Artikel UGM Raih Penghargaan Universitas Terproduktif dalam Publikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Di kategori penghargaan Institusi Universitas Terproduktif tersebut, UGM disebutkan menghasilkan 43 publikasi yang dimuat di The Conversation Indonesia, disusul Universitas Indonesia (UI) sebanyak 41 publikasi dan Universitas Islam Indonesia (UII) sebanyak 38 publikasi.
Direktur Penelitian UGM Prof. Mirwan Ushada menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang telah diberikan oleh The Conversation Indonesia. Penghargaan ini, kata Mirwan, makin melecut semangat dari para peneliti di lingkungan UGM dalam menyebarkan pengetahuan baru dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. “UGM sebagai institusi pendidikan tinggi terus berkomitmen membangun collective intelligence keilmuan dari hulu hingga hilir, “ katanya.
Menurutnya setiap publikasi yang disampaikan oleh kalangan peneliti perguruan tinggi bisa menjadi alat bantu dalam memvalidasi dari berbagai kesimpangsiuran informasi dan data yang beredar di media sosial. “Selain sebagai bahan refleksi dari tulisan para peneliti namun juga sebagai alat bantu dalam memvalidasi data dan fakta,” katanya.
Sebanyak 13 kategori penghargaan yang diberikan di malam penghargaan TCID, selain berhasil meraih penghargaan Universitas terproduktif, salah satu asisten peneliti di Pusat Kedokteran Tropis UGM, Ronny Soviandhi, berhasil meraih penghargaan sebagai penulis pilihan editor bidang kesehatan.
Ronny mengaku senang dan bangga, sekaligus bersyukur mendapat penghargaan sebagai penulis pilihan editor kesehatan. Penghargaan ini menurutnya makin memotivasi dirinya untuk terus bersemangat menyampaikan informasi terkait penyakit yang semakin dilupakan oleh banyak orang, yakni penyakit Kusta, TBC dan HIV. “Kita ingin terus menyebarkan pengetahuan dengan gap masyarakat yang belum banyak terliterasi. Pengetahuan jadi kunci untuk memberdayakan komunitas sekaligus menjadi rujukan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam penghargaan TCID kali ini, ada 700 artikel dari lebih dari 600 peneliti yang berasal dari perguruan tinggi maupun dari kementerian dan lembaga. Pemberian penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi kepada peneliti yang mempublikasikan artikel dalam membangun peningkatan literasi pengetahuan di masyarakat.
Penulis : Gusti Grehenson
Artikel UGM Raih Penghargaan Universitas Terproduktif dalam Publikasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Mahasiswa UGM Raih Juara di Huawei Developer Competition Asia Pacific pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Tim Hi-Flex sendiri terdiri atas Aufa Nasywa Rahman, Ahmad Zaki Akmal, dan Petrus Aria Chevalier Rambing (Teknologi Informasi 2021) bersama Larasati Kinanti dan Laurencia Otniel Sukamto (Teknik Industri 2021). Dalam keterangan kepada wartawan, Minggu (27/1), Aufa mengatakan tim Hi-Flex merancang inovasi berdasarkan ide yang mereka cetuskan dan dalami sendiri. “Semua pembuatan dan pengembangan solusi (build solution) kami lakukan di DTETI,” ujarnya.
Di kompetisi ini, setiap melakukan pengembang teknologi informasi komunikasi (ICT) untuk menemukan solusi bagi permasalahan nyata dengan menggunakan teknologi cloud dari Huawei. “Seluruh tim berpartisipasi terbagi atas kategori Enterprise Track dan Student Track. Kedua kategori tersebut diperoleh masing-masing enam pemenang setelah melalui beberapa tahap seleksi, mulai dari pengumpulan proposal, presentasi demo solusi, hingga berkompetisi di babak final,” katanya.
Huawei Developer Competition Asia Pacific kali ini, dua dari enam tim kategori Student Track merupakan kontingen dari UGM. Selain Hi-Flex, tim lainnya adalah cloudia crew yang terdiri atas mahasiswa Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM. Tim ini berhasil menyabet Second Runner-up.
