FKH UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fkh-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 17 Jan 2025 14:26:42 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 UGM Lantik 191 Dokter Hewan Baru https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-lantik-191-dokter-hewan-baru/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-lantik-191-dokter-hewan-baru/#respond Fri, 17 Jan 2025 14:26:42 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74822 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM melantik 191 dokter baru, Kamis (16/1), di Grha Sabha Pramana. Pelantikan ini menjadi salah satu momen penting yang menandai kelulusan para dokter hewan baru yang siap untuk berkontribusi pada sektor kesehatan hewan dan masyarakat secara luas. Sejumlah dokter hewan yang dilantik terdiri dari 148 orang wanita dan 43 orang laki-laki. […]

Artikel UGM Lantik 191 Dokter Hewan Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM melantik 191 dokter baru, Kamis (16/1), di Grha Sabha Pramana. Pelantikan ini menjadi salah satu momen penting yang menandai kelulusan para dokter hewan baru yang siap untuk berkontribusi pada sektor kesehatan hewan dan masyarakat secara luas. Sejumlah dokter hewan yang dilantik terdiri dari 148 orang wanita dan 43 orang laki-laki. Jumlah ini menambah dokter hewan yang telah diluluskan FKH UGM sebanyak 6.406 orang. Masa studi rata-rata dokter hewan baru adalah 5 tahun 8 bulan 11 hari dengan lulusan tercepat 5 tahun 5 bulan. Usia dokter hewan termuda periode ini adalah 21 tahun 11 bulan 14 hari. Sedangkan lulusan terbaik dokter hewan diraih oleh drh. Annisa Amalia Zahra dengan Indeks Predikat Kumulatif 4,00.

Dekan FKH UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D mengungkapkan dari sejumlah dokter hewan baru yang dilantik pada hari itu sebanyak 55,2% sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum dinyatakan lulus dari profesi dokter hewan. Sebagian besar bekerja di Rumah Sakit Hewan atau klinik hewan, sedangkan sisanya bekerja di perusahaan, berwiraswasta, dan berkeinginan untuk melanjutkan studi. Dekan menegaskan pelantikan ini merupakan simbol dimulainya tanggung jawab baru bagi para dokter hewan karena mereka memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan hewan, yang pada gilirannya juga berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan. “Kita tahu setelah 30 tahun Indonesia bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), tiba-tiba sejak akhir 2024 melonjak lagi hingga hari ini. Kewajiban kita sebagai dokter hewan untuk membantu setiap upaya pemerintah,” ungkap Teguh.

Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit PMK, kata Teguh, Fakultas Kedokteran Hewan dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI), serta Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PBPDHI)  menyelenggarakan seminar bersama untuk menetapkan rekomendasi dalam menanggulangi kasus PMK yang mulai merebak lagi. “Kegiatan ini menjadi komitmen kita bersama dan tentunya menjadi kewajiban kita untuk berkontribusi pada setiap upaya pengendalian penyakit pada hewan,” tuturnya.

Ia pun mengingatkan bahwa profesi dokter hewan yang diemban oleh para lulusan nantinya berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terutama dalam pencapaian target kesehatan, perlindungan likungan, dan pengentasan kemiskinan. “Sumpah profesi yang sudah kalian ucapkan bukan sekedar formalitas, tapi sebagai komitmen moral dan profesional yang akan menjadi panduan dalam setiap langkah ke depan,” ujarnya.

