difabel Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/difabel/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Mon, 26 Feb 2024 05:05:45 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 KSE UGM dan PR YAKKUM Meresmikan Cupable Coffe https://ugm.ac.id/id/berita/kse-ugm-dan-pr-yakkum-meresmikan-cupable-coffe/ https://ugm.ac.id/id/berita/kse-ugm-dan-pr-yakkum-meresmikan-cupable-coffe/#respond Mon, 26 Feb 2024 05:05:45 +0000 https://ugm.ac.id/kse-ugm-dan-pr-yakkum-meresmikan-cupable-coffe/ Yayasan Karya Salemba Empat Universitas Gadjah Mada (KSE) dan Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM)  meresmikan Cupable Coffe yang berada di Jalan Kaliurang Km 13.5 Besi Sukoharjo Ngaglik Sleman. Cupable Coffee ini merupakan unit usaha yang berada di bawah manajemen Pusat Rehabilitasi YAKKUM 2. Disamping sebagai sarana mempromosikan salah satu bisnis kedai kopi, Cupable Coffe sekaligus sebagai […]

Artikel KSE UGM dan PR YAKKUM Meresmikan Cupable Coffe pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Yayasan Karya Salemba Empat Universitas Gadjah Mada (KSE) dan Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM)  meresmikan Cupable Coffe yang berada di Jalan Kaliurang Km 13.5 Besi Sukoharjo Ngaglik Sleman. Cupable Coffee ini merupakan unit usaha yang berada di bawah manajemen Pusat Rehabilitasi YAKKUM 2.

Disamping sebagai sarana mempromosikan salah satu bisnis kedai kopi, Cupable Coffe sekaligus sebagai tempat pemberdayaan penyandang disabilitas yang sesuai dengan kepanjangan dari namanya yaitu Cups for Empowering Disabled People.

“Tema yang diusung dalam peresmian Cupable Cafee adalah Aksi nyata teman Difabel, Wujudkan Impian Mereka. Harapannya dapat membawa semangat kebersamaan bagi masyarakat luas,” ujar Juanita Theodora selaku Advisor and Representative Give2Asia Foundation selaku mitra funding, Sabtu (24/2).

Menurutnya, kegiatan ini berpotensi membuka kesempatan modeling baru dalam pengelolaan Cafe yang lebih inklusif. Ia pun merasa salut atas peran Generasi Muda KSE yang aktif turut serta dalam kemajuan Cupable Coffee.

“Terima kasih sudah aktif dalam pemberdayaan difabel melalui kehadiran Cupable Coffee. Semoga model yang dikembangkan dalam Cupable Coffee ini akan jadi percontohan di tempat-tempat yang lain,” ucapnya.

Tampak hadir dalam peresmian Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Provinsi DI Yogyakarta, Direktur Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM), Perwakilan Kimia Farma, dan Penerima beasiswa Yayasan Karya Salemba Empat.

Chatarina Sari selaku Direktur Pusat Rehabilitasi YAKKUM menandaskan bisnis kedai kopi membuka kesempatan kerja bagi difabel dengan tidak hanya dalam aspek pengelolaan kafe, namun juga memampukan mereka menggeluti jenis usaha yang lain.

“Kami sudah mendampingi teman-teman difabel dengan menghadirkan banyak pelatihan salah satunya adalah pelatihan barista inklusif. Banyak lulusan yang kami bekali keahlian sehingga mereka mampu menyajikan sajian yang berkualitas, tidak hanya kafe tapi juga angkringan, dan ada juga yang menjadi distributor kopi, mereka banyak yang melihat peluang wirausaha,” tandasnya.

Hengki Purwo Widagdo selaku Sekretaris 1 dan Chief Operating Officer Karya Salemba Empat (KSE) UGM merasa bersyukur dengan peresmian Cupable Coffe. Ia menyatakan pihaknya berharap para penerima beasiswa perlu lebih mengenal isu dan kondisi sosial yang ada dalam masyarakat.

