Fakultas Peternakan UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fakultas-peternakan-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 10 Feb 2025 04:29:49 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Domba Awassi Potensial Dikembangkan di Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/tim-fapet-ugm-domba-awassi-potensial-dikembangkan-di-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-fapet-ugm-domba-awassi-potensial-dikembangkan-di-indonesia/#respond Mon, 10 Feb 2025 04:23:46 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75719 Domba Awassi merupakan salah satu ternak yang potensial dibudidayakan. Domba ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan dan bisa menjadi pilihan untuk dibudidayakan para peternak. Sejumlah keunggulan yang ada pada domba Awassi, baik dari pertumbuhan daging, produksi susu hingga daya adaptasinya yang tinggi terhadap lingkungan tropis. Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Ir. Yustina Yuni Suranindyah, MS., […]

Artikel Domba Awassi Potensial Dikembangkan di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Domba Awassi merupakan salah satu ternak yang potensial dibudidayakan. Domba ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan dan bisa menjadi pilihan untuk dibudidayakan para peternak. Sejumlah keunggulan yang ada pada domba Awassi, baik dari pertumbuhan daging, produksi susu hingga daya adaptasinya yang tinggi terhadap lingkungan tropis.

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Ir. Yustina Yuni Suranindyah, MS., Ph.D., IPM, mengatakan domba Awassi memiliki pertumbuhan otot yang relatif cepat sehingga membuatnya menjadi pilihan ideal untuk peternak yang menginginkan hasil panen yang optimal dalam waktu relatif singkat. Dengan pertambahan bobot yang mencapai 5-6 kg per bulan untuk betina dan 7-8 kg per bulan untuk jantan, domba Awassi menunjukkan efisiensi tinggi dalam pemanfaatan pakan. Selain itu, produksi susunya juga melimpah. Dengan rata-rata produksi susu mencapai 1,8 liter per hari. “Domba ini menjadi pilihan unggul bagi peternak yang ingin mendapatkan manfaat ganda dari susu dan daging. Sangat cocok dikembangkan di Indonesia karena aslinya domba Awassi dari daerah tropik,”paparnya. Senin (10/2).

Hal senada disampaikan Ir. Rochijan, S.Pt., M.Sc., IPM., yang juga dosen Fakultas Peternakan UGM. Menurutnya, domba Awassi memiliki karkas yang berkualitas tinggi, dengan persentase karkas sekitar 51 persen. Seperti diketahui, karkas merupakan bagian tubuh setelah proses pemotongan yang mencakup daging tanpa kepala, darah, organ-organ internal, kaki, dan kulit. 

Keunggulan lainnya terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan cepat di berbagai lingkungan. Sementara dalam varian seperti domba Awassi F1 dan domba Awassi fullblood, keunggulan genetik dari pejantan fullblood memberikan hasil yang unggul dalam pertumbuhan otot, produksi susu, dan daya adaptasi.

Melihat potensi yang bagus dari domba Awassi ini, Tim Fakultas Peternakan (Fapet) UGM mengadakan pelatihan dan penyuluhan bertajuk Potensi Pengembangan Awassi sebagai Domba Perah di Indonesia. Pelatihan dan penyuluhan dilakukan di Kandang Kambing Burja di Kecamatan Lawang, Malang, Jawa Timur  dan Kandang Kemitraan Klaster Closed Loop Joyo Setinggil di Kecamatan Karangploso, Malang pada selasa (4/2) lalu.

Dalam pelatihan tersebut, baik Prof. Ir. Yustina Yuni Suranindyah, MS., Ph.D., IPM. dan Ir. Rochijan, S.Pt., M.Sc., IPM bertindak selaku narasumber utama. Keduanya dalam kegiatan tersebut banyak memberikan wawasan ilmiah dan praktis mengenai aspek karakteristik domba perah dan manajemen pemerahan. Pelatihan dan penyuluhan didampingi Founder Usaha Bisnis Kambing Burja dan Domba Dorsip, Martinus Alexander, S.Si. Acara penyuluhan diakhiri dengan pelatihan pengukuran ukuran tubuh, ukuran ambing dan puting, perlemakan ekor, serta pengamatan karakteristik Awassi.

Acara ini diikuti peternak mitra, akademisi, dan praktisi industri susu. Acara dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke fasilitas peternakan modern. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan industri peternakan domba perah di Indonesia dapat semakin berkembang secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi peternak dan sektor agribisnis secara luas.