Teguh berharap para dokter hewan baru akan selalu memegang teguh prinsip integritas, dedikasi, dan semangat untuk terus belajar karena dunia medis termasuk kedokteran hewan terus berkembang sehingga kompetensi diri harus selalu ditingkatkan. Dengan semangat baru dan pengetahuan yang telah diperoleh selama masa pendidikan, para lulusan siap untuk mengabdi dan memberikan kontribusi terbaiknya bagi kesehatan hewan dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Sementara itu, ketua PBPDHI, Dr. drh. Muhammad Munawaroh, M.M., menyampaikan ucapan selamat pada ratusan dokter hewan FKH UGM yang baru dilantik. Ia berpesan agar tetap memegang nilai moral dan menjaga sikap profesional dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. “Pahami dan amalkan kode etik profesi dokter hewan. Kode etik ini penting karena menjadi rambu-rambu bagi dokter hewan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat melakukan pemeriksaan hewan, kalian wajib mempertimbangkan martabat dokter hewan,” pungkasnya.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM Lantik 191 Dokter Hewan Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-lantik-191-dokter-hewan-baru/feed/ 0
FKH UGM Gandeng Pesantren Budidaya Ternak Kambing dan Ayam Petelur  https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gandeng-pesantren-budidaya-ternak-kambing-dan-ayam-petelur/ https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gandeng-pesantren-budidaya-ternak-kambing-dan-ayam-petelur/#respond Mon, 29 Jul 2024 13:47:46 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68060 Tim Dosen Fakultas Keodkteran Hewan (FKH) UGM melakukan kegiatan program pemberdayaan anak berkebutuhan khusus dengan pengembangan peternakan terintegrasi sebagai Media Terapi Sosial dan Perilaku serta pengembangan kewirausahaan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di pesantren Ainul Yaqin di Dusun Karangtengah, Sumber Wungu, Tepus, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua Pelaksana program desa binaan FKH UGM Prof. Dr. drh. […]

Artikel FKH UGM Gandeng Pesantren Budidaya Ternak Kambing dan Ayam Petelur  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim Dosen Fakultas Keodkteran Hewan (FKH) UGM melakukan kegiatan program pemberdayaan anak berkebutuhan khusus dengan pengembangan peternakan terintegrasi sebagai Media Terapi Sosial dan Perilaku serta pengembangan kewirausahaan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di pesantren Ainul Yaqin di Dusun Karangtengah, Sumber Wungu, Tepus, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketua Pelaksana program desa binaan FKH UGM Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, MP., menyatakan  kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan sejak 2020 lalu saat itu pihaknya mengajak pesantren dan warga sekitar mengembangkan budidaya peternakan kambing dan memanfaatkan potensi pertanian sebagai sumber pakan. “Yang dulunya hanya 5 ekor sekarang jumlahnya sudah 50 ekor,” kata Pudji saat mendampingi sosialisasi pengembangan kurikulum pendidikan anak berkebutuhan khusus dan budidaya ayam petelur , Minggu (28/7). Dalam Sosialisasi ini didampingi Guru Besar FKH UGM Prof. Dr. drh. Sarmin, MP dan Ketua departemen Fisiologi FKH UGM: Dr. drh. Claude Mona Airin,MP., Guru Besar UNY bidang pendidikan kewirausahaan anak berkebutuhan khusus, Prof Dr Ibnu Syamsi, MPd., dan Manager Ayam Layer dari Perusahaan Janu Putra Sejahtera  Drh. Rully Sulistyawan.

Pengembangan peternakan kambing ini selain untuk menambah sumber pemasukan bagi pesantren namun juga menjadi media terapi bagi santri pesantren yang didominasi para anak berkebutuhan khusus. “Konsep Integrated Farming yang kita kembangkan bisa menjadi media Terapi Sosial dan Perilaku Serta Entrepreneurship bagi santri,” ujarnya.

Dikatakan Pudji, para anak berkebutuhan khusus selama ini sangat senang untuk diajak memelihara dan melihat anakan kambing yang nampak lucu lucu sehingga menjadi media terapi untuk mengontrol perilaku mereka.

Namun yang tidak kalah penting menurutnya, pihaknya juga ingin menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan pengelola pesantren, para anak berkebutuhan khusus hingga warga sekitar. “Kita juga menginginkan lokasi pesantren ini menjadi pusat percontohan bagi usaha peternakan kambing dan ayam petelur,” paparnya.

Selain budidaya ternak kambing, pihaknya juga mendampingi usaha budidaya ayam petelur yang diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi santri juga membantu upaya pencegahan stunting untuk warga masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren.“Dalam waktu dekat kita akan bantu mesin tetas untuk memajukan usaha peternakan di sini. Selain kita melatih cara beternak ayam petelur yang baik. Sedangkan ternak kambing, kita menyediakan sertifikat sehat untuk kambing yang mau dijual,” katanya.

Direktur Pondok Pesantren Ainul Yaqin, Muhidin Isma Almatin, mengatakan pengembangan griya peternakan di pesantrennya diinisiasi oleh para dosen FKH UGM dan pengembangan kurikulum pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.

