konservasi Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/konservasi/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 10 Aug 2024 12:55:53 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Mahasiswa KKN UGM Lakukan Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bunaken https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-lakukan-transplantasi-terumbu-karang-di-pulau-bunaken/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-lakukan-transplantasi-terumbu-karang-di-pulau-bunaken/#respond Sat, 10 Aug 2024 12:39:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69214 Mahasiswa KKN PPM UGM bekerja sama Balai Taman Nasional Bunaken dan masyarakat melakukan program transplantasi karang dengan memasang 550 transplant dalam rangka pemulihan ekosistem dari dampak pembangunan dermaga Ecotourism Bunaken Village. Pemasangan transplantasi terumbu karang ini dilakukan selama kegiatan KKN PPM UGM di pulau Bunaken dari akhir juni lalu hingga selesai 19 Agustus mendatang. Bertepatan […]

Artikel Mahasiswa KKN UGM Lakukan Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bunaken pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa KKN PPM UGM bekerja sama Balai Taman Nasional Bunaken dan masyarakat melakukan program transplantasi karang dengan memasang 550 transplant dalam rangka pemulihan ekosistem dari dampak pembangunan dermaga Ecotourism Bunaken Village. Pemasangan transplantasi terumbu karang ini dilakukan selama kegiatan KKN PPM UGM di pulau Bunaken dari akhir juni lalu hingga selesai 19 Agustus mendatang.

Bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada hari Sabtu (10/8), kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Faat Rudhianto, bersama tim mahasiswa KKN secara simbolis kembali memasang media transplantasi terumbu karang di dekat perairan dermaga Bunaken.

Faat Rudhianto, mengatakan kegiatan transplantasi terumbu karang bersama mahasiswa KKN UGM dilakukan dalam rangka untuk memulihkan kondisi terumbu karang yang rusak di sekitar perairan pulau Bunaken. “Kalau di Bunaken, sekitar 30 persen saja yang terumbu karangnya rusak sehingga butuh transplantasi. Jadi pemulihan ekosistem itu ini cara terakhir ya. Nah, cara yang lain itu melakukan dengan suksesi alami yang kita lakukan cuma menjaga, mengawasi, memonitoring terumbu karang yang ada di situ,” kata Rudhianto.

Ia menyebutkan luas area terumbu karang Di Bunaken sekitar 6000 hektar dimana 30 persen terumbu karang kondisinya perlu dilakukan pemulihan. “Kalau kerusakan hampir semua disebabkan oleh manusia,” paparnya.

Salah satu penyebab utamanya adalah kegiatan destructive fishing dengan melakukan pengeboman ikan dan pembiusan ikan dengan potasium.

Soal metode dalam yang digunakan untuk transplantasi terumbu karang, menggunakan metode Spider atau rangka laba-laba dengan besi berbentuk kerangka heksagonal dimana setiap batang rangka besi akan diikat karang jenis acropora.

Lebih jauh ia menjelaskan, transplantasi terumbu karang ini sama dengan menggunakan tanaman di darat dimana membutuhkan sinar matahari untuk proses fotosintesisnya sehingga kedalaman maksimal penanaman transplantasi sejauh 10 meter. “Acropora ini yang daya tahan terhadap kondisi di alam cukup bagus ya kemudian pertumbuhannya per tahun itu 1 sampai 3 cm dan 95 persen yang kita pasang ini berhasil,” tegasnya.

Sementara Perwakilan mahasiswa KKN PPM UGM dari Kormater Agro, Kharisma Pundhi Rukmana, mengatakan mahasiswa KKN PPM UGM telah memasang 550 media transplantasi terumbu karang bekerja sama dengan pengelola taman nasional Bunaken selama kegiatan KKN.

Meski dari pihak Balai Taman Nasional menggunakan metode spider, ia mencoba menggunakan model transplantasi terumbu karang dengan  cara bio riftek dimana pelestarian terumbu karang menggunakan bahan alami yaitu batok kelapa yang disusun secara bertingkat dengan menggunakan besi yang ditanam pada beton berbentuk persegi.

Ide ini muncul menurut Pundi berawal saat minggu pertama melaksanakan KKN di Bunaken, ia dan tim melakukan observasi ke seluruh pulau dan melihat potensi limbah batok kelapa yang cukup melimpah. “Jadi melihat potensi tersebut, kami coba berdayakan juga dengan masyarakat membuat bioriftek karena batok kelapa mudah didapat terus juga pengaplikasiannya mudah,” katanya.

Pundi berharap apabila metode ini berhasil dikembangkan di Bunaken, masyarakat dapat mengembangkan sendiri karena sumber daya yang cukup banyak. “Nah nanti untuk mekanismenya itu bioriefteknya ditenggelamkan di dasar laut kemudian nanti akan menarik substrat-substrat terumbu karang yang baru,” jelasnya.