Reportase : Satria

Penulis      : Agung Nugroho

Artikel Domba Awassi Potensial Dikembangkan di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-fapet-ugm-domba-awassi-potensial-dikembangkan-di-indonesia/feed/ 0
Tingkatkan Populasi Ternak Kambing, Dosen UGM Dorong Kolaborasi 59 Fakultas Peternakan https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-populasi-ternak-kambing-dosen-ugm-dorong-kolaborasi-59-fakultas-peternakan/ https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-populasi-ternak-kambing-dosen-ugm-dorong-kolaborasi-59-fakultas-peternakan/#respond Fri, 07 Feb 2025 04:05:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75573 Hewan ruminansia kecil seperti kambing dianggap sebagai ternak paling ideal dalam menghadapi berbagai cekaman lingkungan. Kambing juga tahan terhadap temperature dan kekeringan yang tinggi. Berbagai kelebihan kambing tersebut, diperkirakan  di masa mendatang akan menjadikan hewan ternak ini sebagai sumber ketahanan pangan yang ekonomis dan adaptif terhadap setiap perubahan iklim. Menurut laporan badan pangan dunia FAO […]

Artikel Tingkatkan Populasi Ternak Kambing, Dosen UGM Dorong Kolaborasi 59 Fakultas Peternakan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hewan ruminansia kecil seperti kambing dianggap sebagai ternak paling ideal dalam menghadapi berbagai cekaman lingkungan. Kambing juga tahan terhadap temperature dan kekeringan yang tinggi. Berbagai kelebihan kambing tersebut, diperkirakan  di masa mendatang akan menjadikan hewan ternak ini sebagai sumber ketahanan pangan yang ekonomis dan adaptif terhadap setiap perubahan iklim.

Menurut laporan badan pangan dunia FAO tahun 2018, diperkirakan ketika populasi ternak lain mengalami penurunan, maka populasi kambing justru meningkat melebihi domba. Bahkan di Indonesia sendiri, berdasarkan data statistik 2023, populasi terbesar ternak produktif di Indonesia adalah kambing yakni 19, 398 juta ekor dibanding sapi dengan jumlah 18,6 juta ekor.

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM , Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., IPU., mengatakan kondisi sumber daya alam melimpah yang dimiliki Indonesia, ia yakini akan mampu menaikan populasi kambing dari 3,2 persen per tahun, dan akan terus dapat ditingkatkan. “Pemerataan pengembangan ternak di seluruh Indonesia ini dapat dilakukan pada lingkungan yang sesuai dengan memberdayakan perguruan tinggi yang ada”, katanya, Jumat (7/2).

Ketua Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan ini menyebut di Indonesia saat ini ada sekitar 59 fakultas peternakan. Jika ada sinergi bersama maka pengembangan ternak yang diharapkan tentu akan lebih mudah terlaksana.

Untuk peningkatan produksi daging, maka kambing tipe pedaging harus dikembangkan seperti kambing Bligon, kambing Kacang dan kambing Marica. ”Kebutuhan terhadap kambing tipe pedaging ini tentu cukup tinggi, terutama pada saat hari raya kurban (Idul Adha), bahkan untuk tujuan ekspor, peluangnya masih sangat terbuka”, terangnya.

Ia pun menggas adanya Rencana Pembangunan Peternakan melibatkan Perguruan Tinggi setiap Lima Tahun atau disingkat REPELITA. Gagasan ini, ia sampaikan dengan tujuan meningkatkan populasi kambing di Indonesia.

Di Fakultas Peternakan UGM sendiri, kata Kustantinah, pihaknya sudah melakukan beberapa kegiatan pengembangan ternak kambing  yang telah dilakukan staf dosen di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak bersama Staf Dosen Laboratorium di lingkungan Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet UGM. Salah satunya program pengabdian kepada masyarakat dengan tema pengembangan Desa Binaan, di Dusun Nyemani, Desa Sidoharjo, Kecamatan Sami Galuh, Kab. Kulon Progo. “Pengembangan peternakan kambing tersebut sebagian besar dikelola oleh kelompok wanita tani (KWT), seperti di Gunungkidul, Kulon Progo dan Sleman,” pungkasnya.

Reportase : Satria

Penulis      : Agung Nugroho

Foto          : Freepik.com

 

Artikel Tingkatkan Populasi Ternak Kambing, Dosen UGM Dorong Kolaborasi 59 Fakultas Peternakan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tingkatkan-populasi-ternak-kambing-dosen-ugm-dorong-kolaborasi-59-fakultas-peternakan/feed/ 0
Mahasiswa UGM Gagas Pemanfaatan Sinar UV-C Atasi Bakteri Salmonella pada Telur Ayam https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-fapet-ugm-gagas-pemanfaatan-sinar-uv-c-atasi-salmonella-sp-di-industri-peternakan-ayam-petelur/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-fapet-ugm-gagas-pemanfaatan-sinar-uv-c-atasi-salmonella-sp-di-industri-peternakan-ayam-petelur/#respond Thu, 06 Feb 2025 02:54:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75562 Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat digemari oleh banyak orang. Tingginya kebutuhan akan protein hewani in berkorelasi terhadap naiknya permintaan telur. Oleh karena itu, telur yang bersih dan bebas penyakit tentu menjadi sebua keniscayaan agar telur tidak menyebarkan sumber penyakit yang bisa berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah kemunculan penyakit tifus […]

Artikel Mahasiswa UGM Gagas Pemanfaatan Sinar UV-C Atasi Bakteri Salmonella pada Telur Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat digemari oleh banyak orang. Tingginya kebutuhan akan protein hewani in berkorelasi terhadap naiknya permintaan telur. Oleh karena itu, telur yang bersih dan bebas penyakit tentu menjadi sebua keniscayaan agar telur tidak menyebarkan sumber penyakit yang bisa berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah kemunculan penyakit tifus atau typhoid. “Penyakit ini muncul pada telur yang mengandung bakteri Salmonella sp”, ujar Salma Nur Azizah mahasiswa Fakultas Peternakan UGM angkatan 2022, Kamis (6/2)

