Lulus Cumlaude Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/lulus-cumlaude/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 31 Jan 2025 04:14:38 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Gagal Raih Beasiswa karena Usia, Yudi Sapta Lulus S3 dengan IPK 4 di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/gagal-raih-beasiswa-karena-usia-yudi-sapta-lulus-s3-dengan-ipk-4-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/gagal-raih-beasiswa-karena-usia-yudi-sapta-lulus-s3-dengan-ipk-4-di-ugm/#respond Fri, 31 Jan 2025 04:11:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75261 Universitas Gadjah Mada mewisuda sebanyak 59 lulusan Program Doktor dari total 814 lulusan program pascasarjana, Kamis (23/1) lalu. Untuk program Doktor, rerata masa studi adalah 4 tahun 8 bulan, dengan 6 wisudawan memiliki IPK 4,00. Salah satu dari wisudawan yang meraih IPK sempurna tersebut adalah Yudi Sapta Pranoto (45), lulusan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi […]

Artikel Gagal Raih Beasiswa karena Usia, Yudi Sapta Lulus S3 dengan IPK 4 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada mewisuda sebanyak 59 lulusan Program Doktor dari total 814 lulusan program pascasarjana, Kamis (23/1) lalu. Untuk program Doktor, rerata masa studi adalah 4 tahun 8 bulan, dengan 6 wisudawan memiliki IPK 4,00. Salah satu dari wisudawan yang meraih IPK sempurna tersebut adalah Yudi Sapta Pranoto (45), lulusan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada, berhasil menyelesaikan pendidikan dengan masa studi 3 tahun, 1 bulan, dan 14 hari.

Yudi mengaku bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan S3 dengan prestasi  akademik yang memuaskan. Bahkan ia tidak henti-hentinya bersyukur dan menyampaikan perasaan bahagianya. “Perasaan saya terharu, bahagia dan diiringi rasa syukur atas kemurahan-Nya saya dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya,” ujarnya, Jumat (31/1).

Lelaki yang juga berprofesi sebagai dosen di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan, Universitas Bangka Belitung ini pun turut membagikan perjuangannya sehingga bisa berkuliah di prodinya saat ini. Selama berkuliah di SPs UGM ia mendapatkan beasiswa pendidikan institusi dari Universitas Bangka Belitung untuk tahun kedua sampai selesai. Namun untuk mendapatkan hal tersebut tidaklah mudah, Yudi mengaku pada tahun 2021 ia sempat melamar Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) pada tahun 2021, namun gagal dikarenakan syarat usia pelamar yang tak boleh lebih dari 40 tahun. Karena Yudi sudah berusia 41 tahun, ia pun gagal meraih beasiswa. Namun kegagalan itu tidak menyurutkan semangatnya.

Berangkat dari kegagalannya tersebut, Yudi justru menjadi inisiator untuk mengajak teman-teman yang bernasib sama dengannya di program doktoral untuk membentuk grup Whatsapp, “Ikatan Studi Doktoral UGM”. Grup tersebut pun berhasil memperjuangkan nasibnya dan kawan-kawannya yang tak mendapatkan beasiswa. Bermacam usaha ia upayakan, termasuk membuat surat permohonan dukungan ke Rektor UGM untuk memperjuangkan nasibnya ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. “Sayangnya, hal tersebut tidak membuahkan tanggapan,” kenangnya.

Kemudian, dengan didasari oleh persamaan nasib kolektif, masalah tersebut pun menjadi masalah nasional. Banyak teman-teman studi doktoral dari kampus lain yang turut mengalami hal yang serupa, hal tersebut lah yang kemudian menjadi dasar dari perjuangan bersama teman-teman yang tengah menempuh studi doktoral di seluruh Indonesia. “Perjuangan dilalui dengan mengadakan audiensi dengan Komisi X, Bidang Pendidikan pada saat itu dan difasilitasi oleh Fraksi PKS di DPR RI. Singkat cerita, hasil pertemuan tersebut membuahkan hasil bahwa syarat BPI, terutama syarat usia maksimal bertambah menjadi 48 tahun,” ujarnya.

