inklusivitas Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/inklusivitas/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 09 Dec 2024 04:28:23 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Belajar Bahasa Isyarat dengan Penyandang Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/belajar-bahasa-isyarat-dengan-penyandang-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/belajar-bahasa-isyarat-dengan-penyandang-disabilitas/#respond Mon, 09 Dec 2024 04:15:44 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73615 Banyak orang yang masih mengalami miskonsepsi bahwa terdapat satu bahasa isyarat universal yang digunakan oleh penyandang disabilitas rungu wicara untuk berkomunikasi. Padahal banyak jenis bahasa Isyarat di Indonesia,  Beberapa diantaranya adalah Bahasa Isyarat Jakarta, dan juga Bahasa Isyarat Yogyakarta. Hal itu dikemukakan oleh Raihana Mahira Dhaniswari, anggota Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) dalam kegiatan pelatihan […]

Artikel Belajar Bahasa Isyarat dengan Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Banyak orang yang masih mengalami miskonsepsi bahwa terdapat satu bahasa isyarat universal yang digunakan oleh penyandang disabilitas rungu wicara untuk berkomunikasi. Padahal banyak jenis bahasa Isyarat di Indonesia,  Beberapa diantaranya adalah Bahasa Isyarat Jakarta, dan juga Bahasa Isyarat Yogyakarta. Hal itu dikemukakan oleh Raihana Mahira Dhaniswari, anggota Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) dalam kegiatan pelatihan bahasa isyarat yang dilaksanakan di Ruang Multimedia 1 di Gedung Pusat UGM, Jumat (6/12).

Menurutnya bahasa isyarat yang digunakan penyandang disabilitas tuna rungu sangat beragam sehingga perlu mengenal dan mempelajari masing-masing bahasa isyarat tersebut agar bisa berkomunikasi dengan para penyandang disabilitas rungu wicara. “Banyak yang berpikir bahwa bahasa isyarat itu adalah bahasa universal yang digunakan oleh orang tuli, tapi sebenarnya bahasa isyarat itu bisa jadi berbeda-beda di tiap daerah misalnya. Ada isyarat Jakarta, kemudian ada isyarat Jogja, kemudian ada isyarat Hongkong, terus ada juga isyarat Amerika atau ASL. Jadi di tiap kawasan daerah itu bisa jadi isyarat yang memang berbeda-beda,” jelasnya.

Dhanis, demikian ia akrab disapa, menyampaikan bahwa dalam proses belajar bahasa Isyarat, orang yang mampu mendengar bisa belajar secara pelan-pelan tanpa terburu-buru, dan apabila menemui kesulitan bisa bertanya langsung dengan penyandang disabilitas rungu wicara. “Orang tuli pada umumnya akan mau untuk mengajarkan karena itu semua juga berkaitan dengan akses dan juga fasilitas mereka,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, Dhanis, membawakan materinya yang berjudul Pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia dimana para peserta yang hadir diajak untuk bersama-sama mempelajari bahasa Isyarat. Mereka mempelajari bahasa Isyarat dari alfabet dalam bahasa isyarat hingga penyampaian ekspresi dan salam yang dipakai dalam bahasa isyarat.

Penulis : Hanif

Editor   : Gusti Grehenson

Foto     : Donnie

Artikel Belajar Bahasa Isyarat dengan Penyandang Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/belajar-bahasa-isyarat-dengan-penyandang-disabilitas/feed/ 0
Minim Partisipasi dan Rekognisi, Kelompok Marginal Perlu Mendapat Perhatian Sesama  https://ugm.ac.id/id/berita/minim-partisipasi-dan-rekognisi-kelompok-marginal-perlu-mendapat-perhatian-sesama/ https://ugm.ac.id/id/berita/minim-partisipasi-dan-rekognisi-kelompok-marginal-perlu-mendapat-perhatian-sesama/#respond Tue, 22 Oct 2024 09:17:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71924 Kelompok masyarakat marginal seringkali tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan hingga apalagi sampai ikut andil dan berpartisipasi dalam pembangunan. Padahal dalam kelompok tersebut terdapat berbagai kalangan yang membutuhkan pemenuhan hak, jangankan untuk dipenuhi hak-haknya, rekognisi sebagai bagian dari warga bangsa bahkan belum diakui secara sepenuhnya. Hal itu mengemuka dalam seminar diseminasi riset inklusi sosial, Selasa […]

Artikel Minim Partisipasi dan Rekognisi, Kelompok Marginal Perlu Mendapat Perhatian Sesama  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kelompok masyarakat marginal seringkali tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan hingga apalagi sampai ikut andil dan berpartisipasi dalam pembangunan. Padahal dalam kelompok tersebut terdapat berbagai kalangan yang membutuhkan pemenuhan hak, jangankan untuk dipenuhi hak-haknya, rekognisi sebagai bagian dari warga bangsa bahkan belum diakui secara sepenuhnya. Hal itu mengemuka dalam seminar diseminasi riset inklusi sosial, Selasa (22/10), di auditorium Fisipol UGM.

Abdi Suryaningati selaku Tech Lead for Capacity Development and Sustainability di AIPTIS menjelaskan, kelompok masyarakat marginal seringkali tidak dilibatkan dalam proses kemasyarakatan sampai pembangunan. Padahal dalam kelompok tersebut terdapat berbagai kalangan yang membutuhkan pemenuhan hak lebih dari masyarakat mayoritas. “Hasil riset ini memberikan gambaran bahwa jangankan dipenuhi hak-haknya, rekognisi sebagai bagian dari warga bangsa juga masih merupakan pekerjaan rumah kita semua,” ungkap team leader program peduli The Asia Foundation ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Dekan Fisipol UGM, Dr. Wawan Mas’udi, S.IP., MPA.. Menurutnya, demokrasi bisa berjalan dengan baik jika seluruh individu yang memiliki status kewarganegaraan dapat berpartisipasi aktif. “Bukan hanya dari sisi hukum dalam pandangan kami, tapi juga keterlibatan semua kelompok, rekognisi, pengakuan segala hak, dan keterlibatan dalam tata kelola kuasa,” ucap Wawan.

Bagi Wawan, isu-isu soal inklusivitas perlu dipahami dan disalurkan menjadi kerangka kebijakan, sehingga dapat terwujud ekosistem inklusif bagi masyarakat.

Dari hasil riset kolaborasi tentang inklusi sosial tentang kondisi dan status kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial di Aceh, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Ditemukan ketiga provinsi tersebut menunjukkan perbedaan mencolok dari segi kelompok sosial yang tereksklusi. Yogyakarta contohnya, kelompok anak jalanan, waria, anak dan lansia, dan disabilitas adalah kelompok minoritas yang paling banyak tereksklusi. “Berbeda dengan Jogja, justru kalau di Sulawesi Selatan kita melihat eksklusivitas yang menyangkut rekognisi sosial dalam ekonomi, yaitu warga pesisir dan nelayan,” jelas Wawan.

