Fakultas Filsafat UGM Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/fakultas-filsafat-ugm/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Wed, 08 Jan 2025 05:44:37 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Peringati World Logic Day, Fakultas Filsafat UGM Bahas Studi Logika https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-world-logic-day-fakultas-filsafat-ugm-bahas-studi-logika/ https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-world-logic-day-fakultas-filsafat-ugm-bahas-studi-logika/#respond Tue, 07 Jan 2025 08:41:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74451 The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah menetapkan tanggal 14 Januari sebagai Hari Logika Sedunia atau World Logic Day. Untuk menyambut peringatan tersebut, Fakultas Filsafat UGM menyelenggarakan rangkaian kuliah umum dengan menghadirkan Dr. Sara L. Uckerman dari Durham University, United Kingdom, sebagai narasumber […]

Artikel Peringati World Logic Day, Fakultas Filsafat UGM Bahas Studi Logika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah menetapkan tanggal 14 Januari sebagai Hari Logika Sedunia atau World Logic Day. Untuk menyambut peringatan tersebut, Fakultas Filsafat UGM menyelenggarakan rangkaian kuliah umum dengan menghadirkan Dr. Sara L. Uckerman dari Durham University, United Kingdom, sebagai narasumber utama.

Lecture series telah dimulai Senin (6/1) dengan menyelenggarakan dua sesi kuliah yang membahas aspek mendasar dan metodologis dalam studi logika. Sesi pertama bertema History of Logic memaparkan perkembangan logika dari perspektif historis, mencakup definisi, periode penting, serta pandangan dari tokoh-tokoh utama dalam disiplin ini. Pada sesi kedua, yang bertema Fiction Writing as Philosophical Methodology mengeksplorasi bagaimana penulisan fiksi dapat menjadi alat metodologis yang efektif dalam mengeksplorasi dan menyampaikan argumen filosofis.

Berbicara dengan tema History of Logic, Sara L. Uckerman mengaku terbiasa menggunakan definisi logika sebagai studi tentang argumen yang baik. Bahwa setiap argumen memiliki premis sekaligus solusi, dan argumen sendiri dinyatakan sebagai daftar pernyataan. “Beberapa di antaranya berupa premis dan lainnya adalah kesimpulan. Artinya disini kita bisa memasukkan apa saja dalam daftar pernyataan ini”, ujarnya di Fakultas Filsafat UGM.

Dalam kesempatan ini, Sara menyoroti kontribusi Aristoteles dalam merumuskan logika sebagai disiplin ilmu yang spesifik. Menurutnya, sistem silogistik Aristoteles dibangun dalam konteks penalaran ilmiah untuk memastikan bahwa jika memulai dari kebenaran maka kesimpulan yang dihasilkan juga akan bernilai benar.

Ia menambahkan konteks pengembangan logika oleh Aristoteles sangat spesifik, yakni untuk penemuan ilmiah, bukan untuk penggunaan umum. Karenanya dalam sesi ini, peserta diajak menyelami periode penting dalam sejarah perkembangan logika, mulai dari masa Yunani Kuno dengan Aristoteles, tradisi logika abad pertengahan, hingga pergeseran besar yang terjadi pada era logika modern. “Tentunya setiap periode tersebut memberikan fondasi bagi pemahaman logika hari ini serta perbedaannya dalam metode pendekatan terhadap argumen dan kebenaran,” katanya.

Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti pemaparan ini, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan di akhir sesi. Beberapa peserta bahkan meminta rekomendasi literatur untuk mendalami lebih lanjut sejarah logika dan bagaimana masing-masing periode dapat dibandingkan satu sama lain.

Kegiatan lecture series di hari pertama diikuti oleh puluhan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Fakultas Filsafat dan fakultas lainnya di UGM, tetapi juga dari berbagai perguruan tinggi lain seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Nadhatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan lainnya. Seluruh sesi acara juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Fakultas Filsafat UGM dengan harapan mampu menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk kalangan akademisi dan masyarakat umum yang tertarik pada studi logika.

Rangkaian acara ditutup dengan sesi Public Lecture bertema “Why Logic Matters” pada hari Selasa (7/1). Sesi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang relevansi logika dalam berbagai aspek kehidupan modern, mulai dari pemikiran ilmiah, pengambilan keputusan, hingga etika.

Reportase      : Gloria/Humas Fakultas Filsafat

Penulis           : Agung Nugroho

Artikel Peringati World Logic Day, Fakultas Filsafat UGM Bahas Studi Logika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/peringati-world-logic-day-fakultas-filsafat-ugm-bahas-studi-logika/feed/ 0
Filsafat dan Agama jadi Panduan Hidup di Tengah Arus Teknologi https://ugm.ac.id/id/berita/filsafat-dan-agama-panduan-hidup-di-tengah-hidup-yang-serba-berteknologi/ https://ugm.ac.id/id/berita/filsafat-dan-agama-panduan-hidup-di-tengah-hidup-yang-serba-berteknologi/#respond Mon, 19 Aug 2024 09:04:27 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69586 Fakultas Filsafat UGM kini berusia 57 tahun, usia yang menjadi tonggak penting dan yang mencerminkan kedewasaan dan kematangan. Selama lebih dari setengah abad, Fakultas Filsafat telah berkontribusi dalam mencetak generasi cendekiawan, pemikir, dan pemimpin yang berintegritas. Setiap capaian yang diraih adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan komitmen bersama seluruh sivitas akademika.  Dekan Fakultas Filsafat […]

Artikel Filsafat dan Agama jadi Panduan Hidup di Tengah Arus Teknologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat UGM kini berusia 57 tahun, usia yang menjadi tonggak penting dan yang mencerminkan kedewasaan dan kematangan. Selama lebih dari setengah abad, Fakultas Filsafat telah berkontribusi dalam mencetak generasi cendekiawan, pemikir, dan pemimpin yang berintegritas. Setiap capaian yang diraih adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan komitmen bersama seluruh sivitas akademika. 

Dekan Fakultas Filsafat Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum.,  mengatakan memperingati Dies ke-57 tentu bukan hanya merayakan apa yang telah dicapai, tetapi sekaligus merenungkan tantangan dan peluang di masa depan. “Bukan sekadar seremonial, Puncak Dies merupakan momentum refleksi atas perjalanan panjang yang telah ditempuh bersama,” kata Dekan saat peringatan puncak Dies ke-57 di Fakultas Filsafat UGM, Senin (19/8).

Pada Dies Natalis kali ini, mengusung tema Philosophy and Religion in a Technologized World. Tema ini sangat menarik, karena menggabungkan dimensi filosofis dan religius dalam konteks dunia yang semakin terhubung dan dipengaruhi oleh teknologi. Menurut Murtiningsih, S.S., teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia, mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan berpikir. Bahkan Filsafat dan Agama, yang selama berabad-abad menjadi landasan refleksi manusia tentang makna hidup, nilai-nilai, dan eksistensi, kini dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul dari perkembangan teknologi.

