cumlaude Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/cumlaude/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Thu, 08 Aug 2024 22:31:47 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/#respond Thu, 08 Aug 2024 22:31:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69158 Kebahagiaan dan rasa haru melingkupi Ravidho Ramadhan dan keluarganya pada saat wisuda pascasarjana yang berlangsung pada Rabu, 24 Juli lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mahasiswa doktor program studi fisika ini berhasil meraih gelar doktor termuda dan tercepat pada usia 26 tahun. Laki-laki kelahiran Teluk Balengkong, Indragiri Hilir, Riau tahun 1998 ini akhirnya mampu menuntaskan […]

Artikel Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kebahagiaan dan rasa haru melingkupi Ravidho Ramadhan dan keluarganya pada saat wisuda pascasarjana yang berlangsung pada Rabu, 24 Juli lalu di Grha Sabha Pramana UGM. Mahasiswa doktor program studi fisika ini berhasil meraih gelar doktor termuda dan tercepat pada usia 26 tahun. Laki-laki kelahiran Teluk Balengkong, Indragiri Hilir, Riau tahun 1998 ini akhirnya mampu menuntaskan studinya dengan penelitian berjudul Validasi dan Pemanfaatan Data Satelit Global Precipitation Measurement untuk Analisis Curah Hujan dan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia yang dibimbing oleh Dr. rer. nat. Wiwit Suryanto (Promotor), Prof. Sholihun (Co-Promotor), dan Prof. Marzuki (Co-Promotor).Tidak hanya doktor termuda di FMIPA UGM namun juga berhasil meraih IPK 4.00.

Ravidho memulai perjalanan pendidikannya di Desa Tunggal Rahayu Jaya, Riau, sebuah desa transmigrasi dengan keterbatasan akses listrik. Pada usia 5 tahun, ia memulai pendidikan di SD, mengikuti jejak teman-teman sebayanya. Pendidikan SMP dilanjutkan di kampung halaman dan SMA di kota kabupaten. “Saya menyelesaikan Pendidikan S1 dan S2 pada Jurusan Fisika Universitas Andalas melalui program Fast Track sehingga dapat menyelesaikan studi S1 dan S2 selama 5 tahun,” sebutnya.

Ia memilih fokus pada analisis variabilitas struktur vertikal curah hujan di Sumatera menggunakan data pengamatan permukaan dan satelit ketika S2.

Ketertarikan Ravidho pada program S3 Fisika di UGM didorong oleh penawaran program By Research yang fleksibel, memungkinkan ia tetap bekerja sebagai asisten riset di Universitas Andalas. Ia menemukan promotor yang mendukung penelitian di bidang fisika atmosfer. Ia berpendapat bahwa minat terhadap bidang fisika di Indonesia menurun akibat rendahnya daya serap dunia kerja. “Tantangan ini memicu para penggiat fisika untuk lebih kreatif dalam mengaplikasikan ilmu fisika agar bermanfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Salah satu tantangan terbesar selama studi adalah mengelola waktu antara studi doktoral dan pekerjaan sebagai asisten riset. Oleh karena itu, Ravidho menekankan pentingnya komunikasi dengan promotor dan pembagian skala prioritas untuk menyelesaikan tugas-tugas secara efektif.

Untuk menjaga motivasi, Ia gemar membaca buku self-improvement dan berdiskusi untuk bertukar ide. Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah artikel pertamanya yang berhasil diterbitkan di jurnal terindeks Q1 Scopus. “Penelitian tugas akhir saya mengambil topik validasi dan pemanfaatan data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) untuk analisis curah hujan dan bencana hidrometeorologi di Indonesia,” sebutnya.

Motivasi terbesar Dr. Ravidho datang dari keluarga, terutama ibu yang selalu menekankan pentingnya pendidikan. Secara akademis, dosen pembimbingnya Prof. Marzuki memberikan dampak besar dalam perkembangan akademisnya. Sebagai anak pertama dan suami, ia bertekad menjadi panutan bagi orang-orang tercintanya.

Setelah menyelesaikan studi S3, Ia akan menjalani program post-doctoral di Kyoto University melalui program Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) dengan Prof. Hiroyuki Hashiguchi sebagai host researcher.

Ravidho meyakini bahwa apa yang ia capai dapat dicapai oleh siapapun dengan kemauan yang kuat. “Satu hal yang saya Yakini, Pendidikan adalah salah satu jalan paling masuk akal untuk meningkatkan taraf hidup kita dan keluarga di masa depan,” tutupnya.