Masyarakat daerah Maros, Sulawesi Selatan khususnya, mayoritas nelayan yang direkognisi hanyalah nelayan laki-laki. Padahal perempuan juga memiliki peran penting dalam ekonomi masyarakat pesisir. “Kondisi ini menyulitkan mereka untuk mendapatkan Kartu Tanda Nelayan (KTN) guna mengakses bantuan-bantuan pemerintah,” paparnya.

Eksklusivitas juga terjadi dalam proses masyarakat itu sendiri. Disampaikan oleh Dania, anggota tim peneliti bahwa pertemuan rutin masyarakat pesisir seringkali dilaksanakan malam hari, di mana sebagian besar nelayan melaut di waktu tersebut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya eksklusivitas dan terbentuknya kelompok masyarakat terpinggirkan. Akibatnya, pemerintah tidak bisa menyalurkan hak kelompok tersebut dan menyebabkan maldistribusi. “Karena tidak ada distribusi, maka mereka juga tidak memiliki ruang dalam representatif atau misrepresentasi,” ujar Dania.

Eksklusivitas juga ditunjukkan dari sisi persepsi publik terhadap kebijakan yang berlaku. Riset kedua berjudul “Pembuatan Kebijakan Eksklusif di Indonesia Pasca Desentralisasi” menjelaskan bagaimana persepsi masyarakat terhadap kelompok-kelompok tertentu. Desi Rahmawati, peneliti di Research Centre for Politics and Government (PolGov) Fisipol UGM menyampaikan hasil survei menunjukkan mayoritas masyarakat tidak setuju adanya hak politik seperti pencalonan daerah dari kelompok waria. “Ada penolakan hak politik kelompok waria dari masyarakat. Sedangkan untuk disabilitas lebih banyak yang menyetujui, terutama di bidang sosial,” papar Desi.

Hal yang sama terjadi pada kebijakan di tingkat Gubernur, yakni larangan keturunan Tionghoa membeli tanah di Yogyakarta dalam Instruksi Gubernur DIY No. K.898/I/A75. Sebagian masyarakat menyatakan setuju atas berlakunya kebijakan yang berpotensi menciptakan eksklusivitas tersebut.

Menurut Desi, tidak ada partisipasi dan kontrol publik dalam kebijakan inklusi, sehingga implementasinya menjadi tidak maksimal. “Persepsi publik ini juga menjadi pendukung adanya eksklusivitas di masyarakat. Dampak kebijakannya, ada kecenderungan dianggap selesai saat kebijakan payungnya sudah ada. Setelah itu sudah,” pungkasnya.

Penulis : Tasya

Editor   : Gusti Grehenson

Foto      : Freepik

Artikel Minim Partisipasi dan Rekognisi, Kelompok Marginal Perlu Mendapat Perhatian Sesama  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/minim-partisipasi-dan-rekognisi-kelompok-marginal-perlu-mendapat-perhatian-sesama/feed/ 0
UGM Gandeng Komunitas Difabelzone untuk Mewujudkan Inklusivitas https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gandeng-komunitas-difabelzone-untuk-mewujudkan-inklusivitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gandeng-komunitas-difabelzone-untuk-mewujudkan-inklusivitas/#respond Mon, 07 Oct 2024 01:03:45 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71288 Universitas Gadjah Mada menggandeng komunitas Difabelzone dalam rangka mewujudkan inklusivitas dengan melakukan pendampingan warga disabilitas dalam rangka penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Hal itu mengemuka dalam kunjungan UKM Peduli Difabel UGM berkunjung ke sekretariat kerajinan batik tulis di Difabelzone, Nglarang, Bantul, Rabu(2/10). Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Ekonomika dan […]

Artikel UGM Gandeng Komunitas Difabelzone untuk Mewujudkan Inklusivitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada menggandeng komunitas Difabelzone dalam rangka mewujudkan inklusivitas dengan melakukan pendampingan warga disabilitas dalam rangka penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Hal itu mengemuka dalam kunjungan UKM Peduli Difabel UGM berkunjung ke sekretariat kerajinan batik tulis di Difabelzone, Nglarang, Bantul, Rabu(2/10).

Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis sekaligus pembina UKM Peduli Difabel, dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Minggu (6/10) mengatakan UGM siap berkolaborasi dengan Difabelzone untuk meningkatkan peluang bagi para penyandang disabilitas dalam berkarya dan menciptakan UMKM yang dapat bersaing secara luas.

Wuri menuturkan pihaknya menawarkan bantuan dalam pendampigan pemasaran dan pengelolaan laporan keuangan untuk anggita Difabelzone. “Pengelolaan pemasaran serta pembukuan laporan keuangan memiliki fungsi yang krusial bagi UMKM untuk keperluan funding dari pihak eksternal,” ucap Wuri.

Rahmat, salah satu pengrajin batik Difabelzone, yang menyatakan harapannya akan kerja sama dan persaudaraan yang berkelanjutan dengan UGM.

Sekretaris Direktorat Keuangan Dr. Hempri Suyatna, Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan UGM, mengatakan kunjungan ini merupakan titik awal dari kolaborasi dan kerjasama UGM dengan Difabelzone. “Lewat kerja sama ini, kita siap mendampingi teman-teman penyandang disabilitas agar sejahtera secara sosial serta finansial,” ujar Hempri.

Seperti diketahui, Difabelzone merupakan komunitas untuk berkembang bagi difabel yang hadir dengan prinsip inklusi untuk mendukung difabel agar dapat mandiri dan produktif melalui kerajinan seni batik. Sejak awal mula didirikannya, yakni pada tahun 2017, Difabelzone bukan hanya wadah untuk merangkul bagi penyandang disabilitas, akan tetapi juga sebagai lapangan pekerjaan dan melatih kemandirian. Melalui kerajinan batik, Difabelzone juga merupakan wadah bagi difabel dan sukarelawan untuk ikut aksi peduli lingkungan.

