Kampus Inklusif Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/kampus-inklusif/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 10 Dec 2024 12:51:22 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 UGM Peringkat 383 Dunia dan Nomor 1 di Indonesia Versi QS Sustainability Ranking 2025 https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-peringkat-383-dunia-dan-nomor-1-di-indonesia-versi-qs-sustainability-ranking-2025/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-peringkat-383-dunia-dan-nomor-1-di-indonesia-versi-qs-sustainability-ranking-2025/#respond Tue, 10 Dec 2024 12:51:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73648 Lembaga pemeringkatan perguruan tinggi Quacquarelli Symonds (QS) kembali merilis QS Sustainability Ranking 2025. Pemeringkatan ini berbasis kepada pilar keberlanjutan yang terdiri atas environmental impact, social impact, dan governance. Universitas Gadjah Mada pada edisi pemeringkatan 2025 ini, menduduki urutan 383 dunia dan urutan 1 di Indonesia. Posisi ini meningkat dari tahun lalu 476 dunia dan urutan […]

Artikel UGM Peringkat 383 Dunia dan Nomor 1 di Indonesia Versi QS Sustainability Ranking 2025 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lembaga pemeringkatan perguruan tinggi Quacquarelli Symonds (QS) kembali merilis QS Sustainability Ranking 2025. Pemeringkatan ini berbasis kepada pilar keberlanjutan yang terdiri atas environmental impact, social impact, dan governance. Universitas Gadjah Mada pada edisi pemeringkatan 2025 ini, menduduki urutan 383 dunia dan urutan 1 di Indonesia. Posisi ini meningkat dari tahun lalu 476 dunia dan urutan 4 di Indonesia.

Dalam daftar peringkat 1.743 universitas di dunia, selain UGM, beberapa perguruan tinggi di tanah air yang masuk dalam daftar tersebut diantaranya, Institut Pertanian Bogor (IPB) berada di peringkat 440 dunia, Universitas Indonesia (UI) di peringkat 492 dunia, Universitas Padjadjaran di peringkat 515 dunia, Institut  Teknologi Bandung (ITB) di 524 dunia dan Universitas  Airlangga di 580 dunia.

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menyambut gembira atas pencapaian UGM untuk keberlanjutan ini.  Mulai tahun 2023 yang lalu, UGM meningkatkan perhatian terhadap isu-isu keberlanjutan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “UGM sudah berkomitmen untuk turut melestarikan bumi dengan  mengimplementasi tujuan berkelanjutan,” kata Rektor, Selasa (10/12).

Pada penilaian peringkat QS Sustainability Ranking 2025, untuk indikator environmental impact, UGM berada  pada peringkat 383 dunia dan mengalami peningkatan dari skor 48,9 menjadi 62,1. Peningkatan ini terutama disumbangkan oleh indikator environmental sustainability disamping juga untuk environmental education dan environmental research. 

Selanjutnya untuk indikator social impact, UGM berada pada peringkat 581 dunia dan mengalami kenaikan skor dari 62,1 menjadi 65,4 terutama dari indikator employability and opportunities, equality, dan impact of education. Sedangkan untuk indikator governance, UGM berada pada peringkat 131 dunia dengan skor 91,5.

Penulis : Gusti Grehenson

Artikel UGM Peringkat 383 Dunia dan Nomor 1 di Indonesia Versi QS Sustainability Ranking 2025 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-peringkat-383-dunia-dan-nomor-1-di-indonesia-versi-qs-sustainability-ranking-2025/feed/ 0
Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Dapat Beasiswa UKT https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-dapat-beasiswa-ukt/ https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-dapat-beasiswa-ukt/#respond Sat, 03 Aug 2024 03:18:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68651 Sebanyak 50,12 persen mahasiswa baru Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mendapatkan beasiswa Uang Kuliah Tunggal. Dari jumlah tersebut 13,32 persen di antaranya mendapatkan beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau UKT 0. Hal itu disampaikan oleh Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., C.A., dalam […]

Artikel Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Dapat Beasiswa UKT pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 50,12 persen mahasiswa baru Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mendapatkan beasiswa Uang Kuliah Tunggal. Dari jumlah tersebut 13,32 persen di antaranya mendapatkan beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau UKT 0. Hal itu disampaikan oleh Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., C.A., dalam pembukaan PIONIR SIMFONI 2024, Rabu (31/7) di Plaza FEB UGM.

Dihadapan 605 mahasiswa baru Program Sarjana, Didi mengatakan bahwa pemberian beasiswa UKT ini merupakan wujud komitmen FEB UGM dalam memberikan akses pendidikan yang berkualitas bagi mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. “Sebanyak 50,12 persen dari kalian mendapatkan beasiswa UKT dan 13,32% diantaranya memperoleh beasiswa UKT 0 rupiah. Ini adalah pencapaian yang sangat membanggakan dan menjadi bukti komitmen FEB UGM dalam memberikan akses pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari UGM, FEB berkomitmen kuat untuk meningkatkan inklusivitas dengan memberikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh masyarakat. “FEB berkomitmen memberikan akses pendidikan yang merata bagi masyarakat, termasuk masyarakat dengan kerentanan ekonomi, sosial, maupun geografis sebagai upaya untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadilan dan merata,” katanya.

Dekan Didi Achjari menambahkan dengan kebijakan pemberian kesempatan yang sama bagi semua orang, diharapkan dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera dengan memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi seluruh anak bangsa.

Dalam kesempatan tersebut FEB UGM juga mengapresiasi 49,89 persen orang tua mahasiswa baru yang mampu secara ekonomi dan membiayai putra-putrinya secara penuh tanpa beasiswa UKT. “Dukungan penuh dari para orang tua mahasiswa ini tidak hanya memberikan kebanggaan tersendiri, tetapi juga berkontribusi besar dalam mendukung terwujudnya pendidikan unggul dan berkualitas di FEB UGM,” ujarnya.

Lebih lanjut Didi menyampaikan FEB UGM juga berkomitmen untuk menumbuhkembangkan pemimpin masa depan dalam ilmu ekonomika dan bisnis untuk mengembangkan aspek keberlanjutan. Melalui kurikulum yang selalu diperbarui dan berorientasi pada masa depan, serta dukungan dari para dosen yang berkompeten, ia yakin bahwa FEB UGM mampu mencetak lulusan-lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial yang tinggi. “Kami percaya bahwa kalian, para mahasiswa baru, adalah pionir muda yang akan membawa perubahan positif bagi bangsa dan dunia,” pesannya. 