Melihat permasalahan tersebut, Salma bersama rekan mahasiswa lainnya Mohammad Rizky Zulfahmi mengggagas pemanfaatan sinar ultraviolet C (UV-C) untuk mengatasi Salmonella sp. di industri peternakan ayam petelur. Salma menjelaskan sinar UV-C memiliki rantai gelombang terpendek diantara sinar untraviolet lainnya. Bahkan dari berbagai referensi yang mereka pelajari,sinar UV-C memiliki kekuatan yang cukup untuk merusak DNA bakteri, termasuk bakteri Salmonella sp.“Penggunaan sinar UV-C dalam mengatasi kontaminasi bakteri Salmonella sp. merupakan langkah yang efektif dan sederhana. Sinar UV-C akan menghentikan pertumbuhan bakteri patogen melalui proses penghancuran rantai DNA,”paparnya.

Rizky Zulfami menambahkan alat instalasi mengatasi bakteri Salmonella sp. sistem ultraviolet C (UV-C) ini menggunakan sumber arus listrik dan terdiri atas beberapa bagian, yaitu kontrol panel, plastik sterilisasi, egg tray, roda pemindah mesin, rangka, gigi roda, roll berjalan, dan lampu sinar UV-C. Secara spesifik sinar UV-C tersebut dapat membunuh bakteri Salmonella sp. umumnya 10-15 menit tergantung panjang gelombang dan waktu penyinaran. “Pemasangan sinar UV-C di conveyor setelah proses grading dapat mengoptimalkan waktu secara efisien dalam skala industri. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan teknologi metode sterilisasi dengan sinar UV-C dalam industri peternakan ayam petelur untuk meningkatkan keamanan dan kualitas pangan,”urai Rizky.

Gagasan kreatif dua mahasiswa Fapet di bawah bimbingan dosen Fapet, Ir. Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc., IPM., tersebut sempat dinobatkan sebagai juara 2 dalam ajang Poultry Literacy Competition yang diselenggarakan oleh Kelompok Profesi Ternak Unggas Universitas Padjadjaran pada tanggal 27 Agustus – 26 September 2024 lalu.

Reportase     : Satria/Humas Peternakan

Penulis          : Agung Nugroho

Foto              : Freepik

Artikel Mahasiswa UGM Gagas Pemanfaatan Sinar UV-C Atasi Bakteri Salmonella pada Telur Ayam pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-fapet-ugm-gagas-pemanfaatan-sinar-uv-c-atasi-salmonella-sp-di-industri-peternakan-ayam-petelur/feed/ 0
Bungkil Inti Sawit Potensial jadi Pakan Tambahan Ternak https://ugm.ac.id/id/berita/bungkil-inti-sawit-potensial-jadi-pakan-tambahan-ternak/ https://ugm.ac.id/id/berita/bungkil-inti-sawit-potensial-jadi-pakan-tambahan-ternak/#respond Wed, 29 Jan 2025 07:11:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=75185 Bungkil inti sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak inti sawit. Di Indonesia produksinya cukup tinggi. Belum lagi kandungan protein kasar yang ada di dalamnya sekitar 14 -19 persen. Hal ini tentu saja menjadikan bungkil inti sawit potensial dijadikan sebagai pakan ternak. Demikian disampaikan peneliti dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT) Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. […]

Artikel Bungkil Inti Sawit Potensial jadi Pakan Tambahan Ternak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Bungkil inti sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak inti sawit. Di Indonesia produksinya cukup tinggi. Belum lagi kandungan protein kasar yang ada di dalamnya sekitar 14 -19 persen. Hal ini tentu saja menjadikan bungkil inti sawit potensial dijadikan sebagai pakan ternak. Demikian disampaikan peneliti dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT) Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., ASEAN Eng., dalam acara Fapet Menyapa , Jumat (24/1), soal Potensi Feed Additive pada Pakan Ternak,

Zuprizal menyebutkan produksi pakan tahunan di Indonesia sebanyak kurang lebih 20 juta ton, proporsi optimal penggunaan bungkil inti sawit pada formulasi pakan ayam broiler adalah sebanyak 10% dengan koreksi asam amino esensial dan suplementasi enzim. “Ada potensi penggunaan bungkil inti sawit sebagai pakan ayam broiler sekitar 2 juta ton,”kata Zuprizal.

Zuprizal memberikan gambaran dalam pemanfaatan formulasi pakan ayam broiler sebanyak 10 persen maka bungkil sawit ini berpotensi untuk mengurangi penggunaan jagung sekitar 9% dan bungkil kedelai sekitar 3 persen. “Jika dimanfaatkan akan ada penghematan apalagi kita tahu bungkil kedelai saat ini masih impor,”imbuhnya.