Dia sangat berterima kasih kepada para penerima beasiswa KSE yang terlibat dan membantu peresmian Cupable Coffe. Project ini telah berlangsung selama 2 bulan, namun prosesnya sudah bertahun-tahun.

“Melalui YAKKUM, kita diperkenalkan Bank Sampah di Kulon Progo yang dikelola teman-teman disabilitas, yang selaras dengan pendekatan kami untuk mengedepankan semangat saling berbagi,” tutur Hengky.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Provinsi Di Yogyakarta, Budhi Wibowo, menambahkan Dinas Sosial sangat mendukung kegiatan dan keberadaan Cupable Coffee. Diharapkan agar semangat pemberdayaan terus dijalankan bersama para difabel.

“Yang kita lakukan saat ini adalah upaya nyata dalam menerjemahkan pemberdayaan. Kita bekerja bersama dengan teman-teman difabel bukan bekerja untuk difabel. Jadi, mereka terlibat dalam satu kesempatan,” ungkapnya.

Budhi Wibowo mengakui kesempatan itu tidak muncul begitu saja. Dari mereka harus ditunjukkan bahwa mereka punya kemampuan bukan hanya sekedar dikasihani karena istilah difabel sebenarnya mengandung arti bukan tergantung.

Cupable Coffee telah hadir meramaikan kancah perkopian Indonesia sejak tahun 2017. Sejak awal berdirinya Cupable Coffee mengusung pesan tentang pemenuhan hak dan pemberdayaan difabel, termasuk dalam hal ketenagakerjaan agar siapapun mendapatkan hak untuk bekerja tanpa diskriminasi.

Eko salah satu barista tuna daksa di Cupable Coffee menuturkan banyak pengalaman menarik dengan kondisinya menjadi pekarya. Menjadi barista selama 5 tahun, telah banyak yang ia lalui ketika beririsan dengan para pengunjung kafe.

“Awalnya pengunjung bertemu dengan teman-teman disabilitas mungkin mereka rada kaget atau gimana. Tapi setelah beberapa kali ngobrol, lama-lama biasa aja bahkan kami telah mengubah mindset,” ucap Eko.

Dengan pengalamannya, ia pun memiliki harapan untuk teman-teman difabel dalam memandang masa depan. Ia sangat berharap teman-teman difabel untuk tidak patah semangat atau rendah diri.

“Untuk teman-teman khususnya disabilitas, saya berharap terus berjuang meraih cita-cita dan harapan-harapnnya. Belajar dengan sungguh-sungguh dengan bidangnya masing-masing. Meyakinkan diri dengan apa yang kita lakukan dan pelajari, disertai ketulusan hati pasti menjadi berkah walaupun dalam prosesnya tidak mudah,” papar Eko.

Karya Salemba Empat adalah yayasan beasiswa yang ditujukan kepada mahasiswa di banyak perguruan tinggi. Paguyuban KSE UGM merupakan salah satu paguyuban perkumpulan penerima beasiswa dari yayasan tersebut.

Penulis : Agung Nugroho

MBKM

IKU 2 Mahasiswa Mendapat Pengalaman di Luar Kampus

Artikel KSE UGM dan PR YAKKUM Meresmikan Cupable Coffe pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kse-ugm-dan-pr-yakkum-meresmikan-cupable-coffe/feed/ 0
Dukung Pencapaian SDGs, FIB UGM Adakan Program Pengayaan Bahasa LPDP Batch I Tahun 2024 https://ugm.ac.id/id/berita/37-peserta-mengikuti-program-pengayaan-bahasa-lpdp-batch-i-tahun-2024/ https://ugm.ac.id/id/berita/37-peserta-mengikuti-program-pengayaan-bahasa-lpdp-batch-i-tahun-2024/#respond Tue, 20 Feb 2024 08:48:12 +0000 https://ugm.ac.id/37-peserta-mengikuti-program-pengayaan-bahasa-lpdp-batch-i-tahun-2024/ Fakultas Ilmu Budaya UGM menyelenggarakan Program Pengayaan Bahasa LPDP Batch I Tahun 2024. Program Pengayaan Bahasa diikuti 37 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pembukaan Program Pengayaan Bahasa LPDP oleh Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., berlangsung di Gedung Soegondo Ruang 709 Lantai 7 Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (20/2). […]

