kesehatan mental Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kesehatan-mental/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Sat, 11 Jan 2025 07:29:56 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya https://ugm.ac.id/id/berita/gabungkan-ilmu-psikologi-dan-antropologi-prof-subandi-kembangkan-terapi-kesehatan-mental-berbasis-budaya/ https://ugm.ac.id/id/berita/gabungkan-ilmu-psikologi-dan-antropologi-prof-subandi-kembangkan-terapi-kesehatan-mental-berbasis-budaya/#respond Sat, 11 Jan 2025 02:25:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74603 Berangkat dari kecintaannya pada ilmu antropologi sejak di bangku SMA, Subandi tetap mempelajari ilmu tersebut meski ia sudah kuliah di prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada. Saat lulus dan melamar menjadi dosen, Subandi menggabungkan kedua ilmu tersebut untuk terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual. Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menceritakan perjalanan panjang kariernya sebagai […]

Artikel Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Berangkat dari kecintaannya pada ilmu antropologi sejak di bangku SMA, Subandi tetap mempelajari ilmu tersebut meski ia sudah kuliah di prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada. Saat lulus dan melamar menjadi dosen, Subandi menggabungkan kedua ilmu tersebut untuk terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menceritakan perjalanan panjang kariernya sebagai akademisi. Mengabdi sejak tahun 1986, ia menjalankan berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama di bidang penelitian. Meskipun berlatar belakang psikologi, ia memiliki ketertarikan besar terhadap antropologi dan didukung dengan kesenangannya untuk menulis. Setelah mengikuti saran dari gurunya untuk mengambil prodi Psikologi UGM dan dinyatakan lolos sebagai mahasiswa, ia tetap mengeksplorasi antropologi melalui penelitian dan kolaborasi internasional selama puluhan tahun hingga saat ini.

Kecintaannya terhadap antropologinya semakin mendalam ketika ia bekerja sama dengan antropolog luar negeri. Pada tahun 1996, ia menjadi asisten Prof. Byron Good, seorang antropolog kesehatan mental dari Harvard University. “Kolaborasi ini berlangsung lebih dari 25 tahun dan menghasilkan berbagai penelitian mendalam tentang kesehatan mental dalam perspektif budaya,” kenangnya, Sabtu (11/1).

Selain itu, Prof. Subandi juga pernah bekerja sama dengan Dr. Julia Howell dari Griffith University di Australia selama lima tahun. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan antropologi dalam riset kesehatan mentalnya, termasuk pengembangan sistem layanan kesehatan mental berbasis budaya dan spiritualitas, “Kami tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga melakukan action research sehingga penelitian kamu langsung berdampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Keberhasilan Prof. Subandi dalam menggabungkan psikologi dan antropologi membuatnya dikenal sebagai akademisi yang berfokus pada kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual. Tidak hanya itu, Subandi juga ahli dalam bidang metodologi psikologi, desain dan analisis, psikologi agama, serta psikologi kesehatan, klinis, dan konseling, “Saya selalu melihat kesehatan mental tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga dari konteks masyarakat, budaya, dan spiritualitas. Psikologi Islam dan psikologi budaya juga menjadi bagian dari fokus saya,” katanya.

Dari kerja riset internasional ini, ia membuat inovasi model rujukan balik di rumah sakit jiwa. Inovasi ini memastikan pasien dengan gangguan jiwa yang sudah selesai dirawat di rumah sakit mendapatkan pendampingan terapi lanjutan di puskesmas.

Selanjutnya, inovasi kedua yang ia kembangkan mencanangkan program “Gelimas Jiwa” di Puskesmas Kasihan II Bantul. Program ini melibatkan pelatihan kader kesehatan mental di masyarakat untuk mendampingi pasien. Bahkan, Gelimas Jiwa ini telah meraih penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Lalu inovasinya yang ketiga adalah kebijakan kesehatan mental di Kabupaten Kulon Progo. Bersama dengan Dinas Kesehatan Kulon Progo, beliau mengembangkan Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk meningkatkan layanan kesehatan mental di tingkat kabupaten. “Inovasi-inovasi ini tidak hanya berhenti pada penelitian, tetapi juga diimplementasikan langsung ke masyarakat. Hasilnya harus nyata dan ini akan terus berlanjut,” ungkap Subandi.

Atas inovasi yang sudah ia kembangkan selama puluhan tahun,  mendapat penghargaan pionir akademisi melalui Anugerah Silver Academic Leader 2024 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi luar biasa beliau dalam riset, inovasi, dan pengembangan sistem kesehatan mental di Indonesia.

Menurutnya, penghargaan yang diperolehnya tak lepas dari dokumentasi yang rapi, mulai dari sertifikat, kontrak penelitian, hingga foto kegiatan. “Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua bahwa dokumentasi yang baik memudahkan kita merekap apa saja yang sudah dikerjakan. Ini membuat orang lain paham track record kita dan kita juga tidak mudah melupakan hal-hal yang telah kita lakukan,” tambahnya.

Bagi Subandi, penghargaan yang sudah diraihnya makin memotivasi dirinya untuk tetap semangat terus meneliti pengembangan terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual. “Saya memang cinta menulis dan meneliti. Bagi saya, penghargaan adalah bonus. Saya akan terus melanjutkan penelitian dan menulis buku walaupun tanpa penghargaan karena saya tidak pernah meniatkan untuk itu,” tuturnya.

Hingga saat ini, Prof. Subandi telah menulis lebih dari 20 buku dan puluhan artikel jurnal internasional. Ia juga aktif berbagi pengalaman kepada mahasiswa dan dosen muda. “Pesan saya, milikilah passion yang kuat, fokus pada satu bidang, dan kembangkan secara konsisten. Peneliti yang sukses memiliki fokus yang jelas,” katanya.

Penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi UGM. Dedikasi Prof. Subandi dalam mengembangkan sistem kesehatan mental di Indonesia diharapkan dapat menginspirasi akademisi dan mahasiswa untuk terus berkarya serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Penulis : Bolivia

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gabungkan-ilmu-psikologi-dan-antropologi-prof-subandi-kembangkan-terapi-kesehatan-mental-berbasis-budaya/feed/ 0
Lepas Penat, Senja Gurau Hadirkan Sastro Moeni dan Orkestra GMCO https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-penat-senja-gurau-hadirkan-sastro-moeni-dan-orkestra-gmco/ https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-penat-senja-gurau-hadirkan-sastro-moeni-dan-orkestra-gmco/#respond Wed, 06 Nov 2024 04:10:09 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72529 Alunan musik mengalun merdu di hari jumat (26/10) petang lalu, di Lapangan DLC Helipad Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Meski hari sudah semakin malam, tidak menyurutkan antusiasme penonton menunggu  penampilan Sastro Moeni, Band Mahasiswa UGM yang kerap membawakan musik parodi dalam setiap penampilannya. Di pentas Senja Gurau kali ini dimeriahkan oleh alunan merdu suara dan musik […]

Artikel Lepas Penat, Senja Gurau Hadirkan Sastro Moeni dan Orkestra GMCO pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Alunan musik mengalun merdu di hari jumat (26/10) petang lalu, di Lapangan DLC Helipad Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Meski hari sudah semakin malam, tidak menyurutkan antusiasme penonton menunggu  penampilan Sastro Moeni, Band Mahasiswa UGM yang kerap membawakan musik parodi dalam setiap penampilannya.