Penulis : Dita

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Ravidho Ramadhan, Lulus Doktor Usia 26 Tahun dengan IPK 4.00 di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/ravidho-ramadhan-lulus-doktor-usia-26-tahun-dengan-ipk-4-00-di-ugm/feed/ 0
Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/#respond Thu, 08 Aug 2024 22:12:21 +0000 https://ugm.ac.id/?p=69151 Di usianya yang menginjak 36 tahun 7 bulan 12 hari, Agnes Puspita Sari akhirnya dapat mewujudkan impiannya yang sempat tertunda untuk melanjutkan kuliah. Bagi sebagian anak muda saat ini, melanjutkan studi S2 merupakan hal yang sudah cukup umum. Namun, bagi Agnes bisa berkuliah di program magister merupakan sebuah pembuktian dan komitmen pada dirinya sendiri. Ia […]

Artikel Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Di usianya yang menginjak 36 tahun 7 bulan 12 hari, Agnes Puspita Sari akhirnya dapat mewujudkan impiannya yang sempat tertunda untuk melanjutkan kuliah. Bagi sebagian anak muda saat ini, melanjutkan studi S2 merupakan hal yang sudah cukup umum. Namun, bagi Agnes bisa berkuliah di program magister merupakan sebuah pembuktian dan komitmen pada dirinya sendiri. Ia harus menunggu lebih dari 10 tahun untuk bisa kuliah ke jenjang selanjutnya.

Beruntung, Agnes berhasil  menjadi wisudawan terbaik Program Magister Manajemen Kampus Yogyakarta pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) pada wisuda pascasarjana, Rabu (24/7) lalu. Ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 yang diraih selama studi 1 tahun 7 bulan 3 hari.

Lantas motif apa yang sebenarnya mendorong Agnes untuk melanjutkan studi? Menurutnya, jawabannya cukup sederhana. “Bisa belajar sebanyak-banyaknya adalah tentang meningkatkan peluang. Apapun itu saya yakin sebuah perubahan ke arah positif akan terjadi,” ucapnya, Jumat (8/8) di kampus UGM.

Agnes bercerita di tahun 2022, Agnes membuat sebuah keputusan besar yang merubah jalan hidupnya. Di masa pandemi Covid-19, ia mendapatkan banyak hikmah kala itu. Mimpi-mimpi yang dulunya sempat meredup, kala itu kembali berkobar terlebih dengan adanya dukungan dari sang suami untuk mewujudkan salah satu mimpinya untuk melanjutkan kuliah. Tak tanggung-tanggung, di waktu yang bersamaan Agnes membuat sebuah momen perubahan karir yang signifikan dalam hidupnya yakni resign dari pekerjaanya yang terbilang cukup mapan dan menjadi impian banyak orang. Ia sudah bekerja di Group Danone Specialized Nutrition, tepatnya di PT. Sarihusada Generasi Mahardika sebagai Production Supervisor. “Resign dari pekerjaan rutin, belajar berbisnis, dan kuliah lagi di jurusan bisnis untuk mendukung kebutuhan utama saat itu yaitu membangun bisnis sendiri,” ujarnya.

Di tahun 2022 akhirnya Agnes melanjutkan studi di Prodi Master of Business Administration (MBA) di Kampus Yogyakarta dengan mengambil Program Senior Executive MBA (SEMBA). “Ternyata mimpi 10 tahun lalu tidak berubah. Apa yang diimpikan dahulu terhambat karena keterbatasan, kini bisa dilakukan. Mimpi tidak berubah, hanya jalan untuk merealisasikan saja yang berbeda,” urainya.

Sembari merajut mimpi untuk mendapatkan gelar MBA, ia merintis bisnis di bidang Food and Beverage (FnB). Agnes menjalankan perusahaan rintisan bernama Kitchensync melalui kolaborasi dengan tiga rekannya. Kitchensync didirikan untuk menyediakan solusi bagi para pelaku bisnis FnB, terutama restoran kecil hingga menengah (UMKM), yang membutuhkan layanan dukungan operasional. Kitchensync memiliki bisnis inti yaitu menyediakan bahan baku dan produk setengah jadi, serta layanan riset dan pengembangan produk. Perusahaan ini berafiliasi dengan beberapa merek restoran seperti Nolda Pocha (restoran bertema makanan jalanan Korea), Nasi Iskandar (restoran bertema Melayu/Nasi Kandar), dan Oetak-oetak (Pempek dari Palembang), yang total cabangnya kini berjumlah lebih dari 15 cabang, tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatra. “Selain itu kita juga memiliki merek restoran sendiri bernama Udon Mura yaitu restoran bertema Jepang yang berlokasi di Tangerang Selatan,” ucap Agnes yang menjadi Co-Founder dan COO Kitchensync.

