air bersih Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/air-bersih/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 20 Sep 2024 03:45:18 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/ https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/#respond Fri, 20 Sep 2024 03:45:18 +0000 https://ugm.ac.id/?p=70741 Kekeringan merupakan kondisi alam yang tidak dapat dihindari oleh negara tropis seperti Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa kekeringan akan terjadi lebih panjang pada tahun 2024 yang diperkirakan terjadi mulai Mei sampai Oktober. Kondisi iklim Indonesia juga menunjukkan gejala la nina yang lemah. Artinya, curah hujan akan menurun dan masyarakat hanya bisa mengandalkan sumber […]

Artikel Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Kekeringan merupakan kondisi alam yang tidak dapat dihindari oleh negara tropis seperti Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa kekeringan akan terjadi lebih panjang pada tahun 2024 yang diperkirakan terjadi mulai Mei sampai Oktober. Kondisi iklim Indonesia juga menunjukkan gejala la nina yang lemah. Artinya, curah hujan akan menurun dan masyarakat hanya bisa mengandalkan sumber air tanah beberapa bulan ke depan.

Pakar Mitigasi Bencana dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si., menuturkan bahwa prediksi BMKG tersebut tidak sepenuhnya meleset. Gejala iklim yang berubah-ubah, baik di rumpun regional maupun rumpun global, memiliki dampak yang sangat besar terhadap perubahan musim di Indonesia. Menurutnya, di tengah-tengah musim kemarau yang berlangsung mulai Mei sampai Oktober, gejala el nino dinilai tidak terlalu parah. “Tingkat keparahannya itu tidak seperti yang diprediksikan sebelumnya,” ujar Djati, Jumat (20/9).

Perubahan iklim yang dinamis ini disebabkan oleh kondisi geografi dan hidrogeologi Indonesia yang beragam, menurut Djati menyebabkan beberapa tempat mengalami kekeringan, sedangkan tempat lain belum dapat dikategorikan sebagai bencana kekeringan. Ia memberikan contoh daerah Gunung Kidul dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi daerah yang dikenal sulit mendapatkan sumber air apalagi di saat musim kemarau melanda. Bahkan di daerah tersebut, musim kemarau berlangsung lebih panjang dibanding daripada wilayah lain.

Untuk dapat menilai suatu daerah memiliki potensi kekeringan atau tidak, harus memperhatikan tipe dan zona iklim regional, material penyusun geologis, serta sistem alam yang terdapat di suatu daerah tersebut.  Selain itu, perubahan iklim ini juga mempengaruhi curah hujan yang turun di beberapa daerah di Indonesia. Perkiraan iklim sebelumnya menyatakan bahwa puncak musim kemarau akan berlangsung pada bulan Agustus hingga September. Menurut Djati, bulan September adalah bulannya sumber mata air cenderung menjadi asat. Adanya perubahan iklim, itu tidak menutup kemungkinan akan turunnya hujan di bulan Agustus-September meskipun sedikit.

Salah satu sektor penting yang dirugikan dari perubahan iklim adalah sektor pertanian. Sebab saluran irigasi merupakan unsur penting yang menggerakkan sektor ini. Tanpa pengairan yang cukup, tanaman tidak akan bisa tumbuh dan sawah akan mengering. Hal ini akan berimbas pada kelangkaan stok bahan pangan dan kenaikan harga sembako. “Kemarau panjang itu tidak terlalu ekstrim sehingga kemungkinan gagal panen itu rendah,” ujarnya.

Meskipun begitu, pemerintah dan masyarakat tetap diimbau untuk mengantisipasi datangnya kemarau panjang. Untuk menghadapi musim kemarau, pengairan sawah diusahakan tidak bergantung hanya kepada air hujan. Pemerintah dapat membangun sistem irigasi yang berasal dari sungai, danau, atau embung. Di sisi lain, apabila kondisi geologis suatu wilayah tidak terdapat sumber air alami, Djati mengatakan bahwa antisipasi dapat dilakukan dengan penanaman komoditas yang tidak membutuhkan banyak air.

