Kecerdasan Artifisial Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kecerdasan-artifisial/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 09 Sep 2024 01:31:35 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 UGM dan Microsoft Sepakat Kembangkan Pemanfaatan AI untuk Pendidikan dan Pengajaran https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-microsoft-sepakat-kembangkan-pemanfaatan-ai-untuk-pendidikan-dan-pengajaran/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-microsoft-sepakat-kembangkan-pemanfaatan-ai-untuk-pendidikan-dan-pengajaran/#respond Mon, 09 Sep 2024 01:19:23 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70349 Universitas Gadjah Mada dan Perusahaan Microsoft Indonesia melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama, Kamis (5/9), di Gedung Pusat UGM. Kedua belah pihak sepakat untuk kerja sama dalam pengembangan dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) di bidang pendidikan. Penandatanganan piagam Nota Kesepahamanan ini dilakukan langsung oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D. dan Presiden Direktur Microsoft […]

Artikel UGM dan Microsoft Sepakat Kembangkan Pemanfaatan AI untuk Pendidikan dan Pengajaran pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada dan Perusahaan Microsoft Indonesia melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama, Kamis (5/9), di Gedung Pusat UGM. Kedua belah pihak sepakat untuk kerja sama dalam pengembangan dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) di bidang pendidikan. Penandatanganan piagam Nota Kesepahamanan ini dilakukan langsung oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D. dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir.

Ova Emilia mengatakan kerja sama dengan Microsoft ini dapat memunculkan potensi-potensi yang dapat disinergikan sehingga dapat bermanfaat dalam lingkup kegiatan tridharma perguruan tinggi.

Ova menyebutkan kerja sama antara UGM dan Microsoft sudah berlangsung selama sepuluh tahun yang dimulai pada tahun 2014. Adanya penandatanganan nota kesepahaman ini, menurut Ova, dapat membuka kesempatan bagi fakultas, prodi, maupun pusat studi di UGM melakukan kerja sama dalam berbagai bentuk kegiatan. “Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UGM, misalnya, telah membuat chatbot AI yang mampu digunakan oleh sivitas akademika,’ ujarnya.

Dharma Simorangkir menyambut baik kesempatan kerja sama yang diadakan antara UGM dan Microsoft. Ia menyebut kerja sama ini merupakan momentum baik, apalagi kini telah menjelang era baru, yakni era kepintaran buatan atau artificial intelligence (AI). “Banyak peluang muncul dengan kehadiran AI. Momentum ini tidak boleh kita manfaatkan sebagai pengguna saja, tetapi juga sebagai bagian yang turut menghadirkan dan menciptakan AI dengan beragam kebermanfaatan, yang misalnya membantu menyelesaikan permasalahan dunia pendidikan,” ujar Dharma.

Ia juga turut mengungkapkan komitmen penggunaan AI di Microsoft yang dianalogikan seperti pilot dan kopilot. Dalam hal ini, manusia menjadi pilot yang menentukan pengambilan keputusan, sedangkan AI menjadi kopilot yang membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan. Dharma kemudian berharap peluang pemanfaatan AI dapat ditangkap dengan kerja sama dengan perguruan tinggi. “Kami berharap kerja sama ini mampu menghasilkan talenta-talenta yang paham dan menguasai pengembangan AI sehingga mampu menjembatani antara dunia pendidikan dan industri,” harapnya.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan lebih lanjut mengenai bentuk kerja sama yang akan dilakukan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Dalam hal ini, Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, S.T. hadir untuk memaparkan penggunaan dan perkembangan AI di UGM yang akan digarap bersama Microsoft. Ia mengatakan ke depannya akan didirikan UGM Center for AI, yaitu sebuah pusat komunitas yang aktif bergerak di bidang kecerdasan buatan. Selain itu, UGM dan Microsoft juga tengah menggarap beberapa proyek.

“Salah satu hal yang tengah disiapkan adalah research assistant AI yang bekerja sama dengan Microsoft, yang bisa digunakan oleh sivitas akademika untuk mempermudah dalam proses riset,” sebut Mardhani.

Inovasi lainnya yang tengah disiapkan adalah chatbot AI yang nantinya akan membantu beberapa layanan seperti layanan kesehatan sebagai teman konsultasi. Mardhani tidak menutup kemungkinan bahwa model AI ini juga dapat dikembangkan sebagai tenaga pelayanan lain seperti literasi bahasa dan ilmu kedokteran.