Reportase : Kurnia Ekaptiningrum 

Editor       : Gusti Grehenson        

Artikel Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Dapat Beasiswa UKT pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/separuh-mahasiswa-baru-feb-ugm-dapat-beasiswa-ukt/feed/ 0
Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/#respond Mon, 29 Jul 2024 08:20:02 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68029 Ariani Nisma Putri (18) atau akrab disapa Putri Ariani, merupakan salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima lolos masuk Kampus Universitas Gadjah Mada tahun ini. Penyanyi yang menjadi pernah meraih juara empat di ajang America’s Got Talent (AGT) ini diterima kuliah di Fakultas Hukum melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni. […]

Artikel Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ariani Nisma Putri (18) atau akrab disapa Putri Ariani, merupakan salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima lolos masuk Kampus Universitas Gadjah Mada tahun ini. Penyanyi yang menjadi pernah meraih juara empat di ajang America’s Got Talent (AGT) ini diterima kuliah di Fakultas Hukum melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) di bidang seni.

Mengenakan kemeja putih dengan rok hitam, Putri Ariani merupakan salah satu dari enam perwakilan mahasiswa baru yang berkesempatan disematkan jas almamater oleh Rektor UGM sebagai tanda diterima menjadi mahasiswa baru UGM pada pembukaan PIONIR Gadjah Mada, Senin (29/7), di lapangan Pancasila. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an.

Ditemui oleh awak media, Putri Ariani mengaku senang dan bangga menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Menurutnya butuh waktu sekitar satu tahun baginya untuk memilih pendidikan terbaik bagi masa depannya. “Banyak pertimbangan. Setahun ini banyak berpikir untuk kelanjutan pendidikan putri, akhirnya memilih di UGM. Putri pikir, UGM menjadi the right choice for me,” katanya.

Soal pilihannya untuk memilih kuliah di prodi ilmu hukum, Fakultas Hukum, Putri menegaskan dirinya ingin belajar sesuatu hal yang baru tidak hanya di bidang bernyanyi dan musik. “Putri ingin belajar yang baru saja.  Semoga bisa mengadvokasi teman putri yang difabel dan non difabel untuk meraih mimpi mereka,” katanya.

Meski ia merupakan lulusan dari Sekolah Menengah Musik Indonesia atau SMKN 2 Bantul, namun menurut Putri dengan memilih kuliah di Fakultas Hukum, ia berkeinginan untuk mencoba dan menambah wawasan yang baru. “Selama ini ambil musik di SMK, tapi putri suka sesuatu yang baru. Ingin belajar hukum bisa buat nambah wawasan yang lebih luas dan open minded,” katanya.

Namun begitu, Putri mengungkapkan kariernya di bidang menyanyi tidak akan ia tinggalkan begitu saja. Ia ingin pendidikan dan kariernya bisa berjalan secara beriringan. “Kalo putri ingin pendidikan dan karier berjalan beriringan dan kuliah akan lanjut. Tahun ini akan keluarkan album,” paparnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., mengatakan Putri Ariani merupakan salah satu dari 10 ribuan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada yang berasal dari berbagai daerah, berbagai latar belakang sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk keberhasilan satu sama lain.

Ia berharap Putri bisa menjalankan kuliahnya dengan baik di kampus UGM. “Semoga lancar nanti kuliahnya dan fokus. Kami berusaha agar UGM menjadi tempat belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk semua,” katanya.

Seperti diketahui, Putri Ariani, adalah seorang penyanyi-penulis lagu pop solo penyandang tunanetra. Namanya mulai dikenal semenjak mengikuti kompetisi Indonesia’s Got Talent 2014 dan berhasil keluar jadi pemenang. Saat beranjak remaja, ia mulai menarik perhatian publik internasional saat dia mendapatkan golden buzzer dari Simon Cowell di ajang America’s Got Talent (AGT) 2023 yang berhasil menempati posisi ke-4 dalam kompetisi tersebut.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Penyanyi Berbakat Putri Ariani Memilih Kuliah di Fakultas Hukum UGM  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/penyanyi-berbakat-putri-ariani-memilih-kuliah-di-fakultas-hukum-ugm/feed/ 0
Anak Keluarga Transmigran Diterima Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-keluarga-transmigran-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-keluarga-transmigran-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Mon, 22 Jul 2024 01:28:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67387 Mengenakan sepatu bot, I Kadek Somadana (44) membawa galah bambu yang ujungnya sudah dipasang sabit untuk memanen buah sawit dan melepas pelepah sawit yang sudah tua. Sementara istrinya, Ni Luh Ernawati (40) mendorong gerobak angkong untuk membawa buah sawit yang sudah dipanen suaminya. Sesekali ia membereskan pelepah yang jatuh tersebut untuk disusun rapi di pinggir […]

Artikel Anak Keluarga Transmigran Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mengenakan sepatu bot, I Kadek Somadana (44) membawa galah bambu yang ujungnya sudah dipasang sabit untuk memanen buah sawit dan melepas pelepah sawit yang sudah tua. Sementara istrinya, Ni Luh Ernawati (40) mendorong gerobak angkong untuk membawa buah sawit yang sudah dipanen suaminya. Sesekali ia membereskan pelepah yang jatuh tersebut untuk disusun rapi di pinggir lahan sawit yang nantinya bisa diolah menjadi pupuk kompos.

Lokasi lahan sawit seluas kurang lebih satu hektar ini jaraknya hanya 50 meter dari rumahnya di Desa Tommo 1, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Desa ini berada di area kawasan Transmigrasi yang berada sekitar 84 kilometer dari Kota Mamuju. Di desa ini hampir semua keluarga transmigran bertanam sawit setelah padi tidak lagi cocok untuk ditanam di bekas rawa yang sudah mengering.

Kadek sendiri mengolah lahan sawit milik ayahnya. Selama hampir 15 tahun ini keluarga Kadek menggantungkan penghasilan dari hasil panen kebun sawit. Setiap dua minggu sekali, Kadek bisa panen sekitar 4-5 kuintal buah sawit. Untuk  satu kilogram buah sawit dijual 2000 rupiah ke pengepul. “Rata-rata setiap bulan dapat sekitar 2 juta,” katanya.

Uang dari penghasilan ini, digunakan Kadek untuk menghidupi tiga orang anaknya dan kedua orang tuanya yang tinggal serumah dengannya. Sambil menunggu panen sawit, Kadek juga bekerja serabutan bila ada tetangga yang mengajaknya untuk jadi buruh harian lepas. Ada juga tetangga yang mengajaknya untuk mengangkut hasil panen sawit atau mengolah bibit kebun sawit. Kebetulan Kadek pernah 10 tahun bekerja sebagai mandor di perusahaan sawit Astra mengurusi plasma nutfah.

Meski dari kecil dan besar hidup di wilayah transmigran, Kadek memiliki tekad yang kuat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Anak keduanya, Made Emilia Cahyati (18), diterima kuliah di prodi ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM lewat Jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Tidak hanya lolos masuk UGM tanpa tes, Emil juga mendapat beasiswa UKT pendidikan Unggul Bersubsidi sebesar 100 persen atau biaya kuliah gratis dari UGM.