Untuk menghadapi ancaman kekeringan, cara yang paling mudah untuk dilakukan adalah penyediaan air oleh pemerintah setempat. Setiap tahunnya, ratusan ribu bahkan jutaan liter air bersih telah dikerahkan untuk menangani bencana kekeringan. Terdapat juga cara lain yang dapat dilakukan oleh pemerintah selama musim kemarau berlangsung dengan pengadaan pemompaan air tanah. Menurut Djati, Gunung Kidul misalnya memiliki potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan. Secara geologis, tanah di Gunung Kidul memiliki material batan yang mudah larut. Material ini membuat air hujan yang masuk ke dalam tanah dapat disimpan dalam waktu yang lama. Air disimpan di sungai-sungai bawah tanah dan gua-gua yang memiliki kedalaman mencapai 100 meter. “Itu paling dangkal saja sekitar 50 meter, jadi sungainya itu dalam sekali,” kata Djati.

Pemompaan air dari sungai-sungai bawah tanah ini membutuhkan biaya yang tinggi sebab air tidak dapat naik dengan mesin pompa biasa. Mekanisme pemompaan airnya pun tidak biasa. Dibutuhkan tempat yang posisinya relatif paling tinggi di suatu kawasan agar secara gravitasional, air dapat didistribusikan ke sekitarnya.

Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk menghadapi kekeringan adalah membuat sumber air buatan, seperti embung atau bendungan. Cara ini sering digunakan di daerah Nusa Tenggara Timur sebagai persiapan musim kemarau dan bencana kekeringan. “Embung-embung itu untuk menampung air saat musim hujan, untuk kemudian bisa dimanfaatkan pada musim kemarau,” ujar Djati.

Upaya mitigasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, imbuh Djati, masyarakat juga dapat memenuhi kebutuhan air di musim kemarau secara mandiri. Cara yang paling mudah adalah dengan membuat sistem penampungan air hujan di tandon-tandon air. Air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan irigasi dan domestik seperti MCK dan masak apabila sudah dijernihkan. “Tidak selalu harus menunggu dari pemerintah, sebetulnya secara mandiri masyarakat bisa dilibatkan,” tutur Djati.

Penulis : Tiefany

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Freepik

Artikel Pakar UGM Ajak Pemerintah dan Masyarakat Lakukan Mitigasi Kekeringan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/pakar-ugm-ajak-pemerintah-dan-masyarakat-lakukan-mitigasi-kekeringan/feed/ 0
Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/ https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/#respond Fri, 22 Mar 2024 06:16:59 +0000 https://ugm.ac.id/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/ Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada atau UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, bersama dengan peneliti Finlandia, meneliti potensi antibiotik Kali Code Yogyakarta dengan mengumpulkan 24 sampel air dan sedimen permukaan di sepanjang Kali tersebut. Puluhan sampel yang diambil ini termasuk sepanjang aliran sungai Merapi hingga muara pantai. Hasilnya, Kali Code memiliki potensi resistensi antibiotik di […]

Artikel Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada atau UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, bersama dengan peneliti Finlandia, meneliti potensi antibiotik Kali Code Yogyakarta dengan mengumpulkan 24 sampel air dan sedimen permukaan di sepanjang Kali tersebut.

Puluhan sampel yang diambil ini termasuk sepanjang aliran sungai Merapi hingga muara pantai. Hasilnya, Kali Code memiliki potensi resistensi antibiotik di beberapa lokasi. Kandungan antibiotik di lingkungan Kali Code, sebutnya, terakumulasi dari banyak sumber, mulai dari limbah rumah sakit, limbah kimia, maupun dari limbah peternakan.

Selain itu, penelitian juga dilakukan di Sungai Winongo terkait dengan indeks risiko ekologis logam berat, dengan mengambil 16 sampel sedimen dan air.

“Kalau kita lihat sedimen di Sungai Winongo ini memang kandungan logamnya lebih tinggi di sekitar Kota Yogya. Kita mengambil sampel di sedimen air sungai yang dekat dengan buangan bengkel,” kata Lintang, Jumat (22/2024) dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2024.

