Karya Seni Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/karya-seni/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 23 Jan 2025 01:10:30 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Seniman Asal Afghanistan Potret Trauma dan Pengalaman Menyedihkan sebagai Imigran  https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-asal-afghanistan-potret-trauma-dan-pengalaman-menyedihkan-sebagai-imigran/ https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-asal-afghanistan-potret-trauma-dan-pengalaman-menyedihkan-sebagai-imigran/#respond Thu, 23 Jan 2025 01:05:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75055 Polemik imigran menjadi salah satu isu sosial yang muncul di berbagai negara. Konflik, perang, hingga kemiskinan melatarbelakangi tingginya populasi imigran dalam suatu kelompok masyarakat. Mengangkat isu tersebut, Mumtaz Khan Chopan memotret kisah para imigran tersebut melalui seni. Dalam sesi paralel The 20th International Association for the Study of Forced Migration Conference 2025 pada Rabu (22/1) di Fakultas […]

Artikel Seniman Asal Afghanistan Potret Trauma dan Pengalaman Menyedihkan sebagai Imigran  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Polemik imigran menjadi salah satu isu sosial yang muncul di berbagai negara. Konflik, perang, hingga kemiskinan melatarbelakangi tingginya populasi imigran dalam suatu kelompok masyarakat. Mengangkat isu tersebut, Mumtaz Khan Chopan memotret kisah para imigran tersebut melalui seni. Dalam sesi paralel The 20th International Association for the Study of Forced Migration Conference 2025 pada Rabu (22/1) di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Mumtaz menceritakan bagaimana karyanya didasarkan pada pengalaman pribadi sebagai imigran.

Karyanya di “Museum of Shredded Memories” mengeksplorasi situasi emosional yang dialami oleh kelompok imigran paksa. Mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air ketika negaranya sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali. Mumtaz berhasil menyusun berbagai peninggalan imigran, seperti dokumen yang hancur, foto, pakaian yang tertinggal, menjadi satu instalasi yang menggambarkan kengerian dan trauma para imigran.  “Saya memotret memori-memori perjalanan mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saya buat seberantakan mungkin untuk menggambarkan chaos-nya situasi,” ungkap Mumtaz.

Ia menjelaskan sebuah perasaan yang tak terlupakan yang dialami hampir seluruh imigran. Yakni perasaan tidak aman, selalu membutuhkan tempat bernaung, dan melupakan apapun yang bukan nyawa sendiri dan keluarga. Mereka dipaksa meninggalkan tempat kelahiran, terpisah dari kerabat, bahkan harus menghapus identitas mereka untuk bertahan hidup. Mumtaz yang merupakan seorang seniman kelahiran Afghanistan, pernah menjadi imigran di Pakistan, tentu memiliki memori yang lekat dengan karyanya sendiri.“Ingatan saya jelas saat itu ketika pulang sekolah, saya membawa satu notebook kecil dan sesampainya di rumah ibu saya bilang kita akan pergi ke Pakistan. Saya tidak tahu apa-apa dan meninggalkan notebook tersebut di rumah,” jelas Mumtaz.

Afghanistan kala itu di tahun 1999 sedang menghadapi konflik sipil dengan Taliban. Ratusan jiwa terbunuh dan keluarga kecil Mumtaz terpaksa harus mengungsi ke Pakistan. Mereka menempati rumah pengungsian bersama 3 juta imigran lainnya.

Lambat laun, Mumtaz mulai tertarik dengan seni. Sayangnya ia tidak bisa mengambil sekolah seni di Pakistan sebagai imigran, sehingga ia kembali ke Afghanistan untuk mempelajari seni di Kabul University’s Faculty of Fine Art. “Banyak yang bilang saya tidak akan bisa mendapat pekerjaan di bidang seni, padahal ketertarikan saya pada seni sangat kuat,” tambahnya.

