Kongres Pancasila Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kongres-pancasila/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 27 Sep 2024 06:53:58 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kongres Pancasila XII Soroti Kemerosotan Moral Pejabat dan Minimnya Pendidikan Karakter https://ugm.ac.id/id/berita/kongres-pancasila-xii-soroti-kemerosotan-moral-pejabat-dan-minimnya-pendidikan-karakter/ https://ugm.ac.id/id/berita/kongres-pancasila-xii-soroti-kemerosotan-moral-pejabat-dan-minimnya-pendidikan-karakter/#respond Fri, 27 Sep 2024 06:44:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70960 Mantan Menko Polhukam RI, Prof. Mahfud MD., mengatakan saat ini ada kecenderungan terjadinya kemerosotan moral di kalangan pejabat baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya pejabat yang tidak merasakan malu ketika mereka ketahuan melanggar hukum. “Ternyata banyak orang munafik di pemerintahan kita, dia melakukan sesuatu yang salah tapi merasa tidak bersalah, […]

Artikel Kongres Pancasila XII Soroti Kemerosotan Moral Pejabat dan Minimnya Pendidikan Karakter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mantan Menko Polhukam RI, Prof. Mahfud MD., mengatakan saat ini ada kecenderungan terjadinya kemerosotan moral di kalangan pejabat baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya pejabat yang tidak merasakan malu ketika mereka ketahuan melanggar hukum. “Ternyata banyak orang munafik di pemerintahan kita, dia melakukan sesuatu yang salah tapi merasa tidak bersalah, dia melakukan sesuatu yang jelas-jelas melanggar moral dan kepantasan dalam masyarakat, tapi merasa tidak apa-apa karena katanya belum diputus oleh pengadilan bahwa dia bersalah,” Jelas Mahfud dalam Diskusi Panel yang bertajuk “Refleksi Moral Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”  dalam rangkaian Kongres Pancasila XII yang berlangsung di kampus UGM, Kamis (26/9).

Cendekiawan dari PP Muhammadiyah Dr Sukidi menekankan untuk memperbaiki kemerosotan moral dibutuhkan pendidikan karakter akan kebutuhan negara ini akan sebuah sistem pendidikan karakter yang kuat. Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki negeri dengan spirit pancasila adalah dengan pendidikan karakter. “Ikhtiar untuk memperbaiki negeri ini dengan spirit pancasila adalah dengan pendidikan karakter karena karakter itulah yang menjadi penentu tentang kualitas kita sebagai manusia,” tandasnya.

Dalam sesi diskusi, beberapa peserta menanyakan soal pendanaan pendidikan yang dianggap kurang diprioritaskan oleh negara dan peluang penerapan meritokrasi. Sukidi mengatakan satu solusi soal pendanaan pendidikan adalah mengajak semua pihak yang terlibat untuk duduk bersama untuk memberikan pendidikan yang berkualitas terutama ke masyarakat miskin.

Sedangkan soal peluang penerapan meritokrasi, Sukidi menjawab bahwa Meritokrasi adalah suatu hal yang mungkin untuk diterapkan di Indonesia bahkan di tengah paham feodalisme dan senioritas yang menjamur di tengah masyarakat kita.

“Mungkinkah meritokrasi di tengah budaya kita yang menganut paham feodalisme, paham senioritas, paham hierarki?  Mungkin Anda perhatikan darimana orang tua Lee Kuan Yew? orang yang lahir di semarang. Lee Kuan Yew menjadi arsitek penting tentang betapa meritokrasi menjadi kunci kemajuan negara Singapura itu sendiri,” ungkapnya.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Kongres Pancasila XII Soroti Kemerosotan Moral Pejabat dan Minimnya Pendidikan Karakter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kongres-pancasila-xii-soroti-kemerosotan-moral-pejabat-dan-minimnya-pendidikan-karakter/feed/ 0
Saatnya Pancasila jadi Rujukan Moral dan Etika Politik https://ugm.ac.id/id/berita/saatnya-pancasila-jadi-rujukan-moral-dan-etika-politik/ https://ugm.ac.id/id/berita/saatnya-pancasila-jadi-rujukan-moral-dan-etika-politik/#respond Thu, 26 Sep 2024 14:22:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70925 Ratusan peserta dari berbagai daerah mengikuti Kongres Pancasila ke-12 yang dilaksanakan di Balai Senat, Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, Kamis (26/9). Kongres Pancasila kali ini mengusung tema “Pancasila Nyawa Bangsa; Menghalau Kemerosotan Moral dalam Praktik Penyelenggaraan Berbangsa dan Bernegara”. Di sesi yang pertama kongres Pancasila menghadirkan beberapa narasumber ahli di bidang ini yaitu Dosen Politik […]

