drone Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/drone/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 10 Jun 2024 03:25:22 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Prof. Gesang Nugroho Raih Guru Besar https://ugm.ac.id/id/berita/kembangkan-pesawat-tanpa-awak-prof-gesang-nugroho-raih-guru-besar/ https://ugm.ac.id/id/berita/kembangkan-pesawat-tanpa-awak-prof-gesang-nugroho-raih-guru-besar/#respond Tue, 21 May 2024 10:01:06 +0000 https://ugm.ac.id/kembangkan-pesawat-tanpa-awak-prof-gesang-nugroho-raih-guru-besar/ Dua buah pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dipamerkan di Balairung UGM, Selasa (21/5). Dua buah pesawat tersebut dinamakan pesawat UAV Palapa S-1 dan Palapa S-2. Untuk pesawat Palapa-S1 dikembangkan selama 2,5 tahun lalu yang memiliki kemampuan waktu terbang selama 6 jam tanpa berhenti. Sedangkan untuk pesawat kedua, memiliki kemampuan daya terbang selama 10 jam. Selain bisa dikemudikan […]

Artikel Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Prof. Gesang Nugroho Raih Guru Besar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dua buah pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dipamerkan di Balairung UGM, Selasa (21/5). Dua buah pesawat tersebut dinamakan pesawat UAV Palapa S-1 dan Palapa S-2. Untuk pesawat Palapa-S1 dikembangkan selama 2,5 tahun lalu yang memiliki kemampuan waktu terbang selama 6 jam tanpa berhenti. Sedangkan untuk pesawat kedua, memiliki kemampuan daya terbang selama 10 jam. Selain bisa dikemudikan tanpa awak, pesawat UAV Palapa S1 memiliki jarak jangkau hingga 50 hingga 300 kilometer yang bisa digunakan untuk kepentingan pemetaan, pemantauan bencana hingga kegiatan surveilans.

Kedua pesawat ini merupakan hasil karya inovasi Dosen Fakultas Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Gesang Nugroho, S.T., M.T.,   IPM., yang kebetulan tengah dikukuhkan sebagai Guru Besar. Setelah 12 tahun mengembangkan pesawat tanpa awak, selain berhasil meraih  Guru Besar, Gesang juga telah berhasil meraih dua paten terkait pencetakan komposit dengan batuan tekanan balon yang diberi nama Bladder Compression Moulding (BCM).

Kepada wartawan, Gesang menyampaikan dua pesawat yang memiliki Panjang 2 meter dan 3,3 meter ini sudah dilengkapi sistem autopilot dan kemampuan jelajah terbang sesuai dengan titik koordinat yng dipasangkan. “Selama terbang akan mampu mengambil foto dan video yang akan dikirim pada ground control station.  Bedanya Palapa S-1 mampu terbang 6 jam nonstop, palapa S-2 bisa terbang 10 jam nonstop,“ katanya.

Untuk UAV S-1, kata Gesang sudah menggunakan telemetri wifi internet dengan jarak tempuh hingga 50 kilometer. Menurutnya, Palapa S-1 sebenarnya memiliki kemampuan daya terbang hingga 300 km namun komunikasi foto dan video terputus untuk jarak sejauh itu. Sedangkan pada Palapa S-2 menggunakan telemetri satelit sehingga memiliki kemampuan daya jangkauan tak terbatas. Namun pesawat yang kedua ini, belum selesai dikembangkan. “Belum selesai, nantinya akan dilengkapi sistem autopilot dan sistem komunikasinya menggunakan telemetri satelit sehingga tak terbatas jangkauannya. Saat ini baru tahap fase membuat bodinya,” jelasnya.

Meski masih menggunakan tingkat komponen dalam negeri besar 25-30 persen namun Gesang optimis pengembangan pesawat tanpa awak di tanah air nantiya akan terus berkembang karena sangat diperlukan, selain untuk kepentingan militer namun juga bisa digunakan untuk kepentingan pemetaan, surveilans, dan pemantauan bencana bahkan untuk kepentingan pemeliharaan tanaman pertanian dan perkebunan. “Kita mendorong perkembangan industri komponen pesawat dan industri pembuatan bodi pesawat dari komposit,” tegasnya.