Selama 7 tahun berproses, Difabelzone telah meraih berbagai prestasi serta mengadakan beberapa pameran dan workshop. Akan tetapi, Difabelzone masih menghadapi berbagai tantangan berupa emosional, pemasaran, finansial,  hingga pengelolaan pembukuan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,

Hempri menuturkan, adanya kegiatan dan kolaborasi seperti ini, diharapkan sivitas akademika UGM serta masyarakat luas selalu peduli terhadap teman-teman penyandang disabilitas dan terus berusaha untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif untuk semua orang terlepas dari kekurangan fisik mereka baik itu di lingkungan UGM maupun di lingkungan luar UGM.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Artikel UGM Gandeng Komunitas Difabelzone untuk Mewujudkan Inklusivitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-gandeng-komunitas-difabelzone-untuk-mewujudkan-inklusivitas/feed/ 0
BSI Serahkan Dana Beasiswa Senilai Rp 2,3 Miliar ke Mahasiswa UGM https://ugm.ac.id/id/berita/bsi-serahkan-dana-beasiswa-senilai-rp-23-miliar-ke-mahasiswa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/bsi-serahkan-dana-beasiswa-senilai-rp-23-miliar-ke-mahasiswa-ugm/#respond Tue, 01 Oct 2024 09:17:59 +0000 https://ugm.ac.id/?p=71114 Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap orang di dunia, sekaligus sebuah cara agar suatu bangsa bisa menjadi lebih maju serta beradab. Akan tetapi, keinginan seseorang untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti ke perguruan tinggi terkadang menemui berbagai hambatan salah satunya adalah biaya. Melihat hal ini BSI menyerahkan dana beasiswa senilai 2,3 […]

Artikel BSI Serahkan Dana Beasiswa Senilai Rp 2,3 Miliar ke Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan bagi setiap orang di dunia, sekaligus sebuah cara agar suatu bangsa bisa menjadi lebih maju serta beradab. Akan tetapi, keinginan seseorang untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti ke perguruan tinggi terkadang menemui berbagai hambatan salah satunya adalah biaya. Melihat hal ini BSI menyerahkan dana beasiswa senilai 2,3 miliar rupiah yang diharapkan dapat membantu biaya kuliah para mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Penyerahan dana beasiswa dilaksanakan secara simbolis oleh Ficko Hardowiseto selaku Regional CEO PT Bank Syariah Indonesia, Tbk Region Office VII Semarang kepada Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Selasa(1/10), di Ruang Pimpinan UGM.

Ficko Hardowiseto menyebutkan bahwa program beasiswa ini dilaksanakan sebagai kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebagai zakat perusahaan yang diambil dari keuntungan BSI. “Kegiatan BSI Scholarship ini adalah kegiatan rutin dari BSI, kenapa? Karena kami memang bank syariah ini selalu menyisihkan zakat perusahaannya, jadi ini yang sesuai dengan tagline kami bahwa BSI ini sahabat finansial, sahabat sosial, dan sahabat spiritual,” Jelas Ficko

Ficko juga menyatakan harapannya supaya program beasiswa ini dapat menjadi suatu hal yang bermanfaat bagi Universitas dan juga para mahasiswa yang kuliah di UGM. “Mudah-mudahan ini bisa bermanfaat untuk UGM dan juga untuk Adik-adik mahasiswa,” ujarnya.

Arie Sujito menyampaikan apresiasi kepada Bank BSI atas bantuan beasiswa yang diberikan ke mahasiswa UGM. Arie menyetujui pernyataan Ficko Hardowiseto bahwa kegiatan ini bukan hanya sekedar funding namun juga memiliki nilai sosial dan juga spiritual. “Kerjasama seperti ini bukan saja semata-mata punya makna sebagai  funding tapi juga makna spiritualitas, makna sosial dan sebagainya” Jelas Dr. Arie Sujito

Lebih jauh Arie menambahkan bahwa ia dan seluruh pihak terkait di UGM  saat ini sedang berusaha keras supaya program beasiswa yang sudah ada tetap terus berjalan sesuai dengan values UGM sebagai Universitas Kerakyatan. “Pihak Universitas akan berusaha untuk terus mengakomodasi agar mahasiswa bisa untuk terus melanjutkan pendidikan mereka hingga selesai,” tegasnya.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel BSI Serahkan Dana Beasiswa Senilai Rp 2,3 Miliar ke Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bsi-serahkan-dana-beasiswa-senilai-rp-23-miliar-ke-mahasiswa-ugm/feed/ 0
Peduli Difabel, Mahasiswa UGM Elsa Firlyani Raih Penghargaan di Pilmapres Nasional https://ugm.ac.id/id/berita/peduli-difabel-mahasiswa-ugm-elsa-firlyani-raih-penghargaan-di-pilmapres-nasional/ https://ugm.ac.id/id/berita/peduli-difabel-mahasiswa-ugm-elsa-firlyani-raih-penghargaan-di-pilmapres-nasional/#respond Tue, 03 Sep 2024 01:30:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70222 Mahasiswa UGM kembali meraih prestasi membanggakan di kompetisi nasional. Kali ini, prestasi gemilang tersebut ditorehkan mahasiswa Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM, Elsa Firlyani. Ia berhasil meraih Penghargaan Khusus Kategori Peduli Difabel Program Diploma dalam acara puncak Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2024 yang dilaksanakan di Universitas Negeri Gorontalo, 24—28 Juli lalu. […]

Artikel Peduli Difabel, Mahasiswa UGM Elsa Firlyani Raih Penghargaan di Pilmapres Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa UGM kembali meraih prestasi membanggakan di kompetisi nasional. Kali ini, prestasi gemilang tersebut ditorehkan mahasiswa Program Studi Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM, Elsa Firlyani. Ia berhasil meraih Penghargaan Khusus Kategori Peduli Difabel Program Diploma dalam acara puncak Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2024 yang dilaksanakan di Universitas Negeri Gorontalo, 24—28 Juli lalu.

Elsa, panggilan akrabnya, terpilih untuk mewakili UGM dan Yogyakarta pada ajang tersebut setelah pada melalui proses seleksi yang ketat pada tahap seleksi universitas dan regional. Mahasiswa angkatan 2021 ini merasa sangat bangga sebab dapat mengharumkan nama UGM di kancah nasional. Ia sendiri tertarik untuk mengikuti seleksi sebab penasaran mengenai proses seleksi dan keinginannya untuk membagikan ilmu seputar seleksi mahasiswa berprestasi (mapres). Tidak hanya itu, keikutsertaan Elsa pada kegiatan ini juga didukung oleh keinginan untuk terus maju dan berkembang.

“Saya menjadikan ajang mapres sebagai pemaksimalan potensi diri karena seleksi mapres ini mengarahkan peserta untuk mengenal diri sendiri dan visi yang dibawa,” jelasnya.

Sebelum meraih gelar yang membanggakan tersebut, proses yang dilalui oleh Elsa tidaklah mudah. Awalnya, ia mengikuti proses seleksi di tingkat Sekolah Vokasi dan menjadi salah satu perwakilan di seleksi universitas. Kemudian, ia bersama perwakilan sekolah dan fakultas di UGM kembali mengikuti seleksi universitas. Pada tahap kali ini, Elsa meraih Juara 1 Diploma dan terpilih untuk mewakili UGM di seleksi regional. Perjuangan Elsa di regional Yogyakarta berbuah manis, ia meraih Juara 3 Diploma Yogyakarta.

Proses berikutnya adalah seleksi awal nasional. Uniknya, meskipun Elsa meraih Juara 3 di tahap sebelumnya, ia terpilih menjadi salah satu dari dua perwakilan Yogyakarta di nasional. Tentunya, pada tahap ini seleksi semakin ketat bagi Elsa.