Reportase : Rasya Swarnasta/Humas DTETI
Penulis : Tiefany
Dokumentasi : Huawei
Artikel Mahasiswa UGM Raih Juara di Huawei Developer Competition Asia Pacific pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Teliti Bahan Kemasan Makanan dari Kulit Rambutan, Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>ICCMME 2025 diselenggarakan oleh South Asia Institute of Science and Engineering (SAISE), yang merupakan hasil kolaborasi antara Yonsei University Korea Selatan dan Sichuan University China. Saat itu, Arum mempresentasikan makalahnya yang berjudul ‘Pectin and Chitosan Biofilm Composites Enriched with Rambutan Peel Anthocyanins for Colorimetric Intelligent Food Packaging’ yang merupakan bagian dari studi disertasinya. Penelitian yang ia lakukan mengenai pengembangan intelligent food packaging dengan memanfaatkan antosianin dari kulit rambutan sebagai pewarna sensitif dalam sistem matriks biopolimer pektin dan kitosan. Penelitian ini bertujuan mempelajari sifat fisikokimia dari biofilm cerdas berdasarkan urutan pencampuran komponen utamanya. “Inovasi ini diharapkan bisa menjadi solusi ramah lingkungan untuk kemasan makanan, sekaligus mendukung keamanan pangan melalui indikator perubahan kualitas produk,” jelasnya.
ICCMME 2025 terdiri dari berbagai sesi, mulai dari pemaparan keynote speaker seperti Prof. Ikuo Taniguchi (Kyoto Institute of Technology, Japan) dan Prof. Ki Bong Lee (Korea University, South Korea), hingga oral presentations peserta yang dibagi ke dalam enam kategori. Arum berpartisipasi dalam sesi ‘Materials Chemistry and Chemical Engineering’. Bahkan, ia mendapat masukan dari Prof. Ikuo Taniguchi untuk meningkatkan tensile strength biofilm dalam penelitian lanjutannya. “Akhirnya setelah mampu menjawab pertanyaan saat sesi presentasi, saya diumumkan sebagai penerima penghargaan atas presentasi terbaik,” kenangnya penuh haru.
Sebagai bagian dari konferensi, Arum juga berkesempatan mengikuti kunjungan laboratorium dan campus tour di Fakultas Teknik Yonsei University. Makalah yang ia presentasikan akan diterbitkan di Key Engineering Materials Journal (Scopus Q4), yang menjadi salah satu persyaratan kelulusan program doktoralnya. Melalui pengembangan kemasan berbasis biofilm sebagai upaya mendorong inovasi teknologi ramah lingkungan ini, penelitian yang Arum lakukan tentunya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kontributor : Luqlun Arghani/Humas FTP
Penulis. : Triya Andriyani
Artikel Teliti Bahan Kemasan Makanan dari Kulit Rambutan, Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Konsisten Riset Planet Berkelanjutan, Fakultas Geografi UGM Raih Peringkat 1 di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Dari hasil pemeringkatan tersebut, untuk bidang geografi dan Kartografi, Fakultas Geografi UGM berada di peringkat 1, disusul IPB dan UI di peringkat 2 dan 3. Selanjutnya untuk peringkat 4 hingga 10, yakni ITB, Undip, Universitas Brawijaya, ITS, Universitas Syiah Kuala, Universitas Padjajaran dan Universitas Sebelas Maret.
Menanggapi hasil capaian tersebut, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc selaku Dekan Fakultas Geografi UGM mengungkapkan rasa syukur, senang dan bangganya. Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa Fakultas Geografi telah melakukan perbaikan secara berkelanjutan di banyak aspek. Namun pencapaian tersebut merupakan usaha kolektif dari seluruh kolega dari dosen, tendik, mahasiswa, alumni, dan juga mitra. “Kami sangat bersyukur menjadi institusi yang sudah menjadi referensi di tingkat nasional,” ujarnya, Kamis (23/1).
Selain itu, kata Danang, Fakultas Geografi pun terus mendorong para dosennya untuk melakukan research collaboration untuk meningkatkan produktivitas dan juga kualitas research. Danang menekankan bahwa penting untuk membangun research environment yang baik untuk mencapai hal tersebut.
Ia pun menambahkan bawa capaian ini, tak dianggapnya sebagai tujuan hasil akhir, melainkan bonus buah hasil dari proses panjang tridarma yang sudah dilakukan oleh Fakultas Geografi kepada masyarakat dengan memberikan manfaat kepada mereka, baik pemerintah pusat, daerah, industri, maupun mitra-mitra internasional.