Soal harga? Gesang menuturkan bahwa pesawat tanpa awak yang dikembangkannya harganya jauh lebih murah dibanding dengan pesawat UAV dari lua. Tidak hanya lebih murah, bahkan untuk pemeliharaan dan perawatan pesawat pun bisa dilakukan di dalam negeri. “Harganya jauh lebih ekonomis, pesawat sekelas ini dijual di Indonesia bisa sampai Rp 3 miliar. Untuk pesawat kita harganya bisa di bawah Rp 1 miliar,” ungkapnya

Pada  pidato pengukuhan yang berjudul Membangun Industri Pesawat Tanpa Awak Indonesia, Prof. Gesang menyampaikan bahwa teknologi Pesawat Tanpa Awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) saat ini semakin maju dan berkembang. Saat ini, UAV tidak hanya merupakan perangkat teknologi canggih semata, tetapi juga merupakan sebuah gebrakan revolusioner yang mengubah perspektif kita terhadap dunia. Mulai dari kegunaan di sektor militer hingga penerapannya dalam berbagai bidang sipil, UAV telah melangkah masuk ke setiap aspek kehidupan masyarakat dengan kecepatan yang menakjubkan.

Ia menghimbau agar masyarakat dan pemerintah mau menggunakan produk produk hasil riset bangsa sendiri. Apabila kerja sama saling mendukung sudah berjalan dengan  baik, maka konsep Invention, Application and Utilization (IAU) akan berjalan berkesinambungan sehingga industri manufaktur akan tumbuh dan berkembang di tanah air.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Prof. Gesang Nugroho Raih Guru Besar pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kembangkan-pesawat-tanpa-awak-prof-gesang-nugroho-raih-guru-besar/feed/ 0
UGM Kampus Pertama Penyelenggara Pelatihan Remote Pilot Drone Tersertifikasi di Indonesia   https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kampus-pertama-penyelenggara-pelatihan-remote-pilot-drone-tersertifikasi-di-indonesia/ https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kampus-pertama-penyelenggara-pelatihan-remote-pilot-drone-tersertifikasi-di-indonesia/#respond Thu, 12 Oct 2023 04:35:33 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60326 Universitas Gadjah Mada (UGM) diakui sebagai universitas pertama yang dapat menyelenggarakan pelatihan remote pilot sistem pesawat udara kecil tanpa awak (SPUKTA) atau drone tersertifikasi di Indonesia. Koordinator Task Force Remote Pilot Rating SPUKTA UGM, Dr. Sc. Sanjiwana Arjasakusuma, M.GIS., menjelaskan penerbitan Lisensi Remote Pilot (RPL) rating SPUKTA hanya dapat dilakukan melalui perolehan sertifikat dari lembaga […]

Artikel UGM Kampus Pertama Penyelenggara Pelatihan Remote Pilot Drone Tersertifikasi di Indonesia   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada (UGM) diakui sebagai universitas pertama yang dapat menyelenggarakan pelatihan remote pilot sistem pesawat udara kecil tanpa awak (SPUKTA) atau drone tersertifikasi di Indonesia.

Koordinator Task Force Remote Pilot Rating SPUKTA UGM, Dr. Sc. Sanjiwana Arjasakusuma, M.GIS., menjelaskan penerbitan Lisensi Remote Pilot (RPL) rating SPUKTA hanya dapat dilakukan melalui perolehan sertifikat dari lembaga pelatihan yang diakui oleh Kementerian Perhubungan. Saat ini, baru ada sembilan lembaga pelatihan RPL yang diakui dengan lembaga terbaru yang diakui adalah UGM.

“Terbaru ada UGM yang merupakan universitas pertama yang diakui dapat menerbitkan sertifikat Remote Pilot License (RPL) yang diakui oleh Kementerian Perhubungan,”ungkapnya, Kamis (12/10) di UGM.

