Kiprah Alumni Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kiprah-alumni/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 04 Feb 2025 13:48:53 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kisah Gerry dan Nugroho, Dua Alumni UGM Berhasil Jelajah Antartika https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-gerry-dan-nugroho-dua-alumni-ugm-berhasil-jelajah-antartika/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-gerry-dan-nugroho-dua-alumni-ugm-berhasil-jelajah-antartika/#respond Wed, 22 Jan 2025 02:59:10 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75005 Menginjakkan kaki di Antartika mungkin akan menjadi mimpi yang mustahil terwujud bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Gerry Utama, 31 tahun. Alumnus Fakultas Geografi UGM ini mewujudkan mimpinya melakukan ekspedisi  ke antartika. Gerry datang ke Antartika sebagai bagian dari misi Russian Antarctica Expedition (RAE) yang berlangsung selama Februari—Juli 2024. Gerry saat itu sedang mengikuti program […]

Artikel Kisah Gerry dan Nugroho, Dua Alumni UGM Berhasil Jelajah Antartika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menginjakkan kaki di Antartika mungkin akan menjadi mimpi yang mustahil terwujud bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Gerry Utama, 31 tahun. Alumnus Fakultas Geografi UGM ini mewujudkan mimpinya melakukan ekspedisi  ke antartika. Gerry datang ke Antartika sebagai bagian dari misi Russian Antarctica Expedition (RAE) yang berlangsung selama Februari—Juli 2024. Gerry saat itu sedang mengikuti program Magister Paleogeografi di Saint Petersburg State University, Russia.  “Sejak awal perkuliahan saya sudah ditawari untuk ikut program tersebut, hanya saja memang saat ikut program tersebut, kami sudah harus tahu akan meneliti apa,” kata Gerry, Rabu (22/1).

Ia sendiri memilih menekuni bidang geomorfologi dan juga memiliki kemampuan dalam membaca radar. Keikutsertaannya melakukan ekspedisi ke Antartika mengantarkan Gerry menjadi orang Indonesia dan ASEAN pertama yang mengikuti program RAE yang sudah berjalan sebanyak 69 kali. Ia berangkat bersama dengan tim RAE menggunakan kapal riset Akademik Tyroshnikov milik Rusia. Kapal tersebut berlayar selama tiga pekan dan sempat berhenti di Cape Town, Afrika Selatan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Antartika.

Mobilisasi Gerry dan tim RAE di sana diwajibkan untuk menggunakan helikopter sehingga setiap harinya tim peneliti akan kembali ke kapal. Ia ditugaskan di Stasiun Mirny, yang merupakan salah satu stasiun pemantauan tertua di Antartika.

Riset yang dilakukan Gerry berkaitan dengan rekonstruksi atlas baru wilayah Pulau King George untuk pemerintah Rusia. Ia melakukannya dengan menyederhanakan variabel-variabel yang ada menjadi pemetaan geomorfologi yang dapat diimplementasikan dengan karakteristik khusus. Selain itu, Gerry dan tim juga menemukan sebuah fosil kayu berusia 130 juta tahun lalu. “Hal ini bisa membuktikan bahwa dulunya Antartika pernah ditutupi tanaman hijau seperti bagian bumi lainnya,” kata alumnus prodi Geografi dan Ilmu Lingkungan, Fakultas Geografi UGM ini.

Kondisi Antartika yang tidak menentu membuat jadwal pekerjaan harus diatur sedemikian rupa. Menurut Gerry, jam mandi diatur. Kemudian, jam setiap hari direset, artinya jam pada hari tersebut dapat maju lebih awal atau mundur. Begitu juga dengan arah kiblat yang dapat berganti setiap harinya, tambah Gerry. Kondisi ini, menurutnya, dapat diperparah dengan kondisi angin kencang yang bisa sampai 300 km/jam sehingga tidak jarang, ia dan timnya harus bermalam di stasiun.

Tantangan di Antartika juga turut dialami oleh Dr. Nugroho Imam Setiawan. Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM ini pernah menjelajah Antartika pada bulan November 2016 hingga Maret 2017. Ia mengaku tubuhnya merasakan gatal-gatal setiap saat sehingga ia harus meminum obat setiap harinya untuk mencegah reaksi tersebut. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya penghangat di tenda dan kewajiban untuk harus menggunakan pakaian tiga lapis setiap saat. “Apalagi kami tidak bisa mandi,” canda Nugroho.