Di pentas Senja Gurau kali ini dimeriahkan oleh alunan merdu suara dan musik dari String Quintet Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO). Tampil pula untuk menyemarakkan Senja Gurau kali itu Denta Orchestra, Group Band Combantrin, dan Band Alumni. Acara semakin seru dengan gurauan dan obrolan interaktif yang dipandu oleh Anang Batas, Dibyo Primus, Bambang Gundul dan Fira Sasmita.

Salah satu penonton, Marshanda, mengaku cukup terhibur dengan adanya pentas musik Senja Gurau di kompleks kampus FKG ini.  ”Selesai koas nih, yang tadi agak stressfull banget di Rumah Sakit, terus sore-sore di Fakultas ada acara nyanyi-nyanyi dan makan-makan. Seru banget sih acaranya,” aku mahasiswa program profesi kedokteran gigi ini.

Bagi Marshanda, acara seperti ini ibarat welcome weekend yang menyenangkan untuk mahasiswa. ”Ini tuh kayak pelepas stres sebelum memasuki weekend, jadi memang asyik banget. Apalagi juga dapat makan gratis dan seneng juga melihat teman-teman mahasiswa dan dosen pada kumpul di sini, bisa seru-seruan bareng,” ungkapnya.

Menurut Marshanda, acara ini penting untuk mendekatkan teman-teman dari berbagai angkatan, juga mendekatkan para mahasiswa dengan dosen.

Senada dengan Marshanda, Alfia yang hari itu sejak pagi kuliah lalu praktikum dan dilanjut koas, merasa sangat disegarkan dengan hiburan musik Senja Gurau. ”Merasa terhibur sih biasanya jam segini nih sudah sepi ya kampus, tapi ini ada pertunjukkan musik ya, menyenangkan banget sih. Jarang kumpul kumpul kayak gini, bisa duduk ngobrol sama teman-teman sampai malam,” ungkap Alfia.

Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset dan SDM, Fakultas Kedokteran Gigi, dr. Margareta Rinastiti, M.Kes., Ph.D., Sp.KG(K), menyambut baik penyelenggaraan Senja Gurau ini. ”Ya kalau dari fakultas jelas sangat senang dengan acara seperti ini karena di tengah kesibukan adik-adik mahasiswa yang begitu padat, bisa ada refreshing,” ungkap Margareta yang sore itu juga turut tampil bernyanyi.

Menurutnya kegiatan hiburan semacam ini diharapkan dapat mendorong para mahasiswa untuk tidak lupa menjaga kesehatan mental. Margareta menilai Senja Gurau ini bisa menjadi sarana interaksi antar fakultas. ”Saya melihat masih perlu meningkatkan interaksi antar fakultas ya, meskipun sudah ada dari beberapa fakultas yang hadir dalam acara ini.  Saya kira itu menjadi sangat baik dan peran alumni yang datang ke fakultas, atau ke universitas, saya kira itu juga akan menjadi suatu inspirasi,” terangnya. ‘

Dr. drg. Cendrawasih Andusyana Framasyanti, M.Kes., Sp.Ort.(K), Dosen Fakultas Kedokteran Gigi yang saat itu juga turut mengekspresikan jiwa seni dengan tampil bernyanyi diiringi musik band menuturkan bahwa acara Senja Gurau juga menjadi angin segar bagi staf UGM. ”Saya kebetulan sangat suka musik. Jadi, saya sangat mengapresiasi inisiatif Direktorat Pendidikan dan Pengajaran untuk menyelenggarakan acara seperti ini,” ungkap.

Menurut sang dokter spesialis ortodonti ini, selama ini ia banyak mendapatkan cerita adanya mahasiswa-mahasiswa yang mengalami gangguan psikologis. Harapannya, semoga dengan acara seperti ini para mahasiswa dapat saling mengenal dengan teman-teman baru dari fakultas lain, serta menjadi sarana healing tersendiri untuk mahasiswa dan staf.

Cendrawasih Andusyana mengusulkan perlunya diselipkan informasi tips dan trik dalam acara Senja Gurau ke depannya. Menurutnya, menghadirkan pakar psikologi terkait tema-tema yang relevan dengan kesehatan mental seperti bagaimana cara bertahan dalam situasi sulit atau bisa juga mengupas tips dan trik yang berkaitan dengan studi para mahasiswa. “Misalnya tips dan trik lulus tepat waktu, nantinya dapat berkolaborasi dengan alumni yang lulus tepat waktu dan nilainya bagus,” pungkasnya.

Reportase : B. Diah Listianingsih

Penulis      : Rahma Khoirunnisa

Editor        : Gusti Grehenson

Artikel Lepas Penat, Senja Gurau Hadirkan Sastro Moeni dan Orkestra GMCO pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lepas-penat-senja-gurau-hadirkan-sastro-moeni-dan-orkestra-gmco/feed/ 0
Puluhan Psikolog Internasional Bahas Pengembangan Keilmuan Psikologi Islam  https://ugm.ac.id/id/berita/puluhan-psikolog-internasional-bahas-pengembangan-keilmuan-psikologi-islam/ https://ugm.ac.id/id/berita/puluhan-psikolog-internasional-bahas-pengembangan-keilmuan-psikologi-islam/#respond Mon, 28 Oct 2024 06:22:04 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72162 Kelompok Kajian Psikologi Islam (KKPI) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada bersama dengan dan International Association of Muslim Psychologists (IAMP) menyelenggarakan  Islamic Psychology Summit 2024 yang bertajuk Refleksi Kontribusi Psikologi Islam di Kampus UGM, pada 24-27 oktober lalu. Sebanyak 19 tokoh nasional dan internasional pemerhati bidang Psikologi Islam berasal dari Malaysia, India, Pakistan, Turki, Australia, USA, […]

Artikel Puluhan Psikolog Internasional Bahas Pengembangan Keilmuan Psikologi Islam  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kelompok Kajian Psikologi Islam (KKPI) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada bersama dengan dan International Association of Muslim Psychologists (IAMP) menyelenggarakan  Islamic Psychology Summit 2024 yang bertajuk Refleksi Kontribusi Psikologi Islam di Kampus UGM, pada 24-27 oktober lalu. Sebanyak 19 tokoh nasional dan internasional pemerhati bidang Psikologi Islam berasal dari Malaysia, India, Pakistan, Turki, Australia, USA, UK, Mauritius, dan Rusia membahas perkembangan Psikologi Islam secara komprehensif.

