AAS in Asia Arsip - Universitas Gadjah Mada https://ugm.ac.id/id/tag/aas-in-asia/ Mengakar Kuat dan Menjulang Tinggi Fri, 19 Jul 2024 04:17:29 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.1.7 Konferensi AAS in Asia Resmi Ditutup, Peserta Diajak Ikut Menari Beksan Wanara https://ugm.ac.id/id/berita/konferensi-aas-in-asia-resmi-ditutup-peserta-diajak-ikut-menari-beksan-wanara/ https://ugm.ac.id/id/berita/konferensi-aas-in-asia-resmi-ditutup-peserta-diajak-ikut-menari-beksan-wanara/#respond Fri, 12 Jul 2024 06:22:07 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66815 President of the Association for Asian Studies (AAS) Prof. Hyaeweol Choi dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Prof. Dr. Wening Udasmoro menutup Konferensi Internasional AAS in Asia di Grha Sabha Pramana UGM, Kamis (11/7) malam. Penutupan kegiatan konferensi ini ditandai dengan pementasan tari beksan wanara, dimana para peserta diajak untuk ikut menari bersama dengan para […]

Artikel Konferensi AAS in Asia Resmi Ditutup, Peserta Diajak Ikut Menari Beksan Wanara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
President of the Association for Asian Studies (AAS) Prof. Hyaeweol Choi dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Prof. Dr. Wening Udasmoro menutup Konferensi Internasional AAS in Asia di Grha Sabha Pramana UGM, Kamis (11/7) malam. Penutupan kegiatan konferensi ini ditandai dengan pementasan tari beksan wanara, dimana para peserta diajak untuk ikut menari bersama dengan para penari.

Dalam pidato sambutannya, Hyaeweol Choi mengatakan konferensi AAS in Asia berjalan cukup lancar dan memberi pengalaman bagi peserta dalam berbagi hasil penelitian dan pengalaman menikmati atraksi budaya yang disuguhkan oleh penyelenggara. “Sungguh luar biasa bisa berkolaborasi dengan UGM tahun ini. Panitia penyelenggara dan acara budaya serta panel yang ditampilkan luar biasa, dipersiapkan dengan sangat baik. Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang menghadiri konferensi ini,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, menyampaikan apresiasi pada peserta yang mengikuti konferensi selama tiga hari dengan penuh semangat. “Jadwal yang padat dan banyaknya panel yang menampilkan topik-topik menarik, tidak diragukan lagi menjadikan kami bahwa ini sebuah perjalanan yang ketat secara intelektual,” kata Wening.

Menurutnya presentasi riset yang disampaikan oleh para peserta telah menjadi sumber inspirasi dan pengayaan akademis mencakup upaya mengatasi kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi, serta hubungan yang sangat dinamis di dalamnya. “Sepanjang konferensi ini, kami telah mengeksplorasi bagaimana budaya tradisional dilestarikan, dimodifikasi, dan dihibridisasi,” katanya.

Di konferensi ini, banyak peserta menyampaikan hasil kajian budaya-budaya baru yang tidak hanya berkembang dalam konteks asli mereka tetapi juga melampaui batas-batas negara. Pada saat yang sama, kata Wening, kita juga dihadapkan pada kenyataan marginalisasi budaya, bahkan di dalam wilayah masyarakat asli. Beragam strategi yang digunakan oleh komunitas budaya marginal untuk bertahan dan melawan. “Saya kira di Asia, ditambah dengan wawasan para peneliti, praktisi budaya, dan seniman dari seluruh dunia, telah menjelaskan fenomena ini,” ujarnya.

Secara khusus Wening menyampaikan penghargaan yang tulus pada seluruh peserta atas kontribusi mereka dalam berbagi hasil penelitian dan pengalaman budaya. Di sisi lain, UGM yang menjadi bagian dari jaringan institusi pendidikan global menyambut hangat terjalinnya peluang kolaborasi antar pihak dengan berbagai bidang studi yang bisa dikerjasamakan. “Harapan tulus kami agar konferensi AAS di Asia yang dilaksanakan UGM ini telah menciptakan kenangan positif bagi seluruh peserta,” pungkasnya.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel Konferensi AAS in Asia Resmi Ditutup, Peserta Diajak Ikut Menari Beksan Wanara pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/konferensi-aas-in-asia-resmi-ditutup-peserta-diajak-ikut-menari-beksan-wanara/feed/ 0
Bahas Isu Kontroversial dalam Literatur HAM, Peneliti ICRS Mendapat Pujian di Konferensi AAS-in Asia 2024 https://ugm.ac.id/id/berita/bahas-isu-kontroversial-dalam-literatur-ham-peneliti-icrs-mendapat-pujian-di-konferensi-aas-in-asia-2024/ https://ugm.ac.id/id/berita/bahas-isu-kontroversial-dalam-literatur-ham-peneliti-icrs-mendapat-pujian-di-konferensi-aas-in-asia-2024/#respond Thu, 11 Jul 2024 07:22:48 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66761 Perdebatan mengenai kebebasan dan menjaga harmoni kehidupan dalam keberagaman telah berlangsung selama beberapa dekade dan masih menjadi polemik dalam literatur Hak Asasi Manusia (HAM), terutama yang terkait dengan kebebasan berekspresi, berkumpul, berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Aspirasi akan keharmonisan yang terkandung dalam gagasan perdamaian, kohesi sosial, dan ketertiban umum dipahami sebagai kebebasan yang memerlukan pembatasan tertentu […]

