Fakultas Pertanian UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fakultas-pertanian-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 07 Jan 2025 08:55:53 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Pakar UGM: Kebijakan Stop Impor Pangan harus diikuti dengan Penguatan Infrastruktur Irigasi dan SDM Petani https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-kebijakan-stop-impor-pangan-harus-diikuti-dengan-penguatan-infrastruktur-irigasi-dan-sdm-petani/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-kebijakan-stop-impor-pangan-harus-diikuti-dengan-penguatan-infrastruktur-irigasi-dan-sdm-petani/#respond Tue, 07 Jan 2025 08:51:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74466 Pemerintah Indonesia menegaskan akan berhentikan impor terhadap komoditas strategis seperti beras, jagung, gula, dan garam di tahun 2025 ini. Keputusan yang telah diumumkan setelah rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden bersama sejumlah Menteri terkait pada akhir Desember silam ini, menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan swasembada pangan dengan fokus pada peningkatan produksi dalam negeri. Menanggapi […]

Artikel Pakar UGM: Kebijakan Stop Impor Pangan harus diikuti dengan Penguatan Infrastruktur Irigasi dan SDM Petani pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Pemerintah Indonesia menegaskan akan berhentikan impor terhadap komoditas strategis seperti beras, jagung, gula, dan garam di tahun 2025 ini. Keputusan yang telah diumumkan setelah rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden bersama sejumlah Menteri terkait pada akhir Desember silam ini, menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan swasembada pangan dengan fokus pada peningkatan produksi dalam negeri.

Menanggapi target tersebut, Guru Besar bidang Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.P., Ph.D., menuturkan untuk mencapai target kebijakan stop impor tidaklah mudah mengingat sektor pertanian beserta sektor kelautan dan perikanan sebagai penopang ketahanan pangan masih menghadapi banyak kendala yang masih belum terselesaikan. “Mempertimbangkan data impor komoditas strategis pada beberapa tahun terakhir, nampaknya program stop impor dalam satu tahun ini sangat sulit, rentang tiga sampai empat tahun masih lebih realistis,” ujar Subejo, Selasa (7/1).

Menurutnya, semangat dan gagasan untuk menghentikan impor pada komoditas beras, jagung, gula, dan garam sangatlah baik dan perlu diapresiasi, meskipun akan memiliki dampak yang sangat kompleks terhadap ketahanan pangan nasional. Data-data dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan impor keempat komoditas strategis tersebut masih sangat tinggi, sebagai contoh pada komoditas beras masih menyentuh angka 3 juta ton/tahun, sedangkan jagung mendekati 1 juta ton/tahun. Bahkan pada komoditas gula menyentuh angka impor yang sangat impresif senilai 4 juta ton/tahun. Hal serupa juga terjadi di komoditas garam dengan angka impor mencapai 2 juta ton/tahun, sebuah ironi mengingat 63 persen wilayah Indonesia merupakan perairan dengan garis pantai yang panjang. “Untuk menutup kekurangan tersebut, kapasitas produksi domestik dan ketahanan sektor pangan harus meningkat sangat signifikan dengan berbagai macam pra-syarat, seperti ketersedian lahan produksi, infrastruktur, akses terhadap input, pembiayaan, SDM, teknologi dan inovasi, serta tata kelola dan kelembagaan yang memadai,” tuturnya.

Terkait ketersediaan lahan produksi, skala usaha pertanian yang sangat kecil menjadi perhatian Subejo. Data Sensus Pertanian di tahun 2023 menunjukkan petani yang mengelola lahan seluas 1.000 meter persegi hanya sejumlah 7 juta petani. Meskipun mengalami peningkatan sekitar 70 persen dibandingkan 10 tahun sebelumnya, namun layanan penyuluhan dan kapasitas SDM petani yang masih terbatas, ditambah dengan sejumlah problematika lainnya menyebabkan efisiensi produksi rendah dan tingkat produktivitas relatif stagnan. “Pembukaan lahan-lahan pertanian baru yang memiliki kesesuaian tinggi dalam skala terbatas dan manageable harus dilakukan secara bertahap,” jelasnya.

Tidak hanya itu, infrastruktur irigasi salah satu hal yang sangat menentukan bagi petani bisa menanam komoditas pertanian dengan baik atau tidak. Sebab berdasarkan data indeks pertanaman untuk padi masih kurang dari 1,5 yang berarti lahan-lahan padi secara nasional baru ditanami 1,5 kali dalam setahun. Hal ini disebabkan terutama karena ketersediaan air yang masih sangat terbatas. Ia menegaskan, jika pembangunan infrastruktur skala besar dan menengah yang ada di lintas provinsi, provinsi dan kabupaten maupun irigasi mikro di desa-desa mendapat prioritas pembangunan dan revitalisasi, maka potensi untuk meningkatkan indeks pertanaman menjadi sangat besar. Sedangkan untuk peningkatan produksi dapat dilakukan melalui introduksi varietas padi yang adaptif terhadap sumber daya air yang terbatas, salah satunya adalah Padi Gamagora 7 yang dikembangkan oleh UGM.

Mengingat ketergantungan sebagian masyarakat terhadap impor pada keempat komoditas strategis tersebut, menurut Subejo, secara keseluruhan jika penghentian impor pangan yang tidak diikuti oleh peningkatan signifikan dalam produksi pangan domestik dapat memperburuk ketahanan pangan jangka pendek, menyebabkan kenaikan harga pangan, dan menambah tekanan inflasi. Hal ini tentunya akan berisiko mengurangi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. Untuk mencegah dampak negatif ini, kebijakan stop impor harus disertai dengan langkah-langkah mitigasi selain peningkatan kapasitas produksi domestik, seperti diversifikasi, penguatan sistem distribusi bagi beras, jagung, gula dan juga garam, serta kebijakan sosial dan bantuan pangan yang sekiranya bermanfaat bagi masyarakat rentan. “Jika kebijakan stop impor tidak didukung oleh langkah-langkah yang tepat, tentunya nanti akan ada potensi peningkatan ketegangan sosial, ketidakstabilan ekonomi, dan dampak negatif lainnya. bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” jelas Subejo.