Sementara terkait kandungan serat kasar pada bungkil inti sawit khususnya manan yang tinggi perlu disuplementasi enzim dari luar berupa enzim mananase, NSPase, dan protease untuk meningkatkan kecernaan nutrien yang berakibat pada peningkatan produktivitas, kualitas karkas, dan kesehatan saluran cerna dari ayam broiler.

Dalam kesempatan itu tim Lab IMT juga memaparkan beberapa contoh hasil penelitian feed additive (imbuhan pakan) dengan teknologi nano partikel untuk ayam broiler, seperti nano teknologi ekstrak kunyit, nano teknologi ekstrak kapulaga, nano emulsion ekstrak minyak atsiri serai dan ekstrak daun sirsak.

Selain Prof. Zuprizal, Tim Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fapet UGM yang hadir dalam Fapet Menyapa yaitu Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Dr. Aji Praba Baskara, Nanung Danar Dono, Ph.D., Dr. Insani Hubi Zulfa dan Dr. Aeni Nur Latifah.

Reportase : Satria/Humas Fakultas Peternakan

Penulis      : Agung Nugroho

Foto          : Gapki dan Margiyono

Artikel Bungkil Inti Sawit Potensial jadi Pakan Tambahan Ternak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bungkil-inti-sawit-potensial-jadi-pakan-tambahan-ternak/feed/ 0
Cetak 5.402 Insinyur, UGM Penyumbang Profesi Insinyur Terbanyak di Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/cetak-5-402-insinyur-ugm-penyumbang-profesi-insinyur-terbanyak-di-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/cetak-5-402-insinyur-ugm-penyumbang-profesi-insinyur-terbanyak-di-indonesia/#respond Tue, 14 Jan 2025 08:50:53 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74698 Universitas Gadjah Mada melantik 859 insinyur baru. Sebanyak 859 insinyur baru berasal dari Fakultas Teknik (727), Fakultas Kehutanan (70) dan Fakultas Peternakan (62). Dengan penambahan 727 lulusan insinyur baru, Fakultas Teknik UGM tercatat hingga saat ini berhasil meluluskan 4.281 insinyur. Fakultas Kehutanan UGM dengan penambahan 70 lulusan insinyur baru maka hingga saat ini berhasil mencetak […]

Artikel Cetak 5.402 Insinyur, UGM Penyumbang Profesi Insinyur Terbanyak di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada melantik 859 insinyur baru. Sebanyak 859 insinyur baru berasal dari Fakultas Teknik (727), Fakultas Kehutanan (70) dan Fakultas Peternakan (62). Dengan penambahan 727 lulusan insinyur baru, Fakultas Teknik UGM tercatat hingga saat ini berhasil meluluskan 4.281 insinyur. Fakultas Kehutanan UGM dengan penambahan 70 lulusan insinyur baru maka hingga saat ini berhasil mencetak 374 insinyur. Sedangkan Fakultas Peternakan UGM dengan meluluskan 62 insinyur baru maka hingga saat ini berhasil mencetak 747 insinyur. Dengan demikian UGM telah berhasil mencetak 5.402 profesi insinyur.

Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng selaku Dekan Fakultas Teknik menyatakan dengan pelantikan insinyur oleh UGM dan PII maka para lulusan saat ini boleh dibilang sebagai insinyur yang beneran. Jika sebelumnya bergelar Sarjana Teknik dinilai masih terasa belum sah.  “Namun dengan pelantikan hari ini maka insinyur yang disandang beneran karena juga dilantik bersama PII”, katanya di Grha Sabha Pramana, Selasa (14/1).

Tidak banyak yang disampaikan Selo pada kesempatan ini. Ia hanya mengingatkan kembali tentang lagu himne Gadjah Mada dan himne PII. Kedua lagu tersebut, katanya mengandung kata-kata yang sangat bermakna. “Mengabdi, menjunjung tinggi kebudayaan untuk kejayaan nusantara. Kemudian ada himna PII,dan kita semua adalah insinyur Indonesia yang dibutuhkan oleh negara ini”, terangnya.

Sekali lagi, ia menyampaikan ucapan selamat atas dilantiknya para insinyur baru. Para insinyur lulusan UGM adalah insinyur-insinyur kebanggaan UGM, dan kebanggaan Indonesia yang mempunyai tanggung jawab besar membawa bangsa ini menjadi negara yang maju. “Sebagai insinyur tentu kita akan menghadapi banyak tantangan ke depan. Tidak hanya tantangan teknis yang terkait dengan dunia keinsinyuran, tetapi juga tantangan non-teknis yang kadang-kadang ini justru merupakan tantangan yang sulit kita hadapi”, imbuhnya.

Sejumlah pejabat hadir dalam pelantikan insinyur baru kali ini. Mereka yang hadir diantaranya Sekretaris Jendral Persatuan Insinyur Indonesia, Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ACPE., ASEAN.Eng, Direktur Eksekutif PII, Santi Sirat, Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Teknik, Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Kehutananserta Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Peternakan. Teguh Haryono dalam sambutannya menyampaikan  visi besar Indonesia 2045 adalah menjadikan industri sebagai salah satu pilar utama yang menentukan daya saing bangsa. Kemajuan teknologi, penguatan kapasitas manufaktur, serta pengembangan sumber daya manusia yang unggul, disebutnya, menjadi kunci untuk mencapai visi tersebut. “Kita semua sebagai insinyur memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan inovasi teknologi dengan kebutuhan masyarakat”, katanya.

