festival budaya Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/festival-budaya/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 06 Feb 2025 02:31:01 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Mahasiswa KKN UGM Gelar Festival Budaya Riuk Raya Moa di Maluku Barat Daya https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-gelar-festival-budaya-riuk-raya-moa-di-maluku-barat-daya/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-gelar-festival-budaya-riuk-raya-moa-di-maluku-barat-daya/#respond Thu, 06 Feb 2025 02:25:12 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75558 Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan program kerja pelestarian budaya daerah di  Desa Klis, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Pelaksanaan program kerja diwujudkan dalam bentuk Festival Seni Budaya Riuk Raya Moa yang diselenggarakan pada Sabtu (25/1) lalu di Pantai Gerdarsi. Festival budaya ini menjadi puncak dari rangkaian acara apresiasi budaya dalam upaya menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan kesenian […]

Artikel Mahasiswa KKN UGM Gelar Festival Budaya Riuk Raya Moa di Maluku Barat Daya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM melaksanakan program kerja pelestarian budaya daerah di  Desa Klis, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Pelaksanaan program kerja diwujudkan dalam bentuk Festival Seni Budaya Riuk Raya Moa yang diselenggarakan pada Sabtu (25/1) lalu di Pantai Gerdarsi. Festival budaya ini menjadi puncak dari rangkaian acara apresiasi budaya dalam upaya menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan kesenian di daerah.

Koordinator KKN-PPM UGM, Azzan Nasrullah menjelaskan bahwa festival ini bertujuan untuk melestarikan budaya, adat istiadat yang ada di Pulau Moa, terkhusus Desa Klis dan Desa Persiapan Nyama. Selain melestarikan budaya, festival budaya tersebut turut berperan untuk mengenalkan Pulau Moa ke khalayak luas dan meningkatkan minat wisatawan. Melalui Festival Budaya Riuk Raya Moa dapat menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan Moa bagi Indonesia dan juga mancanegara.“Ini pesta kita bersama, festival ini bukan milik mahasiswa KKN saja. Festival budaya ini milik masyarakat Klis dan Nyama. Kami merasa bangga dan gembira bisa menjadi bagian dari sejarah perhelatan akbar ini”, ungkap Nasrullah dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Kamis (6/2).

Ia mengatakan, Pulau Moa terkhusus Desa Klis dan Nyama memiliki potensi yang besar. Mulai dari makanan, adat, budaya tegur sapa, setiap jengkal kehidupan masyarakat memiliki daya jual. Kegiatan ini memiliki berbagai hal yang dilakukan seperti penampilan tarian adat dari orang tua maupun anak sekolah, pameran UMKM, membaca puisi, mendongeng, pujian lagu hingga kontes menggambar.“Semua program yang sudah kami lakukan ini menjadi pengalaman berharga bukan hanya bagi peserta KKN UGM tapi juga bagi masyarakat pulau Moa. Tatanan adat istiadat dan budaya yang unik dan khas ini harus dan wajib dilestarikan sampai kapanpun itu,” harapnya.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PPM MA008, Fadli Kasim, S.T., M.Sc, turut merasa bangga atas terselenggaranya festival ini. Ia mengapresiasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari penduduk Pulau Moa hingga Pemda, yang terlibat mengoptimalkan dan menyukseskan Festival Riuk Raya Moa. Sebagai puncak acara, Riuk Raya Moa menjadi akumulasi jerih payah, rasa bangga, dan suka cita atas partisipasi dan penyelenggaraan yang terbilang sukses. “Mereka (mahasiswa KKN) sudah terlibat langsung secara emosional dengan masyarakat, mereka memberikan perhatian yang serius kepada kebaikan dan kearifan lokal. Alhamdulillah,” katanya.

Wakil Bupati MBD, Drs, Agustinus L. Kilikily, M.Si  mengapresiasi peran mahasiswa membantu menjaga kelestarian seni dan budaya yang ada di Kabupaten Maluku Barat daya, MBD serta upaya peningkatan sumber daya masyarakat. Selain menjadi bagian dari program kerja KKN, Festival Riuk Raya Moa dapat menjadi media menggali dan mengenalkan nilai-nilai budaya yang sarat kearifan lokal. “Negara Indonesia memiliki berbagai macam budaya, peninggalan nenek moyang yang diwariskan kepada kita namun saat ini generasi muda kita yang kurang peduli sehingga perlu dilakukan sosialisasi pentingnya melestarikan budaya kita,” ungkap Kilikily.