Ada pun fokus penelitian yang Fakultas Geografi yang telah dilakukan saat ini berfokus pada isu-isu global yang berdampak besar bagi banyak orang, dan berfokus pada sustainable planet, dengan isu-isu seperti iklim, kebencanaan, degradasi lahan, migrasi, bonus demografi, aging population, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, smart and sustainable city, village and regional, regional development, dan yang tengah marak saat ini adalah tentang artificial intelligence (AI). Danang menjelaskan, bahwa AI digunakan untuk penggunaan membantu penelitian Fakultas Geografi dengan teknologi remote sensing advance GIS (Geographic Information Systems).
Riset-riset kemudian dibagi beberapa kelompok penelitian yang disesuaikan dengan interest para dosen, serta Fakultas Geografi gunakan juga digunakan untuk memperkaya bahan ajar yang ada di perkuliahan dengan memasukkan banyak use case terkait isu-isu terakhir tersebut. Danang menjelaskan bahwa hal ini dilakukan untuk peningkatan keterkaitan bahan ajar dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, kurikulum itu harus dinamis dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Bahan ajar akan selalu valid, selalu up to date yang relevan ketika kita banyak memasukkan banyak use case dengan isu-isu terkini. Jadi konsep yang dikembangkan kelas divalidasi dengan data research yang dilakukan oleh dosen,” jelasnya
Adanya capian ini, Danang terus berupaya agar Fakultas Geografi dapat terus meningkatkan kualitasnya dari apa yang sudah tercapai saat ini dengan melaksanakan international research network (IRN) untuk memperdalam relasi dengan mitra-mitra terkait baik secara nasional maupun internasional. Selain itu, ia pun menekankan pentingnya memperbaiki riset yang sudah dilakukan serta publikasi-publikasi yang sudah ada. Menurutnya, reputasi sebuah lembaga tinggi ditentukan oleh bagaimana besar dampak dari penelitian yang dilakukan. “Kami terus memperbaiki kualitas riset, sehingga impact-nya besar ke masyarakat dan industri,” ucapnya.
Tak hanya itu, ia pun menyinggung bahwa capaian ini juga merupakan hasil dari peran para alumni yang terus terikat dengan Fakultas Geografi, bahkan menurutnya hal ini merupakan kekuatan besar yang mereka miliki. Melalui alumni, Fakultas Geografi bekerja sama dengan tempat mereka bernaung, serta hal ini pun membuka kesempatan lebar untuk mendukung para mahasiswa yang ingin melaksanakan magang di sana.
Fakultas Geografi pun terus mendukung dan mendorong para alumni mereka untuk melanjutkan studi baik di dalam negeri maupun luar negeri, melalui pemberian rekomendasi untuk pengajuan beasiswa-beasiswa dari berbagai pihak.
Selanjutnya, ia pun berharap bahwa publik dapat memberikan masukkan kepada Fakultas Geografi agar dapat terus berkembang jadi lebih baik dari sebelumnya. Serta Fakultas Geografi dapat lebih berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat sesuai dengan kompetensi fakultas. “Kami ingin membangun kerja sama seluas-luasnya dengan mitra-mitra kita yang berada di luar institusi,” ujarnya.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
Artikel Konsisten Riset Planet Berkelanjutan, Fakultas Geografi UGM Raih Peringkat 1 di Indonesia pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Tim Mahasiswa FEB UGM Juara 3 Kompetisi Marketeers Innovation Challenge pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Alifa Talitha Tsaqif Ramadhani menerangkan dalam kompetisi tersebut mereka bersaing dengan 113 tim dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, dan seluruh tim diminta untuk mengirimkan berkas penyelesaian studi kasus dalam bentuk proposal. Selanjutnya, panitia memilih 10 tim terbaik untuk maju dan merepresentasikan proposalnya di babak semi final yang digelar secara daring. Dari tahapan seleksi ini terpilih tiga tim terbaik untuk berkompetisi di babak final yang diselenggarakan secara luring. “Tentunya sangat bersyukur dan senang bisa sampai titik ini,” ujar Alifa, Kamis (16/1).