Saat di seleksi nasional, ada beberapa unsur penilaian oleh dewan juri diantaranya capaian unggulan yang merupakan kombinasi dari beberapa aspek prestasi seperti juara perlombaan, kepemimpinan, atau publikasi ilmiah. Selain itu, sebagai perwakilan diploma, Elsa harus menyiapkan produk inovatif. “Produk inovatif yang aku bawakan adalah permainan yang melatih manajemen keuangan pada remaja,” paparnya.

Permainannya yang dibawa Elsa berupa board game yang di setiap kartunya ada pendidikan manajemen keuangannya. Pemain akan melempar dadu dan berjalan sesuai petakan. Pada setiap petaknya, pemain akan mendapatkan kartu yang berisi pilihan-pilihan untuk memanajemen keuangannya.

“Misalnya, saat pemain dihadapkan dengan keputusan untuk membeli saham, nanti permainan akan mengingatkan pemain untuk membeli saham dengan uang dingin. Jadi, selain melatih manajemen keuangan, permainan ini juga melatih manajemen emosi,” terangnya.

Melalui permainan yang diberi nama Prosperify, Elsa melangkah ke tahap nasional. Dengan branding sebagai economic storyteller, ia membawakan gagasan dan produknya kepada dewan juri. Namun, dewan juri melihat hal lain pada presentasi Elsa, yaitu kepeduliannya kepada teman-teman difabel.

Selama berkuliah di UGM, Elsa aktif berkegiatan dan membantu teman-teman difabel. Ia bahkan sempat mempelajari bahasa isyarat. Ia juga dekat dengan Kak Lia, seorang teman tuli yang mengajarkan Elsa bahasa isyarat. Tidak jarang, mereka berdua membuat proyek bersama. Selain itu, Elsa juga bergabung dengan UKM Peduli Difabel, sebuah unit kegiatan mahasiswa di universitas yang aktif membantu teman-teman difabel. Dengan pengalaman yang ia miliki, Elsa membawakan gagasan mengenai pentingnya kesadaran akan kehadiran teman-teman difabel.

“Harus dimulai dengan memperbaiki pola pikir tentang teman-teman difabel. Kita masih sering melihat teman-teman ini dijadikan bahan candaan di lingkungan sekitar. Kedua, memperbaiki cara komunikasi dengan teman-teman difabel dengan belajar bahasa isyarat. Terakhir, infrastruktur yang dibuat harus mendukung kondisi teman-teman difabel, misalnya seperti UGM yang mulai menambahkan jalur kursi roda di gedung-gedung perkuliahan,” urainya mengenai kepedulian kepada teman-teman difabel.

Adanya gelar mahasiswa Peduli Difabel bagi Elsa menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya. Mahasiswa yang juga aktif di kegiatan panahan ini menganggap gelar tersebut sebagai amanah dan harus diemban dengan sebaik mungkin. Selain itu, ia juga menekankan pada diri sendiri bahwa dengan adanya amanah tersebut, ia juga harus semakin giat beraktivitas dan lebih dekat dengan teman-teman difabel. Dengan amanahnya ini, Elsa dengan gagasan yang dibawa siap berjuang untuk membuat teman-teman difabel tidak lagi terpinggirkan.

Keikutsertaan Elsa pada kegiatan Pilmapres 2024 ini menguji kegigihannya. Prosesnya yang panjang menguji ketekunannya dalam berlomba. Elsa menyebut, “Pilmapres adalah ajang yang menguji kegigihan sebab prosesnya panjang dan banyak bertemu teman mahasiswa dan juga juri penilai yang pastinya memberi sebuah pemahaman baru. Namun, musuh terbesarnya adalah tetap diri sendiri seperti bagaimana cara menyikapi tantangan, berpikir kritis, menerima masukan. Aku harus tetap gigih dan konsisten.”

Elsa sendiri sempat merasa semangatnya menurun, tetapi ia mengingat lagi bahwa alasannya untuk ikut Pilmapres bukanlah untuk meraih gelar. Mahasiswi yang kini semester tujuh ini merasa tujuannya lebih besar daripada gelar, yaitu bermanfaat untuk semua. Selain itu, adanya dukungan dari UGM sangat membantu.

“Dosen, tenaga pendidik, Kommapres bahkan tenaga magang memberikan 1000% usaha dan semangat untuk aku. Ekosistem UGM sangat mendukung bahkan lebih besar daripada semangatku sendiri,” kenang Elsa pada orang-orang yang mendukungnya selama ini.

Kini, gelar telah diraih Elsa. Ia berpesan kepada teman-teman mahasiswa yang ingin mengikuti kegiatan mahasiswa berprestasi untuk bersiap sedari dini. Namun, mahasiswi yang pernah meraih Juara 1 CSA Equity Research Competition ini menekankan bahwa mapres bukanlah satu-satunya cara berprestasi. “Mapres hanya salah satu cara memaksimalkan potensi. Tidak jadi mapres bukan berarti tidak prestasi atau tidak keren. Meraih prestasi saat kuliah bisa dilakukan dengan banyak cara,” ucap Elsa.

Penulis : Lazuardi

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Peduli Difabel, Mahasiswa UGM Elsa Firlyani Raih Penghargaan di Pilmapres Nasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peduli-difabel-mahasiswa-ugm-elsa-firlyani-raih-penghargaan-di-pilmapres-nasional/feed/ 0
Johar Ma’mun, Anak Petani Asal Cilacap Lulus Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/johar-mamun-anak-petani-asal-cilacap-lulus-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/johar-mamun-anak-petani-asal-cilacap-lulus-cumlaude-di-ugm/#respond Thu, 29 Aug 2024 05:46:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70059 Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Johar Ma’mun, usia 22 tahun, merupakan salah satu dari 1.797 lulusan Program Sarjana yang diwisuda Rabu (28/8) kemarin di Grha Sabha Pramana UGM. Johar merupakan salah satu penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang berhasil lulus cumlaude dengan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) […]

Artikel Johar Ma’mun, Anak Petani Asal Cilacap Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Johar Ma’mun, usia 22 tahun, merupakan salah satu dari 1.797 lulusan Program Sarjana yang diwisuda Rabu (28/8) kemarin di Grha Sabha Pramana UGM. Johar merupakan salah satu penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang berhasil lulus cumlaude dengan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 3,75. Tak hanya lulus dengan predikat cumlaude, Johar juga sudah berhasil diterima kerja di Kantor Akuntan Publik Ernst and Young.

Johar merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Muhlasin (64) dan Saminah (64). Sang Ayah merupakan seorang anak petani asal sebuah dusun kecil di Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Meski sang Ayah tidak menamatkan bangku Sekolah Dasar, namun kegigihan untuk menyekolah anaknya tidak pernah pupus. Johar merupakan sarjana pertama dari keluarga besarnya.