Yudi pun menambahkan bahwa selain dari syarat usia pelamar yang naik dari 40 tahun menjadi 48 tahun, persyaratan BPI pada tahun 2022 menyatakan bahwa beasiswa yang masih menjalankan perkuliahan dilaksanakan pada semester genap 2021/2022 sehingga mahasiswa yang sudah menjalankan perkuliahan di semester ganjil 2021 tidak dapat mendaftar BPI 2022, sehingga Yudi sekali lagi gagal untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Namun, menurutnya hal tersebut justru memberikannya hikmah bahwa tidak semua perjuangan itu dapat langsung dinikmati oleh diri sendiri, namun yang terpenting perjuangan tersebut dapat dinikmati oleh orang lain. Kemudian, di tahun keduanya, pada semester ganjil dengan kebijakan Rektor Universitas Bangka Belitung di tahun 2022 memberikan bantuan tugas sampai dengan selesai, dapat meringankan biaya SPP-nya.

Kerja keras dan keteguhannya dalam membantu orang lain pun dicerminkan dalam disertasi yang dipilihnya dengan judul “Faktor Penentu Peran Penyuluh Pertanian dalam Penerapan Good Agricultural Practices Lada Putih Muntok White Pepper di Provinsi Bangka Belitung”. Yudi bercerita bahwa melalui disertasinya ini, ia menguraikan bagaimana peran penyuluh dan praktik Good Agricultural Practices oleh para petani.

Menurutnya, Provinsi Bangka Belitung memiliki komoditi rempah terbaik di dunia, yang dikenal dengan Lada Putih Muntok (Muntok white pepper). “Lada ini memiliki aroma yang khas dan peperin yg tinggi dibandingkan lada lainnya di dunia, dan sudah diusahakan sejak abad ke 18,” jelasnya dengan semangat.

Sayangnya, dalam perjalanannya lada ini mengalami pasang surut produksi sekaligus ekspor komoditi tersebut dengan trend yang semakin menurun. Hal ini dikarenakan adanya permasalahan yang kompleks salah satunya adalah teknologi yang diterapkan petani masih tradisional dan belum menerapkan standar budidaya lada yang baik dan benar atau Good Agricultural Practices (GAP). Ia menjelaskan bahwa permasalahan ini dipicu oleh rendahnya pengetahuan petani terhadap GAP tersebut dan peran penyuluh yang belum optimal.

Yudi pun bersyukur bahwa selama proses penulisan disertasinya, ia benar-benar dipermudah dan mendapat dukungan penuh dari promotor dan ko-promotor. Menurut penuturannya, mereka mudah ditemui dan terjadwal setiap pekannya.

Selanjutnya, ia pun berpesan kepada teman-teman yang juga sedang menempuh studi di UGM, untuk terus semangat dan jangan berputus asa. “Di setiap kesulitan akan ada kemudahan, dan jangan lupa untuk terus berprasangka baik kepada Tuhan dan mendoakan siapapun,” pesannya.

Selain memberikan pesan kepada teman-teman lain di UGM, Yudi pun mengharapkan bahwa UGM dapat terus menjadi kampus rakyat pelopor dalam pendidikan yang berbasis keilmuan dan pengabdian, serta mempertahankan tradisi akademik yang unggul dan memperkuat jaringan global. “Selama berkuliah di UGM, kita dilatih untuk berpikir kritis, berinovasi, dan berintegritas. Nilai-nilai tersebut menjadi modal untuk mengabdi kepada masyarakat bangsa dan negara,” pungkasnya.

Penulis : Leony

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Gagal Raih Beasiswa karena Usia, Yudi Sapta Lulus S3 dengan IPK 4 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gagal-raih-beasiswa-karena-usia-yudi-sapta-lulus-s3-dengan-ipk-4-di-ugm/feed/ 0
Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/#respond Fri, 22 Nov 2024 04:04:06 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73145 Uphe Angelia Maitriani mencatatkan dirinya sebagai lulusan termuda pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (28/11). Lulusan Program Studi Ilmu Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini berhasil menyelesaikan studi sarjananya pada usia 20 tahun 3 bulan 9 hari. Padahal usia rata-rata 1.754 lulusan Program […]

Artikel Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Uphe Angelia Maitriani mencatatkan dirinya sebagai lulusan termuda pada Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (28/11). Lulusan Program Studi Ilmu Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini berhasil menyelesaikan studi sarjananya pada usia 20 tahun 3 bulan 9 hari. Padahal usia rata-rata 1.754 lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 16 hari

Tidak hanya itu, Uphe berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 2 bulan. Sementara rerata masa studi program sarjana adalah 4 tahun 4 bulan. Ia menjelaskan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari latar belakang pendidikan yang dimulai lebih awal. “Saat SMA, saya mengikuti kelas akselerasi. Saya juga angkatan 2021 dan lulus kuliah sebelum 4 tahun, jadi lebih cepat,” ungkapnya, Jumat (22/11).

