kekeringan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kekeringan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 20 Sep 2024 03:45:18 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/#respond Fri, 20 Sep 2024 03:45:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70741 Kekeringan merupakan kondisi alam yang tidak dapat dihindari oleh negara tropis seperti Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa kekeringan akan terjadi lebih panjang pada tahun 2024 yang diperkirakan terjadi mulai Mei sampai Oktober. Kondisi iklim Indonesia juga menunjukkan gejala la nina yang lemah. Artinya, curah hujan akan menurun dan masyarakat hanya bisa mengandalkan sumber […]

Artikel Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kekeringan merupakan kondisi alam yang tidak dapat dihindari oleh negara tropis seperti Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa kekeringan akan terjadi lebih panjang pada tahun 2024 yang diperkirakan terjadi mulai Mei sampai Oktober. Kondisi iklim Indonesia juga menunjukkan gejala la nina yang lemah. Artinya, curah hujan akan menurun dan masyarakat hanya bisa mengandalkan sumber air tanah beberapa bulan ke depan.

Pakar Mitigasi Bencana dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., menuturkan bahwa prediksi BMKG tersebut tidak sepenuhnya meleset. Gejala iklim yang berubah-ubah, baik di rumpun regional maupun rumpun global, memiliki dampak yang sangat besar terhadap perubahan musim di Indonesia. Menurutnya, di tengah-tengah musim kemarau yang berlangsung mulai Mei sampai Oktober, gejala el nino dinilai tidak terlalu parah. “Tingkat keparahannya itu tidak seperti yang diprediksikan sebelumnya,” ujar Djati, Jumat (20/9).

Perubahan iklim yang dinamis ini disebabkan oleh kondisi geografi dan hidrogeologi Indonesia yang beragam, menurut Djati menyebabkan beberapa tempat mengalami kekeringan, sedangkan tempat lain belum dapat dikategorikan sebagai bencana kekeringan. Ia memberikan contoh daerah Gunung Kidul dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi daerah yang dikenal sulit mendapatkan sumber air apalagi di saat musim kemarau melanda. Bahkan di daerah tersebut, musim kemarau berlangsung lebih panjang dibanding daripada wilayah lain.

Untuk dapat menilai suatu daerah memiliki potensi kekeringan atau tidak, harus memperhatikan tipe dan zona iklim regional, material penyusun geologis, serta sistem alam yang terdapat di suatu daerah tersebut.  Selain itu, perubahan iklim ini juga mempengaruhi curah hujan yang turun di beberapa daerah di Indonesia. Perkiraan iklim sebelumnya menyatakan bahwa puncak musim kemarau akan berlangsung pada bulan Agustus hingga September. Menurut Djati, bulan September adalah bulannya sumber mata air cenderung menjadi asat. Adanya perubahan iklim, itu tidak menutup kemungkinan akan turunnya hujan di bulan Agustus-September meskipun sedikit.

Salah satu sektor penting yang dirugikan dari perubahan iklim adalah sektor pertanian. Sebab saluran irigasi merupakan unsur penting yang menggerakkan sektor ini. Tanpa pengairan yang cukup, tanaman tidak akan bisa tumbuh dan sawah akan mengering. Hal ini akan berimbas pada kelangkaan stok bahan pangan dan kenaikan harga sembako. “Kemarau panjang itu tidak terlalu ekstrim sehingga kemungkinan gagal panen itu rendah,” ujarnya.

Meskipun begitu, pemerintah dan masyarakat tetap diimbau untuk mengantisipasi datangnya kemarau panjang. Untuk menghadapi musim kemarau, pengairan sawah diusahakan tidak bergantung hanya kepada air hujan. Pemerintah dapat membangun sistem irigasi yang berasal dari sungai, danau, atau embung. Di sisi lain, apabila kondisi geologis suatu wilayah tidak terdapat sumber air alami, Djati mengatakan bahwa antisipasi dapat dilakukan dengan penanaman komoditas yang tidak membutuhkan banyak air.

