FKKMK UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fkkmk-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 06 Nov 2024 04:55:46 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Gandeng Mahasiswa Internasional, UGM Tingkatkan Ketahanan Kesehatan Masyarakat hadapi Dampak Perubahan Iklim https://ugm.ac.id/id/berita/gandeng-mahasiswa-internasional-ugm-tingkatkan-ketahanan-kesehatan-masyarakat-hadapi-dampak-perubahan-iklim/ https://ugm.ac.id/id/berita/gandeng-mahasiswa-internasional-ugm-tingkatkan-ketahanan-kesehatan-masyarakat-hadapi-dampak-perubahan-iklim/#respond Wed, 06 Nov 2024 02:58:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72521 Perubahan iklim telah berdampak di berbagai sektor, tidak hanya lingkungan tetapi juga kesehatan manusia. Dampak perubahan iklim menyebabkan pemenuhan gizi masyarakat tidak tercukupi karena banyak komoditas pangan yang terancam gagal panen, ataupun meningkatnya potensi kanker kulit pada manusia karena tingginya paparan radiasi dari sinar matahari. Menghadapi tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) […]

Artikel Gandeng Mahasiswa Internasional, UGM Tingkatkan Ketahanan Kesehatan Masyarakat hadapi Dampak Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perubahan iklim telah berdampak di berbagai sektor, tidak hanya lingkungan tetapi juga kesehatan manusia. Dampak perubahan iklim menyebabkan pemenuhan gizi masyarakat tidak tercukupi karena banyak komoditas pangan yang terancam gagal panen, ataupun meningkatnya potensi kanker kulit pada manusia karena tingginya paparan radiasi dari sinar matahari. Menghadapi tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada berinisiatif mengambil langkah untuk menghadapi dampak perubahan iklim melalui kegiatan Summer Course 2024 on Interprofessional Healthcare yang mengangkat tema ‘Empowering Communities for Climate Health Resilience’. Kegiatan yang berlangsung 28 Oktober hingga 8 November ini bertujuan memberdayakan komunitas dalam menjaga ketahanan kesehatan di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

Kegiatan Summer Course ini diikuti oleh 28 mahasiswa asal UGM, 5 mahasiswa asal Universitas Pattimura, serta satu mahasiswa asal Universitas Indonesia. Sedangkan untuk mahasiswa asing terdiri dari 24 mahasiswa dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, 1 mahasiswa dari University Putra Malaysia, Malaysia, dan 1 mahasiswa dari University of Malta, Italia. Mereka berkesempatan memahami secara langsung masalah kesehatan masyarakat melalui 10 puskesmas yang tersebar di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta, yaitu Puskesmas Wates, Puskesmas Sentolo 1, Puskesmas Sentolo 2, Puskesmas Pengasih 1, Puskesmas Pengasih 2, Puskesmas Nanggulan, Puskesmas Kalibawang, Puskesmas Lendah 1, Puskesmas Panjatan 2, dan Puskesmas Temon.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., dalam press conference yang dilakukan Selasa (5/11), berujar bahwa permasalahan kesehatan sangatlah kompleks dan tidak bisa berdiri sendiri, diperlukan berbagai disiplin ilmu lain untuk saling berkolaborasi. Menurutnya, permasalahan kesehatan yang terjadi tidak hanya bersifat lokal bahkan internasional. Sehingga wajib untuk melibatkan peserta dari luar negeri agar bisa saling bertukar informasi terkait masalah yang dihadapi masing-masing negara, kemudian berdiskusi untuk menemukan berbagai alternatif solusi. Hal ini yang kemudian dijadikan acuan untuk melaksanakan Summer Course. “Terlebih saat pandemi 2020-2021, jelas sekali tenaga kesehatan tidak bisa berdiri sendiri, lumpuh saat itu, sehingga munculah kontribusi dari berbagai bidang sosial, bahkan ilmu-ilmu yang lain, semua bekerja sama untuk menanggulangi covid yang kita alami,” ujar Ahmad.

Keterlibatan ilmu lain dalam penanggulangan covid inilah yang kemudian menjadi ide untuk bekerja sama dengan fakultas lain selama pelaksanaan Summer Course, seperti Fakultas Geografi, Fakultas Kehutanan, Fakultas Farmasi, serta Fakultas Kedokteran Gigi. Dimulai sejak tahun 2016, pengembangan tema kegiatan akan terus berlanjut mengikuti permasalahan kesehatan global yang harus dihadapi. “Tahun ini tema besarnya adalah climate change, tetapi banyak masalah kesehatan yang sebetulnya butuh pendekatan multidisiplin. Jadi tidak menutup kemungkinan akan ada tema-tema lain di summer course selanjutnya,” tuturnya. Tidak lupa, Ahmad juga mengucapkan terima kasih kepada mitra stakeholders di Kabupaten Kulon Progo yang sudah terlibat dan banyak membantu selama pelaksanaan kegiatan.

Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.DA(K), selaku Ketua Tim International FK-KMK, mengungkapkan bahwa peran komunitas menjadi kunci kesehatan iklim. Ia berujar fokus dalam kegiatan ini terbagi menjadi tiga poin utama, yaitu peningkatan kesadaran dan edukasi sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim. Kedua, strategi adaptasi berbasis komunitas dapat dilakukan melalui keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang dan menerapkan langkah-langkah adaptasi, serta ketiga berupa teknologi dan inovasi sebagai solusi inovatif dalam praktik infrastruktur tangguh iklim dan praktik energi.

Pemilihan Kabupaten Kulon Progo juga dirasa paling pas dengan materi Minor Global Health, course yang harus diambil oleh mahasiswa studi kedokteran asing di luar negaranya. “Kami sudah mencoba Kabupaten lain di daerah Yogyakarta, tapi sepertinya memang yang paling cocok ya di Kulon Progo ini karena peran OPD (Organisasi Perangkat Daerah) sudah tertata dengan baik,” ungkap Gunadi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, dr. Sri Budi Utami menyambut dengan baik program kemitraan yang terjalin dengan UGM. Meskipun mendapatkan anggaran APBD paling kecil dibandingkan dengan sektor lain, satu hal yang disyukuri oleh Sri selain kerja sama kolaboratif lintas sektor yang sudah sangat baik adalah adanya program-program pemberdayaan masyarakat Kulon Progo yang berkelanjutan. “Jika isunya adalah iklim sangat tepat sekali diaplikasikan di sini, contohnya musim tanam sudah tidak bisa diprediksi, nanti pengaruhnya bisa ke ketahanan pangan, kesehatan, dan lainnya,” jelasnya.