Ia berharap, festival ini dapat memberikan semangat bagi semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk bersama-sama merawat dan melestarikan budaya yang ada di Maluku Barat Daya juga menjadi agenda resmi dan berkelanjutan dari tahun ke tahun. “Perlu ditindaklanjuti secara serius Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai fasilitator dalam melestarikan budaya, adat istiadat agar tidak punah melalui kegiatan festival,” imbuhnya.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Mahasiswa KKN UGM Gelar Festival Budaya Riuk Raya Moa di Maluku Barat Daya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-kkn-ugm-gelar-festival-budaya-riuk-raya-moa-di-maluku-barat-daya/feed/ 0
Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Perempuan dalam Karya Sinema Korea  https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-kehidupan-perempuan-dalam-karya-sinema-korea/ https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-kehidupan-perempuan-dalam-karya-sinema-korea/#respond Mon, 04 Nov 2024 08:42:43 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72475 Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada menggelar Women’s Film Festival sebagai bagian dari rangkaian acara tahunan 19th Korean Days, yang berlangsung pada 2-10 November 2024. Festival film ini bertujuan untuk menyoroti berbagai isu perempuan melalui sinema Korea dan memperluas wawasan mahasiswa serta masyarakat tentang budaya dan kehidupan perempuan di Korea. Berlangsung di Ruang 709 dan […]

Artikel Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Perempuan dalam Karya Sinema Korea  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada menggelar Women’s Film Festival sebagai bagian dari rangkaian acara tahunan 19th Korean Days, yang berlangsung pada 2-10 November 2024. Festival film ini bertujuan untuk menyoroti berbagai isu perempuan melalui sinema Korea dan memperluas wawasan mahasiswa serta masyarakat tentang budaya dan kehidupan perempuan di Korea. Berlangsung di Ruang 709 dan Auditorium Gedung Soegondo Lt. 7, Fakultas Ilmu Budaya UGM, sejak sabtu (2/11) lalu, Festival ini menampilkan sejumlah judul terkenal seperti Kim Ji-Young: Born 1982 (2019), Sunday Morning in Victoria Park (2010), Before, Now, & Then (2022), dan Cart (2014).

Pembukaan festival dimeriahkan oleh penayangan Kim Ji-Young: Born 1982, film Korea Selatan yang diadaptasi dari novel kontroversial karya Cho Nam-joo. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang perempuan bernama Kim Ji-Young (diperankan oleh Jung Yu-mi), seorang ibu rumah tangga berusia 30-an yang mengalami perubahan psikologis hingga ia mulai berbicara dan bertindak seperti sosok-sosok penting di masa lalunya, termasuk ibunya dan teman perempuannya. Suaminya, Dae-Hyun (diperankan oleh Gong Yoo), menjadi semakin khawatir atas kondisi Ji-Young dan mendukungnya dalam menghadapi tekanan yang ia alami.

Melalui kisah hidup Ji-Young, film ini menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan Korea dalam masyarakat patriarkal yang menekan kebebasan mereka, baik sebagai istri, ibu, maupun anak perempuan. Ji-Young tumbuh di lingkungan yang sering kali meremehkan aspirasinya, membebankan ekspektasi besar padanya, dan mengabaikan perannya sebagai individu. Kondisi mental Ji-Young yang semakin memburuk menggambarkan dampak ketidakadilan yang ia alami, yang merefleksikan tekanan sosial terhadap perempuan di Korea Selatan.

Kim Ji-Young: Born 1982 mendapatkan apresiasi luas karena berani mengangkat isu-isu yang dianggap sensitif, seperti ketidaksetaraan gender dan kesehatan mental perempuan. Film ini berhasil menggugah kesadaran masyarakat dan memicu diskusi penting tentang hak-hak perempuan dan kesejahteraan mental di Korea.