Bisa kuliah di perguruan tinggi tentu menjadi impian setiap orang. Begitu juga dengan Johar. Bahkan dia tidak pernah menyangka bisa diterima kuliah di UGM melihat kondisi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.  “Selepas SMP benarnya Bapak ingin saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren karena keluarga semua ke pesantren. Namun ibu mendukung saya melanjutkan ke SMA karena melihat nilai-nilai saya saat SMP bagus, selalu juara kelas. Begitupun para guru di sekolah yang mendorong saya untuk melanjutkan ke SMA,” paparnya.

Dari momen itulah Johar semakin menguatkan keyakinan untuk menggapai impian meraih pendidikan di perguruan tinggi. Johar pun melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA N 1 Cilacap. Saat di bangku SMA pun Johar berhasil menorehkan prestasi. Selain menempati posisi juara kelas, dia juga kerap mengikuti berbagai kompetisi, salah satunya Olimpiade Ekonomi.

Selepas lulus SMA, Johar pun menyampaikan keinginan untuk kuliah secara terang-terangan kepada orang tuanya. Mafhum dengan kondisi keluarga, Johar meyakinkan orang tuanya ia akan mencari beasiswa. “Awalnya orang tua ragu, tetapi saya sampaikan ke orang tua jika ada beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Saya meyakinkan mereka bahwa akan memanfaatkan peluang tersebut,” tuturnya.

Akhirnya Johar mendaftar kuliah melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2020 dan berhasil diterima di Universitas Diponegoro. Kala itu sebenarnya keinginan masuk UGM sangat kuat, tetapi dia tidak memilihnya karena melihat ketatnya persaingan masuk. Meski telah diterima masuk perguruan tinggi lewat jalur SBMPTN, hati kecil Johar masih sangat berharap untuk bisa kuliah di UGM. Lalu, dia kembali memanfaatkan peluang terakhir masuk UGM melalui jalur Ujian Mandiri (UM) UGM dengan pilihan prodi Akuntansi FEB UGM. “Begitu tahu diterima, saya sangat senang. Ternyata ketakutan saya tidak bisa masuk UGM terpatahkan. Orang tua pun langsung menangis dan sujud syukur mengetahui saya diterima di UGM,” ungkapnya.

Beasiswa KIPK diakui Johar sangat membantu kehidupannya selama menjalani studi di UGM. Bagi Johar, adanya beasiswa ini sangat membantu dirinya dan mahasiswa dari keluarga keterbatasan ekonomi bisa meraih mimpinya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Tak hanya aktif di perkuliahan, lelaki berkacamata ini juga aktif mengikuti berbagai kompetisi. Dia pun berhasil menorehkan sederet prestasi, beberapa diantaranya 1st Runner up of Audit Phoria 4.0 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN (2023), 1st Winner of Accounting Excellence Olympiad Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN (2023), 1st Runner up of Pekan Ilmiah Akuntansi (PIA) Universitas Jenderal Soedirman (2023), 1st Runner up of Indonesia Sharia Financial Olympiad Otoritas Jasa Keuangan (2023), dan 1st Winner of LCC SEMARCOOPFEST Universitas Sebelas Maret (2021). Johar juga sempat melakukan magang di beberapa perusahaan atau institusi di tanah air untuk mengasah kemampuannya sebelum terjun dalam dunia pekerjaan yang sesungguhnya.

Kisah Johar ini telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Melalui ketekunan, usaha keras, serta doa, Johar yang merupakan seorang anak petani dari sebuah desa kecil berhasil menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dicapai di dunia.

“Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa. Jangan pernah menyerah, selagi masih ada kemampuan disertai kerja keras akan banyak kesempatan dan kemungkinan yang bisa didapatkan,” pesannya.

Reportase : Kurnia Ekaptiningrum 

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Johar Ma’mun, Anak Petani Asal Cilacap Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/johar-mamun-anak-petani-asal-cilacap-lulus-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Anak Buruh Tani Asal Aceh, Arnia Fatmawati Berhasil Masuk Teknik Nuklir UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-tani-asal-aceh-arnia-fatmawati-berhasil-masuk-teknik-nuklir-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-tani-asal-aceh-arnia-fatmawati-berhasil-masuk-teknik-nuklir-ugm/#respond Wed, 31 Jul 2024 01:27:17 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68208 Arnia Fatmawati Mirsanda (17) terlihat bahagia saat selesai mengikuti rangkaian pembukaan PIONIR Gadjah Mada di hari pertama di lapangan Pancasila, Senin (29/7). Mengenakan jas almamater, Nia, biasa ia dipanggil, tampak bangga menceritakan kegiatannya di hari pertama sebagai mahasiswa baru Program Studi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM.  Nia menjadi salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang […]

Artikel Anak Buruh Tani Asal Aceh, Arnia Fatmawati Berhasil Masuk Teknik Nuklir UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Arnia Fatmawati Mirsanda (17) terlihat bahagia saat selesai mengikuti rangkaian pembukaan PIONIR Gadjah Mada di hari pertama di lapangan Pancasila, Senin (29/7). Mengenakan jas almamater, Nia, biasa ia dipanggil, tampak bangga menceritakan kegiatannya di hari pertama sebagai mahasiswa baru Program Studi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM. 

Nia menjadi salah satu dari 10.678 mahasiswa baru yang diterima di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2024 dan wajib mengikuti kegiatan PIONIR sebelum kegiatan perkuliahan dimulai. PIONIR Gadjah Mada merupakan kegiatan pembelajaran, pengenalan, penggalian potensi, dan orientasi untuk mendidik calon pemimpin muda yang memiliki visi seiring dengan nilai-nilai ke-UGM-an, dan akan berlangsung hingga 3 Agustus nanti.

Nia merupakan anak buruh tani yang tinggal di Desa Lhang, Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ayahnya, Arman (45), hanyalah tamatan SMP yang bekerja sebagai buruh tani harian lepas yang menggarap lahan sawah orang lain. Sedangkan ibunya, Muasiah (43), adalah Ibu Rumah Tangga yang terkadang membantu suaminya jika ada panggilan kerja. “Penghasilan tiap bulan tidak menentu, terkadang 700ribu, bisa sampai satu juta kalau sedang banyak yang butuh tenaga buruh,” ujar Arman. 

Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, terkadang Arman juga bekerja sebagai buruh bangunan jika sedang tidak pergi ke ladang. Dari pekerjaan tidak tetap inilah, Arman memenuhi kebutuhan sekolah bagi kedua anaknya. Beruntung bagi Arman, Nia anak sulungnya memiliki prestasi akademik dan non-akademik yang baik di sekolah. Selain pernah menjabat sebagai Ketua OSIS, Nia juga pernah terpilih menjadi Duta Pelajar Kamtibmas se-Kabupaten Aceh Barat Daya, serta menjuarai Lomba Desain Poster FLS2N tingkat Kabupaten. “Tadinya saya tidak yakin kalau Nia bisa kuliah di UGM. Selain keterbatasan ekonomi, saya tidak bisa membayangkan kalau dia merantau ke Pulau Jawa sendirian. Kami tidak punya sanak saudara dan kenalan di Jogja,” ungkap Arman.