Ia juga bercerita menempatkan peserta ke fasilitas kesehatan yang realistis agar mahasiswa bisa membumi dan menumbuhkan rasa empati ke sesama. “Kami berharap program ini bisa berkelanjutan dan mudah-mudahan kami selaku tuan rumah tidak mengecewakan dan bisa mendampingi semuanya agar sesuai dengan yang diharapkan,” tutupnya.

Kegiatan press conference ditutup dengan mengunjungi Dapur Mucuna Chips, salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh Puskesmas Sentolo 1 pada Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK) Kalurahan Kaliagung. Kepala Puskesmas, dr. Renny Lo, menjelaskan kiprahnya dalam membina teman-teman inklusi agar bisa berkelompok sesuai dengan passion yang mereka miliki. “Dibantu Pak Lurah, tahun lalu kami membuka lahan koro benguk seluas 27 hektar, nah hasil panen ini yang kemudian kami olah menjadi keripik, jadi prosesnya sudah sangat baik dari hulu-hilir,” tegas Renny.

Melalui pendampingan berupa pelatihan bagi masyarakat difabel, Renny percaya akan membentuk kemandirian dan individu yang berdaya. Dapur Mucuna Chips saat ini sudah bisa memproduksi keripik dengan jumlah 5kg/hari dengan jangkauan pemasaran yang masih terbatas di Kabupaten Kulon Progo saja. “Sementara ini kami memang masih terus berproses, tetapi dengan kegiatan Summer Course ini, semoga semakin banyak masyarakat yang terinfo akan produk kami,” harap Renny.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Donnie

Artikel Gandeng Mahasiswa Internasional, UGM Tingkatkan Ketahanan Kesehatan Masyarakat hadapi Dampak Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gandeng-mahasiswa-internasional-ugm-tingkatkan-ketahanan-kesehatan-masyarakat-hadapi-dampak-perubahan-iklim/feed/ 0
Kunjungi Sekolah, PKT UGM Sasar Anak Muda Dalam Berinovasi Tangani TBC https://ugm.ac.id/id/berita/kunjungi-sekolah-pkt-ugm-sasar-anak-muda-dalam-berinovasi-tangani-tbc/ https://ugm.ac.id/id/berita/kunjungi-sekolah-pkt-ugm-sasar-anak-muda-dalam-berinovasi-tangani-tbc/#respond Wed, 17 Jul 2024 08:45:58 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67034 Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengadakan acara Tropmed Talk on Stage dengan tema Berinovasi dalam Mengeliminasi TBC, Yes You(th) Can!. Acara dilaksanakan di SMA Negeri 10 Yogyakarta pada hari Selasa (16/7) diikuti 200 siswa-siswi kelas XI. Kegiatan ini dilaksanakan mengingat kasus tuberkulosis (TBC) masih menjadi permasalahan kesehatan di […]

Artikel Kunjungi Sekolah, PKT UGM Sasar Anak Muda Dalam Berinovasi Tangani TBC pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengadakan acara Tropmed Talk on Stage dengan tema Berinovasi dalam Mengeliminasi TBC, Yes You(th) Can!. Acara dilaksanakan di SMA Negeri 10 Yogyakarta pada hari Selasa (16/7) diikuti 200 siswa-siswi kelas XI.

Kegiatan ini dilaksanakan mengingat kasus tuberkulosis (TBC) masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus TBCnya tertinggi di dunia.

Prof. Ari Probandari, MPH Ph.D., selaku koordinator kelompok kerja (pokja) TBC PKT UGM mengatakan dengan tingginya kasus TBC di Indonesia maka diperlukan peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Tak terkecuali pada generasi muda, dan ini pula yang menjadi alasan kenapa Tropmed Talk on Stage edisi TBC ini dilaksanakan di sekolah.

“Setidaknya para peserta paham tanda dan gejala TBC, sehingga kalau dirinya atau orang di sekitarnya mengalami gejala TBC bisa segera memeriksakan diri fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Upaya pro aktif semacam ini, kata Ari, merupakan wujud kontribusi masyarakat dalam upaya penemuan TBC sesuai dengan slogan pemerintah Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB).

Vivi Alfita Devi sebagai penyintas TBC mengaku hal yang memprihatinkan masih adanya stigma terhadap pasien TBC. Saat menjadi pembicara di acara tersebut, ia menyampaikan pesan sekaligus berharap agar masyarakat menjauhi penyakitnya bukan orangnya.

Secara panjang lebar, iapun menceritakan awal mulanya terkena TBC,dan bagaimana  perjuangannya menjalani pengobatan panjang hingga sembuh. “Sayang meski telah sembuh, saya masih harus menghadapi stigma di sekolah bahkan hingga diminta untuk pindah sekolah,” ujar Vivi.

Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A (K) Direktur Zero TB Yogyakarta sekaligus tim dokter RSUP dr. Sardjito yang menangani Vivi mengatakan penyakit TBC yang dialami Vivi tergolong berat. Iapun sangat prihatin seringkali menjumpai pasien-pasiennya masih muda dan menderita TBC berat.

Karenanya, ia sangat bangga melihat perjuangan Vivi sembuh dari penyakit TBC berat. Iapun merasa senang karena setelah dinyatakan sembuh, Vivi bersedia mengedukasi sesamanya berbekal pengalaman yang ia jalani.

“Vivi saat ini tergabung dalam Kader Muda Zero TB yang aktif menyampaikan edukasi terkait TBC kepada masyarakat melalui berbagai cara kreatif. Beberapa produk yang dihasilkan oleh kader muda antara lain pembuatan konten reels hingga video edukasi dengan mengangkat budaya lokal wayang kulit,” terang Rina Triasih.

Narasumber lain Sekar Putri Andriani mewakili Center for Indonesia Medical Student’s Activities (CIMSA) UGM memaparkan aktivitas organisasinya yang berkaitan dengan TBC. Dalam kesempatan ini, ia memotivasi para peserta untuk terlibat aktif dalam upaya edukasi TBC kepada masyarakat.

Menurutnya generasi muda mempunyai potensi yang besar untuk mengedukasi masyarakat perihal TBC melalui kanal-kanal yang biasa digunakan. Iapun berharap siswa-siswi SMA Negeri 10 Yogyakarta menjadi pelopor dalam upaya tersebut.