Menurutnya, keberhasilan kebijakan stop impor ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan petani, yang harus saling mendukung untuk memastikan peningkatan produktivitas pertanian, penguatan ketahanan pangan, dan stabilitas harga pangan domestik. Peran sektor swasta dan investor dianggap memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan stop impor yang digaungkan oleh Pemerintah. Pasalmnya, sektor swasta dan investor dapat berkontribusi melalui kemitraan dengan petani, seperti pembelian hasil pertanian secara konsisten ataupun melalui penyuluhan dan pendampingan teknologi. “Sektor swasta juga dapat melakukan investasi dalam teknologi pertanian, sebagai contoh pemanfaatan Internet of Things (IoT), pengolahan pasca panen dan penyimpanan untuk memudahkan distribusi, serta dengan memberikan bantuan pembiayaan,” katanya.

Subejo juga mengingatkan kebijakan stop impor bagi komoditas strategis yang diterapkan oleh pemerintah bisa berpotensi memengaruhi hubungan perdagangan Indonesia dengan negara-negara mitra impor utama. Namun demikian,  jika kebijakan tersebut dilakukan bertahap dan konsisten, serta dapat dibuktikan kemampuan peningkatan efisiensi produksi dan daya saing produk-produk nasional maka proses akan bisa lebih smooth. Jika kebijakan ini terbukti mendukung produksi dalam negeri dan menurunkan ketergantungan pada impor, Indonesia bisa memperkuat ketahanan pangannya. “Dengan efisiensi produksi yang tinggi, maka sebetulnya secara ekonomi dan factual, memang produk nasional seharusnya mampu bersaing dengan produk dari negara manapun,” tutupnya.

Penulis : Triya Andriyani

Foto     : Freepik

Artikel Pakar UGM: Kebijakan Stop Impor Pangan harus diikuti dengan Penguatan Infrastruktur Irigasi dan SDM Petani pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-kebijakan-stop-impor-pangan-harus-diikuti-dengan-penguatan-infrastruktur-irigasi-dan-sdm-petani/feed/ 0
Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/ https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/#respond Fri, 03 Jan 2025 09:43:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74345 Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar dengan luas perairan sebesar 6,4 juta km2, garis pantai sepanjang 108.000 km, dan memiliki 17.504 pulau. Sektor perikanan telah menyumbang sebanyak 27 miliar USD terhadap GDP pada tahun 2019, menciptakan 7 juta lapangan pekerjaan, dan memberikan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani. Menurut Dekan […]

Artikel Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki potensi perikanan yang sangat besar dengan luas perairan sebesar 6,4 juta km2, garis pantai sepanjang 108.000 km, dan memiliki 17.504 pulau. Sektor perikanan telah menyumbang sebanyak 27 miliar USD terhadap GDP pada tahun 2019, menciptakan 7 juta lapangan pekerjaan, dan memberikan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani.

Menurut Dekan Fakultas Perikanan UGM, Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D dengan potensi yang sangat besar tersebut, Indonesia tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang andal untuk mengelola sektor perikanan agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. “Diperlukan lulusan-lulusan perikanan yang siap memajukan sektor perikanan Indonesia,” kata Jaka Widada dalam konferensi daerah sekaligus pengukuhan pengurus ISPIKANI DPD Yogyakartad di Auditorium Harjono Danoesastro Fakultas Pertanian UGM, Minggu (22/12).

Menurut Jaka, Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) merupakan organisasi profesi di bidang perikanan yang didirikan pada tanggal 12 Mei 1984. Sebagai forum silaturahmi antar sarjana perikanan sehingga mampu memberikan kontribusi pemikiran terhadap kemajuan pembangunan perikanan di Indonesia dan mampu menggalang potensi segenap sarjana perikanan guna menjadi penggerak pengembangan perikanan. Ia pun berharap ISPIKANI hadir sebagai solusi serta mengedepankan profesionalitas bersama pemerintah dan stakeholder perikanan lainnya untuk memajukan sektor perikanan. “Karenanya yang penting adalah sinergi. Sinergi adalah satu kebutuhan utama, karena tidak bisa lagi melakukan sesuatu bersifat reductionis, sinergi berbagai profesi perikanan sangat diperlukan”, ungkapnya.

Dalam konferensi daerah dan pengukuhan pengurus ISPIKANI DPD Yogyakarta ini dihadiri 100 sarjana perikanan yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Peserta yang hadir berasal dari berbagai macam profesi seperti pendidik, peneliti, birokrasi, pengusaha, maupun pemerhati perikanan. Sulhan Anwar, S.Pi., MM selaku inisiator pembentukan ISPIKANI DPD Yogyakarta menyampaikan konferensi menjadi sarana untuk memperkuat visi misi para sarjana perikanan. ISPIKANI diharapkan menjadi rumah bagi sarjana perikanan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. “Saya sangat berharap seluruh anggota untuk terus bersinergi dan mendukung program kerja ISPIKANI”, terangnya.

Sementara itu, Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., selaku Ketua Umum DPP ISPIKANI menyambut baik penyelenggaraan konferensi daerah dan pengukuhan DPD ISPIKANI DIY. Ia menekankan terkait tantangan yang dihadapan pemerintahan saat ini bukanlah perang senjata namun perang dalam ketahanan pangan. Kepada seluruh pengurus dan anggota DPD ISPIKANI DIY, Agus mengharapkan ISPIKANI mampu melakukan berbagai terobosan dan membuat program-program yang dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait menjadi satu kesatuan, yang kemudian memicu penguasaan pangan di Indonesia. “Di tahun 2025, kita merencanakan akan mengadakan RAKORNAS dengan agenda menyusun strategi yang lebih cepat dan tepat untuk mengatasi permasalahan sektor perikanan”, kayanya.

Dia menambahkan dengan pembentukan ISPIKANI DPD Daerah Istimewa Yogyakarta maka telah melengkapi semua DPD ISPIKANI yang ada di Pulau Jawa. Dengan terbentuknya ISPIKANI DPD DIY maka telah berdiri 31 DPD ISPIKANI secara nasional, dan hasil musyawarah pembentukan ISPIKANI DPD DIY telah menunjuk Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., Ketua Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM terpilih sebagai Ketua DPD ISPIKANI DIY periode 2024-2028.