Artikel Bahas Isu Kontroversial dalam Literatur HAM, Peneliti ICRS Mendapat Pujian di Konferensi AAS-in Asia 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Perdebatan mengenai kebebasan dan menjaga harmoni kehidupan dalam keberagaman telah berlangsung selama beberapa dekade dan masih menjadi polemik dalam literatur Hak Asasi Manusia (HAM), terutama yang terkait dengan kebebasan berekspresi, berkumpul, berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Aspirasi akan keharmonisan yang terkandung dalam gagasan perdamaian, kohesi sosial, dan ketertiban umum dipahami sebagai kebebasan yang memerlukan pembatasan tertentu sehingga hal ini selalu menjadi kontroversi. Bermula dari keprihatinan akan hal tersebut, Dr. Zainal Abidin Bagir pada sesi Keynote Address AAS-in Asia 2024, Rabu (10/07), di Grha Sabha Pramana, memberikan presentasi ‘Revisiting Freedom versus Harmony Debate: From Asian Values to Decolonization’.

Sebagai pemantik, Zainal memulai presentasinya dengan menanyakan perihal gagasan harmoni. Menurutnya, terciptanya harmoni atau kerukunan biasanya dilakukan dengan membatasi hak atas kebebasan individu dan masyarakat. “Pembatasan kebebasan memang diizinkan, jika dilakukan untuk melindungi ketertiban masyarakat. Pertanyaannya, apakah pembatasan kebebasan itu dapat dijustifikasi dengan baik, tidak berlebihan, dan mencapai tujuan pembatasan seperti kerukunan? Bahkan pembatasan ini dalam wacana HAM internasional pun masih intensif didiskusikan,” ucap Zainal

Presentasi Zainal melihat bagaimana perdebatan ini dalam konteks Asia, terutama di Asia Tenggara, dan khususnya di Indonesia. Terminologi HAM modern sering kali secara dramatis merujuk pada konsep HAM Eropa daripada klaim universalitas yang selama ini disampaikan. Oleh karena itu perlu adanya dekolonisasi pemahaman baru mengenai HAM yang sesuai dengan persepsi lokal untuk penegakan yang lebih efektif. Sebagai contoh di Indonesia, kebebasan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, kedaulatan negara, dan nilai-nilai agama.

“Indonesia bukan negara agama, beragam aliran dipandang sebagai pluralitas sehingga negara tidak ikut campur dalam keyakinan masing-masing aliran, namun negara akan ikut turun tangan ketika interaksi antar kelompok menyebabkan ketidakstabilan,” ujarnya. Ia menambahkan, negara memiliki kewajiban untuk merukunkan, termasuk memberi peringatan, melarang, dan menahan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

Rachel Rinaldo, Associate Professor dari University of Colorado Boulder memberikan ulasan positif atas presentasi yang berjalan pada sesi Keynote Address tadi malam. “Pembicara utama malam ini, Zainal Abidin Bagir, sangat luar biasa. Terima kasih UGM dan AAS yang telah menyelenggarakan acara ini. Banyak panel dengan tema tidak biasa dan peserta yang terlibat, menjadikan kegiatan ini sebagai konferensi yang paling baik sejauh ini,” ungkapnya.