Bahkan feses yang diproduksi harus dibawa pulang sebab kondisi suhu yang ekstrim membuat bakteri pengurai kotoran tidak dapat hidup. Nantinya, feses ini dibawa kembali dan akan dibakar di kapal.

Nugroho awalnya tidak pernah berpikir dirinya akan menginjakkan kakinya di benua paling selatan di Bumi. Kisahnya dimulai saat ia menempuh kuliah S3 di Jepang pada tahun 2010. Jepang merupakan salah satu negara yang rutin mengadakan ekspedisi dan mengajak peneliti asal Asia lainnya ke Antartika melalui lembaga Japan Antarctic Research Expedition (JARE). Nugroho sudah mendaftar program tersebut pada tahun 2011, tetapi program tersebut dibatalkan sebagai imbas tsunami yang melanda Jepang pada Maret 2011. “Saya saat itu sudah mendaftar, tetapi program ditutup dan dananya dialihkan untuk pemulihan pasca tsunami,” ujar Nugroho.

Ia baru dihubungi kembali pada 2015 saat ia telah menyelesaikan program doktor dan dengan segera Nugroho mengikuti tahap seleksi berupa wawancara dan pemeriksaan kesehatan. Ia kemudian bergabung bersama lima orang peneliti Jepang dan dua orang lainnya dari Mongolia dan Thailand.

Menjadi peneliti di Antartika berarti harus mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Hal ini juga harus dilewati oleh Nugroho. Selama sebulan, ia harus mengikuti pelatihan insentif seperti cara penggunaan peralatan di salju, tata cara berpakaian, pelatihan bertahan hidup di kondisi darurat, pendirian tenda, cara memasak dan buang air.

Kondisi Antartika dapat dibilang jauh berbeda daripada kondisi belahan dunia manapun. Nugroho mengenang Antartika sebagai bukan bagian dari bumi sebab kondisinya yang putih bersih sejauh mata memandang. “Saya saat itu bergabung dengan delapan orang dalam tim geologi. Saat itu, Antartika sedang musim panas sehingga matahari bersinar 24 jam setiap harinya, sedangkan suhu udaranya berkisar -5 derajat di malam hari dan -2 derajat di siang hari,” kenang Nugroho.

Selain itu, kekosongan suara membuat suasana menjadi hening. Ia mengingat saat itu hanya ada suara ia dan timnya serta bunyi-bunyian es yang mulai mencair sebab perubahan iklim, sesekali bertemu dengan penguin dan anjing laut Weddell.

Keseluruhan tim JARE 58 saat itu terdiri atas 80 anggota dan 35 orang diantaranya merupakan peneliti. Penelitian saat itu dibagi dalam sepuluh topik, antara lain meteorologi, atmosfer, biologi terestrial, oseanografi, geofisika, geodesi, dan geologi. Proses penelitian sendiri berlangsung selama empat bulan pada 27 November 2016 hingga 22 Maret 2017.  Akan tetapi, menurutnya, waktu penelitian hanya dapat berjalan efektif selama 30 hari. Hal ini sebab cuaca di lokasi penelitian sangat ekstrim dan sering terjadi badai angin sehingga tidak jarang tim peneliti harus menunggu cuacanya membaik.

Nugroho menjelaskan setiap harinya tim geologi menjalankan rutinitas mengumpulkan sampel batuan metamorf di setiap lokasi penelitian. Ada 8 titik survei geologi yang mereka jelajahi, yaitu Akebono, Akarui, Tenmodai, Skallevikhalsen, Rundvageshtta, Langdove, West Ogul, Mt. Riiser Larsen. “Kami berusaha menyingkap batuan metamorf, batuan tertua di bumi berusia 3,8 miliar tahun yang ada di Antartika. Kami mencoba merekonstruksi ulang dan mendetailkan data-data yang sudah ada sebelumnya tentang batuan-batuan metamorf yang ada di Antartika, mulai dari komposisi, usia, lalu rekonstruksi proses pembentukan batuan-batuan tersebut,” ujarnya.