Selama perjalanan studinya, Uphe mengaku tidak merasa kesulitan meski menjadi salah satu mahasiswa termuda di angkatannya. Sebaliknya, perbedaan usia satu tahun dengan sebagian besar teman-temannya kerap kali menjadi bahan candaan.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang merantau dari Pekanbaru, Riau, Uphe mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya. Meski kedua orang tuanya tidak berstatus sebagai sarjana, Ayahnya bekerja sebagai karyawan swasta dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Namun begitu, keduanya selalu memberikan semangat agar Uphe memberikan yang terbaik. “Orang tua saya bukan sarjana, namun sangat amat mendukung pendidikan seluruh anaknya. Saya tidak dituntut, namun selalu disemangati untuk memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Hingga akhirnya, pada tahun ketiga perkuliahannya, Uphe mendapatkan Beasiswa Marga Pembangunan Jaya melalui sistem pendaftaran online UGM, Simaster. Dengan IPK akhir 3.94, Uphe membuktikan bahwa fokus dan strategi belajar yang tepat menjadi kunci keberhasilannya. Ia memiliki metode belajar yang unik. “Aku suka nyatet di kertas kalau lagi kelas, nggak di gadget. Kalau mau dibaca ulang jadi nggak gampang ke-distract,” katanya.

Sejak semester pertama, ia telah menyusun strategi akademik, termasuk menentukan kapan mengambil mata kuliah, magang, KKN, dan skripsi. Perencanaan ini memungkinkan ia menyelesaikan semua tahapan studi dengan efisien. Selain itu, ia menghindari kebiasaan begadang agar tetap fokus. “Jangan kebiasaan begadang kalau belajar,” ujar Uphe.

Salah satu pencapaian penting Uphe adalah skripsinya yang berjudul Retensi Optimal Reasuransi Quota-share dengan Meminimalkan Value at Risk dan Memaksimalkan Ekspektasi Utilitas Perusahaan Asuransi. Penelitian ini tidak hanya mencerminkan pemahamannya tentang konsep aktuaria yang kompleks tetapi juga menunjukkan kontribusinya terhadap dunia asuransi. “Skripsi ini membahas bagaimana perusahaan asuransi dapat menentukan proporsi risiko yang optimal untuk direasuransikan,” jelasnya.

Dengan dedikasi dan keberhasilannya, Uphe Angelia Maitriani menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk meraih prestasi dengan perencanaan yang matang dan semangat juang yang tinggi. Ia berharap mahasiswa lain tidak takut bermimpi besar dan berani menyusun strategi sejak awal. “Tentang lulus lebih cepat, itu masalah strategi aja sih,” tutupnya.

Penulis : Rahma Khoirunnisa

Editor : Gusti Grehenson

Foto   : Donnie

Artikel Cerita Uphe, Raih Sarjana UGM di Usia 20 Tahun dengan IPK Nyaris Sempurna  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-uphe-raih-sarjana-ugm-di-usia-20-tahun-dengan-ipk-nyaris-sempurna/feed/ 0
Kuliah S1 dan S2 Berbarengan, Kisah Faris dan Shafira Ikut Program Fast Track di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-s1-dan-s2-berbarengan-kisah-faris-dan-shafira-ikut-program-fast-track-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-s1-dan-s2-berbarengan-kisah-faris-dan-shafira-ikut-program-fast-track-di-ugm/#respond Wed, 18 Sep 2024 06:54:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70676 Wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjalanan bagi para mahasiswa program fast track, program percepatan studi bagi mahasiswa jenjang sarjana (S1) langsung ke jenjang magister (S2) dengan persyaratan spesifik yang ditentukan oleh program studi. Dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan periode IV Tahun Angkatan 2024/2025 pada 24-25 Agustus lalu, terdapat 82 wisudawan jalur fast […]