Ia menyebutkan, pihaknya berencana pada tahun 2026 untuk memelihara 1.000 ekor kambing. Meski saat ini baru ada sekitar 50 kambing. “KIta akan griya peternakan kambing. Suatu saat bisa menjadi pasar hewan. Problemnya disini masalah pakan dan kesiapan kandang, sehingga nantinya ada kerja sama dengan masyarakat.” katanya.

Selain kambing, pihaknya juga membuka usaha  budidaya ayam petelur dimana hasil telur dijual dan pemenuhan kebutuhan makan siswa pesantren. Ada sekitar 188 ekor ayam petelur yang setiap harinya menghasilkan 6-7 kg telur. “Yang beli masyarakat sekitar selisih per karpet 2000 rupiah dengan harga pasar.  sehari 6-7 kg telur.

Kepala Dukuh Karang Tengah sumberwungu, Riswanto, menyambut baik adanya pelatihan bagi warga untuk beternak ayam petelur. Sebab selama ini warganya lebih banyak beternak ayam kampung. “Selama ini lebih banyak ayam kampung yang dilepas liarkan, tapi pas  musim kemarau banyak yang mati. Saya kira bagus beternak ayam petelur untuk di samping rumah atau di ladang warga yang masih luas. Jika nanti sudah 1-2 orang sudah melakukan atau melihat model peternakan dengan praktek di pesantren ini,” paparnya.

Penulis : Gusti Grehenson

Artikel FKH UGM Gandeng Pesantren Budidaya Ternak Kambing dan Ayam Petelur  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-gandeng-pesantren-budidaya-ternak-kambing-dan-ayam-petelur/feed/ 0
FKH UGM Kirim Ratusan Mahasiswa Petugas Pemeriksa Hewan Kurban https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-kirim-ratusan-mahasiswa-petugas-pemeriksa-hewan-kurban/ https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-kirim-ratusan-mahasiswa-petugas-pemeriksa-hewan-kurban/#respond Sun, 09 Jun 2024 10:52:13 +0000 https://ugm.ac.id/fkh-ugm-kirim-ratusan-mahasiswa-petugas-pemeriksa-hewan-kurban/ Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM mengirim sebanyak 350 mahasiswa dan alumni sebagai petugas pemeriksa hewan kurban di seluruh Kabupaten/kota di seluruh DIY. Pelepasan para petugas pemeriksa hewan ini ditandai secara simbolis dengan penyerahan alat pemeriksa hewan yang diserahkan oleh Wakil Dekan FKH Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, […]

Artikel FKH UGM Kirim Ratusan Mahasiswa Petugas Pemeriksa Hewan Kurban pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM mengirim sebanyak 350 mahasiswa dan alumni sebagai petugas pemeriksa hewan kurban di seluruh Kabupaten/kota di seluruh DIY. Pelepasan para petugas pemeriksa hewan ini ditandai secara simbolis dengan penyerahan alat pemeriksa hewan yang diserahkan oleh Wakil Dekan FKH Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si. pada salah seorang mahasiswa yang disaksikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan (DPKP) DIY, R. Hery Sulistio Hermawan, Minggu (9/6).

Aris Haryanto mengatakan kegiatan penerjunan petugas pemeriksa hewan kurban ini bagian dari kontribusi FKH UGM dalam membantu pemerintah dalam memeriksa dan mematikan seluruh hewan kurban betul-betul sehat dan layak dikonsumsi menjelang proses penyembelihan hewan kurban pada lebaran Iduladha.

“Menjelang kegiatan Iduladha, pemerintah memerlukan banyak petugas pemeriksa hewan kurban. FKH UGM yang mendidik para calon dokter hewan, mengerahkan mahasiswa tingkat akhir dan mahasiswa Koasistensi sebagai petugas pemeriksa hewan kurban,” kata Aris kepada wartawan.

Aris menerangkan para mahasiswa ini akan ditempatkan di empat kabupaten dan kota di DIY. Keberadaan para mahasiswa petugas pemeriksa hewan kurban ini diharapkan bisa membantu para takmir masjid untuk memastikan hewan yang disembelih betul-betul sehat dan halal. “Selain juga ikut membantu Dinas Pertanian agar hewan yang dijadikan kurban betul sehat dan masyarakat merasa aman dalam mengkonsumsi daging kurban,” ujarnya.