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, dia menuturkan, muncul berbagai dilema etis yang membutuhkan panduan dari filsafat dan agama. Misalnya, penggunaan kecerdasan buatan (AI), data pribadi, dan bioteknologi yang menimbulkan pertanyaan tentang privasi, kebebasan, dan hak asasi manusia. Filsafat dan agama menawarkan perspektif mendalam untuk mengevaluasi dampak etis dari teknologi dan memberikan arah untuk penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan bermoral. “Tema ini tentu mengundang kita untuk terus memperbarui dan memperdalam pemahaman kita tentang dunia dan tempat kita di dalamnya, memastikan bahwa kemajuan teknologi membawa manfaat maksimal bagi semua umat manusia,” terangnya.

Selaku Dekan, ia pun dalam kesempatan ini menyampaikan berbagai capaian, tantangan, serta rencana strategis yang telah dan akan dijalankan Fakultas Filsafat UGM.  Fakultas hingga saat ini memiliki tiga departemen Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Agama, serta mengembangkan minat kajian di bidang Etika, Filsafat Ilmu dan Teknologi, Filsafat Agama dan Budaya, serta Filsafat Sosial dan Politik.

Saat ini, semua program studi, mulai dari Program Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3), memiliki akreditasi A. Untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan filsafat yang berkualitas, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Unit Kerja Jaminan Mutu bekerja sama dengan Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas terus berupaya untuk meningkatkan standar pembelajaran dan pelayanan pendidikan di lingkungan fakultas. “Kami juga terus melakukan pengembangan kurikulum untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Inovasi dalam metode pengajaran, penggunaan teknologi informasi, serta pengembangan materi yang relevan dengan isu-isu kontemporer menjadi fokus utama kami, untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan mendalam di bidang filsafat, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika global,” tuturnya.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.OG(K)., Ph.D yang hadir di puncak Dies ke-57 Fakultas Filsafat UGM turut merasakan kegembiraan perayaan. Disebutnya tema Dies kali ini bisa sangat menarik sekaligus menantang. Menariknya karena tema ini merupakan isu kontemporer, sekaligus  menantang karena melalui tema ini sepertinya Fakultas ingin mempertanyakan mengenai bagaimana masa depan Filsafat dan Agama di tengah perkembangan teknologi yang begitu masif. “Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sains dan teknologi sudah mencapai peningkatan perkembangan luar biasa terutama dalam kapasitasnya mengembangkan kecerdasan artifisial,” ungkapnya.

Rektor mengatakan teknologi bukan hanya sebatas instrumen atau alat. Karena ia tak hanya mengubah bidang kemampuan kerja saja, namun juga mengubah paradigma dan juga prinsip-prinsip eksistensi hidup manusia, termasuk mengubah bagaimana nilai-nilai kebenaran, keyakinan, serta bangunan-bangunan moralitas hidup lainnya harus diinterpretasikan ulang. Tentu saja hal tersebut bisa menjadi tantangan serius bagi agama dan filsafat. “Karena tanpa kita sadari, mesin teknologi dalam nalar algoritma kerja akan bisa menyelesaikan segala hal dengan cerdas, namun ia juga memiliki satu prinsip dasar kekurangan yakni ketiadaan akal budi yang memiliki kemampuan untuk menalar, menimbang dan melakukan penghayatan atas nilai hidup”, tuturnya.

Dr. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum selaku ketua panitia dies kali ini menyatakan tema Philosophy and Religion in a Technologized World merupakan tema menarik yang menghadirkan dua entitas penting bagi hidup manusia. Filsafat dan agama memiliki karakter yang berbeda, namun harus disatukan dalam diri manusia untuk mencapai ketinggian martabat.

Boleh jadi, katanya, dua entitas ini hadir secara fluktuatif dalam hidup manusia. Suatu saat dirasa sangat dibutuhkan, dan suatu saat tidak dianggap atau bahkan suatu saat justru dijauhi dengan berbagai alasan. “Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan agama dan filsafat dalam hidup atau dunia kita secara konstan atau bahkan menaik semakin intensif,” ucapnya.

Mustofa Anshori mengatakan berbagai kegiatan telah dilaksanakan memeriahkan Dies ke-57 Fakultas Filsafat. Diantaranya rangkaian lomba olah raga, family gathering, dan festival karawitan, batik dan jajanan nusantara. Rencananya, pihaknya akan menyelenggarakan International Conference of Nusantara Philosophy bertema Philosophy of Well-Being: Revisiting the Idea of Sustainable Living and Development pada November mendatang.

Penulis : Agung Nugroho

 

Artikel Filsafat dan Agama jadi Panduan Hidup di Tengah Arus Teknologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/filsafat-dan-agama-panduan-hidup-di-tengah-hidup-yang-serba-berteknologi/feed/ 0
Sering Dianggap Klenik, Mahasiswa UGM Kaji Eksistensi Primbon Jawa Melalui Persepsi Warga Yogyakarta https://ugm.ac.id/id/berita/sering-dianggap-klenik-mahasiswa-ugm-kaji-eksistensi-primbon-jawa-melalui-persepsi-warga-yogyakarta/ https://ugm.ac.id/id/berita/sering-dianggap-klenik-mahasiswa-ugm-kaji-eksistensi-primbon-jawa-melalui-persepsi-warga-yogyakarta/#respond Fri, 02 Aug 2024 02:36:20 +0000 https://ugm.ac.id/?p=68255 Ketika mendengar kata primbon Jawa, mungkin sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa primbon Jawa merupakan suatu ramalan yang klenik, syirik, dan tidak rasional. Persepsi-persepsi semacam itu mengakibatkan primbon Jawa tidak dianggap penting dalam kehidupan masyarakat. Lambat laun, eksistensinya mulai dilupakan dan terancam hilang.  Menghadapi fenomena tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam tim Program Kreativitas […]

Artikel Sering Dianggap Klenik, Mahasiswa UGM Kaji Eksistensi Primbon Jawa Melalui Persepsi Warga Yogyakarta pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ketika mendengar kata primbon Jawa, mungkin sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa primbon Jawa merupakan suatu ramalan yang klenik, syirik, dan tidak rasional. Persepsi-persepsi semacam itu mengakibatkan primbon Jawa tidak dianggap penting dalam kehidupan masyarakat. Lambat laun, eksistensinya mulai dilupakan dan terancam hilang. 

