Fakultas Kedokteran Hewan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fakultas-kedokteran-hewan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 10 Jun 2024 03:20:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Prof Liliek Kusindarta: Kemangi dan Sel Punca Hewan Berpotensi untuk Pengobatan Degenerasi Saraf https://ugm.ac.id/id/berita/prof-liliek-kusindarta-kemangi-dan-sel-punca-hewan-berpotensi-untuk-pengobatan-degenerasi-saraf/ https://ugm.ac.id/id/berita/prof-liliek-kusindarta-kemangi-dan-sel-punca-hewan-berpotensi-untuk-pengobatan-degenerasi-saraf/#respond Thu, 06 Jun 2024 10:43:43 +0000 https://ugm.ac.id/prof-liliek-kusindarta-kemangi-dan-sel-punca-hewan-berpotensi-untuk-pengobatan-degenerasi-saraf/ Penyakit neurodegeneratif khususnya dalam hal ini Alzheimer’s Disease (AD) pada manusia dan Canine Cognitive Dysfunction (CCD) pada hewan merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya dengan pengobatan konvensional. Karena itu, pengetahuan baru dengan menerapkan terapi herbal, sel punca, dan turunannya memberikan harapan untuk pencegahan dan terapi di masa depan sebagai upaya penyembuhan permanen. Demikian pernyataan […]

Artikel Prof Liliek Kusindarta: Kemangi dan Sel Punca Hewan Berpotensi untuk Pengobatan Degenerasi Saraf pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Penyakit neurodegeneratif khususnya dalam hal ini Alzheimer’s Disease (AD) pada manusia dan Canine Cognitive Dysfunction (CCD) pada hewan merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya dengan pengobatan konvensional. Karena itu, pengetahuan baru dengan menerapkan terapi herbal, sel punca, dan turunannya memberikan harapan untuk pencegahan dan terapi di masa depan sebagai upaya penyembuhan permanen.

Demikian pernyataan Prof. drh. Dwi Liliek Kusindarta, M.P., Ph.D. di ujung pidatonya saat dikukuhkan dalam Jabatan Guru Besar Bidang Ilmu Neurobiologi Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, di ruang Balai Senat, Kamis (6/6).

Menyampaikan pidato pengukuhan Peran Neurobiologi pada Alzheimer’s Disease dan Canine Cognitive Dysfunction: Tinjauan Neuroproteksi Pemberian Herbal Kemangi (Ocimum Sanctum) dan Bovine Umbilical Mesenchymal Stem Cells Conditioned Medium, dia mengatakan masih banyak penelitian terkait karakterisasi dan mekanisme yang harus dilakukan. Fokus yang berkembang saat ini adalah bagaimana agar dapat menerjemahkan hasil yang diperoleh melalui studi praklinis dari beberapa aplikasi ke dalam uji klinis sehingga dapat segera memberikan hasil yang optimal.

“Pendekatan klinis di masa depan untuk mengobati penyakit neurodegeneratif akan mendapatkan manfaat besar dari penggunaan tanaman herbal dan sel punca, yang dapat menggantikan neuron yang rusak dan memberikan efek neuroproteksi dan neuroregenerasi”, ungkap Liliek Kusindarta.

Dari hasil penelitian, dia menjelaskan tanaman herbal kemangi dan sel punca hewan beserta sekresinya memberikan potensi besar untuk pengobatan degenerasi saraf. Pemanfaatan media terkondisi (conditioned medium) telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan pendekatan awal untuk mengurangi peradangan pada neuron, diikuti dengan penciptaan lingkungan atau matriks ekstraseluler yang mendukung terwujudnya regenerasi, proliferasi, atau penggantian saraf yang dimediasi melalui pemberian media terkondisi (conditioned medium, secretom).