Emil sebenarnya juga tidak menyangka akan diterima kuliah di kampus UGM. Sebab menurut cerita para gurunya, belum pernah satupun alumni SMA 1 Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah, yang diterima kuliah di kampus UGM.

“Emil, yakin mau ambil UGM?”

“Saya yakin Bu,” kata Emil, meski dalam hatinya penuh rasa tidak percaya diri.

Namun Emil meyakinkan dirinya untuk memilih kuliah di UGM dikarenakan semenjak di bangku sekolah dasar hingga bangku SMP dan SMA ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah Favorit. Bahkan jarak sekolah SMA dari rumahnya ditempuh hingga 45 menit menaiki kendaraan roda dua melewati area kebun sawit.“Saya bergantian dengan teman setiap tiga hari sekali gantian bawa motor, patungan bensin,” katanya.

Pernah sesekali ban bocor, Emil dan temannya terpaksa datang terlambat sampai ke sekolah. Jika ban bocor di jalan, ia menunggu teman satu sekolah lainnya yang melintas untuk membantu mendorong atau ia menelpon ayahnya untuk menjemput.

Selama di bangku sekolah, Emil langganan juara kelas masuk rata-rata tiga besar. Ketertarikannya pada pelajaran matematika dan sastra mendorongnya mengikuti berbagai perlombaan dan sering berhasil menjadi juara. Emil pernah mendapat juara 1 bidang matematika pada lomba Olimpiade Sains Nasional Tingkat Mauju pada April 2023 se-Sulawesi Barat.Selain itu, ia juga pernah meraih juara 1 bidang lomba menulis cerpen pada Festival Lomba Siswa Nasional (FLS2N) jenjang SMA tingkat Kabupaten Mamuju Tengah.Di tingkat nasional, Emil juga pernah lolos lomba Utsawa Dharmagita Agama Hindu tahun 2021 yang diselenggarakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag RI untuk kategori remaja. Lalu di tahun 2024 ini ia pun kembali lolos di ajang yang sama yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah.

Meski tinggal di kawasan Transmigran, tidak menyulutkan langkah Emil untuk bisa mengenyam kuliah di kampus UGM. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan. Menurutnya tidak ada yang tidak mungkin asal kita mau berusaha. “Dari awal memang saya sudah niat mau masuk UGM karena Yogyakarta terkenal dengan pendidikannya. Dulu saja sekolah SMP saya termasuk daerah 3T. Lalu SMA saya tidak masuk daftar ranking 1000 SMA terbaik di Indonesia, paling tidak saya bisa masuk ke kampus favorit,” katanya.

Sang kakek, Made Yarnita (69) nampak sumringah melihat sang cucu melanjutkan kuliah di kampus UGM. Meski ia tak tahu banyak soal pendidikan. Namun Yarnita ingat persis bagaimana tahun 1983 ia mengajak istri dan anaknya baru satu, Kadek umur 3 tahun, berangkat naik kapal dari Buleleng, Bali, merantau ke Mamuju sebagai transmigran bersama ratusan kepala keluarga lainnya.

Mendaftar sebagai transmigran, menjadi satu-satunya pilihan bagi Yarnita untuk mengubah masa depan keluarganya. Di Buleleng, kenangnya, ia tidak punya tanah untuk digarap dan sehari-hari bekerja sebagai buruh tukang kayu.

Sesampainya di Tommo, Yarnita hanya diberi rumah papan seluas  5 x 7 meter. Jalan masih berupa tanah liat, belum ada listrik dan di sekitar pekarangan masih dikelilingi hutan dan rawa. Berangsur-angsur warga transmigran menebang pohon, lalu mengolah lahan untuk menanam padi dan sesekali menjadi tenaga serabutan di desa lain.

Kini, bekas papan rumah tersebut masih tersimpan rapi di depan rumah anaknya.  Yarnita sengaja tidak ingin menjualnya, sebagai kenangan bahwa rumah itulah tanda perjuangannya untuk mengubah nasib supaya para anak dan cucunya tahu bagaimana awal kehidupan para transmigran di masa lalu.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Anak Keluarga Transmigran Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-keluarga-transmigran-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Kisah Syfa, Anak Buruh Tani Asal Sumatera Barat Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-syfa-anak-buruh-tani-asal-sumbar-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-syfa-anak-buruh-tani-asal-sumbar-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Thu, 18 Jul 2024 08:02:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67155 Keinginan untuk merubah nasib dan mengangkat harkat martabat keluarga menjadi motivasi Asysyfa Maisarah (18) untuk mendaftar kuliah di Universitas Gadjah Mada. Meski terlahir dari keluarga sederhana, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Mardion (54) dan Elfa Harningsih (48) ini memiliki tekad kuat untuk mengejar mimpinya untuk kuliah di kampus terkemuka di Indonesia. Syfa merupakan anak […]

Artikel Kisah Syfa, Anak Buruh Tani Asal Sumatera Barat Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keinginan untuk merubah nasib dan mengangkat harkat martabat keluarga menjadi motivasi Asysyfa Maisarah (18) untuk mendaftar kuliah di Universitas Gadjah Mada. Meski terlahir dari keluarga sederhana, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Mardion (54) dan Elfa Harningsih (48) ini memiliki tekad kuat untuk mengejar mimpinya untuk kuliah di kampus terkemuka di Indonesia.

Syfa merupakan anak buruh tani yang tinggal di Desa Sungai Naniang, Kecamatan Bukik Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sang Ayah, Mardion, hanya tamatan SMP yang bekerja sebagai buruh tani harian lepas yang menggarap lahan jeruk milik orang lain. Sedangkan ibunya adalah Ibu Rumah Tangga yang sesekali membantu sang suami jika ada panggilan kerja. “Untuk satu hari bekerja saya dibayar upah 50 ribu rupiah. Itu pun tidak setiap hari, tergantung ada yang butuh atau tidak,” kata Mardion.

Dari pekerjaan sebagai buruh harian lepas ini lah asap dapur di rumahnya tetap mengepul serta memenuhi kebutuhan sekolah bagi ketiga anaknya. Beruntung bagi Mardion, anak perempuannya memiliki prestasi akademik yang bagus di sekolah. Sejak di bangku SMP hingga SMA, Syfa bersekolah selalu langganan juara kelas dan mendapat beasiswa sehingga bebas biaya sekolah. “Kebetulan SMA dulu dapat beasiswa sejenis boarding school, jadi dapat fasilitas asrama di sana. Kadang kangen sama rumah, tapi harus ditahan untuk hemat ongkos. Jadinya pulang sebulan sekali saja, pernah juga dua bulan,” kenangnya.

Meraih dan mempertahankan prestasi bukanlah perkara mudah. Syfa harus belajar secara konsisten dan ekstra agar beasiswanya tidak dicabut. Berkat hobi gemar membaca buku, baik buku yang terkait dengan pelajaran atau pun buku-buku fiksi di ruang perpustakaan sekolah. Karena itu, ia merasa tidak pernah terbebani untuk belajar. “Bersyukur, selama SMA selalu juara umum dan dapat bintang mata pelajaran terbanyak di tiap semester. Tahun lalu juga dapat medali perunggu untuk Olimpiade Nasional Bahasa Indonesia,” ucap dia.