Menghadapi fenomena tersebut, lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang terdiri dari Bagus Arianto, Kenyo Kartikowengi, Zumrotush Sholihah, Punta Dharma Wijaya, dan Windy Susanty melakukan penelitian dengan mengangkat judul  Eksistensi Primbon Jawa dalam Persepsi Masyarakat Kota Yogyakarta di Era Modern.  Tim PKM-RSH inipun mendapat pendampingan Dr. Sartini, M.Hum selaku dosen Fakultas Filsafat UGM.

Bagus Arianto mengatakan penelitian yang dilakukan para mahasiswa UGM ini bertujuan untuk mencari tahu persepsi masyarakat Kota Yogyakarta terhadap eksistensi primbon Jawa serta faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut. Jawaban atas dua hal tersebut nantinya akan dipergunakan untuk menyusun strategi melestarikan primbon Jawa pada era modern.

Dia menyampaikan berdasarkan hasil survei penelitian yang dilakukan oleh tim mahasiswa UGM, sekitar 34 persen dari 97 masyarakat yang disurvei secara acak menyatakan bahwa primbon Jawa merupakan sebuah “kebudayaan klenik”. Primbon Jawa juga dikatakan syirik, dan kurang relevan pada era modern saat ini.

“Pernyataan tersebut tentunya dilatarbelakangi oleh persepsi masyarakat Kota Yogyakarta bahwa primbon Jawa tidak dapat dipercayai kebenarannya secara ilmiah dan rasional serta dianggap mendahului takdir dan kuasa Tuhan”, ujar Bagus di Kampus UGM, Jumat (2/8).

Melihat banyaknya masyarakat Kota Yogyakarta yang memiliki persepsi demikian, tim mahasiswa UGM melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang memiliki pengetahuan tentang primbon dan kebudayaan Jawa. Berdasarkan kesimpulan yang didapat oleh tim mahasiswa UGM, persepsi negatif sebagian masyarakat Kota Yogyakarta terhadap primbon Jawa tercipta karena masyarakat tidak memiliki pemahaman yang holistik atau menyeluruh tentang primbon Jawa.

Primbon Jawa sesungguhnya merupakan bentuk kebudayaan sekaligus proyeksi yang diciptakan berdasarkan pengalaman nyata para leluhur Jawa yang dititeni secara berulang dengan tujuan agar kosmik atau keseimbangan antara manusia dan alam semesta dapat terjaga. Primbon itu catatan dari para pendahulu dan leluhur kita tentang kehidupan manusia dan alam semesta,” ucap KMT. Projosuwasono dalam keterangannya yang disampaikan di Pendopo Pangurakan Yogyakarta.

Budayawan asal Kotagede, Achmad Charris Zubair (ACZ) juga ikut mengomentari fenomena persepsi masyarakat modern terhadap primbon Jawa. Menurutnya, kesalahpahaman persepsi masyarakat terhadap primbon Jawa ini disebabkan karena ketidaksesuaian paradigma epistemologi yang digunakan dalam memahami primbon Jawa.

Primbon Jawa sesungguhnya tidak dapat kita pahami menggunakan paradigma epistemologi Barat yang positivistik, karena paradigma Barat dan paradigma Jawa adalah sesuatu yang berbeda,” paparnya menanggapi.

Ya karena begini, masyarakat Jawa itu kan sebetulnya masyarakat yang memiliki dasar untuk percaya kepada harmoni. Jadi kehidupan manusia Jawa itu mengagumkan harmoni dan ada tiga tata hubungan yang harus selalu harmoni bagi masyarakat Jawa, yaitu hubungan dengan sesuatu yang transenden (Tuhan), hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta. Primbon Jawa diciptakan oleh masyarakat Jawa untuk menjaga tiga harmoni itu ucap Achmad Charris Zubair.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, Bagus Arianto beserta anggota tim lainnya mengusulkan agar primbon Jawa  mendapatkan perhatian dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan agar dapat dikenalkan kepada masyarakat luas. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan pengenalan dan pendidikan primbon Jawa sebagai warisan budaya dan pengetahuan lokal di jenjang pendidikan dan di masyarakat. Sedangkan untuk jenjang perguruan tinggi, tim ini mengusulkan agar primbon Jawa mendapatkan tempat dalam bidang ilmu sosial-humaniora dan menjadi objek kajian riset dalam rangka merumuskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan lokal di Indonesia.

Penulis : Agung Nugroho

Artikel Sering Dianggap Klenik, Mahasiswa UGM Kaji Eksistensi Primbon Jawa Melalui Persepsi Warga Yogyakarta pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sering-dianggap-klenik-mahasiswa-ugm-kaji-eksistensi-primbon-jawa-melalui-persepsi-warga-yogyakarta/feed/ 0
Inovasi AR Mahasiswa UGM Untuk Peningkatan Pembelajaran Aksara Jawa https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-ar-mahasiswa-ugm-untuk-peningkatan-pembelajaran-aksara-jawa/ https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-ar-mahasiswa-ugm-untuk-peningkatan-pembelajaran-aksara-jawa/#respond Mon, 15 Jul 2024 04:25:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66858 Keberadaan Aksara Jawa semakin asing di kalangan anak muda. Sebagai bagian kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, Aksara Jawa mulai terlupakan. Terlebih di era globalisasi menjadikan Aksara Jawa kurang diminati peserta didik, tidak terkecuali di SMP Negeri 1 Nglipar. Rendahnya minat dan pemahaman perserta didik terhadap materi aksara Jawa tentunya menjadi tantangan banyak pihak. Salah satu […]

Artikel Inovasi AR Mahasiswa UGM Untuk Peningkatan Pembelajaran Aksara Jawa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Keberadaan Aksara Jawa semakin asing di kalangan anak muda. Sebagai bagian kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, Aksara Jawa mulai terlupakan. Terlebih di era globalisasi menjadikan Aksara Jawa kurang diminati peserta didik, tidak terkecuali di SMP Negeri 1 Nglipar.

Rendahnya minat dan pemahaman perserta didik terhadap materi aksara Jawa tentunya menjadi tantangan banyak pihak. Salah satu faktor berpengaruh adalah jarangnya penggunaan Aksara Jawa untuk kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana pengakuan Sartono selaku guru bahasa Jawa SMP Negeri 1 Nglipar. Dia menyampaikan bahwa nilai dari peserta didik pada setiap jenjang terkait materi Aksara Jawa memiliki rata-rata paling rendah dibanding materi yang lain.

“Hal ini dikarenakan peserta didik jarang menggunakan aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari, kurang berlatih, dan tidak memiliki minat terhadap aksara Jawa,” katanya.