 

Dalam satu waktu, Mumtaz mengunjungi salah satu pernikahan sepupunya di Afghanistan. Ketika ia naik bus dengan membawa kamera di tangannya, orang di sekitarnya mulai panik dan berusaha menyembunyikan kamera Mumtaz. Ternyata saat itu Taliban sedang gencar mencari dan membunuh para jurnalis atau siapapun yang terlihat membawa kamera. Perasaan takut dan trauma tersebut masih diingatnya sampai sekarang.

Mumtaz sempat menjadi seorang ahli IT dan komputer untuk mencari pekerjaan. Memang ia cukup handal dalam bidang tersebut, namun ia merasa tidak mampu menjalaninya lagi karena tidak memiliki tujuan. Ia pun kembali ke bidang seni dan datang ke Indonesia untuk melanjutkan karya-karyanya. “Afghanistan tidak punya tempat seni sebesar Indonesia. Saya senang bisa ke negara ini melanjutkan hobi saya,” tuturnya.

Meskipun kini ia tinggal di Yogyakarta, Mumtaz tetap aktif menyuarakan eksistensi imigran dalam potret seninya. Suzie Handayani, Dosen Antropologi, FIB UGM turut mengapresiasi karya seni Mumtaz yang berhasil menggambarkan pengalaman para imigran melalui sekumpulan potongan memori dan barang peninggalan mereka. Ada kalanya siapapun yang melihat instalasi Mumtaz akan merasakan kesedihan dan trauma yang mendalam.

Menurut Suzie, karya Mumtaz seolah menarik para penikmatnya untuk berada dalam situasi politik yang kelam, tidak adanya jaminan kesejahteraan, hingga pembungkaman. “Saya kagum bagaimana Mumtaz tidak pernah merapikan karyanya, ia membiarkan karyanya berantakan. Menunjukkan perasaan riil dari para imigran,” ucap Suzie.

Penulis : Tasya

Editor   : Gusti Grehenson

Artikel Seniman Asal Afghanistan Potret Trauma dan Pengalaman Menyedihkan sebagai Imigran  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-asal-afghanistan-potret-trauma-dan-pengalaman-menyedihkan-sebagai-imigran/feed/ 0
Memotret Kehidupan Perajin Jamu, Mahasiswa UGM Sambangi Kampung Jamu Gesikan https://ugm.ac.id/id/berita/memotret-kehidupan-pengrajin-jamu-mahasiswa-ugm-sambangi-kampung-jamu-gesikan/ https://ugm.ac.id/id/berita/memotret-kehidupan-pengrajin-jamu-mahasiswa-ugm-sambangi-kampung-jamu-gesikan/#respond Wed, 18 Sep 2024 08:36:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70694 Jamu merupakan salah satu warisan tradisional herbal Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Minuman yang dibuat dengan cara mengekstraksi kandungan dari berbagai tanaman obat-obatan ini telah terbukti khasiat dan manfaatnya bagi kesehatan. Proses pembuatan dan budaya meramu jamu menjadi inspirasi dalam karya seni Unit Seni Rupa (USER) Universitas Gadjah Mada bertajuk “Jejamuan Art Project”. Guna memotret […]

Artikel Memotret Kehidupan Perajin Jamu, Mahasiswa UGM Sambangi Kampung Jamu Gesikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Jamu merupakan salah satu warisan tradisional herbal Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Minuman yang dibuat dengan cara mengekstraksi kandungan dari berbagai tanaman obat-obatan ini telah terbukti khasiat dan manfaatnya bagi kesehatan. Proses pembuatan dan budaya meramu jamu menjadi inspirasi dalam karya seni Unit Seni Rupa (USER) Universitas Gadjah Mada bertajuk “Jejamuan Art Project”. Guna memotret nilai warisan budaya dalam jamu, USER UGM melakukan kunjungan langsung ke Kampung Jamu Gesikan, Merdikorejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kampung Jamu Gesikan telah dikenal sebagai salah satu Sentra Industri Jamu Tradisional. Dahulu, meracik jamu dikenal sebagai usaha yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat. Kemudian banyak bermunculan industri jamu rumahan di Desa Gesikan. Sampai saat ini, puluhan warga masih meracik dan menjual berbagai macam jamu. Sebagian besar penjual jamu bahkan masih menggunakan cara tradisional, yakni digendong atau dikenal sebagai “Jamu Gendong”. Desa ini kemudian dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata di Yogyakarta.