Dr. Bagus Riyono sebagai president of International Association of Muslim Psychologists (IAMP) mengatakan kegiatan Islamic Psychology Summit 2024 ini merupakan refleksi terhadap pencapaian dan perkembangan ilmu psikologi yang telah berkembang pesat. Menurutnya, integrasi Psikologi Islam dan psikologi modern adalah kebutuhan yang nyata untuk mendukung peningkatan kesehatan mental masyarakat global. “Salah satu tujuan utama acara ini adalah mengkonsolidasikan perkembangan Psikologi Islam secara global dan menjadikannya sebagai dasar inovasi keilmuan yang berkontribusi pada masyarakat luas,”kata Dosen Fakultas Psikologi UGM ini dalam rilis yang dikirim ke wartawan, senin (28/10).

Dalam pertemuan para psikolog pemerhati psikologi islam ini, kata Bagus, para tokoh psikologi sepakat bahwa psikologi islam dibutuhkan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi manusia tidak hanya terdiri dari emosi, kognitif, perilaku, tetapi juga spirituality. Sebab, jika spiritualitas tidak dipertimbangkan dalam terapi dan perkembangan kesehatan mental manusia, akan berbahaya bagi perkembangan jiwa manusia.

Menurutnya, ilmu psikologi islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan mengembangkan penelitian-penelitian untuk menghasilkan evidence based therapy and approach, berjalan seiring dengan perkembangan psikologi secara umum. “Cita-cita besar Psikologi Islam yang dibawa dalam konferensi ini adalah kesempurnaan pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan oleh peneliti Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM Indrayanti, S.Psi., M.Si., Ph.D. Menurutnya, globalisasi dan kemajuan teknologi menuntut pemahaman lebih mendalam tentang perilaku manusia. Menurutnya, psikologi Islam mengintegrasikan dimensi spiritual dan etika, yang menghadirkan pendekatan holistik bagi penguatan kesejahteraan mental.

Seperti diketahui, dalam rangkaian kegiatan konferensi ini diawali dengan Pre-Conference Workshop yang mengusung beberapa topik aplikatif, di antaranya adalah Suicide Prevention yang dipresentasikan oleh Dr. Diana Setiyawati, Direktur Center for Public Mental Health (CPMH), dan Dr. Hanan Dover dari Charles Sturt University. Sesi lainnya membahas Maqasid Methodology and Tazkiya Therapy yang disampaikan oleh Prof. Dr. Jasser Auda dan Dr. Bagus Riyono, selaku President of IAMP. Seperti diketahui, maqasid methodology adalah pendekatan sistematik literature review terhadap Al-Qur’an.  Sementara itu, Prof. Dr. G. Hussein Rassool dari Charles Sturt University menjadi pembicara untuk topik Islamic Psychotherapy and Counseling.

Penulis : Gusti Grehenson

Artikel Puluhan Psikolog Internasional Bahas Pengembangan Keilmuan Psikologi Islam  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/puluhan-psikolog-internasional-bahas-pengembangan-keilmuan-psikologi-islam/feed/ 0
Merawat Kesehatan Mental Mahasiswa lewat Buddy Counsellor https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-buddy-counsellor/ https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-buddy-counsellor/#respond Sat, 26 Oct 2024 23:59:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72127 Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang semakin banyak mendapat perhatian di lingkungan akademik, tidak terkecuali di Universitas Gadjah Mada. Sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, UGM memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan seluruh civitas akademika, termasuk kesehatan mental. Menyadari urgensi ini, UGM mengambil langkah proaktif dengan membentuk Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) pada […]

Artikel Merawat Kesehatan Mental Mahasiswa lewat Buddy Counsellor pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang semakin banyak mendapat perhatian di lingkungan akademik, tidak terkecuali di Universitas Gadjah Mada. Sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia, UGM memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan seluruh civitas akademika, termasuk kesehatan mental. Menyadari urgensi ini, UGM mengambil langkah proaktif dengan membentuk Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) pada 1 Juli 2024 silam untuk memberikan dukungan dan layanan kesehatan mental kepada civitas akademika, khususnya mahasiswa. Terbukti, skrining kesehatan mental yang dilakukan oleh ULKM menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental, serta menyediakan pendampingan dan penanganan yang tepat.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K)., Ph.D, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa hampir 30-40% mahasiswa UGM berjuang dengan masalah kesehatan mental dalam berbagai level, mulai dari tingkat ringan hingga mengambil keputusan untuk suicide (bunuh diri). “Kita secara proaktif harus melakukan berbagai upaya pencegahan hingga penanganan,” kata Ova dalam Workshop Mental Health Seri 1 yang melibatkan para dekan untuk merumuskan kebijakan yang mendukung implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait kesehatan mental di tiap fakultas. Kegiatan yang berlangsung, Jumat (25/10) di Gedung Pusat

Ova mengingatkan agar pimpinan Fakultas, Direktorat, hingga Departemen dan prodi terus berupaya untuk melakukan tindakan preventif agar kampus menjadi tempat yang menyenangkan untuk menimba ilmu. 

Dalam kesempatan itu, Ova juga menyampaikan pentingnya keterlibatan Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) untuk mendorong para mahasiswa yang terlibat di dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi buddy counsellor karena memiliki kedekatan dengan rekan mahasiswa lain. “Bahkan ini menjadi KPI (Key Performance Indicator) dari UKM, karena percuma, misalnya mereka latihan bola (olahraga) biar sehat, tapi ternyata temannya stress, kan menjadi hal yang kontroversi,” ungkap Ova.

Rektor berharap agar Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu dapat berkolaborasi dengan Ditmawa untuk mengadakan pelatihan bagi mahasiswa UKM agar bisa menjadi buddy

Dekan Fakultas Psikologi, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., melaporkan dari hasil risetnya saat melakukan skrining kesehatan mental pada sejumlah 41.812 mahasiswa UGM dari semua jenjang, mulai dari sekolah vokasi, sarjana, magister, doktor, hingga profesi, atau 62% dari total populasi mahasiswa UGM. Rahmat menyoroti salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kesehatan mental mahasiswa adalah adanya perbedaan kapasitas fakultas dan sekolah dalam menyediakan layanan dan penanganan kesehatan mental. “Jadi belum semua fakultas memiliki tim kesehatan mental atau psikolog,” ujarnya. 

Menurutnya PIC dari masing-masing fakultas dan sekolah berperan sebagai data controller dan case manager kasus kesehatan mental yang dapat dilekatkan pada HPU atau psikolog fakultas.

Drs. Arif Nurcahyo, M.A, selaku Kepala Satuan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) memiliki peran sebagai first aid responder kesehatan mental di kampus meyakini bahwa kesehatan mental beririsan dengan kecelakaan lalu lintas, kesehatan medis lain, serta kecelakaan kerja yang terjadi di UGM.