Nuning, salah satu guru Bhasa Jawa di SMP Negeri 1 Nglipar menyatakan keberadaan media pembelajaran yang kurang menarik semakin membuat siswa-siswi kurang berminat mempelajari materi Aksara Jawa. Disebutnya pembelajaran bahasa Jawa di SMP Negeri 1 Nglipar saat ini belum menggunakan materi buku paket dan hanya bermodal LKS (lembar kerja siswa) saja.

“Sementara materi pada LKS yang diajarkan tidak pernah selesai karena materi penyampaiannya rumit dan menyulitkan para peserta didik dalam memahami materi,” ujarnya.

Melihat permasalahan tersebut, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengajak guru bahasa Jawa SMP Negeri 1 Nglipar melakukan inovasi untuk mengembangkan media pembelajaran (AJAR) yang interaktif dan mudah dipahami. Inovasi pun dilakukan dengan menggunakan augmented reality (AR) dan papan permainan guna meningkatkan minat sekaligus pemahaman siswa terhadap Aksara Jawa.

Adapun para mahasiswa UGM yang melakukan pengembangan AJAR antara lain Davin Elian Qariru (FA), Muhammad Fajrulfalaq Izzulfirdausyah Suryaprabandaru (FT), Fikriansyah Ridwan Pratama (FT), Salsabila Eka Fadila (SV), dan Veronica Tia Ningrum (SV). Mendapat bimbingan Dr. Ahmad Nasikun S.T., M.Sc, para mahasiswa yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat inipun dengan mendapat dukungan pendanaan dari UGM dan Kemendikbudristek.

Davin Elian Qariru mengatakan program pengembangan AJAR di SMP Negeri 1 Nglipar, Gunungkidul bertujuan untuk melatih guru bahasa Jawa supaya dapat menarik minat serta meningkatkan pemahaman peserta didik melalui pembelajaran yang menarik dan interaktif. “Melalui kolaborasi ini, guru bahasa Jawa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengintegrasikan teknologi AR,” ujarnya.

“Dengan pembelajaran aksara Jawa melalui papan permainan menjadikan pembelajaran menjadi lebih aktif dan interaktif,” imbuhnya.

Muhammad Fajrulfalaq Izzulfirdausyah Suryaprabandaru, anggota tim PKM lainnya, mengatakan bahwa media AJAR merupakan kombinasi AR dengan papan permainan kartu. AR sendiri merupakan teknologi yang mampu menyisipkan informasi ke dalam dunia maya dan menampilkannya ke dunia nyata melalui visualisasi 3 dimensi.

Dia menjelaskan animasi AR pada AJAR akan muncul ketika kartu di-scan dengan HP melalui aplikasi Assamblr Edu. Animasi akan muncul bersama soal tentang materi aksara Jawa dan peserta didik akan menjawab soal tersebut. “AJAR ini juga didesain menjadi permainan kompetitif kelompok yang mana peserta akan dinyatakan menang jika mencapai finish setelah menjawab berbagai pertanyaan. Hal ini tentunya akan memicu semangat peserta didik serta keaktifan melalui diskusi kelompok,” ungkapnya.

Berbagai materi, soal, dan media pembelajaran telah melalui uji kelayakan terlebih dahulu melalui diskusi dan konsultasi. Materi maupun soal dibuat berdasarkan LKS berjudul Modul Pendamping Bahan Ajar Bahasa Jawa Kurikulum Merdeka serta divalidasi oleh guru bahasa Jawa SMP Negeri 1 Nglipar dan ahli bahasa Jawa dari Kraton Yogyakarta telah tersertifikasi oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta yaitu KMT Projosuwasono dan KRT Rintoisworo.

Materi AJAR ini juga melalui uji kelayakannya oleh Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan Yogyakarta sehingga layak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Sosialisasi dilakukan melalui diskusi secara tatap muka di SMP Negeri 1 Nglipar yang meliputi pengenalan AJAR, cara pengoperasian AJAR, dan buku pedoman AJAR.

Target dari sosialisasi para guru bahasa Jawa SMP Negeri 1 Nglipar dapat mengoperasikan dan menerapkan media AJAR dalam kegiatan belajar mengajar secara mandiri, meningkatkan pemahaman dan minat peserta didik terhadap aksara Jawa melalui media pembelajaran AJAR.

Selanjutnya penerapan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, serta dapat memahami buku pedoman AJAR. Guna melihat apakah guru dapat mengoperasikan secara mandiri, dilakukan aplikasi penerapan AJAR pada peserta didik melalui kegiatan belajar mengajar oleh guru bahasa Jawa.

“Guru mengajarkan sambil menilai keaktifan dan memberikan soal pretest-posttest untuk mengukur kemampuan peserta didik. Hasilnya, media pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman peserta didik,” imbuh Salsabila Eka Fadila.

Penulis: Agung Nugroho

Foto: Good News From Indonesia

 

Artikel Inovasi AR Mahasiswa UGM Untuk Peningkatan Pembelajaran Aksara Jawa pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/inovasi-ar-mahasiswa-ugm-untuk-peningkatan-pembelajaran-aksara-jawa/feed/ 0
Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/#respond Wed, 10 Jul 2024 08:21:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65980 Puluhan peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara terlihat memainkan gamelan di selasar Fakultas Filsafat UGM, Selasa (9/7). Dengan antusias mereka menabuh kendhang, saron, bonang, dan gong mengikuti arahan sang pelatih. Mereka adalah para peserta Konferensi AAS-in-Asia 2024, konferensi yang diselenggarakan Association for Asian Studies bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada. Konferensi AAS-in-Asia yang berlangsung […]

Artikel Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Puluhan peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara terlihat memainkan gamelan di selasar Fakultas Filsafat UGM, Selasa (9/7). Dengan antusias mereka menabuh kendhang, saron, bonang, dan gong mengikuti arahan sang pelatih. Mereka adalah para peserta Konferensi AAS-in-Asia 2024, konferensi yang diselenggarakan Association for Asian Studies bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada.

Konferensi AAS-in-Asia yang berlangsung pada tanggal 9-11 Juli mendatang menjadi wadah bagi para akademisi yang menekuni kajian-kajian tentang Asia untuk bertukar pikiran dan membangun koneksi. Lokakarya Gamelan sendiri menjadi salah satu agenda khusus dari Konferensi AAS-in-Asia, yang bertujuan untuk menghadirkan pengalaman yang unik dan berharga bagi para akademisi dunia.

“Ini adalah kali pertama saya memainkan gamelan, dan rasanya sangat menyenangkan. Saya mendapat pengajar yang sangat baik sehingga bisa langsung mengikuti, dan saya jadi tertarik untuk belajar lagi di kesempatan yang lain,” tutur Mark Iñigo Tallara, salah satu peserta dari De La Salle University Filipina.

