bangun-desa-wisata-sembrani-watusigar-gunungkidul/feed/ 0
RSA UGM Selenggarakan Funbike Tur de Van Der Wijck https://ugm.ac.id/id/berita/rsa-ugm-selenggarakan-funbike-tur-de-van-der-wijck/ https://ugm.ac.id/id/berita/rsa-ugm-selenggarakan-funbike-tur-de-van-der-wijck/#respond Wed, 19 Jun 2024 06:39:35 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65264 Dalam mengembangkan konsep wellness tourism di Yogyakarta, Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) menggelar acara Funbike Tur de Van Der Wijck.  Funbike Tur de Van Der Wijck mengambil rute menarik dari Waduk Sermo, Kulon Progo menuju Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa. Funbike Tur de Van Der Wijck diselenggarakan pada hari Sabtu (15/6) […]

Artikel RSA UGM Selenggarakan Funbike Tur de Van Der Wijck pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dalam mengembangkan konsep wellness tourism di Yogyakarta, Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) menggelar acara Funbike Tur de Van Der Wijck.  Funbike Tur de Van Der Wijck mengambil rute menarik dari Waduk Sermo, Kulon Progo menuju Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa.

Funbike Tur de Van Der Wijck diselenggarakan pada hari Sabtu (15/6) diawali dengan prosesi pelepasan benih ikan nila seberat 100kg di Waduk Sermo, Kulon Progo. Pelepasan ikan ini sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) RSA UGM.

Pelepasan benih ikan dilakukan Direktur Utama RSA UGM, Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.Onk, bersama Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Direktur Eksekutif AHS UGM, Dr. dr. Sudadi, Sp.An., KNA., KAR, dan Direktur Operasional Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa, Santi Vita Nurrohmah.

Darwito selaku Direktur Utama RSA UGM mengatakan kegiatan Fun Bike diselengarakan sebagai upaya serius RSA UGM dalam mengembangkan konsep wellness tourism di Yogyakarta. Acara ini untuk semakin mempererat kerjasama yang baik antara RSA UGM dan Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa.

“Kegiatan ini bertujuan mempromosikan gaya hidup sehat melalui olahraga bersepeda, mendukung wellness tourism Daerah Istimewa Yogyakarta”, ujarnya.

Terkait pelepasan benih ikan, Darwito mengatakan sebagai bentuk komitmen RSA UGM terhadap kelestarian lingkungan. Pelepasan benih ikan nila sejumlah 100 kg, disebutnya sebagai langkah kecil diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi ekosistem di Waduk Sermo.

Funbike mengedepankan konsep wellness ini akan digelar secara rutin per tahun. Untuk kali ini dengan rute menyusuri Selokan Mataram atau Van Der Wijck Yogyakarta, dan berakhir di Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa.

Di garis finish, para peserta disambut dengan fasilitas Medical Check Up serta Modified Relaxation Therapy, sebuah terapi kejiwaan yang dikembangkan oleh RSA UGM.

Santi Vita Nurrohmah, Direktur Operasional Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa mengatakan berkolaborasi dengan RSA UGM dalam acara ini dinilainya sangat luar biasa. Sheraton Mustika Yogyakartta merasa senang dan bangga dapat berperan serta dalam mempromosikan wellness tourism di Yogyakarta.

“Ini tentunya memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat bagi peserta funbike,” katanya.

RSA UGM dan Sheraton Mustika Yogyakarta sekali lagi berharap acara ini dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan lebih lanjut dari program wellness tourism dan menunjukkan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan lingkungan.

