air hujan Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/air-hujan/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Tue, 30 Jan 2024 08:47:06 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/ https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/#respond Tue, 30 Jan 2024 08:47:06 +0000 https://ugm.ac.id/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/ Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM. Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan pada Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, ia menyampaikan pidato berjudul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory. […]

Artikel Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM. Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan pada Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, ia menyampaikan pidato berjudul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory.

Bidang sumber daya air dan lingkungan memang merupakan salah satu intisari yang ia minati, pelajari, teliti, praktikkan, kembangkan, dan sebar-luaskan selama ini. Paradigma pengelolaan sumber daya air dan lingkungan saat ini, menurutnya masih bersifat pragmatis dan cenderung eksploitatif.

Pembangunan sungai masih menggunakan pendekatan “engineering murni” yang dinilainya justru merusak ekosistem sungai. Beberapa contoh antara lain pelurusan sungai, sudetan, pembentonan tebing sungai, serta pembangunan cek dam, ground sill, sabo dam yang masif.

“Pembangunan danau dan embung masih menggunakan cara konstruksi murni seperti pembuatan tanggul dan pembetonan tebing melingkar danau yang justru merusak ekosistem danau,” ujarnya di Balai Senat UGM, Selasa (30/1).

Berbagai permasalahan juga ditemui dalam pengelolaan air hujan dimana pembangunan drainase air hujan di pedesaan, pemukiman, perkotaan, dan kawasan masih dilakukan dengan konsep membuang air hujan secepat-cepatnya ke sungai yang tentunya dapat menyebabkan banjir di hilir dan kekeringan di hulu. Oleh karena itu, reformasi pengelolaan sumber daya air yang ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi sangat mendesak dilakukan.

“Luasnya permasalahan sumber daya air dan lingkungan maka dalam pidato pengukuhan ini saya mengambil salah satu tema yang cukup urgen dan aktual pada puncak musim hujan dan perubahan iklim saat ini, yaitu pengelolaan air hujan. Lebih spesifik lagi saya akan membahas tentang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Memanen Air Hujan,” paparnya.

Topik utama tentang pengelolaan air hujan ini ia pilih karena dapat memberikan refleksi komprehensif tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya dikembangkan dan dimasyarakatkan untuk menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Karena itu dalam pidatonya, ia pun menceritakan proses pengembangan IPTEK memanen air hujan serta implementasinya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat luas.

“Tema ini juga dipilih sebagai dukungan terhadap upaya reformasi pengelolaan sumber daya air hujan dan sekaligus mendukung upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” urainya.

Berbicara mengenai pengembangan teknologi pemanen air hujan dan melihat kuantitas air hujan yang sangat besar dengan kualitas yang memenuhi standar air bersih dan kebutuhan air masyarakat yang terus meningkat, dirinya dan tim telah lama menyusun langkah pengembangan teknologi memanen air hujan di laboratorium Bangunan Air dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil, SV UGM. Langkah tahap pertama dimulai pada tahun 2010-2015 dengan berfokus pada pembuatan teknologi memanen air hujan. Tahap kedua pada tahun 2016-2020 berfokus pada pengembangan teknologi dan pendaftaran kekayaan intelektual, dan tahap ketiga tahun 2021-2025 dengan fokus pengembangan teknologi dan membangun Teaching Factory (TeFa).

Agus Maryono mengakui teknologi memanen air hujan sudah berkembang secara tradisional dan modern di banyak negara seperti di Bangladesh, Australia, dan Jerman serta teknologi tradisional memanen hujan yang dipakai di berbagai wilayah di Indonesia. Teknologi tradisional tersebut umumnya masih menampung hujan secara langsung tanpa penyaring dan belum terkait dengan injeksi air tanah.

“Saya mengompilasi dan mengembangkan sebanyak 12 metode memanen air hujan lengkap dengan contoh masalah dan hitungan dimensinya. Antara lain dengan bak tampung air hujan, sumur resapan, parit resapan, areal resapan, tanggul pekarangan, pagar pekarangan, lubang galian, modifikasi lanskap, area konservasi air tanah, kolam tampungan, revitalisasi telaga, dan tanaman dan hutan sebagai pemanen air hujan,” katanya.

Dari 12 teknologi tersebut, ia pun kemudian memutuskan mengembangkan teknologi penyaring dan penampung air hujan Gama Rain Filter. Alat ini menyempurnakan teknologi tradisional bak tampung air hujan dari atap rumah dengan tambahan filter penyaring daun, debu kasar, dan debu halus.

Alat ini memiliki penampungan yang portable, dapat mengalirkan kelebihan airnya secara otomatis ke sumur atau sumur resapan, dan mendistribusikan air hujan untuk kebutuhan air bersih. Dengan teknologi ini hampir 100 persen air hujan dari atap rumah bisa dimanfaatkan.