Dr. Zainal Abidin Bagir saat ini menjabat sebagai Direktur pada Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), sebuah konsorsium yang terdiri dari UGM, UIN Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Memiliki minat pada isu-isu demokrasi dan keberagaman agama, ia terlibat dalam proses pengeditan beberapa buku bersama rekan sejawat internasionalnya, seperti ‘Indonesian Pluralities: Islam, Citizenship and Democracy’ yang diterbitkan oleh University of Notre Dame Press tahun 2021, ‘Varieties of Religion and Ecology: Dispatches from Indonesia’ yang diterbitkan oleh LIT Verlag tahun 2021. Zainal juga berperan sebagai editor pada buku ‘Politik Moderasi dan Kebebasan Beragama: Suatu Tinjauan Kritis’ di tahun 2022, dan ‘Mengelola Konflik, Memajukan Kebebasan Beragama’ di tahun 2024. Selain itu, ia juga terlibat pada produksi serangkaian film dokumenter yang merupakan kolaborasi antara the Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, Boston University, dan Watchdoc Documentary sepanjang tahun 2019-2023.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel Bahas Isu Kontroversial dalam Literatur HAM, Peneliti ICRS Mendapat Pujian di Konferensi AAS-in Asia 2024 pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/bahas-isu-kontroversial-dalam-literatur-ham-peneliti-icrs-mendapat-pujian-di-konferensi-aas-in-asia-2024/feed/ 0
Seniman Kaligrafi Internasional Ajarkan Seni Menulis Kaligrafi  https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-kaligrafi-internasional-ajarkan-seni-menulis-kaligrafi/ https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-kaligrafi-internasional-ajarkan-seni-menulis-kaligrafi/#respond Thu, 11 Jul 2024 02:03:29 +0000 https://ugm.ac.id/?p=66742 Dalam sejumlah kebudayaan, kaligrafi dipercaya menjadi sebuah media yang menyelaraskan jiwa manusia dan alam semesta sehingga menciptakan pengalaman yang mendalam. Pengalaman inilah yang berusaha dihadirkan dalam Workshop Kaligrafi yang diselenggarakan Rabu (10/7) di Fakultas Filsafat UGM, sebagai bagian dari rangkaian Konferensi AAS-in-Asia 2024. Peserta konferensi, yaitu para akademisi yang berasal dari berbagai negara di dunia, berkesempatan untuk […]

Artikel Seniman Kaligrafi Internasional Ajarkan Seni Menulis Kaligrafi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Dalam sejumlah kebudayaan, kaligrafi dipercaya menjadi sebuah media yang menyelaraskan jiwa manusia dan alam semesta sehingga menciptakan pengalaman yang mendalam. Pengalaman inilah yang berusaha dihadirkan dalam Workshop Kaligrafi yang diselenggarakan Rabu (10/7) di Fakultas Filsafat UGM, sebagai bagian dari rangkaian Konferensi AAS-in-Asia 2024.

Peserta konferensi, yaitu para akademisi yang berasal dari berbagai negara di dunia, berkesempatan untuk mempraktikkan langsung seni kaligrafi Jawa, Arab, Cina, dan Korea di dalam empat kelas yang berbeda, dengan bimbingan dari para seniman. “Sebuah pengalaman yang menyenangkan, karena di sela mengikuti pertemuan akademis kita juga bisa mengikuti aktivitas yang menarik seperti ini,” tutur Megan, salah satu peserta konferensi asal Inggris yang mengikuti pelatihan Kaligrafi Jawa.

Workshop ini menghadirkan empat orang seniman kaligrafi untuk mengajar para peserta konferensi. Mereka adalah Kim Jang Hyun, seniman asal Korean; Kashif Khan, seniman kaligrafi Sufi; Wahono Simbah, seniman kaligrafi Jawa; serta Mansheng Wang, pelukis dan seniman kaligrafi Cina.

Masing-masing kelas diikuti belasan peserta, menyesuaikan dengan kapasitas ruangan yang digunakan. Dalam workshop yang berdurasi sekitar 2 jam, para peserta mempelajari huruf-huruf dasar dan berbagai teknik goresan, serta membuat kaligrafi sederhana di kertas khusus yang telah disiapkan.

Melalui pengalaman ini, para peserta juga mempelajari nilai-nilai yang terkandung dalam seni kaligrafi di masing-masing kebudayaan. “Kaligrafi adalah sebuah praktik spiritual, sesuatu yang membantu kita untuk membangun jati diri. Ketika kita berlatih menulis satu huruf demi satu huruf, setiap huruf ini membantu kita bertumbuh dari dalam,” tutur Noman Baig, seorang pengajar dari Habib University Pakistan yang menjadi narasumber dalam sesi diskusi.

Menurut Noman, lewat kaligrafi para peserta diajak untuk mengapresiasi keindahan dan merayakan nilai-nilai kemanusiaan. Hal senada diungkapkan Mansheng Wang, yang dalam kelasnya memaparkan bagaimana kaligrafi mampu menggambarkan keindahan alam seperti halnya dengan lukisan. “Kaligrafi dan lukisan berada dalam rumpun yang sama. Dulu orang memahami bahwa kaligrafi adalah seperti lukisan yang banyak terinspirasi dari alam,” ucapnya.

Kim Jang Hyun mengatakan kaligrafi tidak hanya untuk menawarkan keindahan karya ukir dan gambar sapuan kanvas namun memberikan pesan tentang generasi muda tentang spirit kebahagiaan dan sejarah masa silam. Saat ini seni kaligrafi Korea dimanfaatkan untuk komunikasi media digital untuk mempromosikan sebuah sampul film.