Alifah mensyukuri atas raihan ini setelah brainstorming yang cukup panjang dan kerja keras yang memerlukan waktu tidak sedikit bersama teman-teman tim. Ia bersama tim sungguh bersyukur atas keberhasilan ini, terlebih karena kompetisi ini merupakan business case yang cukup prestisius di tingkat nasional yang diikuti oleh 114 tim hebat yang memiliki ide-ide luar biasa.
Dalam kompetisi ini, kata Alifah, tim diminta merancang strategi yang dapat memperkuat posisi Jiniso sebagai merek jeans unisex terkemuka di Indonesia. Fokus utama adalah menciptakan pengalaman pelanggan yang terintegrasi di berbagai kanal penjualan, baik online maupun offline, serta meningkatkan brand awareness terhadap transformasi Jiniso sebagai merek unisex. Selain itu, tim juga diminta merancang kampanye branding kreatif yang mampu menjawab kebutuhan konsumen dan meningkatkan daya saing Jiniso di pasar fashion lokal. “Pendekatan omnichannel yang diusulkan harus mampu menjawab kebutuhan konsumen dengan memberikan kemudahan dalam mengakses produk, informasi, serta layanan, dimanapun dan kapanpun,” terangnya.
Rokhima Rostiani, S.E., M.Mgt. selaku dosen pendamping menambahkan perjalanan tim menuju final tidaklah mudah. Disamping harus menghasilkan solusi inovatif yang relevan, tim Kaphibara juga dihadapkan pada tantangan waktu yang bertabrakan dengan jadwal UAS. “Bersyukur tim berhasil melewati hambatan tersebut dan memperoleh hasil yang membanggakan. Prestasi ini juga tidak lepas dari peran fakultas, yang memberikan fasilitas pendukung untuk presentasi final secara luring serta mentoring dari dosen,” katanya.
Rohkima berharap Tim Kaphibara FEB UGM terus bisa berkontribusi dan memberikan dampak positif dalam menciptakan solusi kreatif dan inovatif bagi industri di Indonesia, baik dalam kompetisi maupun di luar kompetisi. Prestasi inipun diharapkan menjadi pintu gerbang bagi berbagai peluang baru dan membawa ke prestasi-prestasi lain yang lebih baik.
Reportase: Orie Priscylla Mapeda Lumalan & Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB
Penulis : Agung Nugroho
Artikel Tim Mahasiswa FEB UGM Juara 3 Kompetisi Marketeers Innovation Challenge pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 di Indonesia versi EduRank pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Selain UGM, urutan kedua ditempati oleh Universitas Airlangga dan urutan ketiga ditempati oleh Universitas Indonesia. Selanjutnya untuk peringkat keempat hingga sembilan diraih oleh Universitas Padjadjaran, ITB, Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Surabaya dan Universitas Sumatera Utara.
Menurut Prof. Dr. Satibi, M.Si., Apt., keberhasilan Fakultas Farmasi UGM menjadi fakultas farmasi terbaik di INdonesia tidak lepas dari hasil penelitian dan publikasi serta reputasi alumni. Sebab berdasarkan indeks EduRank disebutkan Fakultas farmasi UGM memiliki 46.372 publikasi akademis dan 144.158 kutipan dan dampak dari 94 reputasi alumni yang terkemuka.
“Bersyukur ya, Fakultas Farmasi UGM ini secara nasional masuk peringkat pertama. Saya kira ini merupakan hasil dari kerja sama Sivitas Akademika Fakultas Farmasi UGM, baik itu dosen, mahasiswa, dan juga Tendik serta alumni yang support luar biasa untuk kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi,” kata Satibi dalam keterangan kepada wartawan, Senin (13/1).
Satibi menyebutkan, sepanjang 2024 lalu jenis publikasi didominasi dengan original article sebanyak 78,8%, disusul review article 12,9%, conference paper 5,8% dan sisanya berupa short survey, book chapter dan editorial. Lalu pada tahun 2024 lalu, sebanyak 8 dosen dari Fakultas Farmasi berhasil menerbitkan buku dan book chapter yang signifikan dalam berbagai bidang farmasi. “Karya-karya tersebut tidak hanya memberikan referensi penting bagi mahasiswa dan peneliti, tetapi juga memperkuat posisi Fakultas Farmasi UGM sebagai institusi yang aktif dalam memproduksi pengetahuan di tingkat nasional dan internasional,” katanya.