Penulis: Agung Nugroho

Sumber: Instalasi Hukum dan Pemasaran RS Akademik UGM

Artikel RSA UGM Selenggarakan Funbike Tur de Van Der Wijck pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rsa-ugm-selenggarakan-funbike-tur-de-van-der-wijck/feed/ 0
Diperlukan Local Champion agar Desa Wisata Berdaya Saing https://ugm.ac.id/id/berita/diperlukan-local-champion-agar-desa-wisata-berdaya-saing/ https://ugm.ac.id/id/berita/diperlukan-local-champion-agar-desa-wisata-berdaya-saing/#respond Thu, 16 May 2024 10:27:52 +0000 https://ugm.ac.id/diperlukan-local-champion-agar-desa-wisata-berdaya-saing/ Sektor pariwisata dipercaya sebagai katup penyelamat ekonomi perdesaan jika mampu dikelola dengan profesional. Hadirnya pariwisata di desa mampu membuat rasa bangga sekaligus menjadikan warga desa lebih percaya diri. Mereka tentunya merasa bisa lebih maju dari lainnya. Dari perspektif pariwisata, eksistensi desa wisata diharapkan mampu menjadi produk alternatif yang mampu menguatkan co-creation agar mampu menahan wisatawan […]

Artikel Diperlukan Local Champion agar Desa Wisata Berdaya Saing pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sektor pariwisata dipercaya sebagai katup penyelamat ekonomi perdesaan jika mampu dikelola dengan profesional. Hadirnya pariwisata di desa mampu membuat rasa bangga sekaligus menjadikan warga desa lebih percaya diri.

Mereka tentunya merasa bisa lebih maju dari lainnya. Dari perspektif pariwisata, eksistensi desa wisata diharapkan mampu menjadi produk alternatif yang mampu menguatkan co-creation agar mampu menahan wisatawan lebih lama.

Demikian disampaikan Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos. M.Si., pegiat Wisata Kerakyatan Peneliti di Pusat Studi Pariwisata UGM pada Webinar bertema Membangun Desa Wisata Yang Unggul, Tangguh dan Berkelanjutan. Webinar diselenggarakan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo-Flores, di Labuan Bajo Selasa (14/5).

“Mengapa Desa Wisata menarik dikembangkan? Ya karena desa wisata menawarkan sesuatu yang berbeda dibandingkan daya tarik lainnya. Namun perlu diingat, bisnis desa wisata perlu diimbangi komitmen, leadership, dan transparansi. Ini memerlukan tatakelola supaya bisnisnya bisa berkelanjutan dan kompetitif,” ujar Destha.

Beberapa critical factors desa wisata, kata Destha perlu mendapatkan perhatian. Diantaranya produk artificial, minim storytelling, rentan dupliasi, dan yang sering dijumpai minimnya paket dan minim inovasi yang dijalankan.

“Selama ini desa sepertinya hanya menangkap, akibatnya tidak ada nilai tambah bagi wisatawan. Tidak sedikit pengelola hanya jual tiket bukan paket. Kondisi ini terjadi karena mungkin kolaborasi yang terbatas sehingga memerlukan kepemimpinan lokal yang kuat,” katanya.

Oleh karena itu, agar desa wisata semakin berdaya saing diperlukan DNA yang kuat supaya memiliki identitas berbeda (unique selling proposition). Diperlukan pula pelibatan dan penguatan interaksi wisatawan (co-creation) dalam kemasan paket wisata, dan minimal melengkapi amenitas penunjang dengan standar kebersihan dan kesehatan.

“Karenanya sangat perlu untuk disiapkan sumber daya manusia yang kompeten, inovatif, dan terampil di bidang teknologi, dan perlu melahirkan dan mengkader local champion di tingkat desa yang mampu melakukan kolaborasi dengan pihak eksternal dan internal,” terangnya.

Local champion penggerak desa wisata, menurut Destha adalah individu yang ditunjuk melalui musyawarah desa sebagai perwakilan kelompok desa yang memiliki jiwa kepemimpinan, memahami permasalahan desa, serta memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat di desanya dengan baik. Penggerak desa ini diharapkan memiliki motivasi & bersedia mendedikasikan waktu dan hatinya untuk membersamai masyarakat desa dalam mengembangkan desanya sebagai desa wisata.