Alim Isnansetyo menegaskan pihaknya akan menjalankan program-program dalam pengembangan kelembagaan  dan memperkenalkan ISPIKANI kepada lulusan sarjana perikanan. “Kita perlu melakukan peningkatan kontribusi industri perikanan agar animo mahasiswa baru juga meningkat. Apalagi isu terkait sektor perikanan di DIY menjadikan among tani dagang layar dimana Pemerintah DIY memiliki visi untuk menjadikan laut sebagai halaman muka,” ungkapnya.

Menurutnya, ISPIKANI dapat berkolaborasi untuk membantu Pemerintah meningkatkan potensi kemaritiman untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Apabila dapat dilakukan pemberdayaan dengan menggali potensi tersebut maka bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Ikatan Sarjana Perikanan Diharapkan Bisa Berkontribusi Mendorong Kemajuan Industri Perikanan DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ikatan-sarjana-perikanan-diharapkan-bisa-berkontribusi-mendorong-kemajuan-industri-perikanan-diy/feed/ 0
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Bersih-Bersih di Pantai Baru https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-program-studi-magister-ilmu-perikanan-bersih-bersih-di-pantai-baru/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-program-studi-magister-ilmu-perikanan-bersih-bersih-di-pantai-baru/#respond Wed, 18 Dec 2024 08:02:15 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74028 Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan pengabdian kali ini dilakukan dengan menyelenggarakan bersih-bersih pantai di Pantai Baru, Padukuhan Ngentak, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (17/12). Dalam kegiatan bersih-bersih pantai, ini diisi pula dengan kegiatan lomba fotografi dan pemberian apresiasi kepada […]

Artikel Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Bersih-Bersih di Pantai Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan pengabdian kali ini dilakukan dengan menyelenggarakan bersih-bersih pantai di Pantai Baru, Padukuhan Ngentak, Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (17/12).

Dalam kegiatan bersih-bersih pantai, ini diisi pula dengan kegiatan lomba fotografi dan pemberian apresiasi kepada kelompok yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak dan menampilkan kreativitas terbaik. Karena itu sebelum pelaksanaan bersih-bersih, sebanyak 50 peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diberikan sejumlah peralatan seperti trashbag, sapu, serok sampah, dan keranjang untuk memudahkan pengumpulan sampah.

Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., selaku Ketua Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM mengatakan kegiatan pengabdian oleh mahasiswa Magister Ilmu Perikanan, dosen dan para tenaga kependidikan menjadi peran nyata dalam pelestarian ekosistem sekaligus penyegaran setelah menjalani ujian akhir semester. “Setelah melewati ujian yang melelahkan, kegiatan bersih pantai ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengalihkan pikiran dan berkontribusi positif bagi lingkungan,” ujarnya.

Kegiatan inipun mendapat dukungan keterlibatan dari kelompok wisata Pantai Baru dan masyarakat setempat yang turut berpartisipasi dalam bersih-bersih pantai. Dengan melibatkan masyarakat dan komunitas setempat, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di wilayah pesisir.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian UGM, Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana pembelajaran dan pengaplikasian ilmu yang erat kaitannya dengan ekosistem laut dan pesisir. Sebagai generasi yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan maka menjaga kelestarian ekosistem laut menjadi tanggung jawab bersama. ”Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan kontribusi nyata,” terangnya.

Secara keseluruhan aktivitas bersih-bersih pantai berjalan lancar dan tertib. Secara detail, mereka memastikan seluruh kawasan pantai terjangkau oleh aksi bersih-bersih ini. Kegiatan inipun dimeriahkan dengan sesi ramah tamah, dan setiap kelompok diberikan kesempatan untuk menampilkan hiburan seperti lagu, pantun, puisi, dan tebak gaya.

Suwandi selaku aktivis dan Ketua Kelompok Wisata Pantai Baru menyatakan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Dia mengakui pantai di Kawasan Bantul sering menerima tumpukan sampah, terutama dari muara sungai yang meningkat drastis pada bulan Desember hingga Februari. “Bersih pantai ini tentu sangat membantu kami sebagai pengelola pantai, terutama dalam menjaga kebersihan kawasan pesisir,” ungkapnya.

Sebagai hasilnya, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhasil membersihkan area pesisir, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif kepada para peserta tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan lestari, kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus dilakukan di masa mendatang. ”Tentunya program ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi  menjadi wujud nyata kontribusi kalangan kampus bagi keberlanjutan lingkungan pesisir”, imbuh Suwandi.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Perikanan Bersih-Bersih di Pantai Baru pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-program-studi-magister-ilmu-perikanan-bersih-bersih-di-pantai-baru/feed/ 0
Mahasiswa dan Dosen UGM Gelar Aksi Bersih Sungai Boyong https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-dan-dosen-ugm-gelar-aksi-bersih-sungai-boyong/ https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-dan-dosen-ugm-gelar-aksi-bersih-sungai-boyong/#respond Mon, 25 Nov 2024 06:16:11 +0000 https://ugm.ac.id/?p=73194 Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan pengabdian Padukuhan Jaban, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan aksi bersih-bersih sungai, penebaran benih ikan dan udang, serta pemasangan papan anjuran/larangan di sepanjang pinggir Sungai Boyong, Minggu (24/11). Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si selaku Koordinator Pelaksana Pengabdian mengatakan kegiatan […]

Artikel Mahasiswa dan Dosen UGM Gelar Aksi Bersih Sungai Boyong pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan pengabdian Padukuhan Jaban, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan aksi bersih-bersih sungai, penebaran benih ikan dan udang, serta pemasangan papan anjuran/larangan di sepanjang pinggir Sungai Boyong, Minggu (24/11).

Dr. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si selaku Koordinator Pelaksana Pengabdian mengatakan kegiatan pengabdian dimaksudkan untuk menjaga ekosistem perairan. Dengan upaya menjaga dan melestarikan sungai diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat, sekaligus berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan perairan, khususnya sungai. “Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat rutin yang dilakukan Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik (MSA) Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan sungai untuk kehidupan”, ujarnya.

Untuk kegiatan kali ini melibatkan lebih dari 75 peserta yang terdiri dari dosen Prodi MSA, mahasiswa baik S-1 dan S-2, dan perwakilan masyarakat dan bersinergi dengan Kelompok Penggiat Lingkungan Sungai (KPLS) Sungai Boyong dan Buntung, Desa Sinduharjo. Secara kebetulan kegiatan pengabdian bersamaan dengan acara Merti Kali. “Kebetulan pas, jadi Merti Kali ini sebagai ungkapan rasa terima kasih masyarakat kepada sungai yang menjadi bagian penting bagi kehidupan mereka”, terang Eko Setyobudi.