Dalam pandangan Teguh, insinyur adalah agen perubahan yang dapat menjembatani antara potensi akademik dan penerapan praktis di dunia industri. Untuk itu, model triple helix yang terdiri dari akademisi, industri, dan pemerintah harus terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung transformasi industri. “Dalam konteks ini, Universitas Gajah Mada telah menunjukkan komitmennya yang luar biasa dalam mencetak insinyur-insinyur berkualitas yang siap berkontribusi di berbagai sektor. Berdasarkan data yang kami terima, UGM telah mencetak kurang lebih 5.402 insinyur, dan seluruh Indonesia itu sekarang ada sekitar 28.000, dan UGM menyumbang paling banyak dari 45 perguruan tinggi penyelenggara PSBPI,” terangnya.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Donnie

 

Artikel Cetak 5.402 Insinyur, UGM Penyumbang Profesi Insinyur Terbanyak di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cetak-5-402-insinyur-ugm-penyumbang-profesi-insinyur-terbanyak-di-indonesia/feed/ 0
Kisah Siti Zubaidah, Tendik UGM Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-siti-zubaidah-tendik-ugm-raih-gelar-doktor-dengan-predikat-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-siti-zubaidah-tendik-ugm-raih-gelar-doktor-dengan-predikat-cumlaude/#respond Sat, 11 Jan 2025 00:24:56 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74592 Tenaga Laboran dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT), Fakultas Peternakan, Siti Zubaidah, S.Pt., M.Biotech, dinyatakan lulus ujian disertasi, Jumat (10/1). Siti merupakan tenaga kependidikan (Tendik) pertama yang menyandang gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Penggunaan Bungkil Sawit dengan Suplementasi Enzim Terhadap Produktivitas, Kualitas Karkas, dan Kesehatan Saluran Cerna Ayam Broiler. “Alhamdulilah tentu bahagia bisa […]

Artikel Kisah Siti Zubaidah, Tendik UGM Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tenaga Laboran dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT), Fakultas Peternakan, Siti Zubaidah, S.Pt., M.Biotech, dinyatakan lulus ujian disertasi, Jumat (10/1). Siti merupakan tenaga kependidikan (Tendik) pertama yang menyandang gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Penggunaan Bungkil Sawit dengan Suplementasi Enzim Terhadap Produktivitas, Kualitas Karkas, dan Kesehatan Saluran Cerna Ayam Broiler. “Alhamdulilah tentu bahagia bisa selesai sesuai target awal tiga tahun,” ungkap Siti ditemui seusai ujian Doktor.

Siti tertarik meneliti bungkil inti sawit karena memiliki potensi dijadikan pakan ternak. Bungkil inti sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak inti sawit. Produksinya cukup tinggi di Indonesia, begitu juga dengan kandungan protein kasar sebesar 14% – 19% sehingga bungkil inti sawit berpotensi untuk dijadikan sebagai pakan ternak, terutama ternak unggas. Akan tetapi bungkil inti sawit memiliki kelemahan berupa kandungan serat kasar, khususnya manan yang tinggi. Padahal, unggas tidak mempunyai enzim untuk mendegradasi manan sehingga perlu disuplementasi enzim dari luar berupa enzim mananase, NSPase, dan protease untuk meningkatkan kecernaan nutrien yang berakibat pada peningkatan produktivitas, kualitas karkas, dan kesehatan saluran cerna dari ayam broiler.

Siti berhasil menyelesaikan studi program Doktor dalam kurun waktu 2 tahun 11 bulan di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., ASEAN Eng (promotor), Drh. Bambang Ariyadi, M.P., Ph.D (Ko-promotor) dan Prof. Dr. Ir. Chusnul Hanim., M.Si., IPM., ASEAN Eng (Ko-promotor). Ia pun mengungkapkan jika perjuangannya menyelesaikan studi S3 tidak lepas dari dukungan keluarga. “Kebetulan suami saya juga lulusan Fakultas Peternakan UNDIP (Universitas Diponegoro) sehingga sedikit banyak bisa menjadi teman diskusi selama studi,” tuturnya.

Siti tak lupa juga berterima kasih kepada para staf di Laboratorium IMT, dan pimpinan Fakultas Peternakan. Dengan hasil yang ia peroleh, Siti berharap dapat memicu Tendik lainnya untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuan sesuai bidang masing-masing. “Tentu semua butuh perjuangan. Malam hari saya harus terus menulis untuk disertasi dan jurnal, bahkan akhir pekan juga saya habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas,” kenang ibu dengan dua putra ini.

Pendidikan Siti Zubaidah diawali dari S1 Fakultas Peternakan UGM angkatan 2000 dan S2 di Sekolah Pascasarjana UGM angkatan 2010. Perempuan kelahiran Sleman, 2 Oktober 1981 ini menyelesaikan studi doktoralnya dengan biaya mandiri dan terdaftar sebagai mahasiswa Program S3 Fakultas Peternakan UGM angkatan 2021.