Berdasarkan data dari riset yang timnya lakukan periode Januari-September 2024. Menurutnya, ada beberapa kasus yang tidak tercatat di dalam skrining tapi muncul di lapangan. “Kami mendapatkan catatan ternyata sumber masalahnya adalah keluarga, pacar atau sahabat yang toxic, dosen yang tidak ramah, dan masalah non-teknis lainnya,” ungkapnya.

Tantangan yang dihadapi K5L adalah staf tidak bisa mengawasi satu per satu sehingga membutuhkan bantuan, karena bahkan banyak mahasiswa yang menutupi riwayat kesehatannya.

Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., selaku ketua Health Promoting University (HPU) UGM mengatakan HPU memberikan berbagai layanan kesehatan yang dapat diakses oleh mahasiswa, mulai dari layanan konseling hingga program-program peningkatan kesehatan mental agar tercipta kampus sejahtera. “Kami bahkan sudah melakukan pelatihan menjadi first aider untuk dosen dan tenaga kependidikan, serta pelatihan anti toxic relationship,” tutur Yayi. 

Ia berharap kolaborasi lintas unit kerja dapat membentuk satu sistem pelaporan terpadu, bisa berdasarkan levelling atau pun clustering sehingga sistem penanganan kesehatan mental menjadi suatu systematic networking.

Sementara Dwi Umi Siswati, S.Si., M.Sc., sebagai Koordinator Dosen Konselor Fakultas Biologi berbagi pengalaman tentang best practice yang telah dilakukan oleh Fakultas Biologi dalam melakukan penanganan kesehatan mental. Melibatkan mahasiswa sebagai buddy counsellor dirasakan sebagai pilihan terbaik yang Fakultas pilih karena adanya kecenderungan mahasiswa lebih bisa bercerita dengan rekan sejawatnya. “Para buddies ini sudah kami latih agar mereka bisa berperan sebagai pendengar yang empatik, mampu memberikan dukungan sosial, dan membantu rekannya mengatasi kesulitan emosional,” tutupnya. 

Penulis : Triya Andriyani

Foto : Donnie

Artikel Merawat Kesehatan Mental Mahasiswa lewat Buddy Counsellor pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/merawat-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-buddy-counsellor/feed/ 0
Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa Lewat Pentas Hiburan Musik di Kampus https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-pentas-hiburan-musik-di-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-pentas-hiburan-musik-di-kampus/#respond Wed, 23 Oct 2024 01:10:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71935 Dewasa ini, kesehatan mental di kalangan dunia pendidikan tidak boleh dianggap remeh. Beberapa kasus bunuh diri menimpa mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, seperti di Surabaya, Jakarta, bahkan Yogyakarta. Publikasi Badan Litbangkes tahun 2016 mencatat setiap harinya ada 5 orang melakukan bunuh diri. Sebanyak 47,7% korban bunuh diri berada di usia remaja dan produktif, usia 10 hingga […]

Artikel Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa Lewat Pentas Hiburan Musik di Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dewasa ini, kesehatan mental di kalangan dunia pendidikan tidak boleh dianggap remeh. Beberapa kasus bunuh diri menimpa mahasiswa di beberapa perguruan tinggi, seperti di Surabaya, Jakarta, bahkan Yogyakarta. Publikasi Badan Litbangkes tahun 2016 mencatat setiap harinya ada 5 orang melakukan bunuh diri. Sebanyak 47,7% korban bunuh diri berada di usia remaja dan produktif, usia 10 hingga 39 tahun.

Untuk mengantisipasi kejadian kasus bunuh diri, UGM melakukan mitigasi dan skrining kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Tidak cukup hanya sampai di situ, UGM juga menginisiasi gerakan berkesenian di ruang terbuka lewat kegiatan bertajuk ‘Senja Gurau’. “Program ini dirancang untuk menjawab permasalahan kesehatan mental di kalangan mahasiswa, dosen, juga tenaga kependidikan dengan menyediakan platform yang ekspresif, kolaboratif, dan interaktif berupa hiburan musik dan obrolan,” terang Wakil Rektor Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA, Rabu (23/10).

Seniman penggagas Senja Gurau, Anang Batas, mengungkapkan Senja Gurau menghadirkan beberapa penampil seperti band musik dan obrolan interaktif. Melalui pentas musik ini, kata Anang, pihaknya ingin memfasilitasi para sivitas akademika yang memiliki bakat dan kemampuan seni untuk berekspresi dan tampil melalui media panggung Senja Gurau tag rutin dilaksanakan setiap akhir pekan. “Setiap sesi dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi dan silaturahmi lintas generasi, serta memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi keresahan hidup dan menemukan keseimbangan emosional” terangnya.

Senja Gurau dilaksanakan di empat klaster di UGM, yaitu klaster saintek, klaster soshum, klaster agro, dan klaster kesehatan. Penampilan perdana Senja Gurau ditujukan untuk civitas akademika di klaster Sosial Humaniora bertempat di Fakultas Ilmu Budaya. Selanjutnya, penampilan kedua ditujukan untuk klaster Agro, tepatnya di Fakultas Kehutanan.“Kegiatan ini sudah berlangsung sejak September 2024 lalu,” ungkap Anang.

Sebagai gerakan kesenian di ruang terbuka, Senja Gurau bertujuan untuk menjadi jembatan pemersatu lintas generasi antara mahasiswa, alumni, dan civitas akademika UGM. Senja Gurau juga meningkatkan kreativitas melalui rangkaian penampilan dan kegiatan interaktif, peserta diajak untuk memantik kreativitas mereka. “Yang terpenting dan sesuai tujuan utama, Senja Gurau bermanfaat sebagai stress release melalui obrolan interaktif dan penampilan kesenian menjadi tempat untuk melepaskan stres dan beban pikiran, membantu peserta menemukan keseimbangan emosional,” paparnya.

Dikatakan Anang, Senja Gurau bukan hanya sebuah kegiatan kesenian, tetapi juga langkah menuju penguatan komunitas akademik. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, diharapkan setiap peserta dapat merasakan manfaat dari momen ini, melepaskan penat, dan membangun jaringan yang lebih solid. “Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan akademik maupun kehidupan personal para mahasiswa, dosen maupun tenaga kependidikan, sehingga kesehatan mental segenap civitas bisa tetap terjaga,” pungkasnya.