Artikel Dukung Pencapaian SDGs, FIB UGM Adakan Program Pengayaan Bahasa LPDP Batch I Tahun 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Fakultas Ilmu Budaya UGM menyelenggarakan Program Pengayaan Bahasa LPDP Batch I Tahun 2024. Program Pengayaan Bahasa diikuti 37 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Pembukaan Program Pengayaan Bahasa LPDP oleh Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., berlangsung di Gedung Soegondo Ruang 709 Lantai 7 Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (20/2).

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum., menyampaikan program pengayaan bahasa kerja sama dengan LPDP sudah berjalan cukup lama. Program ini dilaksanakan salah satunya bertujuan untuk mendukung pencapaian poin 4 SDGs yang berkaitan dengan Pendidikan Berkualitas.

Hanya saja untuk kali ini dinilai sangat istimewa karena dibuat kelas khusus bersama dengan teman-teman difabel. “Terus terang ketika diberi amanah itu kita sempat berpikir mampu tidaknya. Karena kalau 1 atau 2 mahasiswa disabilitas kuliah di kelas-kelas reguler itu sudah biasa untuk kita,” ujar Nur Saktiningrum.

Untuk kali ini, mereka yang berkebutuhan khusus masing-masing berbeda. Ada yang disabilitas karena kondisi fisik, namun ada juga yang harus berkebutuhan khusus untuk sosial, kondisi  psikologis dan lain-lain.

Bagi Nur Saktiningrum kondisi ini tentunya menjadi tantangan tersendiri dan FIB UGM. Sebagai tantangan maka segala sesuatunya harus dipersiapkan dan FIB UGM sudah mempersiapkan sejak lama.

“Sebagai bentuk persiapan kita pun meminta dari Unit Pelayanan Disabilitas UGM untuk meninjau fasilitas. Kita pun melakukan berbagai perbaikan atas berbagai usulan dari Unit Pelayanan Disabilitas UGM,” terangnya.

Dr. Aprillia Firmonasari, S.S.,M.Hum., D.E.A, Koordinator Foreign Languages Learning Service, menambahkan sebanyak 37 peserta Program Pengayaan Bahasa ini terdiri dari 12 peserta disabilitas dan akan belajar IELTS selama 6 bulan. Sedangkan 25 peserta lainnya merupakan peserta yang akan belajar Toefl selama 4 bulan.

“Ini merupakan para peserta hasil seleksi LPDP yang diikuti ribuan peminat. Mereka yang mengikuti IELTS ini nantinya akan meneruskan studi magister (S2) di luar negeri, sedangkan mereka yang belajar Toefl akan menempuh studi dalam negeri,” paparnya.

Penulis : Agung Nugroho

 

MBKM

IKU 7 Kelas yang Kolaboratif dan Partisipatif

 

Artikel Dukung Pencapaian SDGs, FIB UGM Adakan Program Pengayaan Bahasa LPDP Batch I Tahun 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/37-peserta-mengikuti-program-pengayaan-bahasa-lpdp-batch-i-tahun-2024/feed/ 0
Yubita Mahasiswa Disabilitas UGM Senang Terima Bantuan Kaki Palsu  https://ugm.ac.id/id/berita/yubita-mahasiswa-disabilitas-ugm-senang-terima-bantuan-kaki-palsu/ https://ugm.ac.id/id/berita/yubita-mahasiswa-disabilitas-ugm-senang-terima-bantuan-kaki-palsu/#respond Thu, 24 Aug 2023 08:51:37 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58809 Raut muka bahagia terpancar jelas di wajah Yubita Hida Aprilia (19). Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik kehilangan sebagian kaki kanannya akibat tumor tulang, ia sangat bersyukur karena  dikelilingi orang-orang berhati mulia yang membantu dan tak memandang sebelah mata. Seperti saat ini ia menerima tawaran bantuan kaki palsu baru dari Dirlantas Polda DIY, Kombespol Alfian […]