Prof. Dr. Ir. Djumanto, M.Sc selaku Ketua Program Studi MSA menyambut baik kegiatan pengabdian kali ini. Menurutnya ditengah perubahan lingkungan saat ini penting melakukan upaya memelihara dan melestarikan ekosistem perairan, termasuk sungai.

Dengan ekosistem yang sehat, disebutnya, akan memberikan layanan ekologi yang lebih baik, dan dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitar. Ia menilai kualitas air di Sungai Boyong tetap bersih meskipun di musim kemarau. Dengan kondisi ini tentunya menjadi berita baik untuk keberlanjutan biota perairan dan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya perikanan. ”Kita semua berharap kegiatan penebaran benih ikan dan bersih-bersih sungai dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan adanya program-program seperti ini, kita berharap akan meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya menjaga kebersihan sungai dan keberlanjutan sumber daya perikanan”, jelasnya.

Selain bersih-bersih sungai, pengabdian masyarakat yang dilakukan secara rutin oleh Program Studi MSA juga dilakukan tebar benih ikan untuk beberapa lokasi. Penebaran benih ikan diutamakan spesies endemik dan tidak invasive berupa 8000 benih ikan nilem dan 1250 benih udang galah. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keragaman hayati sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang berkaitan dengan ekosistem perairan.

Ketua KPLS, Sumadi menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Ia berharap kegiatan pengabdian semacam ini akan terus dilakukan untuk program-program berikutnya. Iapun berharap informasi kegiatan pengabdian bersih-bersih sungai dan tebar ikan dapat tersebar luas. “Sungai Boyong merupakan salah satu sungai penting di wilayah Kabupaten Sleman, dan memiliki air yang cukup melimpah meskipun pada saat musim kemarau. Kita juga bersyukur karena saat ini bersamaan dengan penyelenggaraan Boyong Edufest, yang salah satunya adalah pameran poster dari kegiatan mahasiswa Departemen Hubungan Internasional Fisipol UGM”, ucap Sumadi.

Penulis : Agung Nugroho

Foto      : Dok.Prodi MSA

Artikel Mahasiswa dan Dosen UGM Gelar Aksi Bersih Sungai Boyong pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-dan-dosen-ugm-gelar-aksi-bersih-sungai-boyong/feed/ 0
Novika, Alumnus UGM Memilih jadi Penyuluh Pertanian di Daerah 3T https://ugm.ac.id/id/berita/novika-alumnus-ugm-memilih-jadi-penyuluh-pertanian-di-daerah-3t/ https://ugm.ac.id/id/berita/novika-alumnus-ugm-memilih-jadi-penyuluh-pertanian-di-daerah-3t/#respond Fri, 15 Nov 2024 10:36:03 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72899 Malam Anugerah Insan Universitas Gadjah Mada (UGM) Berprestasi 2024 sungguh menjadi malam yang membahagiakan bagi Novika Sari Harahap, S.P., M.Si. Ia yang datang dari jauh dari kota Dumai, Provinsi Riau menjadi salah satu penerima Insan UGM Berprestasi 2024 kategori Pelopor Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T). “Sungguh saya berbahagia malam ini, terima kasih UGM yang […]

Artikel Novika, Alumnus UGM Memilih jadi Penyuluh Pertanian di Daerah 3T pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Malam Anugerah Insan Universitas Gadjah Mada (UGM) Berprestasi 2024 sungguh menjadi malam yang membahagiakan bagi Novika Sari Harahap, S.P., M.Si. Ia yang datang dari jauh dari kota Dumai, Provinsi Riau menjadi salah satu penerima Insan UGM Berprestasi 2024 kategori Pelopor Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T). “Sungguh saya berbahagia malam ini, terima kasih UGM yang telah memberi apresiasi kepada para alumninya”, ujarnya berkaca-kaca di Gedung Grha Sabha Pramana, Rabu (13/11).

Novika Sari Harahap akrab disapa Novika merupakan alumni Fakultas Pertanian UGM. Menempuh studi S1 di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM lulus tahun 1995, ia melanjutkan studinya ke jenjang S2 di Program Studi Magister Agribisnis Universitas Riau (UNRI).

Selepas menamatkan studi di UNRI, iapun mulai meniti karir sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kota Dumai, Provinsi Riau. Iapun memantapkan diri menjadi seorang penyuluh pertanian yang berfokus pada bidang pemberdayaan sumber daya manusia. “Saya sangat ingin membantu petani dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Pingin mengubah sikap para petani dari belum mau menjadi mau untuk menerima inovasi”,ucapnya pelan bercerita.

Alhasil, semua usahanya sebagai penyuluh memberi hasil. Meski melalui proses yang panjang pemberdayaan sumber daya manusia atau pemberdayaan masyarakat sangat bisa dirasakan. Dengan berbagai inovasi yang ia kenalkan tidak lagi banyak tenaga yang harus dikeluarkan para petani.

Novika mengaku tidak mudah menekuni profesi sebagai penyuluh selama 15 tahun. Banyak persoalan dan tantangan yang harus ia hadapi baik berupa tantangan dari diri sendiri maupun dari lingkungan. “Tantangan secara internal dari diri sendiri, sebagai seorang penyuluh pertanian saya dituntut memiliki kompetensi yang cukup dan  mampu memahami budaya lokal,” ujarnya.

Menurutnya banyaknya teori yang ia peroleh saat kuliah masih memerlukan soft skill, dan itu bisa ia pelajari dari lapangan. Teori-teori yang ia dapatkan, diakuinya sangat membantu saat melakukan penyuluhan atau bertukar informasi dengan rekan sesama penyuluh lainnya.“Sedangkan secara eksternal, tantangan lebih pada faktor perbedaan budaya di Jawa dan Sumatera, dan faktor lingkungan seperti medan perjalanan yang lebih berat,” terangnya.

Lagu Hymne Gadjah Mada begitu menginspirasi bagi Novika. Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua, Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku. Dua bait lagu itu tertanam baik dalam benaknya. Syair lagu itu juga yang selalu memotivasi dan menyemangatinya untuk terus berkarir sebagai penyuluh pertanian.