Setelah penayangan film, acara dilanjutkan dengan Star Talk bersama sutradara Kim Ji-Young: Born 1982, Kim Do-Young, yang hadir melalui Zoom meeting. Kim Do-Young, yang memulai karirnya di dunia teater dan telah berkecimpung dalam dunia film selama 19 tahun, menjelaskan proses kreatif dan tantangan yang ia hadapi selama pembuatan film ini. Wawancara ini dipandu oleh Febriani Elfida Trihtarani, S.S., M.A., yang bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah.

Dalam sesi wawancara, Kim Do-Young berbagi pandangannya tentang relevansi isu yang diangkat oleh film tersebut dan mengakui bahwa proyek ini menuai banyak kritik, terutama dari kalangan konservatif yang menganggap film ini kontroversial karena tema feminisnya. Namun, ia dan tim produksi tetap yakin untuk melanjutkan produksi film tersebut. “Saat itu, isu feminisme sedang marak dan kami merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengangkatnya melalui sinema. Meskipun penuh tantangan, kami yakin film ini dapat memberikan perspektif yang penting,” ujar Kim Do-Young.

Dengan pemutaran dan diskusi film-film seperti Kim Ji-Young: Born 1982, Women’s Film Festival diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai isu yang dihadapi perempuan di Korea, sekaligus membuka dialog tentang ketidaksetaraan gender, hak-hak perempuan, dan kesejahteraan mental.

Penulis : Rahma Khoirunnisa

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Netflix

Artikel Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Perempuan dalam Karya Sinema Korea  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-kehidupan-perempuan-dalam-karya-sinema-korea/feed/ 0
Dorong Promosi Wisata dan Budaya Suku Sasak, Tim KKN UGM Gelar Festival Pesona Sambelia https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-promosi-wisata-dan-budaya-suku-sasak-tim-kkn-ugm-gelar-festival-pesona-sambelia/ https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-promosi-wisata-dan-budaya-suku-sasak-tim-kkn-ugm-gelar-festival-pesona-sambelia/#respond Thu, 08 Aug 2024 03:53:24 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69046 Tim mahasiswa KKN UGM Melukis Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, melakukan kegiatan program revitalisasi kebudayaan dengan mengusung tema Melangkah Bersama, Warnai Kreativitas, Nyalakan Kebudayaan. Rangkaian kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk Festival Pesona Sambelia. Festival tersebut dilakukan sebagai perwujudan upaya mempertahankan eksistensi kebudayaan dan tradisi lokal, khususnya kebudayaan suku Sasak. Adinda Atmin, salah satu anggota tim […]

Artikel Dorong Promosi Wisata dan Budaya Suku Sasak, Tim KKN UGM Gelar Festival Pesona Sambelia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim mahasiswa KKN UGM Melukis Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, melakukan kegiatan program revitalisasi kebudayaan dengan mengusung tema Melangkah Bersama, Warnai Kreativitas, Nyalakan Kebudayaan. Rangkaian kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk Festival Pesona Sambelia. Festival tersebut dilakukan sebagai perwujudan upaya mempertahankan eksistensi kebudayaan dan tradisi lokal, khususnya kebudayaan suku Sasak.

Adinda Atmin, salah satu anggota tim KKN Melukis Sambelia mengatakan rangkaian festival kebudayaan pesona sambelia meliputi kegiatan pawai dulangan, penampilan tradisi peresean, penampilan gendang beleq, dan kebudayaan paleq manuk. Seluruh kegiatan ini bertempat di dua lokasi, yaitu Taman Wisata Air Kramat Suci di Desa Sugian dan Pantai Berandangan di Desa Labuhan Pandan pada hari Minggu, 4 Agustus Lalu. “Festival ini menjadi inti pelaksanaan kegiatan eskalasi promosi kebudayaan dan tradisi lokal suku Sasak,” ujar Adinda Atmin dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (8/8).

Di kegiatan ini, masyarakat berlomba untuk berpartisipasi menghias dan mengisi dulang yang ditempatkan di atas kepala para pembawa dulang. Warga sekitar juga turut aktif mengiringi para peserta pawai dulangan sembari menyusuri jalan menuju Pantai Berandangan.

