Lulusan Termuda Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/lulusan-termuda/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 23 Jan 2025 09:11:06 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/#respond Thu, 23 Jan 2025 08:46:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75104 Aldino Javier Saviola, merupakan salah satu dari 841 lulusan program pascasarjana yang diwisuda, Kamis (23/1) di Grha Sabha Pramana. Lulusan dari Program Studi Magister Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada ini berhasil lulus menyandang gelar S2 di usia 22 tahun 6 bulan 18 hari. Padahal rerata usia 691 lulusan Program Magister di […]

Artikel Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Aldino Javier Saviola, merupakan salah satu dari 841 lulusan program pascasarjana yang diwisuda, Kamis (23/1) di Grha Sabha Pramana. Lulusan dari Program Studi Magister Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada ini berhasil lulus menyandang gelar S2 di usia 22 tahun 6 bulan 18 hari. Padahal rerata usia 691 lulusan Program Magister di periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari.

Selain menyandang predikat wisudawan termuda, Aldino juga menjadi salah satu dari 2 orang yang dinobatkan sebagai lulusan S2 tercepat di periode ini. Pasalnya, untuk program Magister, rerata masa studi program magister adalah 2 tahun 2 bulan, sedangkan Aldino berhasil lulus dalam waktu 1 tahun 2 bulan.

Aldino menceritakan ia menyelesaikan pendidikan S1 di FMIPA UGM pada bulan Mei 2023. Setelah lulus pendidikan sarjana, dirinya mencoba peluang mendaftar beasiswa program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Batch 7 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini merupakan beasiswa unggulan yang mengakomodasi sarjana agar lulus S2 dan S3 hanya dalam kurun waktu 4 tahun.

Pria kelahiran Purwokerto, 27 Maret 2002 ini mengaku senang dan bersyukur bisa menyelesaikan dua program studi sambil tetap aktif dalam kegiatan sosial dan penelitian. “Saya bersyukur sekali berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini,” ucap Aldino.

Tuntutan fast track untuk menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 dalam waktu empat tahun tersebut justru semakin membuatkan terpacu untuk menyelesaikan studi secepat mungkin. Bahkan dalam waktu bersamaan, Aldino berhasil menyelesaikan tesis sembari menjadi mahasiswa doktoral di fakultas yang sama.

Minat dan bakat Aldino di bidang kimia membuatnya mampu menghasilkan penelitian dan karya inovatif, khususnya seputar pembangunan nanokatalis untuk produksi biofuel. Penelitian dalam tesisnya dilatarbelakangi oleh masih tingginya penggunaan bahan bakar fosil untuk avtur. “Saya mencoba mengembangkan bioavtur dari sumber biomassa berupa minyak jelantah yang tidak hanya mudah didapatkan di alam, tetapi juga merupakan bentuk inovasi waste-to-wealth demi menjaga kelestarian lingkungan,” tutur Aldino.

Hasil risetnya tentang proses hydrotreatment yang dirancang Aldino mampu mengubah minyak jelantah menjadi bioavtur dengan komposisi kimia yang sangat mirip dengan avtur berbasis fosil. Proyek-proyek pengembangan nanokatalis yang ditekuni Aldino selama tiga tahun terakhir juga menghasilkan sejumlah karya riset yang telah dipublikasikan di jurnal internasional. Saat ini, ia telah memiliki total 26 karya jurnal terindeks scopus. “Saya kira ini merupakan achievement yang luar biasa bagi diri saya. Semoga kedepannya saya bisa lebih produktif lagi dan dapat menghasilkan karya-karya lainnya,” tutur anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Aldino berharap riset yang dilakukannya ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transformasi energi ke proses yang lebih hijau. Mengingat pemerintah dan konsensus global saat ini sedang gencar mengupayakan solusi untuk mengatasi perubahan iklim. “Penelitiannya tentu masih memerlukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut, namun ia berharap inovasi ini nantinya dapat diaplikasikan pada skala industri,” terangnya.

Ditanya soal pengalamannya selama menempuh kuliah di UGM, Aldino mengaku sejak awal telah mantap memilih UGM. “Tanpa keraguan sedikitpun sejak saya S1 dulu, melalui jalur SNMPTN saya telah memilih Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai cinta pertama saya,” ungkapnya.