Untuk menghadapi ancaman kekeringan, cara yang paling mudah untuk dilakukan adalah penyediaan air oleh pemerintah setempat. Setiap tahunnya, ratusan ribu bahkan jutaan liter air bersih telah dikerahkan untuk menangani bencana kekeringan. Terdapat juga cara lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah selama musim kemarau berlangsung dengan pengadaan pemompaan air tanah. Menurut Djati, Gunung Kidul misalnya memiliki potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan. Secara geologis, tanah di Gunung Kidul memiliki material batan yang mudah larut. Material ini membuat air hujan yang masuk ke dalam tanah dapat disimpan dalam waktu yang lama. Air disimpan di sungai-sungai bawah tanah dan gua-gua yang memiliki kedalaman mencapai 100 meter. “Itu paling dangkal saja sekitar 50 meter, jadi sungainya itu dalam sekali,” kata Djati.

Pemompaan air dari sungai-sungai bawah tanah ini membutuhkan biaya yang tinggi sebab air tidak dapat naik dengan mesin pompa biasa. Mekanisme pemompaan airnya pun tidak biasa. Dibutuhkan tempat yang posisinya relatif paling tinggi di suatu kawasan agar secara gravitasional, air dapat didistribusikan ke sekitarnya.

Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk menghadapi kekeringan adalah membuat sumber air buatan, seperti embung atau bendungan. Cara ini sering digunakan di daerah Nusa Tenggara Timur sebagai persiapan musim kemarau dan bencana kekeringan. “Embung-embung itu untuk menampung air saat musim hujan, untuk kemudian bisa dimanfaatkan pada musim kemarau,” ujar Djati.

Upaya mitigasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, imbuh Djati, masyarakat juga dapat memenuhi kebutuhan air di musim kemarau secara mandiri. Cara yang paling mudah adalah dengan membuat sistem penampungan air hujan di tandon-tandon air. Air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan irigasi dan domestik seperti MCK dan masak apabila sudah dijernihkan. “Tidak selalu harus menunggu dari pemerintah, sebetulnya secara mandiri masyarakat bisa dilibatkan,” tutur Djati.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Freepik

Artikel Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/feed/ 0
Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/#respond Mon, 25 Sep 2023 03:16:42 +0000 https://ugm.ac.id/?p=59631 UGM menyalurkan bantuan 14.000 liter air bersih untuk warga yang mengalami kesulitan air bersih di Magelang, Minggu (25/9). Penyaluran bantuan air bersih dilakukan tim Gelanggang Emergency Response (GER) UGM dan Menwa UGM bekerja sama dengan relaan FPRB Borobudur. Koordinator GER UGM, Muhammad Fauzan Firdaus, menjelaskan GER penyaluran atau dropping air bersih diberikan kepada warga di […]

Artikel Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
UGM menyalurkan bantuan 14.000 liter air bersih untuk warga yang mengalami kesulitan air bersih di Magelang, Minggu (25/9). Penyaluran bantuan air bersih dilakukan tim Gelanggang Emergency Response (GER) UGM dan Menwa UGM bekerja sama dengan relaan FPRB Borobudur.

Koordinator GER UGM, Muhammad Fauzan Firdaus, menjelaskan GER penyaluran atau dropping air bersih diberikan kepada warga di dua desa yakni Desa Desa Karanganyar Borobudur dan Desa Butuh Candirejo Borobudur, Kabupaten Magelang.

“Dropping ini kita lakukan sebagai bentuk respons terhadap fenomena kekeringan air yang banyak dialami oleh warga akibat kemarau panjang,” terangnya, Senin (25/9).

Fauzan mengatakan kemarau panjang tahun ini menyebabkan keringnya sumber-sumber air warga. Oleh sebab itu, bantuan air bersih sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga.

Lebih lanjut ia menyampaikan ada ratusan kepala keluarga (KK) yang mengalami kesulitan untuk akses air bersih guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari akibat musim kemarau panjang saat ini. Bantuan distribusi air bersih yang diberikan kepada 140 KK di dua desa tersebut diharapkan dapat membantu warga.

Fauzan menjelaskan sebelum melakukan penyaluran air bersih ke warga, sehari sebelumnya pihaknya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan para relawan. Koordinasi dilakukan untuk memetakan wilayah yang belum mendapatkan dropping air bersih.

“Dropping dilakukan di Desa Karanganyar dan Desa Butuh Candirejo atas permintaan warga karena belum mendapatkan droping dan kondisi sudah benar-benar kehabisan air bersih,” jelasnya.