“It starts with Youth tulis Sekar Putri Andriani dalam materi presentasinya. Melalui presentasinya tersebut maka para peserta bisa memulai aktivitas dengan menyasar keluarga sebagai kelompok yang paling dekat dan paling bisa dijangkau.

Dalam pandangan yang sama, Siva Anggita yang mewakili Indonesia Muda untuk Tuberkulosis (IMUT TB) menyatakan IMUT TB sebagai gerakan yang ia pimpin sudah berdiri sejak 2019, dan beranggotakan anak-anak muda yang mempunyai kepedulian terhadap TBC. Dalam kesempatan ini, ia mengajak beberapa peserta untuk maju ke panggung dan memantik mereka untuk mengeluarkan potensinya dalam edukasi TBC.

Dalam waktu singkat, muncul ide-ide untuk membuat edukasi tentang TBC melalui media sosial. Media sosial, disebutnya menjadi media yang bisa dipergunakan untuk promosi kesehatan tentang TBC.

“Edukasi yang dilakukan oleh anak muda menyasar anak muda lainnya itu penting, karena 30 persen pasien TBC adalah anak muda,” papar Siva.

Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Yogyakarta, Sri Moerni, S.Pd. merasa beruntung sekolahnya dipilih sebagai tempat untuk melaksanakan acara tersebut. Menurutnya, pengetahuan tentang TBC sangat penting.

“Kita berharap para siswa mendapatkan manfaat dari keikutsertaannya di acara ini,” ucap Sri Moerni.

Penulis: Agung Nugroho

Artikel Kunjungi Sekolah, PKT UGM Sasar Anak Muda Dalam Berinovasi Tangani TBC pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kunjungi-sekolah-pkt-ugm-sasar-anak-muda-dalam-berinovasi-tangani-tbc/feed/ 0
FK-KMK UGM dan Universitas Borneo Tarakan Sepakat Jalani Kerja Sama Bidang Pendidikan https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-dan-universitas-borneo-tarakan-sepakat-jalani-kerja-sama-bidang-pendidikan/ https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-dan-universitas-borneo-tarakan-sepakat-jalani-kerja-sama-bidang-pendidikan/#respond Tue, 09 Jul 2024 09:45:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66788 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dan Universitas Borneo Tarakan (UBT) melakukan penandatanganan Nota Perjanjian Kerja Sama (MoA) dalam bidang pendidikan, Selasa (09/07), di Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. Penandatanganan Nota Perjanjian Kerja Sama ini dilakukan oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dengan Rektor Universitas Borneo Tarakan […]

Artikel FK-KMK UGM dan Universitas Borneo Tarakan Sepakat Jalani Kerja Sama Bidang Pendidikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM dan Universitas Borneo Tarakan (UBT) melakukan penandatanganan Nota Perjanjian Kerja Sama (MoA) dalam bidang pendidikan, Selasa (09/07), di Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. Penandatanganan Nota Perjanjian Kerja Sama ini dilakukan oleh Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dengan Rektor Universitas Borneo Tarakan Prof. Dr. Adri Patton, M.Si. Tujuan utama dari kerja sama ini adalah untuk meningkatkan pengembangan kompetensi sumber daya manusia dalam Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter di UBT.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH., mengungkapkan bahwa pertemuan ini menjadi pencapaian bersejarah antara FK-KMK UGM dengan UBT. “Hari ini selain penandatanganan kerja sama, juga ada pembahasan penstatusan hasil seleksi di UBT, sehingga nantinya menentukan keberhasilan untuk angkatan pertama Program Studi Kedokteran UBT dalam mencapai tujuannya,” ungkap Yodi.

Ia berharap, dengan hasil seleksi ini, UBT bisa menempatkan calon-calon yang terbaik untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu menghasilkan lulusan dokter sesuai dengan kualifikasi dan dapat diandalkan. Seperti yang diketahui, FK-KMK UGM mendapatkan mandat sebagai Koordinator Academic Health System (AHS) di wilayah IV meliputi DI. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan seluruh provinsi di wilayah Kalimantan.

Hal ini membuat FK-KMK UGM memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasikan upaya-upaya pembukaan Prodi Kesehatan di wilayah-wilayah tersebut, Penandatanganan perjanjian kerja sama antar kedua institusi ini merupakan salah satu langkah nyata yang FK-KMK UGM lakukan dalam upaya memenuhi pemerataan kebutuhan dokter di Indonesia sehingga perlu adanya koordinasi lintas sektoral dalam upaya tersebut.

Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Adri Patton, M.Si., menjelaskan bahwa Prodi Kedokteran UBT sudah melakukan penerimaan mahasiswa dan ujian tes mandiri pada Program Studi (Prodi) Kedokteran. “Dibukanya Prodi Kedokteran UBT sebenarnya untuk memfasilitasi pendidikan dokter, khususnya di pedalamanan, perbatasan, daerah tertinggal, pesisir, dan pantai. Kami berharap data yang dibawa ini dapat diterima menjadi mahasiswa dengan indikator-indikator yang sudah ditentukan, jadi nantinya mereka bisa kembali ke daerah masing-masing di Kalimantan Utara,” jelas Adri.

Universitas Borneo Tarakan merupakan Perguruan Tinggi Negeri pertama di Kalimantan Utara. Terdiri dari 7 Fakultas dengan 21 Prodi Sarjana, UBT memiliki peluang yang cukup besar untuk memberikan jaminan mutu dan kualitas pendidikan. Keberadaan Fakultas Ilmu Kesehatan dengan program Diploma III dan Sarjana di bidang Kebidanan dan Keperawatan, akan dilengkapi dengan Prodi Kedokteran Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Dokter mulai tahun ajaran 2024/2025.

Penulis: Humas FK-KMK UGM

Editor: Triya Andriyani

 

Artikel FK-KMK UGM dan Universitas Borneo Tarakan Sepakat Jalani Kerja Sama Bidang Pendidikan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-dan-universitas-borneo-tarakan-sepakat-jalani-kerja-sama-bidang-pendidikan/feed/ 0
UGM Terus Perluas Akses Pemerataan Seleksi Mahasiswa Baru https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terus-perluas-akses-pemerataan-seleksi-mahasiswa-baru/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terus-perluas-akses-pemerataan-seleksi-mahasiswa-baru/#respond Wed, 12 Jun 2024 08:29:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65166 Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA  dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D. melakukan kunjungan ke lokasi pelaksanaan Ujian Masuk UGM CBT 2024. Kunjungan dilakukan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Sekolah Vokasi, dan Fakultas Ilmu Budaya. Kunjungan di FK-KMK yang […]

Artikel UGM Terus Perluas Akses Pemerataan Seleksi Mahasiswa Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA  dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D. melakukan kunjungan ke lokasi pelaksanaan Ujian Masuk UGM CBT 2024. Kunjungan dilakukan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Sekolah Vokasi, dan Fakultas Ilmu Budaya.