Apalagi prodi yang ia ambil sudah terakreditasi internasional dan pakar-pakar ahli di bidangnya sehingga memiliki pendidikan yang berkualitas. “Kualitas keilmuan yang diajarkan pada mahasiswa sangat baik, akhirnya saya memutuskan untuk tetap kuliah di UGM sampai pendidikan doktoral,” tegasnya.

Menurutnya, FMIPA UGM memiliki berbagai fasilitas dan lingkungan yang baik untuk mendukung pembelajaran mahasiswa. Jika ingin lulus cepat dengan serangkaian prestasi, Aldino berpesan pada mahasiswa sarjana maupun pascasarjana untuk bisa membagi waktu sebaik mungkin. “Kita harus ulet, tekun, dan telaten dalam melakukan penelitian merupakan kunci untuk bisa lulus dengan prestasi terbaik,” pungkasnya.

Penulis : Tasya

Editor   : Gusti Grehenson

Artikel Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/feed/ 0
Lulus Kuliah 3 Tahun 1 Bulan, Muhammad Daffa jadi Lulusan S1 Tercepat di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/lulus-kuliah-3-tahun-1-bulan-muhammad-daffa-jadi-lulusan-s1-tercepat-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/lulus-kuliah-3-tahun-1-bulan-muhammad-daffa-jadi-lulusan-s1-tercepat-di-ugm/#respond Fri, 22 Nov 2024 06:03:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73160 Lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang akademis, mendorong semangat pemuda asal Sulawesi Tenggara ini untuk mengejar prestasinya. Muhammad Daffa Adiibah Sinapoy, atau kerap dipanggil Daffa, berhasil mencatat gelar sebagai wisudawan tercepat dalam waktu 3 tahun 1 bulan 14 hari pada periode Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan 2024/2025, Kamis (21/11) lalu. Dengan semangat, […]

Artikel Lulus Kuliah 3 Tahun 1 Bulan, Muhammad Daffa jadi Lulusan S1 Tercepat di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang akademis, mendorong semangat pemuda asal Sulawesi Tenggara ini untuk mengejar prestasinya. Muhammad Daffa Adiibah Sinapoy, atau kerap dipanggil Daffa, berhasil mencatat gelar sebagai wisudawan tercepat dalam waktu 3 tahun 1 bulan 14 hari pada periode Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan 2024/2025, Kamis (21/11) lalu. Dengan semangat, dedikasi, dan kerja keras, serta motivasi dari sang Ibu,  Daffa telah membuktikan bahwa hasil tidak menghianati usaha sehingga bisa meraih predikat lulusan tercepat dalam wisuda UGM.

Selama kuliah, Daffa mengakui bahwa perjalanan akademiknya penuh warna. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi. Situasi ini membuatnya ia harus kembali ke Sulawesi Tenggara, sementara teman-temannya berada di Yogyakarta. Meski rintangan menghadang, Daffa mampu menjaga fokus pada tujuannya. Ia percaya bahwa setiap hambatan adalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat.  “Saya sempat merasa kehilangan informasi penting terkait kelas dan kegiatan. Namun, saya tetap proaktif mencari informasi dan menjaga komunikasi dengan teman-teman serta dosen,” ujarnya, Jumat (22/11).

Keberhasilan Daffa menyelesaikan studi dengan cepat tak lepas dari strategi belajar yang terarah. Ia memilih tema skripsi yang sesuai dengan minatnya, sehingga proses penulisan terasa lebih ringan. Manajemen waktu yang efisien juga menjadi kunci utama. Dengan membagi waktu secara proporsional antara akademik dan kegiatan lainnya, Daffa mampu menjaga keseimbangan hidup selama menjalani perkuliahan. “Saya percaya bahwa skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Fokus utama saya adalah menyelesaikan apa yang sudah saya mulai,” tuturnya.

Selain menyelesaikan studi dengan cepat, Daffa juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan penelitian. Di Keluarga Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik (Gamapi), ia berkontribusi di Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa. Ia juga aktif di Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FISIPOL UGM serta menjabat sebagai Wakil Kepala Divisi Inkubasi dan Pengembangan Bisnis di Himpunan Pengusaha Muda PT UGM.