 

Penulis: Ika

Foto: Dok. GER UGM

Artikel Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/feed/ 0
Pakar UGM: Ancaman Kekeringan Harus Sudah Diantisipasi Sebelum Memasuki Musim Kemarau https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ancaman-kekeringan-harus-sudah-diantisipasi-sebelum-memasuki-musim-kemarau/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ancaman-kekeringan-harus-sudah-diantisipasi-sebelum-memasuki-musim-kemarau/#respond Wed, 30 Aug 2023 15:11:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58970 Ancaman kekeringan melanda berbagai daerah di Indonesia buntut dari minimnya curah hujan di musim kemarau. Menurut pakar manajemen air UGM, Dr.Ing. Ir. Agus Maryono, bencana kekeringan dan banjir yang terjadi silih berganti setiap musim kemarau dan musim penghujan disebabkan belum adanya kesatuan berpikir untuk menyelesaikan masalah secara sistemik dan holistik. “Musim kemarau dan musim penghujan […]

Artikel Pakar UGM: Ancaman Kekeringan Harus Sudah Diantisipasi Sebelum Memasuki Musim Kemarau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ancaman kekeringan melanda berbagai daerah di Indonesia buntut dari minimnya curah hujan di musim kemarau. Menurut pakar manajemen air UGM, Dr.Ing. Ir. Agus Maryono, bencana kekeringan dan banjir yang terjadi silih berganti setiap musim kemarau dan musim penghujan disebabkan belum adanya kesatuan berpikir untuk menyelesaikan masalah secara sistemik dan holistik.

“Musim kemarau dan musim penghujan adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Saat musim hujan kita perlu mengelola air hujan untuk musim kemarau, saat kemarau kita mempersiapkan diri untuk menghadapi musim penghujan. Itu suatu siklus yang tidak terputus,” terangnya saat menjadi pembicara kegiatan Sekolah Wartawan yang diselenggarakan Humas UGM, Rabu (30/8).

Salah satu cara yang paling efektif untuk mengantisipasi kekeringan adalah menerapkan metode pemanenan air hujan. Pemanenan air hujan dapat dilakukan dengan metode dan peralatan yang sederhana baik untuk skala rumah tangga, industri, maupun untuk perkampungan atau lahan pertanian. 

Untuk skala rumah tangga misalnya, bisa dilakukan dengan membuat penampungan, dan kelebihan air dimasukkan ke dalam sumur resapan. Sedangkan untuk areal pertanian, penampungan air hujan dapat dilakukan dengan kolam konservasi. 

“Di Australia sekitar 40 persen rumah di perkotaan sudah memiliki tampungan air hujan, di pedesaan jumlahnya sekitar 60 persen. Di Indonesia masih nol koma sekian persen, padahal potensinya besar sekali,” kata Agus. 

Kualitas air hujan pun menurutnya cukup baik sehingga aman untuk dikonsumsi. Karena itu, air hujan menurutnya adalah masa depan dari sumber daya air yang digunakan untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. 

Agus sendiri terlibat aktif dalam Gerakan Memanen Hujan Indonesia (GMHI), yang telah berdiri sejak tahun 2015 silam. Teknologi pemanen hujan yang ia kembangkan, Gama Rain Filter, telah diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia dengan hasil yang cukup menjanjikan.

“Di beberapa daerah sudah dipasang, dan warga yang biasanya harus membeli air di musim kemarau sekarang bisa mendapat stok air yang cukup dari hasil penampungan air hujan,” tuturnya.

 

Upaya di Musim Kemarau

Menanggapi situasi di berbagai daerah yang sudah menghadapi ancaman kekeringan di depan mata, menurut Agus terdapat berbagai upaya yang bisa dilakukan di samping memanfaatkan droping air bersih dari pemerintah daerah setempat, seperti yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul. 

Masyarakat, menurut Agus, bisa mencari sumber air yang mungkin masih tersedia, misalnya di sepanjang alur sungai dan pada sungai bawah tanah, serta merawat kembali sumur-sumur yang tidak terpakai untuk dibersihkan dan digali lebih dalam. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu terlalu bergantung pada droping air. 

“Di Gunungkidul ada banyak sungai di bawah tanah yang pada musim kemarau pun masih menyimpan banyak air. Dengan pompa yang banyak air di situ bisa diambil sehingga masyarakat tidak kekurangan air,” terang Agus. 

Penulis: Gloria
Foto: Donie

Artikel Pakar UGM: Ancaman Kekeringan Harus Sudah Diantisipasi Sebelum Memasuki Musim Kemarau pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ancaman-kekeringan-harus-sudah-diantisipasi-sebelum-memasuki-musim-kemarau/feed/ 0