Meski memiliki memiliki prestasi akademik, Syfa tetap menyempatkan dirinya untuk tetap ikut berorganisasi dengan terjun ke Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), tercatat ia pernah menjabat sebagai Sekretaris. Syfa juga sempat ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti Sosialisasi Tata Ruang yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Kota Padang dan aktif terlibat diskusi dengan banyak perwakilan sekolah lain se-Sumatera Barat.

Dikenal memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan keinginannya, menjelang lulus, Syifa menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang bangku kuliah. Ia pun meyakinkan kedua orang tuanya untuk kuliah di UGM meskipun kedua orang tuanya  berharap dirinya tetap melanjutkan kuliah tidak jauh dari rumahnya.

“Soal biaya yang jadi pertimbangan apalagi jauh harus ke Jawa. Ayah maunya saya ke Pekanbaru saja yang lebih dekat dari sini, sama seperti kakak dulu. Kalau ibu masih ragu tapi tetap mendukung saja yang penting saya yakin dengan apa yang saya pilih, nanti rejeki mengikuti,” ucapnya penuh haru.

Saat pengumuman tiba, Syfa diterima kuliah di prodi Akuntansi FEB UGM tanpa tes lewat jalur Seleksi Nasional Berdasar Prestasi (SNBP). Ia juga lolos sebagai penerima Uang Kuliah Tunggal Pendidikan Unggul bersubsidi 100% (UKT 0) sehingga dibebaskan dari biaya pendidikan selama kuliah.

Elfa mengaku bangga saat menerima kabar anaknya diterima di UGM, meski di sisi lain dia dan suaminya ragu karena keterbatasan finansial. Tahun lalu, kakak Syifa baru saja lulus dari UIN Sultan Syarif Kasim, Riau, dan adiknya masih duduk di kelas 4 SD masih membutuhkan banyak biaya. “Campur aduk sekali perasaannya, senang tapi bingung, gimana nanti kuliahnya bisa lulus atau tidak, tapi Syfa bilang pasti bisa karena ada beasiswa,” cerita Elfa.

Dibalik kecemasannya, Elfa mengaku bersyukur Syfa mendapat beasiswa subsidi UKT 100 persen dari UGM sehingga bisa meringankan beban ekonomi keluarganya. Menurutnya beasiswa ini  sekaligus memberi kesempatan ke masyarakat tidak mampu untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Dia berharap agar Syfa dapat lulus tepat waktu dan bisa meraih cita-citanya yang diinginkannya.

Penulis: Triya Andriyani

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel Kisah Syfa, Anak Buruh Tani Asal Sumatera Barat Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-syfa-anak-buruh-tani-asal-sumbar-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Anak Guru Honorer Asal Lombok Timur Diterima Kuliah di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-guru-honorer-asal-lombok-timur-diterima-kuliah-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-guru-honorer-asal-lombok-timur-diterima-kuliah-di-ugm/#respond Wed, 17 Jul 2024 01:13:27 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66921 Gigih Indah Sukma Halwati (17), tak henti mengucap syukur saat dinyatakan diterima di program studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM. Ia menjadi satu-satunya murid MAN 1 Lombok Timur yang berhasil masuk UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun ini. “Deg-degan, nangis, bahagia, semuanya campur. Saya masih tidak percaya bisa […]

Artikel Anak Guru Honorer Asal Lombok Timur Diterima Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Gigih Indah Sukma Halwati (17), tak henti mengucap syukur saat dinyatakan diterima di program studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM. Ia menjadi satu-satunya murid MAN 1 Lombok Timur yang berhasil masuk UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun ini. “Deg-degan, nangis, bahagia, semuanya campur. Saya masih tidak percaya bisa diterima di UGM lewat SNBP. Di sekolah saya, jarang ada yang lulus SNBP,” ceritanya haru saat ditemui di rumahnya yang berada di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji,  Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Sejak kecil, Gigih menunjukkan tekad dan kegigihannya dalam mengejar pendidikan. Mimpi berkuliah di UGM ia upayakan dengan rajin belajar dan mengikuti berbagai perlombaan. Hasilnya, Gigih berhasil meraih berbagai prestasi, termasuk medali perak dan perunggu di olimpiade fisika dan gelar juara 1 di kompetisi inovasi sains tingkat provinsi.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini memang gemar belajar fisika. Ia aktif mengikuti klub belajar fisika di sekolahnya. Di klub ini, ia terbiasa membahas soal-soal olimpiade maupun membuat kreasi alat inovasi. Meski terkenal sulit, soal-soal fisika membuatnya merasa senang dan tertantang.

Dukungan Sang Ayah 

Gigih bersyukur, sang ayah, Muhidin (59), selalu mendukung cita-citanya. Sosok Muhidin jugalah yang memantik semangat Gigih untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Muhidin tidak pernah memaksa Gigih untuk menjadi juara kelas, baginya yang terpenting adalah Gigih rajin belajar dan memiliki karakter yang baik. “Saya sebagai orang tua selalu memberikan motivasi, apa pun pandangan atau pendapatnya tidak pernah saya bantah. Kalau cita-cita Gigih baik bagi hidupnya di dunia dan akhirat, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan. Kalau kuliah di UGM baik untuk hidup Gigih ke depan, keluarga tentu mendukung,” ucap Muhidin.

Tak mudah bagi Muhidin menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu selepas istrinya, Purnawati, meninggal dunia pada 2019. Kepergian sang istri yang begitu mendadak menjadi ujian berat tak hanya baginya, tetapi juga bagi keempat anaknya. Awalnya, ia mengaku kesulitan saat harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab ganda ini, terlebih perkembangan anak bungsunya agak terhambat.

Dulu, kata Muhidin, mendiang sang istrinyalah yang biasanya mengurus toko alat rumah tangga yang ada di depan rumah mereka. Penghasilan dari toko digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, karena tak ada lagi yang semahir sang istri dalam berdagang, toko tersebut kini tidak ada yang mengurusi. Tak pernah lagi Muhidin mengisi barang-barang untuk dijual di toko.

Sehari-hari Muhidin berprofesi sebagai guru honorer. Lulusan Pertanian Universitas Mataram tahun 1990 ini mengaku tak langsung mendapatkan pekerjaan setelah wisuda. Beruntung, dua tahun berselang, temannya menawarkan posisi guru matematika di MAS NW Korleko. Sejak saat itulah Muhidin mengabdikan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. “Pernah juga saya ikut teman jadi TKI di Malaysia, tetapi hanya setahun. Selepas itu, saya kembali lagi jadi guru,” kenangnya.