Kunjungan di FK-KMK yang berpusat di Gedung Tahir Foundation di lakukan pimpinan UGM melihat secara langsung 8 peserta penyandang disabilitas. Sebanyak 8 peserta disabilitas terdiri 2 orang menyandang tuna daksa dan 6 orang tuna rungu.

Wening Udasmoro mengatakan secara keseluruhan sebanyak 41.973 peserta mengikuti Ujian Masuk UGM CBT tahun 2024. Sebanyak 32.414 peserta mengikuti tes UM UGM CBT di kota Yogyakarta, dan 9.559 mengikuti ujian di enam kota di Indonesia yaitu di Jakarta, Kupang, Balikpapan, Medan, Pekanbaru, dan Makassar.

Dalam kesempatan ini, Wening menyampaikan UGM dalam kebijakannya akan terus memperluas akses pemerataan seleksi mahasiswa baru untuk wilayah-wilayah terluar di Indonesia melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Wilayah Afirmasi dan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Karenanya dimungkinkan untuk tahun-tahun mendatang membuka tes di banyak daerah.

“Kita sedang merancang kemungkinan nantinya melaksanakan tes Ujian Mandiri UGM di Papua. Hal ini tentunya membuka kesempatan lebih luas siswa-siswa Papua yang ingin kuliah di UGM,” ujarnya di FIB UGM, Rabu (12/6).

Selain membuka kesempatan tes Ujian Masuk UGM di daerah-daerah, disebutnya UGM di tahun yang akan datang juga akan melakukan proses wawancara melalui zoom sebagai bagian dari proses seleksinya. Hal ini penting dilakukan untuk mengukur kemantapan calon mahasiswa yang akan kuliah di UGM.

Gandes Retno Rahayu menambahkan sebanyak 40 persen akan diterima sebagai mahasiswa UGM melalui jalur seleksi Ujian Mandiri. Sebanyak 40 persen tersebut selain mereka yang terseleksi melalui UM UGM CBT juga mereka yang lolos dari seleksi UM Mandiri Program Penelusuran Bibit Unggul.

”Kita dari Ujian Mandiri ini akan menerima 40 persen baik yang melalui UM UGM CBT maupun yang melalui Penelusuran Bibit Unggul,” imbuhnya.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: Donnie

Artikel UGM Terus Perluas Akses Pemerataan Seleksi Mahasiswa Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-terus-perluas-akses-pemerataan-seleksi-mahasiswa-baru/feed/ 0
Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/#respond Mon, 27 May 2024 09:38:28 +0000 https://ugm.ac.id/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/ Areta Adzroo Imtitaznabilla, mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK) sukses menjadi lulusan termuda dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu (22/5). Ia berhasil lulus di usia 20 tahun 1 bulan dan 13 hari, sedangkan rata-rata usia lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 […]

Artikel Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Areta Adzroo Imtitaznabilla, mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK) sukses menjadi lulusan termuda dalam Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu (22/5). Ia berhasil lulus di usia 20 tahun 1 bulan dan 13 hari, sedangkan rata-rata usia lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Bisa menyandang gelar sarjana di usia 20 tahun, tentu tidak semua orang bisa melakukannya. Areta, demikian ia akrab disapa, menuturkan bahwa sejak di bangku SMP dan SMA dirinya mengikuti kelas akselerasi sehingga membuatnya lulus lebih cepat dibanding teman-teman sekelasnya. “Saya ikut kelas akselerasi,” kata Areta kepada wartawan, Senin (27/5).

Tidak hanya lulus lebih awal dengan usia yang lebih muda, Areta juga termasuk berprestasi di bidang akademik sehingga ia bisa kuliah di prodi Kedokteran. Ketertarikannya pada dunia kedokteran terinspirasi dari ibunda tercinta yang bekerja sebagai tenaga kesehatan perawat di RSUD Sidoarjo. Role model dari sang ibunda membuatnya bercita-cita menjadi dokter sejak kecil, dan memutuskan untuk memilih FK-KMK UGM.

Di awal kuliah, Areta mengaku harus beradaptasi karena merasakan kompetisi dengan teman seangkatannya. Selain selalu rajin kuliah, namun ia tetap menyisihkan waktu untuk aktif di kegiatan organisasi dan kepanitiaan di kampus. “Pada tahun pertama kuliah, saya mengikuti organisasi CIMSA (Center for Indonesian Medical Students Activities). Berlanjut di tahun kedua ia banyak bergabung di TBMM (Tim Bantuan Medis Mahasiswa), serta organisasi mahasiswa tingkat fakultas,” katanya.

Meski sibuk berorganisasi, Areta mengaku hal itu tidak mengganggu kuliahnya yang disibukkan dengan kegiatan kuliah, ujian dan praktikum. “Kuncinya konsisten dan harus tanggung jawab sama apa yang sudah dipilih. Saya dulu awal memasuki kedokteran juga sempat merasa stres karena materi, ujian, dan praktikum yang banyak. Namun, capek bukan berarti kita harus menyerah kan,” imbuhnya.

Soal tugas akhir yang disusunnya, Areta menyusun skripsinya berjudul “Pengaruh Vitamin D Terhadap Ekspresi mRNA p16 dan SOD-1 Pada Hippocampus Tikus Model Diabetes Mellitus” di bawah beberapa dosen pembimbing dan penguji, antara lain Prof. Dr. dr. Dwi Cahyani Ratna Sari, dr. Ratih Yuniartha, Ph.D, dan dr. Nur Arfian, Ph.D.

Pengalaman menyusun tugas akhir skripsi diakuinya cukup menantang. Ia sengaja memilih topik eksperimental yang sekaligus merupakan payung penelitian di Departemen Anatomi FK-KMK UGM. Motivasi diri sendiri dan istirahat cukup bisa menjadi pendukung utama dalam menyelesaikan skripsi, namun dukungan kerabat dan lingkungan sekitar juga menjadi poin penentu. “Saya merasa sangat terbantu dengan berbagai fasilitas dan support pembelajaran yang diberikan FK-KMK UGM,” katanya.