Wahono simbah, pegiat kaligrafi jawa menyampaikan kaligrafi Jawa selalu menggunakan aksara jawa yakni aksara murda, aksara swara dan aksara rekan. Umumnya karya kaligrafi jawa memberikan pesan tentang hubungan antara semesta, tuhan dan manusia sehingga pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Namun di era modern sekarang ini kaligrafi jawa memberikan pesan tentang kebahagiaan, keindahan, dan kebaikan. “Semua berangkat dari falsafah Jawa, Memayu Hayuning Bawono mengingatkan kita untuk selalu menjaga bumi selalu tetap indah dan lestari. Sebab semua orang adalah pemimpin untuk menjaga bumi ini dengan baik,” katanya.

Seperti diketahui, workshop kaligrafi yang bertajuk Of Divine Eloquence: Intertwined Conversation in The Language of Islamic, Chinese, Javanese and Korean Calligraphies menjadi salah satu bagian dari kegiatan AAS-in-Asia Conference yang berlangsung pada tanggal 9-11 Juli yang mengumpulkan akademisi dari berbagai negara di dunia yang menekuni kajian-kajian tentang Asia. Selain kelas kaligrafi, sebelumnya juga diselenggarakan pelatihan gamelan. Sesi-sesi khusus ini diselenggarakan untuk menghadirkan pengalaman yang unik bagi para akademisi.

Penulis : Gloria

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Seniman Kaligrafi Internasional Ajarkan Seni Menulis Kaligrafi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/seniman-kaligrafi-internasional-ajarkan-seni-menulis-kaligrafi/feed/ 0
Belasan Lukisan Mural Karya Seniman Grafiti Dipamerkan di Konferensi Internasional AAS in Asia https://ugm.ac.id/id/berita/belasan-lukisan-mural-karya-seniman-grafiti-dipamerkan-di-konferensi-internasional-aas-in-asia/ https://ugm.ac.id/id/berita/belasan-lukisan-mural-karya-seniman-grafiti-dipamerkan-di-konferensi-internasional-aas-in-asia/#respond Wed, 10 Jul 2024 08:24:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65976 Sejumlah 16 lukisan mural digambar oleh para seniman grafiti dari Yogyakarta ditampilkan di Halaman Gedung Margono Djojohadikusumo, Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Gadjah Mada, Selasa (9/7) lalu. Pameran lukisan mural ini merupakan kegiatan dari workshop grafiti dari salah satu bagian dari rangkaian side event Associate of Asia (AAS)-in-Asia Conference, yang berlangsung 9-11 Juli 2024. Fira, salah […]

Artikel Belasan Lukisan Mural Karya Seniman Grafiti Dipamerkan di Konferensi Internasional AAS in Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sejumlah 16 lukisan mural digambar oleh para seniman grafiti dari Yogyakarta ditampilkan di Halaman Gedung Margono Djojohadikusumo, Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Gadjah Mada, Selasa (9/7) lalu. Pameran lukisan mural ini merupakan kegiatan dari workshop grafiti dari salah satu bagian dari rangkaian side event Associate of Asia (AAS)-in-Asia Conference, yang berlangsung 9-11 Juli 2024.

Fira, salah satu Penanggung Jawab acara workshop grafiti,  mengatakan kegiatan workshop grafiti ini merupakan bagian dari riset besar dari peneliti studi Asia dari Universitas Victoria, Australia, Prof. Richard Fox yang bernama Gegayuhan Project. “Projek ini meneliti aspirasi manusia melalui budaya pop, yang salah satunya ialah street art dan grafiti di Jogja,” kata Fira selaku asisten Prof Richard Fox ini.

Melalui projek ini, ujarnya, digandengnya para para seniman street art dan grafiti dalam konferensi AAS in Asia ini tidak hanya untuk mendapatkan perspektif dari mereka dari seni grafiti, namun juga sebagai bagian dari hasil diskusi panjang dengan pemerhati seni lukisan mural. Menurutnya, tidaklah etis apabila membahas tentang komunitas tersebut namun tidak menghadirkan mereka yang terlibat di dalamnya secara langsung. “Jadi, tidak cuma kita dapat perspektifnya mereka, kita benar-benar belajar dengan mereka dan belajar bersama mereka,” jelasnya.

Ia pun menekankan bahwa mereka bukanlah sebuah objek penelitian, melainkan partisipan, dan semua pihak yang terlibat turut serta berpartisipasi untuk mempelajari lebih lanjut terkait komunitas ini. Tak hanya itu, kemudian secara lebih lanjut dalam panel yang disampaikan, para seniman-seniman ini berbicara mengenai diri mereka dan kontribusi mereka dalam komunitasnya dengan berbagai jalur, seperti akademik, penelitian, bahkan dengan bergabung dengan peserta dari internasional. “Dibahas juga bagaimana seni grafiti ini bisa masuk ke ruang pameran, kemudian dipandang setara bahkan sebagai bagian yang unik dari seni rupa,” katanya.