Bagi Satibi, prestasi yang diraih oleh Fakultas Farmasi ini menjadi refleksi bagi Fakultas Farmasi untuk selalu meningkatkan mutu akademik, pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat. Capaian di bidang pendidikan dilakukan dengan perbaikan kurikulum secara berkelanjutan. “Bagaimana agar kurikulum Fakultas Farmasi ini related dengan kebutuhan pasar ya, market signal menjadi sangat penting, dan juga penguatan perkembangan teknologi, ilmu, dan teknologi,” katanya.
Ia mengibaratkan pengembangan kurikulum itu sebagai software agar lulusan memiliki kompetensi global. “Kurikulum yang dikembangkan berbasis kompetensi dan penguatan kompetensi global bagi lulusannya nanti,” ujarnya
Selain itu, pihaknya juga melakukan pemberian pelatihan dan penguatan keterampilan soft skill ke mahasiswa serta meningkatkan kolaborasi nasional maupun internasional. “Tahun ini kita akan memperkuat relasi internasional,” katanya.
Tidak hanya meningkatkan kompetensi lulusan, imbuhnya, mahasiswa juga diarahkan untuk bisa mengabdi dan membantu masyarakat yang membutuhkan seperti daerah 3T. Pasalnya belum semua apoteker tersebar secara merata di Indonesia. “Kita ingin apoteker dapat menerapkan ilmu dan berguna khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Penulis : Kezia Dwina Nathania
Editor : Gusti Grehenson
Artikel Fakultas Farmasi UGM Peringkat 1 di Indonesia versi EduRank pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Berangkat dari kecintaannya pada ilmu antropologi sejak di bangku SMA, Subandi tetap mempelajari ilmu tersebut meski ia sudah kuliah di prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada. Saat lulus dan melamar menjadi dosen, Subandi menggabungkan kedua ilmu tersebut untuk terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual.
Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menceritakan perjalanan panjang kariernya sebagai akademisi. Mengabdi sejak tahun 1986, ia menjalankan berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama di bidang penelitian. Meskipun berlatar belakang psikologi, ia memiliki ketertarikan besar terhadap antropologi dan didukung dengan kesenangannya untuk menulis. Setelah mengikuti saran dari gurunya untuk mengambil prodi Psikologi UGM dan dinyatakan lolos sebagai mahasiswa, ia tetap mengeksplorasi antropologi melalui penelitian dan kolaborasi internasional selama puluhan tahun hingga saat ini.
Kecintaannya terhadap antropologinya semakin mendalam ketika ia bekerja sama dengan antropolog luar negeri. Pada tahun 1996, ia menjadi asisten Prof. Byron Good, seorang antropolog kesehatan mental dari Harvard University. “Kolaborasi ini berlangsung lebih dari 25 tahun dan menghasilkan berbagai penelitian mendalam tentang kesehatan mental dalam perspektif budaya,” kenangnya, Sabtu (11/1).
Selain itu, Prof. Subandi juga pernah bekerja sama dengan Dr. Julia Howell dari Griffith University di Australia selama lima tahun. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan antropologi dalam riset kesehatan mentalnya, termasuk pengembangan sistem layanan kesehatan mental berbasis budaya dan spiritualitas, “Kami tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga melakukan action research sehingga penelitian kamu langsung berdampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Keberhasilan Prof. Subandi dalam menggabungkan psikologi dan antropologi membuatnya dikenal sebagai akademisi yang berfokus pada kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual. Tidak hanya itu, Subandi juga ahli dalam bidang metodologi psikologi, desain dan analisis, psikologi agama, serta psikologi kesehatan, klinis, dan konseling, “Saya selalu melihat kesehatan mental tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga dari konteks masyarakat, budaya, dan spiritualitas. Psikologi Islam dan psikologi budaya juga menjadi bagian dari fokus saya,” katanya.
Dari kerja riset internasional ini, ia membuat inovasi model rujukan balik di rumah sakit jiwa. Inovasi ini memastikan pasien dengan gangguan jiwa yang sudah selesai dirawat di rumah sakit mendapatkan pendampingan terapi lanjutan di puskesmas.