Arief Suseno yang merupakan Education Lead Microsoft Indonesia turut menambahkan beberapa penerapan kerja sama Microsoft dengan UGM seperti pengembangan dan penerapan AI di berbagai disiplin ilmu yang nantinya akan didukung oleh hadirnya Pusat AI UGM. Pengembangan ini, menurut Arief, juga nantinya mesti menerapkan kolaborasi pada tata kelola AI yang bertanggung jawab dan etis. Tidak hanya itu, Microsoft juga menawarkan pengembangan talenta AI bagi sivitas akademika di UGM. “Kami juga telah menyediakan kurikulum pengajaran AI sehingga dosen dapat menggunakannya di ruang kelas. Kami juga menyediakan mesin Azure Open AI yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen secara gratis. Pengguna juga diberikan saldo sebesar 100 dollar untuk mengakses di luar 85 kursus gratis yang tersedia,” ungkap Arief.

Adanya kerja sama ini diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri sehingga mampu membuahkan karya sebagai kontribusi yang nyata, baik untuk Indonesia dan juga dunia.

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Eko Paris

Artikel UGM dan Microsoft Sepakat Kembangkan Pemanfaatan AI untuk Pendidikan dan Pengajaran pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-microsoft-sepakat-kembangkan-pemanfaatan-ai-untuk-pendidikan-dan-pengajaran/feed/ 0
Kampus Perlu Optimalisasi Pemanfaatan AI Dalam Pendidikan  https://ugm.ac.id/id/berita/kampus-perlu-optimalisasi-pemanfaatan-ai-dalam-pendidikan/ https://ugm.ac.id/id/berita/kampus-perlu-optimalisasi-pemanfaatan-ai-dalam-pendidikan/#respond Thu, 01 Aug 2024 04:29:58 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68301 Perguruan tinggi di diharapkan bisa sinergi antara berbagai pihak dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Generative AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kawasan Asia-Pasifik. Upaya tersebut sebagai langkah penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital. Hal itu mengemuka dalam International Seminar & Collaborative Digital Literacy Workshop yang diselenggarakan oleh Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) dalam rangka merayakan ulang tahun ke-3 […]

Artikel Kampus Perlu Optimalisasi Pemanfaatan AI Dalam Pendidikan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perguruan tinggi di diharapkan bisa sinergi antara berbagai pihak dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Generative AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kawasan Asia-Pasifik. Upaya tersebut sebagai langkah penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital. Hal itu mengemuka dalam International Seminar & Collaborative Digital Literacy Workshop yang diselenggarakan oleh Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute) dalam rangka merayakan ulang tahun ke-3 ICE Institute, pada tanggal 29-31 Juli 2024 di University Club Universitas Gadjah Mada.

Mengusung tema “The Future of Learning: Unveiling the Challenges and Opportunities of Generative AI (GenAI) in Higher Education”, Seminar yang diselenggarakan oleh Indonesia Cyber Education Institute (ICE Institute), Universitas Terbuka,  Asian Development Bank (ADB), Tsinghua University (THU), XuetangX serta didukung penuh oleh Universitas Gadjah Mada, dihadiri oleh para pendidik, pembuat kebijakan, pemimpin industri, peneliti, akademis, dan mahasiswa dari wilayah Asia-Pasifik.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro, menyampaikan dukungan UGM dalam acara ini merupakan bagian dari komitmen universitas untuk terus mendukung perkembangan teknologi dan inovasi dalam dunia pendidikan. “Kami percaya bahwa seminar ini akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengeksplorasi potensi dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan Generative AI di pendidikan tinggi. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat mendorong kemajuan pendidikan di wilayah Asia-Pasifik,” kata Wening

Direktur ICE Institute Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls., menyampaikan tantangan pendidikan di era digital ini memerlukan sinergi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dari masing-masing perguruan tinggi. Menurutnya di pertemuan ini dibahas soal potensi Generative AI (GenAI) dalam merevolusi dunia pendidikan dan mewujudkan Edutech Institution. “Seminar ini merupakan langkah penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital dan kami berterima kasih kepada semua mitra yang telah bekerja sama untuk mewujudkannya,” katanya.

Seperti diketahui, kegiatan utama pada seminar ini meliputi presentasi penelitian terbaru tentang GenAI, diskusi panel tentang tantangan dan peluang teknologi siber dalam pendidikan tinggi yang dilaksanakan pada hari pertama dan kedua, serta lokakarya interaktif untuk meningkatkan literasi digital peserta yang dilaksanakan pada hari ketiga.

Seminar pada hari pertama seminar, Kepala Direktorat Kajian dan Inovasi Akademik (DKIA) UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng. menyampaikan materi “Online Learning in AI Era – Universities and Government Initiatives”. Sementara itu, pada hari kedua, Prof. Wening Udasmoro menyampaikan materi “Introduction to Digital Literacy” yang mempromosikan pemanfaatan AI dalam berbagai aspek Tri Dharma perguruan tinggi.