Keikutsertaan mahasiswa FKH UGM sebagai petugas pemeriksa hewan kurban ini menurut Aris menjadi kesempatan bagi mereka bisa mengaplikasikan ilmu dan keterampilannya di lapangan. “Bagi mahasiswa, tentunya bisa meningkatkan kompetensi mereka dalam memeriksa hewan kurban baik sebelum dan sesudah disembelih agar betul-betul dianggap sehat dan higienis,” katanya.

Hery Sulistio Hermawan menuturkan menyampaikan apresiasi atas bantuan dari FKH UGM yang ikut mengawal dan memantau pelaksanaan kegiatan pemotongan hewan kurban di lebaran Iduladha. Selain menggandeng FKH UGM, ujar Heri, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Kabupaten/Kota melibatkan 1.400 petugas veteriner. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memberikan rasa aman bagi masyarakat dan mencegah terjadinya penularan penyakit zoonosis.

“Dari FKH UGM, ada sekitar 350 mahasiswa dan berkolaborasi dengan PDHI yang mengerahkan 180 orang dokter hewan yang akan memeriksa hewan kurban saat sebelum dan pasca penyembelihan,” jelasnya.

Heri menyebutkan setiap tahunnya rata-rata ada sekitar 78 ribu hewan kurban yang dipotong pada lebaran Iduladha. Hewan ternak yang dipotong tersebut meliputi sapi, kambing, domba, dan kerbau.

Soal potensi penyakit yang kemungkinan harus diantisipasi menjangkiti hewan kurban di DIY, Heri menyebutkan tiga penyakit zoonosis yang perlu ditanggulangi dan menjadi perhatian dari petugas pemeriksa hewan kurban yakni penyakit anthrax, Lumpy Skin Disease (LSD), dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Untuk antisipasi, kita imbau di tempat penjualan, pasar, dan lokasi budidaya ternak, jika ada hewan tidak sehat dan ada kematian mendadak segera melaporkan pada dokter hewan berwenang atau Puskeswan terdekat untuk diperiksa dan mendapat penanganan lebih cepat,” pesannya.

Ana Nida Firdaus (22) salah satu mahasiswa petugas pemeriksa hewan kurban, mengaku motivasi menjadi petugas pemeriksa hewan kurban dalam rangka ikut membantu masyarakat agar daging kurban betul-betul sudah layak dikonsumsi. “Kita juga memastikan hewan kurban sudah memenuhi persyaratan layak untuk disembelih dan masyarakat juga terhindar dari penularan penyakit dari hewan ke manusia,” terangnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel FKH UGM Kirim Ratusan Mahasiswa Petugas Pemeriksa Hewan Kurban pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fkh-ugm-kirim-ratusan-mahasiswa-petugas-pemeriksa-hewan-kurban/feed/ 0
Dosen FKH UGM Gelar Program Pengabdian Cegah Stunting https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fkh-ugm-gelar-program-pengabdian-cegah-stunting/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fkh-ugm-gelar-program-pengabdian-cegah-stunting/#respond Tue, 04 Jun 2024 11:40:00 +0000 https://ugm.ac.id/dosen-fkh-ugm-gelar-program-pengabdian-cegah-stunting/ Tim Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM menyelenggarakan kegiatan program pencegahan stunting di Desa Sukorejo, Musuk, Kabupaten Boyolali,  Jawa Tengah. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan selama 6 bulan dengan mitra sasaran yaitu Kelompok PKK dan Kader Posyandu serta Ibu Balita dengan anak stunting. Tim dosen FKH UGM terdiri atas Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, MP, […]

Artikel Dosen FKH UGM Gelar Program Pengabdian Cegah Stunting pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM menyelenggarakan kegiatan program pencegahan stunting di Desa Sukorejo, Musuk, Kabupaten Boyolali,  Jawa Tengah. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan selama 6 bulan dengan mitra sasaran yaitu Kelompok PKK dan Kader Posyandu serta Ibu Balita dengan anak stunting. Tim dosen FKH UGM terdiri atas Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, MP, Prof. Dr. drh. Sarmin, M.P., Dr. drh.Claude Mona Airin, M.P., Winarsih, S.Si.T. M.Kes., berkolaborasi dengan tim dosen dari Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (UNJAYA) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo, Boyolali.

Guru Besar FKH UGM Prof. Dr. drh. Sarmin, M.P., dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (4/6), mengatakan program pemberdayaan masyarakat untuk pencegahan stunting melalui implementasi inovasi produk olahan susu sapi dan kelor. “Olahan produk pangan ini kita namakan Susake, kependekan dari susu sapi dan kelor untuk mencegah stunting pada balita,” ujar Sarmin.