Dikatakan Fira, seni grafiti bisa bertahan dan berkembang karena hubungan pertemanan yang menyatukan antar seniman. “Semua dilakukan bersama dalam kegiatan menggambar bersama, tanpa  memperdulikan siapa atau dari mana asalnya,” ujarnya.

Nick, salah satu seniman yang berpartisipasi dalam acara ini ikut menceritakan karya yang ia buat merupakan gambar dari namanya. Ia ingin menunjukan bahwa bentuk dari letter atau tulisan dalam grafiti itu bisa beraneka ragam. “Ya cuma mau nunjukin aja kalo letter atau tulisan grafiti itu kan bentuknya beda-beda ini, salah satu yang beda juga. Kalau bisa dilihat disini kan banyak kan macam-macamnya,” katanya.

Ia mengapresiasi pihak penyelenggara yang au melibatkan para seniman di salah satu rangkaian kegiatan konferensi internasional ini. “Sangat jarang grafiti masuk dalam ranah yang lebih serius seperti ke dalam konferensi seperti ini,”pungkasnya.

Penulis: Leony

Editor: Gusti Grehenson

Artikel Belasan Lukisan Mural Karya Seniman Grafiti Dipamerkan di Konferensi Internasional AAS in Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/belasan-lukisan-mural-karya-seniman-grafiti-dipamerkan-di-konferensi-internasional-aas-in-asia/feed/ 0
Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/ https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/#respond Wed, 10 Jul 2024 08:21:39 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65980 Puluhan peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara terlihat memainkan gamelan di selasar Fakultas Filsafat UGM, Selasa (9/7). Dengan antusias mereka menabuh kendhang, saron, bonang, dan gong mengikuti arahan sang pelatih. Mereka adalah para peserta Konferensi AAS-in-Asia 2024, konferensi yang diselenggarakan Association for Asian Studies bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada. Konferensi AAS-in-Asia yang berlangsung […]

Artikel Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Puluhan peneliti, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara terlihat memainkan gamelan di selasar Fakultas Filsafat UGM, Selasa (9/7). Dengan antusias mereka menabuh kendhang, saron, bonang, dan gong mengikuti arahan sang pelatih. Mereka adalah para peserta Konferensi AAS-in-Asia 2024, konferensi yang diselenggarakan Association for Asian Studies bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada.

Konferensi AAS-in-Asia yang berlangsung pada tanggal 9-11 Juli mendatang menjadi wadah bagi para akademisi yang menekuni kajian-kajian tentang Asia untuk bertukar pikiran dan membangun koneksi. Lokakarya Gamelan sendiri menjadi salah satu agenda khusus dari Konferensi AAS-in-Asia, yang bertujuan untuk menghadirkan pengalaman yang unik dan berharga bagi para akademisi dunia.

“Ini adalah kali pertama saya memainkan gamelan, dan rasanya sangat menyenangkan. Saya mendapat pengajar yang sangat baik sehingga bisa langsung mengikuti, dan saya jadi tertarik untuk belajar lagi di kesempatan yang lain,” tutur Mark Iñigo Tallara, salah satu peserta dari De La Salle University Filipina.

Pelatihan gamelan ini digelar dalam dua sesi. Sesi pertama yang dimulai pada pukul 10.00 WIB diikuti 16 peserta dengan memainkan lagu Lancaran Gugur Gunung, sedangkan sesi kedua pada pukul 13.30 WIB diikuti lebih dari 20 peserta dengan memainkan lagu Suwe Ora Jamu. Jumlah alat musik yang terbatas, membuat para peserta harus dibagi menjadi dua sesi dan bergiliran memainkan alat musik yang tersedia.

Sama halnya dengan Mark, bagi kebanyakan peserta, ini merupakan pengalaman pertama mereka memainkan alat musik gamelan. Namun ada juga sejumlah peserta yang pernah belajar gamelan dan tembang Jawa sebelumnya. Mereka pun tergabung dalam kelompok karawitan, bahkan menjadi pengajar gamelan di negara mereka masing-masing.

Salah satu peserta yang cukup menarik perhatian dalam pelatihan ini adalah Ilaria Meloni, akademisi dari La Sapienza University of Rome Italia yang dengan lancar menyanyikan tembang berbarengan dengan iringan gamelan. Ia mempelajari gamelan dan tembang Jawa saat menjalani studi di Institut Seni Yogyakarta beberapa tahun lalu, dan hingga saat ini masih aktif menekuni kesenian tersebut di berbagai kesempatan.

“Saya masih sering bermain gamelan setiap saya ada kesempatan untuk datang ke Indonesia. Senang juga melihat rekan-rekan dari berbagai negara mendapat kesempatan untuk belajar gamelan. Meski awalnya agak takut karena belum mengenal alat musiknya, tetapi setelah belajar jadi bisa menikmati,” ucapnya.

