Anugerah HB IX Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/anugerah-hb-ix/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 24 Dec 2024 08:34:27 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Haedar Nashir: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Moral dan Etika https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nashir-indonesia-tengah-hadapi-krisis-moral-dan-etika/ https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nashir-indonesia-tengah-hadapi-krisis-moral-dan-etika/#respond Fri, 20 Dec 2024 08:55:05 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74136 Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir mengatakan masalah etika dan moral masih melekat dengan kelemahan karakter masyarakat Indonesia. Sejumlah kejadian atau kasus sebagai fakta sosial yang menunjukkan adanya krisis atau peluruhan moral dan etika luhur bangsa akhir-akhir ini. Kasus paling menonjol diantaranya diberhentikannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), […]

Artikel Haedar Nashir: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Moral dan Etika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir mengatakan masalah etika dan moral masih melekat dengan kelemahan karakter masyarakat Indonesia. Sejumlah kejadian atau kasus sebagai fakta sosial yang menunjukkan adanya krisis atau peluruhan moral dan etika luhur bangsa akhir-akhir ini. Kasus paling menonjol diantaranya diberhentikannya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mewakili erosi moral dan etika para pejabat negara atau pejabat publik. Kasus paling baru mundurnya unsur pejabat pemerintahan sekaligus tokoh agama karena menyentuh persoalan kepatutan etika dalam berinteraksi sosial dengan sesama. “Pelanggaran moral dan etika oleh pejabat publik jangan dianggap ringan dan biasa karena menyangkut elite negeri yang semestinya menjadi teladan rakyat,” kata Haedar Nashir dalam Orasi Penerimaan Anugerah Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada tahun 20024 yang berlangsung Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kamis (19/12) malam.

Dalam orasinya yang berjudul Transformasi ‘Mentalitas dan Kebudayaan Indonesia’, Haedar menuturkan masalah moral dan etika dalam mentalitas bangsa sebenarnya masalah kebudayaan, yakni menyangkut sistem pengetahuan kolektif manusia dalam kehidupan bersama. Masyarakat Indonesia menampilkan gaya hidup baru yang menunjukkan anomie atau anomali, yakni penyimpangan perilaku dalam masyarakat. Ketika korupsi, orientasi materi (materialisme), transaksi politik uang, memuja kesenangan duniawi (hedonisme), dan cara hidup menghalalkan apa saja (oportunisme) mulai meluas dalam kehidupan masyarakat maka yang terjadi ialah ketercerabutan.“Kita masih dapat mendaftar persoalan bangsa yang bersifat struktural  seperti  korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, politik uang, politik transaksional, dan persoalan-persoalan politik yang juga menyentuh ranah moral dan etika. Di ranah kehidupan sehari-hari sama gawatnya seperti judi online, kejahatan ITE, narkoba, kekerasan seksual, pembunuhan di internal keluarga dan lingkaran orang-orang terdekat, rendahnya “digility” (tingkat kesopanan) netizen Indonesia di dunia media sosial, serta persoalan-persoalan sosiopatik lainnya,” ujarnya.

Bagi Haedar, dimensi moral dan etika dalam kehidupan suatu masyarakat atau bangsa tidak dapat  dipandang enteng karena keduanya menyangkut urusan nilai baik dan buruk yang sejatinya merupakan representasi dari martabat ruhani dan akal-budi manusia. Persoalan moral dan etika tersebut tidak dapat dimarjinalisasikan sebagai urusan domestik dan privat, sebab dalam kehidupan bangsa yang dikenal maju dan sekuler-modern pun keduanya masih dijunjung tinggi. “Betapa sejumlah kasus menunjukkan, seorang pejabat tinggi hingga Perdana Menteri mundur karena tersangkut persoalan etika jabatan dan etika publik. Apalagi dalam kehidupan bangsa Indonesia yang memiliki pijakan utama nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa,” imbuhnya.