Menurut Lintang, sungai dan danau memiliki sistem filtrasi alamiahnya sendiri. Pada kondisi normal, aliran akan memulihkan kualitas secara alami karena morfometri sungai, tetapi akumulasi logam pada sedimen, menyebabkan senyawa logam dan nutrien terikat pada sedimen, sehingga tidak dapat pulih secara alamiah.

Menurut Lintang, adanya kandungan logam dan antibiotik di Kali Code dan Kali Winongo ini ditengarai akibat sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang masih lemah.

Nah, mayoritas limbah pada sungai di Yogyakarta tidak berasal dari pabrik atau industri besar, melainkan dari rumah tangga dan usaha domestik mikro dan menengah.

Lintang merekomendasikan agar pemerintah daerah turut memberikan perhatian serius pada pengelolaan IPAL di Kota Yogyakarta karena berperan penting dalam mengatasi masalah pencemaran air sungai.

Dia menambahkan pengawasan IPAL untuk industri makro, seperti pabrik dan perhotelan sudah memiliki ketentuan ketat, namun untuk skala mikro seperti limbah rumah tangga belum dilakukan secara maksimal.

“Tidak banyak desa atau kelurahan di Yogyakarta yang memiliki sistem IPAL, karena keterbatasan sumber daya dan perhatian masyarakat akan lingkungan yang masih minim,” ujarnya

Lanjutnya, apabila sungai terus tercemar oleh logam berat dan residu antibiotik, dikhawatirkan bisa memunculkan risiko apabila dikonsumsi oleh masyarakat.

Dalam beberapa kasus, air tercemar juga menjadi penyebab munculnya kasus stunting pada anak-anak. Padahal Pemerintah berkomitmen untuk mencapai target poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-6, yakni akses air bersih dan sanitasi.

“Untuk itu, UGM turut berupaya dalam mendukung implementasi riset untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya dengan memperhatikan kualitas air yang dikonsumsi,” papar Lintang.

Penulis: Tasya

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Peneliti UGM meneliti Potensi Logam Berat di Sungai Winongo dan Resistensi Antibiotik di Sungai Code pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/sungai-code-yogyakarta-tercemar-logam-berat-dan-limbah-antibiotik/feed/ 0
Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/ https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/#respond Tue, 27 Feb 2024 11:21:03 +0000 https://ugm.ac.id/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/ Mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas air bersih. Salah satunya dengan melakukan pemetaan lokasi sumur dan pengecekan fasilitas air di wilayah Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengakses air bersih dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim […]

Artikel Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas air bersih. Salah satunya dengan melakukan pemetaan lokasi sumur dan pengecekan fasilitas air di wilayah Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengakses air bersih dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim KKN Sub Unit C yang terdiri dari Novira Riski Herdian (Fisika),   Najma Ayu (Geografi), Tiara Indah Pratiwi (Fisipol), Dimitrio Diaz (Teknik Pertanian), Putu Kuncoro Jati (Matematika), dan Hafidh Nurdiansyah (SV). Mereka melakukan pemetaan lokasi sumur dengan mendatangi dan mendata keberadaan sumur di setiap dusun di Desa Majasem.  Informasi terkait sumur diperoleh dari data sekunder berupa arsip data yang disediakan oleh kantor Desa Majasem. Arsip data tersebut mencakup lokasi relatif dari setiap sumur yang tersedia. Berdasarkan informasi tersebut, survei lapangan dilakukan pada akhir Januari 2024 untuk mengumpulkan data koordinat dengan mendatangi lokasi-lokasi di mana sumur tersebut berada.

Novira mengungkapkan hasil survei menunjukkan terdapat 22 sumur dengan kedalaman rata-rata 120 meter yang tersedia di Desa Majasem, baik itu untuk pertanian maupun air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Titik-titik koordinat yang telah diperoleh diinput ke dalam peta yang memuat batas administratif Desa Majasem menggunakan bantuan aplikasi ArcGIS 10.8. Selanjutnya, setelah dilakukan penginputan titik koordinat, dilakukan simbolisasi dan layouting sebagai tahap akhir dalam proses pemetaan.

“Upaya tersebut ditujukan untuk menghasilkan peta yang menampilkan Distribusi Sumur Air Bawah Tanah di Desa Majasem,”tuturnya.