Menjalankan bisnis bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi dirinya yang tergolong pemain baru. Bisnis yang masih seumur jagung ini sempat mengalami kondisi maju dan mundur. Sebut saja saat awal memulai bisnis, salah satu founder tiba-tiba mundur begitu saja. Selain itu turn over karyawan cukup tinggi. “Namun, show must go on dengan berbekal visi dan misi dan jelas kami terus melanjutkan apa yang sudah dirancang dan syukurlah pada akhirnya bisa terus berlanjut hingga sekarang,” jelasnya sembari menambahkan saat ini mereka sedang mengembangkan bisnis berkelanjutan dengan merancang bisnis berbasis Cloud Kitchen.

Agnes mengaku tidak memiliki pengalaman apapun saat memulai bisnis. Namun, ia memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk berbisnis. Karenanya ia mendorong siapa pun yang ingin berbisnis untuk tidak takut bermimpi besar. “Mulai saja, sebesar apapun bisnis selalu dimulai dari hal kecil. Asalkan memiliki mimpi yang besar dan bentuk lingkaran pertemanan yang mendukung. Sebab, orang-orang terdekatmu adalah cerminan dirimu di masa kini dan mendatang,” tuturnya.

Menjalani kuliah sekaligus berbisnis tentu tidaklah mudah untuk dijalani. Namun Agnes mengakui dengan manajemen waktu yang baik, keduanya bisa berjalan beriringan. Untuk membantu proses pembelajaran di sela-sela merajut mimpi untuk menjadi pebisnis, ia menerapkan beberapa trik. Salah satunya dengan membuat rangkuman dari berbagai buku literatur dan slide dari dosen per chapter dengan tulisan tangan.

Upaya lain yang Agnes lakukan adalah rutin mengakses informasi melalui berbagai media pembelajaran terkait bisnis. Biasanya rutinitas itu ia lakukan 30 menit hingga 1 jam menjelang tidur. Lalu, disela-sela perjalanan dari Jakarta, kota tempat bermukim Agnes saat ini, ke Yogyakarta untuk berkuliah, ia sempatkan membaca materi yang akan dibahas saat perkuliahan. “Saya memanfaatkan waktu perjalanan kereta Jakarta-Jogja setiap minggu untuk membaca materi yang akan dibahas di perkuliahan esok harinya di kelas weekend atau fullday di hari Sabtu. Selain itu juga melakukan diskusi dengan teman-teman kuliah untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda dari berbagai profesi dan industri,” paparnya.

Agnes menyampaikan menjadi bagian dari keluarga besar MM UGM Yogyakarta adalah sebuah kebanggaan dan kesempatan emas yang tidak semua orang bisa rasakan. Di sini, dia tidak hanya belajar tentang teori dan konsep-konsep manajemen, tetapi juga menyerap berbagai nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter dan kesiapan kita dalam menghadapi dunia profesional. “Beberapa nilai berharga yang saya ambil selama menjalani kuliah adalah soal integritas dan etika, kemandirian dan inovasi untuk menjadi pemimpin yang visioner, serta kolaborasi dan kerja sama. Nilai-nilai itu sangat membantu saya, terlebih dalam mengembangkan bisnis,” pungkasnya.

Reportage: Kurnia Ekaptiningrum

Editor : Gusti Grehensob 

Artikel Cerita Agnes, Kuliah Sambil Bisnis Bisa Lulus S2 Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/cerita-agnes-kuliah-sambil-bisnis-bisa-lulus-s2-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/#respond Thu, 25 Jul 2024 04:43:32 +0000 https://ugm.ac.id/?p=67712 Likha Sari Anggreni (38) dari prodi doktor Ilmu Komunikasi Fisipol merupakan salah satu dari 991 lulusan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang diwisuda, di Graha Sabha Pramana, Rabu (24/7). Likha demikian ia akrab disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan pertama untuk jenjang doktor. Selain itu, Likha juga […]

Artikel Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Likha Sari Anggreni (38) dari prodi doktor Ilmu Komunikasi Fisipol merupakan salah satu dari 991 lulusan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang diwisuda, di Graha Sabha Pramana, Rabu (24/7). Likha demikian ia akrab disapa, merupakan salah satu penerima beasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan pertama untuk jenjang doktor. Selain itu, Likha juga merupakan salah satu dari 27 wisudawan dari program doktor yang lulus dengan predikat cumlaude.