Dalam menghadapi kelemahan mentalitas bangsa penting dilakukan pendekatan transformasi kebudayaan. Transformasi merupakan strategi perubahan jalan tengah menuju Indonesia yang lebih maju dan berkarakter keindonesiaan yang kuat secara individual maupun kolektif dalam sistem kebudayaan baru. Dalam konteks ini sejatinya bangsa Indonesia secara relatif memiliki nilai-nilai keutamaan yang mengkristal menjadi modal sosial dan budaya penting. Di antara nilai-nilai itu adalah daya juang, tahan menderita, mengutamakan harmoni, dan gotong royong. Nilai-nilai keutamaan tersebut masih relevan, namun memerlukan penyesuaian dan pengembangan sejalan dengan dinamika dan tantangan zaman. “Cukup mendesak untuk dilakukan transformasi karakter bangsa, yaitu dengan memelihara dan meningkatkan nilai-nilai keutamaan yang sudah terbangun sejak dahulu dan mengembangkan nilai-nilai keutamaan baru, termasuk membuka diri terhadap nilai-nilai keutamaan bangsa-bangsa lain yang lebih maju,” paparnya

Menurut Haedar, transformasi manusia Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat dalam konteks kekinian dicirikan oleh religiusitas yang kokoh, kapasitas intelektual dan penguasaan iptek yang lengkap disertai mentalitas unggul seperti keterpercayaan, ketulusan, kejujuran, keberanian, ketegasan, ketegaran, kemandirian, serta kuat dalam memegang prinsip dan sifat-sifat khusus lainnya. Indonesia emas tahun 2045 akan terwujud jika generasi mudanya saat ini religius,  cerdas,  berkepribadian Indonesia yang unggul seperti itu. “Bukan generasi lemah, pembebek, serba instans, menjadi benalu, penjual populisme murah, serta tidak memiliki khazanah keilmuan,  kepribadian, dan perilaku serba utama,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Haedar Nashir adalah sosok yang telah mengarungi perjalanan panjang bersama Muhammadiyah sejak tahun 1983. Bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X, Haedar telah menjelma sebagai sosok pemimpin yang tak sekadar hadir di panggung sejarah, tetapi memahat selaksa makna di dalamnya. Menurut Sultan, kepemimpinan Haedar di Muhammadiyah berhasil mengemban kepemimpinan yang berpijak pada kesederhanaan, keluasan ilmu, dan visi kemajuan umat bahkan membawa cita-cita Muhammadiyah Unggul-Berkemajuan atau Centre of Excellence. “Role model “Centre of Excellence” bukanlah sebatas gagasan kosong, melainkan sebuah laku hidup Muhammadiyah di pentas nasional dan global,” katanya.

Berbagai gagasan Haedar Nashir dinilai Sri Sultan sebagai visi yang melampaui sekadar pembangunan institusi. Bahkan telah melahirkan tonggak-tonggak peradaban. Sekelumit contoh seperti Markaz Dakwah Muhammadiyah di Kairo, Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), dan Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melbourne. “Pada hakikatnya, karya ini bukan semata soal pembangunan fisik atau perluasan jaringan, melainkan usaha mulia, untuk membangun peradaban yang kokoh berlandaskan, nilai-nilai Islam yang “wasathiyah” – moderat, inklusif, dan berkemajuan”, ungkapnya.

Diakui Sri Sultan, Haedar Nashir dalam kepemimpinannya, mencerminkan sejatinya filosofi Muhammadiyah yaitu berkemajuan, membangun umat, dan menebar manfaat bagi semesta. “Dalam pemikirannya, ilmu bukan sekadar simbol pengetahuan, melainkan menjadi setitik cahaya pelita, yang sudah seharusnya menuntun umat di tengah tantangan zaman dengan berbagai dinamika dan fluktuasinya,” terangnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., mengatakan Prof Haedar Nashir merupakan tokoh yang konsisten dan berkomitmen menjalankan setiap tugas pengabdiannya dalam bidang pendidikan, sosial, politik dan kemanusiaan. “Selamat kepada Prof Haedar Nashir semoga terus berkarya dalam tugas pengabdian di masa depan, terus bertumbuh dan bermanfaat bagi kehidupan sosial masyarakat,” terangnya.

Haedar Nashir mengaku bersyukur dan menyatakan rasa hormat atas pemberian penghargaan ini. Penghargaan ini merupakan suatu kebanggan karena didalamnya ada sosok yang menjadi rujukan dan role model bangsa yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. “Terima kasih saya sampaikan kepada Kraton Yogyakarta yang telah menyetujui pemberian penghargaan ini, Rektor UGM dan tentunya kepada Muhammadiyah yang telah memberikan kesempatan ini. Saya merasa terhormat menerima Anugerah Hamengkubuwono IX dari UGM tercinta,” ujarnya.