Artikel Kuliah S1 dan S2 Berbarengan, Kisah Faris dan Shafira Ikut Program Fast Track di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjalanan bagi para mahasiswa program fast track, program percepatan studi bagi mahasiswa jenjang sarjana (S1) langsung ke jenjang magister (S2) dengan persyaratan spesifik yang ditentukan oleh program studi. Dalam gelaran Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan periode IV Tahun Angkatan 2024/2025 pada 24-25 Agustus lalu, terdapat 82 wisudawan jalur fast track yang telah menyelesaikan program sarjana dan tengah melanjutkan kuliah ke jenjang pendidikan magister secara bersamaan. Dua diantaranya adalah Muhammad Faris Al Rif’at dari prodi Proteksi Tanaman , Fakultas Pertanian dan Shafira Khairunnisa Subchan dari prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik.

Kegembiraan tentu terukir dalam diri Muhammad Faris Al Rif’at, salah satu wisudawan yang meraih IPK 3,93 dalam program fast track dari Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Meski baru selesai wisuda S1, ia sudah terdaftar dan menjalani kuliah S2 di prodi Ilmu Hama Tanaman. “Mulai semester 7 di program sarjana, saat penyusunan skripsi, saya juga harus menjalani kuliah reguler untuk program magister. Senang sekali karena satu fase perjalanan pendidikan berhasil dilalui,” terang Faris.

Ia memulai program fast track atau akselerasi saat di semester 7 dan 8 sembari. Dalam waktu bersamaan ia juga menjalani kuliah mengambil 14 sks di semester 1 dan 16 sks di semester 2 pada program magister. Faris mengaku ia harus pintar-pintar membagi waktu antara kegiatan penelitian skripsi S1 dengan kegiatan kuliah reguler S2 program fast track. “Tantangan terberat saat kuliah adalah menyesuaikan timeline waktu antara penelitian, kuliah program master, menjadi asisten peneliti dan praktikum, dan pembinaan asrama,” ungkapnya.

Meski begitu, Faris memiliki kiat khusus untuk mengatasi adanya tumpang tindih tersebut. Ia selalu mempersiapkan bahan bacaannya sebelum memulai kelas dan kemudian menetapkan fokusnya pada kelas serta memperbanyak diskusi. “Menurut saya tidak ada yang berat. saya mengerjakan penelitian skripsi di sore atau sebaliknya, walau tidak jarang ketika weekend atau hari libur saya tetap harus ke kampus atau laboratorium untuk mengerjakan,” kenangnya.

Topik penelitian skripsinya soal lalat buah masih menjadi hama utama penyebab kerusakan dan menghambat ekspor pada buah salak. Hasil penelitian skripsinya ini dilanjutkan pada penelitian tesis tentang pola perilaku serangan Lalat Buah pada buah salak dalam skala Lapangan. Ia berharap, dari penelitian dasar di laboratorium dan penelitian skala lapangan ini dapat memberikan solusi permasalahan tersebut. “KIta ingin dari penelitian ini dapat membantu petani khususnya petani buah salak,” ujarnya.

Lulusan S1 yang mengikuti program Fast Track lainnya adalah Shafira Khairunnisa Subchan. Wisudawan prodi Teknik Sipil ini berhasil lulus dengan prestasi IPK 3,88. Shafira mengaku ia mendaftar program fast track ketika masih duduk semester 6. Bagi Shafira, program ini ia bisa “hemat satu tahun” untuk masa kuliah S2. Apalagi ia mendapat beasiswa selama menempuh jenjang pendidikan S2.”Saya mendapat  potongan biaya kuliah sebesar 50% dengan syarat harus menjadi asisten dosen,” katanya.