Pelatihan gamelan ini digelar dalam dua sesi. Sesi pertama yang dimulai pada pukul 10.00 WIB diikuti 16 peserta dengan memainkan lagu Lancaran Gugur Gunung, sedangkan sesi kedua pada pukul 13.30 WIB diikuti lebih dari 20 peserta dengan memainkan lagu Suwe Ora Jamu. Jumlah alat musik yang terbatas, membuat para peserta harus dibagi menjadi dua sesi dan bergiliran memainkan alat musik yang tersedia.

Sama halnya dengan Mark, bagi kebanyakan peserta, ini merupakan pengalaman pertama mereka memainkan alat musik gamelan. Namun ada juga sejumlah peserta yang pernah belajar gamelan dan tembang Jawa sebelumnya. Mereka pun tergabung dalam kelompok karawitan, bahkan menjadi pengajar gamelan di negara mereka masing-masing.

Salah satu peserta yang cukup menarik perhatian dalam pelatihan ini adalah Ilaria Meloni, akademisi dari La Sapienza University of Rome Italia yang dengan lancar menyanyikan tembang berbarengan dengan iringan gamelan. Ia mempelajari gamelan dan tembang Jawa saat menjalani studi di Institut Seni Yogyakarta beberapa tahun lalu, dan hingga saat ini masih aktif menekuni kesenian tersebut di berbagai kesempatan.

“Saya masih sering bermain gamelan setiap saya ada kesempatan untuk datang ke Indonesia. Senang juga melihat rekan-rekan dari berbagai negara mendapat kesempatan untuk belajar gamelan. Meski awalnya agak takut karena belum mengenal alat musiknya, tetapi setelah belajar jadi bisa menikmati,” ucapnya.

Rona Utami, S.Fil., M.A. selaku panitia penyelenggara mengatakan salah satu fokus kegiatan Konferensi AAS-in Asia adalah untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan selama mereka berada di Indonesia. “Kebanyakan dari mereka juga sudah tahu tentang Indonesia, sehingga banyak juga yang kemudian tertarik untuk mencoba salah satu seni tradisional Indonesia yaitu gamelan,” terang Rona.

Selain pelatihan gamelan, di Fakultas Filsafat juga akan diselenggarakan Lokakarya Kaligrafi Jawa, Arab, China, dan Korea pada Rabu (10/7) mendatang atau pada hari kedua penyelenggaraan Konferensi AAS-in-Asia. Lokakarya yang diisi dengan sesi diskusi dan pelatihan ini akan menghadirkan narasumber dan praktisi kaligrafi dari berbagai negara, dan dapat diikuti oleh para peserta konferensi.

Reportase: Humas Fakultas Filsafat UGM

Editor: Triya Andriyani

Artikel Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/feed/ 0
Dosen Fakultas Filsafat Gelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Singkawang Kalimantan Barat https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fakultas-filsafat-gelar-kegiatan-pengabdian-masyarakat-di-singkawang-kalimantan-barat/ https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fakultas-filsafat-gelar-kegiatan-pengabdian-masyarakat-di-singkawang-kalimantan-barat/#respond Fri, 28 Jun 2024 08:48:26 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67189 Sivitas Akademika Fakultas Filsafat UGM yang terdiri atas dosen dan mahasiswa memulai rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat di pelbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, pada Rabu (19/6) silam. Kegiatan pengabdian di Kota Singkawang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat, yaitu melalui aktivitas koperasi yang berkelanjutan. Tim pengabdian menyelenggarakan kegiatan sosialisasi […]

Artikel Dosen Fakultas Filsafat Gelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Singkawang Kalimantan Barat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sivitas Akademika Fakultas Filsafat UGM yang terdiri atas dosen dan mahasiswa memulai rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat di pelbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, pada Rabu (19/6) silam.

Kegiatan pengabdian di Kota Singkawang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat, yaitu melalui aktivitas koperasi yang berkelanjutan. Tim pengabdian menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pembentukan koperasi yang bertempat di Desa Nyarumkop, tepatnya di Masjid Al-Fattah, dan diikuti oleh masyarakat sekitar, pengurus serta tim pengajian masjid.

“Saya meyakini bahwa proses penguatan perekonomian masyarakat dapat dibangun melalui koperasi dan dimulai dari masjid sebagai ruang sosial kekeluargaan yang emansipatoris,” tutur Dr. Misnal Munir yang memimpin kegiatan sosialisasi.

Kegiatan ini sendiri merupakan kelanjutan dari program pengabdian yang telah dilaksanakan pada tahun 2023 lalu di wilayah lain di Kota Singkawang, yaitu Desa Semelagi Kecil. Tim pengabdian kali ini terdiri atas empat dosen, yaitu Dr. Sonjoruri Budiani Trisakti, Dr. Rizal Mustansyir, Dr. Misnal Munir, dan Rangga Kala Mahaswa, S.Fil., M.Phil.

Secara demografis, Singkawang dikenal sebagai kota yang kaya akan keberagaman suku, agama, ras, dan adat istiadat serta memiliki berbagai potensi daerah yang bisa menjadi penggerak perekonomian warganya. Akan tetapi, kondisi ekonomi masyarakat Kelurahan Nyarumkop masih tergolong rendah seperti yang terindikasi dari data profil desa yang menyatakan bahwa rata-rata pendapatan masyarakat hanya sebesar Rp300.000. Hal ini menggambarkan kurangnya pemahaman dan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi wilayah tersebut.

Koperasi sebagai bagian integral dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan berkeadilan memiliki peran yang penting dalam memajukan ekonomi masyarakat, mengurangi kesenjangan sosial, serta meningkatkan partisipasi dan kontrol anggota terhadap usaha bersama. Melalui prinsip-prinsip demokratis dan partisipatif, adanya pembentukan koperasi diharapkan dapat menjadi instrumen yang efektif dalam memperkuat keberlanjutan ekonomi dan sosial.

“Pemahaman masyarakat di Nyarumkop perlu ditingkatkan agar mereka dapat membangun usaha yang dapat menjadi sumber penghasilan tetap bagi mereka, salah satunya dimulai dengan pendirian dan pengembangan koperasi,” terang Sonjoruri selaku Ketua Tim Pengabdian.

Bersamaan dengan sosialisasi pembentukan koperasi, turut diselenggarakan pelatihan pemotongan hewan kurban yang diawali dengan pemaparan materi modul oleh Gema Bestari, S.Pt., M.M. dan dilanjutkan dengan praktik tata cara penyembelihan hewan kurban. Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan serta pemahaman yang baik dan benar tentang menjaga kualitas daging kurban, sekaligus menerapkan kesejahteraan hewan agar daging kurban yang dihasilkan senantiasa halal.