Lebih dari 30 tahun Muhidin mengajar, berbagai karakter anak telah ia temui. Adakalanya, di ruang guru, ia dan beberapa rekan menangisi anak-anak yang terlampau nakal. Meski begitu, ia tetap mendoakan agar segala ilmu yang ia berikan bisa bermanfaat buat mereka. Dengan penghasilan sebesar 2.000.000 rupiah sebulan, Muhidin harus putar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Terlebih, pada Desember ini, ia tidak lagi menerima uang sertifikasi karena telah memasuki usia pensiun. Meski masih diperbolehkan mengajar, penghasilannya akan berkurang drastis karena hanya mendapat gaji pokok 500.000 rupiah per bulan. “Untuk tambah-tambah, setelah mengajar, saya juga ngarit rumput untuk pakan sapi,” ujar Muhidin.

Meski penghasilannya sebagai guru honorer pas-pasan, Muhidin selalu berupaya memenuhi kebutuhan Gigih. Saat sang anak menyampaikan keinginan untuk berkuliah di UGM, awalnya Muhidin merasa berat dan khawatir untuk melepas anaknya menimba ilmu yang jaraknya lebih 800 kilometer. Terlebih, biaya untuk menyekolahkan Gigih di perantauan tidak sedikit.

Kabar bahagia datang ke Muhidin ketika Gigih dinyatakan mendapatkan subsidi UKT 100% dari UGM. Saat itu, ia dan Gigih terkejut bukan main hingga sang anak harus memeriksa layar beberapa kali. Ia pun turut memeriksa layar Simaster Gigih dan mendapati bahwa benar, kuliah sang anak di UGM gratis hingga lulus nanti. Kini, ia dan Gigih tinggal menunggu pengumuman beasiswa KIP Kuliah. “Saya sangat merasa terbantu dengan adanya subsidi UKT, khususnya dalam keadaan ekonomi yang sulit seperti ini,” ucapnya berterima kasih sambil berdoa agar subsidi ini dapat dimanfaatkan Gigih dengan sebaik-baiknya.

Menjelang keberangkatan Gigih ke Yogyakarta, Muhidin tak henti-hentinya memberikan nasihat. Ia mengingatkan Gigih untuk selalu menjaga tutur kata dan perilaku di tanah rantau, serta memanfaatkan subsidi yang diterima secara maksimal. Tak lupa, ia juga berpesan agar Gigih selalu disiplin menunaikan shalat lima waktu. “Nanti, setelah di Yogyakarta, jaga diri baik-baik. Jaga baik-baik apa yang keluar dari mulut sebab bila salah, itu bisa membahayakan. Bertutur kata yang lemah lembut, sabar, dan jangan lupa sholat,” pesannya.

Penulis: Salma

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Anak Guru Honorer Asal Lombok Timur Diterima Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-guru-honorer-asal-lombok-timur-diterima-kuliah-di-ugm/feed/ 0
Kisah Anak Penjual Telur Keliling Diterima Kuliah di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-penjual-telur-keliling-diterima-kuliah-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-penjual-telur-keliling-diterima-kuliah-di-ugm/#respond Wed, 26 Jun 2024 16:01:10 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65463 Banyak jalan untuk meraih mimpi. Kendala ekonomi bukanlah halangan bagi siapapun untuk menggapai cita-cita termasuk mimpi mengenyam kuliah ke bangku universitas ternama di Indonesia. Hal itu lah yang dirasakan oleh I Wayan Sudiatmaja (18) yang berhasil menggapai salah satu keinginannya kuliah di kampus UGM. Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan I Nengah Raul Adyana […]

Artikel Kisah Anak Penjual Telur Keliling Diterima Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Banyak jalan untuk meraih mimpi. Kendala ekonomi bukanlah halangan bagi siapapun untuk menggapai cita-cita termasuk mimpi mengenyam kuliah ke bangku universitas ternama di Indonesia. Hal itu lah yang dirasakan oleh I Wayan Sudiatmaja (18) yang berhasil menggapai salah satu keinginannya kuliah di kampus UGM.

Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan I Nengah Raul Adyana (43) dan Ni Luh Sulastini (42), diterima kuliah di prodi Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Saat mendaftar dan registrasi, Wayan mengajukan untuk mendapatkan beasiswa KIP Kuliah. Namanya pun kini terdaftar sebagai calon mahasiswa penerima KIP Kuliah. Bahkan saat registrasi, ia mendapat subsidi UKT sebesar 75 persen.

Keluarga Wayan Sudiatmaja mengontrak di rumah bedeng ukuran 5×7 meter persegi dengan dinding berdempetan dengan penghuni kontrakan lain. Lokasi rumahnya berada di salah satu gang sempit hanya berjarak kurang dari 10 meter dari jalan raya Candidasa, Karangasem, Bali.

Sehari-hari Ayahnya menjadi pedagang telur keliling di pasar hingga warung-warung kelontong dan restoran di sekitar Karangasem. Telur dagangannya diambil dari pemilik kandang ayam petelur yang berada 3 kilometer dari rumahnya. Setidaknya rutin tiga kali dalam seminggu ia mengambil telur dari kandang. Setiap kali ambil sebanyak 25 karpet. Telur-telur tersebut lalu dibawa ke rumahnya untuk dibersihkan dan disusun rapi di wadah karpet. Jika laku, setiap satu karpet telur ia mendapat untung sebesar 3000 rupiah. “Kalau dihitung bersih rata-rata dapat 1,5 juta rupiah sampai 1,8 juta,” katanya.

Menjadi penjual telur keliling, kata Nengah berangkat dari masukan anak bungsunya yang meminta diirnya menjadi pedagang setelah mencoba beberapa kali ganti pekerjaan dari jadi buruh pengrajin bambu, tenaga security, hingga kuli bangunan. Saat pertama berjualan telur, Nengah mengaku ia dan istrinya mencoba berjualan telur ayam di pinggir jalan dengan hanya menjajakan beberapa karpet telur. “Waktu itu ada bule lewat, beli lima butir tapi dia bayar Rp 50 ribu. Saya jadi semangat untuk berjualan,” kenangnya.

Saat di awal berjualan telur, kata Nengah, ia harus membeli seluruh telur kepada pemilik kandang agar bisa dijual. Karena belum punya modal yang cukup, ia hanya membeli beberapa karpet telur saja untuk dijual.

Setelah tiga bulan berjualan, Nengah bercerita ia pernah membawa sekitar 20 karpet, namun tiba-tiba motornya jatuh dan 10 karpet telur rusak dan hampir separuh telur pecah sehingga tidak bisa untuk dijual. Nengah mengaku sedih dan sempat menyampaikan ke istrinya memilih berhenti untuk berjualan lagi. “Saya sempat bilang mau berhenti. Istri kasih semangat, karena tidak ada kerjaan lain,” ujarnya.