Rona Utami, S.Fil., M.A. selaku panitia penyelenggara mengatakan salah satu fokus kegiatan Konferensi AAS-in Asia adalah untuk menghadirkan pengalaman yang menyenangkan selama mereka berada di Indonesia. “Kebanyakan dari mereka juga sudah tahu tentang Indonesia, sehingga banyak juga yang kemudian tertarik untuk mencoba salah satu seni tradisional Indonesia yaitu gamelan,” terang Rona.

Selain pelatihan gamelan, di Fakultas Filsafat juga akan diselenggarakan Lokakarya Kaligrafi Jawa, Arab, China, dan Korea pada Rabu (10/7) mendatang atau pada hari kedua penyelenggaraan Konferensi AAS-in-Asia. Lokakarya yang diisi dengan sesi diskusi dan pelatihan ini akan menghadirkan narasumber dan praktisi kaligrafi dari berbagai negara, dan dapat diikuti oleh para peserta konferensi.

Reportase: Humas Fakultas Filsafat UGM

Editor: Triya Andriyani

Artikel Akademisi Berbagai Negara Belajar Gamelan di Fakultas Filsafat UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/akademisi-berbagai-negara-belajar-gamelan-di-fakultas-filsafat-ugm/feed/ 0
Produksi dan Distribusi Pengetahuan Soal Asia Perlu Didorong ke Tingkat Global https://ugm.ac.id/id/berita/produksi-dan-distribusi-pengetahuan-soal-asia-perlu-didorong-ke-tingkat-global/ https://ugm.ac.id/id/berita/produksi-dan-distribusi-pengetahuan-soal-asia-perlu-didorong-ke-tingkat-global/#respond Wed, 10 Jul 2024 03:31:22 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65967 Benua Asia sejak dahulu telah menjadi lalu lintas global dalam pergerakan manusia, material, seni, dan ide. Namun sejak abad terakhir, kawasan Asia semakin menonjol dan memberikan pengaruh signifikan pada perubahan global. Dimulai dari pengaruh politik dan ekonomi kawasan Asia Tenggara, inisiatif Jalur Sutra Baru Tiongkok, dampak industri otomotif Jepang, hingga ledakan K-pop, dan revolusi teknologi […]

Artikel Produksi dan Distribusi Pengetahuan Soal Asia Perlu Didorong ke Tingkat Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Benua Asia sejak dahulu telah menjadi lalu lintas global dalam pergerakan manusia, material, seni, dan ide. Namun sejak abad terakhir, kawasan Asia semakin menonjol dan memberikan pengaruh signifikan pada perubahan global. Dimulai dari pengaruh politik dan ekonomi kawasan Asia Tenggara, inisiatif Jalur Sutra Baru Tiongkok, dampak industri otomotif Jepang, hingga ledakan K-pop, dan revolusi teknologi informasi di India. Pengaruh yang besar pada dunia global tersebut perlu disertai dengan produksi dan distribusi pengetahuan tentang Asia, serta pentingnya komunikasi ilmiah. Hal itu dikemukakan oleh President of the Association for Asian Studies (AAS), Prof. Hyaeweol Choi, dalam konferensi internasional AAS in Asia di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Selasa sore (9/7).

Selain itu, kata Choi, diaspora Asia di Amerika Utara dan Selatan, Oseania, dan Asia menjadi semakin menonjol. Meski Asia, Oseania, Afrika, dan Eropa juga merupakan saluran penting keuangan global, seni, pendidikan, dan pangan namun para diaspora dari benua lain juga bermigrasi ke Asia, menciptakan dinamisme baru di kawasan ini. “Ketika kita membahas fenomena ini, Asia bukanlah sebuah entitas yang homogen, tapi selalu sangat beragam, kompleks, dan cair,” katanya.

Meski begitu, kawasan Asia juga menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis demokrasi, dampaknya tatanan global neoliberalisme, kemajuan teknologi digital yang afirmatif namun juga problematis, termasuk kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan yang semakin meningkat.

Berbagai peristiwa bersejarah ini menurutnya memerlukan pendekatan-pendekatan inovatif yang memberikan pencerahan baru terhadap Asia dan dunia. Sebagai ide, metode, dan kerangka. Asia Global bukanlah pendekatan tunggal dan terpadu. Sebaliknya, ini adalah hal yang gesit dan terbuka. “Kita ingin mengeksplorasi cara-cara yang saling berhubungan di mana sejarah, budaya, dan masyarakat Asia telah dibentuk dan juga telah membentuk dunia. Elemen yang saling berhubungan membawa Asia ke dalam dialog yang sangat produktif dengan keahlian regional yang lebih luas, perdamaian, dan kerangka teoritis, seperti modernitas, kolonialisme, migrasi, lingkungan hidup, dan banyak lainnya. Asia Global sebagai sebuah konsep menghargai perspektif komparatif,” paparnya.