Setelah selesai ujian skripsi, menjelang semester terakhir masa kuliahnya, Areta bisa mendaftar yudisium gelombang pertama pada  31 Januari 2024. Areta mengaku tidak mudah untuk mengejar kelulusan di prodi yang dipilihnya, mengingat banyaknya materi dan praktikum yang harus dipelajari untuk bisa menjadi lulusan dokter. Tapi berkat usaha dan ketekunannya, ia bangga bisa menjadi lulusan termuda periode ini. “Saya senang bisa mendapat predikat sebagai lulusan termuda,” ungkapnya.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Areta, Usia 20 Tahun Lulus Sarjana Kedokteran UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-areta-usia-22-tahun-lulus-sarjana-kedokteran-ugm/feed/ 0
FK-KMK UGM Raih Penghargaan Fakultas Terbaik dalam Penempatan Residen Senior ke Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-raih-penghargaan-fakultas-terbaik-dalam-penempatan-residen-senior-ke-daerah-tertinggal-perbatasan-dan-kepulauan/ https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-raih-penghargaan-fakultas-terbaik-dalam-penempatan-residen-senior-ke-daerah-tertinggal-perbatasan-dan-kepulauan/#respond Mon, 27 May 2024 09:35:00 +0000 https://ugm.ac.id/fk-kmk-ugm-raih-penghargaan-fakultas-terbaik-dalam-penempatan-residen-senior-ke-daerah-tertinggal-perbatasan-dan-kepulauan/ Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Penghargaan sebagai Fakultas Kedokteran Terbaik dalam Penempatan Residen Senior ke Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DPTK) disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dan diterima Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., […]

Artikel FK-KMK UGM Raih Penghargaan Fakultas Terbaik dalam Penempatan Residen Senior ke Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Penghargaan sebagai Fakultas Kedokteran Terbaik dalam Penempatan Residen Senior ke Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DPTK) disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dan diterima Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH.

Penghargaan tersebut diberikan saat berlangsung menyelenggarakan Forum Komunikasi Nasional Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Tahun 2024 bertema SDM Kesehatan Unggul Menuju Indonesia Emas, Senin-Kamis (20-23/5) di Shangri-La Jakarta. Forum digelar sebagai apresiasi kepada insan-insan kontributif dalam mewujudkan sistem kesehatan Indonesia yang tangguh.

Bahwa agenda transformasi kesehatan merupakan merupakan prioritas utama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) saat ini. Agenda tersebut tentunya banyak mengacu pada pembelajaran dari penanganan pandemi COVID-19 yang telah melanda Indonesia pada beberapa tahun sebelumnya, dan Kemenkes RI telah memformulasikan penjabaran agenda tersebut dalam 6 (enam) Pilar Transformasi Kesehatan guna mewujudkan sistem kesehatan Indonesia yang tangguh dan terintegrasi.

“Kami tentunya bersyukur, penghargaan ini merupakan apresiasi atas tingginya komitmen dan konsistensi FK-KMK UGM beserta RSUP Dr. Sardjito selama ini dalam membangun kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan,” ucap Yodi Mahendradhata.

Ia menyampaikan penghargaan ini tidak lepas dari kontribusi seluruh sivitas akademika FK-KMK UGM. Juga dukungan dari para mitra serta para alumni yang mendedikasikan diri untuk melaksanakan penugasan khusus di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan, bahkan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK).

Iapun memberikan apresiasi terhadap 45 jajaran penerima penghargaan berkategori lainnya. Karena ada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin dan Universitas Nusa Cendana pun turut meraih penghargaan di kategori lain.

“Harapannya penghargaan ini menjadi momentum untuk lebih memotivasi para residen dan segenap sivitas akademika serta civitas hospitalia untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan akses layanan kesehatan di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan,” terangnya.

Bagi Yodi penghargaan ini sekaligus pengakuan atas komitmen dan upaya FK-KMK UGM dalam mendorong perwujudan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs) yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3).

Forum Komunikasi Nasional Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Tahun 2024 digelar dengan melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Juga Rumah Sakit Vertikal, Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Swasta, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Repoter dan penulis: Isroq Adi Subakti

Edit: Agung Nugroho

Artikel FK-KMK UGM Raih Penghargaan Fakultas Terbaik dalam Penempatan Residen Senior ke Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fk-kmk-ugm-raih-penghargaan-fakultas-terbaik-dalam-penempatan-residen-senior-ke-daerah-tertinggal-perbatasan-dan-kepulauan/feed/ 0
UGM dan UKSW Jajaki Kerjasama Bidang Tridharma https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-uksw-jajaki-kerjasama-bidang-tridharma/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-uksw-jajaki-kerjasama-bidang-tridharma/#respond Mon, 20 May 2024 09:09:51 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-dan-uksw-jajaki-kerjasama-bidang-tridharma/ Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Prof. Dr Intiyas Utami, S E., M.Si., Ak. melakukan kunjungan dan berdiskusi di ruang Rektor UGM. Rombongan pimpinan UKSW diterima Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M,Hum, DEA. Disamping pembahasan penjajakan kerja sama, audiensi UKSW bermaksud mengundang UGM untuk terlibat dan menjadi peserta […]

Artikel UGM dan UKSW Jajaki Kerjasama Bidang Tridharma pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Prof. Dr Intiyas Utami, S E., M.Si., Ak. melakukan kunjungan dan berdiskusi di ruang Rektor UGM. Rombongan pimpinan UKSW diterima Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M,Hum, DEA.

Disamping pembahasan penjajakan kerja sama, audiensi UKSW bermaksud mengundang UGM untuk terlibat dan menjadi peserta gelaran inovasi. Mereka pun berharap kesediaan Rektor UGM menjadi salah satu pembicara terkait inovasi dan keberlanjutan.

Intiyas Utami membenarkan kedatangannya bersama pimpinan UKSW yang lain untuk mengajak dan memastikan keikutsertaan UGM dalam acara Gelaran Inovasi Harmoni Nusantara yang akan digelar 25-27 Juni 2024 di Kampus UKSW. Ia menyampaikan pameran inovasi terbesar yang diikuti kampus-kampus di Indonesia akan dibuka Presiden RI, Jokowi.

“Kita juga mengundang Bu Rektor menjadi salah satu pembicara soal inovasi. Kami sampaikan beberapa universitas sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut menjadi peserta pameran inovasi dan pembicara, dan kita menyediakan 100 stand inovasi untuk kampus-kampus se-Indonesia,” katanya di ruang Rektor UGM, Senin (20/5).