Adanya festival budaya ini, kata Atmin, tim KKN UGM Melukis Sambelia juga berupaya untuk meningkatkan semangat, pengetahuan, dan keterampilan warga Sambelia dengan mengadakan kegiatan jalan sehat, senam, lomba masak ikan antar desa, Sambelia mencari bakat, lomba renang, lomba mewarnai, fashion show pakaian adat Lombok, pameran dan bazar UMKM, dan pameran interaktif luaran KKN. “Melalui pelaksanaan kegiatan ini, masyarakat diberi pilar dan wadah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terkait keberagaman budaya melalui pertunjukan seni, pameran, kuliner, dan perlombaan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur pada Minggu (4/7/).Widayat, M.Pd., mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN UGM dalam menggelar kegiatan festival kebudayaan yang menurutnya program ini jang promosi kebudayaan dan tradisi daerah. “Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk bisa melanjutkan pelaksanaan kegiatan ini sehingga terwujud efek keberlanjutan yang ditanamkan oleh mahasiswa UGM kepada masyarakat daerah Sambelia,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Suarjo selaku Kepala Dusun Pulur, Desa Labuhan Pandan, menuturkan bahwa tradisi Dulangan merupakan tradisi dari leluhur yang harus dilestarikan sehingga bisa dikenal dan diteruskan oleh generasi yang akan datang. “Dulangan memiliki makna syukur atas rezeki dan kekayaan yang didapatkan. Simbol syukur ini digambarkan dengan masyarakat yang menyimpan atau menyajikan berbagai hasil bumi dan makanan tradisional dalam setiap dulang,” ucapnya.

Festival Pesona Sambelia ini sukses menarik partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan kebudayaan dan potensi lokal daerah Sambelia. Melalui dukungan publikasi dan promosi daerah oleh pemerintah daerah setempatpeningkatan daya tarik pariwisata dapat terasa dan berdampak positif dalam roda pergerakan ekonomi lokal Sambelia.

Di Festival Pesona Sambelia ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok Timur, Kepala Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia Lombok Timur, Lembaga Sumber Daya Mitra, Camat Sambelia, Kepala BPD Sugian dan Labuhan Pandan, Pemerintah Desa Sugian, Labuhan Pandan, dan Senanggalih.

Penulis : Bolivia

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Dorong Promosi Wisata dan Budaya Suku Sasak, Tim KKN UGM Gelar Festival Pesona Sambelia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-promosi-wisata-dan-budaya-suku-sasak-tim-kkn-ugm-gelar-festival-pesona-sambelia/feed/ 0
GIK UGM Siap Fasilitasi Kegiatan Festival Budaya di Kampus  https://ugm.ac.id/id/berita/gik-ugm-siap-fasilitasi-kegiatan-festival-budaya-di-kampus/ https://ugm.ac.id/id/berita/gik-ugm-siap-fasilitasi-kegiatan-festival-budaya-di-kampus/#respond Fri, 07 Jun 2024 09:43:36 +0000 https://ugm.ac.id/gik-ugm-siap-fasilitasi-kegiatan-festival-budaya-di-kampus/ Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman budaya. Kementerian Pendidikan,  Kebudayaan,  Riset dan Teknologi telah melakukan pencatatan dan penetapan daftar warisan budaya takbenda. Berdasarkan data tahun 2022 lalu,  terdapat 11.622 warisan budaya yang dicatat dan 1.728 diantaranya telah ditetapkan. Jumlah warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2023 bertambah sejumlah 213 menjadi 1.941 warisan budaya […]

Artikel GIK UGM Siap Fasilitasi Kegiatan Festival Budaya di Kampus  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dan keanekaragaman budaya. Kementerian Pendidikan,  Kebudayaan,  Riset dan Teknologi telah melakukan pencatatan dan penetapan daftar warisan budaya takbenda. Berdasarkan data tahun 2022 lalu,  terdapat 11.622 warisan budaya yang dicatat dan 1.728 diantaranya telah ditetapkan. Jumlah warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2023 bertambah sejumlah 213 menjadi 1.941 warisan budaya yang telah ditetapkan.

Perayaan budaya merupakan jalan untuk memahami warisan budaya yang berasal dari sejarah dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat suatu daerah. Pada perkembangan festival budaya dalam era teknologi saat ini, anak muda mempunyai peran penting dalam mempromosikan dan menghidupkan festival budaya ini. Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM diharapkan menjadi ruang ekspresi budaya bagi anak muda.

