Lulusan Tercepat Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/lulusan-tercepat/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 23 Jan 2025 09:11:06 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/#respond Thu, 23 Jan 2025 08:46:57 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75104 Aldino Javier Saviola, merupakan salah satu dari 841 lulusan program pascasarjana yang diwisuda, Kamis (23/1) di Grha Sabha Pramana. Lulusan dari Program Studi Magister Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada ini berhasil lulus menyandang gelar S2 di usia 22 tahun 6 bulan 18 hari. Padahal rerata usia 691 lulusan Program Magister di […]

Artikel Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Aldino Javier Saviola, merupakan salah satu dari 841 lulusan program pascasarjana yang diwisuda, Kamis (23/1) di Grha Sabha Pramana. Lulusan dari Program Studi Magister Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada ini berhasil lulus menyandang gelar S2 di usia 22 tahun 6 bulan 18 hari. Padahal rerata usia 691 lulusan Program Magister di periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari.

Selain menyandang predikat wisudawan termuda, Aldino juga menjadi salah satu dari 2 orang yang dinobatkan sebagai lulusan S2 tercepat di periode ini. Pasalnya, untuk program Magister, rerata masa studi program magister adalah 2 tahun 2 bulan, sedangkan Aldino berhasil lulus dalam waktu 1 tahun 2 bulan.

Aldino menceritakan ia menyelesaikan pendidikan S1 di FMIPA UGM pada bulan Mei 2023. Setelah lulus pendidikan sarjana, dirinya mencoba peluang mendaftar beasiswa program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Batch 7 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini merupakan beasiswa unggulan yang mengakomodasi sarjana agar lulus S2 dan S3 hanya dalam kurun waktu 4 tahun.

Pria kelahiran Purwokerto, 27 Maret 2002 ini mengaku senang dan bersyukur bisa menyelesaikan dua program studi sambil tetap aktif dalam kegiatan sosial dan penelitian. “Saya bersyukur sekali berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini,” ucap Aldino.

Tuntutan fast track untuk menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 dalam waktu empat tahun tersebut justru semakin membuatkan terpacu untuk menyelesaikan studi secepat mungkin. Bahkan dalam waktu bersamaan, Aldino berhasil menyelesaikan tesis sembari menjadi mahasiswa doktoral di fakultas yang sama.

Minat dan bakat Aldino di bidang kimia membuatnya mampu menghasilkan penelitian dan karya inovatif, khususnya seputar pembangunan nanokatalis untuk produksi biofuel. Penelitian dalam tesisnya dilatarbelakangi oleh masih tingginya penggunaan bahan bakar fosil untuk avtur. “Saya mencoba mengembangkan bioavtur dari sumber biomassa berupa minyak jelantah yang tidak hanya mudah didapatkan di alam, tetapi juga merupakan bentuk inovasi waste-to-wealth demi menjaga kelestarian lingkungan,” tutur Aldino.

Hasil risetnya tentang proses hydrotreatment yang dirancang Aldino mampu mengubah minyak jelantah menjadi bioavtur dengan komposisi kimia yang sangat mirip dengan avtur berbasis fosil. Proyek-proyek pengembangan nanokatalis yang ditekuni Aldino selama tiga tahun terakhir juga menghasilkan sejumlah karya riset yang telah dipublikasikan di jurnal internasional. Saat ini, ia telah memiliki total 26 karya jurnal terindeks scopus. “Saya kira ini merupakan achievement yang luar biasa bagi diri saya. Semoga kedepannya saya bisa lebih produktif lagi dan dapat menghasilkan karya-karya lainnya,” tutur anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Aldino berharap riset yang dilakukannya ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendukung transformasi energi ke proses yang lebih hijau. Mengingat pemerintah dan konsensus global saat ini sedang gencar mengupayakan solusi untuk mengatasi perubahan iklim. “Penelitiannya tentu masih memerlukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut, namun ia berharap inovasi ini nantinya dapat diaplikasikan pada skala industri,” terangnya.

Ditanya soal pengalamannya selama menempuh kuliah di UGM, Aldino mengaku sejak awal telah mantap memilih UGM. “Tanpa keraguan sedikitpun sejak saya S1 dulu, melalui jalur SNMPTN saya telah memilih Departemen Kimia FMIPA UGM sebagai cinta pertama saya,” ungkapnya.

Apalagi prodi yang ia ambil sudah terakreditasi internasional dan pakar-pakar ahli di bidangnya sehingga memiliki pendidikan yang berkualitas. “Kualitas keilmuan yang diajarkan pada mahasiswa sangat baik, akhirnya saya memutuskan untuk tetap kuliah di UGM sampai pendidikan doktoral,” tegasnya.

