Makan Bergizi Gratis Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/makan-bergizi-gratis/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 20 Jan 2025 10:48:13 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Pakar UGM : Perlu Ada Kejelasan Indikator Keberhasilan Program MBG https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-perlu-ada-kejelasan-indikator-keberhasilan-program-mbg/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-perlu-ada-kejelasan-indikator-keberhasilan-program-mbg/#respond Mon, 20 Jan 2025 10:48:13 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74928 Sudah hampir dua minggu program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Telah banyak bermunculan respon mengenai program ini dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari para siswa hingga ahli mengomentari program yang saat ini sedang berjalan. Tidak sedikit masyarakat yang mengkritik keberlangsungan program ini. Pasalnya masih banyak hal yang sepertinya belum […]

Artikel Pakar UGM : Perlu Ada Kejelasan Indikator Keberhasilan Program MBG pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sudah hampir dua minggu program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Telah banyak bermunculan respon mengenai program ini dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari para siswa hingga ahli mengomentari program yang saat ini sedang berjalan. Tidak sedikit masyarakat yang mengkritik keberlangsungan program ini. Pasalnya masih banyak hal yang sepertinya belum dibahas lebih mendalam dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis terutama indikator keberhasilan dari tiap tujuan di program ini.

Memang sudah sewajarnya terdapat pro dan kontra dalam suatu kebijakan yang diambil pemerintah. Mulai dari kontroversi soal dana yang dipatok untuk masing – masing anak yang awalnya Rp 15.000 menjadi Rp 10.000. Perhitungan ini tentu saja menimbulkan perdebatan apakah dapat mencukupi jumlah gizi yang dibutuhkan oleh seorang anak. Begitu juga dengan menu makanan yang disajikan. Dengan keterbatasan dana tersebut, menu yang disajikan pun belum tentu cukup untuk menyesuaikan dengan selera anak-anak. Benar saja bahwa terdapat beberapa kasus yang muncul seperti lauk yang tidak diminati anak dan berakhir terbuang karena tidak dikonsumsi.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Eni Harmayani, mengatakan berbagai persoalan yang muncul di lapangan dalam 2 minggu ini, program  MBG ini perlu dikaji lebih dalam mengenai jenis menu makanan dan cara pengolahan agar tidak terjadi food waste. “Setiap daerah memiliki budaya atau kebiasaan tersendiri dalam mengolah pangan sehingga penting untuk diadakan standarisasi nasional dalam penentuan menu, kandungan gizi bahan baku, dan pengolahan pangan tersebut agar kandungan gizinya tetap terjaga,” kata Eni, Senin (20/1).

Untuk memantau indikator keberhasilan dan standarisasi nasional tersebut perlu diadakan kolaborasi dengan berbagai pihak agar hasilnya maksimal. Mulai dari pihak sekolah, ahli pangan, ahli gizi, dan pemerintah daerah setempat. “Program ini perlu adanya indikator keberhasilan yang melibatkan sekolah karena lingkupnya yang kecil sehingga proses pemantauan pun lebih terjaga dan bisa melibatkan orang tua yang lebih mengerti anaknya,” ungkapnya.

Menurut Eni, dapur umum yang saat ini digunakan untuk program MGB juga harus dikelola secara profesional sehingga tidak menjadi kendala. Sehingga banyak pertimbangan yang harus dilakukan. Seperti apakah makanan yang disajikan masih layak makan, proses preparasi atau penyiapan makanan, dan kebersihan dari dapur itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak tentang pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan. “Perlu adanya edukasi tentang bagaimana cara menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi”, tambahnya.

Bagi Eni, program ini memang nantinya diharapkan mampu menjadi program yang terencana baik itu kondisi makanan, teknis produksi sampai indikator keberhasilannya sehingga dapat diukur dengan baik. Sebab, program MBG merupakan salah satu program yang positif yang mana perlu dilakukan karena ada urgensi untuk meningkatkan gizi masyarakat Indonesia. “Apabila program ini tidak terencana dengan baik maka keefektifan dan keberlanjutannya pun dipertanyakan,” pungkasnya.