Puncaknya, ia menjadi sebagai seorang penyuluh pertanian yang berdedikasi dalam memberdayakan masyarakat tani. Ia pun selalu membawa pesan dari lirik tersebut dalam bekerja agar terus meng-upgrade dirinya agar terus bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat. “Saya percaya, motivasi yang kuat akan mampu meningkatkan performanya dalam melayani masyarakat. Karenanya sebelum memotivasi orang lain, baik petani maupun sesama rekan penyuluh, saya sendiri harus memiliki motivasi yang kuat,” terangnya.

Di akhir percakapan, Novika menitipkan pesan untuk para mahasiswa dan alumni Fakultas Pertanian UGM agar tidak pernah berkecil hati. Dimanapun berada kehadiran mereka dalam bidang pertanian selalu dibutuhkan. “Dari yang saya alami selama ini saya pun bisa katakan secanggih apapun dan sehebat apapun teknologi, kita-kita yang di bidang pertanian akan selalu dibutuhkan, dan cakupan kerja kita sangat beragam. Untuk itu tetaplah semangat, kerjakan yang terbaik untuk diri dan sesama,” ungkap Novika berpesan.

Reportase : Hanita Athasari Zain/Fak.Pertanian

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Dok. Novika

Artikel Novika, Alumnus UGM Memilih jadi Penyuluh Pertanian di Daerah 3T pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/novika-alumnus-ugm-memilih-jadi-penyuluh-pertanian-di-daerah-3t/feed/ 0
Lobster dan Benih Bening Lobster Komoditas Menjanjikan di DIY https://ugm.ac.id/id/berita/lobster-dan-benih-bening-lobster-komoditas-menjanjikan-di-diy/ https://ugm.ac.id/id/berita/lobster-dan-benih-bening-lobster-komoditas-menjanjikan-di-diy/#respond Thu, 31 Oct 2024 03:14:54 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72378 Lobster dan Benih Bening Lobster (BBL) merupakan dua komoditas menjanjikan sekaligus sebagai sumberdaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dua komoditas ini tersedia dalam jumlah yang melimpah di sepanjang pantai selatan Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara. “Lobster menjadi komoditas sangat penting di Yogyakarta dan menjadi komoditas pemantik beralihnya masyarakat pesisir dari petani ke nelayan di awal […]

Artikel Lobster dan Benih Bening Lobster Komoditas Menjanjikan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Lobster dan Benih Bening Lobster (BBL) merupakan dua komoditas menjanjikan sekaligus sebagai sumberdaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dua komoditas ini tersedia dalam jumlah yang melimpah di sepanjang pantai selatan Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara. “Lobster menjadi komoditas sangat penting di Yogyakarta dan menjadi komoditas pemantik beralihnya masyarakat pesisir dari petani ke nelayan di awal 1980-an”, ungkap Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM Prof. Suadi, S.Pi., M.Sc, dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan topik Pengelolaan Lobster dan Benih Bening Lobster , Selasa (29/10), di kampus UGM.

Forum diskusi ini dihadiri oleh kelompok nelayan dari Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo, HNSI Gunung Kidul dan Bantul, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi DIY, DKP Kabupaten Gunung Kidul dan DKP Bantul serta staf pengajar program studi Manajemen Sumberdaya Akuatik.

Suadi menjelaskan nelayan di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki modal sosial yang tinggi. Hal tersebut nilainya sangat penting sebagai ruh dalam resolusi konflik dalam pengelolaan lobster. Disebutnya sangat jarang terjadi konflik besar di DIY terkait pengelolaan lobster dan Benih Bening Lobster. “Tingginya kematangan lembaga-lembaga informal kelompok nelayan untuk berembug menjadi kekuatan dalam mencari jalan keluar terbaik dalam mengurai permasalahan yang terjadi,” ujarnya.

Meskipun tren untuk memanfaatkan BBL lebih populer di DIY dan hampir di seluruh pantai selatan Jawa, namun masih terdapat beberapa kelompok nelayan yang mencermati resiko pengambilan BBL ini dengan pendekatan kehati-hatian.

Anes Dwi Jayanti, Ph.D Cand, Departemen Perikanan UGM dalam kesempatan ini menyampaikan soal siklus hidup lobster dan berbagai implikasi penangkapan BBL dan lobster jika tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Untuk itu, ia memaparkan secara panjang lebar terkait regulasi dan tata kelola BBL mengacu pada Permen KP no 7 tahun 2024 tentang pengelolaan lobster (Panulirus spp.), kepiting (Scylla spp.) dan rajungan (Portunus spp.).

Catur Nur Amin, A.Pi., MMA, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DI Yogyakarta menyoroti masih adanya kendala dalam proses administrasi dan pendataan terutama dalam penggunaan aplikasi siloker untuk pencatatan hasil tangkapan BBL yang perlu dilaporkan hingga ke pemerintah pusat. 

Sedangkan Johan Wijayanto selaku Kepala Dinas Perikanan Gunung Kidul Johan Wijayanto menyampaikan jika pemerintah telah mengupayakan untuk dapat melaksanakan proses pelayanan sesuai aturan regulasi bagi kemudahan usaha perikanan nelayan. “Kami berharap dengan kemudahan yang diberikan, ada bentuk respon ketaatan terhadap aturan dan diperkuatnya pengawasan dan penegakan hukum,” ungkapnya.

Ketua Nelayan Pantai Baron, Sumardi dan Ketua Nelayan Pantai Sadeng, Sarpan, merasa terkendala mengenai “race to fish” dengan nelayan luar DIY. Keduanya mengaku kesulitan input pendataan tangkapan, dan memerlukan perumusan resolusi konflik internal antara nelayan DIY dan nelayan luar DIY. “Kita sangat ingin bagaimana berbagai permasalahan ini bisa dilembagakan pengelolaan lobster dan BBL sehingga bentuk perikanan dua komoditas ini dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” ucap Sumardi.

FGD Pengelolaan Lobster dan Benih Bening Lobster ini mendapat dari para nelayan dan Dinas Perikanan DIY dan Kabupaten dan mengusulkan untuk dilakukan follow-up. Diharapkan dilakukan pertemuan rutin seperti triwulan sekali agar proses melembagakan tata kelola lobster dan BBL sejalan dengan aturan, memberikan manfaat yang optimal untuk masyarakat nelayan dan berkelanjutan.