Artikel Yubita Mahasiswa Disabilitas UGM Senang Terima Bantuan Kaki Palsu  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Raut muka bahagia terpancar jelas di wajah Yubita Hida Aprilia (19). Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik kehilangan sebagian kaki kanannya akibat tumor tulang, ia sangat bersyukur karena  dikelilingi orang-orang berhati mulia yang membantu dan tak memandang sebelah mata.

Seperti saat ini ia menerima tawaran bantuan kaki palsu baru dari Dirlantas Polda DIY, Kombespol Alfian Nurrizal S.H.,SIK., M.Hum., dan sejumlah komunitas sosial. Hal ini menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Yubita. Pasalnya, sejak tujuh tahun silam, tepatnya 15 September 2017 gadis ini harus merelakan kaki kanannya untuk diamputasi di RS Orthopedi Solo. Prosedur itu harus ia pilih karena tak ingin tumor menjalar lebih luas ke bagian tubuh lainnya. Kala itu tumor telah menggerogoti telapak kaki hingga bagian betis perempuan asal Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah.

Yubita merasakan sakit akibat tumor tulang menjelang kelulusan dari SD hingga SMP. Selama kurun waktu itu ia terpaksa beraktivitas dengan penyangga kaki/kruk. Setelah amputasi, ia menjalani hari-harinya dengan kaki palsu bantuan dari rumah sakit.

“Setelah lima tahun waktunya untuk ganti kaki palsu lagi itu kan harus mengurus ke rumah sakit di Solo untuk diukur dan sebagainya. Namun, tidak saya lakukan karena waktu itu bapak meninggal dunia,” papar mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia FIB UGM angkatan 2023 ini.

Akhirnya ia menggunakan kaki palsu yang bisa diperolehnya di perajin kaki palsu yang ada di daerahnya. Saat itu ia membeli dengan biaya mandiri. Kaki palsu yang digunakannya saat ini berbeda dari sebelumnya dengan penampilan lebih humanis menyerupai bentuk kaki asli.

“Ya memang lebih nyaman mengguankan yang bantuan dari rumah sakit. Kalau yang sekarang ini tumpuannya kurang stabil suka mleset-mleset,”jelasnya.

Karenanya ia sangat bersyukur saat mendengar ada yang akan memberikan bantuan kaki palsu baru dengan model yang lebih humanis seperti yang awal dipakainya. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan bantuan kaki palsu baru. Bahkan, ketika ditanya oleh Kombespol Alfian Nurrizal terkait apa saja yang dibutuhkan saat ini ia pun terlihat terdiam beberapa saat seperti tidak percaya menemui momen ini. Lalu, dengan yakin ia pun menjawab membutuhkan kaki palsu baru.

“Saya perlu kaki palsu saja Pak. Karena untuk kebutuhan kuliah seperti laptop dan sepeda sudah difasilitasi oleh UGM,” jelasnya sembari menyampaikan ucapan terima kasih pada Kombespol Alfian Nurrizal yang sudah menawarkan bantuan.

Dirlantas Polda DIY, Kombespol Alfian Nurrizal S.H.,SIK., M.Hum., saat bersilaturahmi menemui Yubita, Kamis (24/8) di Kantor Humas dan Protokol UGM menyampaikan ia mengetahui cerita Yubita dari media sosial. Ia pun merasa prihatin dengan kondisi Yubita sehingga tergerak untuk membantu.

“Kalau membaca cerita Yubita dari info di media sosial saya lihat kegigihan yang luar biasa untuk masuk UGM. Karenanya coba untuk menawarkan bantuan dan mudah-mudahan dengan bantuan kaki palsu baru nantinya bisa membantu berjalan dengan baik dan mendukung Yubita dalam menggapai apa yang dicita-citakan,”papar alumnus Magister Ilmu Hukum FH UGM ini.