Wisudawan yang bercita-cita bekerja di bidang struktur ketekniksipilan ini memilih Magister Teknik Sipil (MTS) yang selaras dengan program sarjananya, yaitu Magister Teknik Sipil. Program MTS dipilihnya karena selaras dengan program studi yang diikuti pada program sarjana. Selain itu, sejak awal Shafira juga sudah memiliki minat pada pendalaman pengetahuan, inovasi, dan penelitian pada bidang ketekniksipilan. ”Saya tertarik mendalami ilmu ini karena nantinya ingin dapat berkontribusi lebih signifikan dalam proyek-proyek infrastruktur yang berdampak pada masyarakat, meningkatkan kualitas, dan efisiensi konstruksi,” terangnya.

Ketertarikannya pada ilmu ketekniksipilan inilah yang menguatkan komitmennya untuk meneruskan penelitian berjudul ”Analisis Perilaku Struktur Jembatan Pedestrian Tipe Bowstring dari Material Kayu Ulin” secara mendalam pada program magister. “Inti penelitian saya di skripsi waktu itu terkait perilaku struktur jembatan kayu dengan batasan belum memperhitungkan konfigurasi sambungan kayu. Sedangkan pada tesis, penelitian lebih dispesifikkan pada sambungan kayu ulin yang dilakukan dengan metode analitik, numerik, dan eksperimen di laboratorium,” jelasnya.

Shafira mengatakan bahwa kendala dan hambatan utama saat menjalani program fast track terletak pada strategi belajar, strategi mencapai target, dan pola mengatur waktu. Menurutnya, tantangan terberat adalah saat harus mempertahankan prestasi akademik. Banyak kendala yang dialami terutama dari segi waktu. Perjuangan yang dilakukan pun juga harus sepadan. Meskipun secara keseluruhan, baginya terasa menantang, khususnya dalam hal mengatur waktu, pola tidur, belajar, mengerjakan tugas, olahraga dan lain-lain. “Tidur hanya 4 – 5 jam sudah menjadi makanan sehari-hari. Karena itu,  tantangan terberat adalah mengatur pola hidup agar tetap sehat, cerdas, dan ceria. Awalnya memang terasa berat, tapi lama-lama juga terbiasa,” jelasnya penuh semangat.

Fast track merupakan program percepatan pembelajaran bagi mahasiswa yang merupakan pendidikan khusus dan diselenggarakan oleh UGM berdasar Peraturan Rektor UGM Nomor 23 tahun 2024. Masing-masing jenjang program fast track mensyaratkan ketentuan yang berbeda untuk persyaratan seleksinya yang meliputi IPK, kemampuan bahasa inggris maupun kemampuan potensi akademik.  Program fast track bisa dibuka untuk program studi magister atau magister terapan, dan program doktor atau doktor terapan. Untuk program magister atau magister terapan, syaratnya harus sudah menempuh 6 semester atau belum yudisium pada jenjang sarjana. Sedangkan untuk program doktor atau doktor terapan, syaratnya minimal telah menempuh 2 semester dan belum yudisium pada saat di jenjang magister.

Reportase : B. Diah Listianingsih

Penulis : Lintang

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kuliah S1 dan S2 Berbarengan, Kisah Faris dan Shafira Ikut Program Fast Track di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kuliah-s1-dan-s2-berbarengan-kisah-faris-dan-shafira-ikut-program-fast-track-di-ugm/feed/ 0
Kisah Naura Hidayat, Lulus Sarjana Kedokteran UGM dengan IPK Tertinggi https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-naura-hidayat-lulus-sarjana-kedokteran-ugm-dengan-predikat-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-naura-hidayat-lulus-sarjana-kedokteran-ugm-dengan-predikat-cumlaude/#respond Mon, 02 Sep 2024 03:24:34 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70179 Universitas Gadjah Mada Wisuda 3.627 lulusan program Sarjana dan Sarjana Terapan pada 28-29 Agustus 2024 lalu di Grha Sabha Pramana. Terdapat 4 lulusan dengan IPK tertinggi 3,97 sekaligus berpredikat Pujian atau Cumlaude pada program sarjana yakni Naura Hidayat dari prodi Kedokteran, FKKMK, Mutiara Destyana Safitri  dari prodi Gizi, FKKMK, Daniella Nadia Prijadi dari prodi Teknik […]

Artikel Kisah Naura Hidayat, Lulus Sarjana Kedokteran UGM dengan IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada Wisuda 3.627 lulusan program Sarjana dan Sarjana Terapan pada 28-29 Agustus 2024 lalu di Grha Sabha Pramana. Terdapat 4 lulusan dengan IPK tertinggi 3,97 sekaligus berpredikat Pujian atau Cumlaude pada program sarjana yakni Naura Hidayat dari prodi Kedokteran, FKKMK, Mutiara Destyana Safitri  dari prodi Gizi, FKKMK, Daniella Nadia Prijadi dari prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, serta Finessa Meutia Kamila dari prodi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian.