Masyarakat di sekitar masjid Al-Fattah menyambut baik program pengabdian ini, dengan harapan kelak program ini dapat berlanjut. Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan penyerahan cendera mata, modul pelatihan, perlengkapan alat ibadah beserta dana hibah koperasi secara simbolis.

 

Penulis: Gloria

Artikel Dosen Fakultas Filsafat Gelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Singkawang Kalimantan Barat pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dosen-fakultas-filsafat-gelar-kegiatan-pengabdian-masyarakat-di-singkawang-kalimantan-barat/feed/ 0
Dies Natalis Fakultas Filsafat Usung Tema Filsafat dan Agama di Dunia yang Ter-teknologi https://ugm.ac.id/id/berita/dies-natalis-fakultas-filsafat-usung-tema-filsafat-dan-agama-di-dunia-yang-ter-teknologi/ https://ugm.ac.id/id/berita/dies-natalis-fakultas-filsafat-usung-tema-filsafat-dan-agama-di-dunia-yang-ter-teknologi/#respond Mon, 20 May 2024 02:21:59 +0000 https://ugm.ac.id/dies-natalis-fakultas-filsafat-usung-tema-filsafat-dan-agama-di-dunia-yang-ter-teknologi/ Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada tahun ini akan memperingati hari jadi atau Dies Natalis ke-57. Tema yang diusung dalam peringatan Dies Natalis kali ini adalah “Philosophy and Religion in a Technologized World”, sejalan dengan komitmen Fakultas Filsafat untuk memberikan kontribusi pemikiran yang kritis dan reflektif untuk mengurai kompleksitas dunia modern. “Kita hidup di sebuah […]

Artikel Dies Natalis Fakultas Filsafat Usung Tema Filsafat dan Agama di Dunia yang Ter-teknologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada tahun ini akan memperingati hari jadi atau Dies Natalis ke-57. Tema yang diusung dalam peringatan Dies Natalis kali ini adalah “Philosophy and Religion in a Technologized World”, sejalan dengan komitmen Fakultas Filsafat untuk memberikan kontribusi pemikiran yang kritis dan reflektif untuk mengurai kompleksitas dunia modern.

“Kita hidup di sebuah dunia yang dipenuhi dengan teknologi, dan setiap hari kita menjalani hari dengan dikepung aneka rupa teknologi. Tema ini mengajak kita untuk sejenak memikirkan apa yang dapat dilakukan filsafat dan agama untuk dunia yang semakin sesak dengan teknologi,” tutur Dekan Fakultas Filsafat, Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dalam acara pembukaan rangkaian Dies Natalis ke-57 yang berlangsung Jumat (17/5).

Murti menerangkan, “dunia yang ter-teknologi” atau “technologized world” merupakan sebuah istilah baru yang tengah marak digunakan di kalangan akademisi filsafat untuk menggambarkan fenomena dunia saat ini. Kehidupan sudah sedemikian tergantung dengan teknologi, hingga permasalahan pada salah satu perangkat kecil pun dapat secara signifikan mempengaruhi aktivitas manusia.

Gambaran ini, menurutnya, menjadi lebih kompleks jika berbicara tentang teknologi yang lebih canggih. “Saat teknologi masa depan terwujud hidup kita tidak akan sama lagi. Di titik ini kita bertanya, di mana peran filsafat dan agama,” ucapnya.

Ketergantungan ini, lanjutnya, memunculkan kekhawatiran akan kesejahteraan hidup manusia di masa depan. Teknologi membuat aktivitas manusia menjadi lebih mudah, namun di sisi lainnya juga membawa berbagai dampak negatif mulai dari menurunnya daya berpikir kritis hingga menurunnya ketahanan mental. “Kita butuh filsafat dan agama sebagai rem terhadap ambisi duniawi untuk mengembangkan teknologi, bagaimana membantu menavigasi hidup yang penuh sesak dengan teknologi,” jelasnya.

Acara pembukaan ini diisi dengan kegiatan olahraga bersama, napak tilas perjalanan Fakultas Filsafat UGM yang dipimpin oleh Dr. Heri Santoso, serta acara kebersamaan. Pembukaan Dies Natalis secara simbolis ditandai dengan pelepasan sepasang burung merpati.

Selain diikuti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Fakultas Filsafat, acara ini juga melibatkan tenaga kependidikan dari fakultas klaster sosial humaniora yaitu Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Fakultas Hukum.

“Mulai pagi ini akan digelar beberapa rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Dies Natalis. Ada kegiatan akademik dan non-akademik yang akan melibatkan sivitas Fakultas Filsafat, alumni, hingga masyarakat umum,” jelas Ketua Panitia Dies Natalis ke-57, Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum.

Rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-57 Fakultas Filsafat di antaranya meliputi Philosophy Essay Competition (PEC) dan lomba olahraga yang akan dimulai pada bulan Mei, Festival Karawitan dan Bazar Karya Nusantara pada bulan Juli mendatang, acara Puncak Dies Natalis serta Pertunjukan Wayang pada bulan Agustus, diakhiri dnegan 12th International Conference on Nusantara Philosophy (ICNP) dan Simposium Nasional Filsafat Nusantara (SNFN) III yang rencananya akan digelar pada bulan Oktober mendatang.

Penulis: Gloria

Artikel Dies Natalis Fakultas Filsafat Usung Tema Filsafat dan Agama di Dunia yang Ter-teknologi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dies-natalis-fakultas-filsafat-usung-tema-filsafat-dan-agama-di-dunia-yang-ter-teknologi/feed/ 0
Mengenal Lebih Dekat Prodi Filsafat UGM dan Prospek Kerjanya https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-prodi-filsafat-ugm-dan-prospek-kerjanya/ https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-prodi-filsafat-ugm-dan-prospek-kerjanya/#respond Tue, 14 May 2024 22:07:56 +0000 https://ugm.ac.id/mengenal-lebih-dekat-prodi-filsafat-ugm-dan-prospek-kerjanya/ Jika kamu tertarik untuk mempelajari induk dari seluruh ilmu pengetahuan dan mengembangkan kemampuan berpikirmu yang logis dan runtut, maka sebaiknya kamu mendaftar kuliah di prodi filsafat. Kamu bisa mendaftar kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Sedikit informasi, Fakultas ini sudah berdiri lebih dari 56 tahun lalu dan sudah mencetak banyak alumni yang bekerja di berbagai bidang. […]

Artikel Mengenal Lebih Dekat Prodi Filsafat UGM dan Prospek Kerjanya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Jika kamu tertarik untuk mempelajari induk dari seluruh ilmu pengetahuan dan mengembangkan kemampuan berpikirmu yang logis dan runtut, maka sebaiknya kamu mendaftar kuliah di prodi filsafat. Kamu bisa mendaftar kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Sedikit informasi, Fakultas ini sudah berdiri lebih dari 56 tahun lalu dan sudah mencetak banyak alumni yang bekerja di berbagai bidang. Sebut saja Eka Kurniawan, salah satu penulis novel yang namanya sudah dikenal di kalangan sastrawan internasional. Masih banyak alumni yang lain.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., mengatakan Fakultas Filsafat sejak berdirinya telah menyelenggarakan pendidikan filsafat untuk mencetak lulusan yang berkualitas sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan filsafat yang bermutu. “Fakultas Filsafat dengan keunikannya merupakan landasan yang kuat dan penting dalam menghadapi perubahan zaman. Di dunia yang serba cepat dimana teknologi mengubah cara kita hidup dan berinteraksi, kehadiran Fakultas Filsafat dan Ilmu Filsafat menjadi semakin relevan dan penting,” ujar Siti Murtiningsih, Selasa (14/5).