Selama ekspedisi Nugroho hanya menjumpai dua jenis batuan di lokasi penelitian. Batuan yang banyak ditemukan adalah batuan metamorf dan granitodis maupun perpaduan keduanya yaitu migmatit. Batuan dengan struktur sarang lebah atau yang dikenal dengan honeycomb structure banyak ditemukan pada batuan. Struktur ini terbentuk akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan. Nugroho memaparkan bahwa jenis batuan yang dia temukan ini mirip dengan batuan di Sri Lanka. Menurut Nugroho, hal ini sebab dulunya Antartika dan Sri Lanka merupakan satu daratan yang sama.

Keikutsertaan Gerry dan Nugroho sebagai alumni UGM ini menjelajah Antartika,  mencatatkan nama mereka dalam sejarah bahwa hanya ada tujuh orang Indonesia yang telah sampai ke Antartika. Hal ini ini menjadi sebuah prestasi tersendiri sebab cita-cita UGM untuk mendunia. Keduanya menyampaikan harapan agar hal ini tidak berhenti pada mereka saja. “Semoga kawan-kawan UGM yang lain bisa melanjutkan ke Antartika,” harap Gerry.

Ia terus berharap agar pemerintah Indonesia dapat peduli dengan Antartika yang berada di samudera yang sama dengan Indonesia. Ia menyebutkan bahwa semua pihak perlu sadar bahwa saat Antartika bermasalah, dunia, termasuk Indonesia akan secara tidak langsung terkena dampaknya. Dengan demikian, Indonesia dapat menyiapkan lembaga riset Antartika untuk secara langsung hadir dan mengkaji Antartika.

Selaras dengan Gerry, Nugroho menyebut bahwa UGM dan Indonesia untuk bergegas menyikapi isu-isu strategis seperti geopolitik dan perubahan iklim yang erat kaitannya dengan eksistensi Antartika saat ini. “Antartika seperti mesin waktu yang menyimpan sejarah bumi di masa lalu dan dapat menjadi informasi untuk menyikapi kemungkinan-kemungkinan di masa depan sehingga perlu bagi kita untuk menyiapkannya,” pungkas Nugroho.

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok Pribadi

Artikel Kisah Gerry dan Nugroho, Dua Alumni UGM Berhasil Jelajah Antartika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-gerry-dan-nugroho-dua-alumni-ugm-berhasil-jelajah-antartika/feed/ 0
Saiful Deni, Alumnus UGM Memilih Mengabdikan Diri Meneliti Sosial Budaya Masyarakat Maluku Utara https://ugm.ac.id/id/berita/saiful-deni-alumnus-ugm-memilih-mengabdikan-diri-meneliti-sosial-budaya-masyarakat-maluku-utara/ https://ugm.ac.id/id/berita/saiful-deni-alumnus-ugm-memilih-mengabdikan-diri-meneliti-sosial-budaya-masyarakat-maluku-utara/#respond Tue, 24 Dec 2024 02:52:16 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74191 Rapat Terbuka Dies Natalis ke-75 dan Lustrum ke-15 Universitas Gadjah Mada digelar pada Kamis (19/12) lalu di Grha Sabha Pramana. Dalam perayaan puncak Dies Natalis tersebut, sejumlah akademisi menerima penghargaan Anugerah UGM 2024. Salah satunya adalah Prof. Dr. Saiful Deni, S.Ag., M.Si yang menerima penghargaan di bidang pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kemiskinan.  Alumnus UGM yang […]

Artikel Saiful Deni, Alumnus UGM Memilih Mengabdikan Diri Meneliti Sosial Budaya Masyarakat Maluku Utara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rapat Terbuka Dies Natalis ke-75 dan Lustrum ke-15 Universitas Gadjah Mada digelar pada Kamis (19/12) lalu di Grha Sabha Pramana. Dalam perayaan puncak Dies Natalis tersebut, sejumlah akademisi menerima penghargaan Anugerah UGM 2024. Salah satunya adalah Prof. Dr. Saiful Deni, S.Ag., M.Si yang menerima penghargaan di bidang pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kemiskinan. 