Sementara Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu UGM, Dr.dr. Andreasta Meliala, M.Kes., menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang diberikan kepada Yubita. Ia berharap nantinya apa yang sudah dijalankan Kombespol Alfian Nurrizal bisa menginspirasi masyarakat tergerak melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan.

 

Penulis: Ika

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Yubita Mahasiswa Disabilitas UGM Senang Terima Bantuan Kaki Palsu  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/yubita-mahasiswa-disabilitas-ugm-senang-terima-bantuan-kaki-palsu/feed/ 0
Inspiratif, Kisah Aulia Difabel Netra UGM Jadi Sutradara Film https://ugm.ac.id/id/berita/inspiratif-kisah-aulia-difabel-netra-ugm-jadi-sutradara-film/ https://ugm.ac.id/id/berita/inspiratif-kisah-aulia-difabel-netra-ugm-jadi-sutradara-film/#respond Wed, 16 Aug 2023 08:32:49 +0000 https://ugm.ac.id/?p=58476 Hidup dalam dunia yang gelap, tanpa cahaya apalagi merasakan warna-warni kehidupan nyatanya tak mematahkan asa Aulia Rachmi Kurnia (24) untuk menaklukan dunia. Gadis muda ini berhasil mendobrak bahkan meruntuhkan keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas netra. Buktinya, ia mampu mencatatkan sederet prestasi baik dalam bidang akademis maupun non-akademis. Tahun 2022 lalu ia berhasil diterima masuk UGM […]

Artikel Inspiratif, Kisah Aulia Difabel Netra UGM Jadi Sutradara Film pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Hidup dalam dunia yang gelap, tanpa cahaya apalagi merasakan warna-warni kehidupan nyatanya tak mematahkan asa Aulia Rachmi Kurnia (24) untuk menaklukan dunia. Gadis muda ini berhasil mendobrak bahkan meruntuhkan keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas netra.

Buktinya, ia mampu mencatatkan sederet prestasi baik dalam bidang akademis maupun non-akademis. Tahun 2022 lalu ia berhasil diterima masuk UGM di Departemen Sastra Indonesia. Di tahun 2023 ini ia mensutradarai film pendek berjudul Masih Tanda Tanya yang tayang perdana pada bulan Maret 2023 lalu dan telah diputar di berbagai komunitas pencinta film tanah air.

Aulia merupakan gadis yang mulanya terlahir normal. Namun, di usia lima tahun ia mengalami sakit parah yang menyebabkan ia kehilangan pengelihatan. Hampir 20 tahun menjalani hidup tanpa bisa menikmati indahnya dunia yang penuh warna, namun ia mampu  memberikan warna bagi dunia lewat karyanya.

Bagi penyandang disabilitas netra sepertinya, menjadi sutradara film bukanlah hal mudah.  Sebagai sutradara ia memiliki beban besar apakah sebuah film nantinya bakal diminati penontonnya. Arahan tangannya menentukan para pemain agar berlakon sesuai karakter yang diperankan serta memastikan semua berjalan sesuai rencana dari awal hingga akhir produksi film.

Ia mengakui ada tantangan tersendiri dalam pembuatan film yang harus menggunakan bahasa visual. Kendati begitu, keterbatasan visual yang dimilikinya tak lantas membatasi langkahnya untuk berkarya. Di tengah keterbatasan itu ia bersyukur masih dikelilingi orang-orang baik yang percaya akan potensinya dan mendukung mensutradari film ini.

“Kesulitan ya pasti ada karena keterbatasan visual. Namun, sangat terbantu ada asisten sutradara yang bisa menjadi “mata” saya dan team work yang luar biasa selama produksi film,” jelasnya.