Menurut Dekan, di era modern sekarang ini telah membuat individu terlalu fokus akan satu hal tertentu, hingga melupakan sebab dan asal muasal dari banyaknya fenomena yang terjadi. Adapun studi filsafat mampu membawa seseorang ke dalam perenungan untuk mencari dan mempertanyakan segala sesuatu agar memahami dunia modern.

Saat ini membuka tiga program studi, yakni sarjana (S1), magister ilmu filsafat (S2), dan doktoral (S3). Ketiga program studi tersebut diusung oleh tiga departemen, yakni Filsafat Agama, Filsafat Barat, dan Filsafat Timur. Berbagai kajian dan pilihan peminatan pun tersedia untuk membantu mahasiswa memfokuskan minatnya.

Selain terbagi ke dalam tiga program dan departemen, mahasiswa juga dapat memilih beberapa peminatan, antara lain Etika, Filsafat Ilmu dan Teknologi, Filsafat Agama dan Budaya, serta Filsafat Sosial dan Politik. Seluruh program studi telah mendapatkan akreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak tahun 2020. “Sebelumnya pada tahun 2016, ASEAN University Network (AUN) juga memberikan akreditasi yang membuat Fakultas Filsafat UGM dianggap telah berstandar internasional,” ujarnya.

Di ranah penelitian dan pengembangan, Fakultas Filsafat UGM memiliki forum jurnal yang dibentuk sejak tahun 1990. Forum tersebut berfungsi untuk mengembangkan riset dan pemikiran tentang filsafat. Kemudian pada tahun 2022, Fakultas Filsafat UGM berkontribusi merintis tiga jurnal baru, yakni Jurnal Lafinus untuk pengembangan Filsafat Nusantara, Jurnal ASEAN Journal of CI-EL Applied Philosophy untuk filsafat terapan dan etika bisnis, serta Jurnal Tsaya Dharma untuk publikasi di bidang pengabdian masyarakat.

Sedangkan untuk program kemahasiswaan,  mahasiswa Filsafat berkesempatan dapat belajar di luar perkuliahan melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terbuka bagi seluruh mahasiswa dalam sembilan jenis pembelajaran MBKM meliputi pertukaran pelajar, magang atau praktik kerja, kegiatan wirausaha, hingga proyek kemanusiaan. “Jika ingin mengasah kemampuan soft-skills dan leadership, Fakultas Filsafat UGM memiliki 10 Biro Kegiatan Mahasiswa (BKM) untuk memperluas wilayah pembelajaran,” paparnya.

Salah satu mahasiswa S1 Ilmu Filsafat UGM, Tiyo Ardianto menuturkan, ketertarikannya terhadap dunia filsafat sudah ada sejak ia masih remaja. Setelah lulus SMA, ia pun memilih daftar kuliah di prodi Filsafat.  Apalagi saat di bangku menengah, ia menempuh pendidikan homeschooling berbasis komunitas di Omah Dongeng Marwah dengan ijazah paket C. “Sebagai angkatan pertama, saya ingin menorehkan warisan kepada adik-adik bahwa dengan ijazah paket C, kita bisa masuk kampus sekelas UGM. Saya bersyukur, keinginan saya terwujud,” kata Tiyo seraya menyebutkan ia berhasil masuk UGM dengan skor UTBK 753 di Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Ketika ditanya soal mata kuliah favorit, Filsafat Nusantara adalah salah satu pilihan Tiyo. Mata kuliah ini tersedia di semester pertama, di mana setiap mahasiswa akan saling berbagi pengetahuan dan tukar pengalaman soal kebudayaan dari daerah asal masing-masing. “Tak hanya itu, Filsafat Nusantara juga mempelajari sejarah kearifan lokal pra-Indonesia hingga pasca-Indonesia, serta asal muasal nilai-nilai Pancasila. Model pembelajaran yang sering digunakan adalah diskusi antar mahasiswa, dengan saling melempar tanya jawab satu sama lain,” katanya.

Menjawab soal jenis pekerjaan yang akan ingin digelutinya setelah lulus, Tiyo mengatakan seorang sarjana filsafat harus mampu berpikir lurus untuk dapat menyelami berbagai bidang profesi, seperti jurnalistik, IT, akademik, perbankan, bahkan di pemerintahan. Tiyo sendiri mengaku ingin menjadi seorang pengajar, dosen, atau peneliti. “Saya suka belajar hal baru dan mengembangkan pengetahuan yang saya miliki. Semua hal itu selaras dengan kerja-kerja di bidang pengajaran,” jelasnya.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Foto: Donnie

Artikel Mengenal Lebih Dekat Prodi Filsafat UGM dan Prospek Kerjanya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mengenal-lebih-dekat-prodi-filsafat-ugm-dan-prospek-kerjanya/feed/ 0
Fakultas Filsafat Terima Kunjungan Direktur Utama Pos Indonesia https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-filsafat-terima-kunjungan-direktur-utama-pos-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-filsafat-terima-kunjungan-direktur-utama-pos-indonesia/#respond Mon, 25 Mar 2024 08:01:52 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67167 Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan dari Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Faizal Rochmad Djoemadi, Jumat (22/3). Dalam kunjungannya tersebut, ia melihat langsung Archipelago Cafe, co-working space sekaligus Laboratorium Kewirausahaan Fakultas Filsafat UGM yang dibangun dengan dukungan dari Pos Indonesia. Pada kesempatan ini, Faizal juga bertemu dan berdiskusi dengan pimpinan Fakultas Filsafat serta […]

Artikel Fakultas Filsafat Terima Kunjungan Direktur Utama Pos Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan dari Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Faizal Rochmad Djoemadi, Jumat (22/3). Dalam kunjungannya tersebut, ia melihat langsung Archipelago Cafe, co-working space sekaligus Laboratorium Kewirausahaan Fakultas Filsafat UGM yang dibangun dengan dukungan dari Pos Indonesia.