Reportase : B. Diah Listianingsih/DPP

Penulis     : Tiefany

Editor       : Gusti Grehenson

Artikel Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa Lewat Pentas Hiburan Musik di Kampus pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/menjaga-kesehatan-mental-mahasiswa-lewat-pentas-hiburan-musik-di-kampus/feed/ 0
Mental yang Sehat Berangkat dari Keluarga https://ugm.ac.id/id/berita/mental-yang-sehat-berangkat-dari-keluarga/ https://ugm.ac.id/id/berita/mental-yang-sehat-berangkat-dari-keluarga/#respond Sun, 13 Oct 2024 04:44:41 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71580 Kesehatan mental merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan, karena dengan mental yang sehat seorang manusia dapat menjalankan hidup yang bahagia dan juga produktif di tengah masyarakat. Keluarga yang sehat dan harmonis sangat berperan dalam pembentukan mental seseorang. Begitu pun di lingkungan kampus, diperlukan kebijakan kesehatan mental untuk mendukung peningkatan literasi dan kesadaran mahasiswa dan […]

Artikel Mental yang Sehat Berangkat dari Keluarga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kesehatan mental merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan, karena dengan mental yang sehat seorang manusia dapat menjalankan hidup yang bahagia dan juga produktif di tengah masyarakat. Keluarga yang sehat dan harmonis sangat berperan dalam pembentukan mental seseorang. Begitu pun di lingkungan kampus, diperlukan kebijakan kesehatan mental untuk mendukung peningkatan literasi dan kesadaran mahasiswa dan pegawai terkait kesehatan mental dan menjembatani mereka atas kesenjangan pengetahuan dan praktik seputar kesehatan mental.

Hal itu mengemuka dalam yang Seminar yang bertajuk “Comprehensive Campus-based Mental Health System: Promoting Wellbeing for All” Jumat(11/10) di Grand Diamond Hotel Yogyakarta. Seminar yang diinisiasi Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu (BPKT) UGM melalui Pokja Kesehatan Mental bekerja sama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menghadirkan beberapa narasumber dengan keahlian di bidang psikologi, diantaranya Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI dr. Imran Pambudi, MPHM, Profesor Emeritus dari Family Studies di University of Nebraska Dr. John DeFrain, beberapa peneliti dari CPMH UGM yakni Indrayanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, dan Dokter Spesialis Anak FK-KMK UGM dr. Ade Febrina Lestari, Sp.A (K).

Imran Pambudi menyampaikan bahwa terdapat 3 langkah yang perlu untuk dilakukan untuk melakukan implementasi kesehatan jiwa di lingkungan kampus UGM sebagai Health Promoting University. Pertama, program Edukasi Mahasiswa. Langkah ini diperlukan supaya mahasiswa lebih sadar dan tahu akan perubahan di kejiwaan mereka. “Langkah ini juga penting untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk mencari bantuan ahli dalam menangani masalah kejiwaan mahasiswa,” katanya.

Kedua, pembuatan kebijakan kampus yang mendukung kesehatan mental mahasiswa dalam rangka meningkatkan literasi mahasiswa terkait kesehatan jiwa. “Kebijakan tersebut juga harus menurunkan stigma terkait masalah kesehatan jiwa dan mendorong mahasiswa untuk mencari bantuan dalam menangani masalah mental,” ujarnya.

Langkah terakhir yang dibutuhkan untuk implementasi kesehatan jiwa di lingkungan kampus adalah pengadaan fasilitas-fasilitas untuk penanganan masalah kejiwaan. Beberapa diantaranya adalah fasilitas konseling serta akses informasi terkait kesehatan jiwa, dan tidak lupa akses ke psikologi dan psikiatri. “Perguruan tinggi ini sebagai lingkungan pendidikan perlu membuat suatu lingkungan yang suportif dalam kesehatan jiwa mulai dari penyediaan akses informasi yang benar, layanan kesehatan jiwa berkualitas sampai dengan memberikan fasilitas yang mendukung peningkatan kesehatan jiwa bukan hanya mahasiswa tapi seluruh elemen yang berada di situ termasuk dosen dan juga kepada para pegawai-pegawai,” Ungkap Imran.

Sementara Dr. John DeFrain, menekankan akan pentingnya sebuah keluarga yang sehat dalam pembentukan mental seseorang. John menjelaskan bahwa dari berbagai kultur yang ia temui dalam risetnya, terdapat sebuah fenomena yang terjadi secara konsisten yakni fakta bahwa orang-orang yang mentalnya relatif baik atau normal biasanya tumbuh dengan didukung oleh keluarga yang kuat

Menurut John, keluarga-keluarga yang menghasilkan orang-orang yang sehat secara mental memiliki enam kualitas yaitu apresiasi terhadap satu sama lain, komunikasi positif, komitmen terhadap keluarga, menikmati waktu bersama, rasa kesejahteraan spiritual dan nilai yang sama, serta kemampuan untuk menghadapi tekanan dan krisis secara efektif.  “Di antara keluarga yang saling mencintai dan peduli, keluarga yang kuat dan kualitas yang membuat mereka kuat sangat mirip dari satu budaya ke budaya lainnya. Model Kekuatan Keluarga Internasional kami memiliki enam kualitas utama, penghargaan dan kasih sayang satu sama lain, komunikasi yang positif, komitmen terhadap keluarga, waktu bersama yang menyenangkan, rasa kesejahteraan spiritual dan nilai-nilai bersama, serta kemampuan untuk mengelola stres dan krisis secara efektif,” Ucap John

John juga menjelaskan bahwa hanya karena seseorang berasal dari keluarga disfungsional bukan berarti mereka tidak bisa menjadi seseorang yang secara mental sehat. John menjelaskan bahwa salah satu cara agar seseorang tersebut dapat menjadi orang yang sehat secara mental adalah dengan mencari teladan atau role model dari luar keluarga yang bisa menjadi contoh yang baik dalam berperilaku. “Kamu mungkin tidak memiliki role model di keluarga tempat kamu dibesarkan. Mungkin yang kamu lihat hanyalah kekerasan dan ketidakbahagiaan. Atau mungkin ada satu atau dua orang di keluarga tempat kamu dibesarkan yang cukup baik. Nah, kamu belajar dari mereka. Kamu belajar dari gurumu di sekolah. Kamu belajar dari orang-orang di komunitasmu. Jadi, mungkin kamu tidak memiliki role model  di keluargamu tapi kamu bisa menemukan role model untuk hidup positif dari orang lain yang ada di  luar keluarga,” Jelas John.

Selanjutnya Indrayanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan mengenai pentingnya kesehatan mental di tempat kerja. Ia menyebutkan sebagian besar pekerja masih merasa bahwa problem mental yang sedang mereka hadapi tidaklah diakui. Banyak pekerja saat ini baik dari gen z maupun milenial adalah ketakutan bahwa mereka akan ditolak karena silang pendapat dengan atasan “Kita merasa ada tujuan.  Kita jadi bimbang, ketika kita ditolak untuk terlibat di dalam sebuah proyek karena beda prinsip. Menurut saya begini, menurut pimpinan begini, akhirnya gak cocok, terus kemudian ditolak,” katanya.