Intiyas menyampaikan antara UKSW dan UGM meskipun belum mengadakan kerja sama, keduanya telah terbiasa bekerja bersama untuk beberapa bidang. Diantaranya riset bersama di bidang arkeologi dan peradaban manusia.

Di bidang arkeologi, ini UKSW dan FIB UGM sudah lama bekerja sama lama meskipun tanpa payung kerja sama. Disampaikan pula bila di tahun 2025, UKSW akan menyelenggarakan konferensi arkeologi tingkat dunia dengan didukung oleh Asosia Arkeologi Dunia, dan dalam kegiatan ini dilakukan kerja sama antara UGM, BRIN bersama Asosiasi Arkeologi Dunia.

Untuk bidang pendidikan, diakui juga sudah lama sekali terjalin kerja sama. Keberadaan Fakultas Pertanian UKSW yang mendapat dukungan dari Fakultas Pertanian UGM, dan beberapa kerja sama untuk MBKM.

“Artinya aktivitasnya sudah ada, hanya saja belum tertuang dalam kerja sama. Termasuk diantaranya pertukaran pengajar terutama kajian lintas budaya, dan terima kasih tiga dokter UKSW telah diterima melanjutkan studi di Biomedik FK-KMK UGM,” katanya.

Wening Udasmoro menyambut baik kunjungan UKSW sekaligus berterima kasih atas kepercayaan dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) untuk jalinan kemitraan yang ditawarkan kepada UGM. UGM tentunya akan mempersiapkan semuanya dengan berkoordinasi dengan beberapa Direktorat yang ada.

Dia menyampaikan UGM terbuka untuk semua staf pengajar UKSW akan melanjutkan tingkat master dan doktoral. UGM membuka kesempatan seluas-luasnya kepada UKSW untuk bekerja sama dengan Fakultas, Prodi maupun Pusat Studi yang ada di UGM dalam kegiatan-kegiatan riil yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS).

“Kita sangat menerima tawaran untuk pameran inovasi dan mempersiapkan dengan Ditmawa UGM dan unit-unit terkait. Untuk MBKM pertukaran mahasiswa tentunya nanti bisa dilakukan bersama-sama,” paparnya.

Turut serta dalam rombongan dari UKSW  Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan, Prof. Ferdy S. Rondonuwu, S.Pd., M.Sc., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan, Prof. Dr. Ir. Eko Sediyono, M.Kom., dan Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D. Juga Dekan Fakultas Pertanian dan Bisnis, Dr. Ir. Bistok Hasiholan Simanjuntak, M.Si., Direktur Inovasi dan Kewirausahaan, Dr. Linda Ariany Mahastanti, S.E., M.Sc., serta Sekretaris Pimpinan, Novasari Linda Jeany.

Sementara dari UGM turut dalam audiensi Direktur Kemitraan dan Relasi Global, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., Kasubdit Kerja Sama Dalam Negeri, Ir. Johan Syafri Mahathir Ahmad, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., dan Ketua Program sarjana Prodi Ilmu Keperawatan FK-KMK, Haryani, S.Kp., M.Kes., Ph.D.

Penulis: Agung Nugroho

Fotografer: Firsto

 

Artikel UGM dan UKSW Jajaki Kerjasama Bidang Tridharma pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-uksw-jajaki-kerjasama-bidang-tridharma/feed/ 0
Masyarakat Diajak Temukan Penyandang Kusta Sebelum Mengalami Disabilitas https://ugm.ac.id/id/berita/masyarakat-diajak-temukan-penyandang-kusta-sebelum-mengalami-disabilitas/ https://ugm.ac.id/id/berita/masyarakat-diajak-temukan-penyandang-kusta-sebelum-mengalami-disabilitas/#respond Thu, 16 May 2024 09:02:17 +0000 https://ugm.ac.id/masyarakat-diajak-temukan-penyandang-kusta-sebelum-mengalami-disabilitas/ Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan beban kasus kusta tertinggi di dunia. Meski relatif jarang terdengar bagi sebagian masyarakat, namun Kusta termasuk dalam penyakit tropis yang terabaikan. Kusta sendiri adalah penyakit infeksi dan menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Kuman ini dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan dengan masa […]

Artikel Masyarakat Diajak Temukan Penyandang Kusta Sebelum Mengalami Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan beban kasus kusta tertinggi di dunia. Meski relatif jarang terdengar bagi sebagian masyarakat, namun Kusta termasuk dalam penyakit tropis yang terabaikan. Kusta sendiri adalah penyakit infeksi dan menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium leprae. Kuman ini dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan dengan masa inkubasi 2-5 tahun setelah kuman masuk ke dalam tubuh. Namun hal yang paling ditakuti dari kusta adalah terjadinya disabilitas bagi penderitanya. Oleh karena itu, upaya menemukan penderita kusta sebelum mengalami disabilitas menjadi langkah penting dalam upaya pemberantasan penyakit kusta di tanah air.

Hal itu mengemuka dalam talkshow bertajuk “Apa Kabar Kusta Pasca Pandemi?” Rabu, (15/5) di FK-KMK UGM. Dalam talkshow yang diaelenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM bekerja sama dengan NLR Indonesia menghadirkan narasumber dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam penanganan kusta. Selain pemangku kepentingan, hadir pula peneliti, praktisi dari non-government organization (NGO) hingga orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

Ketua Tim Kerja Neglected tropical Disease (NTDs), Kementerian Kesehatan RI, dr. Regina T Sidjabat, M.Epid., mengatakan kusta dapat diobati total tanpa meninggalkan disabilitas selagi ditemukan sejak dini dan segera diobati hingga tuntas. Upaya yang dilakukan dengan menemukan penderita sebagai bentuk strategi dan intervensi utama menuju eliminasi kusta di Indonesia. “Penemuan kasus kusta tersebut harus melibatkan semua pihak termasuk pemangku kepentingan, tokoh masyarakat dan tokoh agama,” katanya.

Direktur Eksekutif NLR Indonesia Agus Wijayanto mengatakan masih banyak penderita kusta yang mengalami stigma. Hal tersebut akan memengaruhi aspek kehidupan lainnya, termasuk mata pencahariannya. Untuk menghilangkan stigma diperlukan juga advokasi lintas sektor.

“Mengakui diri menderita kusta itu berat,” ungkap Agus Wijayanto.