Pada kesempatan ini, Faizal juga bertemu dan berdiskusi dengan pimpinan Fakultas Filsafat serta menyapa langsung para mahasiswa yang tengah mengikuti kegiatan Entrepreneurship Sharing Session di tempat tersebut.

“Selamat kepada Archipelago Cafe yang keren, yang dikelola oleh mahasiswa Fakultas Filsafat yang pandai berbisnis,” sambutnya.

Dirut PT Pos Indonesia ini mengaku kagum melihat bagaimana fasilitas tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan kapasitas mahasiswa. Ia pun memuji pengelola kafe yang mampu menghidangkan kopi berkualitas.

“Top, dilanjutkan dan sukses selalu,” pesan Faizal.

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian, Kerjasama, dan Alumni, Dr. Iva Ariani menuturkan bahwa fasilitas ini memang dibangun untuk menumbuhkan semangat dan minat mahasiswa dalam bidang kewirausahaan. Pengelolaan fasilitas ini pun melibatkan mahasiswa yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan dari Career Development Center Fakultas Filsafat sehingga mereka dapat mempraktikkan langsung ilmu yang telah dipelajari.

“Mahasiswa akan lebih mudah belajar jika mereka juga bisa melihat secara langsung seperti apa praktiknya,” jelas Iva.

Kepada Faizal dan rombongan Pos Indonesia, Iva menerangkan program-program pengembangan kewirausahaan mahasiswa yang telah dirancang dan dilaksanakan, dengan Archipelago Cafe sebagai pusat pelaksanaannya. Selain melibatkan berbagai pakar dan dosen, program-program ini juga banyak melibatkan alumni Fakultas Filsafat yang telah sukses berkiprah di berbagai lini usaha.

“Alumni yang sudah sukses membangun bisnis kita ajak untuk kembali ke kampus dan berbagi ilmu ke adik-adiknya. Dengan demikian mereka bisa melihat peluang bisnis yang begitu luas dan termotivasi untuk mengikuti jejak kakak-kakak mereka,” imbuhnya.

 

Penulis: Gloria

Artikel Fakultas Filsafat Terima Kunjungan Direktur Utama Pos Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/fakultas-filsafat-terima-kunjungan-direktur-utama-pos-indonesia/feed/ 0
Alumnus Fakultas Filsafat Berbagi Rahasia Memulai Bisnis dari Bangku Kuliah https://ugm.ac.id/id/berita/alumnus-fakultas-filsafat-berbagi-rahasia-memulai-bisnis-dari-bangku-kuliah/ https://ugm.ac.id/id/berita/alumnus-fakultas-filsafat-berbagi-rahasia-memulai-bisnis-dari-bangku-kuliah/#respond Fri, 22 Mar 2024 07:55:34 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67162 Fakultas Filsafat UGM menghadirkan salah satu alumnusnya, M. Ganiswara Afif Kharisma, untuk berbagi wawasan tentang dunia kewirausahaan kepada para mahasiswa. Dalam acara bertajuk Entrepreneurship Sharing Session yang diselenggarakan Jumat (22/3) di Archipelago Cafe, Afif bercerita tentang pengalamannya belajar kewirausahaan dan merintis bisnis di usia muda. Afif berkisah awal mula ketertarikannya untuk menjadi seorang wirausahawan muncul […]

Artikel Alumnus Fakultas Filsafat Berbagi Rahasia Memulai Bisnis dari Bangku Kuliah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Filsafat UGM menghadirkan salah satu alumnusnya, M. Ganiswara Afif Kharisma, untuk berbagi wawasan tentang dunia kewirausahaan kepada para mahasiswa. Dalam acara bertajuk Entrepreneurship Sharing Session yang diselenggarakan Jumat (22/3) di Archipelago Cafe, Afif bercerita tentang pengalamannya belajar kewirausahaan dan merintis bisnis di usia muda.

Afif berkisah awal mula ketertarikannya untuk menjadi seorang wirausahawan muncul saat ia masih duduk di bangku SMA. Ia sempat mencoba berjualan dan meraup keuntungan sebagai tambahan uang saku. Meski demikian, ia baru banyak belajar kewirausahaan secara mendalam saat berkuliah di UGM. Meski Afif tidak belajar di program studi yang berkaitan langsung dengan dunia bisnis, ia mengaku banyak belajar dari program-program kemahasiswaan dan jejaring yang diperoleh selama berkuliah di UGM.

”UGM ini kampus yang luar biasa, di mana pun kita bisa bertemu dengan mentor atau teman-teman sebaya yang hebat. Kita bisa banyak berdiskusi dan ini hal yang penting karena kewirausahaan adalah tentang pola pikir,” jelasnya.

Afif adalah pemilik Carisma Industry, bisnis suvenir berbahan kulit yang ia rintis pada tahun 2018 atau sebelum ia menamatkan pendidikan jenjang S1. Saat ini ia juga bekerja sebagai Strategic Planner & Analytic Sirkula Indonesia, Content Writer TDI Host serta menjadi Co-founder Harumasa Portraiture.

Ketika masih berstatus mahasiswa UGM, Afif aktif berkegiatan di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM dan Komunitas Pengusaha Kreatif Jogjakarta. Ia juga mengikuti sejumlah program dan kompetisi seperti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) UGM pada tahun 2017, Islamic Sociopreneur Development Programs LAZNAS BSM UMAT tahun 2018—2020 serta Panthera Nasional Business Plan Competition di tahun 2019.

Menurut Afif, mahasiswa harus mencari banyak kesempatan untuk belajar dari mana saja dan dari siapa saja, juga mesti berani untuk mencoba. “Kalau tertarik untuk mempelajari lebih dalam, banyak hal dalam diri kalian juga akan bertumbuh. Langkah kecil kalian sangat penting untuk ke depannya. Salah satu yang juga diperlukan adalah lingkungan. Oleh karena itu, carilah lingkungan yang mendukung itu,” ucapnya.

Kisah Afif memantik ketertarikan para mahasiswa untuk mengajukan berbagai pertanyaan tentang langkah-langkah menemukan minat bisnis dan giat untuk mulai membangun usaha sendiri. Ia pun mendorong para mahasiswa untuk menggali berbagai keterampilan penting selama kuliah dan mencari ide bisnis dari permasalahan di sekitar yang dihadapi sehari-hari. Terakhir, Afif juga menekankan pentingnya kemampuan untuk beradaptasi sebagai salah satu modal penting untuk terjun di dunia bisnis.

 

Penulis: Gloria

Artikel Alumnus Fakultas Filsafat Berbagi Rahasia Memulai Bisnis dari Bangku Kuliah pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/alumnus-fakultas-filsafat-berbagi-rahasia-memulai-bisnis-dari-bangku-kuliah/feed/ 0