Menurut Indrayanti, penyelesaian dari masalah-masalah ini dapat dilaksanakan dengan melakukan beberapa langkah penyelesaian sistemik, karena masalah ini sudah menjadi sesuatu hal yang sistemik, dan harus diselesaikan secara sistemik. Ada strategi formal dan informal yang dapat dilakukan untuk menciptakan workplace wellbeing. Strategi formal dapat dilakukan dengan membangun budaya kesehatan mental inklusi, melakukan pencegahan proaktif, mendorong semua orang untuk memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental dan menyelenggarakan employee assistance program.  Sedangkan untuk strategi informal dapat dilaksanakan dengan pembuatan safe space untuk pegawai, inisiatif peer-to-peer, ambil tanggung jawab sendiri, serta mengadakan dukungan eksternal dan aksi solidaritas. “Workplace Wellbeing bukan sekedar program, ia adalah perjalanan kolektif komitmen bersama, tanggung jawab kita bersama untuk membangun ruang kerja yang sehat dengan prinsip empati dan dukungan dalam setiap keputusan,” katanya.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Donnie

Artikel Mental yang Sehat Berangkat dari Keluarga pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mental-yang-sehat-berangkat-dari-keluarga/feed/ 0
Tips Menjaga Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa  https://ugm.ac.id/id/berita/tips-menjaga-kesehatan-mental-di-kalangan-mahasiswa/ https://ugm.ac.id/id/berita/tips-menjaga-kesehatan-mental-di-kalangan-mahasiswa/#respond Tue, 17 Sep 2024 03:10:28 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70624 Menjaga kesehatan mental menjadi aspek krusial bagi mahasiswa. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dengan berbagai tugas sering kali menyebabkan stres dan kecemasan. Penting bagi mahasiswa untuk menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental agar tetap fokus, produktif, dan mampu menghadapi tantangan perkuliahan dengan baik. Lantas langkah apa saja yang bisa diambil untuk tetap menjaga kesehatan mental di […]

Artikel Tips Menjaga Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menjaga kesehatan mental menjadi aspek krusial bagi mahasiswa. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dengan berbagai tugas sering kali menyebabkan stres dan kecemasan. Penting bagi mahasiswa untuk menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental agar tetap fokus, produktif, dan mampu menghadapi tantangan perkuliahan dengan baik. Lantas langkah apa saja yang bisa diambil untuk tetap menjaga kesehatan mental di tengah padatnya aktivitas perkuliahan?

Psikolog pada Career and Student Development Unit (CSDU) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Atikah Dian Rahmawati, M.Psi., Psikolog., menyebutkan ada tujuh cara untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa.

Pertama, melakukan kegiatan yang sesuai kemampuan dan minat serta mengembangkan hobi. Menghabiskan waktu untuk hobi terbukti efektif dalam mengelola stress. “Selain itu menekuni hobi juga mampu mengasah kreativitas yang dapat mengurangi kecemasan dan stres,” tuturnya, Selasa (17/9).

Kedua, menjaga kebugaran tubuh dengan melakukan olahraga, tidur yang cukup, serta makan makanan bergizi dan teratur. Melalui berbagai kegiatan tersebut dapat membantu meredakan ketegangan emosi dan menjernihkan pikiran.

Ketiga, mengenali perasaan diri sendiri dan mengekspresikan dengan cara yang tepat. Mengakui perasaan dan emosi seperti kecemasan maupun kesedihan merupakan bagian dari upaya dalam menjaga kesehatan mental tanpa menyalahkan diri sendiri atas perasaan yang muncul.

Keempat, bicarakan perasaan dan keluhan yang dirasakan dengan seseorang yang dapat dipercaya. Dengan bercerita atau berbicara kepada orang yang dapat dipercaya bisa membantu meringankan beban dan mengurangi stres.

Kelima, ikut aktif dalam kegiatan sosial. Dengan aktif pada kegiatan sosial memberikan peluang membangun koneksi sosial, persahabatan hingga memberikan kesempatan untuk saling mendukung.

Keenam, kelilingi diri dengan orang-orang yang mendukung. Berada di lingkaran pergaulan yang mendukung akan membawa energi positif pada diri sehingga berpengaruh pada kondisi mental

Kenali perbedaan antara hal yang bisa dikendalikan dan hal yang tidak bisa dikendalikan. Atikah menyebutkan beberapa hal yang dapat dikendalikan seperti pikiran, perasaan, perilaku, dan perkataan diri. Sementara pikiran, perasaan, perilaku serta perkataan orang lain, dunia luar, dan kehendak tuhan merupakan hal-hal yang berada di luar kendali diri. “Menyadari bahwa saya melakukan semua yang saya bisa dan saya merasa tenang dengan hal itu adalah penting,” jelasnya.

Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB

Editor.        : Gusti Grehenson

Foto           : Freepik

Artikel Tips Menjaga Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tips-menjaga-kesehatan-mental-di-kalangan-mahasiswa/feed/ 0
Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, UGM Perkuat Komitmen Ruang Belajar Aman https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hari-pencegahan-bunuh-diri-sedunia-ugm-perkuat-komitmen-ruang-belajar-aman/ https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hari-pencegahan-bunuh-diri-sedunia-ugm-perkuat-komitmen-ruang-belajar-aman/#respond Wed, 11 Sep 2024 08:14:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70446 World Suicide Prevention Day diperingati setiap 10 September oleh seluruh dunia. Peringatan ini ditujukan untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah segala bentuk upaya bunuh diri. World Health Organization (WHO) mencatat terdapat lebih dari 720.000 kasus kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya. Jumlah tersebut menjadikan bunuh diri sebagai penyebab mortalitas tertinggi pada usia 18-29 tahun. Faktor […]

Artikel Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, UGM Perkuat Komitmen Ruang Belajar Aman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
World Suicide Prevention Day diperingati setiap 10 September oleh seluruh dunia. Peringatan ini ditujukan untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah segala bentuk upaya bunuh diri. World Health Organization (WHO) mencatat terdapat lebih dari 720.000 kasus kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya. Jumlah tersebut menjadikan bunuh diri sebagai penyebab mortalitas tertinggi pada usia 18-29 tahun. Faktor penyebabnya bisa berasal dari orang terdekat, lingkungan sekitar, bahkan tekanan diri sendiri.

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Imran Pambudi, MPHM menuturkan, terdapat setidaknya lima klasifikasi pemicu kemauan untuk bunuh diri. “Faktor lingkungan sosial, kesehatan, hubungan dengan orang lain, dan faktor dirinya. Contohnya ada masalah kesehatan jiwa, apakah dia peminum, misalnya ada kesulitan keuangan, rasa sakit kronis, jadi bisa datang dari mana saja,” ujar Imran dalam webinar “Pencegahan Bunuh Diri Berbasis Kampus” yang diselenggarakan oleh Center for Public Mental Health (CPMH), Fakultas Psikologi UGM, Selasa (10/9).