Saat dihubungi oleh wartawan, Likha mengaku bersyukur menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM. “Saya bersyukur, saya menjadi angkatan pertama awardee dari prodi S3 Ilmu Komunikasi yang diwisuda,” katanya.

Pendidikan doktor yang ditempuh oleh Likha menurutnya sebagai salah satu tuntutan dari pekerjaannya sebagai pengajar di dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Ia berharap ilmu yang ia dapat bisa mendukung pendidikan dan pengajaran di kampusnya kelak. “Studi S3 ini saya tempuh karena tuntutan sebagai dosen yang ke depan akan diwajibkan seluruh dosen minimal strata pendidikan doktor,” jelasnya.

Likha berhasil meraih cumlaude dengan IPK 3,8, dan menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 4 bulan dengan topik disertasi yang dipilihnya, yaitu Communication Identity of Womenpreneur.

Untuk menyelesaikan pendidikan doktor, menurut Likha, tidaklah mudah sebab saat awal pertama kali masuk kuliah di saat masa pandemi melanda sehingga pembelajaran selama satu tahun pertama dilaksanakan secara daring. “Baru bisa ketemu dengan teman-teman dan dosen secara offline di tahun kedua,” katanya.

Selama menjalani masa perkuliahan, Likha mengaku dosen-dosen dan juga para staff administrasi di program studi Ilmu Komunikasi sangatlah membantu dan mendukung proses perkuliahannya dari awal hingga saat ini.

Usai menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM, Likha mengatakan dirinya akan aktif kembali mengajar di kampus UNS. Saat ini, tidak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaannya selain mengucap rasa syukur atas kelulusannya. “Selesai sudah hutangku kepada bangsa, mama, papa, dan suami. Selesai sudah pendidikan formal jenjang tertinggi,” ucapnya.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Likha Sari Anggreni, Penerima Beasiswa Doktoral dari Fisipol UGM Lulus Cumlaude   pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/likha-sari-anggreni-penerima-beasiswa-doktoral-dari-fisipol-ugm-lulus-cumlaude/feed/ 0
Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/#respond Mon, 03 Jun 2024 02:44:45 +0000 https://ugm.ac.id/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/ Memiliki pasangan saudara kembar yang memiliki minat dan hobi yang sama mungkin menjadi hal yang biasa. Namun memilih kuliah di program studi yang sama bahkan lulus pun dalam waktu bersamaan tentu sangat jarang ditemui. Namun itu lah yang terjadi pada wisuda UGM pada 22 Mei lalu, dua orang saudara kembar yakni Sherlina Oktavian Putri dan […]

Artikel Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Memiliki pasangan saudara kembar yang memiliki minat dan hobi yang sama mungkin menjadi hal yang biasa. Namun memilih kuliah di program studi yang sama bahkan lulus pun dalam waktu bersamaan tentu sangat jarang ditemui. Namun itu lah yang terjadi pada wisuda UGM pada 22 Mei lalu, dua orang saudara kembar yakni Sherlina Oktavian Putri dan Sherlita Oktavian Putri, diwisuda bersama sebagai sarjana Biologi yang lulus dengan predikat cumlaude atau pujian. Sherlina lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.79 dan Sherlita lulus dengan IPK 3.80.

Sherlina (21), mengaku ia bersama dengan saudara kembarnya sebenarnya tidak pernah merencanakan akan wisuda secara bersamaan. Ia mengaku beruntung karena mereka berdua memiliki para dosen pembimbing skripsi yang memungkinkan mereka bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. “Kami tidak merencanakan untuk lulus bersamaan, hal tersebut kami dapatkan karena Dosen Pembimbing Skripsi kami yang sangat membantu dan membimbing dalam penulisan naskah skripsi,” kata Sherlina, Senin (3/6).

Pada wisuda kali ini, keduanya menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 7 bulan 9 hari, lulus dengan predikat pujian. Keduanya sama-sama masuk sebagai mahasiswa Program Studi Biologi tahun 2020 lalu. Saat ditanya, alasan keduanya memilih prodi yang sama saat kuliah di UGM, Sherlina mengaku ia dan Sherlita kebetulan memiliki minat yang sama di pelajaran Biologi sejak di bangku SMA di kota Magetan,  Jawa Timur. “Kebetulan kami dulu SMA masuk pada jurusan IPA dan cukup menyukai pelajaran Biologi. Kami ingin masuk Biologi UGM karena merupakan salah satu Prodi terbaik di Indonesia, dan dukungan orangtua kami mendorong kami untuk memilih prodi tersebut,” tuturnya.