Daffa juga menyampaikan bahwa ia telah melakukan magang di lembaga-lembaga bergengsi, termasuk DPR RI Komisi X dan Sekretariat Negara Republik Indonesia sebagai analisis media dan pemantauan. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Wakil Kepala Divisi Inkubasi dan Pengembangan Bisnis di Himpunan Pengusaha Muda PT UGM. Daffa berkontribusi dalam mengorganisir PIONEERS 1.0 (kompetisi bisnis tingkat nasional pertama yang diadakan oleh organisasi tersebut).

Dalam bidang penelitian, ketertarikannya pada isu urbanisasi mendorongnya menggali lebih dalam tentang Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia melakukan wawancara dengan para ahli dan tokoh lokal untuk memahami dampak sosial dan lingkungan dari pembangunan tersebut.  “Salah satu yang paling berkesan adalah saat menjadi Bilateral Greeter di Paris Peace Forum. Daffa berinteraksi langsung dengan kepala negara dan delegasi internasional, memperluas wawasan tentang diplomasi dan hubungan global,” ungkap Daffa.

Daffa juga menunjukkan kepeduliannya terhadap pengabdian masyarakat. Selama KKN di Desa Moolo, Sulawesi Tenggara, ia memimpin program pelatihan konten digital untuk ibu-ibu PKK, pengelolaan media sosial desa, dan inisiatif digitalisasi pemerintahan desa melalui program Moolo 4.0.   “Pengalaman KKN ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kontribusi kecil dapat memberikan dampak besar. Bahkan setelah KKN selesai, masyarakat desa masih sering menghubungi saya untuk berdiskusi tentang pengembangan desa,” katanya.

Setelah lulus, Daffa berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi sambil mencari peluang kerja yang relevan dengan bidang keahliannya. Ia bercita-cita bekerja di lingkungan multikultural yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.  “Fokus saya mencari peluang yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus memperluas wawasan saya secara global,” ujarnya.

Ia mengaku orang tua adalah inspirasi terbesarnya dalam menyelesaikan studi. Mengingat bahwa kedua orang tuanya ada seorang dosen dan pegawai negeri sipil, pendidikan selalu menjadi bagian penting dalam keluarganya. Ia menyampaikan bahwa peran sang Ibu sangatlah penting dalam menjaga fokusnya pada tanggung jawab akademik, terutama di waktu ia lengah untuk menunda mengerjakan skripsi.

“Saya sangat bersyukur lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan. Ayah dan ibu saya adalah akademisi di bidang hukum dan kebencanaan, dengan ayah saya merupakan lulusan Magister Hukum dari Universitas Gadjah Mada,” ujarnya penuh rasa bangga.

Tak hanya berkutat dengan kehidupan akademik, Daffa selalu menyempatkan waktunya untuk melakukan aktivitas lainnya seperti olahraga dan kegiatan spiritual. Ia kerap melakukan olahraga tenis dan sepak bola untuk membantunya menjaga kesehatan fisik sekaligus menghilangkan stres. Meluangkan waktu dengan teman dan keluarga juga penting baginya lantaran dukungan emosional sangat membantu menjaga semangat dalam menjalani studi.

Bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studi, Daffa memberikan pesan inspiratif. Menurutnya, sebagai mahasiswa tak perlu merasa takut apabila membuat kesalahan, karena itu adalah bagian dari pembelajaran. Ia berpesan agar mahasiswa tetap selalu konsisten, fokus, dan ingat bahwa dukungan dari teman, keluarga, serta pembimbing adalah aset penting yang bisa membantu mereka mencapai garis akhir. “Enjoy the game! Yang terpenting, ingat bahwa skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Calm down, you are doing fine!” pungkasnya.

Penulis : Lintang

Editor   : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Lulus Kuliah 3 Tahun 1 Bulan, Muhammad Daffa jadi Lulusan S1 Tercepat di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lulus-kuliah-3-tahun-1-bulan-muhammad-daffa-jadi-lulusan-s1-tercepat-di-ugm/feed/ 0
Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/#respond Fri, 22 Nov 2024 04:04:06 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73145 Uphe Angelia Maitriani mencatatkan dirinya sebagai lulusan termuda pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (28/11). Lulusan Program Studi Ilmu Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini berhasil menyelesaikan studi sarjananya pada usia 20 tahun 3 bulan 9 hari. Padahal usia rata-rata 1.754 lulusan Program […]