“Gama Rain Filter ini adalah teknologi tepat guna yang telah mendapatkan penghargaan Layak Paten terbaik UGM 2016 dan Paten UGM terbaik 2020, bahan penyusunnya tersedia 100 persen di pasaran dan dapat dibuat oleh 10 masyarakat dengan pelatihan secukupnya. Kedua penghargaan ini dapat diraih karena teknologi ini dapat diterima oleh masyarakat dengan persebaran yang begitu cepat,” terangnya.

Guna lebih meyakinkan apakah masyarakat dapat menerima teknologi ini, ia pun bersama tim melakukan penelitian tingkat penerimaan pengguna (user acceptance) dengan 58 responden dari para pengguna alat Gama Rain Filter yang sudah memakai alat tersebut selama 1 (satu) tahun di D.I. Yogyakarta. Hasilnya memperlihatkan sebanyak 76,3 persen pengguna paham terkait kegunaan alat setelah pemasangan, 81,3 persen menilai bahwa kualitas air hujan yang tertampung cukup bagus, 91,5 persen menyatakan bahwa mereka saat ini puas menggunakan air hujan, dan 94,9 persen menyatakan bahwa alat ini sangat bermanfaat.

“Hasil ini tentu menunjukan tingkat penerimaan masyarakat sangat tinggi dan memberikan motivasi kepada saya dan tim untuk terus mengembangkan dan mengkampanyekan memanen air hujan dengan lebih luas lagi,” ungkapnya.

Dengan pidato ilmiah yang mengangkat judul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian, dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory, ini ia berharap dapat memberikan kontribusi secara ontologis dan epistemologis dalam mendorong terjadinya dampak aksiologis yang nyata dalam tataran praktis menuju pengelolaan sumber daya air hujan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan upaya dan pengembangan IPTEK memanen air hujan yang telah diuraikan di depan ia sangat berharap dapat membuka kesadaran masyarakat dan pemerintah, bahwa air hujan sangat layak untuk dikelola, dipanen dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih yang akan menyelamatkan bangsa di Indonesia dari ancaman krisis air ke depan.

Penulis : Agung Nugroho

Fotografer: Firsto

Artikel Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/feed/ 0
Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/#respond Thu, 12 Oct 2023 01:44:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60314 Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan curah hujan tertinggi di dunia dengan besaran 2.702 mm per tahun. Namun, pada musim penghujan air terbuang begitu saja dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara di sisi lain, saat musim kemarau masih saja terjadi kekeringan yang mengakibatkan sulitnya akses air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk […]

Artikel Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan curah hujan tertinggi di dunia dengan besaran 2.702 mm per tahun. Namun, pada musim penghujan air terbuang begitu saja dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara di sisi lain, saat musim kemarau masih saja terjadi kekeringan yang mengakibatkan sulitnya akses air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk DIY.

Data Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Yogyakarta mencatat tidak sedikit warga yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi, sumur-sumur warga tak layak konsumsi, kualitas air sungai dan embung diduga tercemar melewati ambang batas baku mutu.

Kondisi tersebut mendorong empat mahasiswa UGM mengembangkan produk inovatif yang mampu memproses air hujan menjadi air layak konsumsi bernama ‘Toya Wening’. Toya Wening ini dicetuskan oleh Ademas Alam Pangestu (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol) yang mana produk ini berbasis Rain Water Harvesting dan Water Electrolysis.

Dalam merealisasikan produk Toya Wening, Ademas dibantu oleh ketiga rekannya, yaitu Theophylus Yestra Pratama (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol), Salsabila Shafa Qorisu (S1 Farmasi), dan Hendrikus Bagas Pangestu (D4 Teknologi Rekayasa Elektro). Pengembangan produk Toya Wening ini dilakukan di bawah bimbingan Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., melalui pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovasi (PKM-KI) Kemendikbud Ristek 2023.

Ademas menjelaskan bahwa Toya Wening dikembangkan dengan tiga fitur utama, yaitu pemanenan, penampungan, dan elektrolisis. Selain itu, produk Toya Wening dilengkapi sistem monitoring nilai pH dan UV Sterilizer untuk proses filtrasi dan sterilisasi air.

“Melalui berbagai proses ini, air hujan yang semula tidak memenuhi standar layak minum, menjadi air yang layak untuk dikonsumsi karena produk Toya Wening ini didesain dengan mempertimbangkan syarat-syarat kelayakan air minum,”paparnya. Kamis (12/10).

Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., menyampaikan bahwa produk Toya Wening telah melalui tahap pengujian kualitas air bersih dan minum di Laboratorium Hidrologi dan Klimatologi Lingkungan untuk menjamin kualitas air hasil olahan produk ini. Ia berharap alat Toya Wening mampu menjangkau masyarakat di berbagai kalangan dan menjadi solusi terhadap permasalahan krisis air bersih pada masa mendatang.

Penulis: Ika

Foto: Tim Mahasiswa Toya Wening

Artikel Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/feed/ 0