Penulis : Jelita Agustine

Editor   :  Gusti Grehenson

Foto     : Tribuntangerang

Artikel Pakar UGM : Perlu Ada Kejelasan Indikator Keberhasilan Program MBG pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-perlu-ada-kejelasan-indikator-keberhasilan-program-mbg/feed/ 0
Program MBG Dinilai Mampu Tingkat Kognitif Siswa, Jangan Sampai jadi Proyek Bancakan Korupsi  https://ugm.ac.id/id/berita/program-mbg-dinilai-mampu-tingkat-kognitif-siswa-jangan-sampai-jadi-proyek-bancakan-korupsi/ https://ugm.ac.id/id/berita/program-mbg-dinilai-mampu-tingkat-kognitif-siswa-jangan-sampai-jadi-proyek-bancakan-korupsi/#respond Thu, 16 Jan 2025 08:42:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74808 Salah satu program unggulan kabinet Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), telah berjalan ke beberapa sekolah di daerah. Program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan fungsi kognitif siswa jika diimbangi dengan pengolahan makanan yang mengandung menu gizi yang baik. Namun lebih dari itu, proses tata kelola pengadaan program ini menuntut transparansi dan akuntabilitas agar program […]

Artikel Program MBG Dinilai Mampu Tingkat Kognitif Siswa, Jangan Sampai jadi Proyek Bancakan Korupsi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Salah satu program unggulan kabinet Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), telah berjalan ke beberapa sekolah di daerah. Program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan fungsi kognitif siswa jika diimbangi dengan pengolahan makanan yang mengandung menu gizi yang baik. Namun lebih dari itu, proses tata kelola pengadaan program ini menuntut transparansi dan akuntabilitas agar program ini tepat sasaran. Bukan menjadi proyek bancakan untuk korupsi.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Pojok Bulaksumur yang bertajuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Tinjauan Perspektif Gizi, Kebijakan, dan Supply Chain Bahan Pangan, yang berlangsung di Selasar Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (17/1). Diskusi yang diselenggarakan oleh Sekretariat Universitas ini menghadirkan tiga orang pakar dari UGM, yaitu Dosen Manajemen Kebijakan Publik Fisipol Prof. Wahyudi Kumorotomo, Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Prof. Subejo dan Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK Dr. Toto Sudargo, M.Kes.

 

Toto Sudargo mengatakan program MBG berpotensi besar untuk meningkatkan kemampuan fungsi kognitif siswa jika dikelola dengan baik. Namun, hal ini juga perlu diimbangi dengan pengolahan gizi dari menu makanan. “Konsumsi makanan bergizi, seperti protein dari telur, sangat penting untuk mendukung perkembangan otak. Namun, penyajiannya juga harus diperhatikan agar anak-anak tertarik untuk mengkonsumsinya,” katanya.

Ia mencontohkan, menu telur yang diolah dengan baik, seperti dadar atau orak-arik, akan memberikan manfaat lebih karena tambahan kalorinya. Oleh karena itu ia menekankan kualitas gizi makanan lebih diutamakan daripada kuantitas makanan saja. “Yang penting anak-anak mau makan dan makanan tidak terbuang. Jangan sampai makanan hanya diacak-acak dan menjadi sampah,” ungkapnya.

Sementara Subejo menyoroti pentingnya memanfaatkan bahan pangan lokal dalam pelaksanaan program MBG. Ia menyebut ketergantungan pada bahan impor seperti gandum menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi. “Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal seperti singkong, jagung, dan sagu. Jika bahan-bahan ini dimanfaatkan, kita tidak hanya mendukung ketahanan pangan tetapi juga memberdayakan petani lokal,” ujarnya.

Ia juga menyarankan pemberdayaan desa sebagai basis distribusi makanan bergizi. Menurutnya, jika desa diberi otoritas untuk mengelola dana dan menyusun menu berbasis bahan lokal, distribusi akan lebih efisien dan dekat dengan kebutuhan masyarakat setempat. “Mekanisme ini juga dapat mengurangi risiko makanan basi karena perjalanan distribusi yang terlalu jauh,” tambahnya.

Sedangkan Wahyudi Kumorotomo menyoroti soal transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana besar yang dialokasikan untuk program ini agar bisa tepat sasaran. Menurutnya, potensi terjadinya korupsi harus diantisipasi dengan pengawasan ketat oleh seluruh lapisan masyarakat. “Dana sebesar Rp71 triliun per tahun yang ditargetkan untuk 19,4 juta anak ini harus dipantau penggunaannya. Jangan sampai ada korupsi atau dana yang dialihkan untuk kepentingan lain,” paparnya.

 

Ketiga pakar UGM ini sepakat bahwa program MBG adalah investasi jangka panjang yang memerlukan komitmen berkelanjutan dari berbagai pihak. Toto mengingatkan bahwa keberhasilan program serupa di India ini baru terlihat setelah berjalan lebih dari satu dekade. “Program ini harus berjalan terus-menerus dan tidak boleh berhenti hanya karena berganti pemerintahan. Jika konsisten, Indonesia bisa mencapai hasil yang signifikan, baik dalam hal kesehatan, kemampuan, maupun prestasi generasi mendatang,” tegasnya.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini ditutup dengan harapan besar terhadap keberhasilan MBG. Para pakar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan mengawasi pelaksanaan program ini. “Ini adalah investasi untuk generasi masa depan. Jika program ini berhasil, Indonesia akan memiliki generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing di kancah global,” pungkas Dr. Toto.