Selain pemetaan, mahasiswa KKN-PPM UGM Kelana Kendal juga melakukan pengecekan fasilitas air meliputi kondisi sumur, kualitas air, dan survei pengguna sumur. Analisis data pengecekan kualitas air dilakukan dengan pengambilan sampel yang diminta dari rumah ke rumah. Terdapat lima sampel sumur bor minum yang diambil sampelnya sebanyak 3 kali. Sampel air tersebut dianalisis menggunakan water meter dengan parameter suhu ambien, tingkat kekeruhan (TDS), tingkat keasaman (pH), dan kadar konduktivitas (EC). Hasil pengecekan kemudian direkomendasikan kepada pemerintah desa untuk ditindaklanjuti.

Kegiatan ini mendapatkan respons positif baik dari masyarakat maupun internal tim KKN PPM UGM Kelana Kendal. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Faiza Ulinnuha, selaku Koordinator Kormater Saintek. Menurutnya, pemetaan lokasi sumur dan pemeriksaan fasilitas air adalah langkah penting dalam memastikan akses yang layak dan aman terhadap air bersih bagi masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan kepekaan dan komitmen dari mahasiswa KKN-PPM UGM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjaga kesehatan publik,” ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU., mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh mahasiswa untuk memitigasi hal-hal yang diperlukan selanjutnya. Sebab, sumur di Desa Majasem sangat sedikit dan sangat dalam yang menandakan daerah desa rawan akan kekeringan.

Berdasar data  hasil survei mahaisswa KKN UGM, Atus menyebutkan bahwa Desa Majasem memiliki kerawanan terhadap kekeringan. Hal tersebut dibuktikan pengeboran sumur perlu hingga kedalaman ratusan meter dan tidak semua titik rumah memiliki sumur sendiri.

Atus berharap melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dengan memberikan informasi mengenai kondisi, lokasi, dan distribusi sumber air di sekitar mereka. Hal ini akan mempermudah masyarakat dalam mengakses sumber air bersih yang tersedia. Dengan begitu, masyarakat dapat mengelola dan memanfaatkannya secara lebih efektif untuk kebutuhan sehari-hari.

Penulis: Tim KKN Majasem : Editor: Ika

Artikel Mitigasi Kekeringan, Mahasiswa UGM Petakan Sumber Air Bersih di Majasem pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/mitigasi-kekeringan-mahasiswa-ugm-petakan-sumber-air-bersih-di-majasem/feed/ 0
Guru Besar UGM Angkat Bicara Soal Kandungan Bromat Dalam Air Mineral https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-angkat-bicara-soal-kandungan-bromat-dalam-air-mineral/ https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-angkat-bicara-soal-kandungan-bromat-dalam-air-mineral/#respond Mon, 26 Feb 2024 05:30:55 +0000 https://ugm.ac.id/guru-besar-ugm-angkat-bicara-soal-kandungan-bromat-dalam-air-mineral/ Belum lama viral unggahan di media sosial terkait kandungan bromat melebihi ambang batas yang ditetapkan dalam air minum kemasan. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., menanggapi hal tersebut. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan oleh konten kreator tersebut tidaklah benar. Zullies menjelaskan bahwa bromat merupakan produk sampingan yang terbentuk ketika air minum didesinfeksi dengan proses  ozonasi. Bromat bukanlah senyawa yang […]

Artikel Guru Besar UGM Angkat Bicara Soal Kandungan Bromat Dalam Air Mineral pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Belum lama viral unggahan di media sosial terkait kandungan bromat melebihi ambang batas yang ditetapkan dalam air minum kemasan. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., menanggapi hal tersebut. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan oleh konten kreator tersebut tidaklah benar.

Zullies menjelaskan bahwa bromat merupakan produk sampingan yang terbentuk ketika air minum didesinfeksi dengan proses  ozonasi. Bromat bukanlah senyawa yang normal terdapat secara alami di air. Selain itu, bromat merupakan senyawa yang tidak memiliki rasa atau warna.