Alumnus UGM yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) ini mengungkapkan rasa syukur dan termotivasi untuk terus menorehkan prestasi dalam karyanya. “Ucapan terima kasih saya pada UGM atas penghargaan ini, juga sivitas UMMU sebagai tempat mengembangkan ilmu pengetahuan. Saya senang dan merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan prestasi,” ucap Saiful, Selasa (24/12).

Selepas lulus dari Magister Ilmu Administrasi UGM tahun 2004, Saiful menekuni bidangnya sebagai akademisi melakukan berbagai penelitian. Karya publikasinya banyak membahas tentang kondisi sosial, budaya, geografi, hingga potensi daerah Maluku Utama. Seperti publikasi jurnalnya yang berjudul “Budaya Makayaklo Masyarakat Maluku Utara: Mengajarkan Nilai-Nilai Membangun Solidaritas dan Integrasi Sosial”, ia membahas bagaimana kultur masyarakat Maluku Utara telah berperan penting mewariskan budaya dan nilai moral yang dipegang teguh hingga saat ini.

Dalam karya lainnya, Saiful juga pernah meneliti kondisi geografis sebagai langkah penanganan banjir untuk pemerintah Ternate. Dijelaskan Saiful, proyek ini telah dilaksanakan selama dua tahun terakhir tidak hanya untuk mengantisipasi banjir, namun juga mengeksplorasi potensi air tanah Ternate. “Kajian ini sangat membantu pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk meningkatkan produktivitas masyarakat dan peningkatan kesejahteraan mereka,” terangnya.

Kajian lain pernah dilakukan terhadap implementasi penerimaan bantuan sosial bagi kelompok masyarakat miskin di Kabupaten Halmahera Utara. Upaya ini dilakukan dengan peningkatan sarana prasarana pendidikan dasar dan kualitas kerja sama dengan dengan pemerintah Maluku Utara. Safiul menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan perlu mengintegrasikan berbagai dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.

“Pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan merupakan dua aspek yang saling terkait. Dari perspektif kebijakan publik, pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang mandiri, berdaya saing, dan mampu keluar dari siklus kemiskinan,” terangnya. Menurutnya, kebijakan publik yang efektif harus mampu menggabungkan dimensi-dimensi tersebut. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat merupakan kunci utama untuk menciptakan perubahan.

Berbagai karyanya mengenai kondisi sosial dan geografis di Maluku Utara menjadikannya unik karena mengambil cakupan daerah yang belum banyak dikaji. Setiap penelitiannya ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemilihan kebijakan yang berkeadilan. Hal inilah yang mengantarkan Saiful pada serangkaian penghargaan, termasuk Anugerah UGM 2024.

Sebagai akademisi, ia berharap agar karyanya selalu bisa menyumbang pemikiran bagi masyarakat dengan penelitian, pengajaran, dan pengabdian. Saiful juga berkomitmen untuk terus melatih diri untuk mengembangkan tradisi akademik pada basis ilmu pengetahuan maupun kompetensi diri. Harapannya penghargaan ini mampu menjadi motivasi bagi generasi muda untuk berprestasi di tingkat nasional maupun global.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Saiful Deni, Alumnus UGM Memilih Mengabdikan Diri Meneliti Sosial Budaya Masyarakat Maluku Utara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/saiful-deni-alumnus-ugm-memilih-mengabdikan-diri-meneliti-sosial-budaya-masyarakat-maluku-utara/feed/ 0
Rintis Pembangunan Wanagama Nusantara, Tiga Alumnus UGM Raih Penghargaan   https://ugm.ac.id/id/berita/rintis-pembangunan-wanagama-nusantara-tiga-alumnus-ugm-raih-penghargaan/ https://ugm.ac.id/id/berita/rintis-pembangunan-wanagama-nusantara-tiga-alumnus-ugm-raih-penghargaan/#respond Sun, 15 Dec 2024 15:07:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73884 Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan temu alumni bertajuk “Sinergi UGM dan Kagama” di Grha Sabha Pramana, Sabtu (14/12) malam. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Ke-75 dan Lustrum Ke-15 UGM yang mengusung semangat harmoni dan sinergi antara UGM dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).   Di acara temu alumni ini juga menjadi momentum […]

Artikel Rintis Pembangunan Wanagama Nusantara, Tiga Alumnus UGM Raih Penghargaan   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan temu alumni bertajuk “Sinergi UGM dan Kagama” di Grha Sabha Pramana, Sabtu (14/12) malam. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis Ke-75 dan Lustrum Ke-15 UGM yang mengusung semangat harmoni dan sinergi antara UGM dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).  