Penulis : Gusti Grehenson

Artikel Kampus Perlu Optimalisasi Pemanfaatan AI Dalam Pendidikan  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kampus-perlu-optimalisasi-pemanfaatan-ai-dalam-pendidikan/feed/ 0
UGM Dorong Penguatan Regulasi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-regulasi-tata-kelola-kecerdasan-artifisial/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-regulasi-tata-kelola-kecerdasan-artifisial/#respond Fri, 08 Mar 2024 12:21:50 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-dorong-penguatan-regulasi-tata-kelola-kecerdasan-artifisial/ Pertumbuhan ekonomi digital RI pada tahun 2030 diperkirakan tumbuh pesat dengan kontribusi ekonomi mencapai 366 miliar dolar Amerika Serikat. Namun potensi pertumbuhan ekonomi digital ini dipengaruhi sejauh mana pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) di sektor industri. Oleh karena itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang lebih mengikat soal tata kelola penggunaan AI agar tidak menimbulkan kerugian bagi […]

Artikel UGM Dorong Penguatan Regulasi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pertumbuhan ekonomi digital RI pada tahun 2030 diperkirakan tumbuh pesat dengan kontribusi ekonomi mencapai 366 miliar dolar Amerika Serikat. Namun potensi pertumbuhan ekonomi digital ini dipengaruhi sejauh mana pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI) di sektor industri. Oleh karena itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang lebih mengikat soal tata kelola penggunaan AI agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Publik yang bertajuk Kebutuhan Mengembangkan Regulasi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM, Jumat (8/3). Diskusi yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat UGM bekerja sama dengan Kominfo dan ELSAM ini menghadirkan pembicara kunci Wamenkominfo Nezar Patria, Dekan Filsafat UGM Dr. Siti Murtiningsih, Direktur Government Relations Microsoft Indonesia and Brunei Darussalam, Ajar Edi, Direktur Eksekutif ELSAM Wahyudi Djafar, dan Kepala Prodi Magister Kecerdasan Artifisial FMIPA UGM Afiahayati, Ph.D.,

Wamenkominfo, Nezar Patria, mengatakan untuk saat ini kontribusi ekonomi digital pada GDP masih dibawah 10 persen, namuan dari hasil sejumlah studi diperkirakan pertumbuhan ekonomi digital RI akan meningkat pesat hingga 366 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2030. “Dibandingkan di Asia Tenggara pertumbuhanya bisa mencapai 1 triliun dolar maka kontribusi ekonomi digital memberikan kontribusi hampir 40 persen,” katanya.

Pertumbuhan ekonomi digital ini sedikit banyak dipengaruhi oleh masifnya pemanfaatan teknologi AI di sektor industri sehingga Kominfo mengeluarkan surat edaran soal panduan etik penggunaan AI sejak bulan Desember 2023 lalu yang ditujukan pada pengemban AI dan sektor industri. “Panduan ini dapat membantu dari sisi aspek etis karena ada dampak sosial, ekonomi, dan budaya dari AI,” katanya.

Surat edaran ini menurut Wamen memang tidak bisa memberikan sanksi hukum karena belum ditindaklanjuti pada peraturan perundang-undangan karena pemerintah masih menunggu dan memantau pertumbuhan AI di sektor industri di tanah air. “Kita masih bergerak di soft regulation dengan mencermati pertumbuhan AI di sektor industri. Prinsipnya, kita ingin mengambil manfaat sebesar-besarnya namu juga memitigasi risiko yang muncul,” jelasnya.

Beberapa resiko yang kemungkinan akan muncul sebagai dampak penggunaan AI menurut Wamen diantaranya besarnya kemungkinan penyalahgunaan AI untuk memicu diskriminasi sosial hingga munculnya produk disinformasi yang bisa memberikan dampak pada harmonisasi sosial.

Selain memberikan panduan etika penggunaan AI di sektor industri, Kominfo juga mendorong lahirnya talenta digital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital dalam rentang lima hingga enam tahun ke depan. “Kita membutuhkan 9 juta talenta digital,” katanya.

Siti Murtiningsih mengatakan di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang pesat maka kehadiran teknologi AI menimbulkan tantangan etis. Oleh karena itu perkembangannya harus sejalan dengan nilai moral dan etika di masyarakat, serta tidak merugikan dari sisi aspek kemanusiaan.

Menurutnya diperlukan instrumen hukum yang lebih mengikat bagi semua kepentingan masyarakat dan industri terkait dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan. “Kita perlu menyusun Undang-Undang terkait prinsip etis AI dari pandangan lintas keilmuan,” ujarnya.

Sementara Ajar Edi menuturkan sebenarnya banyak miskonsepsi tentang AI di tengah masyarakat namun bagi para eksekutif dan staf di perusahaan, pemanfaatan AI digunakan untuk mendukung tugas dan pekerjaan yang memberikan efisiensi dan efektifitas waktu kerja. “Meski ada potensi bias namun untuk memastikan sebuah keputusan, manusialah selaku pemegang keputusan yang paling tepat,” pungkasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel UGM Dorong Penguatan Regulasi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dorong-penguatan-regulasi-tata-kelola-kecerdasan-artifisial/feed/ 0