Penulis: Agung Nugroho

 

Artikel Diperlukan Local Champion agar Desa Wisata Berdaya Saing pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/diperlukan-local-champion-agar-desa-wisata-berdaya-saing/feed/ 0
Puspar UGM dan BPOB Lakukan Pendampingan Wisata Khusus di Gelangprojo https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-bpob-lakukan-pendampingan-wisata-khusus-di-gelangprojo/ https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-bpob-lakukan-pendampingan-wisata-khusus-di-gelangprojo/#respond Wed, 08 May 2024 05:54:00 +0000 https://ugm.ac.id/puspar-ugm-dan-bpob-lakukan-pendampingan-wisata-khusus-di-gelangprojo/ Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM bekerja sama dengan Badan Pelaksana Otorita Borobudur terus melakukan pengembangan wisata sekitar Borobudur. Keduanya dalam hal ini memberikan pendampingan wisata minat khusus dan pola perjalanan di kawasan Gelangprojo. Pendampingan dilakukan agar pengelolaan desa-desa wisata di Gelangprojo (Magelang, Kulon Progo, Purworejo) mampu mengemas paket wisata tematik dan terintegrasi. Dari sisi supply […]

Artikel Puspar UGM dan BPOB Lakukan Pendampingan Wisata Khusus di Gelangprojo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM bekerja sama dengan Badan Pelaksana Otorita Borobudur terus melakukan pengembangan wisata sekitar Borobudur. Keduanya dalam hal ini memberikan pendampingan wisata minat khusus dan pola perjalanan di kawasan Gelangprojo.

Pendampingan dilakukan agar pengelolaan desa-desa wisata di Gelangprojo (Magelang, Kulon Progo, Purworejo) mampu mengemas paket wisata tematik dan terintegrasi. Dari sisi supply wilayah Gelangprojo memiliki variasi atraksi wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Menurut peneliti Puspar UGM, Dr. Destha Titi Raharjana, dengan pendekatan  pariwisata minat khusus (special interest), potensi tersebut sangat mungkin untuk dikembangkan. Tidak dipungkiri, eksistensi daya tarik wisata Candi Borobudur di Magelang tampil sebagai magnet menarik wisatawan mancanegara, dan perlu diimbangi dengan variasi atraksi wisata lainnya. “Beberapa yang bisa dikembangkan seperti bird watching (green tourism), ataupun wisata lainnya, seperti adventure tourism, wellness tourism, kegiatan sport tourism. Semua itu tentunya dapat dikembangkan ke depannya di wilayah Menoreh dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan dan daya dukung lingkungan,” katanya.

Destha menambahkan tren/karakter wisatawan khususnya mereka yang masuk kategori milenial memiliki sifat diversely motivated. Dalam pandangannya mereka lebih memilih travelling secara individu atau berkelompok kecil dengan menentukan motivasi dan rencana perjalanannya sendiri.

“Ini tentunya menjadi tantangan pengelola agar mampu mengemas travel pattern. Tujuannya, agar wisatawan lebih lama tinggal. Perlu diingat, sesama desa wisata bukanlah kompetitor, justru sebagai partner. Konsep kolaborasi dan migunani, menjadi hal yang penting dikedepankan,” terangnya.

Kegiatan pendampingan pariwisata minat khusus dan perjalanan wisata (travel pattern) diselenggarakan di Glamping, de Loano, Nglinggo pada hari Jum’at (3/5). Pendampingan melibatkan 16 desa wisata sekitar Magelang, Kulonprogo, dan Purworejo (Gelangprojo) dengan menghadirkan Dr. Destha Titi Raharjana, dari Puspar UGM sebagai fasilitator.

Sementara itu, peran Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) salah satunya adalah mendorong adanya inovasi dalam pengembangan atraksi di wilayah otoritatif ataupun koordinatif dengan melibatkan segenap pemangku kepentingan termasuk masyarakat desa area Pegunungan Menoreh yang berlokasi tidak jauh dari Candi Borobudur dan airport YIA. Hal tersebut disampaikan Neysa Amelia selaku Direktur Destinasi BPOB.