“Jadi, jika sang influencer bilang bahwa bromat itulah yang membuat rasa agak manis, yang itu sering dijadikan tagline promo produk air tersebut “yang ada manis-manisnya”, maka itu sebenarnya adalah tidak benar, karena bromat itu tidak berasa,”paparnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (26/3).

Zullies menyampaikan bromat bisa ditemukan pada air yang disterilkan dengan proses ozonasi. Bromat akan muncul saat ozon yang digunakan untuk mendesinfeksi air minum bereaksi dengan bromida alami yang ditemukan di sumber air. Bromida mengandung unsur Brom (Br) yang bermuatan negatif. Ketika diozonisasi, Brom yang bermuatan negatif bisa bereaksi dengan ozon atau O3 dan terbentuklah senyawa Bromat atau BrO3.

“Bromat dapat masuk ke air minum kemasan jika proses penyaringan tidak dilakukan dengan hati-hati atau jika ada kontaminasi dalam sumber air. Kandungan bromat dalam air minum masih dibolehkan, asal tidak melebihi 10 mcg/L,”urainya.

Lebih lanjut ia menjelaskan batas aman yg diperbolehkan menurut WHO adalah 10 ppb (part per bilion) atau 10 mikrogram/Liter. Hal ini berdasarkan batas atas potensi kanker untuk bromat adalah 0,19 per mg/kg berat badan per hari. Pada studi dengan hewan, dijumpai bahwa bromat dapat memicu kanker namun belum diketahui dampaknya pada manusia. Keracunan bromat dosis tinggi sangat jarang terjadi, kecuali orang secara sengaja atau tidak sengaja menelan cairan kimia yang mengandung bromat. Efek dari kercaunan bromat dapat mengakibatkan muntah-muntah, sakit perut dan diare. Selain itu juga bisa menyebabkan kelelahan, hilangnya refleks dan masalah lain pada sistem saraf pusat. Namun efek ini biasanya bersifat reversibel, yang artinya bisa kembali normal, tidak menetap.

Sementara di Indonesia, regulasi tentang minuman dan makanan diatur oleh BPOM, yang mengacu pada SNI yang diatur standarnya oleh Badan Standardisasi nasional (BSN).  Untuk Air minum dalam kemasan, khususnya utk air mineral, dalam registrasinya dan pengawasannya mengacu ke SNI, di mana persyaratan mutunya mengikuti peraturan SNI 3553:2015.

“Pada SNI tersebut, terkait dengan kandungan bromat juga ditetapkan sama dengan standar aman WHO,”tuturnya.

Lantas bagaimana sebaiknya masyarakat menanggapi isu soal bromat yang ada pada salah satu produk air minum dalam kemasan ini? Zullies kembali menegaskan bahwa postingan tersebut merupakan hoaks. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk bersikap bijak dan selektif dalam mencerna informasi. Upayakan untuk memverifikasi atau menanyakan terlebih dahulu pada ahli atau sumber yang kredibel.

“Jangan langsung percaya dan menyebarkannya lagi, tanyakan pada yang dirasa lebih ahli,”pungkasnya.

Penulis: Ika

Foto: Freepik.com

 

Artikel Guru Besar UGM Angkat Bicara Soal Kandungan Bromat Dalam Air Mineral pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-angkat-bicara-soal-kandungan-bromat-dalam-air-mineral/feed/ 0
Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/ https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/#respond Tue, 30 Jan 2024 08:47:06 +0000 https://ugm.ac.id/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/ Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM. Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan pada Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, ia menyampaikan pidato berjudul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory. […]

Artikel Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM. Dalam pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Sumberdaya Air dan Lingkungan pada Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, ia menyampaikan pidato berjudul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory.

Bidang sumber daya air dan lingkungan memang merupakan salah satu intisari yang ia minati, pelajari, teliti, praktikkan, kembangkan, dan sebar-luaskan selama ini. Paradigma pengelolaan sumber daya air dan lingkungan saat ini, menurutnya masih bersifat pragmatis dan cenderung eksploitatif.