Artikel Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Uphe Angelia Maitriani mencatatkan dirinya sebagai lulusan termuda pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (28/11). Lulusan Program Studi Ilmu Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini berhasil menyelesaikan studi sarjananya pada usia 20 tahun 3 bulan 9 hari. Padahal usia rata-rata 1.754 lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 16 hari

Tidak hanya itu, Uphe berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 2 bulan. Sementara rerata masa studi program sarjana adalah 4 tahun 4 bulan. Ia menjelaskan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari latar belakang pendidikan yang dimulai lebih awal. “Saat SMA, saya mengikuti kelas akselerasi. Saya juga angkatan 2021 dan lulus kuliah sebelum 4 tahun, jadi lebih cepat,” ungkapnya, Jumat (22/11).

Selama perjalanan studinya, Uphe mengaku tidak merasa kesulitan meski menjadi salah satu mahasiswa termuda di angkatannya. Sebaliknya, perbedaan usia satu tahun dengan sebagian besar teman-temannya kerap kali menjadi bahan candaan.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang merantau dari Pekanbaru, Riau, Uphe mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya. Meski kedua orang tuanya tidak berstatus sebagai sarjana, Ayahnya bekerja sebagai karyawan swasta dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Namun begitu, keduanya selalu memberikan semangat agar Uphe memberikan yang terbaik. “Orang tua saya bukan sarjana, namun sangat amat mendukung pendidikan seluruh anaknya. Saya tidak dituntut, namun selalu disemangati untuk memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Hingga akhirnya, pada tahun ketiga perkuliahannya, Uphe mendapatkan Beasiswa Marga Pembangunan Jaya melalui sistem pendaftaran online UGM, Simaster. Dengan IPK akhir 3.94, Uphe membuktikan bahwa fokus dan strategi belajar yang tepat menjadi kunci keberhasilannya. Ia memiliki metode belajar yang unik. “Aku suka nyatet di kertas kalau lagi kelas, nggak di gadget. Kalau mau dibaca ulang jadi nggak gampang ke-distract,” katanya.

Sejak semester pertama, ia telah menyusun strategi akademik, termasuk menentukan kapan mengambil mata kuliah, magang, KKN, dan skripsi. Perencanaan ini memungkinkan ia menyelesaikan semua tahapan studi dengan efisien. Selain itu, ia menghindari kebiasaan begadang agar tetap fokus. “Jangan kebiasaan begadang kalau belajar,” ujar Uphe.

Salah satu pencapaian penting Uphe adalah skripsinya yang berjudul Retensi Optimal Reasuransi Quota-share dengan Meminimalkan Value at Risk dan Memaksimalkan Ekspektasi Utilitas Perusahaan Asuransi. Penelitian ini tidak hanya mencerminkan pemahamannya tentang konsep aktuaria yang kompleks tetapi juga menunjukkan kontribusinya terhadap dunia asuransi. “Skripsi ini membahas bagaimana perusahaan asuransi dapat menentukan proporsi risiko yang optimal untuk direasuransikan,” jelasnya.

Dengan dedikasi dan keberhasilannya, Uphe Angelia Maitriani menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk meraih prestasi dengan perencanaan yang matang dan semangat juang yang tinggi. Ia berharap mahasiswa lain tidak takut bermimpi besar dan berani menyusun strategi sejak awal. “Tentang lulus lebih cepat, itu masalah strategi aja sih,” tutupnya.

Penulis : Rahma Khoirunnisa

Editor : Gusti Grehenson

Foto   : Donnie

Artikel Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/feed/ 0
Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/#respond Tue, 10 Sep 2024 03:12:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70395 Mia Yunita, mahasiswa prodi Kedokteran Hewan,  Fakultas Kedokteran Hewan, merupakan salah satu 3.627 yang diwisuda pada 28-29 Agustus lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mia dinobatkan sebagai wisudawan termuda yang berhasil menyabet gelar sarjana di usia 20 tahun 1 bulan 9 hari. Padahal Usia rata-rata lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari. […]

Artikel Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mia Yunita, mahasiswa prodi Kedokteran Hewan,  Fakultas Kedokteran Hewan, merupakan salah satu 3.627 yang diwisuda pada 28-29 Agustus lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mia dinobatkan sebagai wisudawan termuda yang berhasil menyabet gelar sarjana di usia 20 tahun 1 bulan 9 hari. Padahal Usia rata-rata lulusan program sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Mia mengaku bangga dapat menyelesaikan studinya tepat waktu, yaitu dalam jangka waktu 4 tahun. Ia pun tidak menyangka mendapat predikat sebagai lulusan termuda pada periode wisuda kali ini. Mia bercerita bahwa ia bisa lulus sarjana di usia 20 tahun dikarenakan saat masuk kuliah di usia 16 tahun.