Di acara temu alumni ini juga menjadi momentum pemberian penghargaan bagi tiga alumnus Fakultas Kehutanan UGM yang dinilai ikut berkontribusi besar dalam pembangunan Wanagama Nusantara, sebuah kawasan pendidikan dan konservasi seluas 621 hektare di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ketiga alumnus tersebut adalah Muchamad Sumedi mendapatkan penghargaan atas dedikasinya dalam rehabilitasi hutan dan lahan, Pungky Widiaryanto fokus pada pengembangan sumber daya air dan kehutanan, dan Dyah Murtiningsih berperan dalam pengelolaan gas serta rehabilitasi hutan. Adanya kehadiran Wanagama Nusantara diharapkan menjadi pusat pendidikan berbasis lingkungan yang dapat diakses oleh masyarakat luas sekaligus mencerminkan komitmen UGM dalam melestarikan hutan Indonesia. Pemberian penghargaan Kagama Award ini diserahkan langsung oleh Rektor UGM Prof.dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp. OG(K)., Ph.D., dan Ketua Umum PP Kagama Basuki Hadimulyono.

Selain pemberian penghargaan, juga diadakan lelang batik dan wastra yang hasilnya digunakan untuk beasiswa mahasiswa kurang mampu. Selaras dengan hal tersebut, ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan Pelestarian Hidup PP Kagama, Sulastama Raharja, S.T., M.T., melaporkan bahwa Kagama telah menyalurkan Rp1,434 miliar kepada 453 mahasiswa melalui Program Beasiswa Kagama. 

 

Dikatakan Sulastama, program Orang Tua Asuh Gadjah Mada Peduli telah memberikan bantuan Rp605 juta kepada 25 mahasiswa, sementara Program Gadjah Mada Peduli membantu 108 mahasiswa dengan total Rp298 juta. Laporan ini kemudian disusul dengan penyerahan beasiswa secara simbolis kepada perwakilan mahasiswa yang hadir.

Ketua Dies Natalis Ke-75 dan Lustrum Ke-15 UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada alumni atas dukungan mereka yang terus-menerus untuk almamater, terutama melalui program beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu. Hal ini menegaskan komitmen UGM sebagai kampus kerakyatan yang menjunjung inklusivitas tanpa diskriminasi untuk memberikan akses pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat. “UGM selalu punya prinsip, tidak boleh ada yang tidak kuliah hanya karena tidak punya uang,” ujarnya. 

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., juga menyoroti sinergi antara UGM dan Kagama melalui berbagai program kolaboratif seperti Gadjah Mada Peduli, Orang Tua Asuh, hilirisasi riset dosen, hingga alumni yang berkontribusi bagi pengembangan kampus. Menurutnya alumni juga diharapkan ikut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan pengajaran sebagai praktisi mengajar serta mendukung riset dan pengembangan untuk menjadikan UGM pusat inovasi di Indonesia. “Kami berharap momentum ini semakin merekatkan sinergi kita antara Kagama dan UGM,” ungkapnya.

Penulis   : Rahma Khoirunnisa

Editor     : Gusti Grehenson

Foto       : Donnie

Artikel Rintis Pembangunan Wanagama Nusantara, Tiga Alumnus UGM Raih Penghargaan   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/rintis-pembangunan-wanagama-nusantara-tiga-alumnus-ugm-raih-penghargaan/feed/ 0
Mengenal Evie Yulin, Pionir Country General Manager Perempuan di Merck Healthcare Asia Pasifik https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-evie-yulin-pionir-country-general-manager-perempuan-di-merck-healthcare-asia-pasifik/ https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-evie-yulin-pionir-country-general-manager-perempuan-di-merck-healthcare-asia-pasifik/#respond Fri, 29 Nov 2024 09:14:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73375 Presiden Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin, merupakan alumnus Fakultas Farmasi UGM yang telah sukses mendalami karir di bidang farmasi. Perjalanan karirnya yang dilalui dengan ketekunan dan disiplin menjadi kisah inspiratif, khususnya bagi perempuan. Ditemui oleh tim majalah Kabar UGM, Evie membagikan kisahnya semasa kuliah beserta tips menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan. Evie Yulin lahir di […]