Namun setelah 2-3 tahun berjualan, kini Nengah bisa mengambil telur hingga 15 – 25 karpet sekaligus dengan memberi uang muka sebesar separuh dari seluruh jumlah karpet telur yang diambil. Sisanya baru dibayar setelah seluruh telur terjual habis. “Jika ada yang pecah, kita bawa pulang, digoreng,” katanya.

Nazar Sang Ibu

Nengah mengaku bersyukur dengan berjualan telur bisa menghidupi keluarganya. Selain dari penghasilan dari berjualan telur, keluarga ini juga mengandalkan dari pekerjaan sang ibu yang menjadi pengrajin tenun kain gringsing. Untuk satu kain dikerjakan sekitar 1 hingga 1,5 bulan tergantung dari ukuran kain yang dipesan. “Untuk satu kain tenun, saya dapat upah 600 ribu rupiah,” kata Ni Luh.

Penghasilan dari berjualan telur dan menjadi pengrajin tenun, bagi Ni Luh sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari dan membayar kontrakan rumahnya. Tidak terbesit dibenaknya untuk menguliahkan Wayan ke universitas. Yang terpikirkan olehnya adalah besarnya biaya yang harus mereka keluarkan jika Wayan kuliah nantinya.  “Wayan sempat bilang mau kuliah. Sempat pula saya larang karena terbentur biaya. Dia bilang maunya nyoba lewat jalur KIP-K. Saya bilang, ya coba saja dulu,” katanya.

Ni Luh menuturkan, Wayan tidak hanya menyampaikan keinginannya melanjutkan kuliah namun juga menyampaikan pilihannya kuliah di UGM. “Saya sempat tanya, UGM itu dimana? Dia jelasin. Lalu saya tanya biaya kosmu nanti bagaimana?” kenangnya.

Meski berat untuk melepaskan anak mendaftarkan kuliah di Jawa, Ni LUh mengaku dirinya luluh saat melihat kegigihan anak sulungya tersebut. Yang bisa ia lakukan adalah dengan berdoa di setiap waktu sembahyang. Bahkan Ni Luh sempat bernazar, jika Wayan lulus, ia akan membawa sesaji pejati dalam tradisi Hindu untuk dibawa ke pura. “Karena sudah janji saya. Itu pun saya laksanakan pas hari odalan, kurang lebih satu bulan saat sembahyang setelah Wayan dapat pengumuman (kuliah) di UGM. Saya sendiri ke sana (Pura), bapak tidak tahu. Saya bawa ayam, pisang, jajan, buah-buahan. Saya antar ke pura,” katanya.

Wayan sendiri mengaku tidak mudah untuk membujuk kedua orang tuanya merestui dirinya mendaftar kuliah di UGM. Dia pun menjanjikan untuk mendaftar beasiswa KIP-K agar tidak membebani kedua orang tuanya. Wayan pun mafhum bahwa penghasilan orang tuanya sebagai pedagang telur keliling dan pengrajin tenun tentu akan kesulitan ika membiayai kuliahnya kelak. Wayan masih ingat, saat hari pengumuman SNBP, ia sempat menyembunyikan berita gembira kelulusannya tersebut untuk disampaikan langsung pada kedua orang tuanya. Baru keesokan harinya dirinya memberanikan diri menyampaikan hal itu, menunggu saat Ibunya selesai memasak di dapur dan ayah baru bersantai di teras setelah membersihkan telur-telur dagangannya. Wayan mengajak kedua orang tuanya duduk diatas dipan di ruang tengah.

“Saya lolos Pak,”

“Di mana lolos?” kata Ayah.

“Dapat di UGM,”

“Ya, syukurlah,”

Ni Luh terdiam agak lama. Wayan menduga ibunya kepikiran soal biaya. “Mungkin dalam hati beliau senang juga. Saya bilang, mumpung lagi registrasi, saya pakai yang KIP-K,” kata Wayan meyakinkan.

Menurut Wayan, sejak di bangku sekolah dasar, kedua orang tua selalu mendidiknya berperilaku hidup sederhana. Setiap berangkat sekolah, ia selalu rutin membawa bekal makan siang dari rumah.

Selain berprestasi di bidang akademik, Wayan ternyata sudah tertarik dengan olahraga bela diri pencak silat yang sudah ditekuninya sejak di bangku SMP. Ia pun suka mengikuti kejuaraan pencak silat antar pelajar se-provinsi Bali. Atas keteunannya berlatih silat, Ia pun sering langganan juara. “Terakhir kita dapat juara satu untuk Bali Open Competition tingkat nasional untuk kategori seni beregu,” katanya.

Selain aktif di kegiatan non akademis, Wayan juga memiliki nilai akademik yang bagus di kelas terutama untuk mata pelajaran di bidang sosial humaniora . Diterima kuliah di prodi Ilmu Komunikasi, Wayan mengaku ingin aktif di kegiatan organisasi dan kemahasiswaan. “Kalau kuliah nanti saya akan coba ikut organisasi. Saya ingin cari pengalaman baru, pengetahuan baru, mencoba cara peluang ikut organisasi dan perlombaan,” harapnya.

Nengah dan Ni Luh menyampaikan harapan agar Wayan mampu menjalani kuliahnya dengan baik agar bisa lulus meraih gelar sarjana dan membawa harum nama baik keluarga. “Secara pribadi kita ingin Wayan bisa membawa nama baik keluargadan punya masa depan. Yang pasti, kita sudah tua ini bingung cari kerja. Semoga apa yang menjadi cita-citanya Wayan, bisa terwujud. Semangatnya sungguh luar biasa,” pungkasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Anak Penjual Telur Keliling Diterima Kuliah di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-penjual-telur-keliling-diterima-kuliah-di-ugm/feed/ 0
Kisah Mahasiswa Kurang Mampu asal Aceh dan NTB Bisa Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mahasiswa-kurang-mampu-asal-aceh-dan-ntb-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mahasiswa-kurang-mampu-asal-aceh-dan-ntb-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Wed, 05 Jun 2024 06:00:09 +0000 https://ugm.ac.id/kisah-mahasiswa-kurang-mampu-asal-aceh-dan-ntb-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/ Universitas Gadjah Mada setiap tahunnya menerima lebih dari 10 ribu mahasiswa baru. Dari jumlah tersebut lebih dari 30 persen berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Meski kurang beruntung dari sisi finansial namun mereka memiliki kemampuan akademik yang baik. Muhammad Arifin Ilham (19), mahasiswa Hubungan Internasional Fisipol UGM asal Aceh menceritakan bahwa perjuangannya untuk bisa kuliah […]

Artikel Kisah Mahasiswa Kurang Mampu asal Aceh dan NTB Bisa Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Universitas Gadjah Mada setiap tahunnya menerima lebih dari 10 ribu mahasiswa baru. Dari jumlah tersebut lebih dari 30 persen berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Meski kurang beruntung dari sisi finansial namun mereka memiliki kemampuan akademik yang baik.