Ia menyampaikan bahwa UGM mendapatkan pengakuan ini setelah melalui serangkaian asesmen yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan. Asesmen  dilakukan terhadap kesiapan sarana prasarana serta sumber daya manusia serta kurikulum yang diajukan oleh UGM dengan kriteria yang diatur oleh Direktorat Kelaikudaraan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan. Hal itu, sesuai dengan peraturan dan undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor 1 tentang Penerbangan Pasal 58 ayat (1) bahwa setiap personel pesawat udara wajib memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi. Lalu, Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) Bagian 107 tentang Sistem Pesawat Udara Kecil Tanpa Awak (SPUKTA) (PM 63 Tahun 2021) butir 107.63; Butir 107.73. Berikutnya, Surat Edaran DKPPU nomor SE.009/DKPPU/Xl/2022 perihal Kurikulum, dan Silabus Remote Pilot rating Sistem Pesawat Udara Tanpa Awak yang terdiri dari minimum 38 jam pelajaran teori dan 5 jam pelajaran praktek.

Pengakuan UGM sebagai salah satu pusat pelatihan RPL tertuang pada surat keputusan DKPPU nomor UM.006/21/17/DKPPU-2023 pada tanggal 30 Agustus 2023 yang mencatat UGM sebagai lembaga pelatihan Remote Pilot Rating SPUKTA dengan nomor UASTC-009.

Menyambut hal baik tersebut, lanjutnya, UGM membentuk tim task force untuk pelatihan Drone/UAV di UGM dengan anggota tim terdiri dari Fakultas Geografi, MIPA, Teknik, Sekolah Vokasi dan PUSTRAL. Task Force ini bertugas untuk mengatur instrumentasi pelatihan dan mensupervisi penyelenggaraan pelatihan Remote Pilot rating SPUKTA yang dilangsungkan di lingkup UGM agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh DKPPU.

Salah satu anggota task force, Dr. Taufik Hery Purwanto, menambahkan pengakuan ini penting bagi UGM. Sebab, banyak pengembangan, pemanfaatan dan pelatihan SPUKTA di UGM untuk memenuhi regulasi yang ada terkait keselamatan (safety) dan keamanan (security). Oleh karenanya diperlukan pengetahuan tentang SPUKTA, regulasi, serta lisensi untuk menerbangkan.

Sebagai tindak lanjut dari pengakuan UGM sebagai lembaga pelatihan remote pilot rating SPUKTA oleh Kementerian Perhubungan telah dilakukan pelatihan  Remote Pilot License (RPL) dan Pengolahan Foto Udara tingkat Lanjut dari PUSPICS Fakultas Geografi UGM pada bulan Juni 2023 lalu yang diikuti 17 peserta. Selain itu, pelatihan Remote Pilot dan Pengoperasian Unmanned Aircraft System untuk Pemetaan  pada bulan Juli 2023 yang dilangsungkan oleh PUSTRAL UGM. Seluruh peserta pelatihan tersebut berhasil mendaftarkan sertifikatnya untuk mendapatkan lisensi dari Kementerian Perhubungan melalui SIDOPI-GO.

“Harapannya ke depan, pengakuan UGM sebagai lembaga pelatihan remote pilot rating SPUKTA akan dapat dimanfaatkan masyarakat luas untuk mencetak sumber daya manusia untuk dunia aviasi dengan pemahaman saintifik serta memiliki wawasan keamanan dan keselamatan yang baik,” ucap Taufik.

Penulis: Ika

Foto: Dok. Task Force Remote Pilot Rating SPUKTA UGM

 

 

 

 

Artikel UGM Kampus Pertama Penyelenggara Pelatihan Remote Pilot Drone Tersertifikasi di Indonesia   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-kampus-pertama-penyelenggara-pelatihan-remote-pilot-drone-tersertifikasi-di-indonesia/feed/ 0