Sarmin menjelaskan Balita yang mengalami stunting memerlukan asupan gizi yang lengkap melalui inovasi produk olahan ini bisa mendukung perbaikan gizi bagi balita. “Balita yang mengalami stunting memerlukan asupan gizi yang lengkap, melibatkan berbagai jenis makanan yang mencakup protein nabati dan hewani, serta nutrisi lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan yang optimal,” jelasnya.

Pengabdian masyarakat ini merupakan program pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi untuk menjembatani kolaborasi dalam pengembangan dan penerapan IPTEKS yang dihasilkan oleh perguruan tinggi untuk dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakat.

Selai keterlibatan tim FKH UGM, kegiatan pelatihan pola asuh tumbuh kembang anak bagi ibu kelompok PKK dan kader posyandu, tim FKH UGM dibantu oleh tim dosen dari Universitas jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) dan Stikes Estu Utomo Boyolali, yaitu Dr.  Tri Sunarsih, SST., M.Kes, Winarsih, S.Si.T. M.Kes, Endah Puji Astuti, SSiT., M.Kes, Elvika Fit Ari Shanti, SSiT., M.Kes dan dibantu oleh Alief Nur Insyiroh, S. Tr.Keb., M. Keb dari STIKES Yogyakarta dan Bangun P Nusantoro, STP, MP.,  dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Dosen Prodi Kebidanan Unjaya, Dr. Bdn. Tri Sunarsih, S.ST., M.Kes. mengatakan pihaknya memberi pelatihan mengenai pemenuhan gizi, perawatan anak, pemeliharaan kesehatan, mendidik anak, mengasuh anak, dan perlindungan kepada anak. Selain itu, pola asuh anak oleh orangtua harus tepat, dengan memberikan perhatian khusus terhadap pemenuhan stimulus pada perkembangan anak. “Dengan begitu, kita dapat membantu anak-anak stunting untuk tumbuh sehat dan mencapai potensinya sepenuhnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, kegiatan pelatihan pola asuh anak dan pencegahan stunting mulai dilakukan pada hari Sabtu (1/6) lalu di Balai Desa Sukorejo, Musuk, Boyolali. Lurah Desa Sukorejo Erik Darmadi, mengapresiasi kegiatan tersebut  dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan upaya pencegahan stunting di desa Sukorejo.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Freepik

Artikel Dosen FKH UGM Gelar Program Pengabdian Cegah Stunting pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fkh-ugm-gelar-program-pengabdian-cegah-stunting/feed/ 0
UGM Buka Kuota 1.010 Calon Mahasiswa untuk 26 Prodi Jalur IUP https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-buka-kuota-1-010-calon-mahasiswa-untuk-26-prodi-jalur-iup/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-buka-kuota-1-010-calon-mahasiswa-untuk-26-prodi-jalur-iup/#respond Sun, 05 May 2024 06:09:02 +0000 https://ugm.ac.id/ugm-buka-kuota-1-010-calon-mahasiswa-untuk-26-prodi-jalur-iup/ Universitas Gadjah Mada memiliki 13 fakultas dengan total 26 program studi yang membuka jalur International Undergraduate Program (IUP). Untuk tahun ini, sebanyak 1.010 kuota disediakan, dan 413 mahasiswa telah diterima melalui seleksi IUP UGM Gelombang 1. Bagi kamu yang ingin mengambil jalur ini, masih tersedia sisa kuota lewat seleksi IUP untuk gelombang 2 dan 3. […]

Artikel UGM Buka Kuota 1.010 Calon Mahasiswa untuk 26 Prodi Jalur IUP pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada memiliki 13 fakultas dengan total 26 program studi yang membuka jalur International Undergraduate Program (IUP). Untuk tahun ini, sebanyak 1.010 kuota disediakan, dan 413 mahasiswa telah diterima melalui seleksi IUP UGM Gelombang 1. Bagi kamu yang ingin mengambil jalur ini, masih tersedia sisa kuota lewat seleksi IUP untuk gelombang 2 dan 3.

Beberapa prodi IUP di yang ditawarkan yakni prodi Peternakan, Biologi, Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi, Teknik Biomedis, Teknik Sipil dan Lingkungan, Teknik Kimia, Teknik Geodesi, Teknik Geologi, Teknik Informasi, Teknik Industri, Perencanaan Wilayah dan Kota, Geografi Lingkungan, Hukum, Kimia, Ilmu Komputer, Elektronika dan Instrumentasi.