Dikarenakan lahir kembar, kata Sherlina, sejak di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah, mereka berdua selalu berada di sekolah yang sama hanya saja ditempatkan di kelas yang berbeda. “Kami selalu satu sekolah namun beda kelas,” kenangnya.

Memiliki paras yang hampir mirip,  Sherlina mengaku ia dan saudara kembarnya Sherlita, sering salah disapa baik oleh guru dan teman sekelasnya. Begitu pun saat di bangku kuliah, beberapa kali dosen  keliru memanggil atau menyapa salah satu dari mereka. “Sering kali dosen maupun teman kesulitan membedakan kami ketika kami datang bersama. Sebenarnya kami kembar biasa, tidak begitu identik, masih mudah untuk membedakan kami,” terang gadis asal Magetan ini.

Selama kuliah di Fakultas Biologi UGM,  keduanya memilih indekos di tempat yang sama. Selain bisa saling menjaga dan saling memotivasi satu sama lain dalam menuntut ilmu. Bahkan keduanya saling berbagi informasi  soal materi mata kuliah. “Kami tinggal 1 kos. Kami biasanya saling berbagi informasi terkait mata kuliah dikarenakan ada beberapa mata kuliah yang kami beda kelas,” katanya.

Meski selama kuliah tidak banyak mengalami kendala, hanya saja saat ujian skripsi, ia dan Sherlita hampir tidak berbarengan karena salah satu di antara mereka harus menunggu hasil penelitian laboratorium yang belum keluar datanya. “Hanya menunggu hasil lab yang cukup lama yaitu 40 hari baru keluar hasilnya. Untuk ujian skripsi kami hanya beda 1 bulan,” terangnya.

Sherlina dan Sherlita juga menunjukkan minat yang sama dalam bidang keilmuan. Sherlina mengangkat topik penelitian “Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Agen Fitoremediasi Logam Berat Kromium (Cr) pada Air Limbah IPAL Sewon, Bantul” di bawah bimbingan Prof. Dr. Suwarno Hadisusanto, S.U. Sedangkan Sherlita mengambil judul “Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) Sebagai Agen Fitoremediasi Timbal (Pb) pada Air Limbah IPAL Sewon, Bantul, Yogyakarta” di bawah bimbingan Dr.rer.nat. Andhika Puspito Nugroho, M.Si.

Soal pengalaman selama menempuh kuliah, Sherlita menuturkan bahwa para dosen di Fakultas Biolog sangat membantu dan mendukung mereka dalam menempuh Pendidikan. Para mahasiswa diajak untuk dapat berfikir kritis, mengembangkan pengetahuan, serta mempraktikan ilmu yang didapat secara langsung kepada masyarakat. “Kita diajak mengikuti program MBKM membangun desa dan adanya Kerja Praktek yang wajib mahasiswa Fakultas Biologi tempuh sebelum melaksanakan Seminar Proposal,” papar Sherlita.

Selain itu, dukungan fasilitas yang ada di Fakultas Biologi sangat mendukung aktivitas kuliah dan praktikum bagi mahasiswa. Bahkan para staf akademik serta laboran sangat  sangat cekatan membantu mahasiswa yang kebingungan terkait berkas maupun ketika bekerja di laboratorium. “Kami sangat merasa senang bisa menamatkan pendidikan S1 di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Pendidikan S1 Biologi menjadikan kami memiliki beberapa peluang besar bagi karier kami kedepannya,” katanya.

Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., menyampaikan ucapan selamat kepada Sherlina dan Sherlita atas kelulusannya. Ia berharap bisa meniti karir profesional sebab prospek kerja lulusan Biologi sangat terbuka lebar. “Pencapaian mereka tidak hanya membanggakan keluarga dan teman-teman, tetapi juga memberikan kontribusi pada Pendidikan Berkualitas dan Kesetaraan Gender di Indonesia,” ujarnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Artikel Sherlina dan Sherlita, Si Kembar Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sherlina-dan-sherlita-si-kembar-lulus-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Vu Minh Anh, Mahasiswa asal Vietnam Lulus Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/vu-minh-anh-mahasiswa-asal-vietnam-lulus-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/vu-minh-anh-mahasiswa-asal-vietnam-lulus-cumlaude-di-ugm/#respond Tue, 28 May 2024 09:02:38 +0000 https://ugm.ac.id/vu-minh-anh-mahasiswa-asal-vietnam-lulus-cumlaude-di-ugm/ Vu Minh Anh merupakan salah satu dari 1.423 lulusan UGM yang diwisuda pada Rabu (22/5) di Grha Sabha Pramana. Gadis asal Vietnam ini menyelesaikan pendidikan S1 jalur International Undergraduate Programs (IUP) International Relations, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, lulus dengan predikat cumlaude. Ditemui di sela waktunya menyelesaikan administrasi kepengurusan ijazahnya di Fisipol UGM, […]

Artikel Vu Minh Anh, Mahasiswa asal Vietnam Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Vu Minh Anh merupakan salah satu dari 1.423 lulusan UGM yang diwisuda pada Rabu (22/5) di Grha Sabha Pramana. Gadis asal Vietnam ini menyelesaikan pendidikan S1 jalur International Undergraduate Programs (IUP) International Relations, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, lulus dengan predikat cumlaude.