Hal itu mengemuka  dalam talkshow yang bertajuk “Innovation of Cultural Festivals in The Technological Era” yang berlangsung di ruang pertemuan Gedung GIK UGM,  Kamis (6/6). Kegiatan yang diselenggarakan oleh GIK UGM berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Australia menghadirkan beberapa orang pembicara diantaranya Direktur YouSure UGM Dr. Oki Rahadianto dan Country Manager Indonesia di Megatixs, Cameron Frost yang dipandu oleh Head Office of International Affairs UGM, Alfatika Dini,  Ph.D.

Oki mengatakan festival budaya yang menggabungkan unsur budaya dengan teknologi menjadi untuk menggabungkan budaya lokal kepada dunia global. Sebab menjadi menjadi ruang ekspresi bagi anak muda tidak hanya dengan diri mereka sendiri tetapi juga lingkungan sosial mereka.  “Generasi muda sekarang ini memang globally oriented tetapi tetap connect to the locals akibat dari kemajuan teknologi yang ada sehingga terlihat adanya re-innovate yang dilakukan,” ujar Oki.

Menurutnya keberadaan GIK UGM bisa menjembatani ruang kebutuhan ekspresi budaya dan inovasi anak  muda dalam bentuk pertemuan, interlink antara kampus dan aktivitas di luar, serta mengembangkan pengetahuan melalui pertemuan dengan praktisi senior.

Dari sisi praktisi, Cameron mengatakan pihaknya melalui senantiasa hadir menjadi wadah untuk memberikan akses kepada masyarakat luar untuk melihat keindahan budaya dan seni yang ada di Indonesia. Megatrix merupakan perusahaan tiket yang membantu promotor menjual tiket untuk berbagai macam kegiatan atraksi, events, dan konser. “Bali dan Jogja menjadi contoh bagaimana budaya menjadi bagian penting untuk turis internasional. Kami terus berupaya untuk mempromosikan aktivitas budaya di daerah lainnya di Indonesia,” ujar Cameron.

Perkembangan produk menjadi prioritas utama bagi Megatrix untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat baik lokal maupun luar negeri. Cameron menyebutkan bahwa ia dan tim menghabiskan banyak waktu untuk memanfaatkan teknologi. “Teknologi dapat memahami perilaku serta motivasi para pengunjung festival yang akan berdampak pada awareness sebuah budaya dan menjadi tempat pertemuan untuk masyarakat dengan nilai yang sama,” paparnya.

Seperti diketahui talkshow GIK Menyapa ini menjadi salah satu program yang bisa menginspirasi, menghubungkan, dan memberdayakan akademisi, praktisi, dan komunitas untuk berbagi. Program ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi yang mendorong pertumbuhan bersama dan memperkuat esensi potensi yang belum tergali di lingkungan universitas. Dengan mengadopsi budaya, inovasi, kreativitas, teknologi, kolaborasi, keberlanjutan, dan peluang, GIK menciptakan ruang dimana kreativitas dapat berkembang dan ide-ide baru dapat tumbuh.

Penulis: Dita

Editor: Gusti Grehenson

Artikel GIK UGM Siap Fasilitasi Kegiatan Festival Budaya di Kampus  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/gik-ugm-siap-fasilitasi-kegiatan-festival-budaya-di-kampus/feed/ 0
Angkat Budaya Kalimantan Barat, UGM Residence  Gelar Festival Budaya antar Mahasiswa Asrama  https://ugm.ac.id/id/berita/angkat-budaya-kalimantan-barat-ugm-residence-gelar-festival-budaya-antar-mahasiswa-asrama/ https://ugm.ac.id/id/berita/angkat-budaya-kalimantan-barat-ugm-residence-gelar-festival-budaya-antar-mahasiswa-asrama/#respond Thu, 06 Jun 2024 05:29:51 +0000 https://ugm.ac.id/angkat-budaya-kalimantan-barat-ugm-residence-gelar-festival-budaya-antar-mahasiswa-asrama/ UGM Residence kembali menggelar Cultural Festival 2024 untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa asrama UGM. Ajang ini dimeriahkan oleh hadirnya berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas mahasiswa lainnya. Cultural Festival UGM 2024 sukses dihelat pada 1-2 Juni 2024 lalu di Grha Sabha Pramana dengan mengusung tema kebudayaan Kalimantan Barat bertajuk “Selaraskan Ragam Budaya, Rangkai Ikatan […]