Selanjutnya, inovasi kedua yang ia kembangkan mencanangkan program “Gelimas Jiwa” di Puskesmas Kasihan II Bantul. Program ini melibatkan pelatihan kader kesehatan mental di masyarakat untuk mendampingi pasien. Bahkan, Gelimas Jiwa ini telah meraih penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Lalu inovasinya yang ketiga adalah kebijakan kesehatan mental di Kabupaten Kulon Progo. Bersama dengan Dinas Kesehatan Kulon Progo, beliau mengembangkan Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk meningkatkan layanan kesehatan mental di tingkat kabupaten. “Inovasi-inovasi ini tidak hanya berhenti pada penelitian, tetapi juga diimplementasikan langsung ke masyarakat. Hasilnya harus nyata dan ini akan terus berlanjut,” ungkap Subandi.
Atas inovasi yang sudah ia kembangkan selama puluhan tahun, mendapat penghargaan pionir akademisi melalui Anugerah Silver Academic Leader 2024 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi luar biasa beliau dalam riset, inovasi, dan pengembangan sistem kesehatan mental di Indonesia.
Menurutnya, penghargaan yang diperolehnya tak lepas dari dokumentasi yang rapi, mulai dari sertifikat, kontrak penelitian, hingga foto kegiatan. “Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua bahwa dokumentasi yang baik memudahkan kita merekap apa saja yang sudah dikerjakan. Ini membuat orang lain paham track record kita dan kita juga tidak mudah melupakan hal-hal yang telah kita lakukan,” tambahnya.
Bagi Subandi, penghargaan yang sudah diraihnya makin memotivasi dirinya untuk tetap semangat terus meneliti pengembangan terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual. “Saya memang cinta menulis dan meneliti. Bagi saya, penghargaan adalah bonus. Saya akan terus melanjutkan penelitian dan menulis buku walaupun tanpa penghargaan karena saya tidak pernah meniatkan untuk itu,” tuturnya.
Hingga saat ini, Prof. Subandi telah menulis lebih dari 20 buku dan puluhan artikel jurnal internasional. Ia juga aktif berbagi pengalaman kepada mahasiswa dan dosen muda. “Pesan saya, milikilah passion yang kuat, fokus pada satu bidang, dan kembangkan secara konsisten. Peneliti yang sukses memiliki fokus yang jelas,” katanya.
Penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga kebanggaan bagi UGM. Dedikasi Prof. Subandi dalam mengembangkan sistem kesehatan mental di Indonesia diharapkan dapat menginspirasi akademisi dan mahasiswa untuk terus berkarya serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Penulis : Bolivia
Editor : Gusti Grehenson
Artikel Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel UGM Peringkat 1 di Indonesia untuk Bidang Studi Gender Versi EduRank pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Selain mendorong publikasi riset, sivitas akademika UGM dari kalangan perempuan, memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam mendapatkan dukungan dan fasilitas kemahasiswaan selama masa studi di UGM. Salah satunya adalah sosialisasi penanganan kekerasan seksual bagi mahasiswa sebelum penugasan dan pemberangkatan KKN PPM. Bahkan UGM juga menyediakan dukungan apa pun yang dibutuhkan mahasiswa untuk menghadiri acara-acara yang membutuhkan advokasi keterwakilan perempuan.
Keberhasilan UGM dalam mendorong studi soal gender dan penguatan peran perempuan dalam pendidikan dan pembelajaran berdasarkan penilaian dari lembaga pemeringkatan EduRank menempatkan UGM menempati peringkat pertama pada tingkat nasional untuk kajian Studi Gender. Sedangkan untuk peringkat internasional berada pada tingkat 612 dunia. Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan tahun 2024 silam ini, UGM masuk dalam daftar 49 universitas dengan kajian Studi Gender terbaik secara nasional dan internasional.
Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas (SPMRU) UGM, Prof. Dr. Indra Wijaya Kusuma, M.B.A., menyambut baik dari hasil pemeringkatan EduRank dari bidang kajian studi gender. Menurutnya, penilaian tersebut menggunakan indikator dari kualitas lulusan dan kinerja penelitian. “Indikator ini mencerminkan jumlah gabungan dari yang dimiliki oleh lulusan universitas sebesar 10 persen dan 45% dari sisi Kinerja penelitian,” katanya, Rabu (8/1).