Reportase  : Satria/Humas Fakultas Peternakan

Penulis       : Triya Andriyani

Artikel Kisah Siti Zubaidah, Tendik UGM Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-siti-zubaidah-tendik-ugm-raih-gelar-doktor-dengan-predikat-cumlaude/feed/ 0
PMK Kembali Merebak, Fakultas Peternakan UGM Bentuk Satgas https://ugm.ac.id/id/berita/pmk-kembali-merebak-fakultas-peternakan-ugm-bentuk-satgas/ https://ugm.ac.id/id/berita/pmk-kembali-merebak-fakultas-peternakan-ugm-bentuk-satgas/#respond Mon, 06 Jan 2025 03:51:29 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74375 Laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebutkan sebanyak 824 sapi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) per 1 Januari 2025. Dari jumlah tersebut, 21 ekor sapi dilaporkan mati. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan para peternak. Mengingat situasi dan kondisi kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di DIY dan nasional yang terus […]

Artikel PMK Kembali Merebak, Fakultas Peternakan UGM Bentuk Satgas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebutkan sebanyak 824 sapi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) per 1 Januari 2025. Dari jumlah tersebut, 21 ekor sapi dilaporkan mati. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan para peternak. Mengingat situasi dan kondisi kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di DIY dan nasional yang terus meningkat mendorong Fakultas Peternakan (Fapet) UGM segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Satuan Tugas ini dibentuk sebagai upaya antisipasi sekaligus penanganan PMK di DIY dan Nasional.

“Dengan angka kejadian penyakit PMK di DIY dan nasional yang terus meningkat mendorong Fapet UGM memutuskan untuk membentuk Satgas,” ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng, Senin (6/1).

Menurut Budi, tugas Satgas Penanggulangan PMK ini antara lain memastikan pencegahan dan penanganan PMK bisa dilakukan lebih cepat dan sistematis. Perwakilan tim dosen Fapet UGM juga telah melakukan survei awal ke lokasi ternak yang terkena PMK di Gunung Kidul.“Sudah melakukan survei awal ke lokasi ternak yang terkena PMK,”imbuh Budi.

Langkah penting lainnya yang perlu dilakukan terkait PMK, imbuh Budi, adalah biosekuriti. Biosekuriti adalah tindakan untuk mencegah penularan penyakit atau kontaminasi ke dalam atau keluar dari suatu tempat. Dalam hal ini untuk melindungi ternak dari virus sejak dini. Keamanan ternak maupun manusia dan lingkungan menjadi prioritas. Untuk itu diperlukan beberapa tindakan nyata seperti pengawasan lalu-lintas keluar masuk kandang hingga isolasi ternak yang terkena PMK.

Seperti diketahui, ratusan ternak terutama sapi di DIY telah terpapar PMK. Bahkan, tidak sedikit yang mati. Kasus ternak yang terkena PMK antara lain terjadi di Gunung Kidul, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.

Reportase  : Satria/Humas Fak.Peternakan

Penulis       : Agung Nugroho

Foto           : Dok. Fak Peternakan

Artikel PMK Kembali Merebak, Fakultas Peternakan UGM Bentuk Satgas pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pmk-kembali-merebak-fakultas-peternakan-ugm-bentuk-satgas/feed/ 0
Delegasi Fakultas Peternakan UGM Hadiri Konferensi Biennial ke-24 AAACU di Nagoya, Jepang https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-peternakan-ugm-hadiri-konferensi-biennial-ke-24-aaacu-di-nagoya-jepang/ https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-peternakan-ugm-hadiri-konferensi-biennial-ke-24-aaacu-di-nagoya-jepang/#respond Thu, 12 Dec 2024 04:13:35 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73733 Delegasi dari Fakultas Peternakan UGM turut berpartisipasi dalam Konferensi Biennial ke-24 dan Sidang Umum yang bertajuk “Nagoya Protocol in Nagoya wise and harmonized use of bioresources in the international community” yang diselenggarakan oleh Asian Assosiation of Agriculture Colleges and Universities (AAACU) di Universitas Nagoya, Jepang, pada 2-6 Desember lalu. Tim delegasi Fakultas Peternakan  dipimpin oleh […]

Artikel Delegasi Fakultas Peternakan UGM Hadiri Konferensi Biennial ke-24 AAACU di Nagoya, Jepang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Delegasi dari Fakultas Peternakan UGM turut berpartisipasi dalam Konferensi Biennial ke-24 dan Sidang Umum yang bertajuk Nagoya Protocol in Nagoya wise and harmonized use of bioresources in the international community” yang diselenggarakan oleh Asian Assosiation of Agriculture Colleges and Universities (AAACU) di Universitas Nagoya, Jepang, pada 2-6 Desember lalu. Tim delegasi Fakultas Peternakan  dipimpin oleh Dekan Fakultas Peternakan, Prof. Budi Guntoro, Ph.D., yang sekaligus sebagai Second Vice-President AACU didampingi oleh Andriyani Astuti, Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Peternakan. Konferensi ini juga dihadiri para akademisi dan peneliti terkemuka dari seluruh Asia, diantaranya Dr. Mutsuaki Suzuki dari National Institute of Genetics dan Dr. Hiroshi Kiyono dari Universitas Tokyo, Jepang.