Selain itu, kemajuan teknologi yang menggabungkan hidrogel, partikel biomaterial, material nano, dan bioscaffold dengan bahan herbal dan sel punca serta turunannya telah meningkatkan efisiensi transportasi obat, interaksi, dan percepatan regenerasi. Meski begitu modifikasi ini akan memunculkan tantangan lain yang harus diatasi. Diantaranya permasalahan penyesuaian penerapan biomaterial yang masih belum memungkinkan untuk menghasilkan unit jaringan yang tervaskularisasi penuh, efek imunologi, interaksi jaringan, dan kemungkinan terjadinya penolakan dengan adanya biomaterial.

“Pemahaman yang komprehensif penting untuk membangun kemampuan perancah cerdas, smart scaffold in tissue regeneration dengan menyisipkan bahan herbal, sel punca, atau turunannya yang lebih baik untuk mendorong pengembangan jaringan saraf dan neurogenesis, untuk pengobatan AD dan CCD khususnya dan penyakit neurodegenerasi lainnya,” jelasnya.

Dalam pidatonya, ia pun menyampaikan soal Mekanisme Neuroproteksi dan Neurotropik Herbal Kemangi (Ocimum sanctum). Dia menjelaskan salah satu pendekatan terapi farmakologis yang tengah dikembangkan adalah penggunaan O. sanctum atau kemangi, sebagai suplemen herbal untuk pencegahan dan terapi AD dan CCD.

Liliek menandaskan Kemangi diyakini berpengaruh pada memori karena senyawa aktifnya, terutama flavonoid (quercetin) dan fenol (eugenol). Studi insilico molecular docking menunjukkan bahwa flavonoid, fenol, eugenol dapat berinteraksi dengan sisi aktif amyloid β melalui ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik.

“Interaksi ketiga senyawa ini pada sisi aktif amyloid β, menunjukkan bahwa ketiga senyawa yang terkandung dalam kemangi tersebut mempunyai potensi sebagai agen terapi penyakit neurologis (AD),” katanya.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: Donnie

Artikel Prof Liliek Kusindarta: Kemangi dan Sel Punca Hewan Berpotensi untuk Pengobatan Degenerasi Saraf pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/prof-liliek-kusindarta-kemangi-dan-sel-punca-hewan-berpotensi-untuk-pengobatan-degenerasi-saraf/feed/ 0
Prof. drh. Kurniasih, Purna Tugas Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Tutup Usia https://ugm.ac.id/id/berita/prof-drh-kurniasih-purna-tugas-guru-besar-fakultas-kedokteran-hewan-ugm-tutup-usia/ https://ugm.ac.id/id/berita/prof-drh-kurniasih-purna-tugas-guru-besar-fakultas-kedokteran-hewan-ugm-tutup-usia/#respond Sun, 11 Feb 2024 02:30:45 +0000 https://ugm.ac.id/prof-drh-kurniasih-purna-tugas-guru-besar-fakultas-kedokteran-hewan-ugm-tutup-usia/ Duka mendalam kembali dirasakan keluarga besar Universitas Gadjah Mada. Purna tugas guru besar Fakultas Kedokteran Hewan, Prof. drh. Kurniasih, MV.Sc., Ph.D., tutup usia pada hari Jumat, 9 Februari 2024 pukul 23.46 di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Beliau wafat di usianya yang ke-72 tahun dengan meninggalkan keluarga serta berbagai sumbangsih berharga di dunia akademik. Penghormatan […]

Artikel Prof. drh. Kurniasih, Purna Tugas Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Tutup Usia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Duka mendalam kembali dirasakan keluarga besar Universitas Gadjah Mada. Purna tugas guru besar Fakultas Kedokteran Hewan, Prof. drh. Kurniasih, MV.Sc., Ph.D., tutup usia pada hari Jumat, 9 Februari 2024 pukul 23.46 di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Beliau wafat di usianya yang ke-72 tahun dengan meninggalkan keluarga serta berbagai sumbangsih berharga di dunia akademik. Penghormatan terakhir dihadiri oleh sejumlah kerabat, pimpinan, dan dosen pada Sabtu (10/2) siang di Balairung UGM.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuannya selama ini pada Prof. Kurniasih. Tidak lupa kami juga memohon maaf sebesar-besarnya apabila selama beliau mengabdi ada kesalahan yang disengaja ataupun tidak,” tutur perwakilan pihak keluarga Prof. Kurniasih, Anton Widodo. Pengabdian Prof. Kurniasih sebagai ahli patologi, khususnya di dunia akuatik telah diakui banyak kalangan. Ketekunan dan usaha kerasnya telah banyak membantu penyelesaian masalah-masalah di bidang perikanan, sekaligus membuat beliau dikenal dan dihormati sebagai Guru Besar Fakultas Peternakan UGM.