Muhammad Arifin Ilham (19), mahasiswa Hubungan Internasional Fisipol UGM asal Aceh menceritakan bahwa perjuangannya untuk bisa kuliah di UGM tidaklah mudah. Apalagi berasal dari keluarga yang tinggal di wilayah ujung barat Indonesia. Kedua orang tuanya merupakan salah satu korban dari bencana tsunami Aceh 2004 silam.

Meskipun berasal dari keluarga kurang mampu, mereka tidak pernah berhenti berusaha untuk mencari cara mewujudkan impiannya. “Saya mengetahui UGM itu dari TV. Sejak SMP saya sudah tertarik untuk mengejar kuliah di UGM,” ujar Arifin, saat ditemui di Kampus UGM, Rabu (5/6).

Semasa SMA, Arifin aktif mengikuti berbagai kompetisi dan olimpiade sains tingkat nasional. Kemampuan itu terus ia asah untuk meyakinkan orang tua bahwa ia bisa berkuliah di luar daerah. “Banyak yang bilang saya ini punya kemampuan kenapa tidak dicoba saja ke UGM. Saya juga coba yakinkan orang tua bahwa banyak loh beasiswa di UGM,” ucap anak pertama dari tiga bersaudara tersebut. Awalnya ia kurang mendapat dukungan dari orang tua, mengingat kuliah di luar kota seringkali memakan banyak biaya. Apalagi melihat UGM sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia. Namun berbekal keyakinan dan ketekunan, ia mendaftar prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun 2023 lalu.

Ayah Arifin bekerja sebagai pedagang, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Ia mengaku merasa sangat terbantu dengan adanya beasiswa di UGM. Selain beasiswa KIP-K, Arifin juga mendapat bantuan pendidikan dari Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Aceh.

Ia merasa sangat nyaman selama berkuliah di UGM, dengan sarana dan prasarana yang mendukung serta lingkup pertemanan yang menyenangkan. Saat ini pun ia aktif di banyak kegiatan, termasuk salah satu Model United Nation (MUN) di Singapura, membuat artikel di Institute of International Studies (IIS) UGM, dan lain-lain.

Selain Arifin,  Ramzy Oansa Ilham (19) asal Rumbug, Lombok Timur, Rumbuk, Nusa Tenggara Barat juga membagikan pengalamannya berjuang untuk melanjutkan pendidikan tinggi kuliah di UGM pada tahun 2023 lalu. Kebetulan tim dari UGM pernah berkunjung ke rumahnya selaku penerima beasiswa KIP-K. Ayahnya bekerja sebagai satpam outsourcing di salah satu kantor milik pemerintah.

Keluarga Ramzy mengontrak rumah bedeng di gang sempit.  Berdinding papan yang sudah lusuh dan sudah dimakan rayap, namun tetap tidak mengendurkan semangat Ramzy selalu berprestasi di kelas. Meski hanya mengandalkan sebuah meja belajar kecil di sudut kamar yang digunakan secara bergantian dengan adik laki-lakinya, Ramzy selalu tekun belajar demi menggapai cita-cita mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama.

Ramzy punya alasan memilih masuk Fakultas Hukum UGM. Berawal dari fenomena sosial yang ia lihat di lingkungannya dimana banyak sekali masyarakat menengah ke bawah yang kesulitan mendapatkan bantuan hukum. “Sebenarnya saya ingin masuk ke dunia politik, tapi ingin belajar hukum dulu supaya nanti kalau sudah masuk politik bisa jadi orang yang benar secara hukum,” jelas Ramzy.

UGM dipilih Ramzy sebagai kampus tujuan karena dianggap bisa mendukung perkembangan karirnya kelak. Baginya, tempat di mana ia belajar saat ini adalah titik yang menentukan dirinya di masa depan. “Banyak yang bilang kenapa nggak kuliah di daerah aja. Tapi kita kan nggak mau jadi katak dalam tempurung, kita ingin keluar dari zona nyaman,” tambahnya.

Meskipun berasal dari keluarga kurang beruntung secara ekonomi, Ramzy mengaku tidak pernah merasa minder dengan teman-temannya di kampus. Satu hal penting untuk diterapkan di lingkungan perkuliahan adalah bagaimana seseorang dapat melakukan sesuatu sesuai kapasitasnya. Ramzy menegaskan, bahwa kondisi ekonomi bukanlah suatu penghambat seseorang untuk berkarya. Selama ia bisa melakukan yang terbaik dalam setiap langkah kehidupannya, Ramzy tidak akan merasa tertinggal dibanding teman-temannya.

“Jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, selama kita belum berusaha dengan semaksimal mungkin untuk berkompetisi dan memberikan potensi kita yang terbaik,” pesan Ramzy.

Menurutnya untuk diterima  menjadi mahasiswa UGM memang tidak mudah karena harus bersaing dengan banyak siswa lainnya dari seluruh Indonesia. Tapi selalu ada jalan dan kesempatan yang terbuka luas bagi siapa saja, dan upaya tersebut akan sebanding dengan apa yang akan didapatkan ketika sudah kuliah di UGM.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel Kisah Mahasiswa Kurang Mampu asal Aceh dan NTB Bisa Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-mahasiswa-kurang-mampu-asal-aceh-dan-ntb-bisa-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Jelang Hari Lahir Pancasila, PSP UGM Ajak Seluruh Anak Bangsa Mempraktikkan Nilai Pancasila di Kehidupan Bermasyarakat https://ugm.ac.id/id/berita/jelang-hari-lahir-pancasila-psp-ugm-ajak-seluruh-anak-bangsa-mempraktikkan-nilai-pancasila-di-kehidupan-bermasyarakat/ https://ugm.ac.id/id/berita/jelang-hari-lahir-pancasila-psp-ugm-ajak-seluruh-anak-bangsa-mempraktikkan-nilai-pancasila-di-kehidupan-bermasyarakat/#respond Fri, 17 May 2024 00:12:00 +0000 https://ugm.ac.id/jelang-hari-lahir-pancasila-psp-ugm-ajak-seluruh-anak-bangsa-mempraktikkan-nilai-pancasila-di-kehidupan-bermasyarakat/ Setiap tanggal 1 juni selalu diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Di momen sakral tersebut, kita diingatkan untuk terus melestarikan Pancasila sebagai dasar negara, sumber hukum dan memperkuat relevansinya sebagai pandangan hidup bangsa. Untuk itu mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara, kehidupan berdemokrasi dan menjaga persatuan antar sesama anak bangsa selayaknya sudah menjadi tujuan bersama yang […]

Artikel Jelang Hari Lahir Pancasila, PSP UGM Ajak Seluruh Anak Bangsa Mempraktikkan Nilai Pancasila di Kehidupan Bermasyarakat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Setiap tanggal 1 juni selalu diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Di momen sakral tersebut, kita diingatkan untuk terus melestarikan Pancasila sebagai dasar negara, sumber hukum dan memperkuat relevansinya sebagai pandangan hidup bangsa. Untuk itu mempraktikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara, kehidupan berdemokrasi dan menjaga persatuan antar sesama anak bangsa selayaknya sudah menjadi tujuan bersama yang harus selalu dipegang teguh oleh seluruh anak bangsa, pemimpin dan para penyelenggara negara.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional Pemikiran Bulaksumur yang bertajuk “Pancasila Kontekstual pada Aplikasi Keilmuan dan Peran Akademik dalam Mengembangkan Keberagaman,” Rabu (15/5), di kampus UGM.