Budi Guntoro mengatakan konferensi ini menyoroti pentingnya penggunaan sumber daya hayati secara bijaksana dan harmonis dalam komunitas internasional, terutama di kawasan Asia tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kehadiran UGM dalam konferensi  ini menegaskan komitmen dalam memperkuat kolaborasi internasional dan berbagai pengetahuan di bidang pertanian dan peternakan. Di pertemuan forum tersebut, kata Budi, dirinya menyampaikan presentasi tentang inovasi dalam pendidikan dan penelitian di bidang peternakan. Sedangkan Andriyani Astuti berpartisipasi dalam diskusi panel mengenai kebijakan pertanian berkelanjutan di Asia.

Partisipasi Fakultas Peternakan UGM dalam konferensi ini, kata Budi Guntoro sebagai bukti nyata akan komitmen Fakultas Peternakan untuk terus berinovasi dan berkolaborasi di tingkat internasional. “Diharapkan dengan keterlibatan UGM dalam forum ini dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta belajar dari institusi lain untuk kemajuan bersama di bidang pertanian dan peternakan,” katanya.

Budi menyebutkan ada 33 universitas di kawasan Asia dan Amerika Serikat ikut berpartisipasi dalam forum ini. Konferensi ini tidak hanya menjadi ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga untuk memperkuat jaringan professional antar anggota AAACU. “Kita ingin untuk dapat terus berkontribusi dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan melalui kolaborasi internasional yang kuat,” paparnya.

Reportase : Febriyanto & Satria/Humas Peternakan

Penulis      : Agung Nugroho

Artikel Delegasi Fakultas Peternakan UGM Hadiri Konferensi Biennial ke-24 AAACU di Nagoya, Jepang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-peternakan-ugm-hadiri-konferensi-biennial-ke-24-aaacu-di-nagoya-jepang/feed/ 0
UGM Kembangkan Teknologi Pakan Rendah Protein untuk Ternak Ayam Petelur https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-teknologi-pakan-rendah-protein-untuk-ternak-ayam-petelur/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-teknologi-pakan-rendah-protein-untuk-ternak-ayam-petelur/#respond Thu, 12 Dec 2024 02:43:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73740 Fakultas Peternakan UGM terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan masyarakat melalui program Diseminasi Teknologi Pakan Rendah Protein. Program ini menyasar Komunitas Jamblang Genthong di Desa Karangtengah, Bantul, sebagai upaya mengatasi tantangan ekonomi dan lingkungan yang dihadapi peternak lokal. Program yang dipimpin oleh Ir. Muhlisin, S.Pt., M.Agri., Ph.D., IPP., ini dirancang untuk memperkenalkan teknologi Low Protein Diet (LPD) […]

Artikel UGM Kembangkan Teknologi Pakan Rendah Protein untuk Ternak Ayam Petelur pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Peternakan UGM terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan masyarakat melalui program Diseminasi Teknologi Pakan Rendah Protein. Program ini menyasar Komunitas Jamblang Genthong di Desa Karangtengah, Bantul, sebagai upaya mengatasi tantangan ekonomi dan lingkungan yang dihadapi peternak lokal.

Program yang dipimpin oleh Ir. Muhlisin, S.Pt., M.Agri., Ph.D., IPP., ini dirancang untuk memperkenalkan teknologi Low Protein Diet (LPD) bagi ayam petelur. Teknologi ini menjadi solusi inovatif yang dapat menekan biaya pakan sekaligus mengurangi carbon footprint dari aktivitas peternakan. Muhlisin menyatakan bahwa penerapan teknologi ini akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi kesejahteraan peternak. Pakan rendah protein ini dibuat dengan bahan baku lokal seperti jagung dan bekatul. “Selain lebih ekonomis, pakan ini mampu mengurangi emisi amonia dari kotoran ayam, yang selama ini menjadi penyumbang polusi nitrogen. Teknologi ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan peternakan yang berkelanjutan,” jelasnya, Rabu (11/12).

Sebanyak sepuluh pemuda dari Komunitas Jamblang Genthong dipilih sebagai mitra peternak selama program diseminasi teknologi pakan rendah protein dilangsungkan. Para peserta dilatih dalam manajemen pemeliharaan ayam petelur dengan sistem free range di lahan seluas 300 m² milik komunitas.

Diseminasi teknologi pakan renda protein ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ayam tetapi juga mendukung produktivitas telur dalam jangka panjang, dan para pemuda komunitas juga mendapatkan pendampingan khusus untuk memproduksi pakan rendah protein secara mandiri. “Dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah, seperti jagung dan bekatul, program ini tentunya membantu menekan biaya produksi yang selama ini menjadi tantangan utama peternak kecil”, terang Muhlisin.