Menurutnya, FMIPA UGM memiliki berbagai fasilitas dan lingkungan yang baik untuk mendukung pembelajaran mahasiswa. Jika ingin lulus cepat dengan serangkaian prestasi, Aldino berpesan pada mahasiswa sarjana maupun pascasarjana untuk bisa membagi waktu sebaik mungkin. “Kita harus ulet, tekun, dan telaten dalam melakukan penelitian merupakan kunci untuk bisa lulus dengan prestasi terbaik,” pungkasnya.

Penulis : Tasya

Editor   : Gusti Grehenson

Artikel Kisah Aldino Javier, Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-aldino-javier-lulus-s2-ugm-di-usia-22-tahun/feed/ 0
Cerita Henra, Lulus S2 Cumlaude dari UGM dalam Waktu Satu Tahun https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-henra-lulus-s2-cumlaude-dari-ugm-dalam-waktu-satu-tahun/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-henra-lulus-s2-cumlaude-dari-ugm-dalam-waktu-satu-tahun/#respond Fri, 25 Oct 2024 06:06:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72090 Menjadi seorang mahasiswa, tekad dan dedikasi tentu akan membawanya dalam mencapai impian yang ingin diraihnya. Hal ini dibuktikan oleh Henra, mahasiswa program fast track di orogram studi Magister Bioteknologi di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, di usia 24 tahun, berhasil menjadi wisudawan tercepat lantaran berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 0 bulan dan lulus […]

Artikel Cerita Henra, Lulus S2 Cumlaude dari UGM dalam Waktu Satu Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menjadi seorang mahasiswa, tekad dan dedikasi tentu akan membawanya dalam mencapai impian yang ingin diraihnya. Hal ini dibuktikan oleh Henra, mahasiswa program fast track di orogram studi Magister Bioteknologi di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, di usia 24 tahun, berhasil menjadi wisudawan tercepat lantaran berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 0 bulan dan lulus dengan predikat cumlaude di penghelatan wisuda program Pascasarjana UGM , Kamis (24/10) lalu.

Sebelum melanjutkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada, Henra menyelesaikan sarjananya di Universitas Hasanuddin Makassar. Ketika memasuki program S2, ia langsung terjun untuk melakukan penelitian sejak semester pertama. Penelitiannya berfokus pada ”Aktivitas Senyawa Antifungi dan Antibiofilm Bacillus velezensis BP1 terhadap Candida albicans: In Vitro Bioassay, Metabolomic, In Silico Molecular Docking“. Penelitian ini tentu sangat relevan dengan bidang yang sangat diminatinya, yakni bioteknologi. Dukungan dari dosen pembimbingnya memberikan motivasi tambahan bagi Henra untuk berusaha lebih keras dan tak hanya mencapai target awal namun juga melampauinya.

Di balik keberhasilannya, pemuda asal Makassar ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam penyesuaian jadwal yang padat. Ia sering kali merasa lelah karena harus membagi waktu antara kuliah dan penelitian. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Ia juga mengaku bahwa keberadaan teman-temannya yang saling mendukung juga sangat berperan dalam kelancaran studinya. “Saya selalu memanfaatkan setiap waktu luang antara kuliah untuk melanjutkan penelitian, sehingga nantinya pada saat seminar proposal, ia sudah mendekati hasil akhir dari penelitiannya,” ujarnya saat ditanya oleh wartawan di Kampus UGM, Kamis (24/10).

Menyeimbangkan antara kehidupan akademik dan kehidupan pribadi juga menjadi salah satu tantangan bagi Henra. Meski terkadang merasa kewalahan, namun ia percaya bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan akan berbuah manis. Henra menunjukkan bahwa meski ada banyak halangan, dengan tekad yang kuat dan dukungan dari lingkungan, segala sesuatu akan menjadi mungkin. Ia juga mengaku belajar untuk mengelola emosinya dan menemukan cara untuk dapat terus termotivasi, bahkan saat menghadapi situasi yang sulit.

Tak hanya lulus dengan cepat, Henra juga berhasil untuk mendapatkan nilai akhir yang baik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.87. Menurutnya, perolehan nilai IPK yang baik ini  tidak lepas dari ketekunannya dalam belajar dan pengalaman aktifnya dalam mengikuti berbagai lomba karya tulis ilmiah selama masa SMA dan S1 menjadi landasan yang kuat baginya saat melanjutkan kuliah S2. “Walaupun belum sampai tingkat nasional, pengalaman mengikuti olimpiade dan lomba-lomba ini memberikan dorongan bagi saya untuk terus berjuang dan mengembangkan kemampuan saya di bidang akademik,” katanya.