Pemerintah telah berupaya menyusun kerangka kerja untuk mencegah peningkatan kasus bunuh diri. Upaya tersebut dituangkan dalam empat hal utama, yakni pencegahan faktor resiko, pencegahan upaya menyakiti diri sendiri, pencegahan upaya bunuh diri, dan suicide registry atau pelaporan bunuh diri.

Kampus UGM sendiri telah berkomitmen sebagai salah satu Health Promoting University (HPU), termasuk dalam menjaga kesehatan jiwa. Lingkungan kampus sampai metode pembelajaran di UGM dirancang dengan memperhatikan aspek-aspek intelektual dan keamanan dalam belajar. Terdapat lima dasar kerangka HPU yang telah dicanangkan. Kelimanya adalah menciptakan ruang kerja yang sehat dan suportif, mengembangkan kurikulum dan riset kesehatan jiwa, berperan secara aktif di masyarakat dalam mempromosikan kesehatan jiwa, mewujudkan lingkungan berbasis HPU, dan terwujudkan kesehatan pelajar, individu, dan pengembangan diri. “Dibutuhkan suatu lingkungan yang suportif. Memberikan lingkungan yang aman, dan rasa saling percaya satu sama lain. Dibutuhkan juga profesionalitas dari sivitas akademika. Itu semua diwujudkan dalam komitmen bersama,” jelas anggota HPU UGM sekaligus dosen FK-KMK UGM dr. Yunita Widyastuti, Sp.An., Ph.D.

Selain itu, kata Yuni, upaya UGM dalam menekan resiko upaya bunuh diri juga dilakukan dari tahapan screening. Setiap sivitas akademika diberikan pemahaman akan kesehatan jiwa bagi dirinya dan lingkungan sekitar. Lingkungan yang sehat, nantinya akan menghasilkan individu dengan kesadaran akan kesehatan yang tinggi. Social-Ecological Suicide Prevention Program (SESPP) secara khusus merancang sistem preventif upaya bunuh diri berbasis lingkungan sosial. Dalam sistem tersebut, terdapat upaya-upaya peningkatan kesadaran kesehatan jiwa dari tahap individu, hubungan, kelompok, hingga masyarakat.

Diana Setyawati Ph.D., Kepala Center for Public Mental Health (CPMH), menuturkan diperlukan adanya literasi dan kebijakan kesehatan jiwa dalam mewujudkan kampus sejahtera. “Kita sudah memiliki SOP untuk konseling, bahkan sekarang sudah dibantu oleh bot ya. Ada layanan konseling dengan dosen dan sebaya, serta menyediakan rujukan ke RSA,” jelas Diana.

Ia menyebutkan setiap fakultas di UGM saat ini sudah menyediakan unit konseling sebagai promosi kesehatan jiwa sekaligus upaya preventif resiko bunuh diri. Bahkan UGM juga menyediakan layanan hotline pencegahan bunuh diri bagi siapapun yang melihat atau melakukan upaya-upaya menyakiti diri sendiri bernama “Mental Health Emergency Response Line”. Layanan ini dapat diakses oleh seluruh sivitas akademika UGM, serta bekerja sama dengan Gadjah Mada Medical Center (GMC) dan RSA UGM. Individu akan langsung mendapat pendampingan dan penanganan secara berkelanjutan.

Menurut Ketua Satuan Tugas Kesehatan Mental UGM, Restu Tri Handoyo, Ph.D, upaya pencegahan bunuh diri memang harus diterapkan sedini mungkin. “Selain layanan hotline, kita juga melakukan screening ke mahasiswa apakah ada resiko-resiko yang kemungkinan menyebabkan seseorang masuk ke tahap crisis atau tahap paling mendekati upaya bunuh diri,” tutur Restu.

Komitmen bersama menjaga kesehatan jiwa bisa dimulai dari pengelolaan diri sendiri dan lingkungan yang mendukung. Upaya UGM dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, namun juga merupakan bentuk promosi kesehatan jiwa pada masyarakat luas. Harapannya, dengan komitmen tersebut, kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa akan membuahkan masyarakat yang inklusif, aktif, dan suportif terhadap satu sama lain.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Freepik

Artikel Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, UGM Perkuat Komitmen Ruang Belajar Aman pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-hari-pencegahan-bunuh-diri-sedunia-ugm-perkuat-komitmen-ruang-belajar-aman/feed/ 0
Kesehatan Mental dan Kualitas Pendidikan Calon Dokter Spesialis https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-rutin-cek-kesehatan-mental-mahasiswa-calon-dokter-spesialis/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-rutin-cek-kesehatan-mental-mahasiswa-calon-dokter-spesialis/#respond Wed, 17 Apr 2024 08:27:41 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-rutin-cek-kesehatan-mental-mahasiswa-calon-dokter-spesialis/ Cita-cita luhur penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis diarahkan untuk membantu pencapaian misi pemerintah dalam melakukan pemerataan, percepatan pemenuhan, dan penjaminan kualitas pelayanan kesehatan medis profesional. Penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis mencakup peningkatan aspek kompetensi, keterampilan, kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penguasaan etika bagi mahasiswa. Menilik cakupan ini, dapat dipahami bahwa pendidikan dokter spesialis bertujuan untuk membentuk […]

Artikel Kesehatan Mental dan Kualitas Pendidikan Calon Dokter Spesialis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Cita-cita luhur penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis diarahkan untuk membantu pencapaian misi pemerintah dalam melakukan pemerataan, percepatan pemenuhan, dan penjaminan kualitas pelayanan kesehatan medis profesional. Penyelenggaraan Program Pendidikan Dokter Spesialis mencakup peningkatan aspek kompetensi, keterampilan, kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penguasaan etika bagi mahasiswa. Menilik cakupan ini, dapat dipahami bahwa pendidikan dokter spesialis bertujuan untuk membentuk dokter spesialis yang mampu mewujudkan kualitas profesional pelayanan kesehatan masa depan. Pembentukan ini melalui proses yang kompleks serta sistematis, dan tidak hanya sekedar melakukan pemahiran semata.

Program Pendidikan Dokter Spesialis terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan peserta didik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengurangi potensi penyimpangan aktifitas dalam mekanisme pendidikan yang berakibat pada kesehatan fisik dan mental mahasiswa. Proses skrining atau penapisan kesehatan mental merupakan contoh upaya nyata pengelolaan kesehatan jiwa mahasiswa.

Proses penapisan ataupun skrining kesehatan mental bagi mahasiswa perlu memperhatikan pemilihan instrumen skrining untuk menjamin validitas data, mempertimbangkan aspek etik serta menjaga kualitas data. Hasil skrining awal bukan sebagai kesimpulan final ataupun perangkat untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mahasiswa. Hasil skrining semestinya diikuti dengan tahapan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan oleh ahli kesehatan mental. Dengan demikian hasil kajian awal tidak untuk dipublikasikan karena berpotensi menimbulkan salah interpretasi, pelanggaran etik maupun stigmatisasi institusi atau kelompok tertentu seperti mahasiswa calon Dokter Spesialis.