Artikel Saatnya Pancasila jadi Rujukan Moral dan Etika Politik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Ratusan peserta dari berbagai daerah mengikuti Kongres Pancasila ke-12 yang dilaksanakan di Balai Senat, Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, Kamis (26/9). Kongres Pancasila kali ini mengusung tema “Pancasila Nyawa Bangsa; Menghalau Kemerosotan Moral dalam Praktik Penyelenggaraan Berbangsa dan Bernegara”.

Di sesi yang pertama kongres Pancasila menghadirkan beberapa narasumber ahli di bidang ini yaitu Dosen Politik dari Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D., Dosen Filsafat UGM, Agus Wahyudi, Ph.D., dan pengamat politik Rocky Gerung. Ketiganya mendiskusikan “Konsepsi Republik sebagai Gagasan Negara Ideal”

Airlangga Pribadi Kusman mengatakan Republikanisme atau respublika adalah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat melalui proses bernalar. Oleh karena itu, dalam proses berpolitik harus menggunakan akal sehat dan menggunakan argumentasi yang rasional. “Setiap perbincangan ruang publik apabila ada orang bicara tanpa menggunakan nalar, dia hanya kemudian bicara seenaknya bahkan cenderung menggunakan otoritas. Yang harus dilakukan adalah menghantam pandangan-pandangan tersebut. Karena itu pandangan tanpa argumen, ” jelas Airlangga.

Agus Wahyudi mengatakan konseps republik adalah gagasan untuk mencegah dan mengurangi kesewenang-wenangan kekuasaan atau abuse of power. Perlu ada cara untuk mencegah kesewenang-wenang dan penyelewengan kekuasaan. Menurutnya, sepanjang rakyat masih diajak ikut mengambil keputusan, berpartisipasi dan menunjukkan kepedulian, pertanda republik ini dalam kondisi sehat. “Demokrasi yang sehat saat rakyat peduli, jika rakyat tidak peduli, berarti republik tidak sehat,” paparnya.

Bagi Rocky Gerung,  Pancasila adalah kompilasi dari pemikiran dunia. Semua pikiran dunia ada di situ, jadi republic of ideas, menuntun ilmu teknis di bawahnya. “Pancasila mampu diucapkan secara teoritis dengan pemikiran yang  logis,” katanya.

Pancasila di era Soekarno, kata Rocky, adalah sebuah konsep pedagogi. Lalu di era Soeharto, pancasila dijadikan persyaratan untuk menapis lawan politik. “Padahal Pancasila  itu untuk menghasilkan percakapan bukan didoktrinkan,” imbuhnya.

Selanjutnya, di era reformasi, banyak orang mencoba memberi “isi baru” pada Pancasila karena adanya persoalan kesetaraan gender, lingkungan dan kebencanaan. Akan tetapi mengalami reifikasi, karena ia tidak mampu didiskusikan lebih jauh. Namun belakangan ini, Pancasila sudah mulai dijadikan rujukan moral dan kebutuhan untuk mengevaluasi etika politik. “Yang kita ucapkan sekarang ini untuk mengevaluasi etika politik. Kemungkinan UGM masih akan lebih jauh menginterupsi kekuasaan hari ini, mengganggu stabilitas berpikir para politisi, selama ini tidak ada politisi diasuh oleh pikiran. Saya kira, relevan bahwa politik itu harus kembali ke kampus. Kita pastikan jadi ide praktis dan penuntun praktis,” pungkasnya.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Saatnya Pancasila jadi Rujukan Moral dan Etika Politik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/saatnya-pancasila-jadi-rujukan-moral-dan-etika-politik/feed/ 0