Pembangunan sungai masih menggunakan pendekatan “engineering murni” yang dinilainya justru merusak ekosistem sungai. Beberapa contoh antara lain pelurusan sungai, sudetan, pembentonan tebing sungai, serta pembangunan cek dam, ground sill, sabo dam yang masif.

“Pembangunan danau dan embung masih menggunakan cara konstruksi murni seperti pembuatan tanggul dan pembetonan tebing melingkar danau yang justru merusak ekosistem danau,” ujarnya di Balai Senat UGM, Selasa (30/1).

Berbagai permasalahan juga ditemui dalam pengelolaan air hujan dimana pembangunan drainase air hujan di pedesaan, pemukiman, perkotaan, dan kawasan masih dilakukan dengan konsep membuang air hujan secepat-cepatnya ke sungai yang tentunya dapat menyebabkan banjir di hilir dan kekeringan di hulu. Oleh karena itu, reformasi pengelolaan sumber daya air yang ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi sangat mendesak dilakukan.

“Luasnya permasalahan sumber daya air dan lingkungan maka dalam pidato pengukuhan ini saya mengambil salah satu tema yang cukup urgen dan aktual pada puncak musim hujan dan perubahan iklim saat ini, yaitu pengelolaan air hujan. Lebih spesifik lagi saya akan membahas tentang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Memanen Air Hujan,” paparnya.

Topik utama tentang pengelolaan air hujan ini ia pilih karena dapat memberikan refleksi komprehensif tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya dikembangkan dan dimasyarakatkan untuk menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Karena itu dalam pidatonya, ia pun menceritakan proses pengembangan IPTEK memanen air hujan serta implementasinya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat luas.

“Tema ini juga dipilih sebagai dukungan terhadap upaya reformasi pengelolaan sumber daya air hujan dan sekaligus mendukung upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” urainya.

Berbicara mengenai pengembangan teknologi pemanen air hujan dan melihat kuantitas air hujan yang sangat besar dengan kualitas yang memenuhi standar air bersih dan kebutuhan air masyarakat yang terus meningkat, dirinya dan tim telah lama menyusun langkah pengembangan teknologi memanen air hujan di laboratorium Bangunan Air dan Lingkungan Departemen Teknik Sipil, SV UGM. Langkah tahap pertama dimulai pada tahun 2010-2015 dengan berfokus pada pembuatan teknologi memanen air hujan. Tahap kedua pada tahun 2016-2020 berfokus pada pengembangan teknologi dan pendaftaran kekayaan intelektual, dan tahap ketiga tahun 2021-2025 dengan fokus pengembangan teknologi dan membangun Teaching Factory (TeFa).

Agus Maryono mengakui teknologi memanen air hujan sudah berkembang secara tradisional dan modern di banyak negara seperti di Bangladesh, Australia, dan Jerman serta teknologi tradisional memanen hujan yang dipakai di berbagai wilayah di Indonesia. Teknologi tradisional tersebut umumnya masih menampung hujan secara langsung tanpa penyaring dan belum terkait dengan injeksi air tanah.

“Saya mengompilasi dan mengembangkan sebanyak 12 metode memanen air hujan lengkap dengan contoh masalah dan hitungan dimensinya. Antara lain dengan bak tampung air hujan, sumur resapan, parit resapan, areal resapan, tanggul pekarangan, pagar pekarangan, lubang galian, modifikasi lanskap, area konservasi air tanah, kolam tampungan, revitalisasi telaga, dan tanaman dan hutan sebagai pemanen air hujan,” katanya.

Dari 12 teknologi tersebut, ia pun kemudian memutuskan mengembangkan teknologi penyaring dan penampung air hujan Gama Rain Filter. Alat ini menyempurnakan teknologi tradisional bak tampung air hujan dari atap rumah dengan tambahan filter penyaring daun, debu kasar, dan debu halus.

Alat ini memiliki penampungan yang portable, dapat mengalirkan kelebihan airnya secara otomatis ke sumur atau sumur resapan, dan mendistribusikan air hujan untuk kebutuhan air bersih. Dengan teknologi ini hampir 100 persen air hujan dari atap rumah bisa dimanfaatkan.