Selanjutnya, prodi kedokteran, Farmasi, Psikologi, Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Manajemen dan Kebijakan Publik, Kedokteran Hewan, dan Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil.

Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom. mengatakan jalur IUP memberikan kesempatan pada calon mahasiswa untuk berkuliah di dalam negeri menggunakan kurikulum internasional. Sebab, di kelas internasional ini para mahasiswa tidak hanya menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar, melainkan terdapat kurikulum dan pengajar yang memenuhi standar internasional, serta kewajiban untuk melakukan international exposure berupa double degree atau pun pertukaran mahasiswa dengan universitas mitra di luar negeri. “Mahasiswa mendapatkan kesempatan lebih besar mengikuti international exposure lewat IUP,” kata Sigit.

Untuk pendaftaran Program IUP UGM untuk gelombang 2, kata Sigit, telah dibuka sejak 3 April hingga 6 Mei 2024 secara daring. Sedangkan untuk gelombang 3 dibuka dari 19 juni hingga 10 juli 2024. “Kuota untuk seleksi IUP gelombang 2 dan 3 akan dikurangi berdasarkan jumlah mahasiswa yang telah diterima di gelombang 1,” ujar Sigit, Minggu (5/5).

Kepada calon mahasiswa baru yang ingin mengikuti seleksi program IUP harus mengikuti beberapa proses seleksi, yakni Gadjah Mada Scholastic Test (GMST) yang dilaksanakan bagi calon mahasiswa baru pada satu tahun terakhir, skor TOEFL ITP/IBT, Duolingo English Test, AcEPT UGM atau IELTS, wawancara, Focus Group Discussion, serta melampirkan prestasi baik akademik maupun non akademik sebagai nilai tambahan dari proses penilaian. “Setiap fakultas juga memiliki format tes yang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan dan kesesuaian calon mahasiswa dengan program studi yang dipilih,” ujar Sigit.

Salah satu kebaruan yang ada untuk program IUP di tahun 2024 ini, kat Sigit dibukanya program IUP pada fakultas termuda di UGM, Sekolah Vokasi. Tahun ini, UGM memperkenalkan prodi Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil atau International Undergraduate Program of Civil Infrastructure Management and Maintenance Engineering.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UGM, Dr. Leo Indra Wardhana, mengatakan program IUP pada Program Studi Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk mempelajari Operasi, Pemeliharaan, Optimasi, dan Rehabilitasi manajemen infrastruktur sipil sehingga meningkatkan keunggulan akademik serta keterampilan para lulusan yang diperlukan untuk karier di tingkat global. “Keunggulannya tentu melekat pada pendidikan vokasi yang lebih spesifik dan dirancang di lingkup kerja tertentu. Jika sarjana teknik sipil belajar keseluruhan, maka di teknik sipil sekolah vokasi belajar terkait pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur sipil,” ujarnya.

Leo juga memberikan beberapa tips untuk dapat lolos seleksi program IUP UGM di Sekolah Vokasi. Ia menyarankan calon peserta seleksi untuk tidak memilih program studi yang tidak linear dengan peminatan saat SMA dan persiapkan dengan matang beberapa kebutuhan proses seleksi. “Usahakan mendapatkan GMST dan nilai Bahasa Inggris setinggi-tingginya, persiapkan dengan baik untuk motivation letter karena menjadi bahan pertimbangan, latihan terus untuk interview, serta cantumkan prestasi yang dimiliki,” paparnya.

Hampir serupa dengan Sekolah Vokasi, Fakultas Kedokteran Hewan UGM juga membuka jalur IUP di tahun 2024. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKH UGM, drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D., mengatakan bahwa program IUP di FKH UGM tidak hanya pada sarjana kedokteran hewan saja, tetapi berlanjut hingga jenjang profesi. Program IUP di FKH UGM memiliki beberapa kegiatan international exposure yang dilakukan saat antar semester yang meliputi pertukaran mahasiswa, research internship, short visit, international conference, dan volunteering. “Kami telah bekerja sama dengan banyak perguruan tinggi luar negeri untuk mengirimkan mahasiswa kesana sesuai dengan kemampuan dan passionnya,” paparnya.