Kunjungan dilakukan pada 14-15 September lalu dengan total 20 orang mahasiswa. Yusril Mirza, Kurator Jejamuan Art Project berharap dengan hadirnya para seniman muda ke Kampung Jamu Gesikan, dapat menjadi ajang pengenalan warisan budaya Jamu kepada generasi muda. “Para seniman muda dapat mengenali langsung, proses pembuatan jamu serta berbagai situasi menarik dan intrik dari dinamika kehidupan pembuat jamu. Sehingga mereka dapat mengekspresikan ke dalam bentuk karya seni yang penuh dengan narasi pesan edukatif dan reflektif,” Mirza dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (18/9).

Selain belajar langsung proses pembuatan jamu tradisional, mahasiswa juga mempelajari kehidupan dan lingkungan tempat tinggal para perajin jamu. Metode pembelajaran ini dilakukan agar mahasiswa dapat membawa budaya jamu ke ranah yang lebih luas seperti seni.

Antonius Aditya Jatmika selaku Ketua Panitia Jejamuan Art Project bahwa tema jamu tradisional sengaja diambil sebagai langkah inisiasi pelestarian budaya jamu. Pasalnya, jamu saat ini terancam punah karena menurunnya minat dalam konsumsi jamu. Minuman jamu dirasa kurang cocok karena memiliki rasa yang cenderung pahit, asam, dan kurang enak dikonsumsi kalangan muda. “Meski telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, rupanya jamu mulai terancam dan mengalami situasi yang cukup rentan. Melalui Jejamuan Art Project, selain bertujuan mengenalkan jamu dalam bentuk lain, berupa representasi karya seni,” ucap Aditya.

Kunjungan dalam tajuk “Sambang Jejamuan” ini tidak hanya dikemas dalam bentuk observasi saja, namun juga ada berbagai kegiatan menarik bagi mahasiswa dan masyarakat. Kegiatan tersebut berupa menonton film dokumenter, dialog dan diskusi dengan perajin jamu, serta belajar meracik jamu secara langsung. Seniman-seniman muda lain dari daerah Solo, Boyolali, Kendal, dan Garut juga turut hadir dan mengikuti rangkaian Sambang Jejamuan dengan antusias.

Zia Esha Azhari, mahasiswa Filsafat UGM yang menjadi salah satu peserta mengaku senang bisa mendapatkan pengalaman belajar budaya jamu di Desa Gesikan. “Bagi saya ini projek yang inovatif, sebab sebagai seniman kita diterjunkan langsung ke lokasi pembuatan jamunya. Berbagai orang yang belum pernah melihat pembuatan jamu, tentu menjadi pengalaman yang luar biasa dan bisa memberikan inspirasi dalam membangun karya,” tuturnya.

Acara Sambang Jejamuan dalam persiapan Jejamuan Art Project USER UGM diharapkan dapat memberikan gambaran unik dan menarik bagi para seniman muda. Nantinya, hasil karya seni bertema jamu tersebut akan ditampilkan pada 16-22 Oktober 2024 mendatang di the Ratan Art Space, Panggungharjo, Bantul.

Penulis : Tasya

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Memotret Kehidupan Perajin Jamu, Mahasiswa UGM Sambangi Kampung Jamu Gesikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/memotret-kehidupan-pengrajin-jamu-mahasiswa-ugm-sambangi-kampung-jamu-gesikan/feed/ 0