Sebagai alumni yang telah 6 tahun belajar S2 dan S3 studi sosiologi, ia mengungkapkan UGM telah memberikan bekal nilai-nilai penting yang ia pegang teguh hingga kini. Kampus UGM, menurutnya, bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi juga pusat pemikiran yang memberikan alat dan metodologi untuk menginternalisasi berbagai nilai kehidupan.

Ia menjelaskan lima nilai utama yang ia pelajari selama berkuliah di UGM. Pertama, nilai kebenaran yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya kebenaran tidak hanya terkait dengan logika akademik, tetapi juga terkoneksi dengan Pancasila, agama, dan budaya luhur bangsa. “Kebenaran adalah nilai utama ilmuwan,” tegasnya.

Kedua, nilai tradisi keilmuan. UGM, disebutnya, bukan sekadar kampus akademik, tetapi juga “school of thought” yang memupuk pemikiran kritis. “Di sini saya mendapatkan alat dan metodologi yang sangat interkoneksi,” tambahnya.

Nilai ketiga adalah persatuan dalam keragaman. UGM, sebagai miniatur Indonesia, menjadi tempat bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar hidup bersama dalam harmoni.

Keempat, nilai kecintaan terhadap rakyat. Ia menjelaskan bahwa UGM adalah kampus rakyat yang tidak hanya mencetak ilmuwan, tetapi juga individu yang peduli pada rakyat. Haedar mencontohkan praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu bentuk pengabdian nyata. “Mencintai rakyat tidak cukup simbolis, seperti datang ke rumah orang miskin dan memberikan bantuan. Yang lebih penting adalah kebijakan yang berpihak dan memberdayakan rakyat,” jelasnya.

Nilai kelima adalah orientasi global. Terkait ini, Haedar mendorong agar UGM dan kampus-kampus Muhammadiyah lebih aktif merespons isu-isu internasional, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan perubahan iklim. Ia juga mengapresiasi program UGM seperti Wanagama di IKN yang bertujuan menyelamatkan masa depan lingkungan.

Haedar menandaskan pentingnya sinergi antara pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian sosial untuk membangun bangsa yang lebih baik. Ia pun mengajak untuk bersama-sama bergerak dengan semangat global dengan tetap berpijak pada akar budaya dan kemanusiaan.

Penulis : Agung Nugroho

Foto : Firsto

https://www.youtube.com/watch?v=0vcGwTD_BDQ&t=637s

Artikel Haedar Nashir: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Moral dan Etika pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nashir-indonesia-tengah-hadapi-krisis-moral-dan-etika/feed/ 0
Haedar Nasir Raih Anugerah Hamengku Buwono IX https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nasir-raih-anugerah-hamengku-buwono-ix/ https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nasir-raih-anugerah-hamengku-buwono-ix/#respond Thu, 19 Dec 2024 11:33:40 +0000 https://ugm.ac.id/?p=74104 Universitas Gadjah Mada memberikan penghargaan Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dan Anugerah Universitas Gadjah Mada kepada tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi pada bidang pendidikan, kemanusiaan, memperkuat keragaman dan perdamaian. Pemberian anugerah berupa medali dan piagam oleh Rektor UGM ini dilaksanakan pada puncak perayaan Dies Natalis UGM ke-75 yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, kamis (19/12). […]

Artikel Haedar Nasir Raih Anugerah Hamengku Buwono IX pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Universitas Gadjah Mada memberikan penghargaan Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dan Anugerah Universitas Gadjah Mada kepada tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi pada bidang pendidikan, kemanusiaan, memperkuat keragaman dan perdamaian. Pemberian anugerah berupa medali dan piagam oleh Rektor UGM ini dilaksanakan pada puncak perayaan Dies Natalis UGM ke-75 yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, kamis (19/12). Untuk penerima anugerah HB IX diberikan kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir atas dedikasinya pada kemajuan pendidikan, sosial, politik dan kemanusiaan.

Sedangkan empat orang penerima Anugerah UGM, yakni psikolog dan aktivis sosial Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, M.sc., sebagai tokoh moderasi keberagaman dan perdamaian, Peneliti Patologi dan Farmakologi penyakit kanker Dr. apt. Susanti. Selanjutnya akademisi Prof. Dr. Saeful Deni., dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara yang dianggap berhasil melakukan pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan di Maluku Utara dan Prof Nyoman Kertia selaku peneliti obat-obatan herbal dan kebudayaan.