Yang tidak kalah penting menurut Choi adalah peran keragaman bahasa dalam kaitannya dengan produksi dan penyebaran pengetahuan tentang Asia. Sebab, bahasa memainkan peran penting dalam segala hal yang kita lakukan. Namun, tidak semua bahasa dihargai dan diperlakukan sama. Menyadari betapa berharganya keragaman bahasa merupakan langkah penting dalam memikirkan kembali dunia global produksi dan distribusi pengetahuan tentang Asia, serta pentingnya komunikasi ilmiah.  “Pengetahuan mendalam tentang suatu tempat, masyarakat, dan negara telah menjadi kekuatan mendasar studi Asia di masa depan. Berdasarkan kekuatan dasar ini, kita berada pada titik strategis untuk mendorong inovasi pendekatan untuk menerangi interkoneksi historis dan kontemporer serta pluralitas dinamis,” ujarnya.

Iriana FDJ Ximenes, mahasiswa PhD Flinders University yang menjadi salah satu peserta dan pembicara pada panel tentang Dynamics of Labor Migration in Southeast Asia, menyampaikan kegembiraannya mengikuti konferensi AAS in Asia. Bahkan Iriana terkesan dengan tarian yang disajikan oleh Sastra Oebah pada acara pembukaan AAS in Asia di UGM. “Senang sekali. Saya sangat terkesan dengan tariannya. Ini pertama kalinya saya melihat tarian budaya tradisional yang bagus. Ada banyak disiplin ilmu, dan saya tertarik untuk melihat apa yang akan disajikan oleh para pembicara,” kata Iriana.

Megan Hewitt, perwakilan American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) yang menjadi salah satu panitia penyelenggara AAS in Asia bersama UGM dan AAS, menyatakan pihaknya sangat merekomendasikan UGM sebagai universitas penyelenggara AAS pertama di Asia karena reputasi UGM yang baik.  “AIFIS sangat merekomendasikan UGM karena reputasinya yang baik sekali. Akademisi asing juga sangat disambut di Jogja,” kata Megan.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel Produksi dan Distribusi Pengetahuan Soal Asia Perlu Didorong ke Tingkat Global pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/produksi-dan-distribusi-pengetahuan-soal-asia-perlu-didorong-ke-tingkat-global/feed/ 0
Dihadiri Ribuan Peserta dari 43 Negara, Rektor UGM Buka Konferensi Internasional AAS in Asia https://ugm.ac.id/id/berita/dihadiri-ribuan-peserta-dari-43-negara-rektor-ugm-buka-konferensi-internasional-aas-in-asia/ https://ugm.ac.id/id/berita/dihadiri-ribuan-peserta-dari-43-negara-rektor-ugm-buka-konferensi-internasional-aas-in-asia/#respond Tue, 09 Jul 2024 04:26:25 +0000 https://ugm.ac.id/?p=65931 Sebanyak lebih dari 1.500 para peneliti dan akademisi yang berasal dari 43 negara mengikuti konferensi konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia yang bertajuk Global Asias: Latent Histories, Manifest Impacts yang berlangsung pada 9-11 Juli mendatang di kampus UGM. Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K), Ph.D., dalam pidato sambutan pada pembukaan […]

Artikel Dihadiri Ribuan Peserta dari 43 Negara, Rektor UGM Buka Konferensi Internasional AAS in Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
Sebanyak lebih dari 1.500 para peneliti dan akademisi yang berasal dari 43 negara mengikuti konferensi konferensi international Association for Asian Studies (AAS)-in-Asia yang bertajuk Global Asias: Latent Histories, Manifest Impacts yang berlangsung pada 9-11 Juli mendatang di kampus UGM.

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG (K), Ph.D., dalam pidato sambutan pada pembukaan konferensi AAS in Asia di Graha Sabha Pramana, Selasa (9/7), mengatakan bahwa UGM merasa menjadi institusi Indonesia pertama yang menjadi tuan rumah Konferensi AAS di Asia. “Kita mengapresiasi dipilihnya UGM sebagai tuan rumah konferensi dengan tema konferensi Global Asias: Latent Histories, Manifest Impacts merupakan pengingat yang kuat akan peran UGM di Indonesia, Asia, dan sekitarnya,” katanya.

Menurut Rektor, keberadaan UGM berlokasi di bagian strategis Asia sangat diuntungkan karena Asia adalah rumah bagi peradaban paling awal di dunia. Budaya asli mereka merupakan sumber dari banyak praktik yang telah menjadi bagian integral masyarakat selama berabad-abad, seperti pertanian, perencanaan kota, dan agama. Geografi sosial dan politik benua ini terus mempengaruhi seluruh dunia.

Di sisi lain, kata Rektor, kekayaan budaya Asia dan sumber daya alam yang melimpah telah menarik berbagai kepentingan dan menempatkan Asia di jantung konflik global, namun juga menjadi tempat di mana masyarakat belajar tentang pembangunan perdamaian dan ketahanan.