Dia menyampaikan salah satu model pengembangan yang dijalankan saat ini adalah dengan model community based tourism (CBT). Menurut Neysa pembangunan pariwisata khususnya kluster Menoreh dan sekitarnya berorientasi sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

Perlu pula mendorong pengembangan model wisata minat khusus guna menarik segmen niche market yang mampu memberikan dampak positif terhadap lingkungan, budaya, masyarakat, dan ekonomi. Oleh karena itu, penguatan ragam atraksi yang memiliki keunikan, selling point dan tematik menjadi penting untuk dimiliki.

“Targetnya, apabila pengelola desa-desa wisata di Gelangprojo (Magelang, Kulon Progo, Purworejo) tentunya akan mampu mengemas paket wisata tematik dan terintegrasi,” ucapnya.

Yulwan selaku Kepala Divisi Amenitas dan Daya Tarik Wisata BPOB menambahkan dalam pendampingan kali ini menyepakati tindak lanjut pendampingan untuk mematangkan kemasan paket dan travel pattern yang telah dihasilkan. Pendampingan secara kontinu diberikan untuk menghasilkan pilot project paket wisata tematik yang kemudian diujicobakan dengan melibatkan pihak industri.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Puspar UGM dan BPOB Lakukan Pendampingan Wisata Khusus di Gelangprojo pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-bpob-lakukan-pendampingan-wisata-khusus-di-gelangprojo/feed/ 0
Puspar UGM dan Pemkab Sikka Siapkan Reviu Dokumen Ripparda https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-pemkab-sikka-siapkan-reviu-dokumen-ripparda/ https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-pemkab-sikka-siapkan-reviu-dokumen-ripparda/#respond Mon, 06 May 2024 03:47:42 +0000 https://ugm.ac.id/puspar-ugm-dan-pemkab-sikka-siapkan-reviu-dokumen-ripparda/ Cukup banyak perubahan mendasar terhadap arah pembangunan di Kabupaten Sikka, khususnya di sektor kepariwisataan. Bahkan dalam 10 tahun terakhir perubahan di sektor kepariwisataan terlihat dari sisi eksternal maupun internal. Secara eksternal, penetapan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas diikuti dengan pembangunan infrastruktur pariwisata yang masif telah mengubah pola perjalanan wisatawan. Awalnya wisatawan melakukan perjalanan […]

Artikel Puspar UGM dan Pemkab Sikka Siapkan Reviu Dokumen Ripparda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Cukup banyak perubahan mendasar terhadap arah pembangunan di Kabupaten Sikka, khususnya di sektor kepariwisataan. Bahkan dalam 10 tahun terakhir perubahan di sektor kepariwisataan terlihat dari sisi eksternal maupun internal.

Secara eksternal, penetapan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas diikuti dengan pembangunan infrastruktur pariwisata yang masif telah mengubah pola perjalanan wisatawan. Awalnya wisatawan melakukan perjalanan wisata melalui Bali dan dilanjutkan dengan eksplorasi kawasan Sikka dan sekitarnya.

“Saat ini, pola perjalanan tersebut berubah menjadi  Bali-Labuan Bajo-Sikka”, ujar Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, S.T., M.Eng mewakili Pj Bupati Sikka pada Seminar Pendahuluan Reviu Dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Sikka, Rabu (30/4).

Dalam aspek internal, Margaretha Molvades mengakui pemekaran wilayah desa/kelurahan dan tumbuhnya daya tarik wisata baru turut mempengaruhi arah pembangunan kepariwisataan. Terbitnya Permen Pariwisata No.10 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Ripparprov/Ripparkab/kota dan regulasi perencanaan terbaru RPJMD dan RTRW mengharuskan Kabupaten Sikka melihat kembali Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan sehingga dokumen substansi Ripparda harus menyesuaikan dengan ketiga regulasi.

“Reviu ini juga dilakukan untuk mendorong sinergi antar sektor dan OPD, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal”, terangnya.

Seminar Pendahuluan Reviu Dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Sikka diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) bekerja sama dengan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada. Seminar berlangsung di Aula Kantor Bapelitbangkab Sikka menghadirkan Tim Ahli Puspar UGM diantaranya Dr. Mohamad Yusuf, MA selaku Kepala Puspar UGM, Wijaya, S. Hut, M.Sc., dan Ika Rachmadani Kurniawan, A.Md.