Naura mengungkapkan perasaannya yang campur aduk antara senang dan tidak menyangka jika ia menjadi salah satu dari empat orang yang meraih IPK tertinggi. Ia mengaku tidak pernah memiliki target untuk menjadi lulusan terbaik atau cumlaude selama masa kuliahnya. Bahkan, ia baru mengetahui bahwa dirinya akan menjadi wakil wisudawan dan perwakilan samir hanya sehari sebelum acara gladi bersih wisuda. “Sejujurnya tidak menyangka karena waktu kuliah sama sekali nggak pernah kepikiran atau berharap jadi salah satu lulusan terbaik, apalagi baru tau kalau jadi wakil wisudawan dan perwakilan samir itu H-1 gladi. Saya bersyukur sekali karena tidak hanya bisa lulus tepat waktu, tetapi juga menjadi salah satu lulusan terbaik. ” papar Naura, Senin (1/9).

Naura menceritakan ia menyelesaikan studi S1-nya dalam waktu 3 tahun 9 bulan, sebuah prestasi yang mengagumkan di tengah padatnya jadwal kuliah dan praktikum di FK-KMK. Meskipun demikian, Naura tetap aktif terlibat dalam kegiatan non-akademis. Ia menjabat sebagai Asisten Mahasiswa di Laboratorium Keterampilan Klinis untuk angkatan 2020, menjadi anggota organisasi CIMSA UGM, serta berpartisipasi dalam berbagai kepanitiaan seperti PPSMB Morfogenesis.

Dalam menjalani rutinitas yang padat, Naura menerapkan manajemen waktu yang baik dengan memprioritaskan tugas-tugas berdasarkan urgensi. Ia juga berusaha melakukan semua tugas dengan efektif dan efisien untuk menghemat waktu. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa terkadang ia juga mengalami momen kemalasan atau menunda-nunda pekerjaan, yang kemudian harus ditebus dengan waktu tidur yang dikorbankan.

“Saya biasanya buat prioritas, mana yang lebih urgent dan penting saya selesaikan lebih dulu. Saya merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ditugaskan pada saya,” jelas Naura.

Selain itu, untuk metode belajar, Naura lebih memilih adaptasi metode Pomodoro, di mana ia belajar selama 45-50 menit, lalu beristirahat selama 10 menit sebelum melanjutkan kembali. Intensitas belajarnya menyesuaikan dengan jadwal dan tingkat kesulitan materi yang harus dikuasai, terutama saat mendekati ujian akhir blok.

Judul tugas akhir Naura berfokus pada topik keselamatan berkendara, yakni perbedaan soal cedera kepala pada korban kecelakaan antara yang menggunakan helm dan tidak menggunakan helm. Naura menyelesaikan skripsinya dalam waktu sekitar 3-4 bulan. Meskipun menghadapi kendala dalam memotivasi diri untuk memulai pengerjaan skripsi, ia merasa beruntung memiliki dosen pembimbing dan penguji yang sangat mendukung dan membantu kelancaran proses penyusunan.

Menutup wawancara, Naura menyampaikan harapannya agar kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat hingga setara dengan negara-negara maju dan lebih merata. Ia berharap setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan berkualitas.

Diminta untuk memberi tips agar bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dengan prestasi akademik gemilang, Naura menegaskan pentingnya manajemen waktu yang baik dan kemauan untuk terus belajar. Selain itu, kegiatan akademis dan partisipasi aktif dalam kegiatan non-akademis juga harus dapat berjalan beriringan.

Penulis : Rahma

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kisah Naura Hidayat, Lulus Sarjana Kedokteran UGM dengan IPK Tertinggi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-naura-hidayat-lulus-sarjana-kedokteran-ugm-dengan-predikat-cumlaude/feed/ 0