Kini, dengan adanya kepastian beasiswa, Arman pun mulai melunak. Dia mendoakan Arnia bisa menjalani kuliah dengan baik dan lulus tepat waktu. Ia pun mengikuti kegiatan Temu Orang Tua Mahasiswa Baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan Tahun Akademik 2024/2025 di Grha Sabha Pramana pada Senin (29/7) kemarin. “Ternyata ada banyak mahasiswa baru yang dapat beasiswa seperti Nia. Terima kasih UGM sudah memberikan kesempatan ke anak-anak tidak mampu ini untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ucapnya penuh syukur.

Sama seperti mahasiswa penerima Uang Kuliah Tunggal Pendidikan Unggul bersubsidi 100% (UKT 0) lainnya, Nia, lulusan SMA Negeri 1 Aceh Barat Daya ini akan dibebaskan dari biaya pendidikan selama kuliah. Nia diterima di Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Nuklir melalui jalur Seleksi Nasional Berdasar Prestasi (SNBP). “Masih tidak menyangka bisa diterima di UGM, apalagi SMA saya dulu bukan termasuk jajaran top 1000 sekolah terbaik di Indonesia,” ucapnya riang.

Memiliki keinginan untuk merubah nasib keluarga, pilihannya ke UGM tidaklah mudah karena harus melalui perdebatan dengan sang ayah tercinta. “Karena ayah tidak mau saya putus kuliah di tengah jalan, ayah lebih memilih saya kuliah di Aceh saja,” dia bercerita. 

Beasiswa yang ia peroleh semakin mengobarkan semangatnya untuk lulus kuliah tepat waktu, meskipun kuliah di Teknik Nuklir terhitung anti-mainstream bagi sebagian orang awam. “Banyak yang berpikir kalau nuklir itu tidak baik, padahal penggunaan teknologi nuklir itu luas sekali, mulai dari pembangkit daya, radiasi dalam dunia industri, hingga radiologi klinik untuk diagnosa medis,” tutur Nia. 

Keinginannya untuk memperdalam ilmu nuklir dikarenakan hobi membaca yang ia tekuni semenjak sekolah dasar dan ia mulai terpapar dengan banyak informasi terkait nuklir semenjak SMA. Dia pun berdoa agar bisa bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) atau industri lain yang terkait dengan teknik nuklir untuk memajukan teknologi nuklir di Indonesia.

Penulis : Triya Andriyani

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Anak Buruh Tani Asal Aceh, Arnia Fatmawati Berhasil Masuk Teknik Nuklir UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-tani-asal-aceh-arnia-fatmawati-berhasil-masuk-teknik-nuklir-ugm/feed/ 0
Kisah Damar, Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di Prodi Kedokteran UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-damar-anak-tukang-bengkel-diterima-kuliah-gratis-di-prodi-kedokteran-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-damar-anak-tukang-bengkel-diterima-kuliah-gratis-di-prodi-kedokteran-ugm/#respond Fri, 26 Jul 2024 10:34:01 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67863 Keterbatasan ekonomi bukanlah alasan bagi siapapun untuk meraih mimpinya. Termasuk bagi Damar Madya Prasetya (19). Anak kedua dari pasangan Mohammad Sarip (49) dan Yayuk Suprihatin (49) tinggal di rumah yang cukup sederhana di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu motor di daerah Mangkuyudan, Mantrijeron, Yogyakarta. Sehari-hari Mohammad Sarif bekerja menjadi tukang bengkel […]

Artikel Kisah Damar, Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di Prodi Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keterbatasan ekonomi bukanlah alasan bagi siapapun untuk meraih mimpinya. Termasuk bagi Damar Madya Prasetya (19). Anak kedua dari pasangan Mohammad Sarip (49) dan Yayuk Suprihatin (49) tinggal di rumah yang cukup sederhana di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu motor di daerah Mangkuyudan, Mantrijeron, Yogyakarta.

Sehari-hari Mohammad Sarif bekerja menjadi tukang bengkel dengan penghasilan kurang dari satu setengah juta per bulan. Sebab, penghasilannya berdasarkan jumlah motor yang berhasil diperbaikinya per hari.

Sarif sudah melakoni pekerjaannya sejak 21 tahun lalu. Dari pekerjaan itulah, asap dapur di rumahnya bisa terus mengepul dan membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya. Sedangkan istrinya, Yayuk, merupakan Ibu Rumah Tangga yang rutinitas sehari-harinya memasak dan mengurus keluarganya.

Meskipun tumbuh di keluarga dengan keterbatasan ekonomi, anak keduanya, Damar Madya Prasetya memiliki berbagai prestasi dan talenta yang membanggakan. Di bangku SMP dan SMA, Damar sudah meraih berbagai prestasi dan kejuaraan yang didapatkan hingga tingkat Nasional. Mulai dari perlombaan menyanyi, lomba macapat (tembang Jawa), lomba menggambar, lomba desain poster, serta FLS2N. Selain prestasi non akademik, Damar juga menyeimbangkan kualitas dirinya untuk aktif mengikuti organisasi. Ia pernah menjabat menjadi Ketua Osis dan Ketua MPK (Majelis Perwakilan Kelas) semasa sekolah.

Damar sendiri sudah menginginkan untuk bisa kuliah di prodi Kedokteran Universitas Gadjah Mada sejak di bangku SMP. Keinginannya didukung dengan motivasinya yang kian meningkat setiap kali mengantar sang Ibu kontrol kesehatan di rumah sakit. “Setiap kali kontrol, saya kepikiran, kok hebat ya seorang dokter bisa membantu untuk menyembuhkan keluhan pasien-pasiennya. Dan mulai dari situ, sebenarnya sudah kepikiran untuk kayaknya kuliah di kedokteran bagus,” jelasnya.

Menjelang kelulusannya di SMA Negeri 1 Yogyakarta, Damar mencoba mendaftar kuliah di Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Beruntung bagi Damar, ia diterima kuliah di prodi yang paling diminati oleh para calon mahasiswa di setiap perguruan tinggi.

Namun saat menunggu pengumuman biaya UKT, perasaan Damar menjadi campur aduk mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang menurutnya tidak akan bisa memenuhi kebutuhannya selama kuliah kelak. “Melihat dari kondisi ekonomi, bisa dikatakan, masih menengah ke bawah banget. Jadi kayak belum sepenuhnya yang bisa menutupi segala keperluan kuliah, apalagi bayar UKT, di kedokteran lagi,” ujarnya.