Masih Tanda Tanya ini merupakan film pertama yang disutradari Aulia. Film berdurasi 40 menit ini berkisah tentang sepasang kekasih dimana pihak laki-laki merupakan penyandang disabilitas netra. Di tengah perbedaan fisik ini cinta mereka di uji dengan adanya orang ketiga. Selain menampilkan lika-liku percintaan dua remaja dengan perbedaan fisik, film ini juga mencoba mengungkap sejumlah isu disabilitas.

“Film ini terinspirasi dari kisah teman yang juga disabilitas netra,”ungkapnya.

Perjalanan Aulia menekuni bidang perfilman bermula dari keikutsertaanya dalam sebuah kelas film di tahun 2022. Ia bersama dengan lima rekannya penyandang disabilitas netra kala itu iseng-iseng mengikuti kelas film di Yogyakarta. Kehadiran mereka dalam kelas tersebut sempat dipandang sebelah mata. Bagimana tidak, penyandang disabilitas netra dituntut untuk memproduksi karya yang identik dengan hal-hal berbau visual.

“Saat itu tutornya sempat bingung juga, kenapa difabel netra ikut kelas film. Namun, akhirnya justru mendukung karena melihat kami semangat dan menjadi mentor kami sekarang ini,”jelasnya.

Sebelumnya, pada tahun 2021 Aulia sempat terlibat dalam produksi film Seutas Asa. Ia dipercaya menjadi salah satu pemain dalam film yang juga dibuat oleh temannya penyandang disabilitas netra.

Aulia tidak pernah menyangka bisa mencapai titik ini. Menjadi sutradara film pendek tidak pernah terbesit dalam benaknya, terlebih dengan keterbatasan visual yang dimiliki.

Ia pun mengaku bangga sekaligus senang bisa mensutradari film Masih Tanda Tanya ini. Sebab, kesempatan ini menjadi pengalaman pertama baginya untuk belajar dan berkarya di bidang perfilman.

“Gak nyangka aja bisa jadi sutradara. Saya bisa belajar banyak hal tentang bagaimana proses syuting, belajar manajemen pra hingga paska produksi. Belajar matengin naskah, pengambilan gambar dan juga kerja tim,” paparnya.

Kedepan Aulia berencana akan menulis naskah film lagi dengan terus mengkampanyekan isu-isu inklusifitas khusunya disabilitas lewat film. Ia berharap lewat film bisa menginspirasi banyak orang, tidak hanya di Yogyakarta, namun juga di Indonesia bahkan dunia.

“Jangan berhenti berkarya. Sebab, berkarya itu tidak mengenal golongan, disabilitas atau bukan. Selagi ada niat kita bisa berkreasi dan yakinlah ada orang-orang yang akan mendukung kita,” pungkasnya.

Aulia merupakan salah satu mahasiswa penyandang disabilitas yang diterima kuliah di UGM. Ia berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisiknya tidak mematahkan asanya untuk terus berkreasi, berinovasi, dan belajar tanpa henti. Kehadiran mahasiswa penyandang disabilitas di UGM menjadi bukti nyata akan komitmen UGM mewujudkan pendidikan yang inklusif, berkeadilan dan merata bagi semua masyarakat. Komitmen UGM ini seleras dengan tujuan pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs).

 

Penulis: Ika

Foto: Firsto

 

Artikel Inspiratif, Kisah Aulia Difabel Netra UGM Jadi Sutradara Film pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/inspiratif-kisah-aulia-difabel-netra-ugm-jadi-sutradara-film/feed/ 0
Dorong Inklusivitas, Tim UGM Beri Pelatihan Difabel Siaga Bencana https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-inklusivitas-tim-ugm-beri-pelatihan-difabel-siaga-bencana/ https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-inklusivitas-tim-ugm-beri-pelatihan-difabel-siaga-bencana/#respond Thu, 27 Jul 2023 04:49:36 +0000 https://ugm.ac.id/?p=57830 UGM sebagai lembaga pendidikan memiliki komitmen kuat dalam menjaga kualitas pendidikan yang inklusif dan merata bagi semua termasuk penyandang disabilitas. Selain itu, mendorong penguatan masyakarat yang inklusif sejalan dengan komitmen UGM dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) […]