Ditemui di sela waktunya menyelesaikan administrasi kepengurusan ijazahnya di Fisipol UGM, Selasa (28/5), Vu Minh mengaku senang dan bangga bisa menyelesaikan pendidikan sarjananya di kampus UGM. Ia masih ingat, ketika datang ke Indonesia untuk pertama kalinya sebagai pelajar Vietnam, memilih kuliah di Indonesia merupakan sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya. Apalagi ia sempat mengalami kesulitan bahasa dan perbedaan budaya yang membuatnya sulit untuk komunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang. Ia mengaku senang selama masa kuliah, ia mendapat teman baru lintas negara yang selalu mendukungnya.  “Saya merasa senang ini menjadi salah satu pencapaian di hidup saya,” ujar Vu Minh.

Soal pilihannya untuk memilih kuliah di UGM,  Vu Minh mengaku ia awalnya mendapat informasi tentang UGM dari kerabat keluarganya. Sebab mereka pernah tinggal dan bekerja di Indonesia selama beberapa tahun. “UGM menjadi universitas yang direkomendasikan karena dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik indonesia yang sering membuka program beasiswa,” kata Vu Minh menirukan salah satu anggota keluarganya.

Selanjutnya,  Vu Minh mencari informasi tentang beasiswa UGM. Ia pun ikut mendaftar dan akhirnya diterima di jalur IUP prodi Hubungan Internasional melalui beasiswa Fisipol UGM ASEAN+1 Scholarship Programs (FIAS). “Waktu itu saya melihat tawaran meliputi pembiayaan penuh pendidikan, uang saku bulanan, dan studi kultural. Jadi saya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu,” ucapnya.

Seperti diketahui, Vu Minh merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa Fisipol UGM ASEAN+1 Scholarship Programs (FIAS). Program ini memberikan pembiayaan penuh kepada mahasiswa selama delapan semester pendidikan. Selain Vietnam, program FIAS Scholarship terbuka untuk seluruh negara-negara ASEAN dan Timor Leste. Terdapat tiga departemen yang membuka program FIAS, yakni Department of International Relations, Department of Public Policy and Management, dan Department of Communication Sciences. Vu Minh merupakan salah satu dari mahasiswa angkatan pertama penerima FIAS Scholarship sejak dibuka pada tahun 2021.

Bagi Vu Minh, belajar di luar negeri adalah kesempatan berharga yang tidak semua orang dapatkan. Bahkan tidak semua universitas internasional memiliki standar untuk menerima mahasiswa asing. Karenanya ia merasa bangga bisa lulus sebagai alumnus Fisipol UGM. “Fisipol UGM paling banyak menerapkan pembelajaran liberal. Semua dosen di sini selalu siap mendampingi saya, staf-staf juga melayani dengan baik, dan fasilitas yang ditawarkan juga tersedia kapanpun saya butuh,” jelas Vu Minh.

Semua program orientasi disusun di Fisipol UGM juga membantu Vu Minh untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran baru, tempat tinggal baru, dan teman baru. Ia juga senang bisa melakukan kegiatan lain, seperti pengabdian masyarakat dan program kebudayaan. “Sangat bersyukur dan senang bisa belajar di sini, dan saya merekomendasikan Fisipol UGM kepada teman-teman jika ingin belajar di Indonesia,” tutupnya.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Vu Minh Anh, Mahasiswa asal Vietnam Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/vu-minh-anh-mahasiswa-asal-vietnam-lulus-cumlaude-di-ugm/feed/ 0
Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/ https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/#respond Fri, 03 May 2024 15:07:18 +0000 https://ugm.ac.id/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/ Heni Ardianto (25), merupakan salah satu wisudawan yang berhasil lulus dari Prodi Magister Sains Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, pada Rabu (24/4) lalu di Kampus UGM. Ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dengan IPK 3,72 dan menyandang predikat cumlaude. Tak kalah membanggakan, Ardi selama menjalani perkuliahan tanpa dipungut biaya pendidikan dengan memanfaatkan beasiswa LPDP RI. […]

Artikel Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Heni Ardianto (25), merupakan salah satu wisudawan yang berhasil lulus dari Prodi Magister Sains Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, pada Rabu (24/4) lalu di Kampus UGM. Ia berhasil menyelesaikan studi S2-nya dengan IPK 3,72 dan menyandang predikat cumlaude. Tak kalah membanggakan, Ardi selama menjalani perkuliahan tanpa dipungut biaya pendidikan dengan memanfaatkan beasiswa LPDP RI.