Namun begitu, masuk kuliah di usia 16 tahun bukanlah hal yang mudah untuknya. Di awal perkuliahan, Mia sempat merasa minder karena merasa belum seharusnya berada di tahap kuliah. “Aku sempat inferior, apalagi setelah mengetahui diterima di FKH UGM, banyak orang yang berekspektasi tinggi. Banyak yang menganggap aku sepintar itu,” ujar Mia ketika dihubungi Selasa (10/9).

Meski memulai studinya di UGM di usia relatif muda dibanding rekan mahasiswa lainnya di FKH, Mia dapat mengimbangi tempo belajar dan aktivitas teman-teman yang lain. Bahkan sejak ia duduk di bangku SMP, Mia sudah terbiasa mengerjakan tugas, ujian, dan pekerjaan rumah yang padat. Ditambah lagi, ia harus bisa mengejar materi dalam waktu 2 tahun ketika mengikuti program akselerasi di SMA. Hal itu membuatnya terbiasa dan tidak kaget dengan tugas-tugas kuliah di UGM.

Menurutnya, menikmati proses belajar adalah hal yang paling penting ketika menuntut ilmu, baik di jenjang SMP, SMA, maupun kuliah. Mia mengenang saat ia memutuskan untuk mengikuti program akselerasi karena ia menyukai dan tertarik dengan hal-hal yang dianggap unik. “Saya tidak keberatan ketika harus menghabiskan banyak waktu untuk menyusun laporan praktikum sambil mencari materi lain yang belum diajarkan. Sehingga saya bisa belajar lebih dalam tentang bidang yang saya tekuni,” katanya.

Untuk bisa lulus tepat waktu, Mia memiliki teknik belajarnya tersendiri agar bisa fokus dengan hal-hal yang ia sedang kerjakan. Ia menggunakan teknik pomodoro, yaitu belajar atau mengerjakan sesuatu selama 25 menit, lalu istirahat selama 5 menit. Teknik ini ia lakukan secara berulang sampai 3 jam. Selain itu, lingkungan dan suasana yang nyaman sangat penting untuk meningkatkan fokus belajar. “Sebelum belajar, saya merapikan meja belajar, mengatur suhu ruangan, menyiapkan cemilan, dan menjauhkan ponsel dari meja agar tidak mudah terdistraksi,” katanya.

Selain unggul di bidang akademik, Mia tidak lupa untuk memperkuat relasi antar mahasiswa lewat organisasi dan kepanitiaan. Ia sempat menjadi mentor mahasiswa baru di Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Vetebrae UGM 2021. Mia juga tergabung sebagai Liaison Officer di acara Musyawarah Kerja Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) di UGM.

Mia memberikan tips tentang cara belajar yang efektif dengan metode menghafal. Sejak kuliah, ia mulai menghafal dengan cara meninjau ulang catatan senior atau materi yang diberikan oleh dosen. Setelah itu, barulah ia menggarisbawahi unsur-unsur terpenting dari materi tersebut untuk kemudian dihafalkan. “Keingintahuan adalah hal penting untuk mempertahankan semangat berkuliah. Dengan itu, mahasiswa dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya,” pungkasnya.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kisah Mia Yunita, Berhasil Lulus Sarjana pada Usia 20 tahun di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mia-yunita-lulus-s1-fkh-ugm-di-usia-20-tahun/feed/ 0
Frista Chairunnisa, Usia 22 Tahun Lulus Master di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/frista-chairunnisa-usia-22-tahun-lulus-master-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/frista-chairunnisa-usia-22-tahun-lulus-master-di-ugm/#respond Fri, 26 Jul 2024 07:01:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67823 Sebanyak 991 lulusan Program pascasarjana Universitas Gadjah Mada diwisuda pada rabu (24/7) lalu di Graha Sabha Pramana. Dari 834 lulusan Program Magister (S2), Frista Chairunnisa (22) dari prodi S2 Bioteknologi Sekolah Pascasarjana (SPs) dinobatkan sebagai lulusan termuda karena lulus di usia 22 tahun 9 bulan 27 hari. Padahal rerata usia lulusan Program Magister di periode ini adalah 29 tahun 6 […]