Tidak berhenti di produksi, kata Muhlisin, program ini juga menekankan pentingnya pengemasan dan pemasaran hasil panen. Para peserta dilatih cara mengemas telur dengan desain menarik yang menekankan nilai ramah lingkungan. Strategi pemasaran juga menjadi bagian dari pelatihan, sehingga produk telur hasil budi daya dapat menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya konsumen yang peduli pada keberlanjutan lingkungan.

Program inipun mendapat dukungan penuh dari Fakultas Peternakan UGM dan kolaborasi dengan Komunitas Jamblang Genthong serta dukungan dana dari Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada. Monitoring dan evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan pemahaman peserta serta keberhasilan implementasi teknologi di lapangan. Telur yang dihasilkan dari program ini memiliki kualitas baik dan siap bersaing di pasaran.

Dengan berjalannya program ini, Fakultas Peternakan UGM berharap dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi pemuda Desa Karangtengah, sekaligus menjadi solusi konkret dalam mengatasi dampak lingkungan dari peternakan ayam petelur.

Sarjianto, Ketua Komunitas Jamblang Genthong, menyatakan program pemberdayaan yang dijalankan membuat anggota komunitas menjadi paham cara mengelola peternakan ayam petelur free range. Iapun mengakui ada peningkatan ekonomi pemuda melalui peternakan yang dikembangkan. Program ini, dia harapkan sebagai langkah awal menuju kemandirian ekonomi dan peternakan yang berkelanjutan. “Kami berharap program ini menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia,” ucapnya.

Reportase     : Satria/Humas Peternakan

Penulis          : Agung Nugroho

Artikel UGM Kembangkan Teknologi Pakan Rendah Protein untuk Ternak Ayam Petelur pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kembangkan-teknologi-pakan-rendah-protein-untuk-ternak-ayam-petelur/feed/ 0
20 Delegasi Afrika Ikuti Pelatihan Sistem Peternakan Telur Bebas Sangkar https://ugm.ac.id/id/berita/20-delegasi-afrika-ikuti-pelatihan-sistem-peternakan-telur-bebas-sangkar/ https://ugm.ac.id/id/berita/20-delegasi-afrika-ikuti-pelatihan-sistem-peternakan-telur-bebas-sangkar/#respond Tue, 26 Nov 2024 07:50:29 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73232 Sebanyak 20 delegasi dari Afrika mengikuti International Training on Cage-free Innovation and Welfare Hub, 25-29 November 2024 di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Para peserta berasal dari 4 negara, yakni Ghana, Tanzania, Zimbabwe dan Uganda. Mereka adalah utusan dengan beragam latar belakang, seperti LSM, aktivis hewan, petani dan juga mahasiswa. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., […]

Artikel 20 Delegasi Afrika Ikuti Pelatihan Sistem Peternakan Telur Bebas Sangkar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak 20 delegasi dari Afrika mengikuti International Training on Cage-free Innovation and Welfare Hub, 25-29 November 2024 di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM. Para peserta berasal dari 4 negara, yakni Ghana, Tanzania, Zimbabwe dan Uganda. Mereka adalah utusan dengan beragam latar belakang, seperti LSM, aktivis hewan, petani dan juga mahasiswa.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengatakan kegiatan pelatihan dengan melibatkan peserta dari Afrika ini baru pertama kali diselenggarakan. “Pelatihan-pelatihan sebelumnya banyak melibatkan peserta dari Asia, seperti Malaysia, Filipina dan Indonesia,”kata Budi, di Fapet UGM, Senin (25/11).

Menurut Budi Guntoro kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Global Food Partners dan  AERES University of Applied Science, The Netherlands. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para peserta sekaligus memperluas pengetahuan mereka tentang sistem peternakan telur bebas sangkar. “Fapet UGM memiliki peternakan percontohan dan pusat pelatihan peternakan telur bebas sangkar yang diberi nama Cage-free Innovation and Welfare Hub. Ini yang pertama di ASEAN dan telah menarik minat dari pemangku kepentingan di Afrika,”imbuhnya.

Elissa Lane, Co-Founder and Chief Executive Officer Global Food Partners, berharap kegiatan ini bisa menjadi sarana belajar bagaimana praktik terbaik dalam pengelolaan peternakan telur bebas sangkar.

Cage-free Innovation and Welfare Hub adalah peternakan percontohan dan pusat pelatihan yang dibangun sebagai fasilitas bagi produsen telur, dokter hewan, auditor, akademisi, dan mahasiswa untuk mempelajari praktik terbaik dalam peternakan telur bebas sangkar. Model peternakan dan pusat pelatihan ini terbuka tidak hanya bagi mereka yang berada di Indonesia, tetapi juga bagi mereka yang datang dari negara-negara lain di kawasan ini.

Selama mengikuti kegiatan pelatihan para peserta dari Afrika ini juga berkesempatan mengunjungi ke Cage-free Innovation and Welfare Hub serta beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT) di Sleman.

Reportase     : Satria/Humas Fakulta Peternakan

Penulis          : Agung Nugroho

Foto              : Margiyono

Artikel 20 Delegasi Afrika Ikuti Pelatihan Sistem Peternakan Telur Bebas Sangkar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/20-delegasi-afrika-ikuti-pelatihan-sistem-peternakan-telur-bebas-sangkar/feed/ 0