Berkat doa dari orang tua dan kegigihannya, Damar beserta kedua orang tuanya merasa bersyukur setelah mendapat kabar jika  Damar akhirnya mendapatkan Beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM sehingga ia digratiskan dari biaya kuliah. “Kami sangat bersyukur sekali. Sejak kecil ia sudah bercita-cita kuliah di kedokteran UGM, akhirnya bisa tercapai,” kata Yayuk dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai seorang Ibu, kata Yayuk, dirinya sangat mendukung keinginan sang anak untuk melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin. Baginya, pendidikan itu menjadi nomor satu untuk anaknya dan harus diperjuangkan. “Pendidikan anak itu harus kita dukung, apalagi dengan keadaan kami sekarang. Saya nggak mau ketika anak-anakku ini harus lebih sedih daripada keadaan saya,” ujarnya.

Melihat keberhasilan Damar bisa kuliah di prodi kedokteran UGM, Yayuk kembali teringat dengan kegigihan Damar sejak kecil hingga sekarang dalam menjalankan pendidikannya yang selalu ingin berprestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah. Meski begitu, Yayuk tak pernah lupa untuk mengingatkan Damar agar selalu rendah hati dalam menjalani setiap proses kehidupannya. “Karena memang dasarnya kami orang gak punya. Sehingga sejadi apapun besok, kamu (Damar) harus tetap rendah hati,” pesannya kepada Damar.

Penulis: Lintang

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Damar, Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di Prodi Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-damar-anak-tukang-bengkel-diterima-kuliah-gratis-di-prodi-kedokteran-ugm/feed/ 0
Anak Petani Penggarap Asal Wonosari Diterima Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-petani-penggarap-asal-wonosari-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-petani-penggarap-asal-wonosari-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Fri, 26 Jul 2024 09:56:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67838 Menjadi petani penggarap di tanah kas desa menjadi satu-satunya penghasilan Supriyono (54), dan istrinya Indah Winarti (52) untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Mengandalkan penghasilan kurang dari satu juta rupiah perbulan dari hasil budidaya bertanam cabai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya di Dusun Ngisis, Desa Piyaman, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di usianya yang sudah […]

Artikel Anak Petani Penggarap Asal Wonosari Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Menjadi petani penggarap di tanah kas desa menjadi satu-satunya penghasilan Supriyono (54), dan istrinya Indah Winarti (52) untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Mengandalkan penghasilan kurang dari satu juta rupiah perbulan dari hasil budidaya bertanam cabai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya di Dusun Ngisis, Desa Piyaman, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Supriyono menderita penyakit batu ginjal dan telah melakukan operasi sebanyak 7 kali sejak tahun 2016 lalu. Kondisi ekonomi yang pas-pasan dan tubuh yang sudah tak lagi prima itu membuatnya merasa tak mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk kehidupan anaknya. Ia pun hanya mampu pasrah.

“Jujur, nangis saya. Sebagai orang tua, saat anak punya kemauan, kita gak bisa ngasih. Jadi beban. Harus gimana saya ini, sedang saya pengen anak-anak saya itu hidupnya lebih dari saya,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Di tengah kesulitan ekonomi yang membebani keluarganya, ada secercah harapan bagi Supriyono saat anak bungsunya, Agil Priyojatmiko (18) diterima kuliah di Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) dengan beasiswa UKT pendidikan Unggul Bersubsidi sebesar 100 persen dari UGM, membuatnya langsung bersujud syukur. Ia berharap anak bungsunya kelak bisa mengangkat derajat ekonomi keluarga. “Saya sempat bersujud syukur saat Agil diterima dan dapat beasiswa UKT 100 persen. Saya bersyukur sekali,” katanya.

Apa yang didapat oleh Agil saat ini menurutnya merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi selama ini Agil selalu disiplin dalam belajar dan taat beribadah.

Selama bersekolah di SMAN 1 Wonosari, Agil selalu menunjukkan prestasi di kelas. Bahkan ia sering berprestasi dalam berbagai kegiatan perlombaan. Agil pernah  mengikuti Lomba Debat Bahasa Indonesia hingga mendapat predikat best speaker ke-3 se-Gunung Kidul, juara 1 bidang MTQ  setingkat kabupaten Gunungkidul, dan lomba juara 1 Pleton Inti (Tonti) juara 1 tingkat kabupaten Gunungkidul.

Dalam isak tangisnya, Agil menceritakan bahwa ia menyadari bahwa keputusannya untuk kuliah dengan kondisi keterbatasan ekonomi merupakan sesuatu hal yang berat baginya. Namun berkat dorongan dari guru di sekolahnya, ia memantapkan hati untuk mendaftar kuliah di UGM, dengan harapan suatu saat kelak ia dapat meringankan beban kedua orang tuanya. “Saya paham kalau orang tua belum mampu untuk menguliahkan saya, dua orang kakak saya juga tidak sempat kuliah. Saya selalu ingat pesan guru saya, ‘biaya itu bisa dicari’,” kenangnya.

Terakhir, Supriyono berpesan bahwa dalam berkuliah di UGM kelak, Agil dimintanya tetap memegang teguh kejujurannya, belajar yang tekun, dan jangan pernah meninggalkan ibadah. “Kalau Agil belajarnya semangat, Bapak juga tentrem,” pungkasnya.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Anak Petani Penggarap Asal Wonosari Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-petani-penggarap-asal-wonosari-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0
Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Diterima Kuliah Gratis di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-pengrajin-bambu-dari-buleleng-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-pengrajin-bambu-dari-buleleng-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/#respond Fri, 26 Jul 2024 06:34:30 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67820 Ni Putu Dinda Regina (18), tak henti-henti menyeka air matanya. Ia begitu bersyukur bisa diterima kuliah di kampus Universitas Gadjah Mada. Pasalnya, ia sudah berencana untuk melamar kerja di toko karena melihat kondisi ekonomi keluarga yang mengandalkan dari upah pengrajin anyaman sokasi sulit untuk membiayai kuliahnya kelak. Beruntung, guru bimbingan konseling di sekolahnya menyarankan untuk […]

Artikel Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ni Putu Dinda Regina (18), tak henti-henti menyeka air matanya. Ia begitu bersyukur bisa diterima kuliah di kampus Universitas Gadjah Mada. Pasalnya, ia sudah berencana untuk melamar kerja di toko karena melihat kondisi ekonomi keluarga yang mengandalkan dari upah pengrajin anyaman sokasi sulit untuk membiayai kuliahnya kelak. Beruntung, guru bimbingan konseling di sekolahnya menyarankan untuk mendaftar kuliah sambil mencari peluang beasiswa di kemudian hari. Saran itu pun diambil oleh Regina.

Keluarga Regina tinggal di daerah perbukitan di desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Daerah ini dikenal sulit air. Setiap harinya, setiap keluarga di desa ini harus mengambil air yang berjarak kurang lebih 5 kilometer. Bahkan untuk keperluan mandi cuci kakus saja, keluarga Regina masih menggunakan kamar mandi sederhana yang berada di luar rumah. Kamar mandi itu hanya mengandalkan dinding dari atap asbes bekas, lantainya dari bata bekas yang disusun seadanya. Lalu sisa pecahan genteng disulap jadi lubang kloset.