“Gama Rain Filter ini adalah teknologi tepat guna yang telah mendapatkan penghargaan Layak Paten terbaik UGM 2016 dan Paten UGM terbaik 2020, bahan penyusunnya tersedia 100 persen di pasaran dan dapat dibuat oleh 10 masyarakat dengan pelatihan secukupnya. Kedua penghargaan ini dapat diraih karena teknologi ini dapat diterima oleh masyarakat dengan persebaran yang begitu cepat,” terangnya.

Guna lebih meyakinkan apakah masyarakat dapat menerima teknologi ini, ia pun bersama tim melakukan penelitian tingkat penerimaan pengguna (user acceptance) dengan 58 responden dari para pengguna alat Gama Rain Filter yang sudah memakai alat tersebut selama 1 (satu) tahun di D.I. Yogyakarta. Hasilnya memperlihatkan sebanyak 76,3 persen pengguna paham terkait kegunaan alat setelah pemasangan, 81,3 persen menilai bahwa kualitas air hujan yang tertampung cukup bagus, 91,5 persen menyatakan bahwa mereka saat ini puas menggunakan air hujan, dan 94,9 persen menyatakan bahwa alat ini sangat bermanfaat.

“Hasil ini tentu menunjukan tingkat penerimaan masyarakat sangat tinggi dan memberikan motivasi kepada saya dan tim untuk terus mengembangkan dan mengkampanyekan memanen air hujan dengan lebih luas lagi,” ungkapnya.

Dengan pidato ilmiah yang mengangkat judul Pengembangan IPTEK Memanen Air Hujan: dari Keprihatinan, Penelitian, dan Pengembangan Teknologi menuju Gerakan Masyarakat dan Teaching Factory, ini ia berharap dapat memberikan kontribusi secara ontologis dan epistemologis dalam mendorong terjadinya dampak aksiologis yang nyata dalam tataran praktis menuju pengelolaan sumber daya air hujan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan upaya dan pengembangan IPTEK memanen air hujan yang telah diuraikan di depan ia sangat berharap dapat membuka kesadaran masyarakat dan pemerintah, bahwa air hujan sangat layak untuk dikelola, dipanen dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih yang akan menyelamatkan bangsa di Indonesia dari ancaman krisis air ke depan.

Penulis : Agung Nugroho

Fotografer: Firsto

Artikel Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UGM, Prof Agus Maryono Kembangkan Gama Rain Filter pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dikukuhkan-sebagai-guru-besar-ugm-prof-agus-maryono-kembangkan-gama-rain-filter/feed/ 0
Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/#respond Thu, 12 Oct 2023 01:44:47 +0000 https://ugm.ac.id/?p=60314 Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan curah hujan tertinggi di dunia dengan besaran 2.702 mm per tahun. Namun, pada musim penghujan air terbuang begitu saja dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara di sisi lain, saat musim kemarau masih saja terjadi kekeringan yang mengakibatkan sulitnya akses air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk […]

Artikel Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara dengan curah hujan tertinggi di dunia dengan besaran 2.702 mm per tahun. Namun, pada musim penghujan air terbuang begitu saja dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sementara di sisi lain, saat musim kemarau masih saja terjadi kekeringan yang mengakibatkan sulitnya akses air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk DIY.

Data Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Yogyakarta mencatat tidak sedikit warga yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi, sumur-sumur warga tak layak konsumsi, kualitas air sungai dan embung diduga tercemar melewati ambang batas baku mutu.

Kondisi tersebut mendorong empat mahasiswa UGM mengembangkan produk inovatif yang mampu memproses air hujan menjadi air layak konsumsi bernama ‘Toya Wening’. Toya Wening ini dicetuskan oleh Ademas Alam Pangestu (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol) yang mana produk ini berbasis Rain Water Harvesting dan Water Electrolysis.

Dalam merealisasikan produk Toya Wening, Ademas dibantu oleh ketiga rekannya, yaitu Theophylus Yestra Pratama (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol), Salsabila Shafa Qorisu (S1 Farmasi), dan Hendrikus Bagas Pangestu (D4 Teknologi Rekayasa Elektro). Pengembangan produk Toya Wening ini dilakukan di bawah bimbingan Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., melalui pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovasi (PKM-KI) Kemendikbud Ristek 2023.