Selama 44 tahun pengabdian, Prof. Kurniasih berkontribusi besar dalam meneliti dan mendiagnosa penyakit-penyakit hewan air. Penelitian tersebut ternyata berhasil membantu para pembudidaya ikan untuk mengetahui jenis-jenis gangguan pada ikan. Selain itu, beliau juga merupakan salah satu pendiri dari Asosiasi Patologi Veteriner Indonesia (APVI) pada tahun 2003 bersama sejumlah akademisi lainnya di bidang patologi. Prof. Kurniasih merupakan anggota aktif yang sering memberikan bimbingan dan pelatihan bagi para anggota organisasi. Jasa dan pengabdian beliau begitu bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.

“Segenap keluarga civitas akademika Fakultas Kedokteran Hewan UGM menghaturkan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas kepulangan almarhumah Proh. Kurniasih. Kami sangat kehilangan beliau sebagai sosok seorang dosen, pemimpin, ibu, dari semua keluarga besar FKH UGM. Dedikasi beliau, jasa beliau sangat banyak, tidak terhitung. Kami berdo’a semoga kebaikan beliau selama bertugas di FKH UGM meskipun sudah purna akan menjadi amal jariyah beliau,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D.

Perjalanan karier Prof. Kurniasih dimulai setelah lulus S1 dari FKH UGM dan menempuh S2 di Australia. Pertama kali diangkat sebagai Guru Besar FKH UGM pada tahun 2006, beliau telah memberikan sumbangsih penelitian yang luar biasa. Sampai pada tahun 2021, Prof. Kurniasih resmi purna tugas, dan tetap aktif menghasilkan karya-karya luar biasa di bidang patologi. Salah satu pesan bermakna disampaikan dalam pidato purna tugasnya. “Pathologist never die. Gantungkan cita citamu setinggi langit, tidak ada ilmu yang berdiri sendiri, dokter hewan harus tau ilmu-ilmu multidisipliner ucap beliau kala itu.

Pesan tersebut menjadi nasihat yang terus diingat oleh civitas akademika FKH UGM. Sebagai ahli patologi, Prof. Kurniasih paham betul bagaimana pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam berbagai bidang. Akan sulit jika setiap bidang keilmuan berdiri dan berjalan masing-masing tanpa adanya upaya bersama. Hal inilah yang menurut Prof. Kurniasih akan memperkuat ilmu pengetahuan hingga di masa mendatang. “Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok yang tekun, dan tegas. Tapi tidak pernah sekalipun marah ataupun memberi nilai jelek pada mahasiswa. Kehadiran beliau memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Semoga beliau senantiasa diberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” pesan ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Ir. Mohammad Maksum Machfoedz, M.Sc.

 

Penulis: Tasya

Foto: Donie

Artikel Prof. drh. Kurniasih, Purna Tugas Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM Tutup Usia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/prof-drh-kurniasih-purna-tugas-guru-besar-fakultas-kedokteran-hewan-ugm-tutup-usia/feed/ 0
Jumlah Guru Besar UGM Kembali Bertambah, Joko Prastowo Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Parasitologi https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-guru-besar-ugm-kembali-bertambah-joko-prastowo-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-bidang-parasitologi/ https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-guru-besar-ugm-kembali-bertambah-joko-prastowo-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-bidang-parasitologi/#respond Fri, 06 Oct 2023 05:46:49 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60126 Prof. Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Parasitologi pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (5/10), menjadikannya satu dari 418 guru besar aktif di UGM. Pada upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat, ia menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Lymnaea dan Pengaruhnya terhadap Persebaran Cacing Hati pada Ternak”. “Topik yang […]

Artikel Jumlah Guru Besar UGM Kembali Bertambah, Joko Prastowo Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Parasitologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Prof. Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Parasitologi pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (5/10), menjadikannya satu dari 418 guru besar aktif di UGM. Pada upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat, ia menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Lymnaea dan Pengaruhnya terhadap Persebaran Cacing Hati pada Ternak”.