Penulis: Dita

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel UGM Buka Kuota 1.010 Calon Mahasiswa untuk 26 Prodi Jalur IUP pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-buka-kuota-1-010-calon-mahasiswa-untuk-26-prodi-jalur-iup/feed/ 0
Ingin jadi Dokter Hewan? Yuk, Kenali Seluk Beluk Kuliah di FKH UGM https://ugm.ac.id/id/berita/ingin-jadi-dokter-hewan-yuk-kenali-seluk-beluk-kuliah-di-fkh-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/ingin-jadi-dokter-hewan-yuk-kenali-seluk-beluk-kuliah-di-fkh-ugm/#respond Fri, 05 Apr 2024 05:37:18 +0000 https://ugm.ac.id/ingin-jadi-dokter-hewan-yuk-kenali-seluk-beluk-kuliah-di-fkh-ugm/ Kamu calon mahasiswa baru? punya cita-cita ingin menjadi seorang dokter hewan? jika  iya, maka perlu mengetahui informasi soal seluk beluk kuliah di S1 Pendidikan Kedokteran Hewan. Sedikit informasi, hingga tahun 2024 ini, ada 13 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran hewan. Selain di Universitas Gadjah Mada, pendidikan yang sama diselenggarakan di Universitas Syiah Kuala Aceh, […]

Artikel Ingin jadi Dokter Hewan? Yuk, Kenali Seluk Beluk Kuliah di FKH UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kamu calon mahasiswa baru? punya cita-cita ingin menjadi seorang dokter hewan? jika  iya, maka perlu mengetahui informasi soal seluk beluk kuliah di S1 Pendidikan Kedokteran Hewan. Sedikit informasi, hingga tahun 2024 ini, ada 13 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran hewan. Selain di Universitas Gadjah Mada, pendidikan yang sama diselenggarakan di Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Udayana Bali, dan Universitas Hasanudin Makassar.

Di UGM, pendidikan kedokteran hewan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) sejak 20 September 1946 atau 77 tahun lalu. Hingga saat ini, FKH UGM  telah meluluskan 6.215 dokter hewan. Di seluruh Indonesia, total jumlah Dokter Hewan yang terdata di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) tercatat kurang lebih ada 13.500 Dokter Hewan, artinya hampir separuhnya merupakan lulusan dari FKH UGM.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Prof. drh. Teguh Budipitojo, M.P., Ph.D, mengatakan pendidikan sarjana kedokteran hewan bertujuan untuk mendidik calon dokter hewan yang cakap, unggul, dan mempunyai kemampuan excellent veterinarian yang mampu bersaing di tingkat global dan internasional.

“Kita selalu berkomitmen menyelenggarakan pendidikan tinggi yang unggul dan inovatif, diharapkan bisa menghasilkan lulusan dokter hewan yang unggul, mandiri, bermartabat, dan dijiwai Pancasila serta mengabdi kepada kepentingan dan kemakmuran bangsa,” kata Dekan FKH, Jumat (5/4).

Selama 77 tahun berdiri, ujarnya, FKH UGM selalu berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi peningkatan kualitas pendidikan kedokteran hewan dan bidang kesehatan hewan secara luas di Indonesia. Bahkan untuk meningkatkan kualitas akademik bertaraf internasional, program studi S1 Pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan telah mendapat akreditasi internasional ASIIN pada 2019 lalu.

Di sisi lain,  untuk menunjang kompetensi mahasiswa,  FKH UGM juga memiliki Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi yang selama ini dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk pendidikan jenjang profesi koasistensi reproduksi,  dinas, diagnosa laboratorik, interna hewan kecil, bedah radiologi, dan manajemen rumah sakit hewan. Tidak hanya itu, FKH UGM juga memiliki fasilitas teaching farm yang berada di Playen, Gunungkidul, kandang umbaran kuda, kandang burung, dan kandang ayam merdeka. “Sedangkan fasilitas untuk belajar di luar kelas, FKH juga membangun gazebo hijauan ternak, coworking space, dan ruang sekretariat UKM Mahasiswa,” paparnya.

Ditanya soal tingkat persaingan masuk prodi S1 Pendidikan Kedokteran Hewan, Dekan menyampaikan jumlah peminat pada tahun 2023 lalu sebanyak 2.890 orang dan kuota  yang diterima sebanyak 230 orang. Namun yang melakukan registrasi 216, “Artinya rasio peminat dan yang diterima, rata-rata 12,6 orang memperebutkan satu kursi,” kata Dekan.