Penulis : Bolivia

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Program MBG Dinilai Mampu Tingkat Kognitif Siswa, Jangan Sampai jadi Proyek Bancakan Korupsi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/program-mbg-dinilai-mampu-tingkat-kognitif-siswa-jangan-sampai-jadi-proyek-bancakan-korupsi/feed/ 0
Impor Sapi Perah untuk MBG, Pakar UGM Pertanyakan Kesiapan Lahan Hijauan Pakan Ternak https://ugm.ac.id/id/berita/impor-sapi-perah-untuk-mbg-pakar-ugm-pertanyakan-kesiapan-lahan-hijauan-pakan-ternak/ https://ugm.ac.id/id/berita/impor-sapi-perah-untuk-mbg-pakar-ugm-pertanyakan-kesiapan-lahan-hijauan-pakan-ternak/#respond Thu, 16 Jan 2025 02:55:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74756 Pemerintah berencana akan melakukan impor 200 ribu sapi perah lewat 160 perusahaan hingga akhir tahun mendatang dalam rangka memenuhi kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi kebijakan impor sapi perah untuk memenuhi kebutuhan menus susu program MBG, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Widodo, SP.,M.Sc., Ph.D., menyarankan agar pemerintah perlu melakukan […]

Artikel Impor Sapi Perah untuk MBG, Pakar UGM Pertanyakan Kesiapan Lahan Hijauan Pakan Ternak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah berencana akan melakukan impor 200 ribu sapi perah lewat 160 perusahaan hingga akhir tahun mendatang dalam rangka memenuhi kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menanggapi kebijakan impor sapi perah untuk memenuhi kebutuhan menus susu program MBG, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Widodo, SP.,M.Sc., Ph.D., menyarankan agar pemerintah perlu melakukan perencanaan yang matang untuk aspek teknis dan juga kehati-hatian dalam rangka mengantisipasi penyebaran penyakit baru dan resiko menurunnya produktivitas susu sapi. Sebab, ditengah melonjak kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tidak menutup kemungkinan akan menambah tingkat penyebaran. Bahkan ternak yang sudah terkena PMK berisiko tidak akan produktif  kembali.

“Jangan sampai nambah penyakit. Jika sudah menyerang akan menjadi berat. Sehingga diperlukan adanya kehati-hatian,” kata Widodo dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (16/1).

Menurutnya, sapi perah yang diimpor sebaiknya harus melalui proses karantina yang ketat agar tidak lagi mendatangkan virus atau bahkan mungkin mendatangkan penyakit baru. “Saat ini dunia sedang ditakutkan dengan adanya penularan virus yang aslinya datang pada binatang dan kemudian menular pada manusia,” katanya.

Selama proses karantina yang ketat, Widodo menegaskan pihak perusahaan importir juga perlu mendatangkan pakan hijauan yang berkualitas yang berasal dari lahan yang sudah disiapkan sebelumnya.“Sapi perlu makanan, hijauan mereka siap nggak lahannya? untuk seratus ekor sapi berapa dihitungnya lahannya? Untuk seratus ribu berapa? Untuk satu juta berapa? Jadi kadang program pemerintah itu reasoningnya masuk tapi bombastis. Saya sebagai sebagai akademisi harus jujur dalam program ini ada manfaatnya asal ditata, disusun, dan direncanakan secara rasional,” paparnya.

Widodo sepakat dengan kebijakan impor susu sapi perah untuk kebutuhan susu gratis namun harus didukung dengan ketersediaan lahan bagi sapi untuk mensuplai pakan hijauan dan pakan konsentrat lainnya. “Perlu perencanaan yang matang dan jangan sampai membawa penyakit dari luar apalagi lahan buat sapinya tidak ada,” katanya.