Soal masih adanya stigma negatif untuk para penyandang kusta di tengah masyarakat diungkapkan oleh Ahmad Idris Afandi. Sebagai OYPMK, ia dan organisasi yang ia pimpin, Sahabat Pendamping Indramayu, turut mengedukasi masyarakat hingga lapisan paling bawah. Ia sering mendapat informasi ada penderita kusta yang masih usia anak-anak beserta keluarganya menjadi korban stigma dari tetangga-tetangganya.”Kami datangi door-to-door rumah warga di sekitar penderita kusta untuk mengedukasi,” ungkap Ahmad.

Peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM, dr. Astri Ferdiana, MPH, Ph.D., yang menjadi pemandu acara talkshow mengatakan pemberantasan penyakit kusta harus disertai dengan upaya penghilangan stigma bagi penderitanya. Ia berharap masyarakat semakin sadar dan teredukasi dengan baik bahwa penyakit kusta itu masih ada di tengah masyarakat sehingga tidak boleh abai.

Astri Ferdiana juga mengapresiasi kerja keras yang dilaksanakan oleh NLR Indonesia yang sudah memulai upayanya dalam penanggulangan kusta dan konsekuensinya sejak 1975. Pendekatan yang digunakan ada tiga, yaitu: zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas), dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Astri menuturkan penyakit yang digolongkan sebagai NTDs juga mendapat perhatian dari PKT UGM. Satu dari enam kelompok kerja (pokja) yang ada di PKT UGM adalah pokja NTDs. “Tahun lalu, PKT UGM terlibat aktif dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kusta 2023-2027,” katanya.

Penulis: Gusti Gelrehenson

Artikel Masyarakat Diajak Temukan Penyandang Kusta Sebelum Mengalami Disabilitas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/masyarakat-diajak-temukan-penyandang-kusta-sebelum-mengalami-disabilitas/feed/ 0
Dosen UGM Kembangkan Alat Skrining Cegah Malnutrisi Pasien Rumah Sakit  https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-alat-skrining-cegah-malnutrisi-pasien-rumah-sakit/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-alat-skrining-cegah-malnutrisi-pasien-rumah-sakit/#respond Wed, 08 May 2024 09:05:33 +0000 https://ugm.ac.id/dosen-ugm-kembangkan-alat-skrining-cegah-malnutrisi-pasien-rumah-sakit/ Malnutrisi masih menjadi salah satu isu yang dihadapi tenaga kesehatan di rumah sakit. Angka malnutrisi yang ada di rumah sakit masih tergolong tinggi terutama pada negara berkembang. Malnutrisi diartikan sebagai kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan zat gizi yang menghasilkan efek tidak baik pada komposisi tubuh, fungsi, dan outcome klinis. Diperlukan skrining gizi untuk mendeteksi malnutrisi untuk mencegah penurunan […]

Artikel Dosen UGM Kembangkan Alat Skrining Cegah Malnutrisi Pasien Rumah Sakit  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Malnutrisi masih menjadi salah satu isu yang dihadapi tenaga kesehatan di rumah sakit. Angka malnutrisi yang ada di rumah sakit masih tergolong tinggi terutama pada negara berkembang. Malnutrisi diartikan sebagai kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan zat gizi yang menghasilkan efek tidak baik pada komposisi tubuh, fungsi, dan outcome klinis. Diperlukan skrining gizi untuk mendeteksi malnutrisi untuk mencegah penurunan kondisi gizi pasien selama perawatan di rumah sakit.

Hal ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Susetyowati, DCN, M.Kes., dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam Bidang Gizi Kesehatan pada Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Selasa (7/5), di ruang Balai Senat UGM.

Susetyowati menerangkan, penyebab terjadinya malnutrisi di rumah sakit yaitu penyakit yang mendasari dan dapat mempengaruhi peningkatan kebutuhan basal yang disertai dengan rendahnya asupan makan dan penurunan kemampuan bioavailabilitas zat gizi atau seberapa banyak zat gizi dari makanan yang dapat diserap dan digunakan oleh tubuh.

Menurutnya, skrining gizi sangat perlu dilakukan pada semua pasien rawat inap bertujuan untuk memprediksi probabilitas membaik atau memburuknya outcome yang berkaitan dengan faktor gizi dan mengetahui pengaruh intervensi gizi. “Kehilangan berat badan, indeks massa tubuh, dan kurangnya asupan makanan merupakan elemen utama dalam mendefinisikan malnutrisi,” ujar Susetyowati.

Selama ini munculnya kasus malnutrisi di rumah sakit disebabkan oleh kurangnya pengukuran dan pencatatan rutin tinggi serta berat badan, dan kurangnya keterampilan menilai status gizi dengan antropometri dan biokimia. “Kekurangan ini membuat catatan pada rekam medik terkait monitoring asupan makan pasien berkurang sehingga asupan gizi sebagian besar tidak terdeteksi dan tidak dilakukan monitoring status gizi secara rutin,” paparnya.

Susetyowati pun mengembangkan alat skrining gizi yang ia namakan Simple Nutrition Screening Tool atau SNST. Menurutnya, alat skrining ini pola kerjanya sangat sederhana yang bisa digunakan dalam waktu kurang dari 5 menit. “Alat skrining gizi ini sangat sederhana ini tanpa pengukuran antropometri yang menjadi hambatan selama ini dan dapat dilakukan dengan waktu yang singkat yaitu 3 hingga 5 menit,” ujarnya.

Alat skrining gizi SNST menggunakan enam pertanyaan untuk menilai status gizi seseorang. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup apakah pasien terlihat kurus? apakah pakaian terasa lebih longgar? apakah ada kehilangan berat badan tidak sengaja dalam 3-6 bulan terakhir? apakah mengalami penurunan asupan makan selama seminggu terakhir? apakah merasa lemah, loyo, dan tidak bertenaga? serta apakah menderita penyakit yang mengubah jumlah atau jenis makanan yang dikonsumsi?

Di akhir pidato, Susetyowati menerangkan bahwa alat skrining gizi SNST yang dikembangkan telah dibandingkan dengan skrining gizi yang lain yang sudah terbukti valid dan reliabel. Dengan begitu, alat skrining SNST memiliki nilai yang sama dengan alat skrining lainnya.