Artikel Mengenal Evie Yulin, Pionir Country General Manager Perempuan di Merck Healthcare Asia Pasifik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Presiden Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin, merupakan alumnus Fakultas Farmasi UGM yang telah sukses mendalami karir di bidang farmasi. Perjalanan karirnya yang dilalui dengan ketekunan dan disiplin menjadi kisah inspiratif, khususnya bagi perempuan. Ditemui oleh tim majalah Kabar UGM, Evie membagikan kisahnya semasa kuliah beserta tips menjadi pribadi tangguh menghadapi tantangan.

Evie Yulin lahir di Jember pada tahun 1967 sebagai anak perempuan pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya kala itu bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang perbankan. “Saya mulai sekolah di SD Unggaran Jogja, lalu masuk ke SMP 5, terus di SMA 3, dan kuliah di UGM. Semua jenjang pendidikan saya tempuh di Jogja,” jelas Evie.

Semasa sekolah, ia sering menjadi juara kelas berturut-turut. Inilah yang membuatnya bisa diterima di sekolah dan perguruan tinggi impiannya. Selain itu, ia juga beberapa kali mewakili sekolah dalam kompetisi tari dan baris berbaris.

Ketika ditanya soal minatnya di bidang farmasi, Evie menjawab keinginan tersebut sudah muncul sejak di bangku SMA. Dulu mata pelajaran favoritnya adalah kimia organik dan matematika. Ia juga sudah memetakan dengan baik, jurusan dan bidang pekerjaan seperti apa yang ingin ia geluti. Baru kemudian pilihannya jatuh di Fakultas Farmasi UGM. Saat itu, ia masuk melalui jalur Penentuan Minat dan Kemampuan (PMDK), yakni jalur tanpa tes dengan nilai akademik unggul.

Evie bercerita sempat diusulkan gurunya untuk memilih kedokteran, namun ia tetap ingin memilih farmasi. “Pokoknya cari fakultas yang memang dibutuhkan penguasaan kimianya cukup kuat. Kalau enggak teknik kimia, kan apotek. Terus saya melihat bahwa kalau apoteker asik kali ya, bisa membantu pasien-pasien yang sakit. Jadi saya pilih apoteker,” ucapnya.

Awal karir Evie bermula ketika ia diterima oleh tiga perusahaan farmasi lokal ketika masih kuliah. Dengan passion di bidang sales dan marketing, Evie menjabat sebagai product specialist dan ditugaskan untuk memasarkan produk ke beberapa rumah sakit. Di sana, ia menghadapi banyak penolakan dan tantangan di awal karirnya. “Saya adalah orang yang sangat mementingkan proses, jadi semua proses itu harus dilihat dari A sampai Z. Karena kita yakin kalau prosesnya bagus, pasti performance akan mengikuti,” tutur Evie.

Konsep berpikir tersebut diterapkan di perusahaan manapun, termasuk PT Merck Tbk. Evie bergabung pertama kali pada tahun 2010 sebagai Country Head Healthcare Business Indonesia, hingga menjadi anggota direksi pada tahun 2011 dan kemudian menjabat sebagai Presiden Direktur pada tahun 2020–menjadi satu-satunya General Manager Perempuan di Merck Healthcare Asia Pacific pada saat itu. Tak hanya itu, Evie beberapa kali mendapatkan penghargaan, seperti Top 100 Businesswomen of The Year (2017, 2019-2021, 2024), Indonesia Most powerful Women Award (2023), Best Business Transformation (2023), hingga The Most Extraordinary Women Business Leaders Award (2022).