Acara ini dihadiri sekitar 35 peserta yang berasal dari pimpinan OPD terkait, seperti Bapelitbang, Dinasparbud, Kepala Desa, Akademisi (IFTK Ledalero, Unimof), perwakilan pelaku ekraf/UMKM, HPI, PHRI, Asidewi, dan praktisi pariwisata.

Mohamad Yusuf menyampaikan sebagai wilayah kepulauan di daratan Flores, Kabupaten Sikka menyandang peran dan posisi sangat strategis dalam pembangunan ekonomi dan budaya masyarakat di kawasan Flores. Salah satu sektor yang diharapkan dapat menggerakkan pembangunan tersebut adalah melalui pariwisata.

Beragam potensi unggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Sikka sudah seharusnya dikembangkan lebih optimal agar dapat menjadi pilar pembangunan perekonomian khususnya di wilayah ini dan Provinsi NTT pada umumnya. Pembangunan sektor kepariwisataan diharapkan dapat selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDG’s), khususnya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi (SDG’s no. 8), mengurangi angka kemiskinan (SDG’s no. 1), adanya praktik ekowisata mampu menekan ancaman perubahan iklim (SDG’s no. 13) dan sekaligus perlu didorong kemitraan antar pemangku kepentingan (SDG’s no. 17) untuk mewujudkan daya saing destinasi pariwisata Sikka yang kuat.

Menurutnya pendekatan pembangunan kepariwisataan yang partisipatif dan menekankan pada aspek keberlanjutan sudah seharusnya menjadi fondasi dalam perencanaan pembangunan. Pembangunan kepariwisataan hanya dapat berjalan optimal melalui kerja kolaboratif para pemangku kepentingan (kolaborasi multi-heliks) diantaranya Pemerintah, Akademisi, Industri, Masyarakat, Media, dan Lembaga Keuangan.

“Oleh karena itu, dalam seminar ini juga digagas untuk dibentuknya forum komunikasi pariwisata yang terdiri atas enam unsur di atas sebagai upaya mengoptimalkan pembangunan pariwisata Kabupaten Sikka serta memperkuat sinergi dan komitmen di antara para pemangku kepentingan pariwisata di atas”, ungkapnya.

Sebagai salah satu peneliti Puspar UGM, Wijaya menyatakan Kabupaten Sikka memiliki daya tarik wisata yang sangat beragam, baik alam, budaya maupun buatan. Daya tarik wisata tersebut berupa pantai, pulau-pulau kecil, spot dive, gunung api, air terjun, hutan Mangrove, Goa, bukit purba, jelajah hutan, budaya, kuliner dan kerajinan lokal.

“Berdasarkan kajian awal yang telah dilakukan oleh Puspar UGM mencatat  bahwa Kabupaten Sikka memiliki tidak kurang dari 75 daya tarik wisata yang tersebar di 21 kecamatan”, ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Sikka tidak terlepas dari dua kawasan penting di sekitarnya, yaitu Kelimutu Ende sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo yang saat ini sedang berkembang dan ramai kunjungan. Posisi strategis ini menjadi salah satu kekuatan destinasi, dan semua berharap akan mendapat imbas dan limpahan wisatawan dari kedua destinasi unggulan ini.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Puspar UGM dan Pemkab Sikka Siapkan Reviu Dokumen Ripparda pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/puspar-ugm-dan-pemkab-sikka-siapkan-reviu-dokumen-ripparda/feed/ 0
Pentingnya Aktivasi SDM-Kelembagaan di Desa Wisata https://ugm.ac.id/id/berita/pentingnya-aktivasi-sdm-kelembagaan-di-desa-wisata/ https://ugm.ac.id/id/berita/pentingnya-aktivasi-sdm-kelembagaan-di-desa-wisata/#respond Tue, 23 Apr 2024 06:09:19 +0000 https://ugm.ac.id/pentingnya-aktivasi-sdm-kelembagaan-di-desa-wisata/ Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos. M.Si. peneliti Puspar UGM menyatakan salah satu faktor penentu kemajuan desa wisata tidak lain dan tidak bukan menyangkut kapasitas sumber daya manusia pada lembaga pengelola desa wisata. Karena pengembangan desa wisata sejatinya dijalankan melalui community based tourism (CBT). “Artinya, menempatkan masyarakat desa sebagai subjek adalah hal utama yang penting dilakukan”, […]