Artikel Frista Chairunnisa, Usia 22 Tahun Lulus Master di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 991 lulusan Program pascasarjana Universitas Gadjah Mada diwisuda pada rabu (24/7) lalu di Graha Sabha Pramana. Dari 834 lulusan Program Magister (S2), Frista Chairunnisa (22) dari prodi S2 Bioteknologi Sekolah Pascasarjana (SPs) dinobatkan sebagai lulusan termuda karena lulus di usia 22 tahun 9 bulan 27 hari. Padahal rerata usia lulusan Program Magister di periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari.

Frista sendiri berasal dari Pangkalpinang, Bangka Belitung. Anak pertama dari 4 bersaudara ini lahir 25 Agustus 2001. Sejak kecil sudah diajarkan oleh kedua orangtuanya untuk belajar membaca dan berhitung sejak dini sehingga di umur empat tahun ia sudah berani masuk ke jenjang sekolah dasar. Meski tidak mengikuti program akselerasi, Frista menanamatkan jenjang bangku SD, SMP dan SMA dalam waktu normal. Hanya saja saat lulus SMA dan mendaftar kuliah, Frista masih di umur 16 tahun. “Saya masuk SD di usia 4 tahun. Di bangku SMP dan SMA tidak ikut akselerasi,” katanya

Setelah lulus dari sarjana Biologi, ia memiliki dorongan kuat untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat magister.  Ketertarikan Frista pada Bioteknologi, khususnya dalam riset penyakit kanker, membawanya untuk memilih Universitas Gadjah Mada sebagai tempat melanjutkan studi pascasarjana. “UGM memiliki pusat riset kanker yang aktif mengeksplorasi bahan-bahan alam Indonesia sebagai agen kemoprevensi kanker. Saya kira tumbuhan herbal Indonesia adalah potensi luar biasa yang bisa kita bawa untuk dikenal di mata internasional,” tambah Frista.

Menempuh studi magister di bidang Bioteknologi SPs UGM bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah penyesuaian pada penguasaan pada penggunaan alat laboratorium. “Saya butuh waktu lama dan melewati banyak kegagalan untuk menghasilkan data yang benar dan layak,” kata Frista yang lulus dengan IPK 3,87.

Setelah beberapa kali mencoba, ia berhasil saat pengalamannya pertama kali melihat wujud bentuk dari sel kanker yang menjadi momen penting dalam studinya. “Saya bersyukur tergabung dalam grup riset kanker yang yang saling mendukung dalam kegiatan riset,” tambahnya.

Selama masa studi S2, Frista terlibat dalam beberapa proyek penelitian terkait pengembangan potensi bahan alam sebagai agen antikanker. Diantaranya menakar potensi efek antikanker ekstrak daun kirinyuh sebagai agen sitotoksik Kombinasi Doxorubicin pada Sel Kanker Payudara Luminal A.

Frista mengaku dukungan dari orang tua dan dosen pembimbing menjadi faktor penting dalam kesuksesan studinya. Selama kuliah, para dosen selalu memberi arahan dan memantau perkembangan riset disertasinya. “Beliau-beliau selalu memberi arahan bagaimana membuat pekerjaan lebih efektif dan sabar ketika saya membuat banyak kesalahan,” tambahnya.

Setelah menyelesaikan studi pascasarjana, Frista berencana kembali ke Provinsi Bangka Belitung untuk mengabdi sebagai dosen. Sambil mengajar, ujarnya, ia ingin mengeksplorasi sebanyak-banyaknya bidang penelitian di bidang biologi. Ia selalu memegang prinsip agar tetap bersikap rendah hati dalam belajar. “Jangan pernah malu belajar dari siapapun. Merendahlah bagai cangkir yang diletakkan di bawah agar air dari teko di atasnya bisa masuk,” nasihatnya.

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Frista Chairunnisa menunjukkan bahwa perjalanan akademik yang penuh tantangan bisa dilalui dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Penulis: Dita

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Frista Chairunnisa, Usia 22 Tahun Lulus Master di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/frista-chairunnisa-usia-22-tahun-lulus-master-di-ugm/feed/ 0