Penulis : Kezia Dwina Nathania
Editor : Gusti Grehenson

Foto : Freepik

Artikel Impor Sapi Perah untuk MBG, Pakar UGM Pertanyakan Kesiapan Lahan Hijauan Pakan Ternak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/impor-sapi-perah-untuk-mbg-pakar-ugm-pertanyakan-kesiapan-lahan-hijauan-pakan-ternak/feed/ 0
Ahli Gizi UGM: Menu Makan Bergizi Gratis Tidak Boleh Sembarang https://ugm.ac.id/id/berita/ahli-gizi-ugm-menu-makan-bergizi-gratis-tidak-boleh-sembarang/ https://ugm.ac.id/id/berita/ahli-gizi-ugm-menu-makan-bergizi-gratis-tidak-boleh-sembarang/#respond Fri, 06 Dec 2024 08:00:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73593 Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto akan segera diterapkan pada Januari 2025. Pemerintah mencanangkan Rp10.000 untuk setiap porsinya dan sajian disesuaikan dengan kemampuan setiap daerah. “Menurut saya, dilihat dari perencanaannya, Rp10.000 untuk setiap anak masih mungkin dilaksanakan. Tentunya, pelaksanaanya harus terus dipantau, dievaluasi, dan ditingkatkan,” kata Dr. Toto Sudargo, M.Kes., […]

Artikel Ahli Gizi UGM: Menu Makan Bergizi Gratis Tidak Boleh Sembarang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto akan segera diterapkan pada Januari 2025. Pemerintah mencanangkan Rp10.000 untuk setiap porsinya dan sajian disesuaikan dengan kemampuan setiap daerah. “Menurut saya, dilihat dari perencanaannya, Rp10.000 untuk setiap anak masih mungkin dilaksanakan. Tentunya, pelaksanaanya harus terus dipantau, dievaluasi, dan ditingkatkan,” kata Dr. Toto Sudargo, M.Kes., ahli gizi UGM kepada wartawan di Kampus UGM, Jumat (6/12).

Toto menuturkan program makan bergizi gratis ini yang sangat mulia sebab tidak semua negara sanggup dan dapat melakukan program besar seperti ini. Ia mengatakan bahwa dengan anggaran yang disediakan, setiap daerah dapat menerapkan menu-menu yang berbeda sesuai dengan ketersediaan potensi dan kekayaan hasil alam yang ada di setiap daerah. “Beberapa daerah memang masih mengandalkan nasi. Di beberapa daerah seperti papua dapat diganti dengan sagu, papeda, jagung. Kemudian, untuk karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dapat diganti dengan ikan, telur, dan daging atau sumber nabati lainnya, sesuai wilayahnya masing-masing,” paparnya.

Soal anggaran sebesar Rp10.000 setiap satu porsinya, Toto menilai harga tersebut dapat ditekan dengan pelaksanaan subsidi silang dan pengurangan biaya-biaya lain seperti biaya transportasi ke sekolah. Caranya, menurutnya, dengan memanfaatkan pembuatan makanan di wilayah yang dekat dengan wilayah sekolah.

Selain aspek gizi dan biaya, Dosen FK-KMK ini juga menyebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Badan Gizi Nasional akan membantu memantau pelaksanaan program ini. Dengan demikian, ia berharap jalannya program ini dapat sesuai sehingga kebutuhan gizi dan keamanan bahan pangan dapat terjaga sampai dikonsumsi nantinya.

Toto juga melihat bahwa MBG juga dapat dimaksimalkan dari aspek penyajian. Menurutnya, makanan harus disesuaikan dengan kesukaan anak-anak sehingga dapat meminimalkan bahkan meniadakan makanan yang terbuang. “Makanannya tidak apa-apa dengan porsi yang kecil, tetapi bisa dibuat menarik sehingga anak-anak suka dan mereka mau untuk makan,” tambahnya.

Dengan demikian, ia menyebut pelaksanaan MBG ini tidak boleh sembarangan sebab pelaksanaan berdampak secara langsung kepada anak-anak yang merupakan generasi emas penerus bangsa. Toto juga berpesan pada pemerintah agar lebih dahulu memperhatikan aspek kualitas makanan daripada jumlah yang disediakan. “Saat kita memberikan makanan kepada anak-anak, jangan sampai yang dipikirkan pemerintah adalah masalah keuntungan atau profit,” tegasnya.

Toto berharap program ini dapat berjalan dengan baik. Tentunya, dengan dukungan dan peran berbagai pihak seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media, dan masyarakat. Pihak-pihak inilah yang nantinya akan terus mengawal pelaksanaan program ini menjadi lebih baik. “Ini adalah program gizi yg diberikan kepada generasi penerus bangsa sehingga mari semua pihak bekerja sama untuk saling memperbaiki satu sama lain sehingga kebutuhan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi,” tutupnya.

Penulis  : Lazuardi

Editor    : Gusti Grehenson

Foto      : Freepik

Artikel Ahli Gizi UGM: Menu Makan Bergizi Gratis Tidak Boleh Sembarang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ahli-gizi-ugm-menu-makan-bergizi-gratis-tidak-boleh-sembarang/feed/ 0