Artikel Dorong Inklusivitas, Tim UGM Beri Pelatihan Difabel Siaga Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
UGM sebagai lembaga pendidikan memiliki komitmen kuat dalam menjaga kualitas pendidikan yang inklusif dan merata bagi semua termasuk penyandang disabilitas. Selain itu, mendorong penguatan masyakarat yang inklusif sejalan dengan komitmen UGM dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM memberikan Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Untuk Orang Dengan Kebutuhan Khusus (Difabel) dan Keluarga Difable. Melalui dana hibah Adimas terintegrasi yang diperoleh  Syahirul Alim, S.Kp., MN.Sc., PhD, dosen Keperawatan Dasar dan Emergensi FKKMK berupaya meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas dalam kesiapsiagaan bencana.

Syahirul menyampaikan melalui kegiatan Abdimas tim melakukan assessment terlebih dahulu terkait dengan jenis difabel masyarakat pada daerah rawan bencana. Assessment tersebut dilakukan untuk memetakan penyandang disabilitas karena setiap disabilitas mendapatkan perlakuan dan intervensi yang berbeda. Setelah assessment, lalu dilakukan pelatihan pada kelompok penyandang disabilitas dan keluarga/pendamping.

Lebih lanjut Syahirul menjelaskan pelatihan diperuntukkan  bagi Difagana atau Difabel Siaga Bencana yang merupakan relawan atau sekelompok sukarelawan yang membantu sesama orang berkebutuhan khusus selama fase bencana. Relawan difabel dinilai lebih memahami korban bencana dengan kebutuhan khusus sehingga mereka diharapkan lebih cepat dan tepat dalam pendampingan dan pemulihan difabel ketika terjadi bencana.

“Peran Difagana amat penting khususnya untuk area rawan bencana seperti DIY,” terangnya.

Salah satu pelatihan dilakukan di di Kalurahan Donokerto, Turi, Sleman Yogyakarta pada 15 Juli 2023. Pelatihan mengundang Sigit Alifianto, SE., MM selaku perwakilan dari Dinas Sosial DIY sebagai narasumber. Selain itu, pelatihan ini diharap menjadi salah satu keterlibatan akademisi/institusi pendidikan dalam meningkatkan resiliensi masyarakat. Kegiatan ini juga terintegrasi dengan proses pembelajaran melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sehingga diharap kompetensi mahasiswa yang mengikuti kegiatan dapat meningkat baik soft skills maupun hard skills.

“Selama ini, masyarakat cukup kesulitan membedakan istilah disable dengan difable. Selain itu, masyarakat juga masih belum banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan terkait bagaimana memperlakukan difable, terlebih pada saat bencana. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas ini menjadi sangat penting untuk dilakukan,”paparnya.

Pelatihan kesiapsiagaan bencana untuk difabel dan pengasuh di Kalurahan Donokerto diawali dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan, Haryani., S.Kp., M.Kes., Ph.D., serta Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Syahirul Alim., S.Kp., MN.Sc., Ph.D. Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai Difagana oleh narasumber. Dalam sesi ini, Sigit menjelaskan tentang pengertian, tujuan pembentukan, implementasi dan efektivitas Difagana, peran Difagana pada masa pandemi, keberlanjutan Difagana, serta strategi keberlanjutan Difagana. Pada kesempatan tersebut, hadir tim Abdimas FK-KMK UGM untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan hibah Abdimas terintegrasi tersebut.

 

Penulis: Ika

Foto: Dok. Tim Abdimas FFKMK UGM

Artikel Dorong Inklusivitas, Tim UGM Beri Pelatihan Difabel Siaga Bencana pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dorong-inklusivitas-tim-ugm-beri-pelatihan-difabel-siaga-bencana/feed/ 0