Penulis : Agung Nugroho

Foto     : IDN Times Jogja

Artikel Lobster dan Benih Bening Lobster Komoditas Menjanjikan di DIY pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/lobster-dan-benih-bening-lobster-komoditas-menjanjikan-di-diy/feed/ 0
Prabowo Ingin RI Swasembada Pangan, Ini Saran Pakar UGM https://ugm.ac.id/id/berita/prabowo-ingin-ri-swasembada-pangan-ini-saran-pakar-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/prabowo-ingin-ri-swasembada-pangan-ini-saran-pakar-ugm/#respond Tue, 29 Oct 2024 09:44:14 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72271 Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun mendatang dengan mencetak luas lahan panen hingga empat juta hektar di akhir masa jabatannya. Menanggapi target swasembada pangan tersebut, Guru Besar bidang Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.P., Ph.D., menuturkan untuk mencapai target swasembada pangan tidaklah […]

Artikel Prabowo Ingin RI Swasembada Pangan, Ini Saran Pakar UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun mendatang dengan mencetak luas lahan panen hingga empat juta hektar di akhir masa jabatannya. Menanggapi target swasembada pangan tersebut, Guru Besar bidang Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.P., Ph.D., menuturkan untuk mencapai target swasembada pangan tidaklah mudah karena membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mendukung program tersebut, mengingat sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan justru menghadapi banyak tantangan. ”Target itu tentu tidak mudah dengan segala tantangan yang ada sekarang ini,” ujar Subejo, Selasa (29/10).

Tantangan pertama menurut Subejo adalah masifnya konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Di tengah isu perubahan iklim, konversi lahan menjadi ancaman serius dalam upaya peningkatan produksi padi sebagai bahan pangan pokok masyarakat Indonesia. Kondisi ini menjadi ironi mengingat kebutuhan cetak lahan sawah diprediksi terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan permintaan padi. 

Menurut Subejo, untuk mencapai swasembada pangan, pemerintah harus memiliki kebijakan dan program yang terintegrasi, mulai dari ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi yang melibatkan berbagai Lembaga dan Kementerian di tingkat pusat dan daerah. “Ekstensifikasi atau pembukaan lahan baru bisa dilakukan dengan skala yang terbatas supaya manageable, untuk daerah-daerah yang memiliki kesesuaian tinggi agar pengembangan komoditas pertanian dapat dilakukan,” ungkap Subejo.

Hal mendesak yang juga perlu dikerjakan adalah melakukan intensifikasi di daerah basis produksi pangan, di mana selama ini intensifikasi lahan basah masih kurang dari 200 persen yang artinya baru ditanami kurang dari dua kali dalam satu tahun. Dengan dukungan sistem irigasi yang baik, Subejo meyakini akan sangat terbuka peluang untuk meningkatkan intensitas penanaman sampai dua kali dan bahkan untuk daerah tertentu yang ketersediaan airnya memadai bisa tiga kali tanam dalam waktu satu tahun. 

Permasalahan kedua terkait pasca panen yang membuat harga jeblok ketika panen raya tiba. Masalah klasik yang terus berulang karena sistem distribusi logistik yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Subejo beranggapan hal mendesak yang perlu dilakukan adalah pengembangan sistem informasi produksi dan distribusi pangan, termasuk hortikultura, yang melibatkan multi-stakeholders sehingga dapat terdata dengan rinci jumlah dan sebaran produk pertanian serta distribusinya.

“Dengan sistem informasi, peluang distribusi produk lebih merata sehingga stabilitas harga dapat terjamin,” ujarnya. Selain itu, menurutnya, juga perlu didorong industri pengolahan yang bermanfaat ketika produk mentah melimpah maka dapat diproses dan diawetkan dan tetap memiliki nilai ekonomi yang memadai.

Yang tidak kalah penting, mengatasi keterbatasan literasi finansial di kalangan petani juga harus segera ditemukan solusinya. Menggarap usaha tani tentunya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Meskipun pemerintah sebetulnya memiliki program Kredit Usaha Rakyat (KUR), namun sayangnya program ini belum berjalan efektif di kalangan petani. Hal ini dikarenakan pola pikir konvensional petani yang masih menganggap KUR merepotkan dan kurang bermanfaat. Menurut Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fakultas Pertanian ini, integrasi pembiayaan sangat penting dengan sistem insentif bunga rendah misalnya melalui kredit BUMN, CSR korporasi, pembiayaan dari pemerintah daerah, atau pembiayaan dari dana desa. “Pemerintah harus memberikan edukasi literasi pembiayaan pada para petani melalui kelompok tani atau tokoh-tokoh petani, serta mendekatkan layanan pembiayaan ke desa-desa,” jelasnya.

Disamping itu, keterbatasan pemahaman teknologi di kalangan petani membuat proses usaha tani menjadi kurang efektif dengan hasil produksi yang tidak maksimal juga menjadi permasalahan lain. Salah satu bukti nyata adalah biaya produksi beras yang mencapai Rp 5.500/kg di Indonesia, hampir dua kali lipat dari biaya produksi di Vietnam yang hanya Rp 2.900/kg saja. Subejo menguraikan sistem produksi pertanian di Indonesia termasuk dalam ekonomi berbiaya tinggi. Perlu dicarikan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi pertanian misalnya peningkatan dan pengorganisasian skala usaha atau konsolidasi lahan, mekanisasi pertanian, penyuluhan pertanian dan edukasi petani supaya konsisten menggunakan sumber daya lebih efisien. “Bisa juga dilakukan dengan mengintroduksi inovasi yang lebih efisien misalnya budidaya tanaman hemat air dan hemat pupuk,” jelasnya

Permasalahan lainnya yang perlu diatasi adalah krisis manajemen yang dialami oleh petani. Mayoritas petani di Indonesia mengandalkan lahannya untuk bertahan hidup. Bahkan, tidak jarang uang hasil panen digunakan untuk kebutuhan hidup harian tanpa persiapan matang untuk proses penggarapan lahan di musim tanam berikutnya. Masalah manajemen inilah yang membuat kualitas dan kuantitas produksi pertanian sulit meningkat secara signifikan. Subejo beranggapan petani belum melakukan farm record sehingga tata kelola pertaniannya berubah-ubah dari waktu ke waktu dan sulit mengantisipasi resiko produksi.