Berdasarkan data jumlah mahasiswa S1 yang masuk tahun 2023 tercatat 216 orang, 19 orang diantaranya berasal dari Malaysia. Sedangkan untuk masa studi, Pendidikan S1 Pendidikan Kedokteran Hewan dapat ditempuh selama 48 bulan dan Pendidikan Profesi Dokter Hewan diselesaikan selama 18 bulan.

Bramasta Cahyo (21), mahasiswa S1 FKH UGM, mengaku bahwa kuliah di FKH UGM sudah menjadi keinginannya sejak di bangku sekolah menengah atas. Pria kelahiran Surakarta ini mengatakan dengan menjadi dokter hewan ia nantinya akan lebih banyak bekerja di lapangan. Bram mengaku tidak begitu menyukai bekerja seperti orang kantoran. Selain itu, ia berkeinginan ingin membuka klinik praktik dokter hewan. “Dalam  bayanganku, nanti bisa menjadi dokter hewan klinis dan punya klinik sendiri,” ujarnya.

Saat mendaftar tes masuk FKH UGM,  Bram membayangkan dirinya lebih banyak menghabiskan waktu kuliah di ruang kelas dan laboratorium. Namun kenyataan yang ia temukan berbeda. Suasana kampus yang sejuk dan rindang di sekitar kampus,  ditambah fasilitas kandang hewan untuk hewan besar dan hewan kecil seperti reptil dan primata menjadikan ia betah berlama-lama di kampus. “Suasananya sangat beda seperti yang kubayangkan. Di sini banyak pohon, banyak sapi, kambing, dan hewan piaraan lainnya. Jadi benar-benar mirip seperti pedesaan,” ujarnya.

Dikatakan Bram,  sistem perkuliahan di FKH UGM menggunakan pembelajaran Student Teacher Aesthetic Role-sharing (STAR). FKH UGM memberlakukan strategi pendidikan belajar Problem Based Learning (PBL) yang dikembangkan ke arah STAR atau Student Centered Learning Plus (SCL+). Sistem pembelajaran seperti ini memadukan secara proporsional antara Teacher Centered Learning (TCL) dan Student Centered Learning (SCL) .

Ditanya soal tentang strategi dirinya untuk bisa belajar mengingat nama-nama latin dari anatomi hewan besar maupun hewan kecil, Bram memiliki trik dan cara sendiri dengan lebih banyak belajar menjelang dini hari. “Bagiku, belajar tengah malam itu lebih sunyi, jadi enak buat ngerjain tugas dan belajar,” katanya.

Selain belajar di waktu dini hari,  Bram juga suka juga belajar di sela-sela waktu santai atau saat jalan-jalan. Bahkan di saat praktikum, Bram mengusahakan ia lebih fokus untuk belajar dan menghafal nama latin dari berbagai anatomi hewan. ”Jadi jujur, memang saat praktikum sangat membantuku dalam memahami mata kuliah. Kalau aku pribadi, belum praktik agak susah untuk menghafal suatu materi secara long term,” katanya.

Bram mengaku ia bukan tipikal mahasiswa yang study-oriented atau hanya memikirkan kuliah dan belajar saja selama di kampus. Di bangku kuliah semester enam sekarang ini, Bram ternyata aktif di organisasi UKM Veterinary Science Community (VSC). Ia pun didaulat menjadi ketua di komunitas yang bergerak di bidang riset dan kajian ilmiah.    “Kebetulan aku punya minat yang cukup tinggi pada dunia riset,” katanya.

Di sela membagi waktu untuk kuliah dan berorganisasi, Bram juga tengah menjadi mahasiswa kerja part time di Kantor Pusat UGM untuk mengurusi kanal media sosial. Ia aktif membantu membuat materi konten video untuk kanal akun Instagram dan TikTok Universitas. “Aku tertarik mengembangkan minat dan bakatku, sebenarnya aku melihat peluang di dunia medsos. Bisa menambah wawasan dan pengalaman juga,” pungkasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel Ingin jadi Dokter Hewan? Yuk, Kenali Seluk Beluk Kuliah di FKH UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ingin-jadi-dokter-hewan-yuk-kenali-seluk-beluk-kuliah-di-fkh-ugm/feed/ 0