Sebagai salah satu kawasan berkembang paling dinamis di dunia, sejarah mencatat bahwa Asia telah menjadi tempat persaingan strategis yang ketat antar negara-negara besar. “Saat ini, persoalan kolonialisme mungkin sudah jauh tertinggal dari kita. Namun, abad kedua puluh satu telah membawa permasalahan kontemporer yang tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyang kita. Eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran demi pertumbuhan ekonomi telah membahayakan bumi” katanya.

Selain itu ,dampak perubahan iklim semakin nyata dalam bentuk suhu global dan kenaikan permukaan air laut, belum lagi erosi pantai, gelombang badai yang lebih tinggi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Ketidakseimbangan alam tersebut memicu efek bola salju pada seluruh aspek kehidupan, kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan seluruh aspek lain yang dinyatakan sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Rektor juga sempat menyinggung soal meningkatnya keunggulan politik dan ekonomi di Asia juga disertai dengan risiko konflik dan beban lingkungan. Oleh karena itu, konferensi AAS di Asia memainkan peran penting dalam menghubungkan para sarjana dengan keprihatinan bersama. Meskipun semua akademisi tidak diragukan lagi adalah tokoh terkemuka di bidangnya, namun konferensi ini menyediakan platform untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang untuk mencapai pendekatan komprehensif guna mencapai kemajuan umat manusia.

“Kami berharap suasana budaya Yogyakarta menginspirasi para peserta konferensi untuk memperkuat komitmen mereka untuk bergandengan tangan, memperkuat dampak kerja kami menuju kehidupan berkelanjutan,” ujarnya.

Kepada wartawan, President of the Association for Asian Studies (AAS), Hyaeweol Choi dari University of Iowa Amerika Serikat, menyampaikan alasan dipilihnya UGM sebagai tuan rumah karena Indonesia secara umum adalah lokasi yang sangat strategis untuk studi di Asia. Ditambah Yogyakarta adalah kota pendidikan menjadi tempat produksi dan distribusi ilmu pengetahuan baru. “Bagi saya sangat masuk akal untuk menyelenggarakan konferensi di sini, di pusat komunitas intelektual yang dinamis, jadi menurut saya ini adalah pilihan yang tepat,” katanya.

Sebagai Presiden AAS, Professor Choi menegaskan konferensi AAS in Asia merupakan sebuah wadah yang penting bagi para sarjana di Asia dan negara lain untuk bergabung bersama dalam berbagi pengetahuan terbaru dan mutakhir. Selain untuk memikirkan masa depan agar dunia yang harmonis dan hidup berdampingan secara lebih berkelanjutan seperti yang kita hadapi banyak krisis termasuk masalah lingkungan demokrasi serta kesenjangan sosial-ekonomi. “Jadi kita semua yang terpelajar di sini, kita semua membahas semua permasalahan kontemporer berdasarkan agenda sejarah dan kontemporer,” katanya.

Sebelum digelarnya konferensi ini, kata Choi, dirinya yang berada di komite program ikut menyeleksi proposal para panelis dan pembicara dan ia terkesan dengan hasil penelitian mutakhir. “Saya sangat terkesan dengan penelitian mutakhir yang berkualitas tinggi di bidang ini. Saya pikir dalam banyak hal, struktur akademis yang berpusat di Amerika Utara akan berubah karena Asia telah menjadi komunitas intelektual yang sedang berkembang namun juga sangat dinamis. Menurut saya, konferensi ini akan menjadi salah satu contoh mengapa kami mengadakan konferensi ini di Asia, agar konferensi ini lebih mudah diakses oleh para sarjana di Asia,” paparnya.

Sementra Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro selaku ketua penyelenggara menuturkan bahwa selama 3 hari para peneliti dan akademisi yang terlibat dalam konferensi ini akan berbicara tentang isu keimigrasian, lingkungan hidup, mobilitas, dan perbatasan yang merupakan isu-isu terkini di bidang sosial humaniora. “Termasuk isu-isu soal disabilitas dan inklusivitas yang sebenarnya relevan dengan apa yang dilakukan UGM sekarang ini,” katanya.

Seperti diketahui, Sebanyak lebih dari 1.500 akademisi, mahasiswa, seniman, dan praktisi dari 43 negara akan mengikuti konferensi internasional  ini. Peserta dari keempat  puluh tiga negara tersebut diantaranya berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Kanada, Jerman, Belanda, Inggris, Korea Selatan, dan Australia.

Penulis: Gusti Grehenson

Foto: Firsto

Artikel Dihadiri Ribuan Peserta dari 43 Negara, Rektor UGM Buka Konferensi Internasional AAS in Asia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

]]>
https://ugm.ac.id/id/berita/dihadiri-ribuan-peserta-dari-43-negara-rektor-ugm-buka-konferensi-internasional-aas-in-asia/feed/ 0