Selama menjalani karir sebagai pemimpin perempuan di Merck, Evie tidak merasakan hambatan sama sekali. Ini sangat dipengaruhi oleh budaya DEIB (Diversity, Equity, Inclusion, and Belonging) yang kuat di Merck, di mana keberagaman, kesetaraan, inklusi, dan rasa memiliki menjadi nilai-nilai inti perusahaan. Merck menerapkan kebijakan dan praktik yang mendukung lingkungan kerja inklusif, memastikan bahwa semua karyawan, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih prestasi. Ia bersyukur karena budaya ini memungkinkan perempuan untuk berkontribusi secara signifikan dan mengatasi tantangan dalam jenjang karir, menjadikan gender bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan.

Sedangkan di bidang farmasi, Evie menjelaskan ada banyak tantangan yang saat ini sedang dihadapi, terutama akses terhadap obat-obatan inovatif. “Sekarang ini middle income population banyak yang turun menjadi middle to lower income population. Sehingga kita harus pikirkan bagaimana masyarakat bisa mendapatkan akses dengan mudah untuk obat-obatan inovatif ini,” papar Evie. Penting menurutnya bagi industri farmasi agar memperhatikan affordability dan accessibility obat-obatan inovatif. Kesadaran akan penyakit tertentu juga perlu dibangun, sehingga masyarakat bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Pencapaian Evie tentunya tidak terlepas dari prinsip yang selalu ia pegang teguh. “Bekerja adalah ibadah. Jadi kalau prinsip saya adalah menyenangi apa yang kita lakukan dan selalu komitmen terhadap apa yang saya ucapkan,” pungkasnya.

Ia berpesan agar selalu menjadi pribadi yang tangguh, berani mencoba, dan open-minded. Dengan begitu, tantangan demi tantangan dapat menjadi pelajaran berharga di kemudian hari.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Mengenal Evie Yulin, Pionir Country General Manager Perempuan di Merck Healthcare Asia Pasifik pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-evie-yulin-pionir-country-general-manager-perempuan-di-merck-healthcare-asia-pasifik/feed/ 0
Pernah Dilempar Skripsi, Inilah Kisah Sukses Alumnus UGM Jadi Direktur Ajinomoto  https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-dilempar-skripsi-inilah-kisah-sukses-alumnus-ugm-jadi-direktur-ajinomoto/ https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-dilempar-skripsi-inilah-kisah-sukses-alumnus-ugm-jadi-direktur-ajinomoto/#respond Wed, 23 Oct 2024 05:03:46 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71978 Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Jawa Timur resmi mengangkat Satria Gentur Pinandita sebagai Ketua Umum Periode 2024-2029 pada Sabtu (7/9). Penetapan tersebut dilaksanakan pada Musyawarah Daerah (Musda) di AMG Tower, Surabaya yang dihadiri oleh Ketua Umum PP Kagama, Ganjar Pranowo, Ketua Bidang I PP KAGAMA, Anton Mart Irianto, dan sebanyak 15 perwakilan pengurus cabang anggota […]

Artikel Pernah Dilempar Skripsi, Inilah Kisah Sukses Alumnus UGM Jadi Direktur Ajinomoto  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Jawa Timur resmi mengangkat Satria Gentur Pinandita sebagai Ketua Umum Periode 2024-2029 pada Sabtu (7/9). Penetapan tersebut dilaksanakan pada Musyawarah Daerah (Musda) di AMG Tower, Surabaya yang dihadiri oleh Ketua Umum PP Kagama, Ganjar Pranowo, Ketua Bidang I PP KAGAMA, Anton Mart Irianto, dan sebanyak 15 perwakilan pengurus cabang anggota KAGAMA Jatim.

Satria Gentur Pinandita saat ini menjabat sebagai Direktur & Deputi Factory Manager PT. Ajinomoto Indonesia. Lahir di Solo, 24 September 1968, ia berasal dari keluarga pedagang batik di Pasar Beringharjo. Ketika ditemui tim Kabar UGM, Kamis (17/10) lalu di acara temu alumni di Surabaya, Satria membagikan kisah perjalanannya sampai di puncak karir saat ini. “Sejak mulai sekolah, saya pindah ke Yogyakarta. Saya dulu di UGM mengambil Teknologi Pangan (Fakultas Teknologi Pertanian). Tepatnya angkatan ‘87, dan lulus tahun ‘93. Baru setelah itu bekerja di Ajinomoto,” ucap anak pertama dari dua bersaudara tersebut.