Bukan perkara keberhasilannya menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude atau kuliah gratis dibiayai oleh beasiswa LPDP, namun yang menarik adalah kisah Ardi dalam usahanya menempuh pendidikan dari jenjang bangku sekolah dasar, menengah hingga ke perguruan tinggi. Bahkan Ardi juga berasal dari keluarga korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu pada tahun 2018 silam.

Ardi bercerita ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Didik Iswanto (49) dan Tiyarmi (45). Kedua orang tuanya berasal dari Prambanan, Jawa Tengah yang mengadu nasib ke Morowali, Sulawesi Tengah sejak tahun 1983 silam. Keduanya sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Meski lahir dari keluarga sederhana, tak mematahkan semangat Ardi untuk mengejar asa meraih pendidikan setinggi-tingginya. Dengan ketekunan, kerja keras, serta doa orang tua ia berhasil mematahkan stigma jika anak kampung dari daerah pelosok di luar Pulau Jawa dengan kondisi perekonomian pas-pasan bisa kuliah bahkan sampai jenjang S2. “Sejak kecil pengin banget kuliah. Kalau melihat kondisi perekonomian orang tua yang pas-pasan sepertinya sulit, tetapi saya modal nekat dan tekad kuat gimana caranya bisa kuliah,” jelasnya.

Ia mafhum dengan keadaan orang tuanya. Namun pria kelahiran Limbo Makmur, 2 Agustus 1998 ini memiliki semangat kuat untuk bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi jauh melampaui kedua orang tuanya yang lulusan Sekolah Dasar. Melalui pendidikan ia yakin bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik.

“Bapak dan Ibu baru bisa mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar saja. Saya pengin bisa sekolah tinggi supaya bisa mengubah kondisi keluarga ke arah yang lebih baik,” ucapnya.

Sadar dengan kondisi keluarga yang terbatas, Ardi saat menjalani kuliah juga aktif melakukan kerja paruh waktu. Mulai dengan menjadi asisten dosen baik saat S1 maupun S2, tim penyusun kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) di sejumlah kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah hingga tim penyusun dokumen analisis kelayakan bisnis di beberapa perusahaan. “Selain untuk menambah ilmu dan pengalaman tentunya juga untuk menambah uang saku kuliah,” ungkapnya.

Kondisi keluarga dengan keterbatasan perekonomian tidak pernah membuatnya menjadi berkecil hati. Keadaan tersebut justru menjadi pelecut baginya untuk semangat dalam menggapai pendidikan. Ia berhasil masuk dalam jajaran siswa berprestasi di sekolah dan mengantarkannya meraih beasiswa pendidikan sejak bangku SMK hingga S2.

Ketika kuliah S2 Ardi juga aktif mengikuti sejumlah konferensi internasional. Beberapa diantaranya adalah 15th Global Conference on Business and Social Sciences 2023 di Thailand, International Conference on Business and Finance 2023 di Internasional UEH University, Vietnam, serta 42nd EBES Conference 2023 di Lisbon yang digelar secara daring.

Meski terlahir dari keluarga dengan perekonomian terbatas, Ardi membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen kuat mewujudkan pendidikan tinggi berkualitas, berkeadilan, dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk bagi keluarga kurang mampu, penyandang disabilitas, serta daerah 3T.

Penulis: Humas FEB UGM/Kurnia Ekaptiningrum

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Kisah Anak Keluarga Korban Gempa dan Tsunami Palu Lulus S2 Cumlaude pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/kisah-anak-keluarga-korban-dan-tsunami-palu-lulus-s2-cumlaude/feed/ 0
Anak Buruh Ukir dari Jepara Lulus Cumlaude di UGM https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-ukir-dari-jepara-lulus-cumlaude-di-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-ukir-dari-jepara-lulus-cumlaude-di-ugm/#respond Mon, 29 Apr 2024 10:29:32 +0000 https://ugm.ac.id/anak-buruh-ukir-dari-jepara-lulus-cumlaude-di-ugm/ Ulfatun Nikmah (26), Ilmu Akuntansi 2021, merupakan salah satu dari 1.187 lulusan Program Magister yang diwisuda pada Rabu (24/4) lalu. Gadis kelahiran Jepara ini berhasil lulus cumlaude dengan menyelesaikan studi dari Prodi Magister Sains Akuntansi dalam waktu 1 tahun 10 bulan 24 hari dengan capaian IPK 3.89. Kesuksesan ini menjadi salah satu pencapaian besar dalam hidup […]