Pengembangan kelembagaan petani yang kuat sangat penting karena dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing petani. Ia menambahkan, diversifikasi produk juga perlu dipikirkan supaya output yang dihasilkan tidak hanya bahan mentah, namun dikombinasi dengan produk olahan atau produk sekunder. “Akan lebih baik lagi jika dikombinasi dengan jasa seperti agro wisata sebagai produk tersier, pastinya bisa meningkatkan sumber pendapatan petani pada masa-masa mendatang,” tandasnya.

Terkait usaha pemerintah yang selalu rutin mengeluarkan kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri, Subejo menilai kebijakan impor beras nyatanya bukanlah solusi jangka panjang yang tepat karena pemerintah hanya mencari solusi bersifat teknis bukan menyentuh akar masalah krisis pangan.

Penulis: Triya Andriyani

 

Artikel Prabowo Ingin RI Swasembada Pangan, Ini Saran Pakar UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/prabowo-ingin-ri-swasembada-pangan-ini-saran-pakar-ugm/feed/ 0
Tim PKM Fakultas Pertanian UGM Raih Dua Medali di Pimnas ke-37 https://ugm.ac.id/id/berita/tim-pkm-fakultas-pertanian-ugm-raih-dua-medali-di-pimnas-ke-37/ https://ugm.ac.id/id/berita/tim-pkm-fakultas-pertanian-ugm-raih-dua-medali-di-pimnas-ke-37/#respond Fri, 25 Oct 2024 23:16:42 +0000 https://ugm.ac.id/?p=72107 Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Pertanian UGM berhasil meraih dua medali perunggu pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37. Mengusung judul “EcoPrime Feed: Inovasi Pemanfaatan Spesies Invasif sebagai Pakan Ikan Berkualitas, Ekonomis, dan Ramah Lingkungan”, Tim yang diketuai oleh Gerson Lewis (Akuakultur 2023) tersebut berhasil meraih medali perunggu untuk kategori poster […]

Artikel Tim PKM Fakultas Pertanian UGM Raih Dua Medali di Pimnas ke-37 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Pertanian UGM berhasil meraih dua medali perunggu pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37. Mengusung judul “EcoPrime Feed: Inovasi Pemanfaatan Spesies Invasif sebagai Pakan Ikan Berkualitas, Ekonomis, dan Ramah Lingkungan”, Tim yang diketuai oleh Gerson Lewis (Akuakultur 2023) tersebut berhasil meraih medali perunggu untuk kategori poster dan presentasi.

Dalam karyanya, tim ini membuat produk pakan ikan berkualitas, ramah lingkungan, dan ekonomis dari tiga bahan baku, yaitu eceng gondok, ikan red devil, dan maggot black soldier fly (BSF). Lewis menjelaskan, EcoPrime Feed dilatarbelakangi dengan adanya isu di ekosistem perikanan Indonesia yang dihuni oleh spesies invasif yang mampu mengancam kesimbangan ekosistem apabila keberadaannya tergolong berlebihan. “Tak hanya itu, EcoPrime Feed juga dicanangkan menjadi solusi atas fenomena meningkatnya food waste yang menyebabkan kelangkaan sumber daya pangan,” ucap Gerson Lewis di Faperta UGM, Jum’at (25/10).

Selain Gerson Lewis, Tim PKM-K Fakultas Pertanian UGM beranggotakan Aimmatul Husna, Sevina Surya Wibianti (Akuakultur 2023), Muhammad Jibril Syahid (Manajemen Sumberdaya Akuatik 2023), dan Jihan Tsabitha (Pembangunan Ekonomi Wilayah 2022).

Lewis menambahkan, ia dan tim merasa bersyukur atas kesempatan mengikuti kompetisi pada ajang Pimnas ke-37. Selain mendapat pengalaman, ajang Pimnas ke-37 mampu menambah wawasan dan bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia khususnya terkait ilmu-ilmu di bidang kewirausahaan yang tidak didapatkan di bangku kuliah.

“Kami merasa sangat bangga dan bersyukur kepada Tuhan karena perjuangan yang kami upayakan bisa membuahkan hasil yang sangat baik dan dapat membanggakan nama Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Semoga ini menambah semangat kami untuk berinovasi,” ujarnya.

Dr. Senny Helmiati, S.Pi., M.Sc., dosen Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM selaku dosen pembimbing menyampaikan rasa syukurnya atas pengalaman pertamanya menjadi seorang pembimbing PKM yang mampu lolos hingga PIMNAS dan membawa pulang dua buah medali perunggu. “Saya sangat bersyukur atas kesempatan untuk membimbing anak-anak muda yang luar biasa, mengantarkan sampai apa yang dicita-citakan oleh mereka. Walaupun hasil ini mungkin belum yang terbaik, tetapi menurut saya, ini adalah awalan yang baik untuk menginspirasi mahasiswa-mahasiswa lainnya,” tutur Senny.

Reportase : Hanita Athasari Zain dan Desi Utami

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Dokumentasi tim EcoPrime Feed

Artikel Tim PKM Fakultas Pertanian UGM Raih Dua Medali di Pimnas ke-37 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/tim-pkm-fakultas-pertanian-ugm-raih-dua-medali-di-pimnas-ke-37/feed/ 0
Departemen Perikanan Faperta UGM Gelar Puncak HUT ke-61 https://ugm.ac.id/id/berita/puncak-hut-ke-61-departemen-perikanan-faperta-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/puncak-hut-ke-61-departemen-perikanan-faperta-ugm/#respond Mon, 02 Sep 2024 07:33:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70168 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada menggelar puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61, Jum’at, 30 Agustus 2024 yang digelar di Auditorium Harjono Danoesastro mengusung tema Membangun Jiwa Bahari, Kontribusi untuk Pertiwi. Disela perayaan HUT kali ini, disampaikan laporan tahunan terkait capaian kinerja dan prestasi oleh Ketua Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM,Prof. Dr. […]

Artikel Departemen Perikanan Faperta UGM Gelar Puncak HUT ke-61 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada menggelar puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61, Jum’at, 30 Agustus 2024 yang digelar di Auditorium Harjono Danoesastro mengusung tema Membangun Jiwa Bahari, Kontribusi untuk Pertiwi.