Penulis : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Mahasiswa KKN UGM Lakukan Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bunaken pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-lakukan-transplantasi-terumbu-karang-di-pulau-bunaken/feed/ 0
Guru Besar FKH UGM Tegaskan Pentingnya Identifikasi Satwa Secara Molekuler dalam Upaya Pelestarian Biodiversitas https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-fkh-ugm-tegaskan-pentingnya-identifikasi-satwa-secara-molekuler-dalam-upaya-pelestarian-biodiversitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-fkh-ugm-tegaskan-pentingnya-identifikasi-satwa-secara-molekuler-dalam-upaya-pelestarian-biodiversitas/#respond Tue, 21 Nov 2023 09:23:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=62017 Indonesia dianggap sebagai negara megabiodiversitas karena menjadi salah satu negara paling kaya akan keanekaragaman hayati di dunia. Meski demikian, keanekaragaman hayati Indonesia juga menghadapi ancaman serius seperti deforestasi, perubahan iklim, dan perburuan ilegal. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya konservasi alam dan pelestarian biodiversitas, salah satunya melalui identifikasi satwa secara molekuler. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran […]

Artikel Guru Besar FKH UGM Tegaskan Pentingnya Identifikasi Satwa Secara Molekuler dalam Upaya Pelestarian Biodiversitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia dianggap sebagai negara megabiodiversitas karena menjadi salah satu negara paling kaya akan keanekaragaman hayati di dunia. Meski demikian, keanekaragaman hayati Indonesia juga menghadapi ancaman serius seperti deforestasi, perubahan iklim, dan perburuan ilegal. Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya konservasi alam dan pelestarian biodiversitas, salah satunya melalui identifikasi satwa secara molekuler.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Rini Widayanti, MP., identifikasi satwa secara molekuler sangat penting dalam konteks konservasi karena beberapa spesies mungkin sulit atau bahkan tidak dapat dibedakan secara morfologi dengan spesies lain yang serupa. Selain itu, identifikasi molekuler dapat membantu dalam memperoleh berbagai informasi krusial dalam merencanakan program pemuliaan dan manajemen yang efektif.

“Tidak kalah pentingnya, identifikasi molekuler digunakan untuk mendeteksi penyakit atau patogen yang dapat mengancam populasi satwa liar. Dengan mendeteksi infeksi atau penyakit sejak dini, kita dapat mengambil tindakan preventif dan pengobatan yang sesuai untuk melindungi populasi tersebut,” paparnya, Selasa (21/11).

Rini menerangkan, Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki dua kawasan penting (hotspots) keanekaragaman hayati yang terancam, yaitu Sunda Barat dan Wallacea, serta Kawasan hutan hujan tropis di Melanesia termasuk Papua. Hal ini ia paparkan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang ilmu Biokimia yang berjudul “DNA Mitokondria sebagai Barcode untuk Identifikasi Satwa Liar dalam Upaya Keberhasilan Pelestariannya”. 

Dalam pidatonya, ia menjelaskan hasil identifikasi beberapa satwa dan kekerabatannya berdasar analisis sekuen DNA mitokondria, seperti Tarsius, Kuskus, dan Catfish asli Indonesia. Tarsius yang merupakan satu dari 24 primata endemik menurutnya rentan terhadap perubahan habitat dan aktivitas manusia, sehingga penting untuk dilindungi dan dilestarikan.

Dalam penelitiannya, ia  mengambil sampel Tarsius dilakukan dari beberapa wilayah yakni Sulawesi utara, Sulawesi Tengah, Lampung, dan Kalimantan. Hasil analisis fragmen DNA mitokondria, terangnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi Tarsius asal Sulawesi Utara (Tarsius spectrum), Sulawesi Tengah (Tarsius dianae), Lampung (Tarsius bancanus), dan Kalimantan (Tarsius bancanus borneoensis).

“Mereka menghadapi ancaman dari perdagangan ilegal dan pemeliharaan ilegal sebagai hewan peliharaan, yang harus diatasi melalui upaya konservasi yang tepat. Dengan demikian, perlindungan Tarsius dan habitatnya sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup spesies ini di Indonesia,” kata Rini.

Rini menyimpulkan bahwa identifikasi satwa secara molekuler berdasar sekuen gen-gen DNA mitokondria memiliki berbagai keuntungan yang sangat berarti karena kemampuannya mengidentifikasi spesies dengan tingkat akurasi tinggi, membantu dalam penemuan spesies baru, mengungkap perdagangan produk pangan hewan ilegal, serta mengukur tingkat keanekaragaman genetik dalam populasi satwa liar. 

Selain itu, metode ini juga mendukung pelacakan pergerakan populasi, memungkinkan penyusunan kebijakan konservasi berdasarkan bukti yang kuat, serta fokus pada perlindungan habitat dan penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal. 

“Secara keseluruhan, identifikasi satwa dengan metode molekuler merupakan alat penting dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati dan mengelola populasi satwa liar secara berkelanjutan,” pungkasnya.

 

Penulis: Gloria

Fotografer: Donnie

Artikel Guru Besar FKH UGM Tegaskan Pentingnya Identifikasi Satwa Secara Molekuler dalam Upaya Pelestarian Biodiversitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-fkh-ugm-tegaskan-pentingnya-identifikasi-satwa-secara-molekuler-dalam-upaya-pelestarian-biodiversitas/feed/ 0