Belajar di UGM memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi Henra berkat keberagaman disiplin ilmu yang ada di kampus. Ia mengaku di UGM tak hanya belajar dari satu bidang, tetapi juga mengeksplorasi ilmu dari berbagai fakultas, termasuk kesehatan manusia, tumbuhan, hewan, dan mikroba. Pembelajaran lintas disiplin ini memberikan perspektif yang lebih luas dan mendalam tentang bioteknologi, memperkaya pengetahuannya dan memperkuat fondasi akademisnya. “Saya sangat antusias dengan materi-materi yang diajarkan oleh para dosen yang selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan terbaru di bidangnya,” katanya.

Selama kuliah, henra mengaku dirinya juga mendapatkan pengalaman sosial yang unik. Padahal saat pertama merantau ke Yogyakarta untuk pertama kalinya, ia mengaku menghadapi tantangan yang besar karena tidak memiliki satu orang kenalan pun di kota ini. Perbedaan budaya juga menambah kompleksitas penyesuaiannya. Menariknya, Henra malah menemukan kenyamanan dan suasana yang damai selama hidup di Yogyakarta. Momen-momen lucu dan menyenangkan saat bergaul dengan teman-temannya membuatnya merasa bahwa selalu ada ruang untuk bersenang-senang dan menikmati proses belajar.

Lahir di keluarga yang mengutamakan pendidikan, keberhasilan Hendra menjadi kebanggaan tersendiri, terutama karena ia adalah anak pertama yang menyelesaikan pendidikan tinggi di program master dalam keluarga besar mereka. Meskipun demikian, orang tuanya juga mengingatkan agar Hendra tetap rendah hati dan tidak melupakan nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan keluarga. “Orang tua saya selalu berpesan agar dapat menggunakan ilmu untuk hal-hal yang bermanfaat dan positif, serta tidak menggunakan pengetahuannya untuk tujuan yang kurang baik,” katanya.

Henra juga turut memberikan tips bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan S2. Pertama, penting untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental lantaran perjalanan ini membutuhkan dedikasi dan komitmen yang tinggi. Kedua, ia menekankan pentingnya untuk memulai penelitian lebih awal. “Seperti yang saya lakukan, apabila telah menyiapkan topik dan isi penelitian lebih awal, teman-teman nggak cuma bisa menyelesaikan studi lebih cepat, tapi pasti hasil penelitiannya juga akan lebih baik,” katanya.

Dengan tekad yang kuat, Henra berharap agar dapat menyelesaikan program doktoral yang tengah ia ikuti mulai tahun ini dengan cepat, sama seperti bagaimana ia menyelesaikannya di program S2. Ambisi utamanya adalah berkontribusi sebagai peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dimana ia ingin menerapkan ilmunya untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. “Menurut saya, penelitian adalah salah satu cara untuk menjawab tantangan yang dihadapi dunia, dan saya ingin menjadi bagian dari solusi tersebut,” pungkasnya.

Penulis : Lintang

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Cerita Henra, Lulus S2 Cumlaude dari UGM dalam Waktu Satu Tahun pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-henra-lulus-s2-cumlaude-dari-ugm-dalam-waktu-satu-tahun/feed/ 0
Kuliah Sambil Kerja, Arbania Fitriani Lulus Doktor Tercepat dengan IPK 4.00 di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-sambil-kerja-arbani-fitriani-lulus-doktor-tercepat-dengan-ipk-4-00-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-sambil-kerja-arbani-fitriani-lulus-doktor-tercepat-dengan-ipk-4-00-di-ugm/#respond Thu, 24 Oct 2024 04:54:53 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72037 Universitas Gadjah Mada baru saja mewisuda sebanyak 1.816 lulusan pascasarjana, Kamis (24/10) di Grha Sabha Pramana. Dari total lulusan yang diwisuda, terdapat 134 lulusan Program Doktor (S3) dengan masa studi rata-rata 5 tahun. Salah satu wisudawan dari jenjang S3, Dr. Arbania Fitriani, S.Psi., M.Si., CHt., atau yang kerap disapa Arfi dari Program Studi Kepemimpinan dan […]

Artikel Kuliah Sambil Kerja, Arbania Fitriani Lulus Doktor Tercepat dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada baru saja mewisuda sebanyak 1.816 lulusan pascasarjana, Kamis (24/10) di Grha Sabha Pramana. Dari total lulusan yang diwisuda, terdapat 134 lulusan Program Doktor (S3) dengan masa studi rata-rata 5 tahun. Salah satu wisudawan dari jenjang S3, Dr. Arbania Fitriani, S.Psi., M.Si., CHt., atau yang kerap disapa Arfi dari Program Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Sekolah Pascasarjana, berhasil meraih predikat lulusan tercepat karena mampu menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 2 tahun 6 bulan 23 hari. Tidak hanya menyandang predikat lulusan dengan masa studi tercepat, Arfi juga berhasil lulus dengan nilai IPK sempurna, 4,00.