Disela perayaan HUT kali ini, disampaikan laporan tahunan terkait capaian kinerja dan prestasi oleh Ketua Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM,Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., dan orasi ilmiah oleh Miftakhul Munir, S.Pi, alumni Jurusan Perikanan tahun 1995, dengan judul Inovasi Budidaya Udang Kunci Menuju Keberhasilan Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan

Tidak hanya itu, juga dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara Fakultas Pertanian UGM dengan PT Riung Agro Lestari dan Shrimp Club Indonesia.

Penandatangan dengan PT Riung Agro Lestari diwakili Miftakhul Munir, S.Pi selaku Direktur dan Shrimp Club Indonesia diwakili Ir. Haris Muhtadi. Sedangkan Fakultas Pertanian UGM diwakili Prof. Subejo, S.P., M.Sc., PhD selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama.

Subejo dalam sambutan menyampaikan Departemen Perikanan sesungguhnya berdiri pada tanggal 1 September 1963, dan ia berdiri sebagai bagian dari Fakultas Pertanian UGM. Dalam perjalanannya Departemen Perikanan telah mengalami perkembangan dan kemajuan di bidang Tridharma Perguruan Tinggi. “Tentu saja potensi sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang tinggi merupakan tantangan bagi Departemen Perikanan untuk berkembang lebih maju lagi”, tuturnya.

Alim Isnansetyo dalam laporan menyampaikan berbagai  perkembangan yang telah dicapai Departemen Perikanan. Diantaranya memiliki fasilitas yang semakin lengkap, salah satunya Laboratorium Terpadu, yang siap mendukung penelitian terkait Aquatic Nanotechnology dan Biotechnology. “Ini tentunya juga didukung oleh sumberdaya manusia yang mumpuni dan fasilitas yang memadai, diharapkan Departemen Perikanan dapat semakin meningkatkan kualitas kegiatan Tri Dharma serta berkiprah lebih luas lagi di kancah nasional maupun internasional”, terangnya.

Berbagai rangkaian kegiatan juga telah dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-61 Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Dalam pembukaan telah dilakukan senam bersama, dan dilanjutkan Seminar Nasional Tahunan XXI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan, The 2nd Summer Course on Tropical Aquaculture and Fisheries Management. Dilaksanakan pula kegiatan ziarah ke makam para pendiri dan pendahulu, anjangsana ke purna tugas, pemeriksaan kesehatan, dan family gathering, serta sebagai acara penutup digelar Puncak Peringatan HUT ke-61 Departemen Perikanan.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Departemen Perikanan Faperta UGM Gelar Puncak HUT ke-61 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/puncak-hut-ke-61-departemen-perikanan-faperta-ugm/feed/ 0
Calon Wisudawan Faperta UGM Mendapat Kiat Menjadi Profesional Berkarakter https://ugm.ac.id/id/berita/calon-wisudawan-faperta-ugm-mendapat-kiat-menjadi-profesional-berkarakter/ https://ugm.ac.id/id/berita/calon-wisudawan-faperta-ugm-mendapat-kiat-menjadi-profesional-berkarakter/#respond Wed, 28 Aug 2024 06:41:42 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69977 Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III, Dr. Mohammad Abdul Ghani, membagikan kiat-kiat menjadi seorang profesional yang berkarakter. Kiat-kiat tersebut ia sampaikan kepada 286 calon wisudawan wisudawati Program Sarjana Fakultas Pertanian UGM Periode IV TA 2023/2024 pada hari Senin (26/8) di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM. Adapun kiat-kiat yang diberikan meliputi delapan kapasitas […]

Artikel Calon Wisudawan Faperta UGM Mendapat Kiat Menjadi Profesional Berkarakter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III, Dr. Mohammad Abdul Ghani, membagikan kiat-kiat menjadi seorang profesional yang berkarakter. Kiat-kiat tersebut ia sampaikan kepada 286 calon wisudawan wisudawati Program Sarjana Fakultas Pertanian UGM Periode IV TA 2023/2024 pada hari Senin (26/8) di Auditorium Prof. Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM.

Adapun kiat-kiat yang diberikan meliputi delapan kapasitas yang perlu diasah oleh para calon wisudawan/wati diantaranya terkait risk taker, curiousity, managing diversity, driving innovation, networking, digital leadership, driving execution, dan self-differentiation. Disebutnya kedelapan kapasitas tersebut bisa membantu calon wisudawan wisudawati untuk menjadi seorang pemimpin di dunia kerja.

“Tentunya jika ingin menjadi seorang pemimpin, kapasitas-kapasitas inilah yang perlu kalian asah dan tingkatkan, dan salah satunya menyangkut curiousity, di mana ini memperlihatkan seseorang pada rasa keingintahuan yang tinggi yang tentunya akan mengarahkan menjadi pribadi yang inovatif dan kreatif serta sangat membantu dalam mengejar jenjang karir”, ungkap Abdul Ghani.

Meneguhkan para calon wisudawan wisudawati, Moh Abdul Ghani berharap para lulusan Fakultas Pertanian UGM perlu memiliki keberanian dalam mengambil risiko. Keberanian yang diiringi dengan tanggung jawab atas keputusan yang matang. Sebagai calon pekerja profesional, para lulusam juga diharapkan mampu membangun relasi yang bermanfaat dan tidak takut untuk keluar dari zona nyaman.

Sebagai Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III, iapun memaparkan soal strategi yang ditawarkan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dalam mendukung swasembada gula dan swasembada pangan. Dukungan tersebut dilakukan Perkebunan Nusantara PTPN III melalui pendekatan penguatan ekosistem dan pemberdayaan petani. “Hal-hal semacam ini perlu untuk diketahui calon wisudawan wisudawati karena sebagai lulusan Fakultas Pertanian UGM agar lebih menyadari dan tanggap soal pentingnya kontribusi di sektor pertanian secara langsung. Indeks prestasi memang penting, tapi memperlihatkan soft skills jauh lebih penting untuk  bisa bersaing di dunia kerja yang sesungguhnya,” terangnya.

Reportase : Hanita Athasari Zain

Penulis : Agung Nugroho

Foto: Media Faperta UGM

Artikel Calon Wisudawan Faperta UGM Mendapat Kiat Menjadi Profesional Berkarakter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/calon-wisudawan-faperta-ugm-mendapat-kiat-menjadi-profesional-berkarakter/feed/ 0