Ademas menjelaskan bahwa Toya Wening dikembangkan dengan tiga fitur utama, yaitu pemanenan, penampungan, dan elektrolisis. Selain itu, produk Toya Wening dilengkapi sistem monitoring nilai pH dan UV Sterilizer untuk proses filtrasi dan sterilisasi air.

“Melalui berbagai proses ini, air hujan yang semula tidak memenuhi standar layak minum, menjadi air yang layak untuk dikonsumsi karena produk Toya Wening ini didesain dengan mempertimbangkan syarat-syarat kelayakan air minum,”paparnya. Kamis (12/10).

Ir. Maun Budiyanto, S.T., M.T., menyampaikan bahwa produk Toya Wening telah melalui tahap pengujian kualitas air bersih dan minum di Laboratorium Hidrologi dan Klimatologi Lingkungan untuk menjamin kualitas air hasil olahan produk ini. Ia berharap alat Toya Wening mampu menjangkau masyarakat di berbagai kalangan dan menjadi solusi terhadap permasalahan krisis air bersih pada masa mendatang.

Penulis: Ika

Foto: Tim Mahasiswa Toya Wening

Artikel Toya Wening, Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/toya-wening-alat-pengolah-air-hujan-jadi-air-minum-karya-mahasiswa-ugm/feed/ 0
Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/ https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/#respond Mon, 25 Sep 2023 03:16:42 +0000 https://ugm.ac.id/?p=59631 UGM menyalurkan bantuan 14.000 liter air bersih untuk warga yang mengalami kesulitan air bersih di Magelang, Minggu (25/9). Penyaluran bantuan air bersih dilakukan tim Gelanggang Emergency Response (GER) UGM dan Menwa UGM bekerja sama dengan relaan FPRB Borobudur. Koordinator GER UGM, Muhammad Fauzan Firdaus, menjelaskan GER penyaluran atau dropping air bersih diberikan kepada warga di […]

Artikel Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
UGM menyalurkan bantuan 14.000 liter air bersih untuk warga yang mengalami kesulitan air bersih di Magelang, Minggu (25/9). Penyaluran bantuan air bersih dilakukan tim Gelanggang Emergency Response (GER) UGM dan Menwa UGM bekerja sama dengan relaan FPRB Borobudur.

Koordinator GER UGM, Muhammad Fauzan Firdaus, menjelaskan GER penyaluran atau dropping air bersih diberikan kepada warga di dua desa yakni Desa Desa Karanganyar Borobudur dan Desa Butuh Candirejo Borobudur, Kabupaten Magelang.

“Dropping ini kita lakukan sebagai bentuk respons terhadap fenomena kekeringan air yang banyak dialami oleh warga akibat kemarau panjang,” terangnya, Senin (25/9).

Fauzan mengatakan kemarau panjang tahun ini menyebabkan keringnya sumber-sumber air warga. Oleh sebab itu, bantuan air bersih sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga.

Lebih lanjut ia menyampaikan ada ratusan kepala keluarga (KK) yang mengalami kesulitan untuk akses air bersih guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari akibat musim kemarau panjang saat ini. Bantuan distribusi air bersih yang diberikan kepada 140 KK di dua desa tersebut diharapkan dapat membantu warga.

Fauzan menjelaskan sebelum melakukan penyaluran air bersih ke warga, sehari sebelumnya pihaknya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan para relawan. Koordinasi dilakukan untuk memetakan wilayah yang belum mendapatkan dropping air bersih.

“Dropping dilakukan di Desa Karanganyar dan Desa Butuh Candirejo atas permintaan warga karena belum mendapatkan droping dan kondisi sudah benar-benar kehabisan air bersih,” jelasnya.

 

Penulis: Ika

Foto: Dok. GER UGM

Artikel Bantu Warga dari Kekeringan, UGM Dropping 14.000 Liter Air Bersih di Magelang pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bantu-warga-dari-kekeringan-ugm-dropping-14-000-liter-air-bersih-di-magelang/feed/ 0