Kehidupan yang sulit tidak menyurutkan langkah Regina yang sejak kecil sudah bercita-cita untuk menjadi penjaga keadilan hukum di masyarakat. Beruntung, ia diterima di Fakultas Hukum UGM dengan beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen.

Saat ditemui di rumahnya yang masih berdinding batako dengan isi rumah yang sangat sederhana. Ruang tamu berukuran kecil yang dibuat memanjang digunakan untuk menyimpan tumpukan sokasi yang sudah hampir selesai dianyam. Persis sebelah pintu masuk, terdapat meja kecil yang sehari-hari digunakan Regina untuk belajar.

Regina mengaku masih merasakan seperti mimpi melihat kenyataan dirinya diterima kuliah di Fakultas Hukum UGM. Tidak terbayangkan oleh dirinya sebelumnya, seorang anak gadis desa tinggal di pedalaman perbukitan bisa diterima kuliah di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Saking tidak percaya dirinya, ia sempat menyembunyikan informasi terkait pendaftaran kuliahnya di UGM pada teman-teman di sekolahnya. “Saya nggak kepikiran akan kuliah, maunya bakalan kerja dulu nanti baru mikirin kuliah,” kenangnya.

Regina masih ingat, saat ia menyampaikan maksudnya untuk mendaftar kuliah ke ibunya, Ni Kadek Nely Supriyati (43), dengan meyakinkan bahwa ibunya tidak usah khawatir soal biaya karena ia juga mendaftar beasiswa.

“Nanti pas nggak dapat beasiswa, gimana?”

“Tapi saya mau coba dulu, Bu.”

Sang ibunda tidak pernah melarang keinginan sang anak. Meski dari pekerjaan ia dan suami sebagai pengrajin bambu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan cukup membeli bensin motor untuk keperluan Regina ke sekolah di SMAN 1 Singaraja yang jaraknya 17 kilometer dari rumahnya.

“Setiap tiga hari sekali dikasih uang 50 ribu untuk ganti bensin boncengan dengan teman ke sekolah,” katanya.

Di sekolah, Regina dikenal dengan anak yang cukup cerdas. Selain sering juara kelas, nilai mata pelajaran IPS seperti Geografi dan Ekonomi,  ia selalu mendapat nilai 9. “Selama tiga tahun sering juara 2 dan pernah juara 4 pas di awal, tapi nilai selalu naik terus,” ujarnya.

Untuk mendukung belajar di sekolah, Regina mengandalkan buku-buku LKS yang ia beli di sekolah. Sedangkan untuk buku cetak sudah didapatkan dari sekolah secara gratis. Sedangkan untuk waktu belajarnya, Regina mengaku menyempatkan waktu sekitar 1-2 jam menjelang tidur. “Sore hari setelah pulang sekolah, saya membantu ibu buat anyaman. Sekitar jam 8 malam saya mulai belajar dan buka buku,” katanya.

Kehidupan keluarga yang penuh kesederhanaan ini, Regina tahu diri untuk tidak menuntut banyak ke kedua orang tuanya. Apalagi sang Ayah, I Gede Suastra Jaya (44) beberapa tahun lalu pernah terkena serangan stroke ringan. Praktis pekerjaan yang dilakoninya sekarang ini membantu sang istri membuat anyaman dan berjualan bensin eceran di depan rumahnya.

Tepat di hari pengumuman kelulusan tiba, Regina masih ingat persis saat pulang sekolah, dia tidak begitu antusias untuk membuka layar ponselnya karena ia merasa tidak akan lolos. Kalau pun lolos, ia hanya diterima di salah perguruan tinggi negeri di Bali. “Saya nggak yakin bakalan diterima, jadi nggak bilang ke teman-teman, kebetulan waktu itu link web sempat error,” kenangnya.

Selang beberapa jam kemudian, Regina mencoba membuka situs pengumuman SNBP. Dia tidak menyangka namanya terdaftar diterima kuliah di prodi Ilmu Hukum UGM.

“Saya lolos, Pak” kata regina pada Ayahnya.

Lolos di Bali?

“Nggak, di Jogja”

Kedua orang tua regina senang bukan kepalang, anaknya sulungnya diterima kuliah di PTN.

“Bagaimana dengan biayanya, Nak?”

“Tinggal menunggu pengumuman (beasiswa)”

Menurut Regina, saat itu ayah dan ibunya tampak senang namun juga tidak bisa menyembunyikan raut sedih di wajah mereka memikirkan soal biaya Regina ketika kuliah kelak.

Namun saat registrasi dan pengumpulan dokumen, sang ibunda, Nely Supriyati tidak menyembunyikan kebahagiaannya setelah mengetahui anaknya mendapat beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari kampus UGM.”Saya bersyukur sekali ia bisa kuliah di UGM, apalagi bisa dapat beasiswa,” katanya dengan air mata berurai.

Menurutnya, beasiswa UKT sangat membantu beban ekonomi keluarganya. Nely mengaku, dari penghasilan dirinya dan suami sebagai pengrajin sokasi hanya cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.

Setiap harinya, keduanya dapat menyelesaikan 3-4 anyaman sokasi. Untuk satu sokasi ia jual ke pengepul seharga 20 ribu rupiah. Dari satu anyaman sokasi ini, ia mendapatkan keuntungan bersih sekitar 15 ribu rupiah dipotong dari biaya pembelian bahan baku. “Dalam sebulan, kalau saya dapat 500 ribu, kalo bapak dapat satu jutaan. Sekitar 1,5 juta rupiah berdua,” katanya.

Sebagai orang desa yang tinggal di pedalaman perbukitan, Nely mengaku tidak tahu banyak soal kampus UGM. Yang ia tahu dari televisi atau obrolan dari tetangganya yang menyampaikan bahwa ia menjadi orang tua yang beruntung karena anaknya diterima di kampus pilihan. “Katanya dapat sekolah di UGM itu tidak mudah, orang pilihan katanya,” ujarnya.

Sebagai orang tua, Nely tidak berharap banyak pada anak perempuannya. Apalagi ia dan suami tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, keduanya hanya sampai lulus SMP.  Kini, hanya doa yang ia bisa panjatkan agar Regina bisa meraih mimpi dan cita-cita yang diinginkannya.  “Kita tidak bisa beri bekal apa-apa. Semoga ia bisa sukses menuntut ilmu di sana. Semoga apa yang diinginkannya sesuai harapannya,” jelasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Anak Pengrajin Bambu dari Buleleng Diterima Kuliah Gratis di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-pengrajin-bambu-dari-buleleng-diterima-kuliah-gratis-di-ugm/feed/ 0