Artikel Angkat Budaya Kalimantan Barat, UGM Residence  Gelar Festival Budaya antar Mahasiswa Asrama  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
UGM Residence kembali menggelar Cultural Festival 2024 untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa asrama UGM. Ajang ini dimeriahkan oleh hadirnya berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan komunitas mahasiswa lainnya. Cultural Festival UGM 2024 sukses dihelat pada 1-2 Juni 2024 lalu di Grha Sabha Pramana dengan mengusung tema kebudayaan Kalimantan Barat bertajuk “Selaraskan Ragam Budaya, Rangkai Ikatan dalam Keberagaman untuk Gemilang Indonesia”.

Ando Fanda Belvian, selaku Koordinator Pelaksana Culture Festival antar warga asrama telah dilaksanakan mulai tahun 2011. Pada event kali ini tahun ke-13  mengangkat budaya Kalimantan Barat. “Kebudayaan Kalimantan Barat sengaja dipilih untuk merepresentasikan tugu khatulistiwa,” kata Ando dalam rilis yang dikirim Kamis (6/6).

Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Sindung Tjahyadi menjelaskan bahwa Cultural Festival UGM merupakan salah satu bentuk solidaritas mahasiswa UGM. Ia berharap kegiatan festival budaya semacam ini untuk terus dilaksanakan setiap tahunnya untuk memperkuat persaudaraan antar mahasiswa asrama dan menjadi wadah untukpengembangan kreativitas. “Saya kira ini agenda semacam ini perlu untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan. Sekaligus menjadi wadah bagi kreativitas mahasiswa,” ujarnya.

Kegiatan festival dilaksanakan cukup meriah dan inklusif. Di hari pertama diisi dengan orasi kebudayaan, unjuk seni kebudayaan, serta gelar karya. Pemaknaan kebudayaan Kalimantan Barat dalam tema kali ini tidak hanya diangkat dari segi seremonial saja, namun juga menilik kekayaan alam serta tantangan yang sedang dihadapi saat ini. Dalam pidato orasi kebudayaan yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A., menyampaikan pengalaman dan kegelisahannya ketika melakukan riset di Kalimantan Barat di era 1980 an. “Introduksi sawit di Kalimantan sejak tahun 1980 telah meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Kemakmuran ini ternyata diikuti oleh kehilangan tanah di kalangan sejumlah petani,” paparnya.

Sumber kekayaan dan aset petani berupa tanah adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat tergantikan. Prof. Pujo menjelaskan bahwa deforestasi dan berkurangnya lahan tani menyebabkan munculnya gejala petani tanpa lahan. Melimpahnya sumber daya di Kalimantan Barat tidak serta merta membuat masyarakat sejahtera. Dikatakan oleh Prof. Pujo, setidaknya terdapat dua proses yang menyebabkan petani kehilangan tanah. Pertama, proses eksternal yang berasal dari perusahaan atau kekuatan lainnya di luar Pulau Kalimantan. Sedangkan penyebab kedua terjadi dalam tubuh masyarakat itu sendiri. Kehilangan lahan secara internal ini disebabkan oleh tingginya biaya perawatan lahan sawit. Fakta ini kemudian menimbulkan terjadinya akumulasi lahan internal, sehingga hanya petani bermodal saja yang dapat memiliki lahan dan menanam sawit secara produktif.” Biasanya yang terjadi, tanah yang hilang dibeli oleh kerabat mereka yang kaya. Perubahan ini mengubah status para petani yang semula independen dan punya tanah sendiri, ketika kehilangan tanah mereka menjadi tenaga kerja bagi kerabatnya,” terang Pujo.

Di ajang Cultural Festival 2024 dihadiri oleh puluhan Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormada) di DIY dan mahasiswa UGM Residence. Selain menunjukkan keaktifan dan solidaritas antar mahasiswa, acara ini diharapkan mampu membangkitkan kembali rasa nasionalisme dan cinta tanah air dengan melestarikan kebudayaan nusantara.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Angkat Budaya Kalimantan Barat, UGM Residence  Gelar Festival Budaya antar Mahasiswa Asrama  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/angkat-budaya-kalimantan-barat-ugm-residence-gelar-festival-budaya-antar-mahasiswa-asrama/feed/ 0