Lembaga ini, kata Indra, menggunakan basis data OpenAlex sebagai proksi untuk mengambil publikasi ilmiah dan hasil sitasi. Adapun penilaian indikator keunggulan non-akademik sebesar 45 persen.
Peneliti Pusat Kajian Hukum, Gender dan Sosial dari Fakultas Hukum UGM, Dr. Sri Wiyanti Eddyono menuturkan UGM banyak melakukan kajian-kajian penelitian soal gender yang berdampak pada hasil publikasi, kurikulum, dan memberikan dampak ke masyarakat melalui advokasi kebijakan. “Publikasi-publikasi yang tersitasi artinya memang UGM mendorong adanya gender mainstreaming dan banyak masuk ke fakultas-fakultas yang isu gender,” katanya.
Kajian-kajian soal hukum, gender dan sosial humaniora perlu mendapat dukungan dari praktik-praktik baik dan publikasi yang bermanfaat untuk masyarakat. Disamping UGM juga memiliki perhatian khusus pada isu pencegahan dan perlindungan kekerasan seksual. “Praktik baik ini adalah salah satu indikator yang memberi dampak dari inisiatif pionir dalam pencegahan seksual di kampus,”paparnya.
Penulis : Kezia Dwina Nathania
Editor : Gusti Grehenson
Artikel UGM Peringkat 1 di Indonesia untuk Bidang Studi Gender Versi EduRank pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Ali Alexander, Mahasiswa UGM Berhasil Raih 41 Prestasi di Berbagai Kompetisi Keuangan dan Bisnis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Dikenal sebagai mahasiswa yang kuat dalam memegang prinsip. Ia pantang menyerah, dan selalu gigih dalam belajar. Keberhasilannya meraih prestasi dalam berbagai ajang kompetisi sebuah perjalanan yang tidak mudah. Bukan sekali coba langsung berhasil juara. Ia bahkan harus berulangkali menghadapi kegagalan. Baginya, kegagalan dan tantangan adalah peluang untuk tumbuh, belajar, dan berkembang lebih jauh. Dengan semangat juang tinggi, Ali berhasil memenangkan 41 perlombaan selama kuliah meliputi 32 Equity Research Competition, 4 Business Plan Competition, dan 5 Business Case Competition. “Saya pernah gagal 7 kali, tetapi terus belajar dari kegagalan itu, dan akhirnya aku bisa menang berkali-kali,” ucapnya, Senin (6/1).
Ali selalu berkeinginan menjalani hidup tanpa ada rasa penyesalan. Karenanya, iapun terus berupaya melakukan hal-hal produktif saat menjalani studi, salah satunya dengan mengikuti berbagai kompetisi. Baginya dengan berpartisipasi dalam kompetisi, ia bisa berkesempatan terus belajar banyak hal.
Meski sudah banyak kompetisi diikuti, Ali mengaku sebagian besar kompetisi yang ia ikuti merupakan kompetisi terkait keuangan. Jujur ia sangat memiliki ketertarikan cukup tinggi di dunia investasi dan keuangan. Hal ini pula yang membuatnya gemar melakukan banyak evaluasi dan riset saham. “Awalnya di tahun 2020 saya membaca dan mendengar kisah sukses Andika Sutoro Putra, seorang miliarder muda sekaligus pendiri FOLK Group. Hal itu yang mendorong kuat saya minat terhadap dunia investasi,” terangnya.
Keberhasilan Andika Sutoro Putra mencapai kebebasan finansial di usia muda, diakui, menginspirasinya untuk mendalami dunia investasi. Ia pun mulai mempelajari dunia investasi keuangan melalui berbagai buku, seminar, dan video Youtube. Dari berbagai sumber tersebut membuatnya menjadi mengerti tentang fundamental perusahaan, cara membaca laporan keuangan, valuasi, serta prospek dan risiko perusahaan.
Minat Ali Alexander pada dunia keuangan dan investasi pun semakin berkembang ketika ia memulai studinya di FEB UGM pada 2021 yang lalu. Sejak menjadi mahasiswa, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi keuangan. Meskipun diawal tidak begitu mulus, bahkan sempat menghadapi beberapa kegagalan. “Terus mencoba, pantang menyerah dan terus belajar. Itu bisa menjadi kunci agar terus bersemangat,” akunya.