Artikel Pentingnya Aktivasi SDM-Kelembagaan di Desa Wisata pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos. M.Si. peneliti Puspar UGM menyatakan salah satu faktor penentu kemajuan desa wisata tidak lain dan tidak bukan menyangkut kapasitas sumber daya manusia pada lembaga pengelola desa wisata. Karena pengembangan desa wisata sejatinya dijalankan melalui community based tourism (CBT).

“Artinya, menempatkan masyarakat desa sebagai subjek adalah hal utama yang penting dilakukan”, ujarnya saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Manajemen Kelembagaan pada kegiatan Kampanye Sadar Wisata (KSW) 5.0 bertempat di desa wisata Kembang Kuning, Lombok Timur, Selasa (22/4).

Destha menegaskan arti penting peran strategis Pokdarwis. Pokdarwis dituntut agar mampu melakukan inovasi, terobosan dan mendorong kolaborasi antar elemen.

Hal itu, menurutnya menjadi keniscayaan, mengingat dari temuan lapangan, khususnya dari tiga desa yang menjadi peserta, yaitu desa Mertak dan desa Bonjeruk dari Kabupaten Lombok Tengah, desa Buwun Sejati, Kabupaten Lombok Barat memiliki problem sinergitas antar lembaga desa yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan desa wisata.

Materi pelatihan manajemen kelembagaan diberikan dua bagian selama dua hari, 21-22 April 2024, diantaranya penyampaian materi secara teori. Nara sumber memberikan pembekalan materi pengenalan, pembentukan, dan penguatan lembaga desa wisata, struktur dan prosedur organisasi/lembaga wisata, manajemen/ tata kelola desa wisata dan dilanjutkan kerja kelompok per desa terkait praktik pengelolaan desa wisata.

“Pada kegiatan praktik, masing-masing desa melakukan refleksi terkait dengan model pengelolaan yang saat ini sudah berjalan,” katanya.

Destha menuturkan para peserta sangat antusias memberikan pendapatnya. Dari hasil diskusi, tiap-tiap desa wisata mampu menampilkan keadaan existing lembaga di desa yang terkait langsung atau tidak langsung dengan pariwisata, dan menyepakati tindak lanjutnya.

Hasilnya pelatihan ini pun pada akhirnya mengarah pada kesepakatan untuk melakukan pendampingan lembaga dalam wujud reaktivasi SDM dan kelembagaan yang akan secara profesional mengelola desa wisata, sekaligus merumuskan aturan main juga POS sesuai kebutuhan di masing-masing desa wisata.

Ia pun menjelaskan, pelatihan KSW 5.0 ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan FGD pemetaan potensi dan identifikasi kebutuhan pelatihan yang telah dilaksanakan bulan Maret 2024 sebelumnya. Salah satu pelatihan yang sifatnya wajib diberikan adalah pelatihan manajemen kelembagaan. Selain itu, materi pelatihan lainnya terkait dengan perencanaan bisnis (bisnis plan), kepemanduan-story telling, penyusunan paket wisata, dan digitalisasi.

Pelatihan diikuti 45 peserta berasal dari tiga desa di destinasi pariwisata prioritas Lombok. Mereka ditugaskan sebagai local champions atau tokoh penggerak pariwisata di masing-masing desa yang mewakili dari unsur Pokdarwis, UMKM, lembaga adat, Bumdes, dan perangkat desa.

“Kegiatan ini dijalankan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan c.q. Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata,” imbuhnya.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Pentingnya Aktivasi SDM-Kelembagaan di Desa Wisata pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pentingnya-aktivasi-sdm-kelembagaan-di-desa-wisata/feed/ 0