Prestasi akademik yang dicapai oleh Arfi tentu sangat menginspirasi, mengingat kesibukannya sebagai Direktur Stellar HR Consulting dan menjadi dosen di Universitas Esa Unggul di usianya yang belum mencapai 40 tahun ini. Tak hanya itu, ia pun merupakan seorang certified hypnotherapist yang basis keilmuannya di ilmu psikologi.

Arfi mengaku bersyukur bisa menyelesaikan studi doktor dalam waktu lebih cepat dengan IPK tertinggi. Apalagi ia menyelesaikan kuliah sambil sibuk bekerja. “Selama kuliah, saya ini menjalani triple job sebagai Direktur, Dosen, dan Terapis Psikologi. Apalagi selama studi, saya nggak pernah cuti,” katanya.

Meski sibuk dengan pekerjaan dan profesinya sebagai psikolog, Arfi mengaku hal itu tidak mengganggu jadwal kuliahnya. “Pokoknya, kesibukan kerja bukan jadi halangan untuk kita lulus lebih cepat,” katanya sumringah.

Meski berhasil lulus lebih cepat, Arfi mengaku dirinya sempat digadang oleh salah satu dosen pengujinya bahwa ia akan menemukan kesulitan menyelesaikan studi karena penelitian disertasinya dianggap terlalu kompleks dan tidak cocok untuk jenjang program doktor. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Sebaliknya, ia berhasil membuktikan bahwa ia mampu menyelesaikan studinya dengan waktu lebih cepat.

Adapun penelitian disertasi yang dipilihnya, tentang membangun model “Prediktor Keterikatan Kerja”. Topik ini bermula dari peraturan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat itu yang mewajibkan setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengukur keterikatan kerja dari karyawannya. Topik disertasinya menguji 14 koefisien jalur dan 15 variabel yang mampu menghasilkan 9 hipotesis, serta membahas faktor-faktor prediktor keterikatan, khususnya dalam konteks pasca pandemi sehingga bisa menjadi rekomendasi kebijakan bagi perusahaan BUMN.

Alhasil, segala usaha dan kerja kerasnya dalam melakukan riset disertasinya berbuah manis, ketika dosen pengujinya memuji bahwa hasil riset disertasinya sangat baik dan bermanfaat bagi pengembangan SDM perusahaa BUMN. “Dalam waktu 2 tahun 5 bulan, saya sudah  ujian tertutup dan ikut yudisium,” jelasnya.

Soal tips agar bisa menyelesaikan kuliah dan disertasi lebih cepat, Arfi menuturkan bahwa dirinya punya strategi dengan menyusun proposal penelitian sejak jauh hari dengan berkonsultasi dengan para dosen. “Jadi saat saya masuk kuliah proposalnya sudah siap,” kenangnya.

Arfi mengaku dengan menyusun proposal riset lebih awal menjadikan dirinya bisa  mengambil sidang proposal saat di bangku semester dua. Tak hanya itu, Arfi selalu rajin menjalin komunikasi dengan para promotor. “Para promotor sangat membantu kecepatan lulus kita,” katanya.

Apa yang dicapainya sekarang ini mampu lulus lebih cepat dengan pretasi akademik yang gemilang tidak lepas dari hasil dari disiplin diri yang baik dan cara berpikirnya yang menganggap studi S3 yang ia tempuh menjadi bagian dari ibadah. “Jadi dengan  kita menjadikan studi ini sebagai ibadah, saya merasa segala sesuatu dimudahkan jalannya,” ungkapnya.

Usai menyandang gelar doktor, Arfi berencana akan menekuni keahliannya di bidang psikologi industri dan psikometri. Apalagi dari hasil disertasinya menemukan bahwa terdapat perbedaan sistem kerja sebelum dan pasca pandemi di sebuah perusahaan atau organisasi, sehingga perlu ada prediktor keterikatan kerja yang baru yang perlu diperhatikan. Selain itu, ia juga menemukan faktor teknologi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam proses kerja. Sebab, berkat dukungan teknologi dapat membantu kerja dari karyawan, terlebih untuk menunjang performa kerja mereka. Yang tidak kalah penting, motivasi memberikan pelayanan publik yang lebih baik juga perlu diperhatikan, soalnya banyak pekerja saat ini yang melakukan pekerjaannya melalui remote working.  Diperlukan kepemimpinan atau self leadership yang mendorong disiplin diri untuk dapat bekerja dengan baik untuk mendukung kinerja sebuah perusahaan atau organisasi.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kuliah Sambil Kerja, Arbania Fitriani Lulus Doktor Tercepat dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-sambil-kerja-arbani-fitriani-lulus-doktor-tercepat-dengan-ipk-4-00-di-ugm/feed/ 0