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) telah melakukan pengelolaan kesehatan mental bagi mahasiswa. Pertama, melakukan skrining kesehatan bagi semua mahasiswa calon Dokter Spesialis di awal proses pendidikan. Kedua, melakukan pengaturan jam kerja <80 jam per minggu bagi semua mahasiswa calon Dokter Spesialis.

Ketiga, memberikan edukasi tentang penanggulangan gejala-gejala depresi secara berkesinambungan kepada mahasiswa calon Dokter Spesialis. Keempat, menyediakan layanan tim psikolog apabila terdapat indikasi gejala depresi. Layanan psikolog tersebut juga bisa diakses melalui internet secara personal untuk menjamin kerahasiaan proses konseling. Kelima, melakukan monitoring rutin terkait kondisi dan perkembangan pendidikan mahasiswa calon Dokter Spesialis oleh Dosen Pembimbing Akademik.

Pendampingan secara berkelanjutan dalam Pendidikan Dokter Spesialis memegang peran penting untuk mendukung kualitas pembelajaran karena tidak menutup kemungkinan mahasiwa menghadapi berbagai tantangan dalam proses pendidikan, seperti: tingginya beban kerja pelayanan 24 jam untuk kasus emergensi, pemberian perhatian lebih pada kasus-kasus berat dan komplikasi, serta tuntutan target penyelesaian pendidikan tepat waktu dari institusi atau pemberi penugasan beasiswa pendidikan.

 

Sumber:   Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH

Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan

(FK-KMK) UGM

 

Narahubung:

  • Ahmad Hamim Sadewa, PhD
  • Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM
  • Telepon: +62 813-2829-6095
  • Email: hamdewa@ugm.ac.id

 

Dikeluarkan tanggal: 17 April 2024.

Foto: Dok. FK-KMK UGM

Artikel Kesehatan Mental dan Kualitas Pendidikan Calon Dokter Spesialis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-rutin-cek-kesehatan-mental-mahasiswa-calon-dokter-spesialis/feed/ 0
Media Massa Miliki Peran Penting Dalam Pencegahan Bunuh Diri https://ugm.ac.id/id/berita/media-massa-miliki-peran-penting-dalam-pencegahan-bunuh-diri/ https://ugm.ac.id/id/berita/media-massa-miliki-peran-penting-dalam-pencegahan-bunuh-diri/#respond Thu, 19 Oct 2023 08:50:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60700 Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog., menyebutkan media massa memiliki peran strategis dalam memengaruhi persepsi masyarakat terkait bunuh diri. Narasi berita yang disampaikan bisa menjadi alat advokasi, tetapi juga bisa berdampak negatif. “Apakah itu pengaruh positif atau negatif tergantung bagaimana jurnalisme itu dilakukan,” jelasnya dalam Sekolah […]

Artikel Media Massa Miliki Peran Penting Dalam Pencegahan Bunuh Diri pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog., menyebutkan media massa memiliki peran strategis dalam memengaruhi persepsi masyarakat terkait bunuh diri. Narasi berita yang disampaikan bisa menjadi alat advokasi, tetapi juga bisa berdampak negatif.

“Apakah itu pengaruh positif atau negatif tergantung bagaimana jurnalisme itu dilakukan,” jelasnya dalam Sekolah Wartawan yang berlangsung Kamis (19/10) di Ruang Fortakgama UGM.

Sekolah Wartawan kali ini mengangkat tema Etika Pemberitaan di Media Terkait Kesehatan Mental dan Bunuh Diri.  Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan baru bagi insan media terkait pemberitaan bunuh diri agar tidak memicu perilaku bunuh diri.

Nurul menyebutkan bahwa paparan kasus bunuh diri atau perilaku bunuh diri bisa berasal dari mana saja mulai dari lingkungan keluarga, pertemanan sebaya hingga tayangan media. Paparan tersebut berpotensi meningkatkan kasus bunuh diri dan perilaku bunuh diri. Demikian halnya penyampaian informasi melalui berita di media jika tidak disampaikan dengan baik dapat memicu terjadinya copycat suicide.

“Pemberitaan bunuh diri di media ini berpotensi meningkatkan terjadinya copycat suicide atau tindakan bunuh diri yang dilatarbelakangi meniru kasus bunuh diri sebelumnya,” jelasnya.

Karenanya Nurul menyampaikan dalam pemberitaan seyogianya media mempertimbangkan berita yang diterbitkan apakah akan memperkuat atau justru melawan stigma. Selain itu juga penting dalam pemilihan bahasa karena cara penggambaran seseorang atau gangguan akan memengaruhi persepsi orang terhadap hal-hal tersebut. Lalu, meminta persetujuan narasumber dan memperhatikan dampak jangka panjang terhadap artikel yang diterbitkan.

“Wartawan akan melanjutkan hidup seperti biasa setelah artikel terbit. Namun, orang-orang yang jadi sorotan di dalamnya akan terus terhubung dengannya dalam jangka waktu yang panjang,”urainya.

Nurul menambahkan isu lain yang perlu diperhatikan insan media saat penulisan berita terkait bunuh diri dan kesehatan mental adalah mempertimbangkan soal trauma. Apakah proses pelaporan baik wawancara atau foto akan membuat seseorang mengalami trauma kembali yang pernah terjadi.

Lebih lanjut nurul menyampaikan bahwa dampak pelaporan bunuh diri tidak terbatas pada efek yang merugikan. Sebaliknya, liputan tentang cara mengatasi situasi sulit seperti yang dicakup dalam berita tentang ideasi bunuh diri bisa memiliki efek protektif.

“Penyampaian berita tentang bunuh diri oleh media juga bisa memiliki efek protektif seperti bagaimana deteksi dini bunuh diri, bagaimana saat menghadapi situasi sulit dan lainnya,”terangnya.

Di akhir paparannya Nurul menyampaikan kepada wartawan tentang kunci efektif intervensi untuk pencegahan bunuh diri. Terdapat empat intervensi berdasar penelitian untuk mencegah bunuh diri. Pertama, melakukan pembatasan terhadap akses sarana prasarana tindak bunuh diri. Kedua, interaksi yang intensif dengan media untuk pelaporan bunuh diri yang profesional dan bertanggung jawab. Ketiga, mengembangkan life-skill/kecakapan hidup sosio-emosional pada remaja.

“Terakhir, melakukan identifikasi/deteksi dini, observasi, mengelola tindak lanjut untuk para individu yang terpengaruh dengan tindak bunuh diri,” pungkasnya.

Penulis: Ika

Foto: Firsto

 

Artikel Media Massa Miliki Peran Penting Dalam Pencegahan Bunuh Diri pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/media-massa-miliki-peran-penting-dalam-pencegahan-bunuh-diri/feed/ 0