Dalam jumpa pers dengan wartawan, Haedar menyatakan apresiasinya pada UGM atas penghargaan yang diberikan kepadanya. Bagi Haedar, UGM hingga saat ini masih berkomitmen untuk terus berpijak pada kebenaran sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. “Ada 5 nilai dan orientasi yang selalu tertanam satu tentang nilai kebenaran berbasis ilmu dan terkoneksi dengan Pancasila, agama dan kebudayaan seluruh bangsa. Dosen-dosen kami di sini itu begitu keras itu agar kita menjadi ilmuwan yang berpijak pada kebenaran dimanapun berada,”  papar Haedar.

Menambahkan lebih lanjut, Haedar turut menyetujui bahwa salah satu identitas dari UGM merupakan sebagai sebuah kampus kerakyatan, dan karenanya memiliki kewajiban untuk terus mencintai rakyat dengan kerja-kerja praksis seperti salah satu contohnya KKN. “Kampus ini kan dulu dikenal sebagai kampus rakyat menerjemahkannya itu seperti tadi mencintai rakyat dengan kerja-kerja praksis keilmuan lewat KKN dan peran-peran para alumni dan institusi. Terang Nashir.

Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau akrab disapa Alissa Wahid turut menyampaikan apresiasi bahwa Universitas Gadjah Mada pada masa kini memiliki komitmen yang besar terhadap rakyat dalam mengawal kepemimpinan bangsa, dan juga dalam mendekatkan ilmu kepada rakyat dalam rangka mencapai cita-cita bangsa. “Bahwa UGM ini punya komitmen pada bangsa dan rakyat yang sangat besar. Berulang kali Prof. Ova menyebutkan bahwa siap untuk mengawal kepemimpinan bangsa, tetapi mengawalnya itu dalam konteks kepentingan bangsa dan rakyat. Bukan pada kemajuan dan keilmuan semata, tapi bagaimana ilmu tersebut memang didekatkan pada kondisi rakyat sesuai cita-cita bangsa” ungkap Alissa

Hal senada juga diungkapkan oleh Susanti, sebagai alumnus FK-KMK UGM, dirinya selalu memegang teguh nilai-nilai ke-UGMan yang sudah diajarkan padanya. Bahkan sudah menginspirasi dirinya untuk melakukan riset-riset terkait kanker dalam rangka untuk berkontribusi terhadap masyarakat. “Ketika saya masih sangat muda di UGM, kemudian salah satu yang sangat membekas tentu program KKN di mana saya merasakan, sangat merasakan bagaimana ilmu yang kita dapat itu sebisanya harus bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Dengan semangat itulah, dengan nilai-nilai itulah akhirnya, walaupun saya sehari-hari berkutat dengan peralatan laboratorium, Saya berupaya untuk bisa hasil kerja saya di lab di laboratorium itu bisa sampai ke pasien.”Ungkap Santi.

Sementara Saeful Deni mengatakan dedikasi yang ia berikan selama menjadi akademisi tidak lepas dari kontribusi UGM sebagai almamaternya yang telah mengambil peran sebagai sebuah tempat berkumpulnya ilmu pengetahuan dan telah mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan yang dapat membantu mereka saat berkiprah di perguruan tinggi masing-masing. “Banyak kami lakukan dan sekarang ini kami juga masih menjadi Rektor dan berbagai macam kerjasama kami lakukan. Tentunya semua itu adalah dasar dari pengetahuan maupun pengalaman yang ada di UGM dan sebagai alumni saya sekali lagi berterima kasih kepada Bapak Rektor dan juga sebagai akademika yang ada di Universitas Gadjah Mada,” pungkas Deni.

Ketua Panitia Dies Natalis UGM ke-75 sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si menyampaikan apresiasinya kepada para penerima anugerah HB IX award yang sudah memberikan kontribusi yang besar pada masyarakat, sehingga berhak menerima anugerah Hamengkubuwono Award. “Penghargaan dari UGM tentu ini bagian dari komitmen Universitas Gadjah Mada untuk terus memperkuat jaringan kerjasama baik dengan alumni dengan membangun reputasi sebaik-baiknya,” katanya.

Penulis : Hanif

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Firsto

Artikel Haedar Nasir Raih Anugerah Hamengku Buwono IX pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/haedar-nasir-raih-anugerah-hamengku-buwono-ix/feed/ 0