Seminar yang diselenggarakan oleh Dewan Guru Besar (DGB) UGM ini menghadirkan tiga orang pembicara yakni Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, Ketua Komisi Organisasi dan Wawasan Kebangsan DGB UGM, Prof. Dr. Lasiyo, Peneliti Ahli Pusat Studi Pancasila Prof. Dr. Sutaryo serta Ketua Pusat Studi Pancasila sebagai anggota tim perumus.

Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut menyatakan para akademisi memiliki peran dan tanggung jawab untuk memberikan edukasi dan penyebarluasan informasi pengetahuan ke masyarakat untuk tetap melestarikan Pancasila dan upaya memperkuat relevansinya sebagai dasar negara dan pandangan hidup Bangsa. “Dunia ilmu pengetahuan dan peran akademik menjadi tantangan untuk kita merumuskan peran dan fungsi dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Agus memaparkan tantangan Pancasila yang akan dihadapi kedepannya tidaklah mudah terutama pada level pemaknaan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Selanjutnya pada level konseptual yang berkaitan dengan hubungan nilai, prinsip, kebijakan, dan aturan hukum.

Dalam kehidupan bernegara, kata Agus Wahyudi, para pemimpin dan pejabat publik harus bisa menjadi contoh dan suri tauladan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya. “Terutama kenyataan bahwa kita akan selalu beragam dan perlu untuk merayakan keberagaman yang kita miliki tersebut,” tambahnya.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., mengatakan UGM sebagai kampus nasional akan terus meneguhkan jati diri sebagai Universitas Pancasila yang menghargai keragaman sebagai satu kesatuan dan menjadi inspirasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, dari sisi agama, suku, dan budaya menjadi rujukan bagi UGM untuk mengakomodir keragaman tersebut melalui kebijakan strategis universitas. Beberapa kebijakan yang sudah dilakukan diantaranya pembangunan kompleks fasilitas kerohanian untuk lima agama untuk mahasiswa dan penyebaran pengetahuan lewat pembelajaran Massive Online Open Course (MOOC) terkait konten keberagaman dan menolak intoleransi.
Sedangkan untuk nilai-nilai keadilan sosial, Wening menjelaskan bahwa UGM menyediakan program beasiswa yang bermitra dengan industri, Kagama, dan program KIP-K untuk membantu biaya pendidikan mahasiswa dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Selain itu, terdapat juga program inklusivitas lewat penerimaan calon mahasiswa berbasis wilayah geografis, pertimbangan kesehatan, berbasis usia, hingga kemampuan olahraga dan seni.

Penulis: Dita

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Jelang Hari Lahir Pancasila, PSP UGM Ajak Seluruh Anak Bangsa Mempraktikkan Nilai Pancasila di Kehidupan Bermasyarakat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/jelang-hari-lahir-pancasila-psp-ugm-ajak-seluruh-anak-bangsa-mempraktikkan-nilai-pancasila-di-kehidupan-bermasyarakat/feed/ 0
UGM Jajaki Kerja Sama dengan Coca Cola Europacific Partners Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-jajaki-kerja-sama-dengan-coca-cola-europacific-partners-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-jajaki-kerja-sama-dengan-coca-cola-europacific-partners-indonesia/#respond Tue, 05 Mar 2024 03:22:32 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-jajaki-kerja-sama-dengan-coca-cola-europacific-partners-indonesia/ Sekretaris Universitas UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, S.H., LL.M., menerima kunjungan perwakilan Coca Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia, Senin (4/3) di Ruang Tamu Rektor UGM. Dalam pertemuan ini perwakilan UGM yang berasal dari sejumlah fakultas dan direktorat berdiskusi dengan perwakilan CCEP terkait peluang kerja sama yang dapat dilakukan di berbagai bidang, khususnya yang […]

Artikel UGM Jajaki Kerja Sama dengan Coca Cola Europacific Partners Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sekretaris Universitas UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, S.H., LL.M., menerima kunjungan perwakilan Coca Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia, Senin (4/3) di Ruang Tamu Rektor UGM. Dalam pertemuan ini perwakilan UGM yang berasal dari sejumlah fakultas dan direktorat berdiskusi dengan perwakilan CCEP terkait peluang kerja sama yang dapat dilakukan di berbagai bidang, khususnya yang berkaitan dengan Tridarma Perguruan Tinggi.

“Siapa pun bisa ikut serta bersama UGM karena kami ingin menjadi universitas yang inklusif. Bidang apapun kalau memang bisa memberi manfaat kami sangat support, tapi kami tidak ingin hanya satu sisi,” tutur Andi Sandi. 

Andi melanjutkan, komitmen UGM untuk menjembatani kepentingan dunia pendidikan dengan dunia industri ditunjukkan salah satunya dengan pembangunan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) beserta sejumlah kegiatan yang telah dirancang dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 

Fasilitas ini dibangun untuk mewadahi pertemuan antara sivitas UGM dengan para praktisi dari berbagai bidang. Hal ini diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran di kampus dan di saat yang sama membantu pelaku industri memperoleh talenta terbaik dari UGM. “Prosesnya agak panjang, tetapi kami ingin semua industri bisa masuk. Ada belasan yang perusahaan yang sudah bergabung, harapannya CCEP juga bisa bergabung,” tuturnya.

Dalam kunjungan ini, rombongan CCEP dipimpin oleh Public Affairs, Communications, and Sustainability Director, Lucia Karina. Ia memberikan paparan singkat terkait salah satu program kemitraan CCEP yang dinamakan Teman Kampus. Program ini sendiri mencakup empat aspek yaitu Sustainability, People, Campus Rejuvenate, serta Life in Uni. “Program yang kami bawa lumayan banyak dan bervariasi. Prinsip sustainability harus ada,” tuturnya.

Senada dengan pernyataan Andi Sandi, Karlina juga menuturkan bahwa kerja sama antara kedua institusi ini diharapkan akan saling memberikan manfaat, bahkan dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Program yang dimaksud misalnya berupa pendampingan dan pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau komunitas lainnya.

 

Penulis: Gloria

Fotografer: Donnie

Artikel UGM Jajaki Kerja Sama dengan Coca Cola Europacific Partners Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-jajaki-kerja-sama-dengan-coca-cola-europacific-partners-indonesia/feed/ 0