Semasa kuliah, Satria mengaku bukanlah mahasiswa yang unggul dalam akademik. Bahkan beberapa kali skripsinya mendapatkan teguran dosen hingga dilempar di depan mata. Kejadian itu membuatnya sedih namun juga memotivasi untuk terus belajar. Ketika sudah memasuki jenjang karir, Satria justru tertawa ketika membaca skripsinya dulu. “Yo ternyata uwelek. Kok ngene ya garapanku dewe? (Ya ternyata jelek, kok seperti ini ya kerjaanku sendiri?). Saya kira itu adalah pendidikan mental, bahwa kamu harus kuat,” ucapnya.

Bangku kuliah juga menjadi tempat pertama kali Satria mengenal perusahaan Ajinomoto. Kala itu ia mengikuti kunjungan ke perusahaan yang dilaksanakan oleh program studinya. Satria juga sempat beranggapan bahwa produk MSG (Monosodium Glutamat) produksi Ajinomoto bukanlah produk sehat. Setelah bekerja, barulah ia mengakui image yang dibangun di masyarakat selama ini ternyata salah.

“Saya dulu menganggap produk ini tidak sehat. Ternyata salah, produk Ajinomoto itu berasal dari tetes tebu yang difermentasi,” jelasnya. Fungsi utama MSG adalah untuk meningkatkan cita rasa makanan dan menambah unsur umami. MSG juga salah satu bahan makanan tambahan yang paling aman dikonsumsi dan berizin.

Awal karirnya tidak langsung berjalan mulus sebagai lulusan sarjana. Menurutnya, ada hal menarik ketika memulai karir di perusahaan Jepang seperti Ajinomoto. Kultur perusahaan Jepang menganut sistem Long Life Employment atau pekerja jangka panjang. Perusahaan sangat menghargai loyalitas karyawan yang telah bekerja bertahun-tahun. Setiap karyawan juga dilatih untuk memahami langsung kondisi lapangan, bahkan hingga tingkat manajerial.“Saya dulu diajarkan untuk tidak malu-malu terjun ke bawah. Justru kalau kita tidak mengenal lapangan, ada laporan masuk kita tidak paham,” tutur Satria.

Ia menceritakan bagaimana dirinya ikut membersihkan pabrik ketika training dan berpindah-pindah cabang perusahaan. Perlahan tapi pasti, karirnya semakin menaik karena ketekunan dan sikap disiplin yang ia terapkan.

Selain tingkat lay-off rendah, perusahaan Jepang juga menerapkan kerja berkelompok. Dijelaskan Satria, sistem kerjanya berbasis kelompok. Setiap pekerjaan diserahkan pada kelompok kerja dan dinilai sebagai hasil kelompok. Ada beberapa orang yang cocok dengan sistem kerja seperti ini, namun ada juga yang lebih cocok di perusahaan Eropa dan Amerika yang cenderung mengacu pada kompetensi individu.  “Hampir seluruh perusahaan Jepang seperti itu. Penting juga untuk memperhatikan adaptabilitas perusahaan, karena zaman cepat berubah. Bukan perusahaan kuat yang bertahan, tapi perusahaan adaptif,” jelas Satria.

Ia menambahkan, kemampuan adaptabilitas juga harus dimiliki oleh individu. Seseorang harus mampu berubah setelah melihat peluang dan tantangan zaman.

Ketika ditanya soal harapannya untuk UGM, Satria menginginkan hal yang sama. UGM sebagai universitas harus bisa beradaptasi dengan perubahan. Pengembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dengan adanya kemajuan teknologi. Karenanya, UGM bisa berfokus untuk membentuk lulusan tepat sesuai dengan nilai yang dimiliki. “Semoga UGM dan mahasiswanya itu bisa beradaptasi dengan kondisi dunia saat ini. Universitas harus memikirkan lulusannya seperti apa 10-15 tahun ke depan,” pungkasnya.

Penulis : Tasya

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Firsto

Artikel Pernah Dilempar Skripsi, Inilah Kisah Sukses Alumnus UGM Jadi Direktur Ajinomoto  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pernah-dilempar-skripsi-inilah-kisah-sukses-alumnus-ugm-jadi-direktur-ajinomoto/feed/ 0