Ali merasa beruntung bertemu Eddy Junarsin, Ph.D, dosen Departemen Manajemen FEB UGM pada semester tiga saat ia kuliah. Pertemuan tersebut baginya semakin membuka pemahamannya akan dunia keuangan menjadi lebih luas. “Saya pun semakin banyak belajar tentang valuasi yang menjadi kunci kemenangan di perlombaan Equity Research,” ungkapnya.
Menjalani aktivitas kuliah, magang sekaligus aktif mengikuti berbagai kompetisi tentu bukan hal mudah bisa dilakukan mahasiswa. Pun dengan Ali Alexander, ia berupaya melakukan pengelolaan waktu dengan baik dan menyusun skala prioritas. “Karena ini merupakan hobi saya, jadi saya sukarela melakukan analisis saham dan ikut kompetisi di waktu luang. Saya berterima kasih materi alokasi aset yang saya terima saat perkuliahan semakin memperkuat memahami mengenai dunia investasi,” ujarnya .
Ali pun dengan sukahati memberikan sejumlah tips bagi mahasiswa yang ingin mulai mengikuti kegiatan kompetisi. Menurutnya yang utama tidak takut untuk mencoba dan memahami kegagalan. Kekalahan adalah bagian dari proses belajar, dan tak kalah penting menemukan mentor yang relevan dengan bidang kompetisi yang ingin diikuti. “Penting bagi kita untuk mendapatkan pengarahan yang tepat. Jangan ragu-ragu manfaatkan fasilitas yang tersedia di kampus dengan sebaik mungkin,” pesannya.
Reportase : Najwah Ariella Puteri & Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB
Penulis : Agung Nugroho
Artikel Ali Alexander, Mahasiswa UGM Berhasil Raih 41 Prestasi di Berbagai Kompetisi Keuangan dan Bisnis pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Artikel Tim Mahasiswa UGM Berhasil Meraih Juara 1 Capital Market Inclusion Competition pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>Ali Alexander menjelaskan dalam tahap awal perjalanan tim Pairgrowth dalam mengikuti kompetisi ini adalah membuat paper equity research. Seluruh tim dalam tahap ini melakukan analisis komprehensif mulai aspek makro ekonomi, industri, profil bisnis, proses bisnis, keuangan, valuasi, hingga risiko berkaitan dengan perusahaan yang dianalisis. “Kita dan hampir semua tim yang mengikuti kompetisi masing-masing diminta melakukan analisis terhadap PT. Bank Mandiri yang mengalami gejolak makroekonomi sehingga susah untuk bertumbuh, dan diberi tambahan permasalahan banyaknya masyarakat yang skeptis terhadap saham BMRI”, katanya di Kampus UGM, Jum’at (3/1).
Ali mengungkapkan PT. Bank Mandiri yang bergerak di industri perbankan berbeda dengan perusahaan non-finansial yang memiliki template khusus keuangan. Kondisi ini menjadi hambatan sekaligus kesulitan dalam membuat valuasi. “Namun, karena saya sudah terbiasa menghitung valuasi perbankan maka dapat menyelesaikannya dengan cepat dan akurat,” ungkapnya.
Keberhasilan tim Pairgrowth merupakan buah dari perjuangan, kerja keras, dan kekompakan tim mulai dari tahap persiapan hingga kompetisi. Dalam proses mengikuti kompetisi ini, Ali dan rekan timnya menghadapi sejumlah tantangan seperti manajemen waktu. Ali mengaku saat proses mengikuti kompetisi saat itu sedang menjalani magang di PT Nestlé Indonesia. Iapun harus pandai-pandai mengatur waktu antara magang dan lomba. Sementara Elsa sebagai partner dalam tim sedang mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri sehingga harus beradaptasi dengan perbedaan zona waktu. “Meski banyak tantangan akhirnya kami bisa meraih juara dan membawa nama baik FEB dan UGM di kancah nasional,” pungkasnya.
Reportase : Orie Priscylla Mapeda Lumalan & Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB
Penulis. : Agung Nugroho
Artikel Tim Mahasiswa UGM Berhasil Meraih Juara 1 Capital Market Inclusion Competition pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
]]>