“Topik yang akan disampaikan pada pidato ini termasuk dalam neglected tropical disease yang paling sering ditemukan dalam Ilmu Parasitologi Kedokteran Hewan, terutama di Indonesia,” ucapnya mengawali pidato.

Fasciolosis atau infeksi yang disebabkan cacing Fasciola, sering ditemukan pada ruminansia, terutama sapi. Dalam melangsungkan siklus hidupnya untuk mampu mencapai tahap infektif dan dapat menginfeksi individu hewan lain, Fasciola membutuhkan Lymnaea atau siput sebagai hospes perantara.

Dalam pidatonya, Joko memaparkan siklus hidup Fasciola, peran Lymnaeid dalam fasciolosis, hingga perubahan klinis Fasciolosis.Lebih lanjut ia menerangkan, pengobatan fasciolosis pada sapi dapat dilakukan dengan memberikan antelmintik atau obat cacing yang memiliki target seluruh tahap perkembangan Fasciola, seperti triclabendazole, maupun yang bertarget pada Fasciola dewasa saja, seperti closantel dan nitroxynil.

Secara umum, pencegahan fasciolosis menurutnya dapat dilakukan dengan menurunkan populasi hospes intermediet, pemberian antelmintik, atau dengan perbaikan manajemen pemeliharaan. 

“Pencegahan fasciolosis pada negara beriklim sedang dapat dikendalikan dengan pemberian molluscicides dan antelmintik pada musim tertentu, serta mengurangi frekuensi penggembalaan. Hal tersebut berbeda penerapannya di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan kondisi lingkungan yang cocok untuk perkembangan parasit sepanjang tahun dan jenis manajemen pemeliharaan yang berbeda,” paparnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, pemeliharaan sapi di Indonesia terutama di Pulau Jawa, mayoritas dipelihara di dalam kandang dan jarang digembalakan. Sisa hasil pertanian, terutama batang padi atau jerami, umum diberikan peternak sebagai pakan ternaknya. 

Batang padi segar yang berasal dari sawah berperan sebagai sumber penularan fasciolosis karena tingginya potensi pencemaran batang padi tersebut oleh metacercaria Fasciola sp. yang dibawa oleh hospes intermediet, yaitu siput. Selain itu, kadang masih ditemukan beberapa peternak yang menggunakan manure segar untuk pupuk pertanian dan menggunakan sisa hasil pertanian untuk pakan ternak. 

Siklus tersebutlah yang menyebabkan kejadian fasciolosis selalu ditemui sepanjang tahun, selain faktor cuaca dan iklim serta ketersediaan hospes perantara. Pengelolaan kotoran ternak dengan cara pembuatan kompos dan pelayuan pakan dapat menghambat perkembangan telur, sehingga siklus hidup Fasciola terhenti dan penularan dapat ditekan.

Menurut Joko, penyelidikan kemungkinan variasi jenis siput lymnaeid sebagai hospes perantara yang dapat ditemukan di alam masih sangat diperlukan terutama kaitannya dengan persebaran, maupun fluktuasi kejadian fasciolosis pada ternak ruminansia di suatu wilayah. 

“Selain itu peningkatan pengetahuan peternak, melalui program pengabdian masyarakat, dapat ditingkatkan, sehingga dapat tercapai tujuan pengendalian dan pencegahan terjadinya infeksi, baik yang terjadi pada hewan maupun manusia,” pungkasnya.

 

Penulis: Gloria

Fotografer: Donnie

Artikel Jumlah Guru Besar UGM Kembali Bertambah, Joko Prastowo Dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Parasitologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/jumlah-guru-besar-ugm-kembali-bertambah-joko-prastowo-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-bidang-parasitologi/feed/ 0