Penulis: Dita

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Dosen UGM Kembangkan Alat Skrining Cegah Malnutrisi Pasien Rumah Sakit  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-ugm-kembangkan-alat-skrining-cegah-malnutrisi-pasien-rumah-sakit/feed/ 0
UGM dan Pemerintah Timor Leste Kerja Sama di Bidang Kesehatan https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemerintah-timor-leste-kerja-sama-di-bidang-kesehatan/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemerintah-timor-leste-kerja-sama-di-bidang-kesehatan/#respond Tue, 07 May 2024 09:06:14 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-dan-pemerintah-timor-leste-kerja-sama-di-bidang-kesehatan/ Kementerian Kesehatan Republik Demokrasi Timor-Leste dan Universitas Gadjah Mada sepakat menjalin kerja sama bidang pendidikan. Naskah kerja sama keduanya ditandatangani Wakil Menteri Kesehatan Republik Demokratik Timor-Leste, Jose dos Reis Magno, Lic.SP, M.M dan Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D. Bersamaan dengan ini ditandatangani pula kerja sama antara Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan […]

Artikel UGM dan Pemerintah Timor Leste Kerja Sama di Bidang Kesehatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kementerian Kesehatan Republik Demokrasi Timor-Leste dan Universitas Gadjah Mada sepakat menjalin kerja sama bidang pendidikan. Naskah kerja sama keduanya ditandatangani Wakil Menteri Kesehatan Republik Demokratik Timor-Leste, Jose dos Reis Magno, Lic.SP, M.M dan Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D.

Bersamaan dengan ini ditandatangani pula kerja sama antara Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dan Instituto nacional De Saude Publica De Timor Leste. Perjanjian Kerja Sama untuk penyelenggaraan Pendidikan Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Program Magister Kedokteran Tropis dan Program Magister Ilmu Biomedis ditandatangani Dr. Merita Antonia Armindo Monteiro, M.P.H. selaku Presiden Instituto Nacional Saude Publica Timor-Leste (INSP-TL) dan Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

Jose dos Reis Magno menyambut baik perjanjian kerja sama untuk peningkatan sumber daya manusia di bidang kesehatan Republik Demokratik Timor-Leste. Menurutnya, sumber daya manusia di bidang kesehatan adalah salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam pembangunan dan pengembangan di sektor kesehatan.

Dengan tersedianya sumber daya manusia yang bermutu tentunya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia bidang kesehatan merupakan faktor determinan yang memiliki peranan penting dalam pencapaian dan peningkatan status kesehatan masyarakat.

“Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste sejak restorasi Kemerdekaan pada tahun 2022 hingga sekarang terus melakukan peningkatan jumlah sumber daya manusia bidang kesehatan dengan tetap memberikan perhatian secara kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan,” ujarnya di Ruang Sidang Pimpinan UGM, Selasa (7/5).

Jose dos Reis Magno menuturkan secara spesifik pada awal dekade pemerintahan, Timor-Leste telah memberikan perhatian khusus di bidang kesehatan dengan mengirimkan para putera-puteri terbaiknya untuk menimba pendidikan di berbagai bidang kesehatan di luar negeri, dan Indonesia menjadi salah satu tujuan karena adanya hubungan kerjasama keduanya dan adanya faktor sejarah, kultur, serta bahasa.

Melihat tantangan global bagi dunia kesehatan dewasa ini, Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Kesehatan memprioritaskan penguatan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia bidang kesehatan. Prioritas penguatan dilakukan dengan mengirimkan para calon mahasiswa ke sejumlah perguruan tinggi di beberapa negara, dan salah satunya Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan tepat untuk pengembangan SDM.

“Kerja sama dengan UGM bukan hal baru, tetapi sesungguhnya kerja sama di bidang pengembangan sumber daya kesehatan ini telah terjalin baik dan erat sejak tahun 2010 hingga sekarang,” terangnya.

Untuk kerja sama kali ini, secara khusus diprioritaskan pendidikan Doctoral in Public Health, Master of Science-Tropical Medicine khususnya di bidang parasitology, Master Program in Medical Science khususnya dalam Molecular Medicine, dan Master Medical Science dalam bidang Histology dan Biology. Dengan kerja sama ini diharapkan para calon mahasiswa dari Timor-Leste dapat memanfaatkan dengan baik semua proses pendidikan yang ditempuh agar mereka nantinya saat kembali ke Timor-Leste menjadi profesional kesehatan yang handal dan berdaya guna dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi untuk masyarakat.

Ova Emilia merasa senang dengan perjanjian ini. Kerja sama UGM dengan Pemerintah Timor-Leste telah berjalan lama dan baru kali ini dinyatakan secara resmi dalam kesepakatan bersama.

Dia menyampaikan semua pihak sepakat pendidikan sebagai tulang punggung sumber daya manusia yang berkualitas. Apa yang dilakukan oleh pemerintah Timor-Leste, menurutnya sudah seharusnya menjadi pekerjaan rumah untuk terus digenjot dan diberikan dukungan.

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaannya. Nanti kami mengembangkan tidak hanya di bidang medis, karena UGM memiliki sekitar lebih dari 280 program studi, dan Fakultas Kedokteran sendiri terdapat 41 Program Studi sehingga di Indonesia UGM dikenal dengan bidang studi paling komplit”, katanya.

Rektor juga menyampaikan, UGM pada kesempatan kali ini membuka program double degree dengan universitas-universitas di luar negeri. Oleh karena itu, jika dimungkinkan nantinya ada program double degree dengan universitas di Timor-Leste.

Dengan program ini mahasiswa tentunya mendapatkan dua keuntungan, tidak hanya meningkatkan kualitas lulusan namun juga memperbaiki kelembagaan perguruan tinggi. Program double degree ini sebagai salah satu program yang UGM galakan bersama kementerian luar negeri.

“Khususnya kerja sama double degree untuk negara-negara tergolong low middle income countries. Kami berharap dengan kerja sama ini semakin banyak keuntungan didapat untuk keduanya.  Saat ini teman-teman di UGM lagi mengembangkan ugm online, platform pendidikan secara online yang diharapkan dapat dilakukan secara fleksibel dan ekonomis nantinya. Kita semua berharap semoga kerja sama ini memberikan buah yang banyak baik untuk Republik Demokratik Timor-Leste maupun Indonesia,” imbuhnya.

Penulis: Agung Nugroho

Fotografer: Donnie

Artikel UGM dan Pemerintah Timor Leste Kerja Sama di Bidang Kesehatan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-dan-pemerintah-timor-leste-kerja-sama-di-bidang-kesehatan/feed/ 0