Artikel Anak Buruh Ukir dari Jepara Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ulfatun Nikmah (26), Ilmu Akuntansi 2021, merupakan salah satu dari 1.187 lulusan Program Magister yang diwisuda pada Rabu (24/4) lalu. Gadis kelahiran Jepara ini berhasil lulus cumlaude dengan menyelesaikan studi dari Prodi Magister Sains Akuntansi dalam waktu 1 tahun 10 bulan 24 hari dengan capaian IPK 3.89. Kesuksesan ini menjadi salah satu pencapaian besar dalam hidup Ulfatun. Sebab ia tidak menyangka, pekerjaan ayahnya sebagai tukang buruh ukir panggilan di desa Wedelan, Kabupaten Jepara, Jawa tengah, bisa menghantarkan dirinya meraih gelar master.

Sebagai anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana, bisa mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi adalah sebuah kemewahan. Terlebih ayahnya, Muhlasin (54) menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh ukir panggilan dengan penghasilan yang tidak menentu setiap bulannya. Sementara sang ibu, Masruroh (48) merupakan ibu rumah tangga.

Perjalanan Ulfatun meraih mimpi tidaklah mudah. Saat akan melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana ia mendapatkan pertentangan keras dari kedua orang tuanya. Bukannya tidak mendukung Ulfatun untuk kuliah, namun orang tuanya berkali-kali mengingatkan soal kondisi keluarga yang serba pas-pasan sehingga sangat sulit jika harus membiayai kuliah. Belum lagi orang tuanya masih harus membiayai sekolah sang adik.

“Bapak waktu itu tidak memperbolehkan saya lanjut kuliah S1 begitupun ketika mau S2 karena tidak mampu, tidak ada biaya. Namun saya ini tipe anak yang ngeyel jadi terus memberikan pengertian ke orang tua kalau saya kuliah nanti bisa mendapat pekerjaan layak dan membantu menyekolahkan adik,” paparnya lulusan SMK N 3 Jepara ini.

Dengan tekad dan semangat membara ia berusaha berprestasi di sekolah. Nyatanya, ketekunan dan kerja keras dalam belajar membuahkan hasil manis. Sejak di bangku SD hingga SMK ia selalu masuk jajaran juara di kelasnya. Bahkan tak jarang ia mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi. Berkat prestasinya itu Ulfatun berhasil masuk program S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang melalui jalur prestasi. Ia pun mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang diperuntukan bagi mahasiswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ulfatun kembali berkesempatan melanjutkan studi S2 di UGM secara gratis dengan beasiswa dari LPDP RI.

Di tengah-tengah menjalani perkuliahan baik di program S1 maupun S2, Ulfatun menjalankan pekerjaan paruh waktu seperti memberikan les untuk anak-anak sekolah hingga mengikuti berbagai proyek bersama teman-teman kampusnya.

Muhlasin sangat bersyukur dan bangga sang puteri akhirnya bisa meraih impiannya menggapai pendidikan di perguruan tinggi bahkan hingga jenjang S2. Awalnya ia mengaku berat untuk melepas Ulfatun kuliah di perguruan tinggi karena tidak mampu secara ekonomi.

Tidak pernah terbesit dalam bayangan Muhlisin jika putri sulungnya bisa merasakan bangku perkuliahan. Pencapaian itu seperti membasuh dahaga Muhlisin yang sebenarnya juga haus akan pendidikan. Hanya saja persoalan ekonomi keluarga saat ini menghentikan mimpinya untuk bisa melanjutkan sekolah di bangku SMA. Ia harus berpuas diri menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMP saja.“Harapannya nanti Ulfatun bisa menjadi orang yang sukses dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, serta negara,” tuturnya.

Meski terlahir dari keluarga dengan perekonomian terbatas, Ulfatun membuktikan jika keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Penulis: Humas FEB UGM/Kurnia Ekaptiningrum

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Anak Buruh Ukir dari Jepara Lulus Cumlaude di UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/anak-buruh-ukir-dari-jepara-lulus-cumlaude-di-ugm/feed/ 0